Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36140 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Novia Fatmawati Putri; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: R. Sutiawan, Agus, Meiristia Qomariah
Abstrak:
HIV/AIDS masih menjadi masalah kesehatan global. Cakupan pengobatan ARV di Indonesia baru mencapai 70%, di bawah target UNAIDS 95%, sehingga berpotensi meningkatkan loss to follow up (LTFU). Papua Tengah memiliki angka LTFU tertinggi (67%) dan Kepulauan Bangka Belitung terendah (20%). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan loss to follow up pengobatan ARV pada orang ODHIV di Provinsi Papua Tengah dan Kepulauan Bangka Belitung tahun 2025. Penelitian menggunakan desain cross-sectional. Analisis data dilakukan menggunakan regresi logistik multivariat dengan pelaporan adjusted odds ratio (AOR) dan interval kepercayaan 95%. Di Papua Tengah, LTFU berhubungan dengan usia > 30 tahun (AOR = 0,648; 95% CI: 0,523-0,803), tempat tinggal luar wilayah Papua Tengah (AOR = 0,357; 95% CI: 0,216-0,589), kelompok populasi kunci (AOR = 0,421; 95% CI: 0,261-0,679) dan inisiasi pengobatan ARV > 7 hari (AOR = 0,694; 95% CI: 0,564-0,854). Di Kepulauan Bangka Belitung, LTFU berhubungan dengan asal rujukan pada ODHIV datang sendiri (AOR = 0,687; 95% CI; 0,490-0,964), kelompok populasi kunci (AOR = 0,588; CI: 0,406-0,852) dan inisiasi pengobatann ARV > 7 hari (AOR = 0,687; CI: 0,488-0,969) dan terdapat interaksi antara jenis kelamin pada kelompok populasi (AOR = 3,621; 95% CI: 1,670-7,852; p = 0,001). Penelitian ini menunjukkan bahwa determinan LTFU pengobatan ARV bersifat kontekstual. Pada LTFU tinggi dipengaruhi oleh tempat tinggal di luar wilayah Papua Tengah, sedangkan LTFU rendah dipengaruhi oleh perempuan pada populasi umum.

HIV/AIDS remains a global health problem, including in Indonesia. ARV treatment is the only primary therapy to maintain the health of people living with HIV. However, ARV treatment coverage in Indonesia is still relatively low at 70%, lower than the UNAIDS target of 95%, potentially increasing the incidence of loss to follow-up (LTFU). Central Papua has the highest LTFU rate (67%), while the Bangka Belitung Islands have the lowest rate (20%) in Indonesia. This study aims to analyze the determinants of loss to follow-up on ARV treatment in people living with HIV in Central Papua Province and the Bangka Belitung Islands in 2025. The study used a cross-sectional design. Data analysis was performed using multivariate logistic regression with reporting adjusted odds ratios (AOR) and 95% confidence intervals. In Central Papua, high LTFU was significantly associated with age > 30 years (AOR = 0.648; 95% CI: 0.523-0.803), residence outside Central Papua (AOR = 0.357; 95% CI: 0.216-0.589), key population groups (AOR = 0.421; 95% CI: 0.261-0.679) and initiation of ARV treatment > 7 days (AOR = 0.694; 95% CI: 0.564-0.854). In the Bangka Belitung Islands, LTFU was associated with the origin of referral in PLHIV coming alone (AOR = 0.687; 95% CI; 0.490-0.964), key population groups (AOR = 0.588; CI: 0.406-0.852) and ARV treatment initiation > 7 days (AOR = 0.687; CI: 0.488-0.969) and there was an interaction between gender in population groups (AOR = 3.621; 95% CI: 1.670-7.852; p = 0.001). This study demonstrated that the determinants of long-term survival (LTFU) on ARV treatment are contextual. High LTFU was influenced by residence outside of Central Papua, while low LTFU was influenced by female status in the general population.
Read More
T-7682
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dinda Syifa Al Adila; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Popy Yuniar, Pratono, Toha Muhaimin
Abstrak:
Kepatuhan pengobatan ARV memiliki hubungan untuk menekan virus pada ODHIV. Akan tetapi, angka putus berobat atau Loss To Follow Up (LTFU) masih tinggi. Berdasarkan pencatatan kasus HIV di RSUD Koja, angka LTFU ODHIV dalam pengobatan tergolong besar yakni 22%. Hal ini hampir mendekati data nasional LTFU sebesar 25%. Berbagai faktor berperan besar pada kepatuhan pengobatan ARV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan ARV pada ODHIV dewasa di RSUD Koja. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pada 731 ODHIV dewasa. Diketahui proporsi kepatuhan pengobatan sebesar 59,6% dan ketidakpatuhan sebesar 40,4%. Determinan yang memiliki hubungan signifikan ada pada ODHIV yaitu rute transmisi dengan heteroseksual (OR = 0,322 95% CI: 0,168 – 0,619) dimana kelompok homoseksual menjadi kelompok protektif, tidak adanya infeksi oportunistik (OR = 2,694 95% CI: 1,952 – 3,719), dan paling dominan lama pengobatan < 1 tahun (OR = 4,179, 95% CI:1,448-12,063).

Adherence to ARV therapy is related to suppressing the virus in PLWHIV. However, the rate of dropping out of treatment or Loss To Follow Up (LTFU) is still high. Based on the recording of HIV cases at Koja Regional Hospital, the LTFU rate for PLHIV in therapy is relatively large, namely 22%. This is almost close to the national LTFU data of 25%. Various factors play a major role in ARV therapy adherence. This study aims to determine the factors that influence adherence to ARV therapy in adult PLHIV at Koja District Hospital. This study used a cross sectional design with 731 adult PLWHIV. It is known that the proportion of adherence was 59.6% and non-adherence was 40.4%. Determinants that have a significant relationship are in PLHIV, namely the sexual orientation from heterosexual orientation (OR = 0.322 95% CI: 0.168 – 0.619) where the homosexual group is a protective group, the absence of opportunistic infections (OR = 2.694 95% CI: 1.952 – 3.719), and the most dominant duration of treatment was < 1 year (OR = 4.179, 95% CI: 1.448-12.063).
2024-01-30
Read More
T-6893
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Habibi; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Sudarto Ronoatmodjo, Arum Ambarsari, Hidayat Nuh Ghazali Djajuli
Abstrak:
Latar Belakang: Loss to follow up (LTFU) pada orang dengan HIV (ODHIV) yang menjalani terapi antiretroviral (ARV) masih menjadi tantangan dalam meningkatkan retensi pengobatan dan pencapaian target Triple 95 UNAIDS. Di Provinsi DKI Jakarta, cakupan inisiasi ARV telah mencapai 84,8%, namun Kecamatan Cengkareng mengalami peningkatan kasus LTFU dari 236 kasus pada tahun 2023 menjadi 309 kasus pada tahun 2025. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian loss to follow up (LTFU) pada orang dengan HIV (ODHIV) yang menjalani terapi antiretroviral (ARV) di Puskesmas Cengkareng Jakarta Barat Tahun 2024–2025. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Data yang digunakan merupakan data sekunder berupa rekapitulasi data pasien HIV dari Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) 2.1 periode tahun 2024–2025. Sampel penelitian berjumlah 149 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat menggunakan regresi Cox Hasil: Proporsi ODHIV yang mengalami LTFU sebesar 16,1%. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin (p=0,001), status perkawinan (p=0,027), dan kelompok populasi (p=0,019) berhubungan dengan kejadian LTFU. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian LTFU (PR=0,263; 95% CI: 0,118–0,585; p=0,001). Kesimpulan: Jenis kelamin merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian LTFU pada ODHIV yang menjalani terapi ARV. Penguatan strategi retensi layanan, khususnya pada pasien laki-laki, perlu dilakukan untuk meningkatkan keberlangsungan terapi ARV dan mendukung pencapaian target Triple 95 UNAIDS.

Background: Loss to follow-up (LTFU) among people living with HIV (PLHIV) receiving antiretroviral therapy (ART) remains a challenge to treatment retention and achieving the UNAIDS Triple 95 targets. In Jakarta Province, ART initiation coverage reached 84.8%; however, LTFU cases in Cengkareng Subdistrict increased from 236 in 2023 to 309 in 2025. Objective: To analyze factors associated with loss to follow-up (LTFU) among people living with HIV (PLHIV) receiving antiretroviral therapy (ART) at Cengkareng Primary Health Center, West Jakarta, during 2024–2025. Methods: This quantitative study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. Secondary data were obtained from the HIV/AIDS Information System (SIHA) 2.1 database for the 2024–2025 period. A total of 149 respondents were included using a total sampling technique. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with the Chi-square test, and multivariate analysis using Cox regression. Results: The proportion of PLHIV experiencing LTFU was 16.1%. Bivariate analysis showed that sex (p=0.001), marital status (p=0.027), and population group (p=0.019) were significantly associated with LTFU. Multivariate analysis demonstrated that sex was the most dominant factor associated with LTFU (PR=0.263; 95% CI: 0.118–0.585; p=0.001). Conclusion: Sex was the most dominant factor associated with LTFU among PLHIV receiving ART. Strengthening retention strategies, particularly for male patients, is essential to improve continuity of ART and support the achievement of the UNAIDS Triple 95 targets.
Read More
T-7684
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Puspita Sari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Evi Martha, Laily Hanifah
Abstrak: Pengetahuan masyarakat yang minim tentang HIV/AIDS dan interpretasi yang salah tentang masalah tersebut merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya penurunan jumlah kasus orang dengan HIV/AIDS. Perlakuan tidak adil, kasar, dan stigma yang negatif membuat ODHA tidak mau memberanikan dirinya untuk terbuka bahkan untuk mengakses pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan pada wanita pernah kawin usia 15-49 tahun yang berhubungan dengan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Penelitian ini merupakan penelitian jenis deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian ini adalah wanita pernah kawin usia 15-49 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS dalam data SDKI 2012. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara umur yang lebih muda dalam memberi stigma terhadap ODHA daripada umur yang lebih tua. Semakin rendah pendidikan seseorang semakin besar kemungkinan untuk memberi stigma terhadap ODHA. Selain itu, pengetahuan komprehensif mengenai HIV/AIDS yang kurang juga dapat menyebabkan seseorang menstigma ODHA. Hasil uji chi-square didapatkan proporsi wilayah pedesaan lebih memberi stigma terhadap ODHA daripada wilayah perkotaan. Pemanfaatan sumber informasi juga sangat berpengaruh dalam memberi stigma terhadap ODHA, responden dengan sumber informasi ≤ 3 jenis cenderung memberi stigma terhadap ODHA. Status ekonomi rendah juga cenderung memberi stigma terhadap ODHA. Upaya keterlibatan seluruh stakeholder untuk peningkatan keterpaparan informasi sebagai upaya promotif dan preventif dengan penyebaran informasi tentang HIV/AIDS melalui media massa, khususnya melalui koran, radio, dan televisi lokal.
Kata Kunci : Wanita Pernah Kawin, ODHA, Stigma
Read More
S-8552
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adrianus Ratu Nitit; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Evi Martha, Agus Riyanto
Abstrak:

HIV tetap menjadi tantangan besar bagi kesehatan global. Meskipun telah terjadi penurunan infeksi baru dan peningkatan akses ke pengobatan antiretroviral (ARV), tantangan signifikan masih ada. Keberhasilan terapi ARV sangat ditentukan oleh kepatuhan minum obat ARV. Klinik PDP RSUD Brebes merupakan salah satu rumah sakit umum daerah yang menjalankan pengobatan HIV/AIDS yang ada di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat Gambaran Ketidakpatuhan Minum Obat ARV Pada Pasien HIV/AIDS Lelaki Seks Lelaki (LSL) Di Klinik PDP (Perawatan Dukungan & Pengobatan) RSUD Brebes. Untuk melihat gambaran ketidak patuhan minum obat ARV berdasarkan 6 komponen Health Belief Model yaitu Modifying Factors (Faktor Modifikasi), Perceived Susceptibility (Persepsi Kerentanan), Perceived Severity (Persepsi Keseriusan), Perceived Benefits (Persepsi Manfaat), Perceived Barriers (Persepsi Hambatan), Cues to Action (Isyarat untuk Bertindak) dan Self-Efficacy (Efikasi Diri). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam. Penelitian ini menunjukkan bahwa masih ditemukan ketidakpatuhan ODHIV LSL dalam pengambil obat di RSUD dan tidak rutin dalam minum obat ARV. Faktor Modifikasi yang mendukung pasien tidak patuh dalam pengobatan diantaranya pengetahuan dan sosial ekonomi. Persepsi Kerentanan terhadap tidak rutin minum obat ARV pasien akan merasakan badan tidak bersemangat dan mudah rentan dengan muncul penyakit-penyakit lain. Persepsi keseriusan akibat tidak rutin minum obat ARV, CD4 menurun, Viral Load meningkat, terjadi resisten obat ARV dan bisa mengakibatkan kematian. Persepsi manfaat yang dirasakan dari rutin minum obat ARV tubuh tetap sehat dan produktif. Hambatan yang dialami oleh pasien diantaranya efek samping obat, biaya pengobatan, jarak, pekerjaan, konsumsi alkohol/penggunaan popers, merasa diri sudah sehat dan belum buka status HIV dengan keluarga, menggunakan alaram, pengingat dari whatssap grup, sering berdiskusi dengan sesama sebaya dan konseling rutin dari petugas kesehatan merupakan isyarat untuk bertindak demikian juga dengan keyakinan diri untuk bisa minum obat ARV secara teratur.


HIV remains a major challenge for global health. Despite a decrease in new infections and increased access to antiretroviral (ARV) treatment, significant challenges persist. The success of ARV therapy is highly dependent on adherence to ARV medication. The PDP Clinic at RSUD Brebes is one of the regional public hospitals providing HIV/AIDS treatment in Brebes Regency, Central Java. This study aims to examine the Non-Adherence to ARV Medication among HIV/AIDS Patients who are Men who have Sex with Men (MSM) at the PDP (Care, Support & Treatment) Clinic of RSUD Brebes. It aims to explore non-adherence to ARV medication based on the six components of the Health Belief Model: Modifying Factors, Perceived Susceptibility, Perceived Severity, Perceived Benefits, Perceived Barriers, Cues to Action, and Self-Efficacy. This research is a qualitative study using in-depth interviews. The study shows that non-adherence among MSM HIV patients in taking medication at RSUD is still found, and they are not consistent in taking ARV medication. Modifying factors that contribute to non-adherence include knowledge and socioeconomic status. Perceived susceptibility to not regularly taking ARV medication includes feeling unenergetic and being more susceptible to other diseases. The perceived severity of not regularly taking ARV medication includes decreased CD4 count, increased viral load, ARV drug resistance, and potential death. The perceived benefits of regularly taking ARV medication include maintaining health and productivity. Barriers experienced by patients include medication side effects, treatment costs, distance, work, alcohol consumption/poppers use, feeling healthy, and not disclosing HIV status to family. Using alarms, reminders from WhatsApp groups, frequent discussions with peers, and regular counseling from healthcare workers are cues to action, along with self-confidence to regularly take ARV medication.  Key words: HIV/AIDS, ARV Therapy, Non-compliance, MSM

Read More
S-11844
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lolita Susanti; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Rina Artining Anggorodi; Usep Solehudin
S-4248
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nency Benedicta Romauli Situmorang; Pembimbing: Rina Artining Anggorodi; Penguji: Teng Soegilar, Paul F. Matulessy
S-4536
Depok : FKM-UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Puspasari; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Besral, Laily Hanifah
Abstrak: Infeksi HIV bukan hanya mempengaruhi kesehatan fisik tetapi juga dapat mengakibatkan kecemasan atau depresi berkaitan dengan mortalitas, terapi, dan stigma, yang kemudian berdampak pada kualitas hidup. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kualitas hidup Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Rumah Sakit Bhayangkara Indramayu. Penelitian ini menggunakan rancangan studi deskriptif dan mengumpulkan sebanyak 121 responden.
 
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas hidup kurang baik (63,6%), mayoritas responden memiliki dimensi kesehatan fisik yang kurang baik yaitu (60,3%). Pada dimensi psikologis responden memiliki nilai yang kurang baik (75,2 %). Dalam dimensi interaksi sosial, mayoritas responden juga memiliki nilai yang kurang baik (57,9%). Dalam dimensi lingkungan (62,8%) nilainya kurang baik. Dari dimensi tingkat kemandirian, mayoritas responden (70,2%) nilainya kurang baik. Sedangkan dimensi spiritual, sebanyak 68 orang (56,2%) nilainya kurang baik.
 

HIV Infection not only affects physical health but also causes anxiety or depression related to mortality, therapy, and stigma, and then influence quality of life. The purpose of this study was to determine the picture quality of life of people living with HIV / AIDS (PLWHA) in Bhayangkara Hospitals Indramayu. This study used a descriptive study design and collect as much as 121 respondents.
 
The results showed that most of respondents have a poor quality of life (63.6%), more specically, all dimention the of qualiti of life majority respondents showed less than expected. Dimention of physical health, (60.3%), (75.2%), social interaction (57.9%), environmental (62.8%), level of independence (70.2%), and spiritual dimension (56.2%).
Read More
S-8809
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ghea Sugiharti; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Mieke Savitri, Yovsyah, Emah Rohaemah
T-5477
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lu`lu Nafisah; Pembimbing: Pandu Riono, Toha Muhaimin; Penguji: Gina Anindyajati, Sarikasih Harefa
Abstrak: Kepatuhan terapi di Indonesia masih dibawah 80% dan dapat berdampak pada peningkatan kejadian infeksi protozoa usus, perkembangan AIDS yang lebih cepat, resistensi obat, kegagalan terapi, dan penularan virus kepada orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dengan kepatuhan terapi ARV pada ODHA di Klinik Yayasan Angsamerah dan Angsamerah Clinic DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif meliputi pengisian kuesioner dan interview dengan pasien yang menerima ARV dan tenaga kesehatan. Sampel ditentukan dengan menggunakan purposive sampling dan diperoleh sampel sejumlah 51 orang. Tingkat pendidikan dilihat berdasarkan lama sekolah dan tingkat kepatuhan dinilai dengan metode laporan diri, hitung jumlah sisa obat, dan viral load. Berdasarkan laporan diri 66,66% ODHA memiliki kepatuhan sedang, berdasarkan hitung jumlah sisa obat 78,43% ODHA memiliki sisa obat kurang dari 3 dosis, dan 90,20% ODHA memiliki viral load yang tidak terdeteksi. Sebagian besar ODHA menempuh pendidikan selama >12 tahun (72,55%) dan tingkat pendidikan terakhir tamat sarjana (64,71%). Hasil analisis menunjukkan proporsi kepatuhan yang lebih tinggi sebesar 4,63% pada ODHA yang menempuh pendidikan >12 tahun dibandingkan dengan ODHA yang menempuh pendidikan ≤12 tahun. Pendidikan yang tinggi berperan memfasilitasi kepatuhan ODHA dalam terapi ARV melalui berbagai mekanisme yaitu ODHA akan memiliki pengetahuan yang lebih baik, mampu memahami informasi dan rekomendasi dari dokter, memiliki daya ingat yang lebih baik, memiliki lebih banyak sumber daya ekonomi termasuk pendapatan yang lebih tinggi, pekerjaan yang lebih aman dan lebih menjamin, dan sarana untuk tinggal di lingkungan yang lebih sehat yang mendukung kesehatan. Hambatan dalam terapi ARV diantaranya jadwal yang sibuk, sering berpergian, takut terungkap statusnya, informasi yang salah tentang ARV, dan penawaran obat selain ARV. Media KIE yang akurat, informatif, dan menarik, hubungan yang baik antara dokter dan pasien, dan sistem atau alat pengingat jadwal minum obat diperlukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kepatuhan terapi ARV pada ODHA.
Read More
T-5412
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive