Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 43012 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Andi Liza Azzahra; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Atik Nurwahyuni, Dumilah Ayuningtyas, Agung Giri Samudra, Mardiati Nadjib
Abstrak:
Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berkontribusi terhadap penggunaan antibiotik tidak rasional dan peningkatan risiko resistensi antimikroba. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Provinsi Maluku Utara memiliki proporsi perolehan antibiotik tanpa resep dokter sebesar 77,9%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor predisposing, enabling, dan need dengan perilaku penggunaan antibiotik pada penduduk usia ≥15 tahun di Provinsi Maluku Utara berdasarkan Andersen Behavioral Model. Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan data sekunder SKI 2023. Analisis dilakukan pada penduduk usia ≥15 tahun yang menggunakan antibiotik oral dalam satu tahun terakhir. Variabel dependen adalah cara perolehan antibiotik, sedangkan variabel independen meliputi faktor predisposing, enabling, dan need. Analisis data menggunakan pendekatan complex sample analysis melalui uji univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan cara perolehan antibiotik berbeda antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Pada wilayah perkotaan, faktor yang berhubungan pada model final hanya sumber perolehan antibiotik. Sementara itu, pada wilayah perdesaan, faktor yang berhubungan meliputi sumber perolehan antibiotik dan keluhan kesehatan. Secara keseluruhan, faktor enabling, khususnya sumber perolehan antibiotik, merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan cara perolehan antibiotik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perolehan antibiotik tanpa resep masih lebih banyak ditemukan pada kelompok yang memperoleh antibiotik melalui sumber nonformal dan dipengaruhi oleh karakteristik individu serta akses pelayanan kesehatan. Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan tata kelola distribusi antibiotik, peningkatan pengawasan pada fasilitas pelayanan kesehatan formal dan nonformal, serta pengembangan strategi edukasi yang sesuai dengan karakteristik kelompok sasaran guna mendukung penggunaan antibiotik yang rasional.

The use of antibiotics without a doctor’s prescription remains a public health problem that contributes to irrational antibiotic use and increases the risk of antimicrobial resistance. Based on the 2023 Indonesian Health Survey, North Maluku Province had a proportion of non-prescription antibiotic acquisition of 77.9%, which was higher than the national average. This study aimed to analyze the association between predisposing, enabling, and need factors and antibiotic use behavior among individuals aged ≥15 years in North Maluku Province based on the Andersen Behavioral Model. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey. The analysis was conducted among individuals aged ≥15 years who had used oral antibiotics within the past year. The dependent variable was the method of antibiotic acquisition, while the independent variables included predisposing, enabling, and need factors. Data analysis was performed using a complex sample analysis approach through univariate, bivariate, and multivariate analyses. The results showed that factors associated with the method of antibiotic acquisition differed between urban and rural areas. In urban areas, the only factor associated in the final model was the source of antibiotic acquisition. Meanwhile, in rural areas, the associated factors included the source of antibiotic acquisition and health complaints. Overall, enabling factors, particularly the source of antibiotic acquisition, emerged as the most dominant factors associated with the mode of antibiotic acquisition. The findings demonstrated that obtaining antibiotics without a prescription was more prevalent among individuals who acquired antibiotics through informal sources and was influenced by individual characteristics as well as access to healthcare services. These results highlight the need to strengthen antibiotic distribution governance, enhance supervision of both formal and informal healthcare facilities, and develop educational strategies tailored to the characteristics of target populations in order to promote the rational use of antibiotics.
Read More
T-7547
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rona Firmana Putri; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Purnawan Junadi, Nurrahmiati, Andi Alfian Zainuddin
Abstrak:
Indonesia masih mengalami kesulitan terkait akses masyarakat terhadap layanan kesehatan serta kurangnya tenaga kesehatan, terutama di wilayah perdesaan dan terpencil. Berdasarkan data Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan (SISDMK), terdapat kekurangan tenaga kesehatan, khususnya dokter, yang ditandai dengan masih banyaknya jumlah Puskesmas tanpa dokter. Provinsi Maluku adalah salah satu Provinsi yang memiliki persentase Puskesmas tanpa dokter tertinggi yaitu 17,6% dan Puskesmas tersebut mayoritas terletak di wilayah perdesaan dan terpencil yang ditetapkan oleh pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi dokter untuk bekerja di daerah perdesaan dan terpencil di Provinsi Maluku. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan kuesioner online yang disebarkan kepada 344 dokter yang bekerja di Provinsi Maluku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 192 (56%) dokter yang mengisi kuesioner, faktor pengalaman di perdesaan dan terpencil (p=0,032), peluang karir (p=0,000), peluang pengembangan pendidikan dan profesional (p=0,010) dan kondisi kehidupan (p=0,016) merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi dokter untuk bekerja di daerah perdesaan dan terpencil di Provinsi Maluku. Sementara faktor yang paling dominan berhubungan adalah peluang karir (AOR=4,32 95% CI 1,43-11,76 95% CI) dan pengalaman di perdesaan dan terpencil 1-5 tahun (AOR=4,30 95% CI 1,24-14,70 95% CI). Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam membuat kebijakan untuk mengatasi kekurangan dokter di daerah perdesaan dan terpencil khususnya di Provinsi Maluku, pemerintah harus memberikan perhatian khusus terhadap peluang pengembangan pendidikan dan profesional, kondisi kehidupan, dan terutama kebijakan terkait peluang kemajuan karir dokter serta kebijakan yang menunjang dokter agar memiliki pengalaman praktik di perdesaan dan terpencil.

Indonesia is still experiencing difficulties related to community access to health services and the need for more health workers, especially in rural and remote areas. Based on data from the Health Human Resources Information System (SISDMK), there is a shortage of health workers, especially doctors, as indicated by the large number of Public Health Centers that are without doctors. Maluku Province is one of the provinces with the highest percentage of Public Health Centers without doctors, at 17.6%, and most of these are located in rural and remote areas designated by the government. This study aims to determine the factors that associated with doctors' motivation to work in rural and remote areas in Maluku Province. The design of this study was cross-sectional, using an online questionnaire distributed to 344 doctors working in Maluku Province. The results showed that of 192 (56%) partisipants who filled out the questionnaire, the factors of experience in rural and remote areas (p=0.032), career opportunities (p=0.000), educational and professional development opportunities (p=0.010), and living conditions (p=0.016) were factors associated with doctors' motivation to work in rural and remote areas in Maluku Province. While the most dominant factors associated are career opportunities (AOR = 4.32 95% CI 1.43-11.76 95% CI) and experience in rural and remote areas 1-5 years (AOR=4,30 95% CI 1,24-14,70 95% CI). This study suggests that in making policies to overcome the shortage of doctors in rural and remote areas, especially in Maluku Province, the government should consider the following factors such as educational and professional development opportunities, living conditions, and primarily policies related to opportunities for career advancement of doctors and policies that support doctors to have practice experience in rural and remote areas.
Read More
T-7039
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewinda Nurfaiza; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Budi Hidayat, Lilyk Rakhmawaty, Muhammad Alfarezi
Abstrak:
Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit kronis yang memerlukan pemeriksaan ulang (kontrol) rutin untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup penderita. Namun, tidak semua penderita DM tipe 2 melakukan kontrol secara teratur. Kondisi ini menjadi perhatian khusus di Pulau Kalimantan yang memiliki prevalensi DM relatif tinggi serta karakteristik geografis yang berpotensi memengaruhi akses dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan. Tujuan: menganalisis determinan pemeriksaan ulang (kontrol) DM tipe 2 ke fasilitas pelayanan kesehatan pada kelompok umur ≥15 tahun di Pulau Kalimantan berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023. Metode: menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder SKI Tahun 2023. Sampel berjumlah 786 penderita DM tipe 2 usia ≥15 tahun. Analisis dilakukan menggunakan complex sample design melalui analisis univariat, bivariat, dan multivariat dengan regresi logistik ordinal.  Hasil: sebanyak 61,2% responden melakukan pemeriksaan ulang (kontrol) DM tipe 2 secara rutin. Analisis multivariat menunjukkan bahwa status ekonomi, kepemilikan jaminan kesehatan, edukasi pengobatan DM, jenis pengobatan, dan keberadaan penyakit komorbid berhubungan signifikan dengan pemeriksaan ulang (kontrol) DM tipe 2 (p<0,05). Determinan dominan adalah penggunaan kombinasi obat tenaga medis dan insulin (OR=7,036; 95%CI=1,406–35,212). Saran: upaya peningkatan pemeriksaan ulang penderita Diabetes Melitus tipe 2 perlu difokuskan pada penguatan continuity of care melalui edukasi diabetes yang terstruktur dan berkelanjutan, optimalisasi layanan primer dan Prolanis, perluasan akses pelayanan kesehatan, serta pemantauan intensif pada pasien dengan terapi kompleks dan penyakit komorbid.

Background: Type 2 diabetes mellitus (DM) is a chronic disease that requires regular check-ups to prevent complications and improve quality of life. However, not all people with type 2 DM undergo regular check-ups. This is a particular concern on the island of Kalimantan, which has a relatively high prevalence of DM and geographic characteristics that potentially impact access to healthcare. Objective: analyzing the determinants of follow-up visits among patients with Type 2 Diabetes Mellitus aged ≥15 years in Kalimantan using data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). Method: using a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey. The study included 786 respondents diagnosed with T2DM aged ≥15 years in Kalimantan. Data were analyzed using a complex sample design through univariate, bivariate, and multivariate analyses with ordinal logistic regression. Results: a total of 61.2% of respondents attended routine follow-up visits. Multivariate analysis showed that economic status, health insurance ownership, diabetes treatment education, type of treatment received, and the presence of comorbidities were significantly associated with follow-up visits among T2DM patients (p<0.05). The most dominant determinant was the use of combined medical treatment and insulin therapy (OR=7,036; 95%CI=1,406–35,212). Suggestions: efforts to increase re-examination of type 2 Diabetes Mellitus patients need to be focused on strengthening continuity of care through structured and ongoing diabetes education, optimizing primary care and Prolanis, expanding access to health services, and intensive monitoring of patients with complex therapies and comorbidities.
Read More
T-7570
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kezia Chrisiavinta; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Helen Andriani, Kurnia Sari, Mieska Despitasari, Hidayat Nuh Ghazali Djadjuli
Abstrak:
Kepatuhan kontrol rutin pasien hipertensi di Indonesia tetap rendah dan stagnan dalam satu dekade terakhir. Penelitian ini menganalisis determinan utilisasi layanan kesehatan melalui perilaku kunjungan ulang pasien hipertensi menggunakan kerangka Model Perilaku Andersen Fase 5. Desain potong lintang analitik diterapkan dengan data sekunder SKI 2023 (53.668 sampel, 38 provinsi), dianalisis menggunakan Complex Samples Logistic Regression Multinomial yang mengintegrasikan karakteristik kontekstual (dataset RUTA) dan individual (dataset ART) secara simultan. Hasil menunjukkan hanya 43,1% penderita hipertensi yang kontrol rutin, sementara 56,9% atau sekitar 9,68 juta jiwa belum menjalani kontrol teratur. Sembilan dari dua belas variabel terbukti signifikan, dengan edukasi tenaga kesehatan sebagai determinan paling dominan (aOR = 6,041; 95% CI: 5,113-7,133), diikuti usia muda (aOR 2,988), komorbiditas PTM (aOR 1,844-1,960), dan kepesertaan JKN sebagai faktor protektif. Karakteristik individual terbukti lebih dominan dibandingkan karakteristik kontekstual. Penguatan komunikasi klinis tenaga kesehatan primer dan percepatan cakupan JKN merupakan intervensi paling mendesak untuk meningkatkan kepatuhan kontrol hipertensi nasional.

Routine follow-up adherence among hypertensive patients in Indonesia has remained persistently low over the past decade. This study analyzed the determinants of healthcare utilization through follow-up visit behavior among hypertensive patients using the Andersen Behavioral Model Phase 5 framework. An analytic cross-sectional design was applied using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI 2023) comprising 53,668 samples across 38 provinces, analyzed through Multinomial Complex Samples Logistic Regression integrating contextual characteristics (RUTA household dataset) and individual characteristics (ART individual dataset) simultaneously. Results showed that only 43.1% of hypertensive patients attended routine follow-up visits, while 56.9%, equivalent to approximately 9.68 million individuals, had not undergone regular monitoring. Nine of twelve variables were statistically significant, with healthcare provider education being the most dominant determinant (aOR = 6.041; 95% CI: 5.113-7.133), followed by young age (aOR 2.988), non-communicable disease comorbidities (aOR 1.844-1.960), and National Health Insurance (JKN) membership as a protective factor. Individual characteristics proved more dominant than contextual characteristics. Strengthening clinical communication capacity among primary healthcare workers and accelerating JKN coverage expansion are the most critical interventions to improve hypertension follow-up adherence at the national population level.
Read More
T-7551
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Joina Stella Ruhulessin; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Prastuti Soewondo, Purnawan Junadi, Anton Lailossa, Yuni Zahraini
Abstrak:
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis deteminan stunting pada balita 0-59 dari konsep intervensi gizi spesifik dan sensitive serta mengetahui besar kontribusi intervensi gizi spesifik dan sensitive dalam upaya penurunan stunting di Maluku. Jenis penelitian adalah kuantitatif non eksperimental dengan desain cross sectional atau potong lintang, menggunakan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022. Hasil penelitian menemukan bahwa determinan stunting pada balita dari konsep intervensi spesifik dan sensitive di Provinsi Maluku, yakni Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), kepemilikan jaminan Kesehatan, Program Keluarga Harapan (PKH), sumber air minum , fasilitas sanitasi dan PMT Balita. Sedangkan kontribusi yang diberikan intervensi spesifik dan sensitif adalah kecil terhadap penurunan stunting di Maluku, yang disebabkan tidak semua jenis intervensi diteliti dalam penelitian ini dan mengindikasikan bahwa setiap upaya intervensi tidak berdiri sendiri harus konvergen dan terintegrasi, harus mencakup semua kelompok sasaran serta mengedepankan kualitas implementasi intervensi di lapangan, sehingga meskipun pengaruhnya kecil namun tetap valid untuk terus ditingkatkan pelaksanaannya bagi penurunan stunting di Maluku.

This study was conducted to analyze the determinants of stunting in toddlers 0-59 from the concept of specific and sensitive nutrition interventions and to determine the contribution of specific and sensitive interventions in efforts to reduce stunting in Maluku. The type of research is quantitative non-experimental with a cross-sectional design, using secondary data from the 2022 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI). The results found that the determinants of stunting in toddlers from the concept of specific and sensitive interventions in Maluku Province, namely Early Childhood Education (PAUD), ownership of health insurance, the Family Hope Program (PKH), drinking water sources, sanitation facilities and toddler PMT. While the contribution made by specific and sensitive interventions is small to the reduction of stunting in Maluku, which is due to not all types of interventions studied in this study and indicates that each intervention effort does not stand alone, must be convergent and integrated, must cover all target groups and prioritize the quality of intervention implementation in the field, so that even though the effect is small, it is still valid to continue to improve its implementation for reducing stunting in Maluku
Read More
T-7065
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rindra Hidayat Eriska; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Pujiyanto, Siti Isfandari, Tyastianti
T-4706
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wendy Eszwara; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Adang Bachtiar, Jaslis Ilyas, Novalino, Rahmi Syaflida Dalimunthe
Abstrak:
Kesehatan gigi dan mulut merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang merata di Indonesia, memengaruhi individu dari berbagai kelompok usia. Kesehatan gigi yang buruk tidak hanya mengurangi kualitas hidup tetapi juga meningkatkan risiko penyakit sistemik seperti penyakit kardiovaskular dan diabetes. Tingginya prevalensi masalah gigi seperti karies, kehilangan gigi, dan penyakit gusi menunjukkan perlunya strategi promosi kesehatan yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak berbagai metode edukasi dalam meningkatkan pengetahuan pasien tentang kesehatan gigi dan mulut di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Dengan menilai efektivitas pendekatan ini, penelitian ini bertujuan memberikan wawasan dalam meningkatkan praktik kebersihan gigi dan kesehatan umum pasien.

Oral health is a pervasive public health issue in Indonesia, affecting individuals across all demographics. Poor oral health not only diminishes quality of life but also exacerbates risks for systemic diseases such as cardiovascular conditions and diabetes. The prevalence of dental problems like cavities, tooth loss, and gum disease underscores the urgent need for effective health promotion strategies. This study focuses on evaluating the impact of various educational methods on enhancing patients' knowledge of dental and oral health at the Faculty of Dentistry, Universitas Indonesia Dental Hospital. By assessing the effectiveness of these approaches, the research aims to contribute insights into improving oral hygiene practices and overall health outcomes among patients.
Read More
T-7114
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irma Widiastari; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Wachyu Sulistiadi, Nurbaiti Yuliana
Abstrak: Wilayah Indonesia secara geografis merupakan area yang rawan bencana. Jikaterjadi bencana biasanya akan ada penyakit-penyakit menular tertentu yang timbuldan mengalami peningkatan melebihi batas normalnya di masyarakat yangterdampak oleh bencana tersebut. Pada akhirnya hal tersebut dapat dikategorikansebagai darurat kesehatan masyarakat. Masyarakat adalah pihak pertama yanglangsung berhadapan dengan ancaman dan bencana karena itu kesiapanmasyarakat menentukan besar kecilnya dampak bencana di masyarakat. Indonesiasebagai negara berkembang tentunya memiliki wilayah perkotaan dan pedesaanyang berbeda dari aspek pembangunan, pemerintahan serta kondisi geografisnya.Perbedaan potensi aspek tersebut tentunya berpengaruh terhadap kemungkinanadanya perbedaan juga dari sisi kesiapsiagaan masyarakatnya dalam menghadapikondisi darurat kesehatan masyarakat dan kebencanaan. Tujuan dari penelitian iniadalah untuk mengetahui seperti apa gambaran kesiapsiagaan masyarakatperkotaan dan pedesaan di Indonesia yang dalam penelitian ini mengambil contohdi wilayah Kampung Makasar-Jakarta Timur dan Desa Campaka-Cianjur yangdipilih berdasarkan pertimbangan bahwa kedua wilayah tersebut berpontensi akanadanya masalah darurat kesehatan masyarakat baik dari segi bencana maupunpeningkatan kasus penyakit. Penelitian ini menggunakan gabungan dari metodekuantitatif data analisis deskriptif berdasarkan penilaian kesiapsiagaan masyarakatyang mengkombinasikan dari unsur Desa Siaga Aktif dan Desa Tangguh Bencanadan kualitatif (wawancara mendalam, telaah dokumen). Hasil dari penelitian inimengungkap bahwa ada perbedaan nilai kesiapsiagaan di masyarakat pedesaaandan perkotaan. Pada wilayah perkotaan, hasil persentase kesiapsiagaan yangdidapat adalah sebesar 62.3% sedangkan untuk wilayah pedesaan sebesar 41.3%.Dari 20 indikator hampir memenuhi dalam hal keberadaan dan juga bervariasiantara daerah pedesaan dan perkotaan. Poin yang masih kurang adalahpelaksanaan indikator dan kinerja belum seperti yang diharapkan sebagaimanamestinya. Penyebab perbedaan yang paling mencolok hasil antara pedesaan danperkotaan perbedaan struktural, aksesibilitas, pendanaan dan pengetahuanmasyarakat. Untuk itu diperlukan pengawasan pihak stakeholder (dalampenelitian ini adalah Puskesmas, pemerintah di pedesaan dan perkotaan)Kata kunci : kesiapsiagaan masyarakat, darurat kesehatan masyarakat, pedesaan,perkotaan.
Indonesia teritory geographically is a disaster-prone area. In the event of a disasterthere will usually be certain infectious diseases that arise and have increasedbeyond normal limits in communities affected by the disaster. In the end it can becategorized as a public health emergency. Community is the first to directly dealwith the threat and disaster. Preparedness in community will determines the sizeof the impact of disasters on communities. Indonesia as a developing country haveurban and rural areas that different from the aspect of development, governmentand geography. The potential difference aspects certainly affect the possibility ofdifferences also in terms of community preparedness in the face of public healthemergencies and disasters. The purpose of this study was to determine aboutcommunity preparedness in urban and rural communities in Indonesia, which inthis study took a sample in Kampung Makasar-East Jakarta and Desa Campaka-Cianjur that were selected based on the consideration that the two regions areequally harmful for any problems public health emergencies both in terms ofdisaster as well as an increase in cases of the disease. This study uses acombination of quantitative methods (descriptive analysis data based on anassessment of the preparedness of community that combines elements of DesaSiaga Aktif and Desa Tangguh Bencana) and qualitative methods (in-depthinterviews, review of documents). The results of this study reveal that there areany differences in preparedness in rural and urban communities. In urban areas,the percentage of community preparedness is 62.3%, while in rural areas is 41.3%.Almost all of 20 indicators meet in existence and also vary between rural andurban areas. Points are still lacking is the implementation and performanceindicators were not as expected as it should be. The cause of the most strikingdifference between the results of the structural differences in rural and urbanareas, accessibility, funding and knowledge society. It is necessary for thesupervise of the stakeholders (in this research are health centers, the governmentin rural and urban)Keywords: community preparedness, public health emergency, rural, urban.
Read More
T-4826
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dyah Hardiarini; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Atik Nurwahyuni, Nurrahmiati, Ida Farida
Abstrak:

Produktivitas dokter gigi sangat krusial dalam pemberian layanan kesehatan gigi kepada pasien. Dokter gigi juga harus menjalankan peran lain di pusksemas. Dokter gigi harus dapat menjawab tantangan ini dengan tetap mempertahankan produktivitasnya. Penelitian ini mengukur produktivitas dokter gigi di kecamatan Palmerah, Jakarta Barat. Rasio produktivitas dihitung dengan determinan dari dua faktor individu (jenis kelamin, umur, masa kerja, pelatihan, kehadiran dan status pegawai) dan organisasi (Jumlah Kunjungan pasien, Jumlah dental unit, tunjangan kinerja dan kepesertaan JKN). Menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross sectional. Pengukuran produktivitas menggunakan metode Ilyas, dengan penghitungan jumlah kunjungan pasien dibagi dengan hari kerja dokter gigi di tahun 2023. Jumlah kunjungan pasien dan kepesertaan menjadi faktor tingginya produktivitas dokter gigi sedangkan faktor umur, jenis kelamin, masa kerja, pelatihan, jumlah dental unit dan tunjangan kinerja tidak ditemukan korelasi yang signifikan. Untuk produktivitas tertinggi di angka 13,25 dan terendah di angka 0,61, dengan rerata nilai 6,68. Produktivitas dokter gigi PNS sebesar 3,81 kurang dari setengah rasio Non PNS yang mencapai 8,48. Gap produktivitas ini merupakan konsekuensi rangkap jabatan fungsional dokter gigi PNS dan tugas strukturalnya. Untuk menjalankan dua fungsi ini secara seimbang, disarankan untuk membuat standar minimal jumlah pasien gigi harian dan pengukuran produktivitas dokter gigi secara periodik.


The productivity of dentists is crucial in providing dental health services to patients. Dentists also have other roles to play in community health centers. Dentists must be able to respond to these challenges while maintaining their productivity. This study measures the productivity of dentists in the Palmerah district, West Jakarta. Productivity ratios are calculated based on determinants from two individual factors (gender, age, length of service, training, attendance, and employment status) and organizational factors (number of patient visits, number of dental units, performance benefits, and participation in national health insurance). The study uses an analytical observational method with a cross-sectional design. The measurement of productivity uses the Ilyas method, by calculating the number of patient visits divided by the number of working days of the dentist in 2023. The number of patient visits and participation are factors contributing to the high productivity of dentists, while factors such as age, gender, length of service, training, the number of dental units, and performance allowances were not found to have a significant correlation. The highest productivity is at 13.25 and the lowest at 0.61 with an average value of 6.68. Civil servant dentist productivity is at 3.81, less then of non-civil servant dentists with 8.48. This gap is a consequence of the multiple functional roles and structural duties especially for civil servant dentists. To balance these two roles, it is recommended to establish minimum standards for daily dental patient numbers and periodically measure dentist productivity.

Read More
T-7155
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosmalinda; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Anhari Achadi, Vetty Yulianty Permanasari, Oos Fatimah Rosyati, Amila Megraini
Abstrak:

Tugas dan tanggung jawab dari tenaga analis kesehatan, mengembangkan prosedur untuk mengambil dan memproses spesimen, melaksanakan uji analitik terhadap reagen dan spesimen, mengoperasikan dan memelihara peralatan/instrumen laboratorium, mengevaluasi data laboratorium untuk memastikan akurasi dan prosedur pengendalian mutu dan mengembangkan pemecahan masalah yang berkaitan dengan data hasil uji, mengevaluasi teknik, instrumen, dan prosedur baru untuk menentukan manfaat kepraktisannya, membantu klinisi dalam pemanfaatan data laboratorium secara efektif dan efisien untuk menginterpretasikan hasil uji laboratorium, merencanakan, mengatur, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan laboratorium, membimbing dan membina tenaga kesehatan lain dalam bidang teknik kelaboratoriuman, merancang dan melaksanakan penelitian dalam bidang laboratorium kesehatan.(Permenkes Nomor 42 Tahun 2015.pdf, t.t.)Tujuan penelitian untuk melihat gambaran ketersediaan tenaga ATLM dan upaya pemenuhan tenaga ATLM. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain studi kasus Analisis Ketersediaan tenaga ATLM dan upaya pemenuhan Tenaga Ahli Teknologi Laboratorium Medik (Atlm) Puskesmas di Kabupaten Lebak Provinsi Banten Tahun 2023. Desain ini bertujuan untuk mempelajari secara mendalam tentang kejadian yang terjadi dalam konteks tertentu. Dengan menggunakan berbagai bukti, penelitian ini akan menggali informasi yang detail dan lengkap mengenai suatu kasus. Studi kasus memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi kejadian dengan mendalam, terbatas pada lokasi dan waktu tertentu, dan menyajikan informasi secara deskriptif. Hasil didapatkan dari 43 Puskesmas di level Kabupaten ada 28 Puskesmas yang belum memiliki tenaga ATLM sehingga belum memenuhi kesesuaian standar PMK 43 tahun 2019, hanya 15 Puskesmas yang memiliki tenaga ATLM dan baru 7 Puskesmas yang memiliki tenaga yang lengkap yakni 9 jenis tenaga. Perencanaan yang baik terhadap ketersediaan dan upaya pemenuhan tenaga diharapkan mampu menjadi salah satu solusi untuk pemenuhan tenaga ATLM.


Duties and responsibilities of health analyst personnel, develop procedures for taking and processing specimens, carry out analytical tests on reagents and specimens, operate and maintain laboratory equipment/instruments, evaluate laboratory data to ensure accuracy and quality control procedures and develop solutions to problems related to test result data, evaluating new techniques, instruments and procedures to determine their practical benefits, assisting clinicians in utilizing laboratory data effectively and efficiently to interpret laboratory test results, planning, organizing, implementing and evaluating laboratory activities, guiding and coaching other health workers in the field of laboratory engineering, designing and carrying out research in the field of health laboratories. (Permenkes Number 42 of 2015.pdf, t.t.) The aim of the research is to see a picture of the availability of ATLM personnel and efforts to fulfill ATLM personnel. This research uses a qualitative research method with a case study design, analysis of the availability of ATLM personnel and efforts to fulfill medical laboratory technology experts (ATLM) for health centers in Lebak Regency, Banten Province in 2023. This design aims to study in depth about events that occur in a certain context. By using various evidence, this research will dig up detailed and complete information about a case. Case studies allow researchers to explore events in depth, are limited to a specific location and time, and present information descriptively. The results obtained from 43 Community Health Centers at the Regency level, there are 28 Community Health Centers that do not have ATLM staff so they do not meet the 2019 PMK 43 standards, only 15 Community Health Centers have ATLM staff and only 7 Community Health Centers have complete staff, namely 9 types of staff. It is hoped that good planning regarding the availability and efforts to fulfill personnel can be one of the solutions for fulfilling ATLM personnel.

Read More
T-7128
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive