Ditemukan 42375 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Cathrine Jane David; Pembimbing: Wahyu Septiono; Penguji: Lhuri D.Rahmartani, A Muchtar Nasir
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Penyakit kardiovaskular (PKV) merupakan penyebab mortalitas utama. Risiko insidensi PKV telah meningkat secara signifikan sejak fase asimtomatik prediabetes akibat disfungsi endotel dan inflamasi kronik. Namun, studi berskala nasional yang memetakan dan membandingkan risiko kardiovaskular Framingham antara populasi normoglikemia dan prediabetes di Indonesia masih belum tersedia. Metode: Penelitian kuantitatif ini memanfaatkan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sampel penelitian terdiri dari 12.821 penduduk dewasa berusia ≥30 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Estimasi probabilitas risiko PKV dalam 10 tahun mendatang dianalisis menggunakan algoritma Framingham Risk Score (FRS) dan diklasifikasikan ke dalam tingkat risiko rendah, menengah, dan tinggi. Hasil: Rata-rata skor risiko FRS pada kelompok prediabetes (10,98 ± 5,8) terbukti secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok normoglikemia (8,83 ± 6,1) dengan nilai p<0,001. Mayoritas kelompok normoglikemia masih menempati kategori risiko rendah (71,5%). Sebaliknya, proporsi populasi prediabetes bergeser secara progresif dan menumpuk pada kategori risiko menengah sebesar 40,1% dan risiko tinggi yang mencapai 42,5% Kesimpulan:. Kelompok prediabetes terbukti memiliki akumulasi risiko kardiovaskular yang jauh lebih tinggi dibandingkan populasi normoglikemia. Fase ini merupakan periode kritis (window of opportunity) yang mendesak fasilitas layanan primer untuk mengintegrasikan deteksi dini berkala dengan pemantauan risiko digital, guna memutus rantai progresivitas gangguan glikemik sebelum berkembang menjadi komplikasi kardiovaskular.
Background: Cardiovascular disease (CVD) is a leading cause of mortality. The incidence risk of CVD increases significantly starting from the asymptomatic phase of prediabetes due to endothelial dysfunction and chronic inflammation. However, a national-scale study mapping and comparing the Framingham cardiovascular risk between normoglycemic and prediabetic populations in Indonesia is currently unavailable. Methods: This quantitative study utilized secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The study sample consisted of 12,821 adults aged ≥30 years who met the inclusion criteria. The estimated probability of 10-year CVD risk was analyzed using the Framingham Risk Score (FRS) algorithm and classified into low, intermediate, and high-risk categories. Results: The mean FRS risk score in the prediabetic group (10.98 ± 5.8) was significantly higher compared to the normoglycemic group (8.83 ± 6.1) with a p-value
S-12334
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Khalina Puspitasari; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Wahyu Septiono, Siti Sugih Hartiningsih
Abstrak:
Read More
Depresi merupakan gangguan kesehatan mental paling umum di seluruh dunia yang dapat mengarah pada keinginan bunuh diri serta menimbulkan kerugian ekonomi. Kelompok dewasa muda memiliki prevalensi depresi tertinggi, namun paling sedikit mengakses layanan kesehatan mental. Wilayah perkotaan memiliki prevalensi depresi yang lebih tinggi dari perdesaan karena berbagai perbedaan antara kedua wilayah tempat tinggal. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan depresi pada dewasa muda usia 18-24 tahun di Indonesia menurut wilayah perkotaan dan perdesaan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis data dilakukan dengan metode analisis regresi logistik. Hasil menunjukkan perempuan (OR=2,743; 95% CI=2,058 - 3,655), memiliki riwayat penyakit kronis (OR=4,252; 95% CI=2,651 - 6,818), dan mengonsumsi alkohol (OR=4,285; 95% CI=2,359 - 7,786) merupakan determinan depresi di perkotaan. Perempuan (OR=2,149; 95% CI=1,196 - 3,863), tidak bekerja (OR=2,260; 95% CI=1,274 - 4,008), dan tidak menikah (OR=1,980; 95% CI=1,161 - 3,377) merupakan determinan depresi di perdesaan. Program edukasi, konseling, dan skrining kesehatan jiwa perlu diutamakan bagi kelompok berisiko, serta diintegrasikan dengan promosi gaya hidup sehat.
Depression is the most common mental health disorder worldwide that can lead to suicidal ideation and economic loss. Young adults have the highest prevalence of depression, but the least to access mental health services. Urban areas have a higher prevalence of depression than rural areas due to various differences between the two areas of residence. Based on that, this study aims to determine the determinants of depression in young adults aged 18-24 years in Indonesia according to urban and rural areas. This study is a quantitative study using secondary data from the 2023 Indonesia Health Survey (IHS). Data analysis was carried out using the logistic regression analysis method. The results showed that women (OR = 2.743; 95% CI = 2.058 - 3.655), having a history of chronic disease (OR = 4.252; 95% CI = 2.651 - 6.818), and consuming alcohol (OR = 4.285; 95% CI = 2.359 - 7.786) are determinants of depression in urban areas. Female (OR=2.149; 95% CI=1.196 - 3.863), unemployed (OR=2.260; 95% CI=1.274 - 4.008), and unmarried (OR=1.980; 95% CI=1.161 - 3.377) are determinants of depression in rural areas. Mental health education, counseling, and screening programs need to be prioritized for at-risk groups, and integrated with healthy lifestyle promotion.
S-11902
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Qonita Ayunina; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Al Asyary, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Dari tahun 1990 hingga 2019, beban penyakit kardiovaskular di Indonesia meningkat sebesar 120% dan menjadi beban katastropik utama bagi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hal ini memerlukan intervensi yang tepat sasaran, salah satunya disesuaikan dengan wilayah tempat tinggal peserta. Meskipun penelitian terdahulu menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara beban penyakit kardiovaskular di urban dan rural, belum ada penelitian yang membuktikan hipotesis tersebut berdasarkan data klaim JKN. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan prevalensi penyakit kardiovaskular di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) antara wilayah tempat tinggal urban dan rural pada peserta JKN usia ≥15 tahun. Metode: Penelitian ini menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan 2025 dengan desain studi cross-sectional. Besar sampel dalam penelitian ini adalah sebesar 1.882.860 peserta. Penyakit kardiovaskular didefinisikan melalui data diagnosis primer dan sekunder kunjungan FKRTL kode I00-I99 ICD-10. Analisis data menggunakan uji chi-square, dengan Prevalence Ratio (PR) sebagai ukuran asosiasi. Hasil: Prevalensi penyakit kardiovaskular di FKRTL pada wilayah tempat tinggal urban (3,54%) lebih tinggi daripada rural (2,09%) (p<0,05) dan melampaui prevalensi nasional (2,42%), dengan Prevalence Ratio (PR) sebesar 1,689 (95% CI: 1,686-1,692). Berdasarkan analisis stratifikasi, perbedaan prevalensi yang signifikan ditemukan secara konsisten pada seluruh strata dengan kesenjangan terbesar ditemukan pada kelompok remaja (PR=2,07) dan lansia (PR=2,01) dibandingkan dengan kelompok usia lainnya, serta peserta PBI (PR=1,90) dibandingkan dengan peserta non-PBI (PR=1,27). Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan prevalensi penyakit kardiovaskular berdasarkan wilayah tempat tinggal pada peserta JKN. Prevalensi pada wilayah urban secara konsisten lebih tinggi daripada rural pada seluruh strata yang dianalisis. Namun, temuan ini perlu diinterpretasikan secara hati-hati karena data berbasis klaim JKN berpotensi menghasilkan underestimasi kasus di wilayah rural akibat keterbatasan akses fasilitas rujukan.
Background: From 1990 to 2019, the burden of cardiovascular disease in Indonesia increased by 120% and became the primary catastrophic burden for the National Health Insurance (JKN). This requires targeted interventions, one of which is tailored to the participants’ residential areas. Although previous studies have shown significant differences in the burden of cardiovascular disease between urban and rural areas, no study has yet confirmed this hypothesis using JKN claims data. This study was conducted to compare the prevalence of cardiovascular disease at Advanced Referral Health Facilities (FKRTL) between urban and rural residential areas among JKN participants aged ≥15 years. Methods: This study utilized the 2025 BPJS Health Sample Data with a cross-sectional study design. The sample size for this study was 1,882,860 participants. Cardiovascular diseases were defined using primary and secondary diagnosis data from FKRTL visits with ICD-10 codes I00–I99. Data analysis employed the chi-square test, with the Prevalence Ratio (PR) as the measure of association. Results: The prevalence of cardiovascular disease among FKRTL in urban areas (3.54%) was higher than in rural areas (2.09%) (p<0.05) and exceeds the national prevalence (2.42%), with a Prevalence Ratio (PR) of 1.689 (95% CI: 1.686–1.692). Based on stratification analysis, significant differences in prevalence were consistently found across all strata, with the largest gaps observed in the adolescent group (PR=2.07) and the elderly group (PR=2.01) compared to other age groups, as well as among PBI participants (PR=1.90) compared to non-PBI participants (PR=1.27). Conclusion: These findings indicate a disparity in the prevalence of cardiovascular disease based on residential area among JKN participants. Prevalence in urban areas was consistently higher than in rural areas across all analyzed strata. However, these findings should be interpreted with caution because JKN claims-based data may underestimate cases in rural areas due to limited access to referral facilities.
S-12315
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ade Rika Fajrin; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Popy Yuniar, Lili Musnelina
Abstrak:
Read More
Indonesia dinobatkan sebagai negara ketiga terbanyak kasus prediabetes di dunia pada tahun 2019 dengan jumlah penderita sebesar 29,1 juta kasus. Prediabetes merupakan kondisi meningkatnya kadar glukosa darah dari batas normal, namun belum mencapai ambang diagnosis diabetes mellitus. Prediabetes memiliki risiko tinggi berkembang menjadi penyakit diabetes mellitus tipe 2 dan berdampak pada peningkatan kasus penyakit tidak menular (PTM) yang dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat determinan kejadian prediabetes pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia 2023. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, chi-square, dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi prediabetes di Indonesia sebesar 26,9%. Variabel yang memiliki hubungan secara statistik berdasarkan regresi logistik yaitu usia, jenis kelamin, pendidikan, hipertensi, obesitas sentral, dan status merokok. Variabel dominan yang berhubungan dengan kejadian prediabetes yaitu lansia ≥ 60 tahun (AOR=3,198; 95% CI=2,673 - 3,825). Dengan demikian, pentingnya menetapkan batas minimal usia pemeriksaan kadar glukosa darah rutin terutama pada kelompok berisiko tinggi, intervensi terkait promosi gaya hidup sehat dan ajakan melakukan deteksi dini kadar glukosa darah di masyarakat. Selain itu, diperlukan kerja sama sektor kesehatan maupun non kesehatan untuk mencegah terjadinya prediabetes yang berfokus pada usia dewasa, pra-lanjut usia, dan lansia.
In 2019, Indonesia was recognized as the third-ranked country in the world for the prevalence of prediabetes with an estimated 29.1 million people affected. Prediabetes is defined as a condition involving elevated blood glucose levels outside the normal range, but below the diagnostic threshold for diabetes mellitus. This condition carries a significant risk of progressing to type 2 diabetes mellitus and contributes to the rising burden of non-communicable diseases (NCDs), thereby adversely impacting the quality of life of those affected. This study aims to identify the determinants of prediabetes among individuals aged 15 years and older in Indonesia, utilizing data from the 2023 Indonesian Health Survey. This study uses descriptive analysis, chi-square test, and logistic regression. Based on the results of the study, the prevalence of prediabetes in Indonesia is 26.9%. Variables that are statistically related to prediabetes as determined by logistic regression included age, gender, education, hypertension, central obesity, and smoking status. The variable that is the most significant factor causing prediabetes is elderly ≥ 60 years (AOR=3.198; 95% CI=2.673 - 3.825). Consequently, the importance of establishing a minimum age threshold for routine blood glucose screening, implementing interventions to promote healthy lifestyles, and encouraging early detection of blood glucose levels within the community. In addition, collaboration between health and non-health sectors is essential to prevent prediabetes, with a focus on adult, pre-elderly, and elderly populations.
S-11890
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wina Adelia Putri; Pembimbing: Besral; Penguji: Milla Herdayati, Zakiah
Abstrak:
Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu beban kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia dan pemicu utama penyakit kardiovaskular. Keberhasilan pengendalian kondisi hipertensi sangat bergantung pada kepatuhan pasien. Berdasarkan data SKI 2023, ketidakpatuhan minum obat antihipertensi masih menjadi masalah signifikan di Indonesia. Metode: Menggunakan data sekunder dari SKI 2023 dengan desain studi cross sectional. Sampel adalah responden berusia ≥18 tahun dengan diagnosis hipertensi. Responden dengan data tidak lengkap dan wanita hamil diesklusi sehingga menghasilkan sampel akhir sebanyak 49.026 responden. Analisis data menggunakan regresi logistik multinomial. Hasil: Seluruh variabel independen yang diuji (pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, wilayah geografis, komorbiditas, waktu sejak diagnosis, umur, jenis kelamin, tempat tinggal, perilaku penggunaan obat tradisional, konsumsi alkohol, akses fasilitas kesehatan, kepemilikan asuransi, dan dukungan informasi) berhubungan signifikan dengan ketidakpatuhan. Persentase ketidakpatuhan adalah sebesar 53,5%, yaitu 36,7% (95% CI: 35,9-37,4) responden tidak rutin dan 16,8% (95% CI: 16,2-17,4) tidak minum obat. AOR tertinggi ditemukan pada responden yang tidak mendapatkan dukungan informasi, baik pada kategori tidak rutin (AOR 3,76; 95% CI 3,59-3,95; p<0,001) dan pada kategori tidak minum obat (AOR 8,63; 95% CI: 8,12-9,19; p<0,001). Kesimpulan: Ketidakpatuhan minum obat antihipertensi masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Diperlukan intervensi berbasis komunitas, peningkatan edukasi, dan perbaikan akses kesehatan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan.
Background: Hypertension is one of the largest public health burdens in Indonesia and a major trigger for cardiovascular disease. The success of controlling hypertension is highly dependent on patient compliance. Based on SKI 2023 data, non-compliance with taking antihypertensive drugs is still a significant problem in Indonesia. Methods: Using secondary data from SKI 2023 with a cross-sectional study design. The sample was respondents aged ≥18 years with a diagnosis of hypertension. Respondents with incomplete data and pregnant women were excluded, resulting in a final sample of 49,026 respondents. Data analysis used multinomial logistic regression. Results: All independent variables tested (education, occupation, economic status, geographic region, comorbidities, time since diagnosis, age, gender, place of residence, traditional medicine use behavior, alcohol consumption, access to health facilities, insurance ownership, and information support) were significantly associated with non-compliance. The percentage of non-compliance was 53.5%, specifically 36.7% (95% CI: 35.9-37.4) of respondents did not follow the routine, and 16.8% (95% CI: 16.2-17.4) did not take their medication. The highest AOR was found in respondents who did not receive information support, both in the non-routine category (AOR 3.76; 95% CI 3.59-3.95; p<0.001) and in the category of not taking medication (AOR 8.63; 95% CI: 8.12-9.19; p<0.001). Conclusion: Non-compliance with taking antihypertensive medication is still a major challenge in Indonesia. Community-based interventions, increased education, and improved access to health are needed to improve treatment adherence.
Read More
Background: Hypertension is one of the largest public health burdens in Indonesia and a major trigger for cardiovascular disease. The success of controlling hypertension is highly dependent on patient compliance. Based on SKI 2023 data, non-compliance with taking antihypertensive drugs is still a significant problem in Indonesia. Methods: Using secondary data from SKI 2023 with a cross-sectional study design. The sample was respondents aged ≥18 years with a diagnosis of hypertension. Respondents with incomplete data and pregnant women were excluded, resulting in a final sample of 49,026 respondents. Data analysis used multinomial logistic regression. Results: All independent variables tested (education, occupation, economic status, geographic region, comorbidities, time since diagnosis, age, gender, place of residence, traditional medicine use behavior, alcohol consumption, access to health facilities, insurance ownership, and information support) were significantly associated with non-compliance. The percentage of non-compliance was 53.5%, specifically 36.7% (95% CI: 35.9-37.4) of respondents did not follow the routine, and 16.8% (95% CI: 16.2-17.4) did not take their medication. The highest AOR was found in respondents who did not receive information support, both in the non-routine category (AOR 3.76; 95% CI 3.59-3.95; p<0.001) and in the category of not taking medication (AOR 8.63; 95% CI: 8.12-9.19; p<0.001). Conclusion: Non-compliance with taking antihypertensive medication is still a major challenge in Indonesia. Community-based interventions, increased education, and improved access to health are needed to improve treatment adherence.
S-11968
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wulandara Seplianda; Pembimbing: Tris Eryando, Iwan Ariawan; Penguji: Agus Triwinarto
Abstrak:
Skripsi ini membahas praktik pemberian makan bayi dan anak (PMBA) usia 6-23 bulan di Indonesia untuk melihat pengaruh faktor sosio-demografi dan post natal dalam pemberian makan pada bayi dan anak yang sesuai dengan standar WHO. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Gambaran praktik pemberian makan, faktor sosio-demografi dan post natal didapatkan melalui pengisian kuesioner SDKI 2017 (n = 4957). Hasil penelitian menunjukkan pendidikan ibu yang paling berpengaruh terhadap praktik pemberian makan bayi dan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang paling banyak memberikan praktik pemberian makan yang sesuai dengan standar WHO adalah ibu dengan pendidikan SD/SMP (43,23%). Ibu yang paling banyak memberikan praktik pemberian makan yang sesuai dengan standar WHO adalah ibu yang tidak bekerja (31,98%). Hasil penelitian menyarankan bahwa faktor sosio-demografi berpengaruh terhadap praktik pemberian makan bayi dan anak; pendidikan ibu menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap praktik pemberian makan pada bayi dan anak; pendidikan ibu juga harus harus ditingkatkan baik secara formal dan nonformal untuk mendukung peningkatan praktik pemberian makan pada bayi dan anak usia 6-23 bulan.
Read More
S-10114
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Retno Ayunisari; Pembimbing: Mila Herdayati; Penguji: Artha Prabawa, Mugia Bayu Raharja
S-9921
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Retno Pujisubekti; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Besral, Anindita Dyah Sekarpuri
Abstrak:
World Health Organisation (WHO) menganjurkan pemberian ASI eksklusif sampai dengan bayi berusia 6 bulan untuk mengoptimalkan pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan bayi. Penelitian ini membahas determinan perilaku pemberian makanan pada bayi yang diukur melalui perilaku penundaaan inisiasi ASI, pemberian makanan prelakteal, pemberian makanan tambahan dini. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain studi cross sectional menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012. Sampel pada penelitian ini adalah pasangan ibu dan bayi yang berusia 0 - 23 bulan. Hasil analisis didapatkan hampir separuh ibu di Indonesia menginisiasi bayinya lebih dari 1 jam pertama. Selain itu, proporsi ibu yang memberikan makanan prelakteal sebesar 61% dengan jenis makanan prelakteal yang terbanyak diberikan adalah susu formula. Hasil lainnya sebesar 58% bayi usia 0 - 5 bulan sudah menerima makanan selain ASI berdasarkan recall 24 jam terakhir dengan jenis makanan air putih, susu formula, dan bubur bayi fortifikasi. Diketahui bahwa status ekonomi yang tinggi, ibu dengan anak pertama, ibu yang bekerja, penolong persalinan petugas kesehatan, serta kunjungan antenatal yang kurang menjadi faktor risiko pemberian makanan pada bayi. Intervensi program ASI eksklusif perlu dilakukan semenjak pertama kali melakukan kunjungan antenatal, serta perlu diadakannya monitoring dan evaluasi dari PP ASI.
World Health Organisation (WHO) recommends exclusive breastfeeding until a baby is 6 months old to optimize the growth, development, and health of the baby. This study discusses the determinants of infant feeding behavior as measured through behavioral delayed initiation of breastfeeding, prelacteal feeding, early supplementary feeding. This study is a quantitative cross-sectional study design using Indonesian Demographic and Health Survey 2012. Samples in this study were pairs of mothers and infants aged 0-23 months. The results of the analysis obtained almost half of the baby's mother in Indonesia initiated more than one hour. In addition, data shows that 61% mothers gave prelecteal feeds with formula milk as the most used type of food. Moreover, 58% of infants aged 0-5 months had received food other than breast milk by the recall last 24 hours with the most type of food are water, formula milk, and baby food fortification. Based on logistic regression result, it is known that high economic status, mothers with their first child, working mothers, birth attendants health workers, and less antenatal visits be a risk factor for infant feeding. Exclusive breastfeeding intervention programs need to be done since the first antenatal visit, and need monitoring and evaluation of the holding of breasfeeding regulation.
Read More
World Health Organisation (WHO) recommends exclusive breastfeeding until a baby is 6 months old to optimize the growth, development, and health of the baby. This study discusses the determinants of infant feeding behavior as measured through behavioral delayed initiation of breastfeeding, prelacteal feeding, early supplementary feeding. This study is a quantitative cross-sectional study design using Indonesian Demographic and Health Survey 2012. Samples in this study were pairs of mothers and infants aged 0-23 months.
S-8368
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Manuella Pramunditya Widyandari; Pembimbing: Wahyu Septiono; Penguji: Dien Anshari, Suci Puspita Ratih
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Perilaku merokok memicu beban kesehatan global masif dan kerugian ekonomi makro akibat penyakit katastropik. Setiap negara memiliki kebijakan pengendalian rokok dengan performa berbeda, termasuk Indonesia dan Filipina. Penelitian ini membandingkan hubungan paparan kebijakan pengendalian rokok pada perokok dewasa usia ≥25 tahun dengan upaya berhenti merokok di kedua negara menggunakan data sebanding. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif menggunakan data sekunder Data Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia dan Filipina 2021. Sampel akhir mencakup 2.451 responden (Indonesia) dan 2.989 responden (Filipina) berusia ≥25 tahun. Variabel dependen adalah upaya berhenti merokok, sedangkan variabel independen utama adalah paparan tobacco advertising, promotion, and sponsorship (TAPS) dan kawasan tanpa rokok (KTR) yang diukur dengan Tobacco Control Scale (TCS). Analisis menggunakan regresi logistik biner 4 model. Hasil: Pada model akhir, paparan TAPS tinggi di Indonesia berhubungan signifikan dengan upaya berhenti merokok (AOR=1,27; 95% CI: 1,02-1,58) sedangkan paparan KTR tidak berhubungan signifikan (AOR=0,93; 95% CI: 0,78-1,12). Sementara di Filipina, paparan TAPS dan KTR tidak berhubungan signifikan dengan upaya berhenti merokok (AOR=1,17; 95% CI: 0,99-1,40 dan AOR=1,11; 95% CI: 0,93-1,32). Di kedua negara, anjuran tenaga kesehatan dan aturan larangan merokok di rumah signifikan meningkatkan peluang upaya berhenti merokok. Di Indonesia, jenis kelamin perempuan, pengetahuan bahaya merokok yang baik, dan daerah tempat tinggal di perkotaan juga menjadi prediktor signifikan. Kesimpulan: Paparan TAPS berhubungan dengan upaya berhenti merokok di Indonesia, sedangkan paparan KTR di Indonesia serta paparan TAPS dan KTR di Filipina tidak berhubungan signifikan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa implementasi kebijakan pengendalian rokok di Indonesia belum optimal dibandingkan Filipina. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kebijakan pengendalian tembakau dengan memperketat pelarangan total TAPS, memperkuat penegakan hukum KTR, mengoptimalkan peran tenaga kesehatan dan keluarga, serta meningkatkan promosi kesehatan untuk mendukung upaya berhenti merokok.
Background: Smoking behavior triggers a massive global health burden and macroeconomic losses due to catastrophic diseases. Every country has tobacco control policies with varying performances, including Indonesia and Philippines. This study compares the relationship between tobacco control policy exposure among adult smokers aged ≥25 years and smoking cessation attempts in both countries using comparable data. Methods: This quantitative study used secondary data from the 2021 Global Adult Tobacco Survey (GATS) of Indonesia and Philippines. The final sample included 2,451 respondents from Indonesia and 2,989 respondents from Philippines aged ≥25 years. The dependent variable was smoking cessation attempts, while the independent variables were exposure to tobacco advertising, promotion, and sponsorship (TAPS) and smoke-free areas (SFA), measured using the Tobacco Control Scale (TCS). Data were analyzed using a 4-model binary logistic regression. Results: In the final model, high TAPS exposure in Indonesia was significantly associated with smoking cessation attempts (AOR=1.27; 95% CI: 1.02-1.58), whereas SFL exposure showed no significant association (AOR=0.93; 95% CI: 0.78-1.12). Meanwhile, in the Philippines, neither TAPS nor SFL exposure was significantly associated with smoking cessation attempts (AOR=1.17; 95% CI: 0.99-1.40 and AOR=1.11; 95% CI: 0.93-1.32). In both countries, advice from healthcare professionals and smoke-free home rules significantly increased the odds of smoking cessation attempts. In Indonesia, female gender, good knowledge of smoking hazards, and urban residence were also significant predictors. Conclusion: TAPS exposure is associated with smoking cessation attempts in Indonesia, whereas SFA exposure in Indonesia as well as both TAPS and SFL exposures in the Philippines show no significant association. The findings also indicate that the implementation of tobacco control policies in Indonesia remains suboptimal compared to the Philippines. The Indonesian government is advised to strict total bans on TAPS, enforce SFA laws, optimize the roles of healthcare professionals and families, and enhance health promotion.
S-12385
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hanifah Yazna; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Prima Almazini, Bhayu Hanggadi Nugroho
Abstrak:
Read More
Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian utama secara global, dan perilaku gaya hidup memainkan peran penting dalam pencegahan serta pengendaliannya. Instrumen yang dapat mengukur perilaku gaya hidup secara komprehensif berbasis lifestyle medicine belum tersedia dalam versi Bahasa Indonesia yang tervalidasi. Penelitian ini bertujuan menghasilkan versi Bahasa Indonesia dari Lifestyle Medicine Health Behaviour (LMHB) Scale melalui adaptasi lintas budaya, penilaian validitas isi, dan uji keterbacaan pada pasien penyakit kardiovaskular rawat jalan di Poliklinik Jantung dan Pembuluh Darah Rumah Sakit Universitas Indonesia. Proses adaptasi lintas budaya mengacu pada prosedur Beaton et al. (2000), mencakup forward translation, sintesis, dan backward translation. Penilaian validitas isi dilakukan oleh lima panel ahli multidisiplin menggunakan Item-level Content Validity Index (I-CVI), Modified Kappa, dan Scale-level Content Validity Index (S-CVI/Ave). Uji keterbacaan dilakukan terhadap 30 pasien kardiovaskular yang dipilih menggunakan stratified random sampling. Hasil adaptasi menunjukkan bahwa dari 25 item, 13 item mencapai kesetaraan penuh, 7 item mengalami perbedaan minor, dan 5 item mengalami perbedaan sedang yang seluruhnya berhasil diselesaikan. Penilaian validitas isi menunjukkan bahwa 21 dari 25 item memenuhi ambang batas I-CVI ≥0,78 pada ketiga aspek penilaian. S-CVI/Ave relevansi dan koherensi memenuhi standar minimal 0,90 masing-masing sebesar 0,93 dan 0,94, sementara S-CVI/Ave kejelasan sebesar 0,82. Uji keterbacaan mengidentifikasi tiga pola masalah keterpahaman, yaitu isu linguistik pada domain Tidur dan Hubungan Sosial, isu satuan porsi pada domain Nutrisi, dan isu desain item bertingkat pada domain Aktivitas Fisik. LMHB-ID telah menunjukkan validitas isi yang memadai dan keterpahaman yang cukup baik pada populasi pasien kardiovaskular Indonesia, dengan beberapa isu yang masih perlu ditindaklanjuti sebelum dilanjutkan ke tahap pengujian psikometrik.
Cardiovascular disease remains the leading cause of death globally, with lifestyle behaviours playing a central role in its prevention and management. A comprehensive lifestyle medicine-based instrument for measuring health behaviours has not been available in a validated Indonesian version. This study aimed to produce an Indonesian version of the Lifestyle Medicine Health Behaviour (LMHB) Scale through cross-cultural adaptation, content validity assessment, and a readability test among cardiovascular outpatients at the Cardiology and Vascular Polyclinic of Rumah Sakit Universitas Indonesia. The cross-cultural adaptation process followed the Beaton et al. (2000) procedure, comprising forward translation, synthesis, and backward translation. Content validity was assessed by five multidisciplinary expert panelists using the Item-level Content Validity Index (I-CVI), Modified Kappa, and Scale-level Content Validity Index (S-CVI/Ave). The readability test was conducted with 30 cardiovascular patients selected using stratified random sampling. Cross-cultural adaptation results showed that of 25 items, 13 achieved full equivalence, 7 had minor discrepancies, and 5 had moderate discrepancies, all of which were successfully resolved. Content validity assessment showed that 21 of 25 items met the I-CVI threshold of ≥0.78 across all three evaluation aspects. S-CVI/Ave for relevance and coherence met the minimum standard of 0.90 at 0.93 and 0.94 respectively, while S-CVI/Ave for clarity was 0.82. The readability test identified three systematic comprehension issue patterns: linguistic issues in the Sleep and Social Connection domains, portion measurement unit issues in the Nutrition domain, and a complex item design in the Physical Activity domain. The LMHB-ID demonstrated adequate content validity and sufficient readability among Indonesian cardiovascular patients, with several issues still requiring follow-up before proceeding to psychometric testing.
S-12384
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
