Ditemukan 32985 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Citra Widya Asmara; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Puput Oktamianti, Juny Astaty Nainggolan, Sunersi Handayani
Abstrak:
Read More
ASI merupakan nutrisi terbaik bagi bayi yang dapat menurunkan angka kematian dan kesakitan bayi dan ibu. Salah satu faktor yang mempengaruhi kesuksesan ASI eksklusif adalah dukungan tenaga kesehatan melalui konseling menyusui. WHO merekomendasikan minimal 6 kontak laktasi untuk mendukung ibu menyusui. Puskesmas memiliki peran penting dan strategis mensukseskan ASI eksklusif diantaranya melalui pelayanan konseling menyusui pada ibu hamil dan menyusui. Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih terletak di Jakarta Pusat memberikan pelayanan konseling menyusui dengan capaian ASI eksklusif sebesar 74,7% pada tahun 2024. Penelitian ini menganalisis evaluasi implementasi pelayanan konseling menyusui di Puskesmas Wilayah Kecamatan Cempaka Putih Jakarta Pusat tahun 2025 dengan tujuan menganalisis komponen struktur, proses, hasil dan umpan balik pada pelaksanaan konseling menyusui. Desain penelitian kualitatif deskriptif eksploratif dengan teknik wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan konseling menyusui di Puskesmas Wilayah Kecamatan Cempaka Putih tersedia dan diimplementasikan dalam pelayanan gizi serta kesehatan ibu dan anak, namun belum optimal. Dalam komponen struktur, ketersediaan SDM konselor menyusui yang mencukupi menjadi faktor pendukung, sementara sarana prasarana yang belum memadai, tidak tersedianya anggaran khusus dan belum terintegrasinya SOP konseling menyusui menjadi faktor penghambat pelayanan konseling menyusui. Komponen proses berupa pengorganisasian dan pelaksaanaan yang sudah menjadi bagian dari pelayanan rutin menjadi faktor pendukung, namun belum tersedianya perencanaan dan pengawasan untuk pelayanan konseling menyusui menjadi faktor penghambat. Adapun cakupan kunjungan yang belum spesifik, evaluasi yang belum berfokus pada mutu pelayanan dan pemanfaatan layanan yang belum optimal oleh masyarakat menjadi faktor penghambat dalam pelayanan konseling menyusui di Puskesmas Wilayah Kecamatan Cempaka Putih.
Breastfeeding is the best source of nutrition for infants and can reduce infant and maternal mortality and morbidity. One of the factors influencing the success of exclusive breastfeeding is the support provided by healthcare workers through breastfeeding counseling. The World Health Organization (WHO) recommends a minimum of six lactation contacts to support breastfeeding mothers. Community Health Centers (Puskesmas) play an important and strategic role in promoting exclusive breastfeeding, including through breastfeeding counseling services for pregnant and breastfeeding women. Cempaka Putih Subdistrict Community Health Center, located in Central Jakarta, provides breastfeeding counseling services and achieved an exclusive breastfeeding coverage of 74.7% in 2024. This study evaluated the implementation of breastfeeding counseling services at the Community Health Centers in the Cempaka Putih Subdistrict, Central Jakarta, in 2025. The study aimed to analyze the structure, process, outcome, and feedback components of breastfeeding counseling implementation. A descriptive exploratory qualitative design was employed using in-depth interviews, observations, and document reviews. The results showed that breastfeeding counseling services were available and implemented as part of nutrition and maternal and child health services; however, their implementation had not yet been optimal. Within the structural component, the adequate availability of breastfeeding counselors supported service implementation, whereas inadequate facilities and infrastructure, the absence of a dedicated budget, and the lack of integrated standard operating procedures (SOPs) for breastfeeding counseling hindered service implementation. In the process component, organization and implementation, which had become part of routine services, supported service delivery. However, the absence of planning and supervision for breastfeeding counseling services remained barriers. In addition, non-specific service coverage, evaluations that did not focus on service quality, and suboptimal community utilization of breastfeeding counseling services hindered the implementation of breastfeeding counseling services at the Community Health Centers in the Cempaka Putih Subdistrict.
T-7621
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nauri Anggita Temesvari; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Mieke Savitri, Raihana Nadra Alkaff, Novianto Gozali
Abstrak:
Konseling dan Tes HIV Sukarela (KTS) merupakan pintu masuk dalam pencegahan HIV/AIDS. Jakarta Timur menargetkan seluruh populasi kunci yang memanfaatkan KTS sebesar 20.308 orang. Namun, yang baru tercapai pada tahun 2013 sebesar 67%. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan evaluasi dengan Kerangka Kerja Logis untuk melihat pelaksanaan KTS yang telah berjalan. Dari hasil penelitian didapat bahwa keseluruhan pelaksanaan KTS telah berjalan dengan baik, kurangnya kesadaran dari populasi kunci untuk memeriksakan diri sedini mungkin, kurang akuratnya pengumpulan data, dan kurangnya sosialisasi ke populasi umum dibandingkan dengan populasi kunci menjadi permasalahan utama dalam pelaksanaan KTS. Rekomendasi dari penelitian ini adalah meningkatkan penjangkauan ke lokasi yang memungkinkan populasi kunci tersebar, termasuk di lingkungan masyarakat, pengawasan dalam pencatatan dan pelaporan, dan meningkatkan fungsi Puskesmas dalam Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB). Kata Kunci : KKL, KTS, HIV
Read More
T-4426
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Marlina Hendryka Situmorang; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Mardiati Nadjib, Ascobat Gani, Sumiati, Fajar Aryanti
Abstrak:
Read More
andemi covid-19 menyebabkan menurunnya cakupan imunisasi anak sehingga pemerintah membuat suatu kebijakan agar cakupan imunisasi meningkat kembali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi kebijakan pelayanan imunisasi anak pada saat pandemi covid-19 di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati Jakarta Timur. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Mei 2021 menggunakan metode kualitatif dengan teori Van Meter dan Van Horn. Jumlah informan sebanyak 20 orang yang ditentukan secara purposive. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa capaian imunisasi tidak menurun secara signifikan walaupun di saat kondisi covid-19 kecuali capaian Bulan Imunisasi Anak (BIAS). Sumber daya (finansial, sarana prasarana, SDM) umumnya sudah cukup memadai. Komunikasi antar petugas dan kegiatan pelaksanaan umumnya sudah baik dilihat dari sosialisasi koordinasi yang dilakukan petugas kesehatan bersama lintas sektor namun sosialisasi belum merata kepada masyarakat. Karakteristik badan pelaksana umumnya sudah baik melalui pengerjaan para pelaksana kebijakan akan tugas pokok dan fungsinya namun masih perlu dibedakan antara tugas utama dan prioritas, tugas membantu yang sifatnya insidental dan tugas tambahan. Disposisi pelaksana umumnya juga sudah baik dilihat dari sikap yang mendukung dan komitmen orang tua membawa anak imunisasi dengan menerapkan protokol Kesehatan serta komitmen Puskesmas Kramat Jati dalam membenahi sarana prasarana/ pelayanan agar sesuai dengan standar permenkes dan prinsip PPI, namun pelaksana imunisasi kurang konsisten seperti tidak menanyakan riwayat covid-19 sebelum mengimunisasi anak dll. Lingkungan ekonomi tidak menghambat atau mendukung dalam pelaksanaan kebijakan, sementara lingkungan sosial mendukung dilihat dari keaktifan tokoh masyarakat dalam mensosialisasikan dan mendukung pelaksanaan imunisasi serta keaktifan ibu-ibu dalam mencari tahu informasi imunisasi namun di sisi lain lingkungan sosial juga kurang mendukung dilihat dari adanya kepercayaan masyarakat bahwa vaksin itu haram. Kebijakan masih di bawah surat edaran oleh karena itu perlu pembentukan peraturan perundang-undangan tentang imunisasi anak pada saat pandemi covid-19. Dapat disimpulkan bahwa kebijakan pelayanan imunisasi anak pada saat pandemi covid-19 di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati terimplementasi dengan baik. Kendala yang paling besar dalam mengimplementasi kebijakan adalah ketakutan orang tua membawa anak imunisasi ke puskesmas karena covid-19. Oleh karena itu sosialisasi perlu ditingkatkan agar mereka percaya bahwa imunisasi anak di puskesmas cukup aman.
This covid-19 pandemic gives impact toward the decreasing of child immunization so that government made a policy to increase the child immunization service. The purpose of this research is to know how is the policy of child immunization implemented during covid-19 pandemic in Puskesmas Kecamatan Kramat Jati Jakarta Timur. This research was conducted in April to May 2021 by using qualitative method based on Van Meter and Van Horn theory. The amount of informant for this research is 20 persons and it is purposively determined. The result of this research shows that there is no significant decreasing of immunization service for all but BIAS (immunization for students). Resources (finance, infrastructure, human resource) have been adequate and available. The communication between all the officials and the implementation of immunization service are good seen from the coordination for socialization toward society held by health workers together with cross sector, even though the socialization still not be done evenly. Generally, the character of implementor is also good seen from the main task and function done by them, even though there should be the distinction between main task and priority, additional and incidental task. The disposition of implementor is good seen from the supportive attitude, the commitment of parents to bring their babies and comply the health protocol and and the commitment of Puskesmas Kramat Jati to provide the infrastructures needed according to Permenkes (The Regulation of Ministry of Health) and the principles of PPI (The prevention and controlling of infection), even though the implementor still lack of consistency in asking about covid-19 history before doing the immunization, etc. From economic environment, there is neither obstacle or support for this policy, while social environment is quite supportive by the involvement of public figure to socialize child immunization and to support the implementation itself. The mothers of children are actively looking for the information for immunization. However, in the other side, social environment can be less supportive because some of society believe that vaccine is forbidden (haram). As the policy is still in formed of circular letter, it is needed to make an official regulation about child immunization during pandemic covid-19. It can be concluded that the policy of child immunization service in Puskesmas Kramat Jati has been well implemented. The biggest obstacle in implementing this policy is the fear of parents bringing their children to puskesmas due to pandemic covid-19. Therefore, socialization must be intensely done in order to gain trust from parents that doing immunization in puskesmas is safe
T-6179
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Octoviana Carolina; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Amal C. Sjaaf, Masyitoh, Indah Raksi Padmasari, Fify Mulyani
Abstrak:
Global Nutrition Report 2016 mencatat bahwa prevalensi stunting di Indonesia berada pada peringkat 108 dari 132 negara. Dalam laporan sebelumnya, Indonesia tercatat sebagai salah satu dari 17 negara yang mengalami beban ganda gizi, baik kelebihan maupun kekurangan gizi Prevalensi stunting Provinsi DKI Jakarta dari 27,5% (tahun 2013) menjadi 17,7 % (tahun 2018), wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara 0,59% (tahun 2018) dan 0,5% (tahun 2019) menjadi 3,35% (tahun 2020), dan Wilayah Kecamatan Pademangan 0,7% (tahun 2018)dan 0,4% (tahun 2019) menjadi 6,42% (tahun 2020). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelayanan intervensi gizi spesifik integratif stunting di wilayah kerja puskesmas kecamatan Pademangan Jakarta Utara. Penelitian kualitatif dengan desain rapid assessment prosedur ini menggunakan data primer yang berasal dari wawancara mendalam serta FGD dan data sekunder yang berasal dari telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan belum optimalnya perencanaan dan penganggaran, kerjasama lintas sektoral serta pembagian kewenangan pada jajararan pemerintahan yang dapat menjadi potensi penghambat pada percepatan pencegahan stunting di wilayah kecamatan Pademangan terutama pada kualitas pelayanan intervensi gizi spesifik integratif stunting yang dilaksanakan di puskesmas Kecamatan Pademangan. Pada komponen input, perencanaan dan pengganggaran serta kerjasama lintas sektor dan pembagian kewenangan belum di laksanakan dengan implementasi langsung terkait integrasi stunting . Pada komponen proses, yaitu pelayanan yang di lakukan terhadap sasaran prioritas sudah di lakukan tetapi secara kualitas yaitu pengetahuan mengenai gizi berimbang dan kebiasaaan hidup sehat masih belum di laksanakan terutama oleh ibu menyusui dan remaja putri. Pada komponen output, kualitas pelayanan terutama pada Ibu memberikan asi eksklusif dan remaja putri mendapatkan tablet tambah darah masih belum tercapai. Peran dari keterlibatan lintas sektor serta edukasi dari tenaga kesehatan untuk menggiatkan para ibu guna memberikan asi eksklusif serta para remaja putri untuk rutin mengkonsumsi tablet tambah darah perlu ditingkatkan dan didukung penuh.
Read More
T-6219
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sandra Octaviani Dyah Puspita Rini; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Jaslis Ilyas, Wahyu Sulistiadi, Triyani, Elis Rohmawati
Abstrak:
Kementerian Kesehatan melaksanakan program peningkatan kinerja sumber dayakesehatan melalui pendidikan dan pelatihan, khususnya pelatihan tenaga pelayanankesehatan tradisional, melalui pelatihan pelayanan akupresur bagi Puskesmas, namunpelayanan akupresur belum berjalan di Puskesmas. Di Kota Jakarta Selatan Puskesmasyang sudah menyelenggarakan pelayanan akupresur hanya dua (2). Penelitian ini adalahpenelitian kualitatif, dan bertujuan untuk menganalisis kebijakan dan implementasipelaksanaan pelayanan akupresur di Puskesmas serta hambatannya. Informan dalampenelitian berjumlah 11 orang, yaitu Kementerian Kesehatan, Sudinkes Jakarta Selatan,Kepala Puskesmas, Dokter poli, pelaksana program. Metode pengumpulan data melaluiWM dan telaah dokumen. Hasil penelitian dari komponen input sudah berjalan, adanyadukungan Kepala Puskesmas, SOP pelayanan, dan SK penugasan namun belum optimalrotasi staf menjadi salah satu kendala, komponen output dan outcome belum optimal.Aspek komunikasi (kejelasan dan konsistensi) belum efektif tentang informasi regulasikebijakan yang ada dari penentu kebijakan kepada pelaksana, aspek pembiayaan belumdidukung peraturan daerah, aspek birokrasi masih kurang koordinasi dan sosialisasikebijakan dari Dinas Kesehatan ke Sudinkes dan Puskesmas.
The Ministry of Health is implementing programs to improve the performance of healthresources through education and training, especially training of traditional health careworkers, through the training of acupressure services for Primary Health Care, butacupressure service has not been run in Primary Health Care. In South Jakarta, PrimaryHealth Care that have been providing acupressure service are only two (2). Thisresearch is a qualitative research, and aims to analyze the policy and implementation ofacupressure service in Primary Health Care and its obstacles. Informants in the studyamounted to 11 people, namely the Ministry of Health, Sudinkes South Jakarta, Head ofPrimary Health Care, Doctor, program implementer. Methods of data collection throughWM and document review. The result of research of input component have beenrunning, existence of support of Head of Puskesmas, service SOP, and SK ofassignment but not optimal rotation of staff become one of obstacle, component ofoutput and outcome not yet optimally. The communication aspect (clarity andconsistency) has not been effective about the existing policy regulation informationfrom the policy makers to the implementers, the financing aspect has not been supportedby local regulations, the bureaucratic aspects are still lacking coordination and thepolicy socialization from the Health Service to tribe of health service and PrimaryHealth Care.
Read More
The Ministry of Health is implementing programs to improve the performance of healthresources through education and training, especially training of traditional health careworkers, through the training of acupressure services for Primary Health Care, butacupressure service has not been run in Primary Health Care. In South Jakarta, PrimaryHealth Care that have been providing acupressure service are only two (2). Thisresearch is a qualitative research, and aims to analyze the policy and implementation ofacupressure service in Primary Health Care and its obstacles. Informants in the studyamounted to 11 people, namely the Ministry of Health, Sudinkes South Jakarta, Head ofPrimary Health Care, Doctor, program implementer. Methods of data collection throughWM and document review. The result of research of input component have beenrunning, existence of support of Head of Puskesmas, service SOP, and SK ofassignment but not optimal rotation of staff become one of obstacle, component ofoutput and outcome not yet optimally. The communication aspect (clarity andconsistency) has not been effective about the existing policy regulation informationfrom the policy makers to the implementers, the financing aspect has not been supportedby local regulations, the bureaucratic aspects are still lacking coordination and thepolicy socialization from the Health Service to tribe of health service and PrimaryHealth Care.
T-5263
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Chusna Meimuna; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Dumilah Ayuningtyas, Refni Dumesty, Pitut Aprilia Savitri
Abstrak:
Pembangunan sistem kesehatan merupakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Perlu adanya Standar Pelayanan Minimal sebagai acuan untuk mengurangi kesenjangan pelayanan kesehatan antar daerah terutama dalam kasus penemuan tuberkulosis. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilanjutkan dengan inovasi kebijkan dengan mempertimbangkan seperti telaah terkait peraturan gubernur no.28 tahun 2018 tentang penanggulangan Tuberkulosis, perencanaan jadwal dan pelatihan untuk puskesmas dan lintas sektor, meningkatkan sosialisasi dan advokasi lintas sektor terkait peraturan gubernur no.28 tahun 2018 tentang Penanggulangan Tuberkulosis di Wilayah Jakarta Barat.
Read More
T-5739
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Putri Karina Syafitri; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Ede Surya Darmawan, Anhari Achadi, Ari Sudarsono, Ratna Sari
Abstrak:
Puskesmas merupakan fasilitas kesehatan tingkat pertama yang mempunyai peranan penting dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar. Upaya pelayanan kesehatan tersebut lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Fisioterapi merupakan pelayanan inovasi di Puskesmas yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif tanpa mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran layanan fisioterapi dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan di enam Puskesmas Kecamatan di wilayah DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan metodologi peneltian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk melihat gambaran mendalam dari peran layanan fisioterapi di Puskesmas wilayah DKI Jakarta. Hasil dari penelitian ini pelayanan fisioterapi untuk kasus muskuloskeletal dapat berkunjung ke semua Puskesmas di wilayah DKI Jakarta. Pelayanan fisioterapi untuk kasus neurologi dapat dilayani di Puskesmas Kecamatan Koja, Matraman, Pasar Minggu, Kebayoran Lama, dan Pancoran. Pelayanan fisioterapi untuk kasus kardiorespirasi dapat dilayani di Puskesmas Pasar Minggu, Koja, Kebayoran Lama, dan Pancoran. Peran layanan fisioterapi di Puskesmas berdasarkan Permenkes No.65 tahun 2015 yang tergabung dalam anggota tim hanya Puskesmas Kec. Pasar Minggu dan Puskesmas Kecamatan Matraman. Selain itu didapatkan kurangnya dukungan kebijakan, belum meratanya SDM fisioterapis di Puskesmas serta kurangnya keterampilan fisioterapis dalam melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu masih dominannya layanan fisioterapi dalam upaya kuratif pada kasus di Puskesmas dibandingkan dengan upaya promotif dan preventif pada kelompok.
Read More
T-5825
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Halimah Dwi Putriyanti; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Ascobat Gani, Kurnia Sari, Zakiah, Harimat Hendarwan
Abstrak:
Read More
Latar Belakang : Berdasarkan data statistic tahun 2020 kematian ibu di Indonesia sebesar 189 per 100.000 kelahiran hidup, masih belum mencapai angka yang di targetkan oleh SDG’s yaitu 70 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan kematian bayi di Indonesia mencapai 16,85 per 1.000 kelahiran hidup, dengan 17 bayi yang tidak mencapai usia 1 tahun. Indonesia merupkan negara yang menduduki peringkat ke 3 tertinggi AKI di ASEAN. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis data penelitian kuantitaif, desain penelitian non eksperimental metode pengambilan data cross sectional. Sampel berjumlah 111 ibu yang melahirkan dalam kurun waktu Bulan Januari 2024 sampai dengan Juni 2025, yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antar variabel. Kesimpulan: Faktor individu yaitu terdiri dari Penjaminan Asuransi kesehatan, Faktor Individual level/ Obstetric Characteristic yaitu terdiri dari paritas, dan factor Institutional Level terdiri dari Metode Persalinan, dan penolong persalinan adalah factor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan persalinan bagi ibu bersalin di Puskesmas Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) Pancoran Mas tahun 2025.
Background: According to 2020 statistical data, the number of maternal deaths in Indonesia is 189 per 100,000 live births, which is still far from the SDGs target of 70 per 100,000 live births. Meanwhile, infant mortality in Indonesia reached 16.85 per 1,000 live births, with 17 babies not reaching the age of 1 year. Indonesia is the country with the 3rd highest MMR in ASEAN. Method: This study used a non-experimental design with a cross-sectional method. The sample consisted of 111 mothers who gave birth between January 2024 and June 2025, taken using a purposive sampling technique. Data were collected through a structured questionnaire and analyzed using the chi-square test to determine the relationship between variables. Conclusion: Individual factors consisting of health insurance coverage, individual-level/obstetric characteristic factors consisting of parity, and institutional-level factors consisting of delivery methods and delivery assistants are factors related to the utilization of delivery services for mothers giving birth at the Pancoran Mas Basic Emergency Obstetric Neonatal Services (PONED) Health Center in 2025.
T-7446
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ita Riyana Limbong; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Pujiyanto, Zakiah, Yenny Rotua Lucyana Sihotang
Abstrak:
Read More
Terjadi peningkatan kematian ibu di Indonesia. Tahun 2023 hanya terdapat 57,8% ibu hamil yang menerima ANC sesuai standar. Tahun 2022 terdapat 5 kematian ibu di Kota Pematangsiantar. Cakupan ANC K6 di Kota Pematangsiantar mencapai 81,6% akan tetapi masih terdapat 230 kasus komplikasi dalam kehamilan dan puskesmas yang cakupannya masih dibawah target. Penelitian berikut bertujuan untuk menentukan faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya cakupan ANC di beberapa puskesmas Kota Pematangsiantar. Penelitian ini menggunakan desain non-eksperimental dengan studi deskriptif komparatif. Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan exit poll. Informan penelitian terdiri dari kepala puskesmas, bidan, dokter serta ibu hamil. Variabel penelitian adalah struktur (sumber daya manusia, sarana dan prasarana, bahan medis habis pakai, pendanaan, pedoman) dan proses (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan). Pengumpulan data dengan wawancara mendalam, observasi serta telaah dokumen. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat sampling bias, sehingga hasil penelitian ini tidak representative. Faktor yang berkontribusi pada rendahnya cakupan ANC adalah perencanaan dan pelaksanaan ANC yang tidak sesuai standar kuantitas (kunjungan sesuai kehamilan). Perlu dilakukan kerjasama dengan dukcapil sehingga dinas kesehatan dapat mengakses data ibu hamil terbaru. Juga sosialisasi pentingnya kunjungan ANC yang rutin untuk meningkatkan partisipasi ANC ibu hamil.
There is an increase in maternal mortality in Indonesia. In 2023, only 57.8% of pregnant women received standardized antenatal care (ANC). In 2022, there were 5 maternal deaths in Pematangsiantar City. The coverage of ANC K6 reached 81.6%, but there were still 230 cases of complications in pregnancy and public health centers (PHC) whose coverage was still below the target. The following study aims to determine the factors that contribute to the low coverage of ANC in several PHCs in Pematangsiantar City. This study used a non-experimental design with a comparative descriptive study. Research informants were selected using purposive sampling and exit poll techniques. Research informants consisted of heads of PHCs, midwives, doctors and pregnant women. The variables are structure (human resources, facilities, disposable medical materials, funding, guidelines) and processes (planning, organizing, implementing, supervising). Data collection through in-depth interviews, observations and document reviews. The results of the study indicate that there is sampling bias. Factors that contribute are planning and implementation of ANC. Cooperation with the Population and Civil Registration Agency (Dukcapil) is needed to access the latest pregnant women data. Also, socialization of the importance of routine ANC visits to increase ANC participation of pregnant women.
There is an increase in maternal mortality in Indonesia. In 2023, only 57.8% of pregnant women received standardized antenatal care (ANC). In 2022, there were 5 maternal deaths in Pematangsiantar City. The coverage of ANC K6 reached 81.6%, but there were still 230 cases of complications in pregnancy and public health centers (PHC) whose coverage was still below the target. The following study aims to determine the factors that contribute to the low coverage of ANC in several PHCs in Pematangsiantar City. This study used a non-experimental design with a comparative descriptive study. Research informants were selected using purposive sampling and exit poll techniques. Research informants consisted of heads of PHCs, midwives, doctors and pregnant women. The variables are structure (human resources, facilities, disposable medical materials, funding, guidelines) and processes (planning, organizing, implementing, supervising). Data collection through in-depth interviews, observations and document reviews. The results of the study indicate that there is sampling bias. Factors that contribute are planning and implementation of ANC. Cooperation with the Population and Civil Registration Agency (Dukcapil) is needed to access the latest pregnant women data. Also, socialization of the importance of routine ANC visits to increase ANC participation of pregnant women.
T-7375
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Purwandari; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Ascobat Gani, Atik Nurwahyuni, Nina Kurniawati, Sri Kuswahyuni Edi
Abstrak:
Read More
Pelayanan prima atau service excellence merupakan aspek krusial dalam industri kesehatan, khususnya di rumah sakit. Rumah sakit tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan medis, tetapi juga sebagai institusi yang memberikan pengalaman pasien yang positif dan berpusat pada pasien (patient-centered care). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengevaluasi sejauh mana pelaksanaan pelayanan prima dalam praktik sehari-hari yang dinilai dari aspek elemen people excellence, process excellence, dan product excellence dan mengetahui hambatan atau kendala yang ditemui dalam pelaksanaannya yang berpengaruh terhadap kualitas layanan dan kepuasaan pasien di Rumah Sakit YPK Mandiri. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental dengan metode pengambilan data kualitatif pendekatan studi kasus. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pelayanan prima di Rumah Sakit YPK Mandiri telah melaksanakan prinsip pelayanan prima (service excellence) cukup baik namun belum konsisten penerapannya di seluruh unit pelayanan. Perlu menerapkan pendekatan integratif dan berkelanjutan yang mencakup peningkatan kompetensi SDM, penyusunan standar operasional prosedur (SOP) yang terstruktur, internalisasi budaya organisasi, penguatan fungsi evaluasi, dan jaminan mutu fasilitas fisik serta pentingnya membentuk unit pelayanan prima sebagai unit kerja sendiri.
Service excellence is a crucial aspect in the healthcare industry, especially in hospitals. Hospitals not only function as medical service providers, but also as institutions that provide a positive patient experience and patient-centred care. The purpose of this study is to analyse and evaluate the extent to which the implementation of excellent service in daily practice is assessed from the aspects of people excellence, process excellence and product excellence elements and find out the obstacles or obstacles encountered in its implementation that affect service quality and patient satisfaction at YPK Mandiri Hospital. This research uses an experimental research design with a qualitative data collection method of case study approach. Data collection through in-depth interviews, observation, and review of relevant documents. The results showed that the implementation of excellent service at YPK Mandiri Hospital has implemented the principles of excellent service (service excellence) quite well but has not been consistently applied in all service units. It is necessary to apply an integrative and sustainable approach that includes improving HR competencies, preparing structured standard operating procedures (SOPs), internalising organisational culture, strengthening the evaluation function, and quality assurance of physical facilities as well as the importance of forming an excellent service unit as its own work unit.
T-7260
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
