Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35765 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Deliana Attasya Widyasari; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Stevan Deby Anbiya Muhammad Sunarno, Wira Wisnu Wardani, Arif Hening Mustikaningrum
Abstrak:
Pendahuluan. Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian dan salah satu masalah kesehatan utama pada kelompok usia produktif. Tingginya faktor risiko yang dapat dimodifikasi, seperti merokok, kurang aktivitas fisik, obesitas, hipertensi, dan dislipidemia menunjukkan pentingnya perilaku pencegahan penyakit kardiovaskular pada pekerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan perilaku pencegahan penyakit kardiovaskular berdasarkan model Capability, Opportunity, Motivation of Behaviour (COM-B) sebagai dasar pengembangan promosi kesehatan di tempat kerja. Metode. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) pada 116 pekerja PT NP Group. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner COM-B dan dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, serta multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil. Sebagian besar responden memiliki perilaku pencegahan penyakit kardiovaskular yang rendah (55,2%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa psychological capability yang terdiri dari action planning, action control, dan decision making (p <0,001), reflective motivation (p = 0,009), serta automatic motivation (p<0,001) berhubungan signifikan dengan perilaku pencegahan penyakit kardiovaskular. Sebaliknya, physical capability (p = 0,442), knowledge (p = 0,947), physical opportunity (p = 0,615), dan social opportunity (p = 0,589) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa automatic motivation (OR = 1,249; p = 0,033) dan psychological capability (OR = 1,172; p = 0,020) merupakan determinan yang berpengaruh signifikan terhadap perilaku pencegahan penyakit kardiovaskular, sedangkan reflective motivation tidak lagi signifikan setelah dikontrol bersama variabel lain (p = 0,146). Variabel sosiodemografi berupa usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan status pernikahan juga tidak berpengaruh signifikan. Model akhir memiliki nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,323 dan tingkat ketepatan klasifikasi sebesar 71,6%. Kesimpulan. automatic motivation dan psychological capability merupakan determinan utama perilaku pencegahan penyakit kardiovaskular pada pekerja. Oleh karena itu, program promosi kesehatan di tempat kerja perlu difokuskan pada pembentukan kebiasaan sehat, penguatan regulasi diri, action planning, action control, dan decision making untuk meningkatkan efektivitas pencegahan penyakit kardiovaskular pada pekerja.

Introduction. Cardiovascular disease (CVD) remains the leading cause of mortality worldwide and is a major health concern among the productive working-age population. The high prevalence of modifiable risk factors, including smoking, physical inactivity, obesity, hypertension, and dyslipidemia, highlights the importance of preventive health behaviours among workers. This study aimed to analyze the determinants of cardiovascular disease prevention behaviour based on the Capability, Opportunity, Motivation–Behaviour (COM-B) model as a foundation for developing workplace health promotion programs. Method. A quantitative analytic study with a cross-sectional design was conducted among 116 employees of PT NP Group. Data were collected using a COM-B-based questionnaire and analyzed through univariate, bivariate (Chi-square), and multivariate (logistic regression) analyses. Result. The results showed that the majority of respondents demonstrated low cardiovascular disease prevention behaviour (55.2%). Bivariate analysis revealed significant associations between psychological capability, particularly action planning, action control, and decision making (p<0.001), reflective motivation (p = 0.009), and automatic motivation (p <0.001) with cardiovascular disease prevention behaviour. In contrast, physical capability (p = 0.442), knowledge (p = 0.947), physical opportunity (p = 0.615), and social opportunity (p = 0.589) were not significantly associated with preventive behaviour. Multivariate analysis indicated that automatic motivation (OR =1.249; p = 0.033) and psychological capability (OR = 1.172; p = 0.020) were significant determinants of cardiovascular disease prevention behaviour, whereas reflective motivation was no longer significant after adjustment for other variables (p = 0.146). Sociodemographic factors, including age, sex, educational level, and marital status, were also not significantly associated with preventive behaviour. The final model demonstrated a Nagelkerke R Square of 0.323 and an overall classification accuracy of 71.6%. Conclusion. This study concludes that automatic motivation and psychological capability are the primary determinants of cardiovascular disease prevention behaviour among workers. Therefore, workplace health promotion programs should focus on strengthening healthy habits, self-regulation skills, action planning, action control, and decision-making abilities to enhance the effectiveness of cardiovascular disease prevention efforts in the workplace. Keywords: cardiovascular disease, preventive behaviour, workplace health promotion, COM-B, psychological capability, opportunity, reflective motivation, automatic motivation.
Read More
T-7635
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Ayu Permata Sary; Pembimbing: Meily Kurniawidjaja; Penguji: Robiana Modjo, Dadan Erwandi, Hadi Siswanto, Hanny Harjulianti
T-3185
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M Daveny Soufyan; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Tata Soemitra, Farida Tusafariah
Abstrak:

The International Agency for Research on Cancer (IARC) estimates that in year 2020 the rate of new cancer cases will increase up to 300% to an estimated 27 million people with 17 million estimated to die. At that time, there will be approximately 75 million people in the world who suffer from cancer where 70% of the cancer patients will be from developing countries. With the increasing amount of cancer patients throughout the world, the usage of radiotherapy will also increase. In reality, although the process has been very tightly controlled and supervised, accidents caused by an overdose of radiation exposure still occurs. From a number of radiation accidents, it has been found that the cause is not only due to technical factors, but that planning and administration also plays a role. This factor will be magnified with the increasing work load the radiotherapy operators have to handle with the total patients exceeding the capacity of the available equipment. The purpose of this research is to develop a work health and safety program at XYZ hospital, not only for the safety of the radiation technicians (occupational exposure) and public safety (public exposure) but also and especially for the patients safety (medical exposure). The development of the program is done by identifying all the dangers as well as conducting a risk analysis on each step of the process of providing radiotherapy services. To get an overall picture of the implementation of the health management and safety system, the evaluation is made against the OHSAS 1800:2007 and the IAEA Safety Requirement GS-R-3. Based on the risk analysis and the "gap" analysis with OHSAS 18002:2007 and the IAEA GS-R-3, to reduce the risks identified, the risk management recommendations made are more for the procedural management as well as the continuous development of the manpower competency.


Berdasarkan estimasi dari International Agancy for Research on Cancer (IARC) diperkirakan pada tahun 2020, kasus baru penyakit kanker akan meningkat hingga mencapai 300% yaitu sekitar 27 juta penderita dengan jumlah kematian sekitar 17 juta jiwa. Pada saat itu didunia akan terdapat sekitar 75 juta orang yang menderita penyakit kanker dimana 70 % dari penderita kanker tersebut akan terjadi dinegara yang sedang berkembang. Dengan meningkatnya jumlah penderita kanker diseluruh dunia maka jumlah pemanfaatan terapi radiasi juga semakin meningkat. Tapi kenyataannya, walaupun pengendalian dan pengawasan telah dilakukan dengan sangat ketat, kecelakaan yang disebabkan oleh paparan radiasi disebabkan dosis yang berlebih terhadap pasien masih tetap saja terjadi. Dari beberapa kasus kecelakaan radiasi, faktor penyebabnya tidak saja desebabkan oleh faktor teknis, faktor perencanaan maupun administrasi juga mempunyai peran. Faktor ini akan bertambah lagi dengan beban kerja operator radioterapi dalam menangani pasien yang jumlahnya melebihi kapasitas peralatan yang ada. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan suatu program kesehatan dan keselamatan kerja di RS XYZ tidak saja untuk keselamatan pekerja radiasi (occupational exposure), keselamatan publik (public exposure) tetapi juga yang terutama untuk keselamatan pasien (medical exposure). Pengembangan program tadi dilakukan dengan mengidentifikasi seluruh bahaya yang ada dalam proses pelayanan radioterapi beserta kajian risiko untuk mengetahui level bahaya dari setiap tahap kegiatan. Evaluasi sistem yang ada juga dilakukan terhadap standar OHSAS 18001:2007 maupun IAEA Safety Requirement GS-R-3 untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh dari penerapan sistem manajemen kehatan dan keselamatan kerja. Dari hasil analisa Risiko dan hasil evaluasi OHSAS 18001:2007 dan Standard IAEA GS-3-R, dalam hal mengurangi risiko radiasi yang telah diidentifikasi, maka usulan pengendalian risiko lebih banyak diusulkan pada pengendalian secara prosedural disertai pengembangan kompetensi sumber daya manusia secara terus menerus.

Read More
T-3030
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maryati Kasiman; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Dadan Erwandi, Lusi Widiastuti, Rachmat Suherwin
Abstrak:

Penelitian deskriptif kuantitatif dengan disain Cross Sectional Survey mengenai Studi Persepsi tentang Penyakit Kardiovaskular dan Upaya Pencegahannya pada karyawan XY, menggunakan konsep Health Belief Model, meneliti persepsi kerentanan (perceived susceptibility), persepsi keparahan (perceived severity), persepsi manfaat (perceived benefit), persepsi hambatan (perceived barrier) dan pengetahuan sebagai salah satu modifying factor. Rendahnya persepsi kerentanan karyawan dapat menjadi alasan ketidak aktifannya dalam berolahraga. Dari perhitungan statistik dengan korelasi spearman,terdapat korelasi yang bermakna antara persepsi hambatan dengan perilaku karyawan untuk berolahraga dengan p = 0.002 dan r = -0.297.


Quantitative descriptive study with cross-sectional survey design of the study and the Perception of the Cardiovascular Disease Prevention Efforts in XY employees, using the concept of Health belief model, examines perceived susceptibilit), perceived severity , perceived benefits ,perceived barriers and knowledge as a modifying factor. The low perception of susceptibility of employees can be a reason for the lack of exercise ( Physical Inactive ). Of statistical calculations with Spearman correlation, there is a significant correlation between perceived barrier to exercise behavior of employees with p = 0.002 and r = -0297.

Read More
T-3779
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Fyona; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Indri Hapsari Susilowati, Sudi Astono, Tasdikin Wardjo
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi masalah kesehatan primer di PT X sebagai dasar pengembangan program kesehatan kerja khususnya pencegahan PAK. Penelitian ini dilakukan dengan HRA sebagai data awal mengenali risiko kesehatan. Desain penelitian ini adalah survei deskriptif dan dilakukan analisis konten terhadap data primer dari hasil observasi dan wawancara serta data sekunder berupa data MCU dan kunjungan klinik. Hasil penelitian menunjukkan risiko kesehatan utama adalah gangguan muskuloskeletal. Disarankan pekerja melakukan streching, olah raga, menghindari postur janggal saat bekerja, dan menggunakan alat bantu. Perusahaan perlu menambahkan pemeriksaan gangguan otot rangka dan melakukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan rekomendasi desain stasiun kerja yang ergonomis. Kata kunci: HRA, MCU, PAK, keluhan kesehatan, muskuloskeletal, kunjungan klinik The study aimed to identify primary health problem at PT X so that occupational health programs can be implemented especially to prevent occupational health diseases. This study use Health Risk Assessment (HRA) as baseline data to help identify the health risks. The design of this study is descriptive survey and content analysis of primary data from observation and interviews and secondary data from MCU results and clinic visits. The results of the research indicated that major health risks are musculoskeletal disorders. The workers are suggested to conduct streching activities, exercise, avoid awkward postures while working, and use tools. Companies need to add musculoskeletal disorders examination and conducted further research to get ergonomic work station design recommendations. Keyword: HRA, MCU, PAK, health complaint, musculoskeletal, clinic visit
Read More
T-5005
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sam Pangalo; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Robiana Modjo, Yuni Kusminanti
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) sebagai pengabdian masyarakat dengan pendekatan prinsip leadership engagement dan community participation melalui mekanisme pembentukan Komite K3L dengan cara mengkombinasikan indikator-indikator yang mendukung pembentukan Komite K3L di FKM UI. Jenis penelitian adalah kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam, telaah dokumen dan observasi yang menggunakan pendekatan kerangka kerja logis. Informan dalam penelitian ini merupakan representasi dari stakeholder yang terlibat dalam pembentukan K3L di FKM UI. Hasil penelitian menunjukkan Komite K3L di FKM UI belum ada anggaran yang secara khusus di alokasikan untuk menunjang program K3L serta perbaikan dan pengendalian risiko K3L yang merupakan temuan sepanjang tahun sehingga disarankan untuk memasukkan anggaran pelaksanaan program K3L tersebut ke dalam RKAT masing-masing departemen atau unit. Selain itu Komite K3L FKM UI juga belum memiliki surat keputusan pengesahan, Kebijakan K3L organisasi serta pedoman atau manual Komite K3L FKM UI yang di tandatangani oleh Manajemen Puncak sehingga disarankan agar Dekan FKM UI segera menetapkan dan mensahkan secara tertulis Komite K3L FKM UI, Kebijakan K3L organisasi serta manual pelaksanaannya dan dikomunikasikan ke semua pihak sehingga semua orang dapat mengetahui, memahami dan melaksanakan kewajiban serta perannya masing-masing dalam organisasi dan memiliki komitmen yang sama terhadap kebijakan yang ditetapkan. 

This study aims to develop Health Safety and Environmental (HSE) as community service by leadership principles approach and community participation through mechanism of HSE Committee establishment by combining indicators that support HSE Committee establishment at FKM UI. This study was descriptive qualitative research with in-depth interviews, documents review and observations methods using the logical framework approach. Informen in this study were a representative of the stakeholders involved in the establishment of HSE at FKM UI. The results showed that the HSE Committee FKM UI does not have a budget for supportting the HSE program as well as HSE improvement and risk control which are the findings throughout the year and it is recommended to put into the Annual Work Plan and Budget (AWPB) of each Department or Units. The HSE Committee FKM UI also does not have the legalization decree, HSE policy as well as guidelines or manuals of HSE Committee that is signed by the Top Management. It is recommended that Dean of FKM UI immediately establish and ratify in writing the HSE Committee, HSE policy and manual, and communicated to all parties so that everyone knowns, understands and implements their respective obligations and roles in the organization and have the same commitment to the policy set.
Read More
S-9460
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shinta Gusrinarti; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra, Mila Tejamaya, Sudi Astono, Soedarmadji
Abstrak: HIV & AIDS mengancam para pekerja sektor tambang dan panas bumi di Indonesia. Untuk itu dilakukan upaya pencegahan HIV & AIDS di tempat kerja yang merupakan bagian dari usaha kesehatan kerja di perusahaan. Tesis ini mengkaji upaya promosi kesehatan di tempat kerja terkait penanganan masalah HIV & AIDS di tempat kerja yang dilakukan oleh empat perusahaan sektor pertambangan dan panas bumi di Indonesia berdasarkan konsep Piagam Ottawa yang diintegrasikan dengan pemenuhan peraturan pemerintah tentang pencegahan dan penanggulangan HIV & AIDS di tempat kerja dan Kaidah ILO tentang AIDS dan Dunia Kerja. Penelitian ini merupakan studi kualitatif jenis studi kasus dengan desain studi deskriptif. Hasil penelitian menemukan bahwa aspek personal skill development yang berfokus pada edukasi HIV & AIDS kepada pekerja memiliki peran utama dalam mencegah dan menanggulangi HIV & AIDS di tempat kerja. Sementara itu, aspek community action yang berfokus pada kerjasama dengan organisasi eksternal menjadi elemen dengan pemenuhan minim. Untuk itu, perusahaan perlu mengembangkan strategi kerjasama untuk aksi komunitas yang lebih baik dalam rangka mengembangkan program pencegahan dan penanggulangan HIV & AIDS di tempat kerja. Kata kunci: HIV, AIDS, promosi kesehatan di tempat kerja, Piagam Ottawa HIV & AIDS threats workers in mining and geothermal sector in Indonesia. Therefore, effort in HIV & AIDS prevention in workplace is done which is part of occupational health in company. This thesis studies workplace health promotion effort on HIV & AIDS in workplace by four companies comprised of mining and geothermal companies in Indonesia based on Ottawa Charter concept which is being integrated with government regulation on prevention and management of HIV & AIDS in workplace and ILO Code of Practice on HIV & AIDS and the World of Work. This research is a qualitative study with case study approach and descriptive study design with content analysis. The study result found that personal skill development which focused on HIV & AIDS education to workers has been playing major roles in preventing and managing HIV & AIDS in workplace. Meanwhile, community action aspect which focused on cooperation with external organization has becomed the element with minimum compliance. Therefore, companies should develop cooperation strategy for a better community action in order to evolve HIV & AIDS prevention and management program in workplace. Key words: HIV, AIDS, workplace health promotion, Ottawa Charter
Read More
T-4895
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sari Tua Roy Nababan; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Fatma Lestari, Baiduri Widjanarko, Ernie Widianty Rahardjo, Sudi Astono
Abstrak: Periode masa pandemi Covid-19 masih terjadi di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Hingga tgl 16 September 2021, data kejadian konfirmasi positif Covid-19 di seluruh dunia telah mencapai 226.236.577 kasus yang tersebar di 224 negara, dengan 4.654.548 kasus diantaranya meninggal dunia (WHO, 2021). Di Indonesia, pada periode yang sama, jumlah kasus positif mencapai 4.181.309 kejadian, dengan kasus kematian sebanyak 139.919 jiwa dan kasus sembuh sebanyak 3.968.152 orang (covid19.go.id). COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 Berbagai kebijakan telah dilakukan pemerintah untuk mencegah dan mengendalikan penularan, namun tingginya interaksi dan mobilitas masyarakat masih menjadi faktor yang berkontribusi mengakibatkan adanya kasus baru setiap harinya. Kelompok pekerja adalah salah satu kelompok masyarakat dengan persentase yang cukup besar, yakni 69.17% (BPS, Februari 2020). Tempat kerja merupakan salah satu lokasi yang berpotensi mengakibatkan penularan COVID-19 dikarenakan interaksi dan mobilitas pekerja yang sangat tinggi. Dengan kata lain risiko penularan yang terdapat di tempat kerja akan sangat berdampak baik secara langsung maupun tidak langsung kepada lingkungan masyarakat dan rumah tangga. Sektor tempat kerja yang termasuk dalam risiko tinggi penularan COVID-19 adalah sektor transportasi publik karena menjadi tempat interaksi dan bertemunya sejumlah orang dengan berbagai kondisi yang berbeda-beda. Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dilihat bahwa penerapan manajemen pencegahan dan pengendalian COVID-19 di lingkungan tempat kerja memiliki kontribusi yang sangat penting guna memutus rantai penularan di masyarakat
Read More
T-6284
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Ani; Pembimbing: Hendra; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Robiana Modjo, Istiati Suraningsih
Abstrak: Penyakit hiperkolesterolemia, hipertensi dan perilaku merokok merupakansalah satu faktor penyebab Penyakit Jantung Koroner (PJK) yang menjadipenyakit pembunuh nomer satu di dunia (Dilley: 2000). Berdasarkan penelitianeksperimental, epidemiologi, dan klinis menyatakan bahwa peran kolesterol tinggi,dan kebiasaan merokok berpengaruh pada kejadian Penyakit Jantung Koroner(Allen : 2001). Berdasarkan data hasil pemeriksaan kesehatan di perusahaan PTZA dibandingkan dengan kondisi wilayah Kalimantan Selatan bahwa faktor risikoPJK (kolesterol total, perilaku merokok dan tekanan darah) masih cukup tinggisehingga dilakukan kegiatan intervensi promosi kesehatan. Intervensi inibertujuan untuk mengetahui penurunan tingkat risiko Penyakit Jantung Koroner(PJK) setelah dilakukan dilakukan intervensi promosi kesehatan media kelompokA dan media kelompok B pada pekerja tambang di PT ZA Kalimantan SelatanTahun 2014. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian kuasieksperimental.Hasil penelitian ini adalah adanya penurunan yang signifikan antara hasilpengukuran kadar kolesterol total sebelum intervensi dengan sesudah intervensipada kelompok A, adanya penurunan yang signifikan antara hasil pengukuranperubahan perilaku merokok sebelum intervensi dengan sesudah intervensi padakelompok A dan pada kelompok B, tidak ada penurunan yang signifikan padatekanan darah sistolik sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok A,sebaliknya ada penurunan yang signifikan pada tekanan darah sistolik sebelummdan sesudah intervensi pada kelompok B, adanya penurunan yang signifikanantara hasil pengukuran perubahan tekanan darah diastolik antara sebelumintervensi dengan sesudah intervensi pada kelompok A dan kelompok B, adanyaperbedaan yang signifikan pada penurunan faktor risiko PJK antara sebelumdengan sesudah intervensi pada kelompok A dan kelompk B, adanya perbedaanyang signifikan antara penggunaan media A lebih efektif dari pada media B padakegiatan intervensi penurunan faktor risiko dan penurunan kolesterol total.Kegiatan intervensi promosi kesehatan menggunakan media booklet, penyuluhan,konseling gizi, seminar kesehatan mampu memberikan perubahan yang positifpada perubahan perilaku kesehatan.

Disease hypercholesterolemia, hypertension and smoking behavior is a risk factorfor coronary heart disease (CHD), which became the number one killer disease inthe world (Dilley: 2000). Based on experimental research, epidemiology, andclinical states that the role of high cholesterol, and smoking habits affect theincidence of coronary heart disease (Allen: 2001). Based on data from the healthexamination at company PT ZA compared with South Kalimantan condition thatCHD risk factors (total cholesterol, smoking and blood pressure) is still highenough to do health promotion interventions. This intervention aims to determinethe degree of reduction in risk of coronary heart disease (CHD) after the mediahealth promotion intervention group A and group B media in miners in SouthKalimantan PT ZA Year 2014. Kind of research is quantitative quasi-experimental research design.These results are a significant decrease between total cholesterol measurementresults before the intervention to after intervention in group A, a significantdecrease between the results of measurements of changes in smoking behaviorbefore the intervention to after intervention in group A and in group B, there wasno reduction significant in systolic blood pressure before and after theintervention in group A, whereas no significant reduction in systolic bloodpressure sebelumm and after intervention in group B, a significant decreasebetween the results of measurements of diastolic blood pressure changes betweenthe pre-intervention to post-intervention in group A and group B, a significantdifference in the reduction in CHD risk factors between the before to afterintervention in group A and B batches, there are significant differences betweenthe use of a more effective medium than in medium B in the intervention and riskfactor reduction in total cholesterol reduction. Health promotion interventionsusing media booklet, counseling, nutrition counseling, health seminars able todeliver positive changes in health behavior changes.
Read More
T-4190
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fatimah Alanza Salsabila; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Dadan Erwandi, Astuti
Abstrak: Perkantoran merupakan salah satu tempat yang berisiko terjadinya penularan COVID-19. Beberapa kasus COVID-19 di DKI Jakarta didominasi dari klaster perkantoran. Untuk mengatasi hal tersebut, penerapan perilaku pencegahan yang baik menjadi kunci utama dalam memutus rantai penyebaran virus. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor determinan perilaku pencegahan penularan COVID-19 pada pekerja perkantoran di DKI Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengambilan data dilakukan secara daring menggunakan kuesioner. Sebanyak 152 pekerja perkantoran di Jakarta berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku pencegahan responden terhadap COVID-19 sudah cukup baik. Sebesar 61,2% Responden berperilaku baik, dan 38,8% berperilaku kurang baik. Uji statistik menunjukkan bahwa persepsi risiko (p= 0.013), persepsi hambatan (p= 0.001), sarana prasarana (0.002), dan dukungan manajemen (p= 0.001) berhubungan dengan perilaku pencegahan COVID-19. Maka dari itu diperlukan edukasi efektif, penyediaan sarana prasarana yang memadai, serta dukungan manajemen yang mendukung untuk meningkatkan perilaku pekerja dalam mencegah COVID-19
Office is one of the places at risk of transmission of COVID-19. Several cases of COVID-19 in DKI Jakarta are dominated by office clusters. To overcome this, the implementation of good preventive behavior is the main key in breaking the chain of virus spread. The study aims to analyze the determinants of behavior to prevent transmission of COVID-19 in office workers in DKI Jakarta. This research is a quantitative research with a cross sectional design. Data was collected online using questionnaire. A total of 152 office workers in Jakarta participated in this study. The results showed that the respondent's preventive behavior against COVID-19 is quite good. 61.2% of respondents had good behavior, and 38.8% had poor behavior. Statistical tests showed that perceived risk (p= 0.013), perceived barriers (p= 0.001), availability of facilities (0.002), and management support (p= 0.001) were associated with COVID-19 prevention behavior. Therefore, effective education is needed, the provision of adequate infrastructure, and supportive management support to improve worker behavior in preventing COVID-19.
Read More
S-10999
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive