Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36739 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Jihan Ramadhany Ginting Manik; Pembimbing: Wahyu Septiono; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Popy Yuniar, Nirmala Ahmad Ma’ruf, Ari Nurman
Abstrak:
Stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia dengan prevalensi nasional sebesar 19,8% pada tahun 2024. Meskipun prevalensinya menurun, beban kasus masih terkonsentrasi di Pulau Sumatera dan Jawa yang menampung sebagian besar balita Indonesia. Kesenjangan karakteristik antarkabupaten/kota di kedua pulau tersebut sering kali tertutupi oleh rata-rata tingkat provinsi, sehingga intervensi yang diterapkan cenderung bersifat seragam dan kurang tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik wilayah berdasarkan indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan determinan stunting, mendeskripsikan karakteristik setiap cluster, serta menyusun rekomendasi kebijakan berbasis karakteristik wilayah. Penelitian menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis 273 kabupaten/kota di Pulau Sumatera dan Jawa berdasarkan data SUSENAS dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024. Analisis dilakukan menggunakan metode K-Means Clustering terhadap empat indikator IPM dan enam determinan stunting, sedangkan prevalensi stunting digunakan sebagai variabel pembanding melalui uji ANOVA. Hasil penelitian mengidentifikasi empat cluster dengan karakteristik yang berbeda. Cluster 3 memiliki tingkat pembangunan manusia tertinggi dan prevalensi stunting terendah, sedangkan Cluster 4 memiliki prevalensi stunting tertinggi yang disertai tingkat kemiskinan lebih tinggi serta akses air minum dan sanitasi yang lebih rendah. Temuan penting menunjukkan bahwa Cluster 4 memiliki rasio puskesmas dan bidan yang relatif tinggi, namun tetap mencatat prevalensi stunting tertinggi, mengindikasikan bahwa intervensi layanan kesehatan saja belum cukup tanpa perbaikan determinan sosial dan lingkungan. Uji ANOVA menunjukkan perbedaan prevalensi stunting yang bermakna antarcluster (p<0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan kebijakan berbasis karakteristik  wilayah diperlukan agar strategi percepatan penurunan stunting dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing cluster sehingga menjadi lebih tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan.

Stunting remains a major public health challenge in Indonesia, with a national prevalence of 19.8% in 2024. Although the prevalence has declined, the absolute burden of cases remains concentrated in the islands of Sumatra and Java, which are home to the majority of Indonesia's under-five population. Disparities among regencies and municipalities are often masked by provincial averages, resulting in uniform interventions that may not adequately address local needs. This study aimed to identify regional typologies based on the Human Development Index (HDI) indicators and stunting determinants, describe the characteristics of each cluster, and develop policy recommendations tailored to regional characteristics. An ecological study design was employed using secondary data from 273 regencies and municipalities in Sumatra and Java obtained from the 2024 National Socioeconomic Survey (SUSENAS) and the 2024 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI). The K-Means Clustering method was applied to four HDI indicators and six stunting determinants, while stunting prevalence was used as a validation variable through analysis of variance (ANOVA). The analysis identified four distinct regional clusters with different characteristics. Cluster 3 exhibited the highest level of human development and the lowest stunting prevalence, whereas Cluster 4 had the highest stunting prevalence, accompanied by higher poverty rates and lower access to improved drinking water and sanitation. A notable finding was that Cluster 4 had relatively high ratios of primary healthcare centers and midwives despite recording the highest stunting prevalence, indicating that healthcare interventions alone are insufficient without addressing broader social and environmental determinants. ANOVA confirmed significant differences in stunting prevalence among the clusters (p<0.001). This study concludes that a regional typology-based approach is essential for designing more targeted, effective, and sustainable stunting reduction policies that are tailored to the characteristics of each cluster.
Read More
T-7558
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Budiman; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Sabarinah Prasetyo, Tri Yunis Miko Wahyono, Surjana, Titik Respati
Abstrak:

ABSTRAK Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis (MTb). Penyakit infeksi M.Tb ini menyerang semua negara di dunia. Selain menyebabkan kematian, penderita TB ini juga mengalami kerugian secara ekonomis dan menghadapi stigma negatif di masyarakat. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita TB terbanyak ke-5 di dunia, dan meskipun program DOTS digalakkan, penurunan insidensinya masih belum berarti. Penelitian ini merupakan studi ekologi dengan desain cross sectional bertujuan mengelompokkan prevalensi TB dan faktor risikonya. Dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni 2013. Data yang dipergunakan merupakan hasil dari Riskesdas dan Survei kependudukan dari BPS tahun 2007. Penggugusan dilakukan dengan cluster analysis, sementara untuk melihat faktor penentu yang paling berperan terhadap prevalensi TB dilakukan dengan multiple regression analysis. Hasil akhir pembentukan klaster yang optimal sebanyak 5, dan didapatkan sebagian besar kabupaten/kota di wilayah Indonesia Bagian Barat dan Tengah berada dalam satu klaster. Empat kabupaten/kota di Provinsi Papua berada dalam satu klaster dan merupakan wilayah dengan prevalensi TB terbesar, dengan ratarata empat faktor risiko lebih tinggi dibandingkan klaster lainnya. Faktor penentu yang paling berpengaruh terhadap prevalensi TB adalah jumlah prevalensi Diabetes Mellitus (DM). Masing-masing klaster menunjukkan permasalahannya sendiri, sehingga dalam upaya untuk menurunkan prevalensi TB di masyarakat dan dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki pemerintah, perlu ditentukan prioritas program yang dilakukan untuk mengatasi faktor risiko TB sesuai dengan permasalahan di tiap-tiap daerah.


 

ABSTRACT Tuberculosis, a communicable disease transmitted by Mycobacterium tuberculosis, has become a global issue. With its high mortality and morbidity, this disease become a negative stigma in population Indonesia accounts for nearly one twentieth of the global burden of TB. Although it has a growing DOTS programme there has not been a discernible reduction in the incidence of TB in this country. A cross-sectional ecological study was conducted to determine TB prevalence and its risk factors between March and June 2013. Data was taken from Basic Health Research and Demographic Survey from Center of Statistical Bureau 2007, then clustered with cluster analysis, while to find the most affecting risk factor on TB data was analyzed with multiple regression analysis. Result showed the number of optimal cluster was 5, and most city/town in west and central Indonesian region were within one cluster. Four city/town in Papua Province were in one cluster with highestTB prevalence, with four average risk factor higher than other cluster. The determining factor which was the most affecting onTB prevalence was DM prevalence. Since each cluster has its specific problems, Indonesian government has to set priority on program dealing with TB risk factors based on regional problems, inspite of minimal sources.

Read More
T-3788
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alya Zahrah Zhafirah; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Besral, Wahyu Septiono, Yenni Risniati, Meilinda
Abstrak:
Masalah Kesehatan Jiwa (MKJ) merupakan beban kesehatan masyarakat yang terus meningkat di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor sosioekonomi individu dan karakteristik wilayah terhadap masalah kesehatan jiwa menggunakan pendekatan multilevel analysis berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan analisis multilevel logistic regression. Sampel analisis terdiri dari 589.813 individu berusia ≥15 tahun yang tersebar di 464 kabupaten/kota. Masalah kesehatan jiwa diukur menggunakan SRQ-20 dengan cut-off skor ≥6. Variabel level 1 mencakup faktor sosioekonomi dan karakteristik individu, sedangkan variabel level 2 meliputi indikator sosioekonomi dan karakteristik fisik-sosial wilayah. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi MKJ sebesar 1,54% (95% CI: 1,41–1,69%). Null model menghasilkan ICC 23,34% (95% CI: 20,98–25,88%) dan MOR 2,60, membuktikan variasi antar wilayah yang substansial. Pada tingkat individu, pendidikan menunjukkan efek protektif berpola dosis-respons, pengangguran aktif meningkatkan risiko, dan kepemilikan aset menunjukkan gradien protektif yang konsisten. Pada tingkat wilayah, TPAK yang lebih tinggi berhubungan dengan risiko MKJ lebih rendah, sementara kepadatan penduduk yang tinggi dan kawasan perkotaan berhubungan dengan risiko lebih tinggi. Enam variabel level 2 lainnya tidak signifikan secara statistik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa masalah kesehatan jiwa dipengaruhi oleh faktor baik di tingkat individu maupun kontekstual wilayah. Diperlukan pendekatan intervensi yang bertingkat dan berbasis wilayah untuk mengurangi beban masalah kesehatan jiwa di Indonesia.

Mental health problems (MHP) represent a growing public health burden in  Indonesia. This study aimed to analyze the association between individual  socioeconomic factors and district characteristics on mental health problems using  a multilevel analysis approach based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI  2023). A cross-sectional design with multilevel logistic regression was employed.  The analytical sample comprised 589,813 individuals aged ≥15 years nested within  464 districts/cities. Mental health problems were measured using the SRQ-20 with  a cut-off score of ≥6. Level 1 variables included individual socioeconomic factors  and demographic characteristics, while Level 2 variables comprised socioeconomic  indicators and physical-social characteristics of districts. The findings revealed an  MHP prevalence of 1.54% (95% CI: 1.41–1.69%). The null model yielded an ICC  of 23.34% (95% CI: 20.98–25.88%) and an MOR of 2.60, confirming substantial  between-district variation. At the individual level, education demonstrated a dose response protective effect, active unemployment increased MHP risk, and asset  ownership showed a consistent protective gradient. At the district level, higher labor  force participation rate (LFPR) was associated with lower MHP risk, while higher  population density and urban residence were associated with higher risk. Six other  Level 2 variables were not statistically significant. This study concludes that mental  health problems are influenced by both individual and contextual district-level  factors. A multilevel, area-based intervention approach is needed to reduce the  burden of mental health problems in Indonesia.
Read More
T-7543
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hafsah Amalia; Pembimbing: Rico Kurniawan; Penguji: Popy Yuniar, R. Sutiawan, Lina Widyastuti, Aulia Rizki Firdawanti
Abstrak:
Latar Belakang: Unmet need keluarga berencana (KB) masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Intervensi yang tersedia umumnya dirancang secara seragam sehingga belum mempertimbangkan keragaman faktor perilaku dan psikososial yang melatarbelakangi kebutuhan KB yang tidak terpenuhi. Pendekatan segmentasi populasi dapat membantu mengidentifikasi kelompok perempuan dengan karakteristik yang berbeda sehingga program KB dapat dirancang lebih tepat sasaran. Metode: Penelitian ini menggunakan data sekunder Community Based Survey (CBS) Guttmacher tahun 2018 pada 1.430 perempuan usia 15–49 tahun dengan unmet need KB di enam provinsi di Pulau Jawa. Analisis cluster dilakukan menggunakan Gower Distance dengan metode HDBSCAN dan K-Means, dengan validasi menggunakan average silhouette, PERMANOVA, Betadisper, dan uji Chi-Square/Fisher. Hasil: HDBSCAN menghasilkan tiga cluster (206 responden) dengan 1.224 responden (85,6%) sebagai noise, sedangkan K-Means mengelompokkan seluruh 1.430 responden ke dalam tiga cluster. Meskipun menghasilkan struktur pengelompokan yang berbeda, kedua metode mengidentifikasi tiga profil hambatan yang saling melengkapi. Kelompok pertama tidak memiliki riwayat penggunaan kontrasepsi namun memiliki otonomi reproduksi tinggi. Kelompok kedua memiliki pengalaman penggunaan kontrasepsi yang luas disertai pengalaman efek samping yang nyata. Kelompok ketiga didominasi oleh rendahnya otonomi reproduksi dan kuatnya penerimaan norma gender tradisional. Secara substantif, kedua metode secara konsisten mengidentifikasi empat pola hambatan utama, yaitu mispersepsi terhadap kontrasepsi, penghentian penggunaan akibat efek samping, minimnya pengalaman penggunaan kontrasepsi, serta rendahnya otonomi reproduksi. Riwayat penggunaan kontrasepsi, pengalaman efek samping, persepsi terhadap metode kontrasepsi, dan otonomi reproduksi merupakan faktor pembeda utama antar kelompok. Implikasi Program: Perempuan dengan unmet need KB bukan merupakan kelompok yang homogen. Segmentasi berbasis perilaku dan psikososial mampu mengidentifikasi perbedaan karakteristik yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui faktor sosiodemografi, sehingga program KB yang mempertimbangkan profil hambatan spesifik tiap kelompok berpotensi menghasilkan intervensi yang lebih tepat sasaran dan efektif.

Background: Unmet need for family planning (FP) remains a public health challenge in Indonesia. Available interventions are generally designed using a uniform approach and have not fully accounted for the diversity of behavioral and psychosocial factors underlying unmet need for family planning. A population segmentation approach may help identify groups of women with distinct characteristics, enabling the development of more targeted family planning programs. Methods: This study used secondary data from the 2018 Guttmacher Community Based Survey (CBS) involving 1,430 women aged 15–49 years with unmet need for family planning across six provinces in Java. Cluster analysis was conducted using Gower Distance with HDBSCAN and K-Means methods, with validation performed using average silhouette, PERMANOVA, Betadisper, and Chi-Square/Fisher tests. Results: HDBSCAN identified three clusters (206 respondents) while 1,224 respondents (85.6%) were classified as noise, whereas K-Means assigned all 1,430 respondents into three clusters. Despite producing different clustering structures, both methods identified three complementary barrier profiles. The first group had no prior contraceptive use history but demonstrated high reproductive autonomy. The second group had extensive contraceptive use experience accompanied by actual side effect experiences. The third group was characterized by low reproductive autonomy and strong acceptance of traditional gender norms. Substantively, both methods consistently identified four major barrier patterns, namely contraceptive misperceptions, discontinuation due to side effects, limited contraceptive experience, and low reproductive autonomy. Contraceptive use history, side effect experiences, perceptions of contraceptive methods, and reproductive autonomy emerged as the primary factors differentiating the identified groups. Program Implications: Women with unmet need for family planning do not constitute a homogeneous population. Behavioral and psychosocial segmentation was able to identify characteristic differences that could not be adequately explained by sociodemographic factors alone, suggesting that family planning programs incorporating specific barrier profiles for each group have the potential to produce more targeted and effective interventions.
Read More
T-7580
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khimatul Ulya; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: R. Sutiawan, Hera Nurlita
S-7487
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hanan Tsabitah; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Martya Rahmaniati, Wilfun Afnan
Abstrak: Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyatakan tahun 2013 Indonesia dalam keadaan darurat kekerasan pada anak. Dari 3.023 laporan pelanggaran hak anak yang diterima oleh Komnas PA pada tahun 2013, 1.620 di antaranya merupakan kasus kekerasan. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan karakteristik pada masing-masing jenis kekerasan pada anak (fisik, psikis, seksual, dan penelantaran) di Indonesia berdasarkan sosiodemografi korban (usia, jenis kelamin, pendidikan, sosial ekonomi), hubungan korban dengan pelaku, dan wilayah terjadinya kekerasan. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan menggunakan data kekerasan pada anak yang telah dikumpulkan oleh Komnas PA selama tahun 2013. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan karakteristik pada masing-masing jenis kekerasan yang diteliti (kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran). Kekerasan fisik didominasi oleh anak laki-laki usia 13-17 tahun dengan status sosial ekonomi menengah dan dilakukan oleh orang tua kandung. Sementara kekerasan psikis lebih banyak dialami oleh anak perempuan usia 13-17 tahun dengan status sosial ekonomi menengah dan dilakukan oleh orang lain. Kekerasan seksual didominasi oleh anak perempuan usia 13-17 tahun dengan status sosial ekonomi bawah dan dilakukan oleh orang lain. Penelantaran anak lebih banyak terjadi pada anak laki-laki usia di bawah 5 tahun dengan status sosial ekonomi bawah dan dilakukan oleh orang tua kandung. Anak laki-laki memiliki risiko jauh lebih besar mengalami kekerasan fisik dibandingkan anak perempuan (OR=15). Selain itu, anak-anak dari keluarga dengan sosial ekonomi bawah dan menengah memiliki risiko jauh lebih besar mengalami kekerasan seksual dibandingkan anak-anak dari keluarga dengan sosial ekonomi atas (OR=15 dan 6,5). Anak-anak kelompok usia 6-12 tahun memiliki risiko lebih besar mengalami penelantaran dibandingkan anak-anak dengan usia yang lebih tua (13-17 tahun) (OR=6). Kata kunci: kekerasan pada anak, karakteristik, jenis kekerasan, Komisi Nasional Perlindungan Anak
Read More
S-8957
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nia Watri Wahyuni; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Rico Kurniawan, Sudijanto Kamso, Soedibyo Alimoeso, Sri Sumarmi
Abstrak:

Stunting memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang. Stunting disebabkan oleh banyak factor. Air, sanitasi, dan lingkungan berkontribusi 50% sebagai penyebab stunting. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sanitasi dan hygiene terhadap stunting pada balita di Papua Tengah, NTT, dan Aceh. Penelitian menggunakan desain cross sectional. Data dari SKI 2023 dengan sampel 5.666 (pasangan balita dan ibu balita). Proporsi kejadian stunting di Provinsi Papua Tengah (35,8%), NTT (33,3%) dan Aceh (27,7%).Variabel yang mempengaruhi stunting di Papua Tengah adalah sumber air minum, penggunaan jamban, pengelolaan sampah, CTPS, tinggi ibu, jumlah anggota keluarga, dan daerah tempat tinggal. Variabel yang mempengaruhi stunting di NTT adalah sumber air minum, penggunaan jamban, pembuangan limbah, pengelolaan sampah, CTPS, BB lahir, PB lahir, jenis kelamin, tinggi ibu, LILA ibu, pendidikan ibu, dan daerah tempat tinggal. Variabel yang mempengaruhi stunting di Aceh adalah pengelolaan sampah, PB lahir, tinggi ibu, dan LILA ibu. Factor sanitasi lingkungan dan kebersihan diri yang paling mempengaruhi stunting di Papua Tengah adalah sumber air minum dengan AOR 3,4 (95% CI: 1,7 – 6,7), di NTT dan Aceh adalah pengelolaan sampah dengan AOR masing-masing 1,4 (95% CI: 0,8 – 2,4) dan 1,1 (95% CI: 0,9 – 1,4) setelah dikontrol variabel lainnya. Bagi pemerintah, diharapkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan pemerataan akses sanitasi dan air bersih dengan meningkatkan kerjasama instansi terkait. Bagi Dinas Kesehatan diharapkan dapat mengoptimalkan program STBM, peningkatkan pengawasan air minum, dan meningkatkan promkes tentang PHBS.


Stunting has short-term and long-term impacts. Stunting is caused by many factors. Water, sanitation, and environment contribute 50% as the cause of stunting. The purpose of this study was to determine the effect of sanitation and hygiene on stunting in toddlers in Central Papua, NTT, and Aceh. The study used a cross-sectional design. Data from SKI 2023 with a sample of 5,666 (toddler and toddler mother pairs). The proportion of stunting incidents in Central Papua Province (35.8%), NTT (33.3%) and Aceh (27.7%). The variables that affect stunting in Central Papua are drinking water sources, use of latrines, waste management, CTPS, maternal height, number of family members, and area of residence. The variables that affect stunting in NTT are drinking water sources, use of latrines, waste disposal, waste management, CTPS, birth weight, birth weight, gender, maternal height, maternal LILA, maternal education, and area of residence. The variables that affect stunting in Aceh are waste management, birth weight, maternal height, and maternal LILA. The environmental sanitation and personal hygiene factors that most influence stunting in Central Papua are drinking water sources with an AOR of 3.4 (95% CI: 1.7 - 6.7), in NTT and Aceh are waste management with AORs of 1.4 (95% CI: 0.8 - 2.4) and 1.1 (95% CI: 0.9 - 1.4) respectively after controlling for other variables. For the government, it is hoped that the results of this study can improve equal access to sanitation and clean water by increasing cooperation between related agencies. For the Health Office, it is hoped that it can optimize the STBM program, increase supervision of drinking water, and improve health promotion on PHBS.

 

Read More
T-7168
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heriyanto; Pembimbing: Besral, Sudijanto Kamso; Penguji: R. Sutiawan. Desak Made Wismarini, Ubiet Junita Sari
Abstrak:

Tujuan: Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memperkirakan kejadian hipertensi serta pengaruh indeks massa tubuh terhadap kejadian hipertensi penduduk umur ≥ 25 tahun di Indonesia yang pada awalnya bebas hipertensi. Prevalensi hipertensi menunjukkan peningkatan selama beberapa periode. Sejalan dengan peningkatan hipertensi, prevalensi overweight dan obesitas juga mengalami peningkatan. Metode: 12623 penduduk umur ≥ 25 tahun pada IFLS4-2007 yang diambil dari kerangka sampel IFLS2-1997 yang bebas hipertensi. Indeks massa tubuh diukur berdasarkan berat badan dibagi tinggi badan dikuadratkan. Sedangkan hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. Hasil: Kejadian/insiden hipertensi yang pada sampel awal tahun 1997 0% menjadi 21,8% pada tahun 2007. Rata-rata indeks massa tubuh awal pada IFLS2-1997 adalah 21,0 kg/m 2 . Setelah follow up 10 tahun (IFLS4-2007) rata-rata indeks massa tubuh mengalami peningkatan menjadi 22,8 kg/m 2 . Indeks massa tubuh pada kelompok obesitas (IMT ≥ 30,0 kg/m 2 ) setelah dikontrol ix Universitas Indonesia umur, IMT terkini, status perkawinan, status pekerjaan, konsumsi ikan asin, dan kolesterol memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kejadian hipertensi dengan risiko relatif (RR) 1,34 (95% CI: 1,04-1,73). Kata kunci : Indonesia, hipertensi, indeks massa tubuh.


 

Objectives: The main purpose of this study was to estimate the incidence of hypertension and body mass index effect on the incidence of hypertension population aged ≥ 25 years in Indonesia, which were initially free of hypertension. The prevalence of hypertension showed an increase over several periods. In line with the increase in hypertension, the prevalence of overweight and obesity are also increasing. Method: 12623 population aged ≥ 25 years at IFLS4-2007 samples drawn from IFLS21997 framework that is free of hypertension. Body mass index is measured by weight divided by height squared. While hypertension is defined as systolic blood pressure ≥ 140 mmHg or diastolic blood pressure ≥ 90 mmHg. Results: The incident of hypertension in the initial sample of 1997 0% to 21.8% in 2007. The average initial body mass index on IFLS2-1997 was 21.0 kg/m2. After 10 years of follow-up (IFLS4-2007) the average body mass index increased to 22.8 kg/m2. Body mass index in obese group (BMI ≥ 30.0 kg/m2) after controlling for age, current BMI, marital status, employment status, salted fish consumption, and cholesterol have a significant influence on the incidence of hypertension with a relative risk (RR) 1.34 (95% CI: 1.04 - 1.73). Key words: Indonesia, hypertension, body mass index.

Read More
T-3385
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiopan Sipahutar; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Iwan Ariawan, Besral, Anies Irawati, Ning Sulistyowati
Abstrak:

Tesis ini bertujuan untuk melihat model persamaan struktural determinan stunting pada anak bawah dua tahun di Indonesia tahun 2010 dengan menggunakan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2010. Tehnik analisis yang digunakan adalah Structural Equation Model Analysis. Determinan stunting yang memiliki jalur langsung stunting adalah indikator pola asuh (perilaku menyusui), asupan makanan (tablet besi pada ibu, vitamin A pada ibu dan anak) dan sosial ekonomi (lokasi tinggal, jumlah anggota keluarga, pengeluaran per kapita, pendidikan ibu dan rumah sehat). Variabel sosial ekonomi merupakan variabel yang memiliki hubungan statistic yang bermakna terhadap stunting. Disarankan untuk meningkatkan pengetahuan tentang nutrisi ibu sejak hamil. Untuk memperluas cakupan, peningkatan pengetahuan dapat dilakukan di posyandu yaitu pada meja 4. Saran lain adalah melakukan program peningkatan pendapatan rumah tangga, baik oleh pemerintah maupun kerjasama dengan LSM atau lembaga swasta terkait. . Kata Kunci :  Stunting, Structural Equation Model, anak bawah dua tahun


 The thesis is intended to see the structural equation model of determinant stunting of children under two years in Indonesia in 2010 by using data from “Riset Kesehatan Dasar” in 2010. Analysis technique that is used is Structural Equation Model Analysis. Determinants of stunting that has a direct path to the stunting is an indicator of care (breastfeeding), food intake (maternal iron tablets, vitamin A in mother and child) and the socio-economic indicators (location of residence, family size, expenditure per capita, maternal education and healthy house). Socio-economic variable is the only variable that is significantly different toward stunting. It is recommended to improve mother knowledge on nutrition from pregnancy period and to increase the coverage, it can be done through posyandu at table 4. Another suggestion is to create such income generating program. It could be done by government or partnering with NGO or related private institution as well. Key Words:  Stunting, Structural Equation Model, children under two

Read More
T-3321
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anindya Kanya; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Mieke Savitri, Yusna Afrilda
Abstrak: Kontrasepsi suntikan merupakan alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan di tahun 2012. Meski memiliki beberapa keuntungan, kontrasepsi suntikan memiliki berbagai efek samping bagi kesehatan akseptor KB. Penelitian dilakukan untuk menganalisis hubungan karakteristik individu dan pelayanan KB dengan penggunaan kontrasepsi suntikan pada akseptor KB di Indonesia tahun 2012. Penelitian menggunakan desain studi cross sectional dan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2012.
 
Hasil analisis multivariabel menunjukkan bahwa seluruh variabel dari faktor karakteristik individu dan pelayanan KB memiliki hubungan yang signifikan dengan penggunaan kontrasepsi suntikan. Diketahui pula bahwa biaya kontrasepsi yang tinggi di pelayanan swasta adalah faktor yang paling dominan yang mempengaruhi penggunaan kontrasepsi suntikan (OR=9,7; nilai p=0,000).
 

Contraceptive injection is the most popular contraception method in 2012. This method offers several advantages, but on the other hand, it also has many side effects for acceptors’s health. The study purpose is to analyze the relationship between individual characteristics and family planning services with the use of injectable contraceptives in family planning acceptors in Indonesia in 2012. This study uses cross sectional study design and secondary data analysis of 2012 Indonesia Demographic Health Survey.
 
The results of multivariable analysis showed that both individual characteristics and family planning services factors have a significant association with the use of contraceptive injection. It also found that the high cost of contraceptives in private services is the most dominant factor that affecting the use of contraceptive injections (OR=9,7; p-value=0,000).
Read More
S-8798
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive