Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38716 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Azizah Meutia Putri Ianam; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Zakianis, Wahyu Pratama Putra
Abstrak:
Kecoa merupakan vektor mekanik yang dapat mengontaminasi pangan dan menjadi indikator kondisi sanitasi lingkungan yang kurang baik. Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) di bandara perlu mendapat perhatian karena berperan dalam penyediaan pangan bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi dan berada pada area yang membutuhkan pengawasan sanitasi ketat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik sanitasi karyawan dengan tingkat kepadatan kecoa di TPP Bandara X. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 59 TPP di Terminal Y Bandara X dengan 118 responden karyawan. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk menilai pengetahuan, sikap, dan praktik sanitasi, observasi langsung praktik sanitasi menggunakan checklist, serta pengukuran kepadatan kecoa menggunakan sticky trap selama 24 jam. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi square serta perhitungan odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik sanitasi berdasarkan kuesioner tidak berhubungan signifikan dengan tingkat kepadatan kecoa. Sebaliknya, praktik sanitasi berdasarkan observasi berhubungan signifikan dengan tingkat kepadatan kecoa. TPP dengan praktik sanitasi observasional kurang baik memiliki peluang 12,571 kali lebih besar untuk mengalami kepadatan kecoa tinggi dibandingkan TPP dengan praktik sanitasi observasional baik (OR = 12,571; 95% CI = 3,658–43,199; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa praktik sanitasi aktual di lapangan lebih berkaitan dengan kepadatan kecoa dibandingkan praktik yang dilaporkan melalui kuesioner. Pengendalian kecoa perlu difokuskan pada perbaikan sanitasi aktual, penguatan pengawasan, evaluasi program pengendalian vektor secara berkala, dan peningkatan keterlibatan karyawan dalam menjaga sanitasi lingkungan kerja secara konsisten.

Cockroaches are mechanical vectors that could contaminate food and indicate poor environmental sanitation. Food premises in airport areas require particular attention because they provide food services for populations with hight mobility and operate in setting requiring strict sanitation control. This study aimed to analyse the association between employees’ knowledge, attitudes, and sanitation practices and cockroach density in food premises of Airport X. A cross-sectional study was conducted in 59 food premises at Terminal Y of Airport X, involving 118 employee respondents. Data were collected using questionnaires to assess knowledge, attitudes, and sanitation practices, direct observation of sanitation practices using a checklist, and cockroach density measurement using sticky traps installed 24 hours. Data were analysed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test and odds ratio calculation. The result showed that knowledge, attitudes, and questionnaire-based sanitation practices were not significantly associated with cockroach density. In contrast, observed sanitation practices were significantly associated with cockroach density. Food premises with poor observed sanitation practices had 12,571 times higher odds of having cockroach density than those with good observed sanitation practices (OR = 12,571; 95% CI = 3,658–43,199; p < 0,001). These findings suggest that actual sanitation practices are more closely related to cockroach density than practices reported through questionnaires. Cockroach control should focus on improving actual sanitation practices, strengthening supervision, evaluating vector control programs regularly, and increasing employees’ involvement in maintaining workplace sanitation consistently.
Read More
S-12237
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laudita Syafa Kamila; Pembimbing: Fitri Kurniasari; Penguji: Ema Hermawati, Wahyu Pratama Putra
Abstrak:
Indeks kepadatan kecoa yang tinggi pada Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) di Terminal Y Bandara X, khususnya pada September 2025, menunjukkan kondisi yang melebihi standar baku mutu kesehatan lingkungan (SBMKL) yaitu <2, sehingga dapat mengindikasikan adanya permasalahan sanitasi dan peningkatan risiko kesehatan masyarakat. Kecoa merupakan vektor mekanik berbagai patogen yang berpotensi mencemari pangan dan menularkan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kondisi lingkungan, meliputi faktor fisik lingkungan berupa suhu, kelembapan, dan pencahayaan, serta faktor sanitasi berupa saluran air limbah, dinding, lantai, tempat sampah, penyimpanan bahan pangan, non pangan, dan peralatan, serta langit-langit dengan indeks kepadatan kecoa di TPP Terminal Y Bandara X. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung kondisi sanitasi lingkungan, pengukuran faktor fisik lingkungan, serta pengukuran indeks kepadatan kecoa menggunakan sticky trap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu (p=0,002; OR=8,1), pencahayaan (p=0,000; OR=12,4), saluran air limbah (p=0,000; OR=12,0), tempat sampah (p=0,003; OR=5,712), serta penyimpanan bahan pangan, non pangan, dan peralatan (p=0,000; OR=25,2). Sementara itu, kelembapan, dinding, lantai, dan langit-langit tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan indeks kepadatan kecoa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu, pencahayaan, saluran air limbah, tempat sampah, serta penyimpanan bahan pangan, non pangan, dan peralatan merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pengendalian kecoa di TPP Terminal Y Bandara X melalui perbaikan sanitasi dan pengendalian kondisi lingkungan secara berkelanjutan.

High cockroach density in food handling facilities (TPPs) at Terminal Y, Airport X, particularly in September 2025, significantly exceeded the environmental health quality standard (SBMKL) of <2, indicating potential sanitation problems and increased public health risks. Cockroaches are mechanical vectors of various pathogens that may threaten food safety and contribute to disease transmission. This study aimed to analyze the relationship between environmental conditions, including physical environmental factors such as temperature, humidity, and lighting, as well as sanitation factors such as wastewater drainage, walls, floors, trash cans, food/non-food storage and equipment, and ceilings, with cockroach density in food handling facilities at Terminal Y, Airport X. This study used a quantitative observational design with a cross-sectional approach. Data were collected through direct observation of environmental sanitation, measurement of physical environmental factors, and assessment of cockroach density using sticky traps. The results showed a significant relationship between temperature (p=0.002; OR=8.1), lighting (p=0.000; OR=12.4), inadequate wastewater drainage (p=0.000; OR=12.0), improper food/non-food storage and equipment arrangement (p=0.000; OR=25.2), and poor trash management (p=0.003; OR=5.712). However, humidity, walls, floors, and ceilings did not show a statistically significant relationship with cockroach density. These findings indicate that temperature, lighting, wastewater drainage, trash management, and food/non-food storage and equipment arrangement are important factors in cockroach control in food handling facilities, and improvements in sanitation and environmental control are necessary to reduce environmental health risks at Airport X.
Read More
S-12235
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hizrah Harianto Sembiring; PembimbingL: Ema Hermawati; Ririn Arminsih, Laila Fitria, Sugeng Hidayat, Eman Prasetyo
Abstrak: Asma merupakan gangguan inflamasi kronis di jalan napas dengan prevalensi yang cukup tinggi. Asma dapat terjadi pada semua usia, diperkirakan 300 juta orang menderita asma diseluruh dunia dan tahun 2025 diperkirakan mencapai 400 juta pasien asma. Prevalensi asma di Provinsi Kalimantan Tengah melebihi angka nasional dan kota Palangkaraya termasuk daerah dengan prevalensi asma tertinggi. Prevalensi asma dipengaruhi oleh banyak faktor seperti keturunan serta lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat kepadatan kecoa di rumah tangga dan faktor risiko lainnya yang dapat memicu asma. Penelitian menggunakan desain Case control. Sampel terdiri dari 58 sampel untuk kasus dan 58 sampel untuk kontrol berusia 12-45 tahun. Hasil penelitian menunjukkan variabel-variabel yang berhubungan dengan kejadian asma adalah kepadatan kecoa, riwayat atopi, sensitifitas terhadap makanan, polusi udara, kondisi cuaca, kondisi sanitasi rumah tangga, jarak rumah dari jalan raya dan memiliki hewan peliharaan. Sedangkan karakteristik individu seperti pendidikan, pekerjaan serta jenis bahan bakar memasak tidak berhubungan dengan kejadian asma. Kesimpulannya tingkat kepadatan kecoa berhubungan dengan kejadian asma setelah dikontrol variabel karakteristik individu dan faktor lingkungan. Penderita agar menjaga kebersihan dan sanitasi rumah yang baik, sehingga tidak menjadi habitat perkembangbiakan vektor kecoa dan sedapat mungkin menghindari faktor-faktor risiko yang dapat memicu terjadinya asma. Kata kunci: asma; kepadatan kecoa; faktor risiko Asthma is a chronic inflammatory disease in the airways with highly prevalence. Asthma can occur at any age, 300 million people estimated suffering asthma in the world and by 2025 there will be 400 million. Asthma prevalence in Central Kalimantan Province exceeds the national number. Furthermore, Palangkaraya is the highest one. The prevalence of asthma is influenced by many factors such as heredity and the environment. This research aimed to analyze the relationship of cockroach density in households and other risk factors that can trigger asthma. This research is using Case control design which consisted of 58 samples for the cases and 58 samples for the controls aged 12-45 years. Results showed cockroach density, atopy history, food sensitivity, air pollution, weather, household sanitation conditions, home distance from highways and pet ownership were associated with the incidence of asthma. While education, occupation and types of cooking fuel were not associated. In conclusion, the cockroach density is related to the incidence of asthma after controlled by variable characteristics of individuals and environmental factors. Patient is sugessted to maintain good hygiene and sanitation, so would not become the habitat of cockroach and avoid risk factors that can trigger asthma. Keywords : asthma; cockroach density; risk factor
Read More
T-4851
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Metha Hartanti; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Dewi Susanna, Atang Saputra
S-8600
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hanna Pratiwi; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Dewi Susanna, Atang Saputra
Abstrak: Bandara memiliki peran yang sangat penting untuk mencegah transmisi berbagai penyakit yang mungkin terjadi. Salah satu fasilitas penunjang di Bandara berupa restoran. Higiene perorangan dan sanitasi pengelolaan makanan restoran di Bandara perlu mendapatkan pengawasan untuk mencegah kejadian foodborne disease. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kondisi higiene perorangan dan sanitasi pengelolaan makanan terhadap kualitas bakteriologis makanan (Escherichia coli) restoran di Bandara Soekarno-Hatta tahun 2014. Penelitian menggunakan desain studi cross sectional dengan total sampel sebanyak 90 restoran di Bandara Soekarno-Hatta. Hasil penelitian menujukan bahwa sebagian besar makanan restoran tidak terkontaminasi E. coli (95,6 %). Dari sembilan variabel dalam sanitasi fisik, terdapat tujuh variabel yang memenuhi syarat, yaitu lokasi dan bangunan, fasilitas sanitasi, gudang bahan makanan, dapur, dan ruang makan, bahan makanan dan makanan jadi, pengolahan makanan, penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi, serta penyajian makanan. Variabel sanitasi alat sebagian besar memenuhi syarat, sesuai dengan kualitas bakteriologis alat yang tidak terkontaminasi E. coli pada sebagian besar sampel usap alat. Sedangkan, variabel higiene tenaga kerja sebagian besar tidak memenuhi syarat, namun tidak ditemukan E. coli pada sebagian besar sampel usap tangan penjamah. Berdasarkan analisis bivariat tidak ditemukan hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
Kata kunci : Sanitasi, higiene, Escherichia coli, makanan
Read More
S-8772
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisyah Raisa Haninda; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Laila Fitria, Aria Kusuma
Abstrak: Penyebaran COVID-19 dapat terjadi di berbagai tempat, khususnya tempat yang menjadi tempat berkumpul. Untuk menghindari penyebaran COVID-19, dibuat protokol kesehatan. Dalam penerapannya, perilaku protokol kesehatan dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku santri dengan kejadian COVID-19 pada santri di Boarding School X, Serang, Banten. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner secara online, data yang dikumpulkan merupakan data terkait usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, sikap, perilaku, dan kejadian COVID-19 yang dialami responden. Hasil dari penelitian ini adalah mayoritas santri yang menjadi responden memiliki tingkat pengetahuan rendah (71,9%), sikap negatif (51,3%), dan perilaku buruk (53,2%) terhadap COVID-19, serta sebagian besar santri pernah terkonfirmasi COVID-19 (88%). Secara statistik, tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan (p value 1,000), sikap (p value 0,855), dan perilaku (p value 1,000) dengan kejadian COVID-19 karena p value > 0,05. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku tidak berhubungan dengan kejadian COVID-19.
The spread of COVID-19 can occur in various places, especially places that are gathering places. To avoid the spread of COVID-19, health protocols are made. In its application, the behavior of health protocols is influenced by the level of knowledge and attitudes that a person has. This study was conducted to determine the relationship between the level of knowledge, attitudes, and behavior of students with the incidence of COVID-19 in students at Boarding School X, Serang, Banten. This study uses a quantitative approach with a cross-sectional study design. Data collection was carried out using an online questionnaire, the data collected was data related to age, gender, education level, level of knowledge, attitudes, behavior, and the incidence of COVID-19 experienced by respondents. The results of this study are that the majority of students who are respondents have a low level of knowledge (71.9%), negative attitudes (51.3%), and bad behavior (53.2%) towards COVID-19, and most of the students have been confirmed COVID-19 (88%). Statistically, there is no significant relationship between the level of knowledge (p value 1,000), attitude (p value 0.855), and behavior (p value 1,000) with the incidence of COVID-19 because p value > 0.05. The conclusion in this study is that the level of knowledge, attitudes, and behavior are not related to the incidence of COVID-19.
Read More
S-10991
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shabrina Khairani; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Zakianis, Dura Vendela
S-9997
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Avicenna Inovasanti; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Aria Kusuma
Abstrak:
Pandemi COVID-19 meningkatkan kebutuhan dan produksi masker. Hal ini mendatangkan masalah yaitu timbulan sampah masker yang berakhir dilingkungan tanpa dikelola. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, dan faktor sosiodemografi dengan perilaku mahasiswa dalam pengelolaan limbah masker rumah tangga di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif desain studi cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner online, yang terdiri dari sosiodemografi, pengetahuan, sikap, dan perilaku responden. Hasil dari penelitian ini adalah mayoritas mahasiswa yang menjadi responden memiliki pengetahuan tinggi (63.3%), sikap positif (52.5%), dan perilaku baik (50.6%). Secara statistik terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dan perilaku (p value-0.022), namun tidak terdapat hubungan bermakna antara sikap dengan perilaku (p value- 0.269). Selain itu, variabel faktor sosiodemografi yang diteliti menunjukkan bahwa adanya hubungan bermakna antara tempat tinggal dengan perilaku (p value-0.008) namun tidak ada hubungan yang bermakna antara usia, jenis kelamin, pendidikan, dan rumpun keilmuan dengan perilaku karena p value>0,05. Analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel tinggal bersama keluarga memiliki pengaruh paling besar terhadap perilaku buruk dengan OR 1.664 (95% CI=1.124-2.464). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah hanya variabel pengetahuan dan tempat tinggal yang memiliki hubungan signifikan dengan perilaku pengelolaan limbah masker di rumah tanggal dengan faktor dominannya yaitu tempat tinggal.

The COVID-19 pandemic has increased the need and production of masks. This creates a problem that lot of mask waste ends up in the environment without being managed. This research was conducted to determine the relationship between knowledge, attitudes, and sociodemographic factors with student behavior in managing household mask waste in DKI Jakarta Province. This study uses a quantitative approach with cross-sectional study design. Data collection was carried out using an online questionnaire, which consisted of the sociodemographic, knowledge, attitudes, and behavior of the respondents. The results of this study were that the majority of students who were respondents had high knowledge (63.3%), positive attitudes (52.5%), and good behavior (50.6%). Statistically, there is a significant relationship between knowledge and behavior (p value-0.022), but there is no significant relationship between attitudes and behavior (p value-0.269). In addition, the sociodemographic factor variables studied showed that there was a significant relationship between place of residence and behavior (p value-0.008) but there was no significant relationship between age, gender, education, and scientific family and behavior because p value> 0.05. Multivariate analysis showed that living with family had the greatest influence on bad behavior with OR 1.664 (95% CI=1.124-2.464). The conclusion in this study is that only the knowledge and place of residence variables have a significant relationship with the behavior of mask waste management at home with the dominant factor, namely place of residence.
Read More
S-11211
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahya Amaniy Daniya; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Ema Hermawati, Juri Hendrajadi
Abstrak:
Foodborne disease saat ini masih menjadi masalah kesehatan global. Sebagian besar kasus foodborne disease disebabkan oleh makanan yang disajikan oleh berbagai penyedia fasilitas layanan makanan, seperti rumah makan dan restoran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penerapan higiene sanitasi di Tempat Pengelolaan Pangan rumah makan golongan A1 dan A2 serta restoran dan penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dalam tiap tahapan penyelenggaraan makanan. Penelitian dilakukan secara deskriptif menggunakan data primer yang dikumpulkan melalui observasi dan wawancara kepada seluruh penjamah makanan di Rumah Makan X (golongan A1), Rumah Makan Y (golongan A2), dan Restoran Z Kota Depok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek yang paling banyak tidak terpenuhi adalah pada higiene bangunan, penanganan makanan, dan penggunaan pelindung saat menjamah makanan, dan Rumah Makan X (golongan A1) menjadi rumah makan yang paling memerlukan perhatian dan pembinaan lebih lanjut karena jumlah ketidaksesuaiannya paling besar pada seluruh aspek higiene sanitasi dan HACCP. Diharapkan kepada pemilik usaha untuk memperbaiki ketidaksesuaian pada aspek higiene sanitasi yang belum terpenuhi dan menerapkan prinsip HACCP pada tiap proses pengelolaan makanan di tempat usahanya.

Foodborne disease is currently still a global health problem. Most cases of foodborne disease are caused by food served by various food service providers, such as food stalls and restaurant. This research aims to provide an overview of the implementation of sanitation hygiene in Food Management Places in food stalls group A1 and A2 and restaurant and the application of Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) in each stage of food management. The research was conducted descriptively using primary data collected through observation and interviews with all food handlers at Food Stall X (group A1), Food Stall Y (group A2), and Restaurant Z, Depok City. The results of the research show that the aspects that are most often not fulfilled are building cleanliness, food handling, and the use of protection when handling food, and Food Stall X (group A1) are the food stall that require the most attention and further development because the number of non-conformities is the largest in all aspects of hygiene sanitation and HACCP. It is hoped that all owners will correct any discrepancies in sanitation hygiene aspects that have not been fulfilled and apply HACCP principles in every food management process at their place of business.
Read More
S-11644
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anindya Giodhani; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Makanan merupakan salah satu aspek penting bagi kehidupan manusia. Namun, penyakit juga dapat timbul akibat kandungan yang ada dalam makanan. Tempat pariwisata merupakan salah satu tempat-tempat umum (TTU) yang berisiko sebagai tempat terjadinya penularan penyakit melalui media salah satunya adalah makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara higiene sanitasi makanan dan tingkat kontaminasi Eschericia coli pada makanan di Lokawisata Baturaden. Penelitian menggunakan desain studi cross sectional. Data yang digunakan merupakan data primer yang terdiri dari hasil uji laboratorium sebesar 42 sampel makanan dan hasil wawancara dengan 42 penjamah menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan 95,2% tidak memenuhi syarat karena terkontaminasi oleh Eschericia coli. Analisis bivariat dengan t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kontaminasi oleh Eschericia coli dan pengetahuan penjamah terkait higiene sanitasi makanan (p-value = 0,018), sanitasi alat makan (p-value = 0,015), dan perilaku higiene penjamah (p-value = 0,032). Oleh karena itu, pedagang di Lokawisata Baturaden perlu diberikan penyuluhan terkait pengetahuan terkait higiene sanitasi makanan, disediakan wastafel beserta sabun, tempat sampah yang sesuai persyaratan, penyediaan fasilitas yang menunjang proses disinfeksi pada alat makan, menekankan proses pencucian alat makan dengan benar, menyediakan tempat penyimpanan alat makan yang terbebas dari kontaminan, menekankan para pedagang untuk membiasakan perilaku higiene yang sesuai persyaratan, serta melakukan pemantauan terus menerus agar kualitas makanan yang dijualkan tetap dalam kondisi yang baik. Kata kunci: Eschericia coli, higiene, sanitasi, kontaminasi makanan, pariwisata
Read More
S-10006
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive