Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37656 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rizani Alia Davina; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Sabarinah, Wan Aisyiyah Baros
Abstrak:
Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan salah satu penyakit katastropik dengan beban pembiayaan yang terus meningkat dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hemodialisis sebagai terapi pengganti ginjal menjadi layanan dengan utilisasi dan biaya yang tinggi sehingga diperlukan informasi mengenai tren pemanfaatannya sebagai dasar perencanaan pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren utilisasi pelayanan hemodialisis pada peserta JKN tahun 2020–2023 berdasarkan jumlah kunjungan, karakteristik peserta, dan karakteristik fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL). Penelitian menggunakan desain studi deskriptif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data sekunder Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2020–2023. Sampel penelitian adalah peserta JKN dengan diagnosis Penyakit Ginjal Kronis (ICD-10 N18) yang menjalani tindakan hemodialisis (ICD-9-CM 39.95). Analisis dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi utilisasi layanan dan karakteristik peserta, serta analisis bivariat menggunakan uji chi-square untuk menilai perubahan distribusi karakteristik antar tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah peserta hemodialisis meningkat dari 1.122 peserta pada tahun 2020 menjadi 1.515 peserta pada tahun 2023, sedangkan jumlah kunjungan meningkat dari 8.823 menjadi 10.855 kunjungan atau sekitar 23,0% selama periode penelitian. Peserta hemodialisis didominasi oleh laki-laki, kelompok usia dewasa (18–59 tahun), peserta segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU), penduduk Regional I (Pulau Jawa), pengguna rumah sakit swasta, serta peserta kelas rawat III. Hasil uji chi-square menunjukkan terdapat perubahan distribusi yang bermakna pada segmentasi kepesertaan, wilayah tempat tinggal, tipe FKRTL, kepemilikan FKRTL, dan kelas rawat (p<0,05), sedangkan jenis kelamin dan kelompok usia tidak menunjukkan perubahan yang bermakna. Penelitian ini menyimpulkan bahwa utilisasi pelayanan hemodialisis pada peserta JKN menunjukkan kecenderungan meningkat selama periode 2020–2023. Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan upaya pencegahan dan deteksi dini PGK, pemerataan akses layanan hemodialisis, serta perencanaan kapasitas fasilitas kesehatan dan pembiayaan JKN untuk mendukung keberlanjutan pelayanan penyakit katastropik.

Chronic Kidney Disease (CKD) is one of the catastrophic diseases that imposes a substantial financial burden on Indonesia's National Health Insurance (Jaminan Kesehatan Nasional/JKN). Hemodialysis, as the most commonly used kidney replacement therapy, requires continuous treatment and contributes significantly to healthcare utilization and expenditure. Therefore, understanding utilization trends is essential to support healthcare planning and resource allocation. This study aimed to analyze trends in hemodialysis service utilization among JKN beneficiaries from 2020 to 2023 based on service volume, participant characteristics, and characteristics of Advanced Referral Healthcare Facilities (Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut/FKRTL). This descriptive study employed a repeated cross-sectional approach using secondary data from the BPJS Kesehatan Sample Data for the period 2020–2023. The study population consisted of JKN beneficiaries diagnosed with Chronic Kidney Disease (ICD-10 N18) who received hemodialysis procedures (ICD-9-CM 39.95). Data were analyzed using descriptive statistics to describe utilization patterns and participant characteristics, while the chi-square test was performed to examine differences in participant and healthcare facility characteristics across the study period. The results showed that the number of hemodialysis patients increased from 1,122 in 2020 to 1,515 in 2023, while the total number of hemodialysis visits increased from 8,823 to 10,855 visits, representing a 23.0% increase over the study period. Hemodialysis utilization was predominantly observed among male participants, adults aged 18–59 years, Non-Wage Earner (PBPU) beneficiaries, residents of Java, patients receiving care at private hospitals, and those utilizing Class III inpatient services. Significant changes were observed in participant segmentation, province of residence, healthcare facility type, ownership, and inpatient class (p<0.05), whereas sex and age group distributions remained relatively stable throughout the study period. In conclusion, hemodialysis service utilization among JKN beneficiaries showed an increasing trend between 2020 and 2023. These findings highlight the need to strengthen CKD prevention and early detection strategies, improve equitable access to hemodialysis services, and optimize healthcare capacity and JKN financing to ensure the sustainability of catastrophic disease services in Indonesia.
Read More
S-12312
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noviana Lathifah; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Puput Oktamianti, Maria Hotnida
Abstrak:
Hipertensi dalam kehamilan merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu di Indonesia, namun pola pemanfaatan layanannya pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan pemanfaatan pelayanan hipertensi kehamilan (proporsi rawat inap versus rawat jalan) di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) menggunakan pendekatan Teori Andersen. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional melalui analisis data sekunder sampel klaim BPJS Kesehatan tahun pelayanan 2024 dengan total 3.645 kasus. Analisis regresi logistik ganda digunakan untuk menguji pengaruh faktor predisposisi, pemungkin, dan kebutuhan terhadap pemanfaatan pelayanan hipertensi kehamilan. Hasil penelitian menunjukkan proporsi intervensi rawat inap mendominasi sebesar 92,5%. Uji multivariat membuktikan bahwa faktor predisposisi (usia, status marital, domisili peserta) dan sebagian faktor pemungkin (segmentasi kepesertaan, kepemilikan FKRTL, dan domisili FKRTL) tidak berpengaruh signifikan (p>0,05). Pemanfaatan pelayanan hipertensi kehamilan untuk rawat inap dikendalikan oleh Tipe FKRTL (Tersier OR=3,21) dan faktor kebutuhan, yaitu diagnosis hipertensi kronis superimposed pre-eklampsia (OR=5,07) serta pre-eklampsia (OR=2,95). Penelitian ini menyimpulkan bahwa JKN telah berhasil menciptakan ekuitas (pemerataan) akses layanan tanpa adanya diskriminasi demografis, status sosial, maupun kesenjangan antar-regional wilayah. Tingginya angka rawat inap menunjukkan kepatuhan terhadap indikasi klinis kegawatdaruratan obstetri. Sebagai implikasi kebijakan, diperlukan transformasi pelayanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) berupa penguatan skrining deteksi dini secara agresif, serta peningkatan kapasitas layanan intensif di Rumah Sakit Sekunder (Tipe C dan D) guna mengurai penumpukan rujukan darurat di fasilitas tersier.

Hypertension in pregnancy remains one of the leading causes of maternal morbidity and mortality in Indonesia. However, patterns of healthcare utilization under the National Health Insurance (JKN) scheme for this condition remain underexplored. This study aimed to analyze the determinants of healthcare utilization for hypertensive disorders in pregnancy specifically the proportion of inpatient versus outpatient care at Advanced Referral Health Facilities (FKRTL) using Andersen's Behavioral Model of Health Services Use. A cross-sectional design was employed through secondary data analysis of the 2024 BPJS Kesehatan claims sample, comprising 3,645 cases. Multiple logistic regression analysis was conducted to examine the influence of predisposing, enabling, and need factors on utilization of pregnancy hypertension services. The results revealed that the proportion of inpatient care was predominantly high at 92.6%. Multivariate analysis demonstrated that predisposing factors (age, marital status, and participant domicile) and certain enabling factors (membership segmentation, FKRTL ownership, and regional FKRTL domicile) had no statistically significant effect (p > 0.05). Utilization of pregnancy hypertension services on hospitalization decisions was primarily driven by the type of FKRTL (Tertiary; OR = 3,21) and need factors, particularly the diagnosis of chronic hypertension with superimposed pre-eclampsia (OR = 5,07) and pre-eclampsia (OR = 2,95). This study concludes that the JKN scheme has successfully achieved equity in healthcare access, eliminating demographic, socioeconomic, and regional disparities. The high hospitalization rate purely reflects adherence to clinical indications for obstetric emergencies rather than service overutilization. As a policy implication, service transformation at Primary Healthcare Facilities (FKTP) is recommended through aggressive early detection screening, alongside intensive care capacity building at secondary hospitals (Types C and D) to reduce the burden of emergency referrals on tertiary facilities.
Read More
S-12360
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vania Nabiyla Zhafiirah; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Pujiyanto, Yusuf Subekti
Abstrak: Penyakit Ginjal Kronik (PGK) menimbulkan beban pembiayaan yang tinggi, sehingga pemanfaatan layanan Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL) menjadi krusial, terutama bagi peserta JKN. Penelitian ini  menggunakan desain cross-sectional pada 498 pasien PGK pengguna RJTL tahun 2023. Hasil menunjukkan bahwa faktor usia, jenis kelamin, status perkawinan, segmentasi kepesertaan, hak kelas rawat, dan kepemilikan fasilitas berhubungan signifikan dengan utilisasi RJTL (p<0,05). Usia ≥65 tahun menjadi faktor paling dominan (AOR: 1,48; 95% CI: 1,29–1,69). Seluruh variabel memiliki pengaruh signifikan terhadap pemanfaatan layanan RJTL pada pasien PGK. 
Chronic Kidney Disease (CKD) poses a significant financial burden, making the utilization of Advanced  Outpatient Services (AOS) crucial, especially for National Health Insurance (JKN) participants. This cross sectional study involved 498 CKD patients who used AOS in 2023. The results showed that age, sex, marital  status, membership segmentation, class of care entitlement, and facility ownership were significantly  associated with AOS utilization (p<0.05). Age ≥65 years was the most dominant factor (AOR: 1.48; 95%  CI: 1.29–1.69). All variables had a significant influence on the utilization of AOS among CKD patients. 
Read More
S-11971
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Aranika; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Mardiati Nadjib, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Latar Belakang: Tuberkulosis masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan beban kasus yang tinggi. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2024 menunjukkan bahwa pemanfaatan rawat inap tingkat lanjut paling sedikit, namun menyerap porsi pembiayaan kesehatan yang terbesar. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya pelayanan kesehatan, termasuk penyakit tuberkulosis. Tujuan: Mengetahui biaya pelayanan tuberkulosis pada rawat inap di fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut peserta JKN di Indonesia dalam satu tahun dan faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya tersebut. Metode: Observasional dengan pendekatan kuantitatif desain cross-sectional menggunakan data sekunder Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Sampel terdiri dari 9.716 peserta aktif JKN dengan diagnosis tuberkulosis yang memanfaatkan layanan rawat inap tingkat lanjut. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan SPSS versi 25. Hasil: Total biaya klaim JKN untuk pelayanan tuberkulosis rawat inap di FKRTL sebesar Rp87.950.339.624. Biaya pelayanan tuberkulosis berhubungan signifikan dengan usia, jenis kelamin, segmentasi peserta, kelas rawat, wilayah FKRTL, kepemilikan FKRTL, komorbiditas, kunjungan RITL, lama hari rawat. Kesimpulan: Median biaya pelayanan tuberkulosis pada rawat inap di FKRTL sebesar Rp4.463.400. Biaya pelayanan tinggi pada pasien dengan usia 5-9 tahun (anak-anak), berjenis kelamin laki-laki, segmentasi peserta non-PBI, kelas rawat kelas I, kepemilikan FKRTL milik pemerintah, wilayah FKRTL Regional 5, serta peserta dengan komorbid, kunjungan RITL lebih dari satu kali, dan lama hari rawat lebih dari empat hari.

Background: Tuberculosis remains one of the public health problems in Indonesia with a high disease burden. The 2024 Indonesian Health Profile shows that the utilization of advanced inpatient care is the lowest, but absorbs the largest portion of health care financing. This condition has the potential to increase health service costs, because tuberculosis requires long-term care. Objective: To determine the total cost of tuberculosis services in inpatient care at advanced referral health facilities (FKRTL) for JKN participants in Indonesia and to identify the factors associated with these costs. Methods: Observative with quantitative study a cross-sectional design using secondary data from BPJS Health Sample Data. The sample consisted of 9,716 active JKN participants with a diagnosis of tuberculosis who utilized advanced inpatient care services (RITL) for one year. Data were analyzed using univariate and bivariate in SPSS version 25. Results: The total cost of tuberculosis services reached Rp87,950,339,624. The tuberculosis health service costs are significantly associated with age, gender, treatment class, participant segmentation, FKRTL region, FKRTL ownership, comorbidities, RITL visits, length of stay. Conclusions: The median cost of tuberculosis services for inpatient care at FKRTL was IDR 4,463,400. Higher service costs were observed among patients aged 5-9 years, male patients, non-PBI participants, class I inpatient care, government owned FKRTL, FKRTL Regional 5, and participants with comorbidities, more than one inpatient visit, and length of stay more than four days.
Read More
S-12195
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tsabitah Addinni; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Ede Surya Darmawan, Maria Hotnida
Abstrak:

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyebab kematian keempat tertinggi di dunia, dengan total sekitar 3,5 juta kematian pada tahun 2021 menurut data WHO. Jumlah ini setara dengan 5% dari seluruh kematian global. Di Indonesia, PPOK termasuk dalam 20 besar penyakit dengan kunjungan rawat jalan tingkat lanjut (RJTL) terbanyak berdasarkan ICD selama delapan tahun terakhir, dari 2017 hingga 2024. Mengingat PPOK adalah penyakit kronis yang membutuhkan penanganan jangka panjang dan stabil, integrasi layanan primer dan lanjutan menjadi kunci keberhasilan pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pemanfaatan layanan kesehatan tingkat primer dan lanjutan oleh peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menderita PPOK di Indonesia, serta faktor-faktor yang memengaruhinya berdasarkan karakteristik predisposisi, kemampuan, dan sistem pelayanan kesehatan. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Total sampel yang dianalisis adalah 5.281 sebelum pembobotan. Analisis data dilakukan menggunakan tabulasi silang, uji chi-square, dan regresi logistik multinomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan layanan kesehatan oleh penderita PPOK didominasi oleh layanan tingkat primer (73,3%). Pemanfaatan layanan tingkat lanjut saja lebih tinggi (16%) dibandingkan dengan integrasi layanan primer dan lanjutan (10,6%). Ditemukan bahwa karakteristik predisposisi, kemampuan, dan sistem pelayanan kesehatan berhubungan secara signifikan dengan pola pemanfaatan layanan kesehatan tingkat primer dan lanjutan pada penderita PPOK di Indonesia. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan pelayanan penapisan dan program rujuk balik (PRB), penerapan pendekatan pelayanan yang holistik, serta integrasi yang lebih kuat antara layanan primer dan lanjutan untuk meningkatkan efektivitas penatalaksanaan PPOK.

Kata kunci: Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), Utilisasi Pelayanan Kesehatan, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Data Sampel BPJS Kesehatan


Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is the fourth leading cause of death globally, with approximately 3.5 million deaths reported in 2021, according to WHO data. This figure accounts for around 5% of all global deaths. In Indonesia, COPD has consistently ranked among the top 20 diseases with the highest number of advanced outpatient visits (RJTL) based on ICD data from 2017 to 2024. Given that COPD is a chronic condition requiring long-term and stable management, integration between primary care services and advanced care services is essential to ensure comprehensive disease management. This study aims to examine the pattern of primary and advanced healthcare service utilization among participants of the National Health Insurance (JKN) who suffer from COPD in Indonesia, and to identify influencing factors based on predisposing characteristics, enabling resources, and the healthcare system. The research used a quantitative cross-sectional design, utilizing the 2024 Sample Data from BPJS Kesehatan. A total of 5,281 samples were analyzed prior to weighting. Data analysis was conducted using cross-tabulation, chi-square tests, and multinomial logistic regression. The findings reveal that healthcare service utilization by COPD patients is predominantly at the primary care level (73.3%). The utilization of advanced care services alone (16%) was higher than the integrated healthcare services (10.6%). It was also found that predisposing characteristics, enabling factors, and the healthcare system were significantly associated with the pattern of healthcare utilization among COPD patients in Indonesia. These findings highlight the importance of strengthening early diagnostic capacity for COPD at primary healthcare facilities, implementing a holistic service approach, and enhancing integration between primary and advanced care to improve the effectiveness of COPD management. These findings highlight the importance of strengthening screening services and the Back Referral Program (PRB), implementing a holistic approach to care, and fostering stronger integration between primary and secondary care services to enhance the effectiveness of COPD management.

Read More
S-11977
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shania Ayunda Muthia Kanza Salshabilah; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:

Latar Belakang: Skizofrenia merupakan gangguan mental kronis yang menimbulkan beban signifikan terhadap sistem pembiayaan kesehatan, terutama dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penyakit ini memerlukan perawatan jangka panjang dan rawan kekambuhan, sehingga berkontribusi terhadap tingginya angka kunjungan dan pembiayaan di fasilitas kesehatan, khususnya pada layanan rujukan. Tujuan: Mengetahui besarnya biaya pelayanan kesehatan peserta JKN dengan skizofrenia dan faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya tersebut. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder BPJS Kesehatan tahun 2024. Sampel terdiri dari 1.597 peserta aktif JKN dengan diagnosis skizofrenia selama satu tahun. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan SPSS versi 25. Hasil: Total biaya pelayanan mencapai Rp16.896.391.354. Rata-rata biaya rawat jalan Rp314.929 dan rawat inap Rp5.050.107. Biaya signifikan dipengaruhi oleh usia, hubungan keluarga, kelas hak rawat, segmentasi peserta, wilayah kepesertaan, jenis dan kepemilikan FKTP/FKRTL, kunjungan ke FKTP, dan tipe FKRTL. Kesimpulan: Skizofrenia memberikan beban biaya tinggi pada JKN. Diperlukan pembiayaan berbasis kebutuhan serta penguatan layanan jiwa di tingkat primer dan komunitas untuk efisiensi sistem.




Background: Schizophrenia is a chronic mental disorder that poses a significant  burden on the healthcare financing system, particularly within Indonesia’s  National Health Insurance (JKN) program. The condition requires longterm care  and is prone to relapse, contributing to high healthcare utilization and costs,  especially at referral level facilities. Objective: To determine the total healthcare  costs for JKN participants diagnosed with schizophrenia and to identify factors  associated with those costs. Methods: This quantitative study employed a crosssectional design using secondary data from BPJS Kesehatan (Indonesia’s Social  Health Insurance) for the year 2024. The sample consisted of 1.597 active JKN  participants diagnosed with schizophrenia over a 12 month period. Data were  analyzed using univariate and bivariate techniques in SPSS version 25. Results: The total healthcare cost amounted to IDR 16.896.391.354. The average outpatient  cost was IDR 314.929, while the average inpatient cost was IDR 5.050.107. Factors  significantly associated with higher costs included age, family relationship status,  treatment class, participant segmentation, region of enrollment, type and  ownership of primary and referral healthcare facilities (FKTP/FKRTL), number of  visits to primary care, and type of referral facility. Conclusion: Schizophrenia  places a substantial financial burden on the JKN system. A need-based financing  approach and strengthened mental health services at the primary and community  levels are essential to improving efficiency and sustainability.

Read More
S-12059
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nelly Mustika Sari; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Puput Oktamianti, Dumilah Ayuningtyas, Chita Septiawati, Kalsum Komaryani
T-4236
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reviana Annisa Mulyani; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Jaslis Ilyas, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi yang membutuhkan pemanfaatan pelayanan kesehatan secara berkelanjutan, khususnya melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini bertujuan menganalisis utilisasi pelayanan rawat jalan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama oleh peserta JKN penderita hipertensi di Provinsi Jawa Barat tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder dari Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2023 dan dianalisis secara univariat, bivariat, serta multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia, jenis kelamin, jenis FKTP, segmentasi kepesertaan, dan wilayah tempat tinggal berhubungan dengan utilisasi pelayanan rawat jalan. Hypertension is a major non-communicable disease requiring continuous health service utilization through the National Health Insurance (JKN) program. This study aimed to analyze outpatient service utilization at Primary Health Care Facilities among JKN participants with hypertension in West Java Province in 2023. This cross-sectional study used secondary data from the 2023 BPJS Kesehatan Sample Data and applied univariate, bivariate, and multivariate analyses. The results showed that age, sex, type of primary health care facility, membership segmentation, and area of residence were associated with outpatient service utilization.
Read More
S-12189
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Windy Shafira; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Citra Jaya
Abstrak: Penelitian ini menganalisis cost of illness dan faktor-faktor yang berhubungan dengan cost of illness Peserta JKN dengan pelayanan Hemodialisis di wilayah Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi observasional yang bersifat cross sectional, menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2015-2016. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dan sampel merupakan seluruh data Peserta JKN dengan pelayanan hemodialisis beserta komplikasinya sesuai dengan inklusi dan eksklusi yang ditetapkan di Wilayah Provinsi Jawa Barat tahun 2015-2016. Sampel yang diperoleh sebesar 137 Peserta JKN dengan Pelayanan Hemodialisis.
Read More
S-10577
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rheina Agil Didan; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Puput Oktamianti, Mieska Despitasari
Abstrak:
Telemedicine menjadi solusi potensial untuk meningkatkan akses layanan kesehatan, terutama di wilayah terpencil, namun adopsinya di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) di Indonesia masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesiapan FKTP dalam menyediakan layanan telemedicine melalui pendekatan literature review terhadap artikel ilmiah yang diterbitkan pada 2020–2025, diperoleh dari basis data SCOPUS, PubMed, dan Google Scholar. Dari total pencarian, enam artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis lebih lanjut. Hasil sintesis menunjukkan bahwa kesiapan FKTP berada pada tingkat “cukup” hingga “siap” tergantung pada aspek yang dikaji, seperti infrastruktur teknologi, kapasitas sumber daya manusia, dukungan manajerial, serta keberadaan kebijakan dan regulasi yang mendukung. Tantangan utama meliputi keterbatasan jaringan internet, kurangnya pelatihan tenaga kesehatan, serta budaya organisasi yang belum sepenuhnya mendukung transformasi digital. Oleh karena itu, dibutuhkan penguatan aspek-aspek tersebut agar implementasi telemedicine di FKTP dapat berjalan optimal dan berkelanjutan. 


Telemedicine offers a promising solution to improve healthcare access, particularly in remote areas, yet its adoption in Indonesia’s Primary Healthcare Facilities (FKTP) remains suboptimal. This study aims to describe the readiness of FKTP in providing telemedicine services through a literature review of scientific articles published between 2020 and 2025, sourced from SCOPUS, PubMed, and Google Scholar. Of the articles found, six met the inclusion criteria and were analyzed further. The synthesis revealed that FKTP readiness ranged from “moderate” to “ready,” depending on the assessed aspects such as technological infrastructure, human resource capacity, managerial support, and the presence of supportive policies and regulations. The main challenges include limited internet connectivity, insufficient training for healthcare workers, and organizational cultures that are not yet fully supportive of digital transformation. Strengthening these factors is essential to ensure that telemedicine implementation in FKTP can be optimized and sustained.
Read More
S-12136
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive