Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33364 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Cahaya Eka Pratiwi; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Kurnia Sari, Mieska Despitasari
Abstrak:
Kompetensi profesional pemberi asuhan (PPA) merupakan faktor penting dalam menentukan kualitas pelayanan dan asuhan pasien di rumah sakit. Meskipun keduanya diduga berhubungan, bukti empiris berbasis data instrumen akreditasi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara capaian kompetensi PPA dengan kemampuan pelayanan dan asuhan pasien (PAP) berdasarkan data instrumen akreditasi STARKES 2024 milik Komisi Akreditasi Rumah Saki (KARS) tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain analitik potong lintang (cross-sectional) dengan total sampling terhadap rumah sakit yang menjalani akreditasi KARS tahun 2025 menggunakan instrumen STARKES 2024. Dari 25 rumah sakit yang memenuhi kriteria inklusi, 22 memiliki data lengkap untuk dianalisis. Variabel independen meliputi kesesuaian kompetensi, pendidikan dan pelatihan, serta kemampuan edukasi, sedangkan variabel dependen meliputi PAP yang seragam dan terintegrasi. Karena seluruh variabel tidak berdistribusi normal berdasarkan uji Shapiro-Wilk, analisis bivariat dilakukan menggunakan Korelasi Spearman dan uji multivariat dilakukan dengan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian ketiga variabel kompetensi PPA lebih rendah dibandingkan PAP. Capaian terendah terdapat pada kesesuaian kompetensi (mean: 6,36), khususnya elemen pendokumentasian evaluasi berkala, sedangkan pada pendidikan dan pelatihan terdapat pada elemen pengidentifikasian kebutuhan pelatihan (mean: 5,45). Analisis bivariat menunjukkan bahwa kesesuaian kompetensi dan pendidikan serta pelatihan berhubungan signifikan dengan PAP yang seragam maupun terintegrasi, sedangkan kemampuan edukasi hanya berhubungan signifikan dengan PAP yang seragam. Analisis multivariat menunjukkan bahwa kombinasi ketiga variabel kompetensi PPA menjelaskan 89,4% variasi PAP yang seragam dengan pendidikan dan pelatihan sebagai variabel paling dominan, dan ntuk PAP yang terintegrasi, kesesuaian kompetensi dan pendidikan serta pelatihan menjelaskan 70,5% variasinya. Presentase capaian ini perlu dimaknai dengan hati-hati karena terbatasnya sampel penelitian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kompetensi PPA berhubungan signifikan dengan kemampuan pelayanan dan asuhan pasien, dengan pendidikan dan pelatihan sebagai determinan yang paling dominan.

Professional care provider (PCP) competence is an important factor in determining the quality of patient care and services in hospitals. Although these two aspects are presumed to be associated, empirical evidence based on hospital accreditation instrument data remains limited. This study aimed to analyze the relationship between PCP competency achievement and patient care and service (PCS) performance using data from the 2024 STARKES accreditation instrument of the Hospital Accreditation Commission (KARS) in 2025. This study employed an analytical cross-sectional design with total sampling of hospitals that underwent KARS accreditation in 2025 using the 2024 STARKES instrument. Of the 25 hospitals that met the inclusion criteria, 22 had complete data available for analysis. The independent variables included competency alignment, education and training, and educational competency, while the dependent variables consisted of standardized and integrated PCS. Since all variables were not normally distributed based on the Shapiro–Wilk test, bivariate analysis was performed using Spearman's correlation, while multivariate analysis was conducted using multiple linear regression. The results showed that the achievement scores of the three PCP competency variables were lower than those of the PCS variables. The lowest mean score was observed for competency alignment (mean: 6.36), particularly in the periodic evaluation documentation element, whereas the lowest score for education and training was found in the training needs identification element (mean: 5.45). Bivariate analysis indicated that competency alignment and education and training were significantly associated with both standardized and integrated PCS, whereas educational competency was significantly associated only with standardized PCS. Multivariate analysis demonstrated that the combination of the three PCP competency variables explained 89.4% of the variance in standardized PCS, with education and training emerging as the most dominant variable. For integrated PCS, competency alignment and education and training jointly explained 70.5% of the variance. These percentages should be interpreted with caution due to the limited sample size. This study concludes that PCP competence is significantly associated with patient care and service performance, with education and training identified as the most dominant determinant.
Read More
S-12309
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shania Ayunda Muthia Kanza Salshabilah; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:

Latar Belakang: Skizofrenia merupakan gangguan mental kronis yang menimbulkan beban signifikan terhadap sistem pembiayaan kesehatan, terutama dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penyakit ini memerlukan perawatan jangka panjang dan rawan kekambuhan, sehingga berkontribusi terhadap tingginya angka kunjungan dan pembiayaan di fasilitas kesehatan, khususnya pada layanan rujukan. Tujuan: Mengetahui besarnya biaya pelayanan kesehatan peserta JKN dengan skizofrenia dan faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya tersebut. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder BPJS Kesehatan tahun 2024. Sampel terdiri dari 1.597 peserta aktif JKN dengan diagnosis skizofrenia selama satu tahun. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan SPSS versi 25. Hasil: Total biaya pelayanan mencapai Rp16.896.391.354. Rata-rata biaya rawat jalan Rp314.929 dan rawat inap Rp5.050.107. Biaya signifikan dipengaruhi oleh usia, hubungan keluarga, kelas hak rawat, segmentasi peserta, wilayah kepesertaan, jenis dan kepemilikan FKTP/FKRTL, kunjungan ke FKTP, dan tipe FKRTL. Kesimpulan: Skizofrenia memberikan beban biaya tinggi pada JKN. Diperlukan pembiayaan berbasis kebutuhan serta penguatan layanan jiwa di tingkat primer dan komunitas untuk efisiensi sistem.




Background: Schizophrenia is a chronic mental disorder that poses a significant  burden on the healthcare financing system, particularly within Indonesia’s  National Health Insurance (JKN) program. The condition requires longterm care  and is prone to relapse, contributing to high healthcare utilization and costs,  especially at referral level facilities. Objective: To determine the total healthcare  costs for JKN participants diagnosed with schizophrenia and to identify factors  associated with those costs. Methods: This quantitative study employed a crosssectional design using secondary data from BPJS Kesehatan (Indonesia’s Social  Health Insurance) for the year 2024. The sample consisted of 1.597 active JKN  participants diagnosed with schizophrenia over a 12 month period. Data were  analyzed using univariate and bivariate techniques in SPSS version 25. Results: The total healthcare cost amounted to IDR 16.896.391.354. The average outpatient  cost was IDR 314.929, while the average inpatient cost was IDR 5.050.107. Factors  significantly associated with higher costs included age, family relationship status,  treatment class, participant segmentation, region of enrollment, type and  ownership of primary and referral healthcare facilities (FKTP/FKRTL), number of  visits to primary care, and type of referral facility. Conclusion: Schizophrenia  places a substantial financial burden on the JKN system. A need-based financing  approach and strengthened mental health services at the primary and community  levels are essential to improving efficiency and sustainability.

Read More
S-12059
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Purwadi Ardinoto; Pembimbing: Anhari Achadi; Sandi Ilyanto
T-1978
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
L-158
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
S1 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retnoningsih; Pembimbing: Pattinama, Peter A.W; Hasyim, Salma
L-195
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
S1 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puspa Indah; Pembimbing: Hafizurrachman; Harlina S.
L-202
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
S1 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Mulyaningsih; Pembimbing: Bachtiar, Adang; Rosadi, Nanang
L-208
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
S1 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizani Alia Davina; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Sabarinah, Wan Aisyiyah Baros
Abstrak:
Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan salah satu penyakit katastropik dengan beban pembiayaan yang terus meningkat dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hemodialisis sebagai terapi pengganti ginjal menjadi layanan dengan utilisasi dan biaya yang tinggi sehingga diperlukan informasi mengenai tren pemanfaatannya sebagai dasar perencanaan pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren utilisasi pelayanan hemodialisis pada peserta JKN tahun 2020–2023 berdasarkan jumlah kunjungan, karakteristik peserta, dan karakteristik fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL). Penelitian menggunakan desain studi deskriptif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data sekunder Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2020–2023. Sampel penelitian adalah peserta JKN dengan diagnosis Penyakit Ginjal Kronis (ICD-10 N18) yang menjalani tindakan hemodialisis (ICD-9-CM 39.95). Analisis dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi utilisasi layanan dan karakteristik peserta, serta analisis bivariat menggunakan uji chi-square untuk menilai perubahan distribusi karakteristik antar tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah peserta hemodialisis meningkat dari 1.122 peserta pada tahun 2020 menjadi 1.515 peserta pada tahun 2023, sedangkan jumlah kunjungan meningkat dari 8.823 menjadi 10.855 kunjungan atau sekitar 23,0% selama periode penelitian. Peserta hemodialisis didominasi oleh laki-laki, kelompok usia dewasa (18–59 tahun), peserta segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU), penduduk Regional I (Pulau Jawa), pengguna rumah sakit swasta, serta peserta kelas rawat III. Hasil uji chi-square menunjukkan terdapat perubahan distribusi yang bermakna pada segmentasi kepesertaan, wilayah tempat tinggal, tipe FKRTL, kepemilikan FKRTL, dan kelas rawat (p<0,05), sedangkan jenis kelamin dan kelompok usia tidak menunjukkan perubahan yang bermakna. Penelitian ini menyimpulkan bahwa utilisasi pelayanan hemodialisis pada peserta JKN menunjukkan kecenderungan meningkat selama periode 2020–2023. Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan upaya pencegahan dan deteksi dini PGK, pemerataan akses layanan hemodialisis, serta perencanaan kapasitas fasilitas kesehatan dan pembiayaan JKN untuk mendukung keberlanjutan pelayanan penyakit katastropik.

Chronic Kidney Disease (CKD) is one of the catastrophic diseases that imposes a substantial financial burden on Indonesia's National Health Insurance (Jaminan Kesehatan Nasional/JKN). Hemodialysis, as the most commonly used kidney replacement therapy, requires continuous treatment and contributes significantly to healthcare utilization and expenditure. Therefore, understanding utilization trends is essential to support healthcare planning and resource allocation. This study aimed to analyze trends in hemodialysis service utilization among JKN beneficiaries from 2020 to 2023 based on service volume, participant characteristics, and characteristics of Advanced Referral Healthcare Facilities (Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut/FKRTL). This descriptive study employed a repeated cross-sectional approach using secondary data from the BPJS Kesehatan Sample Data for the period 2020–2023. The study population consisted of JKN beneficiaries diagnosed with Chronic Kidney Disease (ICD-10 N18) who received hemodialysis procedures (ICD-9-CM 39.95). Data were analyzed using descriptive statistics to describe utilization patterns and participant characteristics, while the chi-square test was performed to examine differences in participant and healthcare facility characteristics across the study period. The results showed that the number of hemodialysis patients increased from 1,122 in 2020 to 1,515 in 2023, while the total number of hemodialysis visits increased from 8,823 to 10,855 visits, representing a 23.0% increase over the study period. Hemodialysis utilization was predominantly observed among male participants, adults aged 18–59 years, Non-Wage Earner (PBPU) beneficiaries, residents of Java, patients receiving care at private hospitals, and those utilizing Class III inpatient services. Significant changes were observed in participant segmentation, province of residence, healthcare facility type, ownership, and inpatient class (p<0.05), whereas sex and age group distributions remained relatively stable throughout the study period. In conclusion, hemodialysis service utilization among JKN beneficiaries showed an increasing trend between 2020 and 2023. These findings highlight the need to strengthen CKD prevention and early detection strategies, improve equitable access to hemodialysis services, and optimize healthcare capacity and JKN financing to ensure the sustainability of catastrophic disease services in Indonesia.
Read More
S-12312
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive