Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32118 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ade Nur Rachmawati; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Pujiyanto, Mardiati Nadjib
Abstrak:
Penyakit pulpa dan periapikal merupakan masalah kesehatan gigi yang memerlukan Perawatan Saluran Akar (PSA) di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL). Rendahnya utilisasi PSA di FKRTL pada peserta JKN dapat meningkatkan angka pencabutan gigi dan menaikkan beban biaya jangka panjang. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan utilisasi tersebut pada peserta JKN di FKRTL Tahun 2024. Metode penelitian ini adalah potong lintang dengan menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2025. Hasil studi menemukan sebagian besar peserta memanfaatkan pelayanan PSA dengan kategori utilisasi sederhana (≤5 kali kunjungan) sebesar 86,0%, sementara utilisasi kompleks (>5 kali kunjungan) sebesar 14,0%. Analisis bivariat menunjukkan (p<0,05) pada semua variabel. Faktor utama yang berhubungan dengan utilisasi kompleks adalah diagnosis nekrosis pulpa (OR=1,854; 95% CI: 1,807–1,903), fasilitas swasta (OR=1,982; 95% CI: 1,935–2,030), dan tindakan PSA lanjutan (OR=1,052; 95% CI: 1,022–1,083). Utilisasi pelayanan Perawatan Saluran Akar di FKRTL masih didominasi oleh kategori utilisasi sederhana. Diagnosis nekrosis pulpa dan pelayanan di fasilitas swasta merupakan prediktor utama utilisasi kompleks. Diperlukan penguatan verifikasi klaim, pedoman klinis yang lebih ketat, serta peningkatan program promotif-preventif untuk mengoptimalkan efisiensi dan mencegah potensi kecurangan.

Pulp and periapical diseases are dental health problems that require Root Canal Treatment (RCT) at Advanced Referral Health Facilities (FKRTL). Low utilization of RCT at FKRTL among JKN participants can increase the number of tooth extractions and raise long-term cost burdens. This study aims to analyze the factors associated with the utilization of such services among JKN participants at FKRTL in 2024. This research used a cross-sectional design with secondary data from the BPJS Kesehatan Sample Data in 2025. The study results found that most participants used RCT services in the simple utilization category (≤5 visits) at 86.0%, while complex utilization (>5 visits) accounted for 14.0%. Bivariate analysis showed significant relationships (p<0.05) with all variables. The main factors associated with complex utilization were pulp necrosis diagnosis (OR=1.854; 95% CI: 1.807–1.903), private facilities (OR=1.982; 95% CI: 1.935–2.030), and retreatment RCT (OR=1.052; 95% CI: 1.022–1.083). The utilization of Root Canal Treatment services at FKRTL is still dominated by the simple utilization category. Pulp necrosis diagnosis and services at private facilities are the main predictors of complex utilization. Strengthening claim verification, stricter clinical guidelines, and improving promotive-preventive programs are needed to optimize efficiency and prevent potential fraud.
Read More
S-12231
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aurelia Aisya Nathania Putri; Pembimbing; Pujiyanto; penguji: Rico Kurniawan, Laksmi Damaryanti
Abstrak:
Hipertensi merupakan penyakit dengan prevalensi tinggi yang menyebabkan masalah kesehatan serius dan beban pembiayaan cukup tinggi. Hipertensi terkendali masih cukup rendah dengan peningkatan berbagai faktor risiko sehingga pemanfaatan layanan rawat jalan dan rawat inap di FKRTL masih menjadi isu kesehatan cukup krusial, terutama pada peserta JKN dengan hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran utilisasi pelayanan rawat jalan dan rawat inap pada peserta JKN dengan hipertensi di FKRTL Tahun 2024. Menggunakan metodologi penelitian kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional, data sampel BPJS Kesehatan Tahun 2025 dengan teknik total sampling yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Analisis yang dilakukan univariat dan secara deskriptif menggunakan crosstab. Hasil penelitian menunjukkan jumlah kunjungan yang paling banyak dilakukan peserta JKN dengan hipertensi sebanyak 1 kali (88,0%), dimana sebagian besar diakses oleh peserta kelompok usia 55-64 tahun (30,9%), perempuan (60,1%), dengan hak kelas rawat III (58,5%), kelompok PBI APBN (29,2%), terdaftar di Puskesmas (67,0%), dengan diagnosis hipertensi I10 (58,4%), pada layanan RJTL (52,0%), dan tingkat keparahan penyakit rawat jalan (52,0%). Selain itu, pelayanan RJTL didominasi oleh usia 31-44 tahun (67,0%) dan laki-laki (57,3%) serta pelayanan RITL didominasi oleh usia 55-64 tahun (52,7%) dan perempuan (51,6%). Pada tingkat keparahan penyakit rawat jalan didominasi hipertensi I15 (84,5%), serta tingkat sedang (level 2) didominasi hipertensi I13 (45,1%). Selain itu, seluruh kelompok usia memiliki proporsi hak kelas rawat III lebih besar dengan dominasi usia 55-64 tahun (64,3%). Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan dan pengendalian hipertensi.

Hypertension is disease with highly prevalent that causes serious health issues and imposes a significant financial burden. Hypertension is still relatively low under controlled conditions with increasing various risk factors so that utilization of outpatient and inpatient services at Advanced Referral Healthcare Facilities (FKRTL) remains a crucial health issue, especially for JKN participants with hypertension. This study aims to describe the utilizationof outpatient and inpatient services among JKN participants with hypertension at FKRTL in 2024. A descriptive quantitative cross-sectional design was employed, sample data BPJS Kesehatan in 2025 with total sampling technique adjusted to the established inclusion and exclusion criteria. Analysis was conducted using univariate methods and descriptive cross-tabulation. The results indicate that the most frequent number or visits by JKN participants with hypertension was a single visit (88,0%). These vsits were predominantly made by participants aged 55-64 years (30,9%), women (60,1%), those entitled to Class III care (58,5%), the PBI APBN group (29,2%), those registered at Puskesmas (67,0%), and those diagnosed with hypertension code I10 (58,4%). Utilization was highest in outpatient services (RJTL) (52,0%) and at the outpatient disease severity level (52,0%). Futhermore, outpatient service utilization was dominated by the 31-44 age group (67,0%) and men (57,3%), while inpatient service utilization was dominated by the 55-64 age group (52,75) and women (51,6%). Regarding outpatient disease severity, hypertension code I15 predominated (84,5%), while hypertension code I13 predominated in the moderate severity category (level 2) (45,1%). Additionally, all age groups showed a higher proportion of entitlement to class III care with the 55-64 age group showing the highest prevalence (64,3%). Thus, these findings are expected to serve as a basis for improving the effectiveness of healthcare services and hypertension control.
Read More
S-12437
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tjut Keumala Syahlynna Rachmatsyah Hamzah; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Ede Surya Darmawan, Chandra Nurcahyo
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit prioritas dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang memerlukan pembiayaan pelayanan kesehatan berkelanjutan. Pada pelayanan rawat jalan tingkat lanjutan (RJTL), total biaya pelayanan yang dibayarkan oleh BPJS Kesehatan dapat bervariasi antar peserta maupun antar fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis total biaya klaim pelayanan rawat jalan tuberkulosis peserta JKN berdasarkan karakteristik peserta dan karakteristik fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL) tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data sekunder sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Sampel penelitian terdiri atas 25.886 peserta JKN penderita tuberkulosis yang memperoleh pelayanan rawat jalan di FKRTL dan memenuhi kriteria penelitian. Variabel independen meliputi kelompok umur, jenis kelamin, status perkawinan, segmentasi kepesertaan, hak kelas rawat, kepemilikan FKRTL, dan tipe FKRTL. Variabel dependen adalah total biaya klaim pelayanan rawat jalan tuberkulosis per pasien selama tahun 2024. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Mann–Whitney dan Kruskal–Wallis. Hasil penelitian menunjukkan median total biaya klaim pelayanan rawat jalan tuberkulosis sebesar Rp598.250 per pasien per tahun. Terdapat perbedaan total biaya klaim yang bermakna secara statistik berdasarkan kelompok umur (H(2)=783,60; p<0,001; ε²=0,030), jenis kelamin (Z=3,64; p<0,001; r=0,023), status perkawinan (H(2)=436,99; p<0,001; ε²=0,017), segmentasi kepesertaan (H(4)=912,08; p<0,001; ε²=0,035), hak kelas rawat (H(2)=68,47; p<0,001; ε²=0,003), kepemilikan FKRTL (H(4)=381,99; p<0,001; ε²=0,015), dan tipe FKRTL (H(3)=675,39; p<0,001; ε²=0,026). Variabel segmentasi kepesertaan menunjukkan ukuran efek terbesar, sedangkan hak kelas rawat menunjukkan ukuran efek terkecil. Meskipun seluruh variabel menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik, sebagian besar ukuran efek berada pada kategori kecil. Penelitian ini menyimpulkan bahwa total biaya klaim pelayanan rawat jalan tuberkulosis peserta JKN tahun 2024 bervariasi menurut karakteristik peserta dan karakteristik FKRTL. Temuan ini dapat menjadi masukan bagi BPJS Kesehatan dalam monitoring dan evaluasi pembiayaan pelayanan tuberkulosis pada program JKN.

Tuberculosis (TB) remains one of the priority diseases within Indonesia’s National Health Insurance (JKN) program and requires substantial healthcare financing. In advanced outpatient care settings, total healthcare expenditures reimbursed by BPJS Kesehatan may vary across participants and healthcare facilities. This study aimed to analyze outpatient tuberculosis claim costs among JKN participants based on participant characteristics and advanced referral healthcare facility (FKRTL) characteristics in 2024. This study employed a quantitative cross-sectional design using secondary data from the 2024 BPJS Kesehatan sample dataset. The study population consisted of 25,886 JKN participants diagnosed with tuberculosis who received outpatient services at FKRTL and met the study criteria. Independent variables included age group, sex, marital status, membership segment, entitlement class, FKRTL ownership, and FKRTL type. The dependent variable was the total outpatient tuberculosis claim cost per patient during 2024. Data were analyzed using descriptive statistics and bivariate analysis with Mann–Whitney and Kruskal–Wallis tests. The results showed that the median outpatient tuberculosis claim cost was IDR 598,250 per patient per year. Statistically significant differences in total claim costs were observed according to age group (H(2)=783.60; p<0.001; ε²=0.030), sex (Z=3.64; p<0.001; r=0.023), marital status (H(2)=436.99; p<0.001; ε²=0.017), membership segment (H(4)=912.08; p<0.001; ε²=0.035), entitlement class (H(2)=68.47; p<0.001; ε²=0.003), FKRTL ownership (H(4)=381.99; p<0.001; ε²=0.015), and FKRTL type (H(3)=675.39; p<0.001; ε²=0.026). Membership segment demonstrated the largest effect size, while entitlement class showed the smallest. Although all variables were statistically significant, most effect sizes were small. This study concludes that outpatient tuberculosis claim costs among JKN participants in 2024 varied according to participant and healthcare facility characteristics. These findings may provide useful evidence for BPJS Kesehatan in monitoring and evaluating tuberculosis financing within the JKN program.
Read More
S-12464
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rafly Indra Kusuma; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Purnawan Junadi, Rita Oktafitria
Abstrak:
Stroke merupakan salah satu penyakit dengan prevalensi yang tinggi di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Pada tahun 2023, BPJS Kesehatan mengalokasikan anggaran sebesar Rp5,2 triliun untuk membiayai 3,4 juta kasus stroke dengan biaya rata-rata Rp1,53 miliar per kasus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis total biaya klaim stroke pada peserta JKN di FKRTL Provinsi Jawa Tengah Tahun 2023 serta hubungan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan data sekunder dari Data Sampel BPJS Kesehatan 2024 serta desain studi cross-sectional. Penelitian memberikan gambaran hubungan total biaya klaim stroke melalui analisis univariat dan analisis bivariat yang menggunakan uji Mann Whitney dan Kruskal-Wallis. Hasil menunjukkan bahwa total biaya klaim stroke pada peserta JKN di FKRTL Provinsi Jawa Tengah tahun 2023 adalah Rp5.592.314.702 (5,6 miliar) dengan rincian total biaya klaim stroke pada pelayanan Rawat Jalan Tingkat Lanjut sebesar Rp95.315.500 (95,3 juta) dan Rawat Inap Tingkat Lanjut sebesar Rp5.496.999.202 (5,5 miliar), dengan faktor yang berhubungan secara signifikan adalah usia, wilayah tempat tinggal, segmentasi kepesertaan, hak kelas rawat, kepemilikan FKRTL, jenis stroke, tingkat keparahan kasus, lama hari rawat, dan jenis pelayanan FKRTL. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Program PROLANIS dan peningkatan pengawasan terhadap klaim diperlukan untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup peserta JKN serta memastikan efisiensi dan keakuratan biaya.

Stroke is one of the most prevalent diseases in Indonesia, particularly in Central Java. In 2023, BPJS Kesehatan allocated a budget of Rp5.2 trillion to cover 3.4 million stroke cases, with an average cost of Rp1.53 billion per case. This study aims to analyse the total stroke claim costs for JKN participants at FKRTL in Central Java Province in 2023, as well as the factors influencing them. The study employs a quantitative method using secondary data from the BPJS Health 2024 Sample Data and a cross-sectional study design. The study provides an overview of the relationship between total stroke claim costs through univariate and bivariate analyses using the Mann Whitney and Kruskal-Wallis tests. The results show that the total stroke claim costs for JKN participants at FKRTL in Central Java Province in 2023 were IDR 5,592,314,702 (5.6 billion), with the breakdown of total stroke claim costs for advanced outpatient services amounting to IDR 95,315, 500 million (95.3 million) and advanced inpatient care at Rp5,496,999,202 (5.5 billion), with significantly associated factors including age, residential area, participant segmentation, class of care entitlement, ownership of FKRTL, type of stroke, severity of the case, length of hospital stay, and type of FKRTL service. This study concluded that The PROLANIS programme and increased monitoring of claims are necessary to improve the health and quality of life of JKN participants and to ensure cost efficiency and accuracy.

Read More
S-11993
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Shakia Az Zahra; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Budi Hidayat, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Secara global kanker paru merupakan tiga terbesar kasus penyakit kanker di dunia dan menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian akibat penyakit kanker pada laki laki dan perempuan (Globocan, 2022) Di Indonesia, kanker paru menjadi penyebab utama kematian akibat kanker di samping kanker payudara dan kanker kolorektal (WHO, 2022). Kanker paru ditempatkan sebagai beban utama biaya pengobatan yang bersifat katastropik dengan menyerap anggaran besar dari total belanja kesehatan negara dalam Diasease Account 2023. Besaran biaya klaim penyakit kanker paru sangat ditentukan oleh berbagai faktor yang memengaruhi tingkat keparahan dan intensitas pemanfaatan layanan. Oleh karena itu diperlukan analisis untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya kanker paru. Metode: Penelitian menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan dengan desain cross sectional. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara usia, jenis kelamin, segmen kepesertaan, hak kelas rawat, metastasis, kunjungan rawat inap, kunjungan rawat jalan, kepemilikan rumah sakit, tipe rumah sakit, dan wilayah regional FKRTL dengan biaya klaim. Faktor yang paling berhubungan yaitu metastasis (p value <0,001; AOR 11,045). Kesimpulan: Diperlukan peningkatan deteksi dini melalui skrining nasional, pemerataan akses, dan peninjauan tarif INA CBGs

Lung cancer is among the three most common cancers worldwide and remains the leading cause of cancer-related mortality in both men and women (GLOBOCAN, 2022). In Indonesia, lung cancer is one of the primary causes of cancer deaths, alongside breast and colorectal cancer (WHO, 2022). It also represents a major catastrophic health expenditure, accounting for a substantial proportion of national healthcare spending as reported in the Disease Account 2023. The magnitude of lung cancer treatment costs is influenced by various factors related to disease severity and healthcare utilization. Therefore, an analysis is needed to identify factors associated with lung cancer treatment costs. Methods: This study used secondary data from the BPJS Kesehatan Sample Data and employed a cross-sectional study design. Data were analyzed using bivariate and multivariate logistic regression analyses to identify factors associated with lung cancer claim costs. Results: Significant associations were found between age, sex, membership segment, inpatient class entitlement, metastasis status, inpatient visits, outpatient visits, hospital ownership, hospital type, and regional referral healthcare facility (FKRTL) location with lung cancer claim costs. Metastasis was identified as the factor most strongly associated with high claim costs (p-value < 0.001; AOR = 11.045). Conclusion: Strengthening early detection through a national lung cancer screening program, improving equitable access to healthcare services, and reviewing INA-CBGs tariffs are recommended to reduce the economic burden of lung cancer and improve the efficiency of healthcare financing under the National Health Insurance (JKN) system.
Read More
S-12403
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farhan Kurniawan; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Mardiati Nadjib, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berkontribusi besar terhadap kematian neonatal dan memberikan beban ekonomi dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan lama hari rawat dan biaya perawatan bayi prematur dan BBLR pada peserta JKN. Penelitian ini menggunakan kohort retrospektif dengan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2022–2024. Sebanyak 2.119 pasangan ibu dan anak dianalisis. Hasil menunjukkan 73,77% bayi dirawat di tingkat RITL dengan median lama rawat 4 hari. Median biaya RJTL per individu mencapai Rp195.850,00, sementara RITL mencapai Rp7.453.400,00. Faktor usia ibu, usia bayi, kelompok diagnosis bayi, komplikasi neonatal, dan tipe FKRTL secara signifikan memengaruhi lama hari rawat serta biaya perawatan RJTL maupun RITL. Status kelengkapan ANC hanya memengaruhi biaya perawatan RITL secara signifikan. Sementara segmentasi kepesertaan JKN dan regionalisasi tarif INA-CBGs hanya secara signifikan memengaruhi biaya perawatan RJTL maupun RITL. Usia bayi menjadi faktor dominan yang memengaruhi lama hari rawat dan biaya perawatan bayi prematur dan BBLR pada peserta JKN tahun 2022–2023. Dengan demikian, strategi pengendalian biaya dan peningkatan efisiensi perawatan perlu difokuskan pada usia bayi dengan tetap memperhatikan aspek klinis dan karakteristik fasilitas kesehatan yang bekerja sama dalam skema JKN.

Preterm and low birth weight (LBW) infants represent a significant public health concern, contributing substantially to neonatal mortality and imposing an economic burden on Indonesia’s National Health Insurance (JKN) system. This study aims to analyze the determinants of length of stay and treatment cost for preterm and LBW infants covered by JKN. A retrospective cohort design was employed using the Data Sampel BPJS Kesehatan 2022–2024, involving 2,119 mother-infant pairs. Results show that 73.77% of infants received care at advanced inpatient facilities (RITL), with a median length of stay of 4 days. The median outpatient (RJTL) and inpatient (RITL) care costs per individual were Rp195,850 and Rp7,453,400, respectively. Maternal age, infant age, diagnosis group, neonatal complications, and type of referral hospital significantly influenced both the length of stay and healthcare costs in RJTL and RITL settings. Completeness of antenatal care (ANC) visits was significantly associated only with the RITL costs, while JKN membership segmentation and INA-CBGs tariff regionalization significantly affected healthcare costs. Infant age emerged as the most dominant factor in influencing length of stay and treatment cost. These findings highlight the need for cost-control strategies and care efficiency improvements that prioritize infant age, clinical conditions, and facility characteristics within the JKN.
Read More
S-11875
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bunga Pramesuari Mei Syara; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Pujiyanto, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Kesehatan gigi merupakan bagian integral dari kesehatan tubuh secara keseluruhan, dan masalah kesehatan gigi berkontribusi signifikan terhadap beban penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh berbagai variabel terhadap utilisasi layanan kesehatan gigi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) berdasarkan data sampel BPJS pada tahun 2023. Desain penelitian menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney dengan total sampel sebanyak 8.694 peserta yang memanfaatkan layanan kesehatan gigi di FKTP wilayah Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel usia 15-64 tahun, jenis kelamin Perempuan, tempat tinggal peserta di kota, status perkawinan kawin, lokasi FKTP kota, jenis FKTP klinik pratama, serta segmen kepesertaan PPU, semuanya memiliki hubungan signifikan terhadap utilisasi pelayanan kesehatan gigi di FKTP (p-value < 0,001). Kesimpulan dari penelitian ini yakni seluruh variabel berhubungan signifikan dengan utilisasi layanan kesehatan gigi di FKTP wilayah Provinsi Jawa Barat.


Dental health is an integral part of overall body health, and dental health problems contribute significantly to the burden of disease. This study aims to analyze the influence of various variables on the utilization of dental health services at the Primary Health Care (FKTP) based on BPJS sample data in 2023. The research design used the Kruskal-Wallis and Mann-Whitney tests with a total sample of 8,694 participants who utilized dental health services at FKTP in West Java Province. The results showed that the variables of age 15-64 years, female gender, residence in the city, marital status, location of city primary health care facilities, type of primary health care facilities, and PPU membership segment all had a significant relationship with the utilization of dental health services at primary health care facilities (p-value <0.001). The conclusion of this study is that all variables are significantly associated with the utilization of dental health services at primary health care facilities in West Java Province
Read More
S-12115
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Divyra Rizqina Adiva; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Budi Haryanto, Budi Hidayat, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Latar Belakang: Stroke menyumbang angka kecacatan jangka panjang yang berdampak pada aktivitas sehari-hari pasien dan pemulihannya memerlukan penaganan rehabilitasi medik yang berkelanjutan. Layanan rehabilitasi medik di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) menjadi salah satu layanan esensial dalam penanganan pasien stroke dengan defisit fungsional. Tujuan: Menganalisis pemanfaatan layanan rehabilitasi medik serta faktor-faktor yang berhubungan pada pasien stroke peserta JKN di FKRTL. Metode: Desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif berdasarkan data sekunder berupa Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2024-2025. Hasil: Selama masa perawatan 1 tahun setelah pulang dari rawat inap, pemanfaatan kelompok kunjungan rendah (≤8 kunjungan) sebesar 50,3% dan kunjungan tinggi (>8 kunjungan) sebesar 49,7%, dengan penumpukan terbesar pada pasien yang hanya berkunjung satu kali dalam setahun setelah pulang rawat inap (17,4%), sehingga pemanfaatan berpotensi belum optimal. Seluruh variabel independen (karakteristik peserta, klinis, dan pelayanan) berhubungan signifikan dengan pemanfaatan layanan rehabilitasi medik, dengan peserta yang tinggal di Kalimantan (OR = 10,364; 95% CI = 8,879–12,097), memanfaatkan di RS Tipe A (OR = 6,315; 95% CI = 5,707–6,987), dan memiliki hak kelas rawat Kelas I (OR = 6,311; 95% CI = 5,815–6,848) menjadi kelompok dengan probabilitas tertinggi untuk memanfaatkan layanan rehabilitasi medik. Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan kontinuitas layanan melalui rehabilitasi yang lebih fleksibel, pemerataan tenaga dan fasilitas rujukan, penjaminan akses bagi kelompok kebutuhan tinggi dengan pemanfaatan rendah, serta penguatan upaya promotif berupa edukasi dan sosialisasi pemanfaatan layanan kepada pasien dan caregiver untuk mendukung kesinambungan utilisasi rehabilitasi medik dalam mencegah perburukan fungsional dan stroke berulang pada pasien stroke, guna mendorong pemanfaatan yang optimal dan berkeadilan dalam pengelolaan defisit fungsional pada pasien stroke selama masa pemulihan.

Background: Stroke contributes to long-term disability that affects patients's daily activities, and its recovery requires sustained medical rehabilitation management. Medical rehabilitation services at Advanced Referral Health Facilities (FKRTL) constitute one of the essential services in the management of stroke patients with functional deficits. Objective: This study aims to analyze the utilization of outpatient medical rehabilitation services and the factors associated with it among stroke patients insured by the National Health Insurance (JKN) at FKRTL. Methods: This study employed a cross sectional design with a quantitative approach, using secondary data from the 2024–2025 BPJS sample data. Results: Over a one-year period after discharging from inpatient care, 50.3% of patients are in the low-frequency utilization group (≤8 visits) and 49.7% are in the high-frequency group (>8 visits), with the largest concentration among patients who attended only a single visit per year (17.4%), indicating that utilization remains potentially suboptimal. All independent variables, comprising participant, clinical, and service characteristics, were significantly associated with the frequency of medical rehabilitation visits with participants residing in Kalimantan (OR = 10.364; 95% CI = 8.879–12.097), treated at Type A hospitals (OR = 6.315; 95% CI = 5.707–6.987), and entitled to Class I inpatient care (OR = 6.311; 95% CI = 5.815–6.848) constituting the group with the highest probability of utilizing medical rehabilitation services. Conclusion: This study finds that strengthening the continuity of care is needed through more flexible rehabilitation models, a more equitable distribution of personnel and referral facilities, guaranteed access for groups with high need but low utilization, and strengthened promotive efforts through education and outreach on service utilization for patients and caregivers to support continuity of the utilization of medical rehabilitation in preventing functional decline and recurrent stroke, in order to promote optimal and equitable service utilization in the management of functional deficits in stroke patients during recovery period.
Read More
S-12425
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Enzelika Rahel Sininta; Pembiming: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan menganalisis penggunaan persalinan sectio caesarea di fasilitas rujukan tingkat lanjut di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2023, menggunakan desain penelitian non-eksperimental analitikal dengan pendekatan cross-sectional data sampel BPJS Kesehatan 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebesar 77,6% peserta melahirkan dengan tindakan sectio caesarea. Beberapa faktor ditemukan memiliki hubungan signifikan terhadap pemilihan metode persalinan ini, antara lain: usia >35 tahun (OR: 1,93; 95% CI: 1,68–2,21), domisili di Jakarta Timur (OR: 4,68; 95% CI: 4,18–5,25), status kepesertaan PBPU (OR: 2,50; 95% CI: 2,23–2,79), hak kelas rawat Kelas I, kepemilikan fasilitas swasta (OR: 3,19; 95% CI: 3,08–3,32), tipe FKRTL kelas C (OR: 1,50; 95% CI: 1,47–1,75), serta lokasi FKRTL di Jakarta Timur (OR: 3,75; 95% CI: 3,53–3,98). Faktor riwayat sectio caesarea merupakan prediktor terkuat (OR: 77,2; 95% CI: 61,42–97,2), yang menunjukkan adanya kecenderungan tinggi untuk menjalani sectio berulang. Temuan ini menegaskan pentingnya perhatian terhadap keputusan medis pada persalinan pertama yang berpotensi memengaruhi pola persalinan berikutnya. Intervensi perlu dilakukan secara menyeluruh, baik pada sisi ibu melalui intervensi preventif dan penguatan kesiapan sejak di layanan primer, maupun pada sisi pelayanan melalui audit medis dan penerapan panduan klinis yang ketat.


This study aims to analyze the use of caesarean section deliveries in advanced referral health facilities in DKI Jakarta Province in 2023, using an non-experimental analytical cross-sectional design based on BPJS Health sample data from 2024. Results showed that 77.6% of participants gave birth via caesarean section. Several factors were significantly associated with caesarean delivery, including age over 35 years (OR: 1.93; 95% CI: 1.68–2.21), residence in East Jakarta (OR: 4.68; 95% CI: 4.18–5.25), PBPU insurance status (OR: 2.50; 95% CI: 2.23–2.79), Class I inpatient entitlement, private hospital ownership (OR: 3.19; 95% CI: 3.08–3.32), Class C hospital type (OR: 1.50; 95% CI: 1.47–1.75), and facility location in East Jakarta (OR: 3.75; 95% CI: 3.53–3.98). History of caesarean section was the strongest predictor (OR: 77.2; 95% CI: 61.42–97.2), indicating a high likelihood of reccuring procedures. These findings highlight the importance of careful medical decision-making during the first delivery, as it can significantly influence subsequent delivery patterns. Comprehensive interventions are needed, both on the maternal side through preventive measures and strengthened readiness starting at the primary care level, and on the service side through medical audits and strict implementation of clinical guidelines.
Read More
S-12060
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vany Tri Heidyanti; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Pujiyanto, Herman Dinata Mihardja
Abstrak:
Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menempatkan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan melalui sistem rujukan berjenjang. Namun, dalam implementasinya, masih ditemukan tingginya angka rujukan dari FKTP ke fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik rujukan peserta JKN pada dua Puskesmas di Jakarta Selatan, yaitu Puskesmas dengan angka rujukan tertinggi (Jagakarsa) dan terendah (Setiabudi) sepanjang tahun 2024. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan angka rujukan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jumlah dan rate ketersediaan dokter, kecukupan fasilitas penunjang, ketersediaan laboratorium klinik, serta ketersediaan obat-obatan. Meskipun kedua Puskesmas telah memiliki fasilitas penunjang yang sesuai dengan Permenkes No. 43 Tahun 2019, keterbatasan SDM, beban kerja, dan diagnosa medis pasien turut mendorong terjadinya rujukan yang sebenarnya dapat dihindari. Penelitian ini menyarankan perlunya evaluasi berkala terhadap rate dokter dan manajemen fasilitas, serta penguatan tata kelola layanan dan distribusi tenaga kesehatan agar sistem rujukan berjalan lebih efisien dan tepat sasaran.

The National Health Insurance (JKN) program places primary healthcare facilities (FKTP) at the forefront of health services through a tiered referral system. However, in its implementation, there is still a high rate of referrals from FKTP to advanced referral health facilities (FKRTL). This study aims to compare the referral characteristics of JKN participants at two Puskesmas in South Jakarta, namely Puskesmas with the highest (Jagakarsa) and lowest (Setiabudi) referral rates throughout 2024. This research was conducted using in-depth interviews, observation, and document review. The results showed that the difference in referral rates was influenced by several factors such as the number and ratio of doctor availability, adequacy of supporting facilities, availability of clinical laboratories, and availability of medicines. Although both Puskesmas have supporting facilities in accordance with Permenkes No. 43 of 2019, limited human resources, workload, and patient medical diagnoses also encourage referrals that can actually be avoided. This study suggests the need for periodic evaluation of doctor ratios and facility management, as well as strengthening service governance and health worker distribution to make the referral system run more efficiently and on target.
Read More
S-11943
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive