Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35979 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Novita Rina Antarsih; Promotor: Besral; Kopromotor: Rima Irwinda, Eka Budiarto; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Sutanto Priyo Hastono, Prihatin Oktivasari, Soewarta Koesen, Indra Supradewi, Omo Abdul Majid
Abstrak:
Latar Belakang: Intrauterine Growth Restriction (IUGR) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas perinatal. Deteksi dini di Puskesmas masih menghadapi keterbatasan akses ultrasonografi, variasi kemampuan skrining, dan keterlambatan rujukan. Pemanfaatan Artificial Intelligence Clinical Decision Support System (AI-CDSS) berpotensi mendukung skrining dan pengambilan keputusan rujukan secara lebih konsisten. Tujuan: Mengembangkan model Artificial Intelligence (AI) berbasis data antenatal untuk skrining risiko IUGR di Puskesmas, menilai efikasi diagnostiknya dibandingkan metode konvensional, serta mengevaluasi dampak potensial implementasi sistem AI terintegrasi telehealth terhadap deteksi dini dan ketepatan rujukan IUGR di Puskesmas. Metode: Penelitian pengembangan dengan pendekatan multiphase mixed-methods ini dilakukan dalam lima tahap, yaitu analisis kebutuhan sistem, pengembangan model AI, evaluasi usability dan feasibility, uji efikasi diagnostik, serta evaluasi dampak potensial implementasi (simulated effectiveness). Pengembangan model menggunakan 1.761 data longitudinal dari 571 ibu hamil. Uji efikasi dan evaluasi dampak potensial melibatkan 604 ibu hamil di empat Puskesmas. Hasil: Model hybrid yang menggabungkan data maternal, tinggi fundus uteri, dan biometrik janin dari USG non-citra menunjukkan performa terbaik. AI-CDSS mencapai sensitivitas 100% (95%CI: 0,95–1,00), spesifisitas 87% (95%CI: 0,84–0,90), akurasi 89%, dan AUC 0,935 (95%CI: 0,916–0,954; p<0,001). Pada evaluasi dampak potensial implementasi, penggunaan sistem meningkatkan deteksi risiko IUGR dari 14,7% menjadi 25,8% (p=0,001) dan mengidentifikasi tambahan 67 kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi. Kesimpulan: AI-CDSS VITA-Scan menunjukkan performa yang baik sebagai alat bantu skrining risiko IUGR di Puskesmas. Integrasi AI, aturan klinis, dan telehealth berpotensi meningkatkan deteksi dini serta mendukung ketepatan rujukan maternal.

Background: Intrauterine Growth Restriction (IUGR) remains a major contributor to perinatal morbidity and mortality. Early detection in Indonesian primary healthcare centers (Puskesmas) is often challenged by limited access to ultrasonography, variations in screening practices, and delayed referral decisions. Artificial Intelligence Clinical Decision Support Systems (AI-CDSS) may help improve screening consistency and support timely referral decisions. Objective: To develop an artificial intelligence (AI)-based antenatal screening model for identifying the risk of IUGR in primary healthcare centers, assess its diagnostic efficacy compared with conventional approaches, and evaluate the potential impact of an AI-CDSS integrated with telehealth on early detection and referral accuracy. Methods: This multiphase mixed-methods study was conducted in five stages: needs assessment, AI model development, usability and feasibility evaluation, diagnostic efficacy testing, and simulated effectiveness evaluation. Model development used 1,761 longitudinal records from 571 pregnant women. The model integrated maternal characteristics, symphysis-fundal height measurements, and non-image ultrasound fetal biometric parameters using a hybrid approach that combined machine learning and clinical rules. Diagnostic efficacy and simulated effectiveness were evaluated among 604 pregnant women from four Puskesmas. Results: The hybrid model demonstrated the best performance. The AI-CDSS achieved a sensitivity of 100% (95% CI: 0.95–1.00), specificity of 87% (95% CI: 0.84–0.90), accuracy of 89%, and an AUC of 0.935 (95% CI: 0.916–0.954; p<0.001). During simulated effectiveness evaluation, the system increased IUGR risk detection from 14.7% to 25.8% (p=0.001) and identified 67 additional cases that were not detected through routine practice. Conclusions: VITA-Scan AI-CDSS demonstrated good performance as a decision-support tool for IUGR risk screening in primary healthcare centers. The integration of AI, clinical rules, and telehealth has the potential to improve early detection and support more appropriate maternal referral decisions.
Read More
D-639
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mery Ramadani; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: Endang Laksminingsih Achadi, Hartono Gunardi; Penguji: Anhari Achadi, Faisal Yunus, Besral, Bambang Wispriyono, Soewarta Kosen, Abas Basuni Jahari,
Abstrak: Rokok merupakan masalah global dan menjadi ancaman serius bagi kesehatan ibu hamil dan janin. Studi kohor prospektif ini, dilakukan untuk menilai pengaruh pajanan pasif asap rokok ibu hamil terhadap gangguan pertumbuhan janin. Melibatkan 128 ibu hamil trimester 3, hamil janin tunggal, tidak memiliki riwayat penyakit kronis, bukan perokok aktif, bukan mantan perokok, dan bersedia terlibat dalam penelitian. Penilaian pajanan asap rokok ibu berdasarkan pemeriksaan nikotin darah tali pusat (cut off ≥1ng/ml). Pengukuran menggunakan nikotin plasma adalah metode yang paling akurat karena dapat mengukur kondisi sebenarnya dan membantu mengurangi misklasifikasi. Gangguan pertumbuhan janin dinilai dengan pengukuran berat lahir, panjang lahir, lingkar kepala, dan berat plasenta. Pengukuran dilakukan segera setelah lahir untuk menjamin ketepatan pengukuran. Analisis uji beda dua mean digunakan untuk mengetahui perbedaan rata rata ukuran gangguan pertumbuhan janin antara kelompok ibu terpajan asap rokok dan tidak terpajan asap rokok. Analisis regresi linier untuk melihat pengaruh pajanan asap rokok terhadap berat lahir, panjang lahir, lingkar kepala dan berat plasenta dengan memperhatikan variabel pengganggu seperti penambahan berat badan ibu selama hamil, BMI ibu, paritas ibu, usia dan kadar hemoglobin ibu. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar nikotin tali pusat sebesar 1,3±2,5 ng/ml. Berat lahir dan berat plasenta bayi dari ibu yang mendapat pajanan asap rokok lebih rendah dibandingkan ibu yang tidak mendapat pajanan asap rokok. Pajanan asap rokok secara signifikan mengurangi berat lahir bayi sebesar 205,6 gram (pvalue = 0,005) dan berat plasenta sebesar 51 gram (p value=0,010).
 

This cohort study examined the effect of secondhand smoke exposure in pregnant women on fetal growth restriction. The study recruited 128 pregnant women in the third trimester pregnancy, single pregnancy, no chronic illness, non-active smokers, non-exsmokers, and who were willing to participate in the study. Pregnant women with the secondhand smoke exposure referred to those with the umbilical cord blood nicotine level of 1ng/ml or higher. Fetal growth disorder was assessed according to the newborn weight, length, head circumference, and palcental weight measured immediately after birth. The independent t-test analysis was used to determine the difference in average size of fetal growth between two groups of pregnant women: exposed and the notexposed to the secondhand smoke. A multiple linear regression analysis was employed to find out the effect of secondhand smoke exposure on birth weight, length, head circumference, and palcental weight controlling for the birth size confounders including weight gain during pregnancy, body mass index, parity, maternal age, and maternal hemoglobin. The study found that mean of nicotine in umbilical cord blood was 1.3±2.5 ng/ml, the birth weight and the placental weight of infants were lower among mothers who exposed than among mothers who did not expose to the secondhand smoke. Exposed to the secondhand smoke reduced the birth weight by 205.6 grams (p value = 0.005) and placental weight by 51 grams (p value=0.010).
Read More
D-395
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jumhati, Siti; Promotor: Sabarinah; Kopromotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Agustin Kusumayati, Artha Prabawa, Kemal Nazaruddin Siregar, Sabarinah, Sudarto Ronoatmodjo, Maryati, Arietta Pusponegoro, Ade Jubaedah, Trihono
Abstrak:
Hasil Long Form sensus penduduk 2020 (LF SP 2020) AKI di Indonesia sebesar 189 per 100.000 KH, sementara AKI di Provinsi Banten sebesar 127/100.000 KH. Penurunan angka kematian ibu dari hasil LF SP2020 mencapai 45 persen. Meskipun AKI pada tahun 2020 sudah ada penurunan dibanding dengan AKI pada tahun 2015, akan tetapi masih perlu usaha keras untuk mencapai target SDGs. Deteksi dini preeklampsi pada ibu hamil adalah bagian dari asuhan antenatal yang merupakan salah satu kunci intervensi utama untuk menurunkan angka kematian ibu dan mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah diterapkan diberbagai Negara. Tujuan penelitian ini untuk menguatkan keaktifan bidan dan kader Kesehatan di Puskesmas dalam mempengaruhi ibu hamil melakukan deteksi dini preeklampsia menggunakan mHealth. Metode penelitian ini menggunakan desain Mixs Methods Exploratory Sequential. Penelitian kualitatif dilakukan untuk pengembangan intervensi. Informan pada penelitian kualitatif terdiri dari Dinas Kesehatan, Ibu hamil, keluarga ibu hamil, bidan Puskesmas, kader kesehatan dan masyarakat. Penelitian kuantitatif menggunakan desain Quasi eksperimental. Penelitian dilakukan di Kecamatan Angsana, Kaduhejo (intervensi) dan Cikupa Pandeglang, Cadasari (kontrol) di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Populasi penelitian seluruh ibu hamil umur 15-49 tahun, di Kabupaten Pandeglang. Sampel penelitian yaitu Ibu hamil umur 15-49 tahun, usia kehamilan ≤ 34 minggu yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, besar sampel 100 orang. Teknik pengambilan sampel dengan Purposive sampling. Pada kelompok intervensi dilakukan edukasi menggunakan mHealth untuk penguatan pemeriksaan deteksi dini preeklampsi pada ibu hamil oleh bidan dan kader, pada kelompok kontrol tidak dilakukan intervensi. Analisa data dengan menggunakan analisa univariat, bivariat, multivariat: Risk Ratio (RR), Attributable Risk (AR), AR% (absolute) dan Difference in Difference (DiD). Hasil studi kualitatif Ibu hamil mempersepsikan bahwa tidak sulit untuk mengakses pelayanan kesehatan terkait deteksi dini preeklampsi, dan orang tua adalah orang yang paling banyak memberikan saran dan masukan selama kehamilan. Meskipun demikian mayoritas ibu hamil masih belum melakukan pemeriksaan deteksi dini preeklampsi dengan baik, dan masih ada beberapa ibu hamil yang tidak ingin memeriksakan kehamilannya ke bidan maupun ke dokter kandungan. Hasil studi kuantitatif variabel yang paling dominan mempengaruhi perilaku deteksi dini preeklampsi adalah Intervensi bidan dan kader kesehatan, sikap dan dukungan tenaga kesehatan terhadap deteksi dini preeklampsi dengan nilai (p-value < 0,05). Intervensi edukasi menggunakan mHealth oleh bidan dan kader secara signifikan (p value < 0,05) memberikan dampak meningkatkan perilaku well detection terhadap preeklampsi pada ibu hamil sebesar 47,1 % (AR) dan 38% (DiD).


The results of the Long Form Population Census 2020 (LF SP 2020) showed that the MMR in Indonesia was 189 per 100,000 KH, while the MMR in Banten Province was 127/100,000 KH. The reduction in maternal mortality from the LF SP2020 results reached 45 per cent. Although the MMR in 2020 has decreased compared to the MMR in 2015, it still needs hard efforts to achieve the SDGs target. Early detection of preeclampsia in pregnant women is part of antenatal care which is one of the key interventions to reduce maternal mortality and achieve Sustainable Development Goals (SDGs) targets that have been implemented in various countries. The purpose of this study was to strengthen the activeness of midwives at Puskesmas in influencing pregnant women to do early detection of preeclampsia using mHealth. This research method uses Mixs Methods Exploratory Sequential design. Qualitative research was conducted for intervention development. Informants in qualitative research consisted of the Health Office, pregnant women, families of pregnant women, Puskesmas midwives, health cadres and the community. Quantitative research used a Quasi-experimental design. The study was conducted in Angsana, Kadu Hejo (intervention) and Cikupa, Cadasari (control) sub-districts in Pandeglang Regency, Banten Province. The study population was all pregnant women aged 15-49 years, in Pandeglang Regency. The study sample was pregnant women aged 15-49 years, gestational age ≤ 34 weeks who met the inclusion and exclusion criteria, a sample size of 100 people. Purposive sampling technique. In the intervention group, education using mHealth was carried out to strengthen the early detection of preeclampsia in pregnant women by midwives and cadres, in the control group no intervention was carried out. Data analysis using univariate, bivariate, multivariate: Risk Ratio (RR), Attributable Risk (AR), AR% (absolute) and Difference in Difference (DiD). Qualitative study results Pregnant women perceive that it is not difficult to access health services related to early detection of preeclampsia, and parents are the people who provide the most advice and input during pregnancy. However, the majority of pregnant women still do not perform early detection of preeclampsia properly, and there are still some pregnant women who do not want to check their pregnancy with a midwife or obstetrician. The results of the quantitative study of the most dominant variable affecting the early detection of preeclampsia was the Educational interventions using mHealth by midwives and , and health worker support. Educational interventions using mHealth by midwives and CHWs significantly (p value <0.05) had an impact on improving the early detection behaviour of preeclampsia in pregnant women by 47,1% (AR) and 38% (DiD).
 
Read More
D-536
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Machrumnizar; Promotor: Tris Eryando; Kopromotor: Adang Bachtiar, Rina Kurniasri Kusumaratna; Penguji: Anhari Achadi, Dumilah Ayuningtyas, Nastiti Kaswandani, Maxi Rein Rondonuwu, Dedy Sugiarto
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) tetap menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia dengan angka kejadian yang tinggi, termasuk pada anak-anak yang berkontribusi sekitar 16,68% dari total kasus TB nasional. Untuk mencapai target eliminasi TB pada tahun 2030, salah satu upaya strategis adalah optimalisasi deteksi dini melalui pemanfaatan teknologi digital dalam proses skrining dan diagnosis. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model skrining TB anak berbasis machine learning dengan sistem skoring otomatis guna meningkatkan cakupan deteksi dan notifikasi kasus secara lebih efisien. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan kohort retrospektif dan dilaksanakan pada April–Agustus 2025 di delapan Puskesmas Kecamatan di wilayah Jakarta Barat. Data penelitian diperoleh dari rekam medis elektronik (RME) puskesmas dan database sistem informasi tuberkulosis (SITB) tahun 2023–2024. Model dikembangkan melalui empat skenario menggunakan lima algoritma, yaitu Logistic Regression, Decision Tree, Random Forest, K-Nearest Neighbor, dan Support Vector Machine. Evaluasi kinerja model dilakukan menggunakan cross-validation k-fold = 5 dengan metrik akurasi, sensitivitas, spesifisitas, dan Area Under the Receiver Operating Characteristic (AUROC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel dengan kontribusi prediktif terbesar meliputi pembesaran kelenjar, malaise ≥ dua minggu, penurunan atau stagnasi berat badan dua bulan terakhir, status gizi, dan riwayat kontak TB. Berdasarkan variabel tersebut, Decision Tree menjadi algoritma dengan performa terbaik karena menghasilkan nilai AUROC > 0,90. Nilai AUROC yang sangat tinggi (mendekati 1) menunjukkan bahwa kedua model memiliki kemampuan yang sangat baik dalam membedakan pasien anak dengan TB positif dan negatif berdasarkan skoring, serta sesuai untuk karakteristik data yang bersifat non-linear dengan interaksi antar gejala. Prototype aplikasi berbasis web yang dikembangkan mampu memberikan estimasi risiko secara cepat dan interaktif, sehingga berpotensi mendukung skrining TB anak di fasilitas layanan primer.

Tuberculosis (TB) remains a major public health challenge in Indonesia, with a high incidence rate, including among children who account for approximately 16.68% of all national TB cases. To achieve the 2030 TB elimination target, optimizing early detection through the use of digital technologies in screening and diagnosis is a key strategic approach. This study aims to develop a machine learning–based pediatric TB screening model equipped with an automated scoring system to enhance the efficiency of case detection and notification. A quantitative approach with a retrospective cohort design was employed, conducted from April to August 2025 across eight sub-district primary health centers (Puskesmas) in West Jakarta. Data were obtained from electronic medical records (RME) and the tuberculosis information database system (SITB) database for the years 2023–2024. The model was developed under four scenarios using five algorithms: Logistic Regression, Decision Tree, Random Forest, K-Nearest Neighbor, and Support Vector Machine. Model performance was evaluated using 5-fold cross-validation with accuracy, sensitivity, specificity, and Area Under the Receiver Operating Characteristic (AUROC) as the evaluation metrics. The findings indicate that the variables with the strongest predictive contributions include lymph node enlargement, malaise lasting ≥ two weeks, weight loss or stagnation over the past two months, nutritional status, and TB contact history. Based on these variables, Decision Tree demonstrated the best performance, achieving AUROC values > 0.90. Such high AUROC values (approaching 1) suggest excellent discriminatory ability in distinguishing TB-positive from TB-negative pediatric patients, particularly given the non-linear patterns and interactions among clinical symptoms. A prototype web-based application was developed and demonstrated the ability to generate rapid and interactive risk estimations. This tool shows strong potential to support pediatric TB screening efforts in primary healthcare settings.
Read More
D-615
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Silviana Mustikawati; Promotoor: Hadi Pratomo; Kopromotor; Evi Martha, Ade Iva Murty Penguji: Asri C. Adisasmita, Suginarti, Ekawaty Lutfia Haksari, Sutanto Priyo Hastono, Dian Ayubi
Abstrak:
Perawatan BBLR yang optimal dan keberlanjutan dengan Perawatan Metode Kanguru (PMK) di rumah sangat diperlukan untuk menjaga agar suhu bayi tetap stabil dan menghindari terjadinya gangguan kesehatan pada bayi khususnya neonatus. Namun perbedaan kondisi antara rumah sakit dan rumah akan berpengaruh pada praktek PMK ibu di rumah, dimana praktek PMK di rumah tidak seberhasil praktek PMK di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendampingan kader kesehatan terhadap pengetahuan, sikap, dan praktek PMK pada ibu dengan BBLR. Penelitian dilakukan terhadap 100 ibu yang mempunyai BBLR paska perawatan RSUD Koja, Jakarta Utara dengan pendekatan kuasi eksperimen (50 ibu kelompok intervensi dan 50 ibu kelompok kontrol). Teknik pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling. Di kelompok intervensi ibu BBLR mendapatkan booklet dan memperoleh pendampingan PMK 3 kali oleh kader kesehatan berupa kunjungan rumah yang diberikan pada 3 hari setelah BBLR keluar dari RS, minggu ke-2, dan ke-3. Sedangkan di kelompok kontrol, ibu BBLR hanya mendapatkan booklet dari kader kesehatan pada saat kunjungan akhir di rumah. Pada kedua kelompok dilakukan pengukuran sebanyak 4x yaitu sebelum pendampingan 1, setelah pendampingan 1, setelah pendampingan 2, dan setelah pendampingan 3. Pengumpulan data kualitatif dilakukan untuk melengkapi informasi hasil kuantitatif yang didapatkan dalam penelitian. Analisis bivariat dilakukan dengan independent t-test dan paired t-test, serta analisis multivariat dilakukan dengan General Linear Model-Repeated Measure untuk menganalisis pengaruh pendampingan kader kesehatan terhadap pengetahuan, sikap, dan praktek PMK ibu dengan mempertimbangkan faktor confounding. Hasil memperlihatkan bahwa pendampingan PMK oleh kader kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan PMK sebesar 12% (pengukuran 2), 3% (pengukuran 3), dan 1,67% (pengukuran 4). Pengaruh pendampingan terhadap sikap ibu terhadap PMK adalah sebesar 8,13% (pengukuran 2); 14,06% (pengukuran 3); dan 2,37% (pengukuran 4). Pendampingan berpengaruh terhadap peningkatan praktek PMK ibu sebesar 4,92% (pengukuran 2) dan 1,29% (pengukuran 3). Kesimpulan: Pendampingan PMK oleh kader kesehatan melalui kunjungan rumah selama 3 kali dalam 3 mingggu dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktek PMK pada ibu. Disarankan pelibatan kader kesehatan dalam pendampingan dan pemantauan PMK di rumah dimasukkan dalam kebijakan pemantauan BBLR. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktek PMK ibu BBLR di rumah pasca rawat rumahsakit.
Read More
D-429
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sunawang; Pembimbing: Budi Utomo, Endang L. Achadi; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Adi Hidayat, Kusharisupeni, Purnawan Junadi, Idrus Yus'at
D-101
Depok : FKM-UI, 2005
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firlia Ayu Arini; Promotor: Endang Laksminingsih Achadi; Kopromotor: Besral, Fasli Jalal; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Kusharisupeni Djokosujono, Hartono Gunardi, Atmarita, Suwarta Kosen
Abstrak:
Latar Belakang : Seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) merupakan periode emas bagi pertumbuhan dan perkembangan yang menentukan kualitas kesehatan anak pada daur kehidupan berikutnya. Hambatan pertumbuhan yang terjadi pada periode tersebut terutama karena kekurangan gizi, menyebabkan janin yang bersifat plastis menyesuaikan dengan membatasi tumbuh kembang. Beberapa studi longitudinal menunjukkan bahwa pertumbuhan lebih cepat setelah terjadinya hambatan pertumbuhan dapat menjadi faktor risiko tekanan darah tinggi pada usia remaja. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh pertumbuhan cepat pada anak dengan riwayat hambatan pertumbuhan di usia 0-23 bulan terhadap tekanan darah pada usia 17-19 tahun. Metode : Data pada penelitian ini menggunakan hasil dari Indonesian Family Life Survey 1997,2000 dan 2014 yang diambil pada 13 provinsi di Indonesia. Pengambilan data dilakukan secara longitudinal dengan unit sampel rumah tangga dengan anak usia 0-23 bulan pada tahun 1997 kemudian diikuti pada tahun 2000 dan 2014. Pengukuran pertumbuhan cepat ditentukan dengan perubahan nilai z skor BB/U, PB/U atau TB/U, dan BB/TB antar tahun survei, yang lebih dari 0.67 poin. Tekanan darah diukur pada tahun 2014 yaitu saat anak berusia 17- 19 tahun. Besar sampel penelitian sebanyak 671 anak yang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu 1.) anak normal, 2.) anak dengan hambatan pertumbuhan dan tidak tumbuh cepat,3.) anak dengan hambatan pertumbuhan diikuti tumbuh cepat. Analisis multivariat menggunakan GLM univariat dan Regresi Cox dilakukan untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan cepat setelah terjadinya hambatan pertumbuhan pada 1000 HPK terhadap tekanan darah pada usia remaja. Hasil : Hasil analisis menunjukkan, anak yang tumbuh cepat menurut TB/U setelah mengalami hambatan pertumbuhan, memiliki rata-rata tekanan darah sistolik 4,61 mm Hg (CI: 1,38-7,84) lebih tinggi dan rata-rata tekanan darah diastolik 3,89 mm Hg (CI: 0,67-7,11) lebih tinggi, serta berisiko 1,58 (CI:0,83-2,33) kali mengalami tekanan darah tinggi dibanding anak yang normal setelah dikontrol faktor karakteristik anak, orang tua dan rumah tangga. Set Kesimpulan: Pertumbuhan cepat setelah terjadinya hambatan pertumbuhan di 1000 HPK meningkatkan risiko peningkatan tekanan darah pada usia remaja. Rekomendasi : Upaya pencegahan hambatan pertumbuhan dan perkembangan pada periode 1000 HPK bersama-sama dengan menerapkan pola makan bergizi seimbang pada anak berusia 2 tahun atau lebih, merupakan pencegahan yang sangat penting dalam menurunkan hipertensi pada remaja.

Background : The First Thousand Days of Life (1000 HPK) is a golden period for growth and development that determines the quality of children?s health in the next life cycle. The growth retardation that occurs in this period is mainly due to malnutrition, causing the plastic fetus to adjust to limiting growth and development. Several longitudinal studies have shown that faster growth after growth retardation might be a risk factor for high blood pressure in adolescence. This study aims to prove the effect of rapid growth in children with a history of growth retardation at the age of 0-23 months on blood pressure at the age of 17-19 years. Method: The data in this study used the results of the 1997,2000 and 2014 Indonesian Family Life Survey which were taken in 13 provinces in Indonesia. Data collection was carried out longitudinally with a sample unit of household with children aged 0-23 months as sample unit in 1997 followed in 2000 and 2014. The measurement of Rapid growth was determined by changes in the z score values of Weight for Age, Length/Height for Age, and Weight for Height inter-year survey, which is more than 0.67 points. Blood pressure was measured in 2014 when children were 17- 19 years old. The sample size of the study was 671 children who were divided into 3 groups, namely 1.) normal children, 2.) children with growth retardation and not growing fast,3.) children with growth retardation followed by fast growth. Multivariate analysis using univariate GLM and Cox Regression was carried out to analyze the effect of rapid growth after growth retardation at 1000 HPK on blood pressure in adolescents. Results: The result of analysis showed that, children who grew fast according to Height for Age U after experiencing growth retardation, had an average systolic blood pressure of 4,61 mmHg (CI: 1,38-7.84) higher and average diastolic blood pressure of 3,89 mmHg (CI: 0.67-7,11) higher, and 1,58 times of experiencing high blood pressure (CI:0,83-2,33)higher than normal children after controlling for characteristic of children, parents and household factors. Conclusion: Rapid growth after the occurrence of growth retardation in 1000 HPK increases the risk of increased blood pressure in adolescence. Recommendation: Efforts to prevent growth and development retardation in 1000 HPK together with implementing a balanced nutritious diet in children aged 2 years or older, are very important preventions in reducing hypertension in adolescents.
Read More
D-471
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Santy; Promotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Kopromotor: Besral, Narila Mutia Nasir; Penguji: Anhari Achadi, Artha Prabawa, Tris Eryando, Indrajani, Eka Budiarto
Abstrak:
Latar Belakang: Adverse Pregnancy Outcomes (APO) diantarannya Berat Bayi Lahir rendah (BBLR), kelahiran preterm dan lahir mati merupakan penyebab utama kematian neonatal.  Indonesia menduduki posisi tertinggi di ASEAN dan ke tujuh di dunia terkait kematian bayi baru lahir. Rumusan Masalah: Belum terdeteksi secara dini faktor risiko APO dengan cepat dan tepat di FKTP yang berdampak pada tingginya kematian bayi baru lahir, stunting dan kecerdasan yang rendah, sehingga perlu adanya pengembangan program pencegahan. Tujuan Penelitian: Menemukan model prediksi APO berbasis machine learning untuk pengembangan ePHR sebagai upaya deteksi dini di FKTP. Metode: Penelitian ini menggunakan Mixed Methods: Sequential Explanatory design melalui empat (4) tahap yaitu: (1) Studi Literatur; (2) Pembuatan model prediksi APO berbasis Machine Learning, (3) Membangun Prototipe ePHR Sebagai Deteksi Dini di FKTP dan (4) Uji penerimaan bidan dan Uji Efikasi terhadap penggunaan ePHR. Hasil: Ditemukan 22 Variabel penelitian dari 51 variabel yang dibutuhkan, ditemukan 3 indikator kritis dan 8 fitur esensial yang menjadi predictor utama kejadian APO diantaranya: Kesehatan ibu (komplikasi kehamilan dan atau persalinan, paritas lebih dari 4); Ketersediaan dan kualitas pelayanan (fasilitas pertolongan persalinan); Profile ibu (pendidikan rendah, status sosial ekonomi rendah, usia terlalu tua atau terlalu muda dan ibu bekerja). Analisis menunjukkan algoritma terbaik adalah random forest dengan target multiclass: AUC 98,4%; Sensitivity 95,1%; F1 Score 94,3%, Diimplementasikan kedalam prototipe ePHR  ‘'e-bayiKusehAt” dengan 10 fitur untuk mendukung proses bisnis baru Deteksi dini APO terintegrasi dalam layanan antenatal di FKTP yang digunakan oleh bidan dan ibu hamil; Uji efikasi: Penggunaan Prototipe ePHR ‘'e-bayiKusehAt” meningkatkan kinerja bidan terutama deteksi dini terintegrasi dalam pelayanan Antenatal Diff-in-Diff tertinggi 1,571 (p<0,001); Kemampuan prediksi APO Diff-in-Diff 0,079 (p = 0,002); Mempercepat keputusan rujukan Diff-in-Diff 0,324 (p = 0,001); dan pengetahuan bidan tentang faktor risiko APO Diff-in-Diff: 0,388 ( p=0,031); Ibu hamil meningkatkan Akses edukasi Diff-in-Diff: 1,680 (p < 0,001) dan Pengetahuan Tanda Bahaya: Diff-in-Diff: 1,443 (p < 0,001). Kesimpulan: Telah diperoleh suatu model untuk prediksi APO, yang didasari dari 22 variabel penting. Model tersebut digunakan untuk membangun prototipe e PHR ‘'e-bayiKusehAt”, dimana hasil uji coba penggunaan prototipe berdampak pada peningkatan kinerja bidan dalam Deteksi Dini APO. Penggunaan prototipe ini ternyata juga efektif dalam meningkatkan kesadaran dan kesiapan ibu hamil terhadap potensi risiko kehamilan yang berdampak pada kejadian APO.

Background: Adverse Pregnancy Outcomes (APO) including low birth weight (LBW), preterm birth and stillbirth are the leading causes of neonatal mortality.  Indonesia has the highest position in ASEAN and seventh in the world regarding newborn mortality. Problem Formulation: APO risk factors have not been detected early and quickly at primary health care facilities, which has an impact on high newborn mortality, stunting and low intelligence, so it is necessary to develop a prevention program. Research Objective: Finding a machine learning-based APO prediction model for the development of ePHR as an effort to early detection in primary care. Methods: This research uses Mixed Methods: Sequential Explanatory design through four (4) stages, namely: (1) Literature Study; (2) Machine Learning-based APO prediction modeling, (3) Building ePHR Prototype as Early Detection in FKTP and (4) Midwife acceptance test and Efficacy Test for the use of ePHR. Results: 22 research variables were found from the 51 variables needed, 3 critical indicators and 8 essential features were found to be the main predictors of APO events including: Maternal health (complications of pregnancy and or childbirth, parity more than 4); Availability and quality of services (delivery assistance facilities); Maternal profile (low education, low socioeconomic status, too old or too young and working mothers). Analysis shows the best algorithm is random forest with multiclass target: AUC 98.4%; Sensitivity 95.1%; F1 Score 94.3%, Implemented into the ePHR prototype “e-bayiKusehAt” with 10 features to support new business processes Early detection of APO integrated in antenatal services at FKTP used by midwives and pregnant women; Efficacy test: The use of the ePHR Prototype “e-bayiKusehAt” improves midwives' performance, especially integrated early detection in antenatal services Diff-in-Diff highest 1.571 (p<0.001); APO Diff-in-Diff prediction ability 0.079 (p = 0.002); Accelerating Diff-in-Diff referral decisions 0.324 (p = 0.001); and midwives' knowledge of APO Diff-in-Diff risk factors: 0.388 (p = 0.031); Pregnant women increase Diff-in-Diff education access: 1.680 (p < 0.001) and knowledge of danger signs: Diff-in-Diff: 1,443 (p < 0,001). Conclusion: A model for APO prediction was obtained, based on 22 important variables. The model was used to build the e PHR prototype “e-babyKusehAt”, where the results of the trial use of the prototype had an impact on improving the performance of midwives in Early Detection of APO. The use of this prototype was also effective in increasing the awareness and readiness of pregnant women to potential pregnancy risks that have an impact on the incidence of APO.
Read More
D-594
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ruwayda; Promotor: Sutanto Priyo Hastono; Kopromotor: Evi Martha, Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Anhari Achadi, Rita Damayanti, Ade Jubaedah, Muldiasman, Dwi Tyastuti
Abstrak:

ABSTRAK

Latar Belakang: Tingginya angka kematian ibu dan neonatus di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) yang belum mencapai target. Kinerja bidan desa, sebagai ujung tombak pelayanan, dipandang sebagai salah satu faktor krusial yang dapat ditingkatkan melalui supervisi dari bidan koordinator puskesmas. Meskipun demikian, data menunjukkan pelaksanaan supervisi fasilitatif KIA di provinsi Jambi pada tahun 2022 dan 2023 baru mencapai 10.86% dan 17.38% dari target 90%. Khususnya di kabupaten Muaro Jambi, capaiannya lebih rendah lagi, yaitu 11.64% (2022) dan 15.07% (2023). Kesenjangan ini menunjukkan perlunya intervensi strategis untuk meningkatkan kualitas supervisi demi mengoptimalkan kinerja bidan dalam pelayanan KIA.
Tujuan: Mengetahui pengaruh model integrasi midwifery opinion leader dan supervisi fasilitatif terhadap kinerja bidan dan dampaknya pada cakupan pelayanan kesehatan ibu dan anak di Provinsi Jambi tahun 2025.
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian mixed methods exploratory sequential design terdiri dari 3 tahap yaitu tahap I diawali scoping review, studi pendahuluan dan uji coba instrumen dilanjutkan identifikasi kebutuhan model menggunakan metode kualitatif dengan desain phenomenology. Tahap II meliputi pengembangan model, panel expert, pelatihan dan uji coba model. Tahap III dilakukan uji model terhadap kinerja bidan dengan indikator standar kompetensi kinerja (SKK) dan cakupan pelayanan KIA dengan penelitian quasi experiment pretest-posttest with control designs. Populasi adalah seluruh bidan desa/pustu di provinsi Jambi. Sampel yaitu kelompok intervensi sebanyak 60 responden (di kabupaten Muaro Jambi) dilakukan intervensi model integrasi MOL dan supervisi fasilitatif, sedangkan kelompok kontrol 60 responden (di kota Jambi) dilakukan hanya supervisi fasilitatif. Waktu penelitian pada bulan Mei 2024 hingga Agustus 2025, analisis data dengan univariat, bivariat dan multivariat (Difference in Difference).
Hasil: Berdasarkan identifikasi kebutuhan ditemukan subtema: kinerja bidan, kebutuhan supervisi dan model supervisi. Selanjutnya dilakukan pengembangan model supervisi dengan pendekatan teori COM-B, supportif supervision, midwifery leadership dan coaching sehingga diperoleh model midwifery opinion leader (MOL) yang dapat diintegrasikan dengan program supervisi fasilitatif KIA puskesmas. Hasil uji penerimaan model diperoleh hasil skor tertinggi yaitu sikap terhadap penggunaan rata-rata 4.9 dan terendah yaitu persepsi manfaat dengan skor 4.71. Hasil analisis diff in diff diketahui pada 2 kelompok sebelum dan sesudah intervensi terhadap skor standar kompetensi kerja: penataan pelayanan 1.36(0.24-1.60), asuhan bayi baru lahir 2.36(0.75-3.12) pemeriksaan kehamilan 1.33(0.48-1.82), pemeriksaan ibu bersalin 1.93(1.72-3.65) dan asuhan ibu nifas 1.43(0.30-1.74).Uji dampak model terhadap cakupan KIA yaitu: kunjungan ibu hamil ke-4 (K4)18.25(3.83-22.08), persalinan nakes (PN) 15.53(3.47-19.00), kunjungan nifas (KNF) 15.59(3.41-19.00), kunjungan neonatal lengkap (KNL) 14.35(9.97-24.33), kunjungan bayi (KBY) 19.08 (7.26-26.35) dan kunjungan balita (KBAL) 5.81 (16.14-21.95).
Kesimpulan dan Saran: Model integrasi Midwifery Opinion Leader (MOL) dan supervisi fasilitatif berpengaruh dalam meningkatkan kinerja bidan dalam pelayanan KIA. Disarankan mempertimbangkan model ini dalam kegiatan program supervisi kesehatan ibu dan anak di Puskesmas.


ABSTRACT


Background: The high maternal and neonatal mortality rates in Indonesia are influenced by various factors, including the quality of maternal and child health (MCH) services, which have not yet reached their targets. The performance of village midwives, as the frontline of service delivery, is seen as a crucial factor that can be improved through supervision by health center coordinator midwives. However, data shows that the implementation of facilitative MCH supervision in Jambi province in 2022 and 2023 has only reached 10.86% and 17.38% of the 90% target. In Muaro Jambi district, in particular, the achievement was even lower, at 11.64% (2022) and 15.07% (2023). This gap indicates the need for strategic interventions to improve the quality of supervision in order to optimize the performance of midwives in MCH services.
Objective: To determine the effect of the midwifery opinion leader integration model and facilitative supervision on midwives' performance and its impact on the coverage of maternal and child health services in Jambi Province in 2025.
Research Method: This research is a mixed methods exploratory sequential design consisting of 3 stages, namely stage I, which begins with a scoping review, preliminary study, and instrument testing, followed by the identification of model requirements using a qualitative method with a phenomenology design. Stage II includes model development, expert panel, training, and model testing. Phase III involved testing the model on midwives' performance using standard competency performance (SKK) indicators and MCH service coverage using a quasi-experimental pretest-posttest with control designs. The population consisted of all village midwives/health workers in Jambi Province. The sample consisted of an intervention group of 60 respondents (in Muaro Jambi district) who underwent the MOL integration model intervention and facilitative supervision, while the control group of 60 respondents (in Jambi city) only underwent facilitative supervision. The research period was from May 2024 to August 2025, with data analysis using univariate, bivariate, and multivariate (Difference in Difference) methods.
Results: Based on the identification of needs, the following sub-themes were found: midwife performance, supervision needs, and supervision models. Subsequently, a supervision model was developed using the COM-B theory, supportive supervision, midwifery leadership, and coaching approaches, resulting in a midwifery opinion leader (MOL) model that can be integrated with the KIA puskesmas facilitative supervision program. The model acceptance test results showed the highest score for attitude toward use, with an average of 4.9, and the lowest score for perceived benefits, with a score of 4.71. The results of the diff in diff analysis showed that in the two groups before and after the intervention, the standard work competency scores were: service management 1.36 (0.24-1.60), newborn care 2.36 (0.75-3.12), pregnancy check-ups 1.33 (0.48-1.82), maternity check-ups 1.93 (1.72-3.65), and postpartum care 1.43 (0.30-1.74). The model's impact on MCH coverage was as follows: fourth antenatal visit (K4) 18.25 (3.83-22.08), skilled birth attendance (PN) 15.53 (3.47-19.00), postnatal visit (KNF) 15.59 (3.41-19. 00), complete neonatal visits (KNL) 14.35 (9.97-24.33), infant visits (KBY) 19.08 (7.26-26.35), and toddler visits (KBAL) 5.81 (16.14-21.95).
Conclusion and Recommendations: The integration model of Midwifery Opinion Leader (MOL) and facilitative supervision has an impact on improving midwives' performance in maternal and child health services. It is recommended to consider this model in maternal and child health supervision program activities at health centers.

Read More
D-603
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arum Atmawikarta; Promotor: Budi Utomo; Ko-promotor: Endang L. Achadi, Muhilal; Penguji: Darwin Karyadi, Mien Karmini, Abas Basuni Jahari, Kusharisupeni; Purnawan Junadi, Adang Bachtiar
D-199
Depok : FKM UI, 2007
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive