Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35384 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Jihaan Eka Ariyani; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Masyitoh, Mira Puspitasari , Sheirly Novan Indra
Abstrak:
Pengendalian mutu pelayanan medis merupakan bagian penting dalam tata kelola klinis rumah sakit karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien, efektivitas layanan, dan akuntabilitas profesional tenaga medis. RSU Bunda Margonda telah menerapkan sistem indikator mutu pelayanan medis rawat inap serta evaluasi kinerja dokter spesialis melalui mekanisme Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE). Meskipun keduanya telah berjalan sebagai bagian dari sistem tata kelola klinis, hubungan antara capaian indikator mutu pelayanan medis dengan hasil penilaian OPPE pada Kelompok Staf Medis (KSM) Bedah belum pernah dianalisis secara sistematis dan komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh capaian indikator mutu pelayanan medis rawat inap terhadap hasil penilaian OPPE dokter spesialis KSM Bedah di RSU Bunda Margonda tahun 2025. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential explanatory, di mana analisis kuantitatif terhadap 16 dokter spesialis dari 8 sub-spesialisasi bedah dilakukan terlebih dahulu, kemudian diperdalam melalui wawancara mendalam dengan informan kunci yang meliputi Kepala Bidang Medis dan Ketua Komite Mutu. Instrumen OPPE yang digunakan mencakup tiga dimensi utama, yaitu dimensi Perilaku (bobot 30%), Pengembangan Profesional (bobot 30%), dan Kinerja Klinis (bobot 40%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang nyata dan bermakna antara capaian indikator mutu pelayanan medis rawat inap dengan hasil penilaian OPPE dokter spesialis KSM Bedah. Rata-rata total skor OPPE KSM Bedah mencapai 4,086 dengan predikat B-Very Good, di mana 6 dokter (37,5%) meraih predikat A-Excellent, 8 dokter (50,0%) meraih predikat B-Very Good, dan 2 dokter (12,5%) berada pada predikat C-Good. Sub-spesialisasi Bedah THT-KL mencatat rata-rata skor tertinggi (4,326), sedangkan Bedah Umum mencatat rata-rata terendah (3,647) dengan variasi terlebar. Dimensi Kinerja Klinis mencapai capaian proporsional tertinggi (93,3% dari skor maksimum), sementara Dimensi Perilaku menjadi sumber variabilitas tertinggi antar dokter. Indikator outcome klinis, khususnya angka IDO/ILO (Infeksi Daerah Operasi/Infeksi Luka Operasi) dan angka re-operasi, ditemukan sebagai indikator yang paling dominan berkontribusi terhadap skor OPPE. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa indikator mutu pelayanan medis rawat inap, terutama kepatuhan visite DPJP, kelengkapan rekam medis, kepatuhan PPK/Clinical Pathway, kepatuhan Surgical Safety Checklist (SSC) dan IPSG, angka IDO/ILO, serta angka re-operasi, memiliki keterkaitan yang signifikan dengan hasil penilaian OPPE. Sistem OPPE RSU Bunda Margonda telah memiliki fondasi yang selaras dengan prinsip evidence-based clinical governance, namun masih terdapat lima kesenjangan dibandingkan standar internasional yang perlu diperkuat, meliputi mekanisme peer review formal, integrasi data indikator mutu secara otomatis, representasi keenam domain kompetensi ACGME, data volume kasus operatif per dokter, serta standarisasi mekanisme umpan balik kepada dokter. Penguatan sistem OPPE melalui pengembangan SIMRS, umpan balik berkelanjutan, dan peer review terstruktur direkomendasikan untuk mendukung tata kelola klinis berbasis data yang lebih kuat di RSU Bunda Margonda.

Quality control of medical services is a fundamental component of clinical governance in hospitals, as it directly influences patient safety, service effectiveness, and professional accountability of healthcare providers. RSU Bunda Margonda has implemented inpatient medical service quality indicators alongside a physician performance evaluation system through the Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE). Despite both systems being operational as part of clinical governance, the relationship between quality indicator achievements and OPPE assessment outcomes within the Surgical Medical Staff Group had not been systematically or comprehensively analyzed.  This study aims to analyze the influence of inpatient medical service quality indicators on OPPE assessment results among specialist doctors in the Surgical Medical Staff Group at RSU Bunda Margonda in 2025. The study employed a mixed methods approach with a sequential explanatory design, where quantitative analysis of 16 specialist doctors from 8 surgical sub-specializations was conducted first, followed by in-depth interviews with key informants including the Head of Medical Services and the Quality Committee Chair. The OPPE instrument comprised three main dimensions: Behavior (weight 30%), Professional Development (weight 30%), and Clinical Performance (weight 40%).  The findings confirm a significant and meaningful relationship between inpatient medical service quality indicator achievements and OPPE assessment results among Surgical Medical Staff doctors. The average total OPPE score for the Surgical Medical Staff Group reached 4.086 (B-Very Good), with 6 doctors (37.5%) achieving A-Excellent, 8 doctors (50.0%) achieving B-Very Good, and 2 doctors (12.5%) rated C-Good. The ENT-Head and Neck Surgery subspecialty recorded the highest average score (4.326), while General Surgery recorded the lowest average (3.647) with the widest variation. The Clinical Performance dimension achieved the highest proportional score (93.3% of maximum), while the Behavior dimension contributed the greatest variability among individual physicians. Clinical outcome indicators, particularly the surgical site infection (SSI/IDO-ILO) rate and re-operation rate, were identified as the most dominant contributors to OPPE scores.  In conclusion, inpatient medical service quality indicators particularly specialist physician visit compliance, medical record completeness, clinical pathway adherence, Surgical Safety Checklist (SSC) and IPSG compliance, surgical site infection rate, and re-operation rate demonstrated significant associations with OPPE assessment outcomes. The OPPE system at RSU Bunda Margonda has a foundation aligned with evidence-based clinical governance principles; however, five gaps remain compared to international standards: the absence of a formal peer review mechanism, manual integration of quality indicator data, incomplete representation of all six ACGME competency domains, unavailability of per-physician operative case volume data, and non-standardized physician feedback mechanisms. Strengthening the OPPE system through enhanced hospital information system (SIMRS) development, continuous feedback cycles, and structured peer review is recommended to support more robust data-driven clinical governance at RSU Bunda Margonda.
Read More
B-2624
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titi Setyorini; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Adik Wibowo, Anhari Achadi, M. Baharudin, Purnawarman, R. Gioseffi
Abstrak: Sumberdaya manusia dalam organisasi rumah sakit adalah penentu pemberianpelayanan kesehatan yang bermutu. Manajemen kinerja yang efektif adalah alatuntuk mengevaluasi dan meningkatkan kinerja individu dalam rangka mencapaitujuan organisasi. Bagian terpenting dari manajemen kinerja di rumah sakit adalahpenilaian kinerja Dokter. Pelaksanaan penilaian kinerja individu Doktermerupakan bagian tersulit dari pekerjaan manajer rumah sakit di Indonesia.

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model Instrumen PenilaianKinerja Dokter Spesialis Obsgyn melalui Analisis Kinerja yang sesuai untukRSIA Budi Kemuliaan. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode dananalisis kualitatif. Penelitian ini melibatkan Dokter Spesialis Obsgyn dan stake holder yang terlibat dalam manajemen kinerja Dokter Spesialis Obsgyn diRSIA Budi Kemuliaan.

Penelitian ini berhasil mengembangkan metode penyusunan instrumen penilaiankinerja yang valid yaitu dengan menggunakan Metode Nominal Group Technique. Sehingga didapatkan Form Penilaian Kinerja Dokter Spesialis Obsgyn, yang berisi 8 indikator kinerja kunci individu berbasis kompetensi dan diklasifikasikan sesuai dengan kerangka kerja kompetensi dari JCAHO, lengkap dengan standar, bobot, kriteria penilaian dan skoring untuk setiap indikator tersebut, yang sesuaiuntuk RSIA Budi Kemuliaan

Kata kunci : Metode Nominal Group Technique, instrumen penilaian kinerjaindividu, indikator kinerja kunci individu
Read More
B-1752
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desriana Elizabeth Ginting; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Adang Bachtiar, Amal Chalik Sjaaf, Sri Handayani
Abstrak: Abstrak
Penelitian ini menguji hubungan antara variabel indikator kinerja mutu pelayanan, kepedulian kepada masyarakat, dan kepedulian terhadap lingkungan dengan kepuasan pelanggan terhadap 14 rumah sakit vertikal di indonesia. Untuk melihat kinerja dan hubungan di antara indikator-indikator tersebut, digunakan analisis deskriptif dan uji korelasi regresi dengan bootstrapping. Selain itu, dilakukan pula pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam. Dari hasil penilaian kinerja, didapatkan sebagian dari sasaran strategik belum mencapai nilai optimum.
 
 
Sementara dari hasil analisis bivariat, didapatkan tidak ada hubungan antara variabel indikator kinerja mutu pelayanan, kepedulian kepada masyarakat, kepedulian terhadap lingkungan yang berkolerasi dengan kepuasan pelanggan. Dengan demikian, diperlukan adanya perbaikan manajemen dan sistem di internal rumah sakit, maupun Kementrian Kesehatan sebagai regulator terkait indikator kinerja yang digunakan dalam penelitian BLU, termasuk indikator sasaran strategik di dalamnya.
 

This study examines relationship between the variables of service quality performance indicators, public awareness and concern for the environment and customer satisfaction among 14 vertical hospitals in Indonesia. To see the performance and the relationship between these indicators, used descriptive analysis and correlation regression with bootstrapping. In addition, a qualitative approach through in-depth interviews was also applied. Performance evaluation resultes obtained from a portion of the strategic objectives have not yet reached the optimum value.
 
 
The results of the bivariate analysis, found no association between the variables of service quality performance indicators, public awareness, environmental awareness is correlated with customer satisfaction. Thus, it is necessary improve management and internal systems in hospitals, and the Ministry of Health as a regulator on the performance indicators used in the hopsital autonomy (BLU) assessment, including its strategic targets.
Read More
B-1535
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Natasya Claresta Viano; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Pujiyanto, Mardiati Nadjib, Novita Dwi Istanti, Titi Anggraeni
Abstrak:
Manajemen Pelayanan Pasien merupakan peran yang dijalankan oleh case manager, agar tercipta pelayanan yang bermutu dengan biaya yang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran case manager terhadap kendali mutu dan kendali biaya pasien rawat inap bedah dengan penjaminan JKN di RS UI tahun 2022. Penelitian menggunakan pendekatan sistem menurut Donabedian dan teori KARS. Kendali mutu dilihat dari LOS, tingkat kepuasan pasien, kepatuhan penerapan clinical pathway, kepatuhan visit dokter, serta penundaan operasi elektif. Kendali biaya dilihat dari selisih klaim dan tagihan RS dan formulasi biaya tindakan. Pada penelitian ini, data kuantitatif diambil dari data sekunder melalui data rekam medis pasien, hasil telaah dokumen dari berkas tagihan pasien, tarif INA-CBG’s, data laporan operasi, dan data Komite Mutu Rumah Sakit. Data diolah dengan Ms. Excel dan didapatkan tiga (3) tindakan terbanyak yaitu odontektomi, SC, dan AV shunt. Studi kualitatif, dilakukan dengan Focus Group Discussion untuk mendapatkan formulasi pembiayaan tindakan dan wawancara mendalam. Didapatkan hasil peran case manager di RS UI sudah mengalami perbaikan dibandingkan tahun 2021, kinerja case manager sudah baik berdasarkan selisih klaim, pengendalian LOS, tingkat kepuasan pasien, tingkat kepatuhan visit dokter, dan tingkat kepatuhan terhadap clinical pathway. Hanya tingkat penundaan operasi elektif di RS UI masih belum tercapai target.

Patient Service Management is carried out by case manager to create quality services with efficient cost. This study aims to evaluate the role of case managers on quality and cost control of surgical inpatients with JKN assurance at the UI Hospital in 2022. This study uses the concept of Donabedian and KARS theory. Quality control is seen from LOS, patient satisfaction, compliance clinical pathway, compliance doctor visits, and delays in elective surgery. Cost control is seen from the difference between INA-CBG's claims and hospital bills and cost formulations. Secondary data were collected from medical record and document review. The data were processed with Ms. Excel. The three common procedures conducted with FGD and interviews to find out the role of case managers. It was found that the role of the case manager at UI Hospital had improved compared to 2021. Case manager's performance is good based on the difference in overall surgical patient klaims, LOS control, the level of patient satisfaction, the level of compliance with doctor visits , the level of compliance with the clinical pathway. Only the level of delay in elective surgery at UI Hospital has not reached the target.
Read More
B-2426
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Nyoman Gede Bayu Wiratama Suwedia; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Ede Surya Darmawan, Vetty Yulianty Permanasari, Koen Virawan, Ni Ketut Agustiani
Abstrak:
Tesis ini membahas evaluasi implementasi dari clinical pathway diare pada balita, dengan tujuan didapatkan hasil evaluasi dari implementasi Clinical Pathway diare pada balita serta perhitungan unit cost pada kasus diare pada balita di RSU Bhakti Rahayu Denpasar. Desain penelitian yan digunakan yaitu mix method yaitu desain penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2019 hingga Juni 2020. Hasil yang didapatkan adalah masih didapatkannya beberapa variasi pada layanan yang diberikan untuk pasien sehingga mendapatkan total biaya tindakan yang sesuai dengan clinical pathway sebesar Rp 675.281,- dengan biaya riil pelayanan yang diberikan sebesar Rp 1.045.212,- yang berarti masih terdapat selisih sebesar Rp 369.931

This thesis discusses about the evaluation of the suitability of the clinical pathway application of clinical pathway diarrhea in infants, with the aim of obtaining the results of an evaluation of the implementation of Clinical Pathway diarrhea in infants and the calculation of unit cost in cases of diarrhea in infants in Bhakti Rahayu General Hospital Denpasar. The research design used is the mix method, namely quantitative and qualitative research designs. The  study was conducted in May 2019 to June 2020. The results obtained are still getting some variations in the services provided to patients so that the total cost of action in accordance with clinical pathway is Rp. 675,281, - with the real cost of services provided at Rp. 1,045,212 , - which means there is still a difference of Rp. 369,931, -.

Read More
B-2144
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lili Marliani; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wahyu Sulistiadi, Kevin Gilbert, Iin Dewi Astuty
Abstrak: Semakin bertambahnya rumah sakit di Indonesia menyebabkan perlunya strategi marketing dari pihak manajemen rumah sakit, termasuk promosi dokter. Pada era Milenial sekarang ini, dimana terjadi pergeseran dari marketing tradisional ke digital, promosi melalui media sosial menjadi pilihan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh promosi dokter spesialis obstetri dan ginekologi melalui media sosial terhadap kunjungan pasien di RSIA Bunda Citra Ananda Ciputat periode 2016- 2019.
Metode penelitian adalah observasi data SIRS terhadap perbedaan kunjungan dokter yang mendapat promosi media sosial dan yang tidak mendapatkan, serta trend kunjungan dokter-dokter yang mendapatkan promosi. Juga dilakukan survei pendapat pasien dengan pendekatan kuantitatif tentang promosi media sosial RSIA Bunda Citra Ananda yang dilanjutkan dengan survei terhadap dokter obsgin dengan pendekatan kualitatif.
Hasil penelitian didapatkan perbedaan jumlah kunjungan dokter yang mendapatkan promosi melalui media sosial dan yang tidak, dimana dokter yang mendapat promosi meperoleh kunjungan pasien yang meningkat sebesar 385,2 % sedangkan dokter yang tidak mendapatkan promosi mempunyai kunjungan pasien yang menurun sebesar 2,8 %. Terdapat perbedaan trend kunjungan pasien pada keempat dokter yang mendapatkan promosi melalui media sosial. Respon yang tertinggi dari survei terhadap pasien terdapat pada variabel ask dan advocate yang menandakan tingginya rasa keingintahuan dari follower terhadap informasi yang didapatkan dalam akun Instagram RSIA Bunda Citra Ananda dan tingginya kesetiaan atau penganjuran dari pelanggan atau pasien RSIA Bunda Citra Ananda. Terdapat faktor lain yang mempengaruhi kunjungan pasien di RSIA Bunda Citra Ananda selain promosi melalui media sosial.
Kesimpulan dari penelitian adalah terdapat pengaruh positif antara promosi dokter melalui media sosial terhadap kunjungan pasien di RSIA Bunda Citra Ananda yang juga dipengaruhi oleh faktor dari dokter dan dari rumah sakit. Promosi di RSIA Bunda Citra Ananda menurut persepsi pasien sudah efektif yang ditandai dengan nilai Aware, Appeal,Ask, Act dan Advocate (5A) yang cukup tinggi

The increasing number of hospitals in Indonesia has led to the need for marketing
strategies on the part of hospital management, including the promotion of doctors. In this
Millennial era, where there is a shift from traditional marketing to digital, promotion
through social media is a choice. The purpose of this study was to determine the effect of
the promotion of obstetric and gynecology specialists through social media on patient
visits at RSIA Bunda Citra Ananda Ciputat for the period of 2016-2019.
The research method was observing SIRS data on differences in doctor visits that received
social media promotions and those who did not get them, as well as trends in doctor visits
that received promotions. A survey of patients' opinions was also carried out with a
quantitative approach to the promotion of RSIA Bunda Citra Ananda’s social media,
followed by a survey of obstetricians with a qualitative approach.
The results showed differences in the number of visits to doctors who get promotions
through social media and those who don't, where doctors who get promotions get patient
visits which increases by 385.2% while doctors who don't get promotions have patient
visits decrease by 2.8%. There is a difference in the trend of patient visits among the four
doctors who get promotions through social media. The highest response from the survey
of patients lies in the ask and advocate variable which indicates the high curiosity of
followers towards the information obtained in the Instagram account of RSIA Bunda Citra
Ananda and the high loyalty or encouragement from customers or patients of RSIA Bunda
Citra Ananda. There are other factors that influence patient visits at RSIA Bunda Citra
Ananda besides promotion through social media.
The conclusion of the study is that there is a positive influence between the promotion of
doctors through social media on patient visits at RSIA Bunda Citra Ananda which is also
Universitas Indonesia
influenced by factors from doctors and from hospitals. Promotion in RSIA Bunda Citra
Ananda according to the patient's perception has been effective which is marked by the
high Aware, Appeal, Ask, Act and Advocate (5A) values.
Read More
B-2140
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mayang Triasih; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji; Anhari Achadi, Nonoy Royanti
Abstrak: Skripsi ini membahas tentang adanya tren penurunan jumlah kunjungan pasien rawatinap yang menunjukkan indikasi rendahnya tingkat loyalitas pasien di Instalasi Rawat InapRSAB Harapan Kita, dimana pasien mungkin beralih pada rumah sakit lain atau mungkintidak kembali melakukan kunjungan karena merasa tidak puas karena layanan yang diberikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan variabel independen yaitu kualitas pelayanan (tangibles, reliability, responsiveness, assurance dan empathy) dengan variabel dependen yaitu loyalitas pasien di Instalasi Rawat Inap RSAB Harapan Kita tahun2012. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional, dengan jumlah sampel106 responden yang merupakan pasien baru ataupun pasien lama. Untuk menguji analisisunivariat digunakan analisis distribusi frekuensi, sedangkan untuk menguji analisis bivariatmenggunakan uji kai kuadrat.Hasil analisis menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara kualitas pelayanan dengan loyalitas pasien karena p value < α (α = 0,05). Didapatkan nilai p value untuk masing masing dimensi kualitas pelayanan; yaitu tangibles (p value = 0,001), reliability (p value =0,023), responsiveness (p value = 0,006), assurance (p value = 0,002) dan empathy (p value =0,033). Begitu juga dengan hubungan kepuasan pasien dengan loyalitas pasien menunjukkan adanya hubungan yang signifikan yaitu p value = 0,001.
Kata Kunci : Kualitas Pelayanan, Loyalitas, Rawat Inap
Daftar Pustaka: 48 (1975-2012).
This thesis discusses the trend of decline in the number of patient visits that showindications of low levels of patient loyalty Installation Inpatient RSAB Harapan Kita, wherethe patient may be switched to another hospital or may not return to visit because it was notsatisfied by the services provided. The purpose of this study to determine the relationship ofindependent variables of service quality (tangibles, reliability, responsiveness, assurance andempathy) with the dependent variable in patient loyalty Installation Inpatient RSAB HarapanKita in 2012. This study used a cross-sectional study design, the sample size is 106respondents were new patients or patients longer. To test for univariate analysis of frequencydistribution analysis was used, while to test bivariate analysis using quadratic kai test.The analysis showed no significant relationship between service quality and loyalty ofpatients as p value < α (α = 0.05). Obtained p value for each dimension of service quality,that is tangibles (p value = 0.001), reliability (p value = 0.023), responsiveness (p value =0.006), assurance (p value = 0.002) and empathy (p value = 0.033). So is the relationship ofpatient satisfaction with the loyalty of the patients showed a significant relationship ie, pvalue = 0.001.
Keywords : Quality Service, Loyalty, Inpatient
References : 48 (1975-2012)(xix + 118 pages + 27 tables + 4 figures + 2 graphs + 7 appendices)
Read More
S-7718
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yonatan Kristiono Gunadi; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Puput Oktamianti, Basuni Radi, Kuntum Cheyra
B-1895
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Sri Rachmawati; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Adang Bachtiar, Sandi Ilyanto, Rachmat Sentika, Marian Margaretha
B-1927
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive