Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40208 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Desfalina Aryani; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Agus Handito, Nindya Savitri
Abstrak:
Disabilitas serta keterbatasan aktivitas dasar dan instrumental kehidupan sehari-hari pada lansia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berdampak pada penurunan kualitas hidup, meningkatnya ketergantungan, serta beban pelayanan kesehatan dan sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan disabilitas serta keterbatasan aktivitas dasar dan instrumental kehidupan sehari-hari pada lansia di Indonesia. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder Indonesia Longitudinal Aging Survey (ILAS) tahun 2023 pada 1.743 lansia usia ≥60 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel dependen meliputi disabilitas, keterbatasan aktivitas dasar, dan keterbatasan aktivitas instrumental kehidupan sehari-hari, sedangkan variabel independen mencakup faktor sosiodemografi, kesehatan, perilaku kesehatan, akses layanan kesehatan, dan sosial. Analisis dilakukan secara deskriptif, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi disabilitas sebesar 29,6%, keterbatasan aktivitas dasar kehidupan sehari-hari sebesar 17,3%, dan keterbatasan aktivitas instrumental kehidupan sehari-hari sebesar 81,4%. Sekitar tiga dari sepuluh lansia mengalami disabilitas pada setidaknya satu domain, dengan pola keterbatasan aktivitas instrumental yang lebih tinggi dibanding aktivitas dasar. Determinan disabilitas meliputi faktor sosiodemografi, kesehatan, dan sosial, di mana lansia usia ≥80 tahun memiliki peluang mengalami disabilitas 3,25 kali dibandingkan usia 60–69 tahun (aOR=3,25; 95%CI: 2,10–5,00), sedangkan partisipasi sosial rendah meningkatkan peluang sebesar 1,97 kali (aOR=1,97; 95%CI: 1,50–2,58). Keterbatasan aktivitas dasar berhubungan dengan faktor sosiodemografi, kesehatan, dan sosial, sementara keterbatasan aktivitas instrumental juga dipengaruhi pendidikan, pendapatan, status gizi, dan jenis kelamin. Hasil ini menunjukkan perlunya penguatan upaya promotif dan preventif melalui deteksi dini penurunan fungsi, pengendalian penyakit kronis, peningkatan partisipasi sosial, serta pemeliharaan fungsi fisik dan kognitif untuk mempertahankan kemandirian lansia.

Disability and limitations in basic and instrumental activities of daily living among older adults are public health concerns associated with reduced quality of life, increased dependency, and greater health and social care burden. This study aimed to analyze the determinants of disability and limitations in basic and instrumental activities of daily living among older adults in Indonesia. A cross-sectional study was conducted using secondary data from the Indonesia Longitudinal Aging Survey (ILAS) 2023 involving 1,743 older adults aged ≥60 years who met the inclusion criteria. The dependent variables included disability, limitations in basic activities of daily living, and limitations in instrumental activities of daily living, while the independent variables comprised sociodemographic, health, health behavior, healthcare access, and social factors. Data were analyzed descriptively, bivariately using the chi-square test, and multivariately using logistic regression with a 95% confidence level. The results showed a prevalence of disability of 29.6%, limitations in basic activities of daily living of 17.3%, and limitations in instrumental activities of daily living of 81.4%. Approximately three in ten older adults experienced disability in at least one domain, with a higher pattern of limitations in instrumental activities compared with basic activities. Determinants of disability included sociodemographic, health, and social factors, in which older adults aged ≥80 years had 3.25 times higher odds of disability than those aged 60–69 years (adjusted Odds Ratio [aOR]=3.25; 95%CI: 2.10–5.00), while low social participation increased the odds by 1.97 times (aOR=1.97; 95%CI: 1.50–2.58). Limitations in basic activities of daily living were associated with sociodemographic, health, and social factors, whereas limitations in instrumental activities of daily living were additionally influenced by education, income, nutritional status, and sex. These findings highlight the need to strengthen promotive and preventive efforts through early detection of functional decline, chronic disease management, increased social participation, and maintenance of physical and cognitive function to preserve independence among older adults.
Read More
T-7520
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisyah Rizqi Iqbal; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Mohammad Fiqri Qoidhafy
Abstrak:
Indonesia mengalami peningkatan beban penyakit tidak menular akibat hipertensi dengan prevalensi yang terus meningkat, khususnya pada populasi pra usia lanjut dan usia lanjut di Indonesia. Studi berskala nasional yang menganalisis determinan hipertensi secara menyeluruh masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia ≥45 tahun di Indonesia, meliputi karakteristik sosiodemografi, kondisi kesehatan, dan faktor perilaku, dengan menggunakan data representatif dari ILAS. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel penduduk berusia ≥45 tahun sesuai kriteria inklusi yang diolah menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia, jenis kelamin, status perkawinan, status pekerjaan, diabetes, obesitas, obesitas sentral, perilaku merokok, dan aktivitas fungsional sehari-hari (ADL) memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi. Sebaliknya, tingkat pendidikan, wilayah tempat tinggal, depresi, dan konsumsi alkohol tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan strategi pencegahan dan pengendalian hipertensi pada aging population.

Indonesia is experiencing an increasing burden of non-communicable diseases due to hypertension, with prevalence rates continuing to rise, particularly among pre-elderly and elderly populations. Comprehensive national studies analyzing the determinants of hypertension remain limited. This study aims to identify factors associated with hypertension among individuals aged 45 years and older in Indonesia, including sociodemographic characteristics, health conditions, and behavioral factors, using representative data from ILAS. A cross-sectional design was employed, with a sample of individuals aged 45 years and above selected according to inclusion criteria and analyzed using univariate and bivariate methods. The results indicate that age, sex, marital status, employment status, diabetes, obesity, central obesity, smoking behavior, and activities of daily living (ADL) are significantly associated with hypertension. In contrast, education level, residential area, depression, and alcohol consumption are not significantly associated with hypertension. These findings are expected to inform the development of strategies for preventing and controlling hypertension in the aging population.
Read More
S-12196
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadindra Ramadhina Hakim; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Maliki
Abstrak:
Gangguan kognitif menjadi isu kesehatan masyarakat yang semakin penting seiring dengan meningkatnya jumlah populasi lansia akibat bertambahnya Usia Harapan Hidup (UHH). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan kognitif pada penduduk usia ≥ 45 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan memanfaatkan data sekunder gelombang pertama Indonesian Longitudinal Aging Survey (ILAS) tahun 2023. Status gangguan kognitif diukur menggunakan instrumen Six-Item Screener (SIS). Analisis hubungan antara gangguan kognitif dan faktor risiko dilakukan menggunakan uji chi-square dan perhitungan Prevalence Ratio (PR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 3.708 responden, prevalensi gangguan kognitif sebesar 26.2%. Faktor yang berhubungan dengan gangguan kognitif adalah kelompok lanjut usia ≥60 tahun (PR=1.84; 95% CI: 1.65–2.05), tingkat pendidikan rendah (PR=1.48; 95% CI: 1.29–1.68), status perkawinan tanpa pasangan hidup (PR=1.37; 95% CI: 1.22–1.54), tidak bekerja (PR=1.27; 95% CI: 1.02–1.59), pernah bekerja namun tidak lagi bekerja (PR=1.39; 95% CI: 1.24–1.57), status ADL ketergantungan (PR=2.68; 95% CI: 1.78–4.04), dan merokok (PR=1.14; 95% CI: 1.02–1.26). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam mengembangkan intervensi kesehatan masyarakat yang tepat sasaran untuk mencegah gangguan kognitif, terutama pada kelompok lanjut usia, tingkat pendidikan rendah, dan individu dengan keterbatasan aktivitas sehari-hari.

Cognitive impairment is becoming an increasingly critical public health issue as the elderly population grows due to rising life expectancy. This study aims to identify factors associated with cognitive impairment among individuals aged 45 years and older in Indonesia. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the first wave of the 2023 Indonesian Longitudinal Aging Survey (ILAS). Cognitive impairment status was measured using the Six-Item Screener (SIS). The relationship between cognitive impairment and risk factors was analyzed using the chi-square test and Prevalence Ratio (PR) calculations. The results showed that among 3,708 respondents, the prevalence of cognitive impairment was 26.2%. Factors significantly associated with cognitive impairment included being aged 60 years or older (PR=1.84; 95% CI: 1.65–2.05), having a low level of education (PR=1.48; 95% CI: 1.29–1.68), being unmarried /without a spouse (PR=1.37; 95% CI: 1.22–1.54), being unemployed (PR=1.27; 95% CI: 1.02–1.59), having previously worked but no longer working (PR=1.39; 95% CI: 1.24–1.57), and dependence in Activities of Daily Living (ADL) (PR=2.68; 95% CI: 1.78–4.04), and smoking (PR=1.14; 95% CI: 1.02–1.26). The results of this study are expected to serve as a basis for developing targeted public health interventions to prevent cognitive impairment, particularly among the elderly, those with low educational levels, and individuals with limitations in activities of daily living.
Read More
S-12422
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khadijah Qurrata Ayun; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Nurhayati Adnan, Antony Azarsyah
Abstrak:
Gangguan kesehatan gigi dan mulut memiliki angka yang cukup tinggi di Indonesia menjadi faktor risiko penyakit tidak menular sehingga dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk usia produktif yang tinggi sehingga gangguan kesehatan gigi dan mulut yang dapat mempengaruhi produktivitas perlu untuk ditangani. Penelitian ini bertujuan mengetahui proporsi dan determinan yang mempengaruhi kejadian gangguan kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat usia produktif di Indonesia berdasarkan hasil SKI 2023. Penelitian ini berdesain studi cross-sectional menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia 2018. Sebanyak 486.994 subjek memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil analisis multivariat model prediksi dengan regresi cox menunjukkan bahwa usia, jenis kelamin laki-laki, pendidikan rendah, sering konsumsi makanan manis, sering konsumsi minuman manis, merokok, konsumsi minuman beralkohol, dan frekuensi sikat gigi <2x/hari merupakan prediktor gangguan kesehatan gigi dan mulut. Modifikasi gaya hidup dan menerapkan perilaku kebersihan gigi sejak dini dapat dilakukan untuk mencegah tingkat keparahan. Perlunya peran pemerintah dalam memperkuat regulasi dengan koordinasi lintas sektor untuk menurunkan angka gangguan kesehatan gigi dan mulut yang dimulai pada tahap promotif dan preventif.


Dental and oral health disorders have a fairly high rate in Indonesia, becoming a risk factor for non-communicable diseases that can increase morbidity and mortality rates in Indonesia. Indonesia is one of the countries with an abundant productive age population, so dental and oral health disorders that can affect productivity need to be addressed. This study aims to determine the proportion and determinants that influence the incidence of dental and oral health disorders in productive age people in Indonesia based on the results of the 2023 SKI. This study was a cross-sectional study design using data from the 2018 Indonesian Health Survey. A total of 486,994 subjects met the inclusion and exclusion criteria. The results of the multivariate analysis of the prediction model with cox regression showed that age, male gender, low education, frequent consumption of sweet foods, frequent consumption of sweet drinks, smoking, consumption of alcoholic beverages, and frequency of toothbrushing
Read More
T-7427
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Binti Khofifah; Pembimbing: Helda; Penguji: Yovsyah, Sri Lestari
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Binti Khofifah Program studi : Epidemiologi Komunitas Judul Tesis : Hubungan Waist – Hip Ratio/ WHR (Rasio Lingkar Pinggang – Lingkar Pinggul) Terhadap Kejadian Disabilitas Pada Usia ≥ 45 Tahun di Indonesia (Analisis Data Indonesia Family Life Survey V Tahun 2014) Disabilitas ADLs dari tahun ke tahun meningkat, sehingga rasio ketergantungan lanjut usia juga meningkat setiap tahunnya. Pengukuran rasio lingkar pinggang – lingkar pinggul pada lanjut usia merupakan indikator yang tepat untuk mengukur tingkat kelebihan massa lemak. Hal itu berkaitan erat dengan berbagai penyakit kronis dan memungkinkan berkembang ke arah disabilitas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan rasio lingkar pinggang – lingkar pinggul dengan kejadian disabilitas pada usia ≥ 45 tahun. Desain penelitian ini adalah cross sectional, dengan analisis data ROC (untuk mengetahui titik pototng disabilitas ADLs), Chi – Square dan Regresi Cox. Populasinya adalah seluruh seluruh populasi usia ≥ 45 tahun yang memenuhi kriteria pada IFLS V tahun 2015. Hasil menunjukkan bahwa PR disabilitas ADLs dan rasio lingkar pinggang – lingkar pingul adalah sebesar 2,7 setelah dikontrol variabel interaksi WHR dengan jenis kelamin, WHR dengan pekerjaan dan WHR dengan status merokok. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan  selalu melakukan uji konfirmasi pengukuran rasio lingkar pinggang – lingkar pinggul khususnya pada usia ≥ 45 tahun teritama pada mereka yang tidak melakukan pekerjaan dan juga pada mereka yang merokok, sebab keduanya mempunyai interaksi sinergis dengan WHR yang akan meningkatkan disabilitas ADLs. Kata Kunci : disabilitas ADLs, IFLS V, rasio lingkar pinggang – lingkar pinggul, lanjut usia


ABSTRACK Name : Binti Khofifah Study Program : Community of Epidemiology Tittle : Relationship of Waist – Hip Ratio/ WHR with Disability at ≥ 45 years age in Indonesia (Data Analysis of  Indonesia Family Life Survey V, 2014) ADLs disability have been increasing every year, so dependently ratio of oldests people increased too every years. Measurements of waist – hip ratio in oldest people are as the true indicator to identify at increased risk of accumulation of abdomial fat. It’s related with some chronical diseases and maybe can be developing into disability. Research objective is to analyze the relationship between waist hip ratio with ADLs disability in people with ≥ 45 age years. Research design is cross sectional, with data analysis with ROC (it’s to determine cut off point of ADLs disability), Chi – Square and Cox Regression Analysis. Population are all peoples with ≥ 45 age according criteria in IFLS V at 2014. The result showed that Prevalence Ratio ADLs disability with waist – hip ratio are 2,7 after controlled by interaction variable of gender by WHR, job by WHR, and smoking status by WHR. According the result to advices someone always have been measured waist – hip ratio especially for someone with ≥ 45 ages, and there are without activity but there are smoking, becouse the both have sinergic interaction with waist hip – ratio and increased ADLs disability. Keyword : ADLs disability, IFLS V, WHR, oldest – peoples

Read More
T-4906
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resita Dyah Purnama Suci; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Putri Bungsu, Nurhalina Afriana, Agus Handito
Abstrak:
Latar Belakang: Hepatitis B merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi akibat penyakit hati kronik, sirosis, dan karsinoma hepatoseluler. Wanita pekerja seks (WPS) merupakan kelompok populasi kunci yang memiliki risiko tinggi terinfeksi hepatitis B karena tingginya paparan perilaku seksual berisiko dan faktor kerentanan lainnya. Tujuan: Menganalisis determinan yang berhubungan dengan infeksi hepatitis B pada wanita pekerja seks di Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan analisis data sekunder Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2023. Populasi penelitian adalah WPS berusia ≥15 tahun yang mengikuti pemeriksaan biologis hepatitis B. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik untuk memperoleh adjusted Prevalence Odds Ratio (aPOR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil: Proporsi infeksi hepatitis B pada WPS sebesar 2,3%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan secara signifikan dengan infeksi hepatitis B adalah sumber pendapatan utama dari menjual seks (aPOR=1,93; 95%CI: 1,21–3,07), tidak pernah mendengar tentang hepatitis (aPOR=3,02; 95%CI: 1,23–7,41), status HIV positif (aPOR=2,31; 95%CI: 1,21–4,39), status sifilis positif (aPOR=2,15; 95%CI: 1,28–3,55), penggunaan kondom yang tidak konsisten (aPOR=1,64; 95%CI: 1,15–2,33), dan tidak tersedianya kondom di tempat kerja (aPOR=1,29; 95%CI: 1,03–1,63). Kesimpulan: Faktor individu, perilaku, dan lingkungan berperan terhadap kejadian infeksi hepatitis B pada WPS di Indonesia. Upaya pencegahan perlu difokuskan pada peningkatan edukasi hepatitis B, perluasan akses vaksinasi bagi kelompok berisiko tinggi, penguatan integrasi layanan hepatitis B dengan HIV dan IMS, serta peningkatan ketersediaan dan penggunaan kondom secara konsisten.

Background: Hepatitis B remains a major global public health problem, contributing substantially to morbidity and mortality through chronic liver disease, cirrhosis, and hepatocellular carcinoma. Female sex workers (FSWs) are considered a key population at increased risk of hepatitis B infection due to frequent exposure to risky sexual behaviors and other vulnerability factors. Objective: To analyze determinants associated with hepatitis B infection among female sex workers in Indonesia. Methods: This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS). The study population consisted of FSWs aged ≥15 years who underwent hepatitis B biological testing. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with chi-square tests, and multivariable logistic regression to estimate adjusted Prevalence Odds Ratios (aPORs) and 95% confidence intervals (95% CIs). Results: The prevalence of hepatitis B infection among FSWs was 2.3%. Multivariable analysis showed that hepatitis B infection was significantly associated with earning income primarily through sex work (aPOR=1.93; 95%CI: 1.21–3.07), never having heard about hepatitis (aPOR=3.02; 95%CI: 1.23–7.41), HIV-positive status (aPOR=2.31; 95%CI: 1.21–4.39), positive syphilis status (aPOR=2.15; 95%CI: 1.28–3.55), inconsistent condom use (aPOR=1.64; 95%CI: 1.15–2.33), and lack of condom availability at the workplace (aPOR=1.29; 95%CI: 1.03–1.63). Conclusion: Individual, behavioral, and environmental factors contribute to hepatitis B infection among female sex workers in Indonesia. Prevention efforts should focus on strengthening hepatitis B education, expanding vaccination access for high-risk populations, integrating hepatitis B services with HIV and sexually transmitted infection programs, and improving condom availability and consistent use.
Read More
T-7610
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmadira Syafrina; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Yoslien Sopamena, Tin Afifah
Abstrak:
Masalah kesehatan mental merupakan tantangan kesehatan masyarakat global yang signifikan. Kecemasan dan perilaku bunuh diri semakin meningkat di kalangan remaja, termasuk di Indonesia. Kekerasan di lingkungan sekolah diduga menjadi salah satu faktor risiko yang berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengalaman kekerasan di lingkungan sekolah dengan masalah kesehatan mental pada pelajar usia remaja di Indonesia berdasarkan data Global School-based Student Health Survey (GSHS) Indonesia 2023. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan data sekunder dari GSHS Indonesia 2023 yang melibatkan 8.851 responden pelajar SMP dan SMA usia 12-17 tahun. Variabel independen adalah pengalaman kekerasan di lingkungan sekolah (diserang secara fisik, perkelahian fisik, dan mengintimidasi/bullying). Variabel dependen adalah masalah kesehatan mental (kecemasan, ide bunuh diri, rencana bunuh diri, dan percobaan bunuh diri) yang diukur secara hierarkis berdasarkan Three-Step Theory (3ST) of Suicide. Analisis data menggunakan uji Chisquare dan stratifikasi. Sebanyak 16,5% pelajar merasakan kecemasan, 1,7% memiliki ide bunuh diri, 5,3% memiliki rencana bunuh diri, dan 9,4% pernah melakukan percobaan bunuh diri dalam 12 bulan terakhir. Pengalaman kekerasan di sekolah ditemukan pada 38,6% pelajar (diserang secara fisik), 30,9% (perkelahian fisik), dan 17,0% (bullying). Seluruh bentuk kekerasan berhubungan signifikan dengan kecemasan dan bunuh diri (p<0,001). Pelajar yang pernah diserang secara fisik memiliki risiko 1,64 kali lebih tinggi mengalami kecemasan (OR=1,645; CI 95%: 1,469-1,842) dan 1,97 kali lebih tinggi melakukan percobaan bunuh diri (OR=1,966; CI 95%: 1,702-2,269). Kata Kunci : Kecemasan, Perilaku Bunuh Diri, Kekerasan di Sekolah, Mengintimidasi, Pelajar, Remaja, GSHS Indonesia 2023

Mental health problems represent a significant global public health challenge. Anxiety and suicidal behavior are increasingly prevalent among adolescents, including in Indonesia. School violence is suspected to be a contributing risk factor to adolescent mental health problems. This study aims to analyze the association between school violence exposure and mental health problems among school-going adolescents in Indonesia based on data from the Global Schoolbased Student Health Survey (GSHS) Indonesia 2023. This study employed a cross-sectional design using secondary data from GSHS Indonesia 2023 involving 8,851 respondents from junior and senior high school students aged 12-17 years. Independent variables were school violence experiences (being physically attacked, physical fighting, and bullying perpetration). Dependent variables were mental health problems (anxiety, suicidal ideation, suicide planning, and suicide attempt) measured hierarchically based on the Three-Step Theory (3ST) of Suicide. Data analysis used Chi-square tests and stratification analysis. A total of 16.5% of students experienced anxiety, 1.7% had suicidal ideation, 5.3% had suicide plans, and 9.4% had attempted suicide in the past 12 months. School violence experiences were found in 38.6% of students (physically attacked), 30.9% (physical fighting), and 17.0% (bullying perpetration). All forms of violence were significantly associated with anxiety and suicidal behavior (p<0.001). Students who were physically attacked had 1.64 times higher risk of experiencing anxiety (OR=1.645; 95% CI: 1.469-1.842) and 1.97 times higher risk of suicide attempt (OR=1.966; 95% CI: 1.702-2.269). Keywords : Anxiety, Suicidal Behavior, School Violence, Bullying, Students, Adolescents, GSHS Indonesia 2023

Read More
S-12369
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Kholijah Aspia; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Romauli
Abstrak: Transgender adalah salah satu kelompok yang paling terpengaruh oleh epidemic HIV dan 49 kali lebih mungkin untuk hidup dengan HIV dibandingkan populasi umum. Data dari Amerika Latin dan Karibia menunjukkan bahwa prevalensi HIV jauh lebih tinggi pada pekerja seks transgender wanita dibandingkan pada pekerja seks pria dan wanita non-transgender. Tesis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan menjual seks dengan status HIV pada waria di Indonesia yang merupakan analisis lanjut dari data STBP tahun 2015. Penelitian ini adalah studi crosssectional.   Subyek dalam penelitian ini adalah 867 waria yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian didapatkan prevalensi HIV sebesar 26.1% dan proporsi menjual seks pada waria dengan status HIV positif sebesar 31,1%. Analisis multivariat menunjukkan adanya hubungan antara menjual seks dengan status HIV dengan PR adjusted 1,358 [95% CI: (1,045-1,766)] p-value=0,022. Kesimpulan penelitian ini adalah waria yang menjual seks 1,358 kali lebih berisiko memiliki status HIV positif dibandingkan dengan waria yang tidak menjual seks setelah dikontrol oleh variabel riwayat IMS
Read More
T-5817
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ashar Nuzulul Putra; Pembimbing: Helda; Penguji: Nurhayati Adnan, Yovsyah, Sri Lestari
Abstrak: Latarbelakang : Disabilitas merupakan istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan impairment, keterbatasan fungsi fisik, keterbatasan partisipasi sosial. Disabilitas ADL atau ketidakmampuan melakukan aktifitas daily living (kegiatan sehari-hari/dasar) dikarenakan proses penuaan atau dampak dari penyakit kronis yang membatasi kemampuan seseorang dalam melakukan aktifitas. Hal ini berpengaruh langsung pada tingkat ekonomi dan kemiskinan yang dialami para penderita disabilitas. Studi ini ditujukan untuk melihat hubungan antara artritis dan disabilitas ADL pada mereka yang berusia > 40 tahun di Indonesia. Metode : studi cross-sectional dilakukan pada bulan mei 2017. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Indonesia family life survey V tahun 2014. Sampel pada penelitian ini sebanyak 8.185 responden. Dalam mengumpulkan data mengenai Artritis dan Disabilitas ADL, semua responden diukur menggunakan kuesioner yang telah disusun oleh penyelenggara Indonesia Family Life Survey V tahun 2014. Hasil : analisis cox regression menunjukan bahwa usia, obesitas, status pekerjaan merupakan efek modifikasi pada hubungan antara artritis dan keterbatasan pakaian, mandi, bangun tidur, makan tanpa bantuan, namun tidak ada interaksi pada hubungan antara arthritis dan dan toileting. Artritis dan ketidakmampuan menahan BAB/BAK menunjukan tidak adanya hubungan karna nilai PR yang didapatkan sebesar 1,01. Kesimpulan : Artritis berhubungan dengan hampir semua kegiatan yang ada pada penilaian Activity Daily Living, namun efek artritis terdapat perbedaan pada beberapa kegiatan pada Activity Daily Living tergantung pada usia, obesitas, dan status pekerjaan. Kata Kunci : Artritis, Disabilitas ADL Background : Disability is an umbrella term for impairment, activities limitation, and participation restriction. Ageing and chronical diseases are risk factors that causes activities limitation in activities daily living or can causes ADL disability. Activities limitation in activities daily living have a negative impact on poverty and economic levels for people who experienced ADL disability. This study aimed to determine the relationship between arthritis and ADL disability in people who > 40 years old in Indonesia. Methods : A Cross-sectional study perfomed in may 2017. The research using secondary data from Indonesia Family Life Survey 2014 (5th edition). Samples in this study were 8,185 respondents. In collecting data on ADL disability and Arthritis, all respondents were measured using a questionnaire that had been prepared by the organizer of Indonesia Family Life Survey 2014 (5th edition). Results : Cox regression analysis of arthritis showed an age, obesity, occupational status were an effect modifier on the relationship between artritis and limitation for dress, bathe, get out of bed, eat without help, but have no effect modifier between arthritis and and toileting. Arthritis and control urination and defecation showed no relationship with PR 1,01. Conclusion : Arthritis have a relationship with most activities in the Activity Daily Living assessment, but the effect of arthritis is that some activities in Activity Daily Living depend on age, obesity, and occupational status. Keywords : Arthritis, ADL Disability
Read More
T-4893
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yosephine Emilia Regina; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Trisari Anggondowati, Gertrudis Tandy
Abstrak: Latar belakang: Pneumonia adalah salah satu penyebab terbesar kematian balita di Indonesia dengan angka kematian 2.200 balita tiap harinya. Imunisasi Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) merupakan upaya pencegahan paling efektif terhadap pneumonia pada anak. Sejak diperkenalkan pada 2017 di Lombok dan 2019 di Bangka Belitung, imunisasi PCV telah diperluas secara bertahap ke beberapa provinsi dan resmi dimasukkan ke program imunisasi rutin nasional pada September 2022. Akan tetapi, hingga akhir 2023, cakupan imunisasi PCV lengkap pada anak di Indonesia baru mencapai 62,7%, jauh di bawah target nasional (100%). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor pendukung, pendorong, dan pemungkin dengan status kelengkapan imunisasi PCV pada anak usia 12-23 bulan di Indonesia. Metode: Studi ini menggunakan desain cross-sectional dengan total sampling diperoleh 9.675 anak usia 12–23 bulan yang menjadi responden SKI 2023. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik sederhana. Hasil: Cakupan imunisasi PCV lengkap nasional pada anak usia 12-23 bulan adalah 32,1%. Faktor yang signifikan berasosiasi dengan kelengkapan imunisasi PCV meliputi memiliki akses ke fasilitas kesehatan yang mudah (OR = 7,71; 95% CI = 5,54-10,73), berstatus imunisasi dasar lengkap (OR = 5,87; 95% CI = 5,29-6,51), tinggal di Kep. Sunda Kecil (OR = 2,69; 95% CI = 2,03-3,56), lahir ditolong oleh tenaga kesehatan (OR = 2,62; 95% CI = 1,23-5,58), memiliki catatan imunisasi (OR = 2,18; 95% CI = 1,92-2,47), dan dilahirkan di fasilitas kesehatan (OR = 2,13; 95% CI: 1,76–2,60). Kesimpulan: Besarnya nilai odds pada anak yang memiliki akses ke fasilitas kesehatan yang mudah menyiratkan bahwa pemerintah masing-masing daerah perlu mengurangi kesenjangan akses ke layanan kesehatan seperti menambah infrastruktur kesehatan di daerah dengan akses sulit dan menyediakan subsidi transportasi atau layanan imunisasi keliling bagi masyarakat dari daerah yang sulit dijangkau.
Background: Pneumonia is one of the biggest causes of under-five deaths in Indonesia with 2,200 under-five deaths per day. Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) immunization is the most effective preventive measure against childhood pneumonia. Since its introduction in 2017 in Lombok and 2019 in Bangka Belitung, PCV immunization has been gradually expanded to several provinces and was officially included in the national routine immunization program in September 2022. However, by the end of 2023, complete PCV immunization coverage among children in Indonesia will only reach 62.7%, far below the national target (100%). This study aimed to analyze the association between predisposing, reinforcing, and enabling factors with PCV immunization completeness among children aged 12-23 months in Indonesia. Methods: This study used a cross-sectional design with total sampling obtained 9,675 children aged 12-23 months who were respondents of SKI 2023. Univariate and bivariate analyses were conducted using the Chi-square test and simple logistic regression. Results: The national complete PCV immunization coverage in children aged 12-23 months was 32.1%. Factors significantly associated with PCV immunization completeness are having easy access to health facilities (OR = 7.71; 95% CI = 5.54-10.73), having complete basic immunization status (OR = 5.87; 95% CI = 5.29-6.51), living in Lesser Sunda Island (OR = 2.69; 95% CI = 2.03-3.56), was born assisted by a health worker (OR = 2.62; 95% CI = 1.23-5.58), had an immunization record (OR = 2.18; 95% CI = 1.92-2.47), and was born in a health facility (OR = 2.13; 95% CI: 1.76-2.60). Conclusion: The large odds ratio for children with easy access to health facilities implies that each local government needs to reduce disparities in access to health services such as adding health infrastructure in areas with difficult access and providing transportation subsidies or mobile immunization services for people from hard-to-reach areas.
Read More
S-11824
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive