Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35177 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Christina Prilia Damaranti; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Anhari Achadi, Masyitoh, Ramaniya Kirana, Eka Ginanjar
Abstrak:
PPOK merupakan penyakit pernapasan kronis penyebab morbiditas dan mortalitas terbanyak dengan dampak pembiayaan yang cukup tinggi di Indonesia. Clinical Pathway (CP) adalah bagian dari pelaksanaan tata kelola klinis rumah sakit dan salah satu tools dalam mewujudkan sistem kendali mutu dan kendali biaya di era JKN. Efektivitas kepatuhan penerapan clinical pathway (CP) terhadap luaran klinis pasien pada beberapa penelitian menunjukkan hasil yang positif. RS Paru Respira Yogyakarta telah menetapkan CP PPOK sebagai CP prioritas, namun dalam proses evaluasi kepatuhan CP belum menggunakan seluruh komponen PPA seperti yang diatur dalam Permenkes Nomor 30 Tahun 2022. Paradigma pelayanan kesehatan saat ini adalah value-based healthcare sehingga perlu dilakukan evaluasi dampak kepatuhan CP terhadap luaran klinis pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan CP terhadap luaran klinis pasien PPOK dan proses penerapan kepatuhan CP PPOK di RS Pusat Paru Respira Yogyakarta tahun 2022. Desain penelitian adalah observasional (cross sectional) dengan pendekatan mix method. Pengambilan data metode kuantitatif menggunakan rekam medis pasien rawat inap dengan diagnosis utama PPOK tahun 2022 (n=57) dan metode kualitatif dengan wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian kuantitatif didapatkan tingkat kepatuhan CP PPOK sebesar 87,7%, ada hubungan yang signifikan antara DPJP dengan kejadian komplikasi (p value=0,003) dan antara kepatuhan CP dengan luaran klinis yaitu komplikasi (p value=0,05 dan OR=6,75), faktor yang paling berpengaruh pada luaran klinis pasien adalah kepatuhan terhadap CP. Metode kualitatif, berdasarkan perspektif 10 variabel dalam teori Gibson dan Mathis-Jackson, didapatkan hasil yang baik pada variabel sikap. Untuk variabel pengetahuan, supervisi, komunikasi, pelatihan, SDM, standar kinerja, sarana prasarana, insentif dan struktur organisasi masih perlu peningkatan. Untuk meningkatkan kepatuhan CP diperlukan komunikasi yang efektif antara pembuat dan pelaksana CP, pemahaman dan komitmen penuh para PPA, dukungan manajemen untuk rutin meninjau ulang tata laksana CP, meningkatkan sosialisasi, pelatihan, sarana prasarana, kebutuhan SDM, fasilitas IT penunjang serta regulasi terkait pelaksanaan CP.

COPD is a chronic respiratory disease that causes the most morbidity and mortality with a high cost impact in Indonesia. Clinical Pathway (CP) is part of the implementation of hospital clinical governance and one of the tools in quality and cost control system in JKN era. The effectiveness of clinical pathway (CP) compliance to patient clinical outcomes in several studies has shown positive results. Respira Lung Hospital Yogyakarta has designated CP COPD as a priority CP, but in the process of evaluating CP compliance, it has not used all Profesional Caregiver components as stipulated in Health Ministerial Regulation No. 30 of 2022. The current paradigm of health services is value-based healthcare, so it is necessary to evaluate the impact of CP compliance on the patient's clinical outcome. This study aims to determine the association of CP compliance to the clinical outcome of COPD patients and the process of implementing COPD CP compliance at the Respira Lung Hospital Yogyakarta in 2022. The research design is observational (cross sectional) with mix method approach. Quantitative method data collection using inpatient medical records with a primary diagnosis of COPD in 2022 (n=57) and qualitative method using with in-depth interviews, observation and document review. The results of quantitative study showed that COPD CP compliance rate is 87.7%, there is a significant relationship between doctor in charge of services with the incidence of complications (p value=0.003) and between CP compliance with clinical outcomes of complications (p value=0.05 and OR=6.75), factor that most influenced the patient's clinical outcome was CP compliance. Qualitative methods, based on the perspective of 10 variables in the theory of Gibson and Mathis-Jackson, showed good results on attitude variables. Knowledge, supervision, communication, training, human resources, performance standards, infrastructure, incentives and organizational structure variables still need improvement. To improve CP compliance, an effective communication between CP makers and implementer are required, full understanding and commitment of Profesional Caregivers, management support to regularly review CP governance, improve socialization, training, infrastructure, human resource needs, supporting IT facilities and regulations related to the implementation of CP are required.
Read More
B-2383
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novi Wahyu Utami AN.; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Yuli Prapancha Satar
Abstrak: Abstrak

Program Orientasi Berbasis Kompetensi merupakan metode dalam program orientasi perawat baru. Penelitian descriptive correlational secara cross sectional bertujuan menganalisis Hubungan antara Kompetensi Pasca Orientasi dengan Kinerja Perawat Baru di RS X Jakarta Tahun 2013.

Hasil penelitian pada 127 perawat baru di RS X didapatkan perawat baru mempersepsikan kompetensi interpersonal baik (74.81%), kompetensi teknis baik (80.31%), kompetensi berpikir kritis baik (62.21%). Kinerja perawat baru mempersepsikan baik adalah 69,39%.

Analisis menunjukkan ada hubungan antara program orientasi berbasis kompetensi dengan kinerja perawat baru (pvalue= 0,000, CI: 0,336; 0,696). Variabel dominan berhubungan dengan kinerja perawat baru adalah kompetensi teknis. Kompetensi perawat baru membentuk perawat baru memiliki penampilan kerja profesional sehingga program ini penting diterapkan di setiap orientasi perawat baru.


Competency-based orientation program is a method of new nurse orientation programs. Research on cross-sectional descriptive correlational aimed to analyze the relationship of competency-based orientation program with the performance of new nurses at X Hospital, Jakarta in 2013.

Results for 127 new nurses in X Hospital, Jakarta new nurses get a good view of interpersonal competence (74.81%), good technical competence (80.31%), good competence in critical thinking (62.21%). New nurses to see better performance is 69,39%.

Analysis showed no relationship between competency-based orientation program with the performance of new nurses (p = 0.000, CI: 0.336, 0.696). The dominant variables associated with the performance of new nurses is technical competencies. Competence of new nurses to form a new nurse has a professional performance so that important programs applied in any orientation of new nurses.

Read More
B-1559
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zygawindi Nurhidayati; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Ery Setiawan, Lahargo Kembaren
Abstrak:
Latar belakang: Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat bersifat kronis yang dapat menyebabkan defisit fungsional pasien sehingga mempengaruhi kualitas hidup serta memerlukan biaya perawatan jangka panjang yang besar bila tidak dilakukan pentalaksanaan secara komprehensif. Penatalaksanaan psikofarmakologi memiliki keterbatasan terhadap pemulihan fungsi pasien sehingga dibutuhkan intervensi rehabilitasi psikososial untuk mengoptimalkan fungsi dan kualitas hidup pasien. Hal tersebut akan berdampak pada efisiensi beban biaya pasien skizofrenia dalam jangka panjang yang bisa dioptimalkan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis luaran klinis dan biaya pada penambahan rehabilitasi psikososial. Metode: Penelitian ini merupakan studi retrospektif yang mengukur efektivitas luara klinis dan kualitas hidup serta biaya pada pasien skizofrenia dengan penambahan rehabilitasi psikososial dibandingkan pasien skizofrenia dengan intervensi psikofarmakologi saja. Luaran klinis yang diukur berupa tingkat pemulihan berdasarkan nilais GAF dan kualitas hidup pasien berdasarkan kuesioner SQLS. Biaya dihitung selama satu tahun perawatan mencakup biaya obat, rehabilitasi, tindakan dan administrasi. Hasil: Pasien skizofrenia yang mendapatkan penambahan intervensi rehabilitasi psikososial sebanyak 81% memiliki nilai GAF > 70, lebih tinggi dibandingkan pasien skizofrenia dengan intervensi psikofarmakologi yang hanya 33,3%. Demikian pula, proporsi pasien dengan kualitas hidup yang baik sebanyak 85,7% sedangkan pasien skizofrenia dengan intervensi psikofarmakologi sebanyak 43,3%. Total biaya rata-rata per pasien pada pasien dengan penambahan rehabilitasi psikososial lebih tinggi dibandingkan dengan intervensi psikofarmakologi. Nilai ICER untuk setiap peningkatan GAF > 70 adalah Rp 70.023,96 dan nilai ICER untuk setiap 1% peningkatan kualitas hidup baik adalah Rp 78.777,00. Nilai tersebut menunjukkan bahwa penambahan rehabilitasi psikososial pada skizofrenia cukup efisien jika dikaitkan dengan luaran klinis. Kesimpulan: Penambahan intervensi rehabilitasi psikososial pada pasien skizofrenia di RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor memiliki luaran klinis yang lebih baik dan efisien secara biaya jika dikaitkan dengan luaran klinis tersebut. 

Background: Schizophrenia is a chronic, severe mental illness that causes significant functional deficits, affecting quality of life and necessitating substantial long-term care costs if not managed comprehensively. Psychopharmacological treatment alone has limitations in restoring patient functioning, thereby requiring psychosocial rehabilitation interventions to optimize patient function and quality of life. This optimization is anticipated to lead to improved cost-efficiency for schizophrenia patients in the long term. Objective: This study aimed to analyze the clinical outcomes and costs with the addition of psychosocial rehabilitation in schizophrenia patients. Methods: This retrospective study measured the effectiveness of clinical outcomes and quality of life, as well as costs, in schizophrenia patients receiving psychosocial rehabilitation in addition to psychopharmacological intervention, compared to those receiving psychopharmacological intervention. Clinical outcomes were assessed based on GAF scores and patient quality of life using the SQLS questionnaire. Costs were calculated over one year of treatment, encompassing expenses for medication, rehabilitation, medical procedures, and administration. Results: Among schizophrenia patients, 81% who received additional psychosocial rehabilitation achieved a GAF score > 70, which was significantly higher compared to only 33.3% of patients who received psychopharmacological intervention alone. Similarly, the proportion of patients with good quality of life was 85.7% in the psychosocial rehabilitation group, versus 43.3% in the psychopharmacology-only group. The average total cost per patient was higher in the group with additional psychosocial rehabilitation compared to the psychopharmacology-only group. The Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) for every 1% increase in GAF > 70 was Rp 70,023.96, and for every 1% increase in good quality of life was Rp 78,777.00. These values indicate that the addition of psychosocial rehabilitation in schizophrenia is highly cost-efficient when linked to clinical outcomes. Conclusion: The addition of psychosocial rehabilitation interventions for schizophrenia patients at RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor results in better clinical outcomes and is cost-efficient when considering these outcomes.
Read More
B-2545
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pretty Kristianti Dewi; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Suprijanto Rijadi, Vebry Haryati Lubis
B-1740
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Saptono Raharjo; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Mieke Savitri, Amal C. Sjaaf, Agus Purwadianto
Abstrak:

Pada era reformasi saat ini terdapat kecenderungan meningkatnya tuntutan dugaan malpraktik pada rumah sakit. Instalasi Gawat Darurat sebagai salah satu unit pelayanan rumah sakit yang berfungsi melayani pasien gawat darurat medis merupakan high clinical risks areas. Masalah asuhan klinis di Instalasi Gawat Darurat bila tidak dikenali dengan baik dapat merugikan pasien, staf medis, ataupun organisasi rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor faktor kontribusi risiko klinis yang mempengaruhi terjadinya adverse outcome di Instalasi Gawat Darurat RS "X" dengan pendekatan metode Reason's organizational model Charles Vincent dan Sally Taylor-Adams. Tahapan penelitian dimulai dengan identifikasi adverse outcome berdasarkan laporan kejadian dari staf Instalasi Gawat Darurat yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Penelitian dilanjutkan dengan wawancara mendalam, telaah dokumen, dan observasi partisipatif untuk menyusun kronologi. Selanjutnya melalui concensus decison making group ditetapkan masalah pelayanan asuhan klinis (Care Delivery Problem). Setiap Care Delivery Problems yang ditetapkan kemudian ditelusuri lebih lanjut dengan dasar wawancara, telaah dokumen dan observasi untuk menganalisis faktor faktor kontribusi yang langsung mempengaruhinya. Adapun untuk mengetahui faktor kontribusi yang tidak langsung mempengaruhi masalah pelayanan asuhan klinis dilakukan wawancara mendalam terhadap beberapa informan dan telaah dokumen seperti statuta, rencana strategis, dan sejauhmana manajemen risiko telah diterapkan dalam penyelenggraan rumah sakit. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa faktor kontribusi yang secara langsung mempengaruhi masalah asuhan klinis adalah kondisi pasien gawatdarurat medis yang mengancam nyawa dan faktor individu yang kurang memadai ketrampilannya dalam melakukan tindakan resusitasi jantung paru, khususnya manajemen jalan nafas mempunyai kontribusi paling besar terjadinya suatu adverse outcome. Faktor kontribusi lainnya antara lain beban kerja staf medis, belum lengkapnya SOP observasi pasien yang memerlukan perawatan intensif untuk stabilisasi, SOP tindakan venaseksi sebagai jalur intravena pasien dehidrasi berat dengan syok dan komunikasi tertulis yang kurang Iengkap, serta peralatan medis untuk pemantauan pasien selama dilakukan observasi di Instalasi Gawat Darurat. Faktor kontribusi yang tidak langsung mempengaruhi masalah pelayanan asuhan klinis adalah faktor konteks institusional yang banyak menyoroti Undang Undang No. 9 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran sebagai aspek medikolegal yang sangat berpengaruh pada masalah pelayanan asuhan klinis dan perubahan perilaku masyarakat yang cenderung kritis dan serba menuntut. Adapun faktor organisasi dan manajemen didapatkan belum diterapkannya manajemen risiko secara formal dan terstruktur di RS "X". Saran yang disampaikan adalah bagi RS "X" agar menerapkan secara formal dan terstruktur manajemen risiko, bagi Instalasi Gawat Darurat untuk meningkatkan kapasitas Instalasi Gawat Darurat dengan melakukan pelatihan pelatihan bagi staf medis yang belum terampil khusus ketrampilan manajemen jalan nafas, ketrampilan komunikasi dan ketrampilan venaseksi, dan melengkapi SOP yang belum tersedia, serta melengkapi peralatan medis untuk pemantauan kondisi pasien selama dilakukan observasi.


 

Nowdays in reformation era there are tendency increasing demand of malpractice assumtion in hopital practice. Emergency department as one of hospital unit services which funcion is to serve medical emergency patient as high clinical risk areas. The lack identification of care delivery problems in emergency department could be disadvantages to the patient, medical staff, and hospital organization. The objectives of this research is to find out the contribution factors clinical risks which influence adverse outcome in emergency department. The research was held in emergency department, "X" Hospital with the reason's organizational model approach method which had been expanded by Charles Vincent and Sally Taylor Adams in healthcare services. Research phase is started by adverse outcome identification based on report case from emergency department staff and fulfil official criteria. Research continued with interview, document study and aprticitive observation to arrange cronology. Next on, by concensus decision making group, care delivery problems determined. To each care delivery problems carry out an interview, document study and observation to analyze directly influence of contribution factors. To find out background contribution factor of care delivery problems profound interview is made to some informan, document study for example, statuta, strategic plan, and how far risk management had been carry out in hospital operation. Research result shows that contribution factors directly influence care delivery problems is patient condition of medical emergency condition threatens life and the lack skill of individual factor in cardiopulmonary resucitation, specialIy airway management which has the most contribution to an adverse outcome occurance. The other contribution factor are medical staff workload, uncomplete patient observation stnadard operating procedure which need more ontencive care for stabilization, standard operating procedure for venasectie action as intravena Iine of hard dehydration patient and uncomplete written communication, also medical tools to monitor the patient while observation in emergency department. Contribution factors indirectly influence care delivery problems is institutional context factor that focusing more to constitusion nomor 9 year 2004 about medical practice as medicolegal aspect and its most influence for care delivery problems, another factor is changing behaviour of the people and tendency to more critical and high demand. In organization and management factor, there are structural and formal risk management haven't been applying yet in "X" Hospital. Conform to research result suggest "X" Hospital have to applied formal and structural risk management, capasity increased for emergency departement by training skill for unskilled medical staff especially in management airway skill, communication skill, and venasectie skill, complete all unavaible medical tolls to monitoring patient while observation.

Read More
B-976
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Taufan Primawan; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Mieke Savitri, Irma Suryani, Nine Mei
B-2034
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andini Surya Pratiwi; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Masyitoh, Muyi Ayoe Hapsari, Sri Mulyani
Abstrak:

Latar Belakang: Sistem pembayaran klaim BPJS Kesehatan berbasis INA-CBGs menuntut ketepatan koding dan kelengkapan dokumentasi agar nilai klaim sesuai dengan kompleksitas pelayanan. Pasien intensif (ICU/HCU/NICU/PICU) memiliki kompleksitas klinis tinggi, biaya besar, dan risiko ketidaktepatan klaim yang lebih besar, sehingga rentan mengalami under coding dan klaim pending yang menurunkan pendapatan rumah sakit. RS Hermina Bogor mencatat kontribusi pendapatan BPJS lebih dari 50% pada 2025, namun peningkatan volume belum tentu sejalan dengan optimalisasi nilai klaim, sehingga diperlukan verifikasi internal yang efektif.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dianalisis menggunakan kerangka struktur-proses-outcome (Donabedian). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan focus group discussion (FGD) terhadap tenaga yang terlibat langsung dalam siklus klaim, dipilih secara purposive, serta telaah dokumen file klaim INA-CBGs dan rekam medis pasien intensif dengan selisih klaim negatif, khususnya kasus bronchopneumonia dan stroke iskemik. Penelitian dilaksanakan di RS Hermina Bogor pada Februari-Juni 2026. Untuk mengurangi bias hierarkis akibat relasi struktural peneliti, wawancara mendalam dilakukan oleh enumerator independen, sedangkan FGD dimoderatori langsung oleh peneliti; keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode.
Hasil: Penguatan verifikasi internal terbukti meningkatkan akurasi klaim secara signifikan. Akurasi gabungan kedua diagnosis naik dari 71,67% (2025) menjadi 93,62% (2026), sementara potensi tambahan klaim dari audit menurun dari 7,92% menjadi 0,95%, menandakan klaim semakin akurat sejak awal. Pada aspek struktur, dukungan manajemen dan teknologi (SIMRS, E-Klaim, digitalisasi pedoman koding) sudah memadai, namun masih terdapat keterbatasan pada kompetensi clinical-coding interface, beban kerja yang tidak mempertimbangkan kompleksitas kasus, serta bridging sistem yang masih manual. Pada aspek proses, verifikasi 2026 lebih proaktif (mingguan, dua tahap, berbasis risiko), namun efektivitasnya tetap bergantung pada kelengkapan dokumentasi medis DPJP yang menjadi hambatan struktural berulang.
Kesimpulan: Verifikasi internal di RS Hermina Bogor efektif sebagai kontrol mutu sekaligus alat optimalisasi nilai klaim BPJS pasien intensif. Permasalahan utama tidak hanya pada proses, melainkan pada aspek struktur, terutama kualitas dokumentasi klinis DPJP, kompetensi coder, dan integrasi sistem. Diperlukan pendekatan yang menekankan perbaikan dokumentasi sebagai upstream process, penguatan kompetensi SDM, SPO khusus pasien intensif, serta integrasi sistem informasi untuk meningkatkan optimalisasi klaim secara berkelanjutan.


Background: The INA-CBGs-based BPJS claim payment system requires coding accuracy and complete documentation so that claim values reflect the complexity of services provided. Intensive care patients (ICU/HCU/NICU/PICU) present high clinical complexity, high costs, and a greater risk of claim inaccuracy, making them prone to under coding and pending claims that reduce hospital revenue. Hermina Bogor Hospital recorded a BPJS revenue contribution exceeding 50% in 2025; however, increased volume does not necessarily translate into optimized claim values, underscoring the need for effective internal verification. Methods: This study employed a qualitative case study design analyzed using the structure-process-outcome (Donabedian) framework. Data were collected through in-depth interviews and focus group discussions (FGDs) with personnel directly involved in the claim cycle, selected purposively, alongside document reviews of INA-CBGs claim files and medical records of intensive care patients with negative claim differences, particularly bronchopneumonia and ischemic stroke cases. The study was conducted at Hermina Bogor Hospital from February to June 2026. To reduce hierarchical bias arising from the researcher's structural position, in-depth interviews were conducted by an independent enumerator, while the FGD was moderated by the researcher; data validity was maintained through source and method triangulation. Results: Strengthening internal verification significantly improved claim accuracy. Combined accuracy across both diagnoses increased from 71.67% (2025) to 93.62% (2026), while the potential additional claim value from audits declined from 7.92% to 0.95%, indicating that claims became more accurate from the outset. In terms of structure, management support and technology (SIMRS, E-Claim, digital coding guidelines) were adequate; however, limitations remained in the clinical-coding interface competency, workload that did not account for case complexity, and manual system bridging. Regarding the process, the 2026 verification was more proactive (weekly, two-stage, risk-based), yet its effectiveness still depended on the completeness of physician (DPJP) medical documentation, which remained a recurring structural barrier. Conclusion: Internal verification at Hermina Bogor Hospital effectively serves as a quality control mechanism and a tool for optimizing BPJS claim values for intensive care patients. The core challenges lie not only in the process but also in structural aspects, particularly the quality of DPJP clinical documentation, coder competency, and system integration. A systems-thinking approach emphasizing documentation improvement as an upstream process, strengthening of human resource competency, intensive-care-specific standard operating procedures, and information system integration is needed to sustainably enhance claim optimization.

Read More
T-7623
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Joel Herbet Marudut Hasiholan Manurung; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Hananto Andriantoro, Andreas Pekey
Abstrak:
Latar Belakang: Penyakit jantung koroner, khususnya Infark Miokard Akut dengan Elevasi Segmen ST (IMA-EST), merupakan kegawatdaruratan kardiovaskular yang membutuhkan terapi reperfusi cepat melalui Intervensi Koroner Perkutan Primer (IKPP). Keberhasilan IKPP sangat ditentukan oleh pencapaian door to balloon time (DTB) ≤90 menit. Namun, implementasi pelayanan IKPP di RSUD Jayapura masih menunjukkan keterlambatan yang bermakna dan belum pernah dievaluasi secara komprehensif dari aspek manajemen pelayanan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi implementasi pelayanan IKPP pada pasien IMA-EST di RSUD Jayapura, mengidentifikasi titik kendala utama (bottleneck), menganalisis akar penyebab keterlambatan dengan pendekatan Theory of Constraints (TOC) dan Diagram Ishikawa, serta merumuskan rekomendasi strategis perbaikan pelayanan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data sekunder diperoleh dari buku registrasi cathlab terhadap 125 kasus IMA-EST periode Januari 2024 hingga April 2026, sedangkan data primer diperoleh melalui observasi partisipatif, Focus Group Discussion (FGD), dan Consensus Decision Making Group (CDMG) pada tiga kasus terpilih. Analisis dilakukan secara deskriptif, menggunakan TOC untuk identifikasi kendala utama dan Diagram Ishikawa untuk analisis akar masalah.  Hasil: Hasil penelitian menunjukkan rata-rata DTB tahun 2024, 2025, dan 2026 berturut-turut sebesar 553,6 menit, 2663,9 menit, dan 1656 menit, jauh melebihi standar. Pada observasi tiga kasus, ditemukan rentang DTB antara 694–2207 menit. Analisis TOC mengidentifikasi bottleneck utama berada pada fase persiapan tindakan menuju cathlab, terutama terkait keterbatasan kapasitas cathlab dan kesiapsiagaan tim di luar jam kerja. Analisis Ishikawa menunjukkan faktor dominan berasal dari aspek Man dan Method, berupa keterbatasan SDM, sistem aktivasi manual, dan belum adanya sistem siaga 24/7. Kesimpulan: Pelayanan IKPP di RSUD Jayapura belum optimal dalam mencapai target DTB akibat kendala sistemik dan multifaktorial. Perbaikan harus difokuskan pada penguatan kapasitas cathlab, peningkatan jumlah dan kesiapan SDM, penyempurnaan sistem aktivasi IMA-EST, serta monitoring DTB secara berkelanjutan.

Background: Coronary artery disease, particularly ST-segment Elevation Myocardial Infarction (STEMI), is a cardiovascular emergency requiring rapid reperfusion therapy through Primary Percutaneous Coronary Intervention (PPCI). The success of PPCI is highly dependent on achieving a door to balloon time (DTB) of ≤90 minutes. However, PPCI service implementation at Jayapura Regional Hospital has shown significant delays and has never been comprehensively evaluated from a healthcare management perspective. Objective: This study aimed to evaluate the implementation of PPCI services for STEMI patients at Jayapura Regional Hospital, identify the main bottlenecks, analyze the root causes of delays using the Theory of Constraints (TOC) and Ishikawa Diagram, and formulate strategic recommendations for service improvement. Methods: This study employed a qualitative case study design. Secondary data were obtained from the cathlab registry involving 125 STEMI cases from January 2024 to April 2026. Primary data were collected through participatory observation, Focus Group Discussion (FGD), and Consensus Decision Making Group (CDMG) involving three selected cases. Data were analyzed descriptively using TOC to identify the main constraints and Ishikawa Diagram to explore root causes. Result: The results showed that the average DTB in 2024, 2025, and 2026 were 553.6 minutes, 2663.9 minutes, and 1656 minutes, respectively, all far exceeding the recommended standard. In the three directly observed cases, DTB ranged from 694 to 2207 minutes. TOC analysis identified the main bottleneck at the transition phase from preparation to cathlab intervention, primarily related to limited cathlab capacity and team readiness outside regular working hours. Ishikawa analysis revealed that the dominant contributing factors were Man and Method, including limited trained personnel, sequential manual activation systems, and the absence of a 24/7 standby system. Conclusion: PPCI services at Jayapura Regional Hospital have not yet achieved optimal DTB performance due to systemic and multifactorial constraints. Improvement efforts should focus on strengthening cathlab capacity, increasing workforce availability and readiness, optimizing STEMI activation systems, and implementing continuous DTB monitoring.
Read More
B-2621
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhayati; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Anhari Achadi, Judi Januadi Endjun
B-1242
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sukma Marthia Rahani; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Anhari Achadi, Mardiati Nadjib, Erike A. Suwarsono, Dede Sri Mulyana
Abstrak:
Penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional dipercaya dapat mencegah terjadinya resistensi terhadap antibiotik juga berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan pasien pneumonia. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional diduga juga dapat menyebabkan pemanjangan lama hari rawat di rumah sakit sehingga mempengaruhi biaya perawatan pasien pneumonia. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi pneumonia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 2%, sedangkan tahun 2013 sebesar 1.8%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kerasionalan penggunan antibiotik dengan outcome klinis pasien pneumonia di Rumah Sakit Haji Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-analitik (cross-sectional) kuantitatif yang pengambilan datanya dilakukan secara retrospektif menggunakan data rekam medik pasien di Rumah Sakit Haji Jakarta periode 1 Januari 2019 sampai dengan 31 Desember 2019. Dari 77 sampel yang didapat, sebanyak 37,7% pasien mendapatkan antibiotik secara tepat, 93.5% pasien mendapat dosis antibiotik secara tepat, 85.7% pasien yang mendapat antibiotik dengan durasi yang tepat, dan 98.7% pasien mendapat antibiotik dengan frekuensi yang tepat. Perbaikan klinis yang terjadi ≤ hari kelima sebanyak 88.3% dan lama hari rawat (length of stay) ≤ 5 hari sebanyak 67.5%. Kerasionalan penggunaan antibiotik tidak menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap outcome klinis (p value > 0.05) dan lama hari rawat (p value > 0.05).
Appropriate and rational use of antibiotic is believed to prevent the occurrence of resistance to antibiotic also affect the success of the treatment of pneumonia patients. The irrational use of antibiotic is thought to also be able to cause lengthening of the length of stay in the hospital, thereby affecting the cost of treating pneumonia patients. Riskesdas data for 2018 showed an increase in the prevalence of pneumonia based on diagnosis by health professionals by 2%, while in 2013 it was 1.8%. The purpose of this study was to determine the relationship between the rational use of antibiotic with the clinical outcome of pneumonia patients at the Jakarta Hajj Hospital. This research is a quantitative descriptive-analytic (cross-sectional) study whose data was collected retrospectively using medical records of patients at the Jakarta Hajj Hospital for the period of January 1 2019 to 31 December 2019. Of the 77 samples obtained, 37.7% patients get the right antibiotik, 93.5% of patients get the right dose of antibiotic, 85.7% of patients get antibiotic with the right duration, and 98.7% of patients get antibiotic with the right frequency. Clinical improvement that occurred ≤ fifth day was 88.3% and length of stay ≤ 5 days was 67.5%. The rationality of antibiotik use did not show a significant relationship to clinical outcome (p value > 0.05) and length of stay (p value > 0.05).
Read More
B-2151
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive