Ditemukan 39269 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Ayu Dyah Selvia; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Pujiyanto, Purnawan Junadi
Abstrak:
Read More
Non-Invasive Prenatal Testing (NIPT) merupakan metode skrining prenatal berbasis cell-free fetal DNA yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi untuk mendeteksi kelainan kromosom janin. Di Indonesia, informasi mengenai karakteristik pengguna dan hasil pemeriksaan NIPT masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemanfaatan layanan NIPT berdasarkan karakteristik pengguna dan hasil pemeriksaan di Indonesia tahun 2025. Penelitian menggunakan desain cross-sectional deskriptif dengan data sekunder Gene Solutions Indonesia periode Januari–Desember 2025. Sampel sebanyak 4.531 pemeriksaan dipilih menggunakan total sampling. Analisis dilakukan secara univariat dan tabulasi silang. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna berusia
S-12351
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Adinda Aida Yasmin; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Atik Nurwahyuni, Novendra
Abstrak:
Read More
Kepuasan pasien adalah salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Pasien yang merasa puas dengan layanan yang diberikan cenderung lebih patuh terhadap instruksi medis dan memiliki tingkat pemulihan yang lebih baik. Salah satu aspek yang mempengaruhi kepuasan pasien adalah kualitas layanan, termasuk durasi waktu tunggu yang harus dijalani pasien sebelum mendapatkan pelayanan. Akan tetapi, masih terdapat rumah sakit di Indonesia yang masih menjadikan durasi waktu tunggu sebagai salah fokus peningkatan kualitas layanan kesehatan, salah satunya adalah Rumah Sakit Hermina Metland Cibitung terkhusus di Poli Obgyn. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas layanan, waktu tunggu, karakteristik pasien, dan kepuasan pasien BPJS di Poli Obgyn Rumah Sakit Hermina Metland Cibitung. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif melalui metode survei. Sampel penelitian melibatkan rata-rata pasien yang berkunjung ke Poli Obgyn pada periode tertentu, yaitu sebanyak 132 responden. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Pengujian hipotesis menggunakan uji Kruskall Wallis, uji Mann-Whitney, dan uji Spearman pada uji bivariat serta regresi linear berganda, uji T, uji F, dan analisis koefisien determinasi pada uji multivariat. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Rata-rata kepuasan pasien sebesar 3,24 dari 4, dengan nilai terendah pada aspek ketanggapan dokter dan kecepatan layanan; 2) Semua dimensi kualitas layanan (tangibles, empathy, reliability, responsiveness, assurance), dimensi empathy memiliki nilai tertinggi; 3) Sebagian besar pasien (78%) mengharapkan waktu tunggu0,05); 7) Karakteristik pasien (usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, suku, jenis pelayanan) tidak berhubungan signifikan dengan kepuasan (p>0,05); 8) Secara simultan, dimensi tangibles, dimensi assurance, dimensi empathy, PWT, dan suku bangsa berpengaruh signifikan (R²=0,874), secara parsial, hanya dimensi tangibles dan assurance yang signifikan. Keterbatasan penelitian ini hanya mencakup satu lokasi rumah sakit, keterbatasan waktu penelitian, serta metode pengumpulan data yang berisiko menimbulkan bias akibat adanya pengisian kuesioner tidak langsung. Penelitian ini hanya melibatkan pasien BPJS di satu unit layanan dan terbatas pada tiga variabel sehingga hasilnya tidak mewakili populasi dan faktor yang lebih luas. Rumah sakit perlu meningkatkan koordinasi di bagian pendaftaran, khususnya dalam pengarahan pasien dan verifikasi kunjungan bagi pasien BPJS serta penambahan beberapa fasilitas dan SDM.
Patient satisfaction is a critical factor in improving the quality of healthcare services. Patients who are satisfied with the services provided tend to be more compliant with medical instructions and demonstrate better recovery outcomes. One aspect influencing patient satisfaction is service quality, which includes the waiting time duration prior to receiving care. However, several hospitals in Indonesia still regard waiting time as a secondary concern in service quality improvement, including Hermina Metland Cibitung Hospital, particularly in the Obstetrics and Gynecology (Obgyn) outpatient clinic. This study aims to analyze the relationship between service quality, waiting time, patient characteristics, and BPJS patient satisfaction at the Obgyn Clinic of Hermina Metland Cibitung Hospital. A cross-sectional study design was employed using a quantitative approach through survey methods. The sample comprised 132 respondents, representing the average number of patients visiting the clinic within a specific period, selected using purposive sampling. Hypothesis testing was conducted using Kruskal-Wallis, Mann-Whitney, and Spearman tests in the bivariate analysis, as well as multiple linear regression, t-test, F-test, and coefficient of determination in the multivariate analysis. The results showed that: 1) The average patient satisfaction score was 3.24 out of 4, with the lowest ratings on doctor responsiveness and service speed; 2) All dimensions of service quality (tangibles, empathy, reliability, responsiveness, assurance), empathy being the highest score; 3) The majority of patients (78%) expected a waiting time of under 60 minutes, but only 47% experienced this, with the actual average waiting time being 72.06 minutes; 4) Most respondents were aged 21–33, unemployed, had a low education level, earned below the minimum wage, and were of Javanese ethnicity; 5) All service quality dimensions had a significant relationship with patient satisfaction (p=0.001); 6) Waiting time had no significant relationship with patient satisfaction (p>0.05); 7) Patient characteristics (age, education, occupation, income, ethnicity, type of service) were not significantly related to satisfaction (p>0.05); 8) Simultaneously, the dimensions of tangibles, assurance, empathy, waiting time, and ethnicity had a significant influence on satisfaction (R²=0.874), while partially, only tangibles and assurance were significant predictors. This study is limited by its focus on a single hospital, restricted research duration, and data collection methods that may introduce bias due to indirect questionnaire responses. It exclusively involved BPJS patients in one service unit and examined only three variables, limiting the generalizability of the findings. The hospital should improve coordination at the registration counter, particularly in directing and verifying visits for BPJS patients, as well as consider adding facilities and human resources.
S-11889
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Suhaerni; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Tri Krianto, Hamzah Endun
S-7250
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ni Luh Putu Wira Dharmayanti; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji : Mardiati Nadjib, Santy Parulian Panjaitan
Abstrak:
Penelitian ini membahas tentang gambaran utilisasi kunjungan rawat jalan tingkatpertama dan rujukan berdasarkan karakteristik peserta JKN di Puskesmas Tabanan IIIdan Puskesmas Pupuan I Periode Januari-Maret tahun 2016. Penelitian ini merupakanpenelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Berdasarkan hasil penelitian,diketahui bahwa angka kunjungan (9,32%) dan angka rujukan (9,67%) di PuskesmasTabanan III (perkotaan) lebih tinggi dibandingkan angka kunjungan (5,04%) danangka rujukan (3,81%) di Puskesmas Pupuan I (perdesaan). Kondisi tersebut dapatdisebabkan oleh akses ke pelayanan kesehatan yang lebih mudah di wilayah kerjaPuskesmas Tabanan III dibandingkan Puskesmas Pupuan I.
Kata kunci: Utilisasi, Angka Rujukan, Jaminan Kesehatan Nasional.
This study discusses the overview of outpatient utilization and referrals based on thecharacteristics of National Health Insurance (JKN) participants in Puskesmas TabananIII and Puskesmas Pupuan I from January until March 2016. This is a quantitativeresearch with cross sectional study design. Based on this research, it is known that thenumber of outpatient visits (9,32%) and referral rates (9,67%) in Tabanan III PHC(urban area) was higher than the number of visits (5,04%) and referral rates (3,81%)in Pupuan I PHC (rural area). It can be caused by the Puskesmas Tabanan III is moreaccessible than Puskesmas Pupuan I.
Keywords: Utilization, Referral Rate, National Health Insurance.
Read More
Kata kunci: Utilisasi, Angka Rujukan, Jaminan Kesehatan Nasional.
This study discusses the overview of outpatient utilization and referrals based on thecharacteristics of National Health Insurance (JKN) participants in Puskesmas TabananIII and Puskesmas Pupuan I from January until March 2016. This is a quantitativeresearch with cross sectional study design. Based on this research, it is known that thenumber of outpatient visits (9,32%) and referral rates (9,67%) in Tabanan III PHC(urban area) was higher than the number of visits (5,04%) and referral rates (3,81%)in Pupuan I PHC (rural area). It can be caused by the Puskesmas Tabanan III is moreaccessible than Puskesmas Pupuan I.
Keywords: Utilization, Referral Rate, National Health Insurance.
S-9150
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Putri Ayu; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Bagus Chandra Kurniawan
Abstrak:
Read More
Data profil kesehatan pegawai tahun 2024 menunjukkan 55,65% pekerja mengalami berat badan berlebih, 9,54% berisiko sindrom metabolik, serta peningkatan prevalensi hipertensi. Sebagai tindak lanjut, perusahaan telah menjalankan program wellness, namun partisipasi pekerja masih rendah, hanya 7,1%, menunjukkan program belum berjalan optimal dan evaluasi menyeluruh belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan program wellness pada pekerja PT. X tahun 2025 menggunakan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) dengan metode kualitatif dan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen terhadap informan yang dipilih secara purposive dan snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan, pada aspek context, tujuan program telah sesuai kebutuhan kesehatan pekerja namun belum dipahami merata. Aspek input menunjukkan keterbatasan sumber daya manusia, ketimpangan sarana prasarana, keterlambatan pembayaran vendor, serta belum adanya pedoman teknis khusus. Pada aspek process, program belum didukung needs assessment sistematis, komunikasi dan dukungan pimpinan terbatas, dan program belum menjadi indikator kinerja. Aspek product menunjukkan partisipasi dan konsistensi peserta rendah, meski ada dampak positif terhadap perilaku dan kesehatan fisik serta mental pekerja. Perusahaan disarankan melakukan survei kebutuhan, menyusun pedoman teknis, menyederhanakan program, mengoptimalkan komunikasi internal, memperkuat dukungan pimpinan, mengintegrasikan OKR, menyusun strategi fasilitas, dan menyampaikan evaluasi ke manajemen untuk meningkatkan partisipasi pekerja.Employee health profile in 2024 shows that 55.65% of workers are overweight, 9.54% are at risk of metabolic syndrome, and there is an increasing prevalence of hypertension. As a follow-up, the company has implemented a wellness program; however, employee participation remains low at only 7.1%, indicating that the program has not yet run optimally and a comprehensive evaluation has not been conducted. This study aims to evaluate the implementation of the wellness program for PT. X employees in 2025 using the CIPP evaluation model (Context, Input, Process, Product) with a qualitative case study design. Data were collected through in-depth interviews and document reviews with informants selected via purposive and snowball sampling. Results show that, in the context aspect, the program’s objectives align with employees’ health needs but are not yet widely understood. The input aspect reveals limitations in human resources, uneven facilities, delayed vendor payments, and the absence of specific technical guidelines. In the process aspect, the program lacks a systematic needs assessment, leadership communication and support are limited, and the program is not yet linked to performance indicators. The product aspect shows low participation and consistency, although there are positive effects on employee behavior, physical health, and mental health. The company is advised to conduct a needs survey, prepare technical guidelines, simplify the program, optimize internal communication, strengthen leadership support, integrate OKRs, develop facility strategies, and report evaluations to management for program participation improvement.
S-12183
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Putri Safira Javier; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Helen Andriani, Dharma Ningsih Dwi Putri
Abstrak:
Read More
Transisi epidemiologis global menunjukkan Penyakit Tidak Menular (PTM) sebagai penyebab utama kematian, dengan hipertensi tertinggi di Indonesia. Pemerintah merespons melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di layanan primer, namun evaluasi kinerja ini umumnya masih terbatas khususnya di fasilitas kesehatan wilayah Kota Depok. Oleh karena itu, penelitian ini memetakan kinerja puskesmas menggunakan analisis kuadran berdasarkan capaian skrining dan faktor risiko PTM wilayah kerja puskesmas Kota Depok. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan model Importance-Performance Analysis (IPA) melalui analisis kuadran. Data bersumber dari data agregat laporan program dari dasbor pelaporan Program CKG pada Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK). Analisis dengan capaian skrining hipertensi serta faktor risiko PTM meliputi analisis deskriptif frekuensi yakni nilai rerata, standar deviasi, nilai minimum dan maksimum, serta analisis kuadran dengan sumbu X atau Kinerja Aktual adalah persentase capaian skrining hipertensi dan sumbu Y atau Urgensi Wilayah adalah persentase faktor risiko Penyakit Tidak Menular. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 31,6%–39,5% puskesmas berada pada Kuadran I pada masing-masing faktor risiko, menunjukkan perlunya prioritas peningkatan capaian skrining hipertensi pada wilayah dengan beban faktor risiko yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan strategi kebijakan yang disusun secara spesifik sesuai dengan prioritas masalah kesehatan di wilayah dengan risiko tinggi.
The global epidemiological transition shows Non-Communicable Diseases (NCDs) as the leading cause of death, with the highest hypertension in Indonesia. The government responded through the Free Health Check Program (CKG) in primary services, but this performance evaluation is generally still limited, especially in health facilities in the Depok City area. Therefore, this study maps the performance of health centers using quadrant analysis based on screening achievements and risk factors for NCDs in the work area of the Depok City health center. This study uses a quantitative descriptive design and an Importance-Performance Analysis (IPA) model through quadrant analysis. The data is sourced from aggregate data of program reports from the CKG Program reporting dashboard on the Sehat Indonesiaku Application (ASIK). The analysis with hypertension screening achievements and NCD risk factors includes frequency descriptive analysis, namely average values, standard deviations, minimum and maximum values, as well as quadrant analysis with the X axis or Actual Performance being the percentage of hypertension screening achievement and the Y axis or Regional Urgency is the percentage of risk factors for Non-Communicable Diseases. The results showed that as many as 31.6%–39.5% of health centers were in Quadrant I for each risk factor, indicating the need to prioritize increasing hypertension screening achievement in areas with a high burden of risk factors. Therefore, a policy strategy that is specifically formulated according to the priorities of health problems in high-risk areas is needed.
S-12353
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Putri Safira Javier; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Helen Andriani, Dharma Ningsih Dwi Putri
Abstrak:
Read More
Transisi epidemiologis global menunjukkan Penyakit Tidak Menular (PTM) sebagai penyebab utama kematian, dengan hipertensi tertinggi di Indonesia. Pemerintah merespons melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di layanan primer, namun evaluasi kinerja ini umumnya masih terbatas khususnya di fasilitas kesehatan wilayah Kota Depok. Oleh karena itu, penelitian ini memetakan kinerja puskesmas menggunakan analisis kuadran berdasarkan capaian skrining dan faktor risiko PTM wilayah kerja puskesmas Kota Depok. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan model Importance-Performance Analysis (IPA) melalui analisis kuadran. Data bersumber dari data agregat laporan program dari dasbor pelaporan Program CKG pada Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK). Analisis dengan capaian skrining hipertensi serta faktor risiko PTM meliputi analisis deskriptif frekuensi yakni nilai rerata, standar deviasi, nilai minimum dan maksimum, serta analisis kuadran dengan sumbu X atau Kinerja Aktual adalah persentase capaian skrining hipertensi dan sumbu Y atau Urgensi Wilayah adalah persentase faktor risiko Penyakit Tidak Menular. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 31,6%–39,5% puskesmas berada pada Kuadran I pada masing-masing faktor risiko, menunjukkan perlunya prioritas peningkatan capaian skrining hipertensi pada wilayah dengan beban faktor risiko yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan strategi kebijakan yang disusun secara spesifik sesuai dengan prioritas masalah kesehatan di wilayah dengan risiko tinggi.
The global epidemiological transition shows Non-Communicable Diseases (NCDs) as the leading cause of death, with the highest hypertension in Indonesia. The government responded through the Free Health Check Program (CKG) in primary services, but this performance evaluation is generally still limited, especially in health facilities in the Depok City area. Therefore, this study maps the performance of health centers using quadrant analysis based on screening achievements and risk factors for NCDs in the work area of the Depok City health center. This study uses a quantitative descriptive design and an Importance-Performance Analysis (IPA) model through quadrant analysis. The data is sourced from aggregate data of program reports from the CKG Program reporting dashboard on the Sehat Indonesiaku Application (ASIK). The analysis with hypertension screening achievements and NCD risk factors includes frequency descriptive analysis, namely average values, standard deviations, minimum and maximum values, as well as quadrant analysis with the X axis or Actual Performance being the percentage of hypertension screening achievement and the Y axis or Regional Urgency is the percentage of risk factors for Non-Communicable Diseases. The results showed that as many as 31.6%–39.5% of health centers were in Quadrant I for each risk factor, indicating the need to prioritize increasing hypertension screening achievement in areas with a high burden of risk factors. Therefore, a policy strategy that is specifically formulated according to the priorities of health problems in high-risk areas is needed.
T-7589
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dyah Ayu Giandhari; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Mieska Despitasari
Abstrak:
Read More
Meskipun Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah meningkatkan akses layanan kesehatan di Indonesia, hambatan seperti ketimpangan fasilitas, keterbatasan tenaga kesehatan, dan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan domestik masih terjadi. Hal ini mendorong sebagian masyarakat untuk mencari layanan kesehatan ke luar negeri, yang diperkirakan menyebabkan potensi kerugian devisa negara hingga Rp165 triliun per tahun. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan jenis layanan kesehatan luar negeri berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Desain yang digunakan adalah kuantitatif potong lintang dengan cakupan 38 provinsi. Dalam tiga tahun terakhir, medical check-up menjadi layanan yang paling banyak dipilih, disusul tindakan bedah dan pengobatan lainnya. Faktor predisposisi seperti umur, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, dan status pekerjaan tidak menunjukkan hubungan signifikan. Sebaliknya, faktor pendukung seperti kepemilikan jaminan kesehatan, kelengkapan fasilitas layanan, dan negara tujuan berobat memiliki hubungan yang signifikan. Faktor kebutuhan berupa riwayat penyakit tidak menunjukkan hubungan signifikan terhadap jenis layanan yang dipilih. Temuan ini mengindikasikan perlunya pengembangan layanan unggulan nasional berdasarkan jenis layanan yang diminati masyarakat, peningkatan mutu layanan preventif, penguatan integrasi layanan kesehatan, serta perluasan layanan berbasis wellness di dalam negeri.
Despite improvements in healthcare access through the National Health Insurance (JKN) program, Indonesia continues to face challenges such as uneven distribution of facilities, limited healthcare professionals, and low public trust in domestic services. These conditions have led many Indonesians to seek medical care abroad, resulting in an estimated foreign exchange loss of up to IDR 165 trillion per year. This study aims to analyze factors associated with the types of overseas health services chosen by Indonesians using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). A quantitative cross-sectional design was applied, covering 38 provinces. Over the past three years, medical check-ups were the most frequently selected service, followed by surgical procedures and other treatments. Predisposing factors, including age, gender, marital status, education level, and employment status, showed no significant relationship. In contrast, enabling factors such as health insurance ownership, availability of complete facilities, and destination country were significantly associated with service type. Need factors, particularly medical history, were not significantly related. These findings highlight the need to develop nationally prioritized services, improve preventive care quality, strengthen health service integration, and expand wellness-based services.
Despite improvements in healthcare access through the National Health Insurance (JKN) program, Indonesia continues to face challenges such as uneven distribution of facilities, limited healthcare professionals, and low public trust in domestic services. These conditions have led many Indonesians to seek medical care abroad, resulting in an estimated foreign exchange loss of up to IDR 165 trillion per year. This study aims to analyze factors associated with the types of overseas health services chosen by Indonesians using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). A quantitative cross-sectional design was applied, covering 38 provinces. Over the past three years, medical check-ups were the most frequently selected service, followed by surgical procedures and other treatments. Predisposing factors, including age, gender, marital status, education level, and employment status, showed no significant relationship. In contrast, enabling factors such as health insurance ownership, availability of complete facilities, and destination country were significantly associated with service type. Need factors, particularly medical history, were not significantly related. These findings highlight the need to develop nationally prioritized services, improve preventive care quality, strengthen health service integration, and expand wellness-based services.
S-12089
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Erlina; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Tri Krianto, Endun Hamzah
S-7136
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Asina Indira Indiriaty; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Widyastuti Wibisana
S-5006
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
