Ditemukan 33007 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Indra Kurniawan Pratomo; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Ahmad Tahta Kurniawan, Alfred Yunandro Markus
Abstrak:
Read More
PT XYZ sebagai kontraktor pertambangan batu bara mengelola risiko kritis melalui program Critical Risk Management (CRM) berbasis inspeksi observasi aktivitas. Data tahun 2023–2025 menunjukkan bahwa pendekatan ini belum memadai: tingkat pencapaian observasi hanya 72,1%, sementara 9 dari 13 kejadian fatality dan Lost Time Injury berasal dari aktivitas pengoperasian dan interaksi alat-alat berat (A2B). Persoalan mendasarnya bukan hanya konsistensi pelaksanaan inspeksi, melainkan ketiadaan mekanisme yang secara sistematis memverifikasi apakah pengendalian yang paling krusial terhadap risiko fatal benar-benar andal sesuai standar kinerjanya. Penelitian ini mengaplikasikan kerangka Critical Control Management (CCM) ICMM (2015) pada dua Material Unwanted Events (MUE): kehilangan kendali unit A2B (MUE-1) dan interaksi A2B dengan unit, sarana, atau pekerja (MUE-2). Desain penelitian berupa studi kasus tunggal dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui tinjauan dokumen risk register tiga lini bisnis (156 entri), wawancara mendalam terhadap 18 informan dari 7 klaster peran yang dianalisis secara tematik, dan observasi lapangan melalui Critical Control Verification (CCV). Analisis dilakukan melalui konstruksi bow-tie, seleksi kontrol dengan kriteria ICMM, penetapan critical control melalui BHP Decision Tree, perumusan performance criteria, dan verifikasi lapangan. Dari 156 entri risk register, proses penyaringan menghasilkan 13 critical control (CC-01 hingga CC-13). Hasil CCV menunjukkan 5 critical control memenuhi seluruh performance criteria (Pass) dan 8 tidak memenuhi (Fail). Critical control yang Pass terutama merupakan kontrol dengan siklus pemeliharaan teknis yang stabil, sedangkan yang Fail menunjukkan laju degradasi yang melampaui kecepatan pemulihan. Pembahasan mengungkap dua temuan analitis utama: dominasi kontrol administratif pada risk register konvensional yang menutupi kerentanan pertahanan, serta ketergantungan struktural pada manusia yang tidak terbatas pada kontrol bertipe tindakan tetapi juga melekat pada pemeliharaan kontrol berlabel objek dan sistem. Kontribusi kerangka CCM bukan pada penambahan kontrol baru, melainkan pada transformasi status kontrol yang sudah ada dari diasumsikan hadir menjadi terverifikasi memenuhi atau tidak memenuhi criteria, sehingga memberikan dasar faktual bagi alokasi sumber daya perbaikan.
PT XYZ, a coal mining contractor, manages critical risks through an activity-based Critical Risk Management (CRM) program centred on planned inspections and observations. Data from 2023–2025 revealed that this approach remained insufficient: the observation achievement rate stood at only 72.1%, while 9 of 13 fatality and Lost Time Injury events originated from heavy equipment (A2B) operations and interactions. The fundamental issue was not merely inspection consistency, but the absence of a mechanism that systematically verifies whether the most crucial controls against fatal risk are truly reliable against their performance standards. This study applied the ICMM (2015) Critical Control Management (CCM) framework to two Material Unwanted Events (MUEs): loss of control of an A2B unit (MUE-1) and A2B interaction with other units, infrastructure, or workers (MUE-2). A single embedded case study with a qualitative approach was adopted. Data were collected through document review of risk registers across three business lines (156 entries), in-depth interviews with 18 informants from 7 role clusters analysed thematically, and field observation through Critical Control Verification (CCV). The analytical sequence comprised bow-tie construction, control selection using ICMM criteria, critical control determination through the BHP Decision Tree, performance criteria formulation, and field verification. From 156 risk register entries, the screening process yielded 13 critical controls (CC-01 through CC-13). CCV results showed that 5 critical controls met all performance criteria (Pass) while 8 did not (Fail). Controls that passed were predominantly those with stable technical maintenance cycles, whereas those that failed exhibited degradation rates exceeding their recovery speed. The discussion revealed two principal analytical findings: the dominance of administrative controls in conventional risk registers that masked defence vulnerabilities, and a structural human dependency that extended beyond act-type controls to the maintenance of object- and system-labelled controls. The contribution of the CCM framework lies not in adding new controls, but in transforming the status of existing controls from assumed present to verified as meeting or not meeting criteria, thereby providing a factual basis for corrective resource allocation. Keywords: critical control management, critical control verification, control reliability, bow-tie, heavy equipment, coal mining
T-7620
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Carlos Paulus Belan Beribe; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, L. Meily, Muliadi, Petrus AD Lazar
Abstrak:
Kelelahan merupakan permasalahan serius yang menjadi penyumbang kasus kecelakaan bagi perusahaan pertambangan batu bara sehingga menciptakan kerugian bagi perusahaan maupun pekerja secara langsung. Tujuan penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui gambaran dan hubungan faktor-faktor risiko kelelahan (fatigue) dengan kejadian kelelahan pada pekerja industri pertambangan batu bara. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional (potong lintang), pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner Fatigue Assessment Scale (FAS), NAS-TLX dan observasi lapangan langsung. Pada Penelitian ini ada beberapa variable independen yang diteliti untuk melihat faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya kelelahan pada pekerja. Variabel independen pada penelitian ini yaitu, usia, gender, indeks masa tubuh, kondisi kesehatan, waktu tidur, aktivitas fisik, konsumsi kafein, shift kerja, lama bekerja, kejenuhan dan kelalahan yang dialami pekerja. Hasil penelitian yang diperoleh sebanyak 181 responden mengalami risiko kelelahan sebanyak (92,35%) mengalami kelelahan (fatigue) dan sebanyak 158 (93,5%) pekerja mengalami risiko beban kerja tinggi. Untuk gambaran hubungan variabel independen usia, gender, indeks masa tubuh, kondisi kesehatan, waktu tidur, aktivitas fisik, konsumsi kafein, shift kerja, lama bekerja, kejenuhan dengan kelelahan dalam penelitian ini tidak memiliki hubungan secara signifikan, artinya nilai p value lebih > 0,05.
Fatigue is a serious problem that contributes in accidents for coal pertambangan batu bara companies, thereby creating direct losses for the company and workers. The aim of this research was to determine the description and relationship between risk factors for fatigue and the incidence of fatigue in pertambangan batu bara industry workers. This research used a cross sectional design, data collection was carried out by filling in the Fatigue Assessment Scale (FAS), NAS-TLX questionnaire and direct field observation. In this research, several independent variables were studied to look at the risk factors that influence the occurrence of fatigue in workers. The independent variables in this study are age, gender, body mass index, health condition, sleep time, physical activity, caffeine consumption, work shifts, length of work, boredom and fatigue experienced by workers. The research results obtained were that 181 respondents experienced the risk of fatigue, as many as (92.35%) experienced fatigue and as many as 158 (93.5%) workers experienced the risk of high workload. To describe the relationship between the independent variables age, gender, body mass index, health condition, sleep time, physical activity, caffeine consumption, work shifts, length of work, boredom and fatigue in this study there is no significant relationship, it means that the p value is >0,05.
Read More
Fatigue is a serious problem that contributes in accidents for coal pertambangan batu bara companies, thereby creating direct losses for the company and workers. The aim of this research was to determine the description and relationship between risk factors for fatigue and the incidence of fatigue in pertambangan batu bara industry workers. This research used a cross sectional design, data collection was carried out by filling in the Fatigue Assessment Scale (FAS), NAS-TLX questionnaire and direct field observation. In this research, several independent variables were studied to look at the risk factors that influence the occurrence of fatigue in workers. The independent variables in this study are age, gender, body mass index, health condition, sleep time, physical activity, caffeine consumption, work shifts, length of work, boredom and fatigue experienced by workers. The research results obtained were that 181 respondents experienced the risk of fatigue, as many as (92.35%) experienced fatigue and as many as 158 (93.5%) workers experienced the risk of high workload. To describe the relationship between the independent variables age, gender, body mass index, health condition, sleep time, physical activity, caffeine consumption, work shifts, length of work, boredom and fatigue in this study there is no significant relationship, it means that the p value is >0,05.
T-6903
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rizky Yuli Ikhwanuddin; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Ahmad Afif Mauludi, Hasan Bisri
Abstrak:
Read More
Profil K3 Nasional 2022 di Indonesia menunjukkan bahwa faktor manusia dalam keselamatan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap risiko kecelakaan kerja, termasuk di dalamnya perilaku mengambil risiko di tempat kerja. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan pendekatan mixed method kuantitatif dan kualitatif, yang bertujuan mendapatkan gambaran persepsi karyawan tentang perilaku mengambil risiko di tempat kerja serta menelusuri faktor-faktor penyebab karyawan berperilaku tersebut. 283 karyawan PT. XYZ Site A dari tingkat manajemen, pengawas, dan pekerja berpartisipasi dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan pertanyaan terbuka serta dianalisa secara kuantitatif dengan menggunakan Uji Statistik Chi-Square, serta secara kualitatif dengan menggunakan Model HFACS (The Human Factors Analysis and Classification System) dan Qualitative Comparative Analysis. Dari hasil Uji Chi-Square, variabel independen yang memiliki nilai Asymp. Sig. (2-sided) di bawah 0,05 (95% CI) adalah jabatan/posisi (0,014), penerimaan perilaku mengambil risiko (0,018), normalisasi kecelakaan kecil (0,002), keputusan akan mengambil risiko (0,000), serta persentase jumlah pelaku pelanggaran (0,032). Hal ini mengindikasikan bahwa kelima variabel tersebut memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perbuatan melanggar peraturan. Secara kualitatif, faktor-faktor penyebab perilaku mengambil risiko berupa kondisi berpuas diri dan kejenuhan, kurangnya komunikasi, kurangnya pengawasan, kurang tegasnya teguran / hukuman terhadap pelanggaran, serta pembiaran kondisi tidak aman. Secara pengaruh organisasi, manajemen sumber daya, iklim organisasi, serta proses organisasi perlu ditingkatkan kinerjanya. Perusahaan disarankan untuk meningkatkan pengaruh organisasinya ke arah upaya pencegahan perilaku mengambil risiko tersebut, diiringi dengan pemantauan ketat kepada tidak hanya pekerja, namun juga kepada para pengawasnya agar selalu berperilaku selamat.
The 2022 National Occupational Health and Safety (OHS) Profile in Indonesia shows that the human factor in safety is a factor that influences the risk of work accidents, including risk-taking behavior at workplace. This research uses a cross-sectional design and a mixed method of qualitative and quantitative approach, which aims to obtain an overview of employee perceptions towards risk-taking behavior at workplace and to explore the factors causing employees to perform such behavior. 283 employees of PT. XYZ Site A from the management, supervisory, and worker levels participated in this study. Data was collected through a questionnaire with open-ended questions and analyzed quantitatively using the Chi-Square Statistical Test, as well as qualitatively using the HFACS (The Human Factors Analysis and Classification System) Model and Qualitative Comparative Analysis. From the results of the Chi-Square Test, the independent variables that have a value of Asymp. Sig. (2-sided) below 0.05 (95% CI) are job title/position (0.014), acceptance of risk-taking behavior (0.018), normalization of minor accidents (0.002), decision to take risks (0.000), and the percentage of the number of violators (0.032). This indicates that those five variables have a positive and significant effect on rule-breaking. Qualitatively, factors causing risk-taking behavior are the conditions of complacency and boredom, lack of communication, lack of supervision, lack of strong punishment on violations, as well as ignorance on unsafe conditions. As per organizational influences, the resource management, organizational climate, and organizational processes need improvement on their performance. The company is advised to increase its organizational influence towards efforts to prevent this risk-taking behavior, by carrying out strict monitoring not only to the workers, but also to the supervisors so that they always behave safely.
T-7165
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Diniyah Indah Fahmi Putri; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Zulkifli Junaidi, Ade Kurdiman
Abstrak:
Indonesia merupakan negara penghasil batu bara terbsesar kedua di Asia Pasifik. Industribatu bara merupakan salah satu industri penopang utama ekonomi Indonesia. Aktivitasindutri batu bara cukup banyak di Indonesia. Industri batu bara merupakan industridengan tingkat risiko tingi (high risk). Data internasional dan nasional menunjukan angkakematian dan kecelakaan di industri batu bara cukup tinggi. Beberapa hasil penelitianmenemukan bahwa salah satu penyebab terjadinya kecelakaan tersebut yaitu prosespenilaian risiko yang tidak efektif dan effisien. Penelitian ini merupakan studi deskriptifdengan pendekatan studi kasus (kajian) terhadap implementasi penilaian risiko padaaktivitas hauling batu bara PT.HPU jobsite MGA dan melakukan analisis bandingterhadap hasil tinjauan literatur penilaian risiko yang ideal. Tujuan dari penelitian ini yaitumengetahui proses penilaian risiko yang ideal berdasarkan literatur dan melakukananalisis banding dengan salah satu contoh pelaksanaannya di lapangan guna mengetahuiperbedaan dan persamaan antara konsep yang ideal dengan praktek di lapangan. Hasilpenelitian menunjukan terdapat beberapa perbedaan pada pelaksanaan penilaian risikopada literatur dan kasus. Dalam literatur identifikasi bahaya & risiko dapat menggunakanmetode tertentu yang sudah dilengkapi dengan form penilaian sementara kasus hanyamenggunakan brainstorming dan form yang dikembangkan sendiri. Selain itu, terdapatbeberapa komponen yang belum teridentifikasi dengan lengkap di dalam kasus namundisebutkan di dalam literatur. Pada tahap analisis, perbedaan terdapat pada prosespenentuan nilai probabilitas kejadian dimana literatur menggunakan analisis FTA atauETA sementara kasus masih melibatkan professional judgment semata. Namun secarakeseluruhan, hasil analisis banding terhadap pelaksanaan penilaian risiko pada kasus danproses penilaian risiko yang ideal berdasarkan literatur tidak menunjukan perbedaan yangbesar dan signifikan.Kata kunci: penilaian risiko; studi kasus; tinjauan literatur; analisis banding (komparasi);pertambangan batu bara.
Read More
S-10286
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wafiq Febri Erlianti Safitri; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Fatma Lestari, Hendra, Muthia Ashifa, Ahmad Afif Mauludi
Abstrak:
Read More
Abstrak Pada tahun 2021, Ditjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan mencatat 7.298 kasus kecelakaan kerja dan 9% diantaranya disebabkan oleh kelelahan kerja. Dari data kasus tersebut 96% terjadi di industry pertambangan yang juga menyebabkan produktivitas pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kelelahan kerja pada operator alat berat pertambangan di PT XYZ. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penerapan rancangan cross-sectional. Studi ini melibatkan 115 pekerja yang diminta untuk mengisi kuisioner SOFI. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 71,3% pekerja mengalami kelelahan kerja pada tingkat ringan, sedangkan 28,7% responden mengalami kelelahan kerja pada tingkat berat. Nilai p dari hasil uji korelasi antara kelelahan kerja dengan faktor-faktor risikonya, masing-masing adalah jam kerja = 0,087, jumlah hari berurutan = 0,105, roster kerja = 0,556, shift kerja = 0,720, lama perjalanan = 0,005, usia = 0,992, riwayat penyakit kronis = 1,000, gangguan tidur = <0,001, kebiasaan tidur = <0,001, kemampuan tidur siang/istirahat = 0,047, usaha = 0,006, penghargaan = 0,152, overcommitment = 0,014, suhu = 0,482, kebisingan = 0,277, pencahayaan = 0,127. Selanjutnya disimpulkan bahwa determinan dari kelelahan kerja adalah lama perjalanan, gangguan tidur, kebiasaan tidur, kemampuan tidur siang/istirahat, usaha, dan overcommitment.
Abstract In 2021, the Directorate General of Labor Inspection recorded 7,298 cases of workplace accidents, with 9% attributed to work fatigue. Of these cases, 96% occurred in the mining industry, adversely affecting worker productivity. This study aims to identify the risk factors for work fatigue among heavy equipment operators in PT XYZ using a cross-sectional design. Involving 115 workers who completed the SOFI questionnaire, data analysis was conducted using the Chi-square test. The research findings revealed that 71.3% of workers experienced mild work fatigue, while 28.7% reported severe fatigue. Correlation tests showed varying p-values for factors such as working hours (0.087), consecutive workdays (0.105), work roster (0.556), shift work (0.720), travel duration (0.005), age (0.992), chronic illness history (1.000), sleep disturbances (<0.001), sleep habits (<0.001), nap/rest capability (0.047), effort (0.006), recognition (0.152), overcommitment (0.014), temperature (0.482), noise (0.277), and lighting (0.127). In conclusion, determinants of work fatigue include travel duration, sleep disturbances, sleep habits, nap/rest capability, effort, and overcommitment.
T-6874
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zico Dian Paja Putra; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Baiduri, Beny Priatna Kusuma
S-5246
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Putu Dian Wiratmini; Pembimbing: Dadan Erwandi
M-1048
Depok : FKM UI, 2002
D3 - Laporan Magang Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Defri Kurniadi; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Estu Prayogi
S-8486
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Makhrus Shofi; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Hanatie Yudianto
S-5235
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Akbar Maulana; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Agung Nugroho
Abstrak:
Skripsi ini menganalisis risiko kecelakaan kendaraan alat berat pada jalan hauling tambang batu bara PT. X Tahun 2020 dengan menggunakan metode bowtie. Metode bowtie digunakan untuk mengidentifikasi ancaman, pengendalian, dan konsekuensi pada kronologi kecelakaan yang kemudian dianalisis untuk mengetahui tingkat efektifitas pengendalian berdasarkan data kecelakaan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian menyarankan bahwa perusahaan perlu mengimplementasikan barrier management system, peningkatan teknologi pada pengendalian kecelakaan, pengawasan dan pemeliharaan rutin yang disiplin, serta kebijakan yang menekankan peningkatan kompetensi dan kedisiplinan pekerja sebagai upaya pencegahan kecelakaan. Kata kunci: Analisis kecelakaan, kendaraan alat berat, metode bowtie, tambang batu bara This study analyzes the risk of heavy equipment accidents on coal mining hauling road of PT. X of 2020 using the bowtie method. The bowtie method is used to identify threats, barriers, and consequences on accident chronology which are then analyzed to determine the level of effectiveness based on accident data. This research is a qualitative research with a descriptive design. The results of the study suggest that companies need to implement barrier management system, technological improvements in accident control, routine supervision and maintenance, and policies that emphasize the improvement of employee competency and discipline as an effort to prevent accidents. Key words: Accident analysis, heavy equipment, bowtie method, coal mine
Read More
S-10292
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
