Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41507 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Edgina Dhafia Callista; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Budi Haryanto, Ikha Purwandari
Abstrak:
Hingga tahun 2024, prevalensi stunting di Indonesia masih berada di angka 19,8% dan belum mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, yakni 14%. Distribusi stunting dan faktor risikonya terbukti tidak terjadi secara acak, melainkan membentuk pola kewilayahan. Sementara itu, penelitian menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) terkait faktor lingkungan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor lingkungan (akses sumber air minum dan sanitasi) terhadap stunting di Indonesia pada tahun 2024 dengan mengontrol faktor Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), tingkat pendidikan ibu, dan kepemilikan jaminan kesehatan. Penelitian dilakukan dengan desain cross-sectional menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024. Sampel dalam penelitian ini adalah 273.281 balita usia 0–59 bulan di Indonesia. Analisis data dilakukan melalui analisis univariat, bivariat (uji chi-square), multivariat (regresi logistik ganda), serta visualisasi spasial dengan pendekatan SIG. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 21,2% dengan sebaran yang tidak merata antarprovinsi. Analisis spasial menunjukkan wilayah Indonesia bagian timur memiliki kombinasi prevalensi stunting tinggi dengan akses sumber air minum dan sanitasi tidak layak yang tinggi, sedangkan wilayah bagian barat cenderung memiliki kondisi yang lebih rendah. Hasil analisis multivariat membuktikan kedua faktor lingkungan tetap berhubungan signifikan setelah dikontrol faktor perancu, dengan akses sanitasi tidak layak (aPOR=1,292; 95% CI: 1,258–1,327) dan akses sumber air minum tidak layak (aPOR=1,287; 95% CI: 1,245–1,330). Dengan demikian, ketidaklayakan faktor lingkungan secara independen meningkatkan risiko stunting dan membentuk pola kewilayahan, sehingga diperlukan intervensi multisektoral berbasis wilayah untuk menekan prevalensi stunting di Indonesia.

As of 2024, the prevalence of stunting in Indonesia remains at 19.8% and has not yet reached the target set in the 2020–2024 National Medium-Term Development Plan, which is 14%. The distribution of stunting and its risk factors has been shown not to occur randomly, but rather to form regional patterns. Meanwhile, research using a Geographic Information System (GIS) approach regarding environmental factors remains limited. This study aims to determine the relationship between environmental factors (access to drinking water and sanitation) and stunting in Indonesia in 2024 by controlling for Low Birth Weight (LBW), maternal education level, and health insurance ownership. The study used a cross-sectional design using data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey. The sample in this study consisted of 273,281 children aged 0–59 months in Indonesia. Data analysis was performed using univariate analysis, bivariate (chi-square test), multivariate (multiple logistic regression), and spatial visualization using a GIS approach. The results showed a stunting prevalence of 21.2%, with uneven distribution across provinces. Spatial analysis showed that eastern Indonesia has a high prevalence of stunting combined with high rates of inadequate access to drinking water and sanitation, while western regions tend to have lower rates. Multivariate analysis results confirm that both environmental factors remain significantly associated after controlling for confounding factors, specifically inadequate sanitation access (aPOR=1.292; 95% CI: 1.258–1.327) and inadequate access to drinking water sources (aPOR=1.287; 95% CI: 1.245–1.330). Thus, inadequate environmental factors independently increase the risk of stunting and form regional patterns, necessitating region-based multisectoral interventions to reduce the prevalence of stunting in Indonesia.
Read More
S-12240
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ajeng Sewelas Ekapermatasari; Pembimbing: Ririn Arminsih; Penguji: Budi Haryanto, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan sumber air minum dengan kejadian diare pada balita di Banten menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan jumlah sampel 467 balita. Analisis data yang digunakan adalah distribusi frekuensi dan chi-square. Prevalensi diare pada balita sebesar 10,7%.
Read More
S-10544
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yosi Purnama Sari; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Budi Hartono, Desy Mery Dorsanti
Abstrak: Pada tahun 2018, KLB diare di DKI Jakarta sebanyak 124 kasus yang tersebar di beberapa Kecamatan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan menganalisis secara statistik faktor lingkungan, permukiman kumuh dan bantaran sungai, kepadatan penduduk dengan kasus KLB diare di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2018. Desain penelitian yang digunakan yakni studi ekologi dengan menggunakan data sekunder yang berasal dari data Potensi Desa Tahun 2018 dan data Kependudukan yang berasal dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta dan menampilkan hasil dengan analisis spasial, meliputi variabel-variabel kasus KLB diare, pembuangan sampah, tempat pembuangan sampah sementara (TPS), jamban keluarga, tempat pembuangan akhir tinja, pembuangan limbah cair, sumber air bersih, sumber air minum, permukiman kumuh, permukiman bantaran sungai, dan kepadatan penduduk. Hasil penelitian ini ditemukan hubungan signifikan antara permukiman kumuh dengan kasus KLB diare tahun 2018 di DKI Jakarta. Secara spasial mengindikasikan adanya hubungan antara keberadaan TPS, sumber air minum, permukiman kumuh, permukiman bantaran sungai dan kepadatan penduduk dengan kejadian KLB diare. Kesimpulan dari penelitian ini yakni kondisi sanitasi secara umum di DKI Jakarta memiliki kondisi yang lebih baik dari angka nasional, namun tingkat kepadatan peduduk di DKI Jakarta melebihi tingkat kepadatan nasional. Daerah tingkat kerawanan terjadi KLB diare yang tinggi terdapat pada 5 kecamatan. Upaya pencegahan peningkatan jumlah kasus KLB diare yang memiliki hubungan dengan sanitasi lingkungan sebaiknya dilakukan kerjasama dengan lintas sektor guna memenuhi cakupan sarana sumber air minum, pengelolaan tinja, pengelolaan limbah cair, relokasi permukiman, dan persebaran penduduk. Kata kunci: KLB diare, sanitasi, permukiman kumuh, kepadatan penduduk In 2018, outbreaks of diarrhea in DKI Jakarta were 124 cases spread across several districts. This research aims to provide an overview and statistically analyze environmental factors, slums and riverbanks, population density with the case of diarrhea outbreaks in DKI Jakarta in 2018. The design of the study uses an ecological study using secondary data from Potensi Desa 2018 data and Population data and presented the result with spatial analysis, including case variables Outbreaks of diarrhea, waste management, temporary landfills (TPS), family latrines, fecal landfills, disposal waste water, clean water, drinking water, slums, riverbank settlements, and population density. The results from this research found a significant association between slums and diarrhea outbreaks in 2018 in DKI Jakarta. Spatially indicate a relationship between the existence of temporary landfills, drinking water sources, slums, riverbank settlements and population density with the occurrence of diarrhea outbreaks. The conclusion from this research is that sanitation conditions in DKI Jakarta have better conditions than the national rate, but the population density in DKI Jakarta exceeds the national density level. Areas with high levels of vulnerability occur outbreaks of diarrhea that are high in 5 districts. To prevent the increasing number of cases of diarrhea outbreaks associated with environmental sanitation should be cooperation across the sector to meet the scope of drinking water, family latrines, disposal wastewater, settlement relocation, and population distribution. Keywords: diarrhea outbreak, sanitation, slums, population density
Read More
S-10499
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marceline Ferto Tanaya; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Al Asyary, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, termasuk di Kabupaten Tangerang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara proporsi rumah sehat, akses air minum layak, dan penggunaan jamban sehat dengan kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Sukadiri, Pakuhaji, dan Sukawali pada tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis desa/kelurahan. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dan masing-masing puskesmas. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson dan Spearman sesuai dengan hasil uji normalitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang lemah dan berarah positif antara proporsi rumah sehat dengan kejadian diare (ρ = 0,387; p = 0,075), serta hubungan yang lemah dan berarah negatif antara akses air minum layak (r = -0,276; p = 0,214) dan penggunaan jamban sehat (ρ = -0,334; p = 0,128) dengan kejadian diare. Ketiga hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun arah hubungan sebagian besar sejalan dengan teori, hubungan antara indikator lingkungan dan kejadian diare belum dapat dibuktikan secara signifikan di wilayah penelitian ini.


Diarrhea remains a significant public health issue in Indonesia, including in Tangerang Regency. This study aims to analyze the relationship between the proportion of healthy homes, access to safe drinking water, and the use of proper sanitation facilities with the incidence of diarrhea in the working areas of Sukadiri, Pakuhaji, and Sukawali Community Health Centers in 2023. This study employed an ecological study design with the unit of analysis being villages/sub-districts. The data used were secondary data obtained from the Tangerang District Health Office and respective health centers. Bivariate analysis was conducted using Pearson and Spearman correlation tests, based on the results of the normality test. The findings show a weak positive correlation between the proportion of healthy homes and the incidence of diarrhea (r = 0.387; p = 0.075), a weak negative correlation between access to safe drinking water (r = -0.276; p = 0.214), and a weak negative correlation between the use of proper sanitation facilities (r = -0.334; p = 0.128) with the incidence of diarrhea. All three correlations were found to be statistically insignificant. Although the direction of the relationship aligns with theoretical expectations, the relationship between environmental health indicators and the incidence of diarrhea could not be statistically confirmed in the study area.
Read More
S-12056
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulinda Lubis; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Fitri Kurniasari, Indra Chahaya, Ali Imron
Abstrak:
Diare merupakan salah satu penyakit menular berbasis lingkungan yang hingga saat ini masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di tingkat global. Penyakit ini dapat terjadi pada semua kelompok umur serta berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan kematian. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan kejadian diare pada balita usia 6–59 bulan di Provinsi Jawa Barat berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesi (SSGI) 2024 serta mengidentifikasi determinan yang paling dominan. Penelitian menggunakan desain penelitian cross sectional dengan menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia tahun 2024 dengan sampel sebesar 16.395 orang. Analisis data menggunakan uji chi square dan regresi logistik model determinan prediksi. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi diare pada balita usia 6–59 bulan di Provinsi Jawa Barat sebanyak 1.417 balita (8,6%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa usia balita (OR=1,710; 95%CI=1,489–1,964), status gizi (OR=1,832; 95%CI=1,536–2,185), jenis kelamin (OR=1,279; 95%CI=1,113–1,470), dan pendidikan ibu (OR=1,361; 95%CI=1,165–1,590) berhubungan signifikan dengan kejadian diare (p<0,05). Status gizi merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian diare, dimana balita dengan status gizi kurang memiliki risiko 1,825 kali lebih tinggi mengalami diare dibandingkan balita dengan status gizi baik (AOR=1,825; 95% CI: 1,530–2,176). Oleh karena itu perlu memperkuat integrasi program pencegahan diare dengan intervensi perbaikan gizi pada balita usia 6–23 bulan melalui pemantauan pertumbuhan, deteksi dini masalah gizi, serta edukasi gizi dan higiene. Kata Kunci : Diare, status gizi, usia balita, jenis kelamin, pendidikan ibu

Diarrhea is one of the major environmentally related infectious diseases that remains a significant global public health problem. It affects all age groups and has the potential to cause outbreaks and mortality. This study aimed to analyze the determinants of diarrhea among children aged 6–59 months in West Java Province using data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) and to identify the most dominant determinant. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey, involving 16,395 children aged 6–59 months. Data were analyzed using the chi-square test and multivariable logistic regression with a determinant prediction model. The results showed that the prevalence of diarrhea among children aged 6–59 months in West Java was 8.6% (1,417 children). Bivariate analysis indicated that child age (OR=1.710; 95% CI: 1.489–1.964), nutritional status (OR=1.832; 95% CI: 1.536–2.185), sex (OR=1.279; 95% CI: 1.113–1.470), and maternal education (OR=1.361; 95% CI: 1.165–1.590) were significantly associated with diarrhea (p<0.05). Nutritional status was identified as the most dominant determinant, with undernourished children having a 1.825-fold higher risk of developing diarrhea than well-nourished children (AOR=1.825; 95% CI: 1.530–2.176). Therefore, strengthening the integration of diarrhea prevention programs with nutrition improvement interventions for children aged 6–23 months is recommended through growth monitoring, early detection of nutritional problems, and nutrition and hygiene education.  Keywords: Diarrhea, nutritional status, child age, sex, maternal education.
Read More
T-7533
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akhmad Riyadi; ;Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Zakianis, Fitri Kurniasari, Ikha Purwandari, Juri Hendrajadi
Abstrak:
Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berkaitan erat dengan faktor lingkungan, terutama kualitas dan pengelolaan air minum rumah tangga. Di Provinsi Kalimantan Timur, prevalensi diare berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 sebesar 4,2%. Peningkatan akses terhadap sumber air minum layak belum sepenuhnya menjamin keamanan air pada titik konsumsi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kualitas air minum rumah tangga yang meliputi parameter mikrobiologi, fisik, dan kimia dengan kejadian diare di Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan data Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan unit analisisnya adalah rumah tangga. Teknik pengambilan sampel mengikuti metode yang digunakan dalam SKAMRT 2024 yang melibatkan 2.051 rumah tangga. Analisis dilakukan secara deskriptif, uji Chi-square, dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 4,5% rumah tangga memiliki anggota rumah tangga yang mengalami diare. Parameter kualitas air minum yang menunjukkan proporsi tidak memenuhi syarat cukup tinggi adalah E. coli (31,3%), kekeruhan (19,0%), pH (15,0%), krom valensi 6 (46,5%), dan sisa klor pada rumah tangga dengan sumber air minum perpipaan (86,3%). Sebagian besar rumah tangga menggunakan sumber air minum layak (98,0%), memiliki akses air minum kontinu (96,5%), melakukan pengolahan air minum (56,9%), dan memiliki penyimpanan air minum tidak berisiko (95,1%). Parameter kekeruhan, pH, dan krom valensi 6 berhubungan signifikan dengan kejadian diare. Pada model akhir, hubungan E. coli, kekeruhan, dan pH dengan diare berbeda menurut kontinuitas air minum, sedangkan pada parameter sisa klor tidak berhubungan signifikan dengan diare setelah dikontrol kontinuitas air minum dan penyimpanan air minum. Kualitas air minum rumah tangga pada titik konsumsi, khususnya parameter fisik kekeruhan dan parameter kimia pH, berhubungan erat dengan kejadian diare di Provinsi Kalimantan Timur. Hubungan ini sangat dipengaruhi oleh keandalan kontinuitas air minum yang berperan sebagai variabel pemodifikasi efek (effect modifier).

Diarrhea remains a public health issue closely linked to environmental factors, particularly the quality and management of household drinking water. In East Kalimantan Province, the prevalence of diarrhea, according to the 2023 Indonesian Health Survey, was 4.2%. Increased access to improved drinking water sources does not fully guarantee water safety at the point of consumption. This study aims to analyze the association between household drinking water quality—comprising microbiological, physical, and chemical parameters—and the incidence of diarrhea in East Kalimantan Province, using data from the 2024 Household Drinking Water Quality Surveillance (SKAMRT). This study employed a cross-sectional design, with households as the unit of analysis. The sampling procedure followed the methodology of the 2024 SKAMRT, involving 2,051 households. Data were analyzed using descriptive statistics, Chi-square tests, and multivariable logistic regression. The results indicated that 4.5% of households had at least one member who experienced diarrhea. The results showed that 92 households (4.5%) had at least one member who experienced diarrhea. Drinking water quality parameters with a high proportion of non-compliance included E. coli (31.3%), turbidity (19.0%), pH (15.0%), hexavalent chromium (46.5%), and residual chlorine in households utilizing piped water sources (86.3%). Most households used improved drinking water sources (98.0%), had access to a continuous drinking water supply (96.5%), practiced drinking water treatment (56.9%), and utilized low-risk drinking water storage (95.1%). Turbidity, pH, and hexavalent chromium were significantly associated with the incidence of diarrhea. In the final model, E. coli, turbidity, and pH showed significant interactions with water supply continuity on the risk of diarrhea, whereas residual chlorine was not significantly associated with diarrhea after controlling for water supply continuity and water storage practices. Household drinking water quality at the point of consumption, particularly the physical parameter of turbidity and the chemical parameter of pH, is significantly associated with the incidence of diarrhea in East Kalimantan Province. This association is highly influenced by the reliability of water supply continuity, which acts as an effect modifier.
Read More
T-7546
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Indriyani; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Renti Mahkota, Endah Kusumawardhani
Abstrak: Kasus diare di Kabupaten Pandeglang masih cukup tinggi terutama diwilayah kerja Puskesmas Cibaliung, Labuan, dan Pagelaran dimana setengahnyaterjadi pada balita. Kasus diare pada tahun 2012 di Puskesmas Cibaliung, Labuan,dan Pagelaran masing-masing yaitu 244, 1.440, dan 686. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontaminasi Escherichia coli dalam air minum dan faktor sanitasi lingkungan dengan kejadiandiare akut pada balita di wilayah kerja Puskesmas Cibaliung, Labuan, dan Pagelaran Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten Tahun 2013. Disain penelitian yang digunakan adalah case control. Pengumpulan data dilakukan melaluiwawancara langsung mengenai faktor risiko lingkungan dengan menggunakan kuesioner serta pengambilan sampel air minum dan usap alat minum balita.Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan antara kontaminasi Escherichia coli dalam air minum dan faktor sanitasi lingkungan dengan kejadian diare akut pada balita. Variabel yang memiliki hubungan dengandiare akut pada balita adalah status gizi, pengetahuan ibu/pengasuh, serta hygienesanitasi makanan dan minuman. Sedangkan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian diare akut pada balita adalah pengetahuan ibu/pengasuh sertahygiene sanitasi makanan dan minuman. Kata kunci: Escherichia coli, faktor sanitasi lingkungan, diare akut, balita
Cases of diarrhea in Pandeglang district is still high especially in Regionof Puskesmas Cibaliung, Labuan, and Pagelaran which is half of the caseshappened to underfive years children. Cases of diarrhea (2012) in PuskesmasCibaliung, Labuan, and Pagelaran are 244, 1.440, and 686.This study aims to analyze association between contamination ofEscherichia coli in drinking water and factor of environmental sanitation withunderfive years children acute diarrhea in region of Puskesmas Cibaliung,Labuan, and Pagelaran, Regency of Pandeglang Province of Banten in 2013. Thisstudy used case control design. The information collected by interview aboutenvironmental risk factor and laboratorium analyze of drinking water sample andtumbler swab.Conclusion of this study is contamination of Escherichia coli in drinkingwater and factor of environmental sanitation have not association with underfiveyears children acute diarrhea. Whereas nutrition, knowledge of mother, andhygiene sanitation of food and water have association with underfive yearschildren acute diarrhea. Main risk factor which causes underfive years childrenacute diarrhea are knowledge of mother and hygiene sanitation of food and water.Keyword: Escherichia coli, factor of environmental sanitation, acute diarrhea,underfive years children
Read More
S-8069
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sekar Astrika Fardani; Pembimbing: Suyud; Penguji: Ririn Arminsih, Kuratul Aini
S-7728
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sadono Setyoko; Pembimbing: I Made Djaja, Agustin Kusumayati; Penguji: Ahmad Syafiq, Abas B. Jahari, Ni Ketut Aryastami
Abstrak: Prevalensi stunting balita di Indonesia tahun 2013 sebesar 37,2% mengalami peningkatan dari tahun 2010 sebesar 35,6% sehingga masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Faktor kondisi rumah dan sanitasi yang tidak layak dan penyakit infeksi berpotensi menjadi determinan stunting. Tujuan penelitian untuk mengetahui kondisi rumah, sanitasi dan penyakit infeksi terhadap risiko stunting balita 6-59 bulan di Indonesia berdasarkan data IFLS5 yang dilakukan pada tahun 2014-2015. IFLS5 menggunakan desain survey tetapi dalam penelitian ini menggunakan desain case control untuk kepentingan analisis dengan catatan bahwa aspek temporal dari varibel-variabel independen tidak selalu mencerminkan waktu kritis keterpajanan. Jenis dinding, kebersihan rumah, sumber air minum, pengolahan air minum, sumber air bersih, tempat buang air besar, sarana pembuangan air limbah, pembuangan sampah berhubungan dengan risiko stunting. Pengolahan air minum merupakan faktor dominan risiko stunting (OR=1,6). Pada kondisi rumah terdapat hubungan antara jenis dinding dan kebersihan rumah, pada sanitasi terdapat hubungan antara sumber air minum, pengolahan air minum, sumber air bersih, sarana buang air besar, sarana pembuangan air limbah, dan sarana pembuangan sampah dengan risiko stunting. Untuk menurunkan faktor risiko stunting balita 6-59 bulan di Indonesia dengan cara pengolahan air minum melalui pemanasan sampai mendidih 3-4 menit disamping intervensi gizi sensitif dan gizi spesifik lainnya.
Read More
T-5680
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zilfia Adrianti; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Hartono, Ririn Arminsih Wulandari, Juri Hendrajadi, Abdur Rahman
Abstrak:
Stunting merupakan permasalahan gizi yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dan menimbulkan dampak terhadap kualitas sumber daya manusia dan perekonomian. Salah satu penyebab stunting yaitu terjadinya infeksi berulang. Infeksi terjadi dapat disebabkan oleh air minum yang dikonsumsi telah terkontaminasi oleh bakteri Eschericia coli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas mikrobiologi (Eschericia coli) pada air minum dengan kejadian stunting anak usia 12 – 59 bulan. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain studi kasus kontrol. Sampel penelitian sebanyak 76 di wilayah kerja Puskesmas Aia Gadang yang terdiri dari 38 kasus dan 38 kontrol. Pengumpulan data penelitian dengan menggunakan compact dry EC dan membrane filter untuk kualitas mikrobiologi (Eschericia coli) dan juga menggunakan kuisioner serta dianalisis menggunakan uji chi square dan regresi logistic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas mikrobiologi (Eschericia coli) air minum (OR=3,222; 95%CI:1,207-8,6), buang air besar sembarangan (OR=3,222 ; 95%CI:1,207-8,6) dan cuci tangan pakai sabun (OR=4,694; 95%CI:1,784-12,351) berhubungan dengan kejadian stunting anak usia 12-59 bulan. Kualitas mikrobiologi (Eschericia coli) air minum anak usia 12-59 bulan yang tidak memenuhi standar baku mutu berpeluang mengalami kejadian stunting 3,997 Kali lebih tinggi dibandingkan dengan anak usia 12-59 bulan yang memiliki kualitas mikrobiologi air minum (Eschericia coli) memenuhi standar baku mutu setelah dikontrol variabel cuci tangan pakai sabun. Kata kunci : Stunting, Eschericia coli ,air minum

Stunting is a nutrition problem that affects growth and development and has an impact on the quality of human resources and economy. One of the causes of stunting is repeated infections. Infection can occur because the drinking water consumed has been contaminated Eschericia coli . This study aims to determine the relationship between microbiological quality ( Eschericia coli) in drinking water and the stunting in children aged 12 – 59 mounths. Thie study is an observational analytic research with a case control study design. The research sample was 76 in Puskesmas Aia Gadang consist of 38 cases and 38 controls. The data was collected using compact dry EC and membrane filter for microbiology quality (Eschericia coli) and quistionnaires and analyzed using chi square test and logistic regression. The results showed that the microbiological quality ( Eschericia coli) in drinking water (OR=3,222; 95%CI:1,207-8,6), open defecation (OR=3,222 ; 95%CI:1,207-8,6) and hand washing using soap (OR=4,694; 95%CI:1,784-12,351) associated with stunting in children aged 12-59 mounths. The Microbiological quality ( Eschericia coli) in drinking water children aged 12-59 mounths who do not qualified is 3,997 times higher risk of experiencing stunting than chikdren aged 12-59 mounths whose Microbiological quality ( Eschericia coli) qualified after controlling variable hand washing using soap . Keywords : Stunting, Eschericia coli, drinking water
 
Read More
T-7098
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive