Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35037 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Juniadi Ramli Trijati; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Ede Surya Darmawan, Lia Gardenia Partakusuma, Syafik Ahmad
Abstrak:
Pelayanan kesehatan di dunia telah berubah menuju pendekatan yang lebih berfokus pada pasien (patient-centered care) dimana secara umum dapat ditemukan pada rumah sakit di luar negeri. Sehingga manifestasi dari kondisi tersebut adalah meningkatnya fenomena wisata medis (medical tourism) di Indonesia. Salah satu upaya untuk mengantisipasi hal tersebut adalah melakukan kerja sama atau kolaborasi dengan instansi kesehatan global terbaik. Penelitian ini bertujuan menganalisa posisi kerja sama atau kolaborasi, faktor pendukung serta penghambat dan kontribusinya terhadap strategic value pada aspek peningkatan kualitas serta kapasitas SDM kesehatan dan pengembangan layanan rumah sakit. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, dimana data primer didapatkan melalui wawancara mendalam terhadap 10 informan dari berbagai tingkat serta profesi dan didukung data sekunder yang relevan. Hasil menunjukkan bahwa posisi kolaborasi antara RS Pusat Pertamina dengan Mayo Clinic berada pada tingkatan coordinating menuju cooperating, dengan sebagian elemen awal menuju collaborating. Hal ini didukung dengan temuan bahwa selama periode kerja sama tahun 2023 s/d 2024, pengembangan kualitas dan kapasitas SDM kesehatan dilakukan melalui utilisasi program kolaborasi eBoard dilakukan sebanyak empat kali diskusi, eConsult dimanfaatkan secara aktif oleh tujuh KSM, AskMayoExpert dengan dua belas topik terbanyak di akses dan Grand round terlaksana tujuh kegiatan luring. Namun program affinity group tidak terlaksana selama kerja sama berlangsung. Kemudian program pengembangan layanan kesehatan One Day Chemotherapy berhasil mengadopsi layanan Mayo Clinic berupa Cancer Patient Navigator dan melakukan sertifikasi spesifik pada petugas kesehatan layanan Heart Failure Clinic

Healthcare services worldwide have shifted toward a more patient-centered approach, which is generally found in hospitals abroad. Consequently, this shift has led to a rise in medical tourism in Indonesia. One way to address this trend is through partnerships or collaborations with leading global healthcare institutions. This study aims to analyze the status of such partnerships or collaborations, their supporting and inhibiting factors, and their contribution to strategic value in terms of improving the quality and capacity of healthcare human resources and the development of hospital services. The study employs a qualitative approach using a case study design, in which primary data was obtained through in-depth interviews with 10 informants from various levels and professions, supplemented by relevant secondary data. The results indicate that the level of collaboration between Pertamina Central Hospital and the Mayo Clinic is at the “coordinating” stage, moving toward “cooperating,” with some initial elements pointing toward “collaborating.” This is supported by the finding that during the collaboration period from 2023 to 2024, the development of the quality and capacity of healthcare human resources was carried out through the utilization of the eBoard collaboration program, which involved four discussion sessions; eConsult was actively utilized by seven clinical departments; AskMayoExpert had twelve most-accessed topics; and seven in-person Grand Rounds were held. However, the affinity group program was not implemented during the partnership. Subsequently, the One Day Chemotherapy healthcare service development program successfully adopted the Mayo Clinic’s Cancer Patient Navigator service and provided specialized certification to healthcare staff at the Heart Failure Clinic.
Read More
B-2635
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oktaviani; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Budi Hartono
S-6687
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amanda Appri Astuti; Pembimbing: Alex Papilaya; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Ameila Megraini, Heru Kusumanto
Abstrak:

Pada era globalisasi saat ini terdapat kecenderungan peningkatan kejadian tidak diharapkan (adverse event). Berdasarkan dari hal tersebut dikembangkan program untuk lebih memperbaiki proses pelayanan yang kemudian dikenal dengan program keselamatan pasien (patient safety). Namun pada kenyataannya ketika tiba pada pengaplikasian program tersebut di lapangan maka rumah sakit akan kembali menemui berbagai masalah. PSBH merupakan suatu pendekatan yang dapat membantu melaksanakan upaya pemecahan masalah yang terjadi di rumah sakit. Sasaran PSBH ada tiga hal yaitu meningkatkan mutu pelayanan, meningkatkan keselamatan pasien (patient safety) serta meningkatkan efisiensi biaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung keberhasilan pendekatan PSBH dalam meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit kemudian faktor-faktor tersebut akan dikaitkan dengan teori manajemen, teori kepemimpinan serta teori motivasi. Selain itu juga dilakukan penelitian mengenai kesinambungan kegiatan PSBH di rumah sakit. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Pusat Pertamina dan Rumah Sakit Dr.Sardjito dengan 14 informan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif yaitu wawancara mendalam dan telaah dokumen. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi yaitu membandingkan hasil penelitian dengan teori kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PSBH memiliki perencanaan kegiatan yang terstrukur dan terperinci yang disusun dalam bentuk Plan Of Action. Penyusunan POA ini sesuai dengan teori fungsi manajemen. Tipe kepemimpinan yang mendukung keberhasilan PSBH adalah kepemimpinan yang memberikan kebebasan bagi para anggota timnya untuk mengemukakan pendapat dan menitikberatkan pada diskusi kelompok. Tipe kepemimpinan ini sesuai dengan tipe kepemimpinan demokratis. Faktor pendukung motivasi yang mempengaruhi keberhasilan PSBH adalah karena rasa tanggung jawab yang dimiliki terhadap pasien. Sedangkan kegiatan PSBH sebagian besar telah berhasil disinambungkan di kedua rumah sakit dengan cara melegalkan kegiatan tersebut dalam bentuk SOP. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pendekatan PSBH tersebut dapat berhasil dikarenakan adanya perencanaan yang jelas dan terstruktur kemudian didukung dengan kepemimpinan yang demokratis dari masing-masing problem solver. Selain itu faktor tanggung jawab terhadap pasien juga mendorong keberhasilan PSBH tersebut. Sedangkan kegiatan PSBH dapat disinambungkan karena kegiatan-kegiatan tersebut dapat dirasakan manfaatnya baik bagi pasien maupun bagai tenaga kesehatan terkait.


In current globalization era theme is tendency of increasing adverse event. Based on that fact a program was developed to fix the services which is known as patient safety program. In reality, when it comes to the application of the program, hospitals will also find some difficulties. PSBH is an approach which can help to resolve a problem in hospitals. There are three aims of PSBH which are increasing the quality of services, increasing patient safety and increasing the cost efficiency in hospitals. The aim of this research is to identify the factors influencing the success of problem solving for better hospitals in increasing patient safety at hospitals. The factors will then be connected to theory of management, theory of leadership and theory of motivation. Beside that a researh is performed toward the continous activities of PSBH at hospitals. Research is performed in Rumah Sakit Pusat Pertamina and Rumah Sakit Dr.Sardjito with 14 informant Research method used is qualitative method that is indepth interview and document study. Data analysis conducted with content analysis method which is comparing the result with bibliography theory. The result of the research shows that PSBH has a structurized and well organized plan which is called Plan of Action. The arrangement of the plan of action is equivalent to the theory of management. The type of leadership influencing the success of PSBH is leadership that gives the freedom to the members of the team to give their opinion and focusing in group discussion. This type of leadership is associated to the democratic type. The motivating factor that influencing the success of PSBH is the responsibility toward patients. The continous activities of PSBH mostly have been sussessfully done by legalisation of the Standard Operating Procedure. The conclusion from this research is the success of PSBH are influenced by the well organized plan of action and supported by the democratic type of leadership from each of problem solver. Beside, the responsibility toward patient also influencing the succes of PSBH. The reason PSBH can be done continously in hospitals is because the advantages of the activities can be feel either by the patient or by the health administrator.

Read More
B-1072
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arif Riandi; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Rahmad, Heri Kurnianto
Abstrak: Proses pemulangan pasien rawat inap merupakan bagian dari seluruh rangkaianpelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien selama di rumah sakit. Pelayananyang baik dan memuaskan selama proses perawatan bisa berubah menjadipersepsi yang tidak baik apabila pada akhir proses perawatan yaitu prosespemulangan mengalami hambatan dan membuat proses pemulangan menjadisangat lama.

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa alur proses yang adasekaligus memberikan usulan perbaikan agar proses pemulangan pasien rawatinap menjadi lebih cepat. Desain penelitian ini adalah analisis kualitatif denganmetode lean thinking melalui telaah dokumen, wawancara mendalam danobservasi.

Hasil penelitian didapatkan lead time atau waktu yang dibutuhkan untuk pemulangan pasien adalah 252,4 menit (4,2 jam). Total waktu kegiatanyang bersifat value added 168 menit, sedangkan total waktu kegiatan yangbersifat non value added adalah 84,4 menit. Dari identifikasi nilai yang dilakukanterhadap alur proses pemulangan pasien ini ditemukan waste sebesar 63,6 menityang bila bisa dihilangkan akan memotong lead time menjadi 188,3 menit (3,1jam).

Keyword : lean thinking, pemulangan pasien rawat inapUniversitas Indonesia
Process of discharging hospitalized patient is part of service given by the hospital.A Good and satisfying service during hospitalization can turn into unsatisfiedperception if at the end of hospitalization there is obstacle in discharging patientand make the process longer.

This research is to analyze the process and give agood suggestion for discharging inpatient process in order to make it moreefficient. Design of this research is lean thinking method using document analysis, interview, and observation.

Result of the research indicating lead time or timeneeded for discharging patient is 252.4 minutes (4.2 hours). Total activity timewhich is value added is 168 minute, while total activity time which is non valueadded is 84.4 minute. Base on this value identification found waste value time63.6 minute can be diminished and cutting lead time to 188.4 minute (3.1hour).

Keyword : lean thinking, discharging inpatient.
Read More
B-1787
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Masfufah; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Anhari Achadi, Agus Suparyono
S-6645
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Karlina; Pembimbing: Amal C. Sjaaf, Herry Mardani; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wahyu Sulistiadi
Abstrak:
ICU Rumah Sakit Pusat Pertamina merupakan salah satu ICU dengan kapasitas besar yang terdapat di Indonesia. Fasilitas yang dimilikinya cukup lengkap, standar operasional prosedur maupun jumlah serta kompetensi tenaga kerja yang bekerja didalamnya membuat instalasi ini dapat disetarakan dengan ICU tersier yaitu ICU pada level tertinggi yang biasanya terdapat pada rumah sakit rujukan atau pendidikan yang mampu mengatasi berbagai macam kondisi kritis pasien karena lengkapnya fasilitas yang dimiliki. Akan tetapi ICU RSPP ini masih perlu mendapatkan perhatian lebih demi tujuan pelayanan yang optimal kepada pasien sesuai dengan visi dan misi RSPP kedepan. Melihat sumber daya dan kesempatan yang ada, maka pilihan model open pada sistem tata laksana pasien di ICU yang diterapkan selama ini dinilai sudah kurang sesuai hal ini disebabkan karena masih tingginya angka mortalitas, dokter intensivis maupun anestesi yang masih membagi waktunya dengan pembiusan di ruang operasi, panjangnya rantai pengambilan keputusan terapi dan masih bercampurnya antara pasien yang sungguh-sungguh membutuhkan ICU dengan pasien yang belum sepenuhnya memerlukan tindakan intensive. Oleh karena itu peneliti mencoba menemukan model manajemen pasien yang dianggap lebih sesuai, efisien dan efektif bagi pasien maupun untuk rumah sakit. Metoda yang dipilih adalah Focus Group Discussion (FGD), indepth interview dan observasi karena topik yang diangkat merupakan topik yang sangat khusus dan belum banyak penelitian tentang ICU di Indonesia, juga karena sedikitnya waktu responden untuk dapat berkumpul serta metoda ini dapat memberikan jawaban yang lebih kaya karena adanya interaksi responden. Peneliti juga melakukan studi banding di 2 (dua) rumah sakit top referral di Jakarta dan Surabaya. ICU RSPP memiliki sumber daya yang cukup besar yaitu 1 orang tenaga intensivis dan 3 orang tenaga anestesi yang siap mengikuti pelatihan intensivis, tenaga paramedis yang telah mendapat sertifikat intensive care sebanyak 75% dan terdapat 19 macam keahlian spesialis serta kapasitas jumlah tempat tidur sebanyak 22 buah membuat ICU RSPP pantas disetarakan dengan ICU tersier. Bukan hanya itu, standar prosedur tata laksana pasien telah disusun sesuai dengan semi-close model, hanya pelaksanaannya yang belum sesuai. Dari hasil FGD dan indepth interview didapatkan bahwa sebagian besar peserta FGD menyatakan komposisi tempat tidur ICU saat ini masih kurang dan perlu adanya pemisahan fungsi ICU seperti ICCU dan ICU anak. Sedangkan dari hasil indepth interview menyatakan sebagian besar jumlah tempat tidur ICU sudah cukup dan sebagian kecil menyatakan kurang, dengan terbanyak menyatakan perlu adanya pemisahan. Tentang jumlah dan kompetensi tenaga kerja sebagian besar peserta FGD menyatakan jumlah tenaga kerja dan kompetensinya dinyatakan cukup, sedangkan sebagian kecil menyatakan kurang. Untuk pertanyaan ini sengaja hanya ditanyakan pada kelompok FGD dikarenakan kelompok FGD adalah personil yang bekerja di unit ICU RSPP. Sedangkan kelompok indepth interview adalah kelompok dokter spesialis yang mengirimkan pasien ke ICU, sehingga penilaian atas kebutuhan jumlah tenaga kerja di kelompok ini kurang relevansinya. Pertanyaan selanjutnya adalah tentang siapakah yang berwenang menentukan penilaian kritis pasien yang masuk ke ICU, pada kelompok FGD seluruhnya menyatakan dokter intensivis yang berwenang sekaligus mengukuhkan perlunya kehadiran dokter intensivis tersebut di ICU. Sedangkan kelompok indepth interview sebagian besar menyatakan dokter intensivis yang berwenang, dan sebagian kecil menyatakan dokter ruangan-lah yang berwenang. Untuk menemukan jawaban pada pertanyaan apa yang lebih baik antara open model atau close-model pada kelompok FGD peneliti menggunakan teknik bertanya melalui bagaimana penentuan pasien masuk dan siapa yang bertanggung jawab, seluruh informan FGD menyatakan dokter intensivis dalam semi-close model ICU-lah yang terbaik. Sedangkan kelompok indepth interview sebagian besar menyatakan close model atau paling tidak semi-close adalah yang lebih baik dan sebagian kecil menyatakan open model-lah yang lebih cocok. Pada jawaban responden yang sebagian kecil tersebut ketika digali tentang kompetensi dokter yang merawat pasien kritis, keseluruhannnya menjawab dokter intensivis-lah yang lebih berkompeten akan tetapi pemilihan manajemen di ICU tetap diinginkan open model dengan asumsi dokter yang merawat sejak awal lebih memahami penyakitnya. Selanjutnya harapan dan saran untuk perbaikan ICU mendatang seluruh dari informan FGD maupun responden pada indepth interview menyatakan perlu adanya perbaikan yang didukung oleh adanya kebijakan dari manajemen rumah sakit. Sedangkan hasil studi banding yang telah peneliti lakukan di 2 (dua) rumah sakit top referral didapatkan hasil indikator yang lebih rendah dari hasil di Rumah Sakit Pusat Pertamina dikarenakan sebagai rumah sakit rujukan terakhir, kondisi pasien yang dirujuk seringkali berada dalam keadaan terminal atau sangat buruk. Tentu saja kondisi ini membuat angka harapan hidup pasien menjadi lebih kecil. Bila melihat kondisi kegawatan pasien yang dirawat di ICU kiranya perlu suatu nilai standar yang disepakati bersama oleh persatuan dokter intensive care sebagai tolok ukur hasil kinerja medis yang dapat dievaluasi setiap bulan atau setiap tahun. Nilai standar ini dapat pula dijadikan sebagai target pencapaian keberhasilan suatu upaya pertolongan kritis pasien. Nilai standar dapat diambil dari nilai skor kritis pasien yang digunakan untuk menilai keadaan awal pasien sebelum pasien masuk ICU. Dari keseluruhan hasil kegiatan penelitian ini di dapatkan kesimpulan bahwa pilihan semi-close model ICU menjadi pilihan yang paling sesuai yaitu dengan menempatkan dokter spesialis intensivis sebagai captain di ICU yang bekerja sama berkolaborasi dengan dokter spesialis yang merawat pasien tersebut sebelumnya. File Digital: 1
Read More
B-1129
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adhika Putra Marsaban; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Masyitoh, Lia Gardenia Partakusuma, Veronica Fridawati
Abstrak:
Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) menghadapi tantangan operasional dalam sistem penyediaan darahnya, yang ditandai dengan tingginya angka pembatalan darah, waktu tunggu layanan yang lama, dan biaya pengadaan eksternal yang signifikan, yang berpotensi menghambat pengembangan layanan unggulan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis pra-kelayakan yang komprehensif terhadap rencana pendirian Unit Pengelola Darah (UPD) di RSPP guna memberikan rekomendasi strategis berbasis bukti. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus kualitatif dengan dukungan data kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis dokumen, wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan utama, dan observasi langsung. Hasil analisis menunjukkan bahwa pendirian UPD dengan klasifikasi Madya sangat layak untuk dilaksanakan. Terdapat potensi permintaan yang sangat besar, dengan proyeksi volume gabungan untuk RSPP dan RS PELNI mencapai 28.093 kantong pada tahun 2025. Proyek ini memerlukan estimasi biaya investasi (CAPEX) sebesar Rp 10,65 miliar dan biaya operasional (OPEX) tahunan sekitar Rp 6,46 miliar. Meskipun memerlukan investasi besar, analisis finansial awal menunjukkan kelayakan yang sangat kuat dengan periode pengembalian (Payback Period) 3,22 tahun, Net Present Value (NPV) positif sebesar Rp 30,05 miliar, dan Internal Rate of Return (IRR) mencapai 34,22%. Disimpulkan bahwa proyek ini layak untuk dilanjutkan ke tahap studi kelayakan (FS) penuh, dengan fokus pada penyusunan desain teknis rinci, analisis finansial mendalam, rencana induk SDM, dan mitigasi risiko utama terkait pendanaan, teknis, sumber daya manusia, dan keberlanjutan pasokan donor.
Pertamina Central Hospital (RSPP) faces operational challenges in its blood supply system, characterized by high blood cancellation rates, long service turnaround times, and significant external procurement costs, which potentially hinder the development of its centers of excellence. This study aims to conduct a comprehensive pre-feasibility analysis of the plan to establish a Blood Management Unit (UPD) at RSPP to provide evidence-based strategic recommendations. This research employed a qualitative case study method supported by quantitative data. Data was collected through document analysis, in-depth interviews with key stakeholders, and direct observation. The results indicate that the establishment of an Intermediate (Madya) classification UPD is highly feasible. There is significant potential demand, with a projected combined volume for RSPP and PELNI Hospital reaching 28,093 bags in 2025. The project requires an estimated investment cost (CAPEX) of IDR 10.65 billion and annual operational costs (OPEX) of approximately IDR 6.46 billion. Despite the large investment, the preliminary financial analysis shows very strong viability with a Payback Period of 3.22 years, a positive Net Present Value (NPV) of IDR 30.05 billion, and an Internal Rate of Return (IRR) of 34.22%. It is concluded that the project is feasible to proceed to a full Feasibility Study (FS) stage, with a focus on detailed engineering design, in-depth financial analysis, a human resources master plan, and mitigation of key risks related to funding, technical aspects, human resources, and the sustainability of donor supply.

Read More
T-7384
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Weny Rinawati; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Andi Basuki Prima B., Kemal Imran
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Weny Rinawati Program Studi : Kajian Administrasi Rumah Sakit Judul : Analisis biaya perawatan stroke berdasarkan Clinical Pathway di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta dalam pelayanan pasien Jaminan Kesehatan Nasional Latar belakang. Masalah yang sering dihadapi pada pelayanan pasien Jaminan Kesehatan Nasional adalah kesenjangan biaya perawatan pasien stroke dengan tarif INA-CBGs. Hal ini terkait dengan biaya perawatan dan Clinical Pathway. Tujuan. Mengetahui biaya perawatan pasien stroke di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Metoda. Penelitian kuantitatif deskriptif mengikutsertakan 277 subjek penyakit stroke yang diperoleh di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta selama Januari – Juni 2015. Biaya perawatan stroke dihitung berdasarkan biaya satuan (unit cost) dengan menggunakan metode activity based costing dan Clinical Pathway. Hasil. Biaya satuan perawatan stroke iskemik dan stroke hemoragik berdasarkan Clinical Pathway, dengan memperhitungkan biaya investasi dan biaya gaji, tanpa memperhitungkan jasa medis berturut-turut adalah Rp 311,860,860.83 dan Rp 585,083,610.01; dengan memperhitungkan biaya investasi, biaya gaji, dan jasa medis berdasarkan tarif rumah sakit adalah Rp 321,682,940.73 dan Rp598,929,450.01; dengan memperhitungkan biaya investasi, biaya gaji, dan jasa medis berdasarkan tarif IDI adalah Rp 318,360,860.73 dan Rp 594,333,610.01; tanpa memperhitungkan biaya investasi, biaya gaji, dan jasa medis adalah Rp30,361,681.00 dan Rp25,698,199.46; tanpa memperhitungkan biaya investasi dan biaya gaji, tetapi memperhitungkan jasa medis berdasarkan tarif rumah sakit adalah Rp 40,183,761.00 dan Rp 39,544,199.46; tanpa memperhitungkan biaya investasi dan biaya gaji, tetapi memperhitungkan jasa medis berdasarkan IDI adalah Rp 36,861,681.00 dan Rp 34,948,199.46. Simpulan: Dijumpai selisih biaya perawatan berdasarkan biaya satuan dan Clinical Pathway, baik yang memperhitungkan biaya investasi, gaji, dan jasa medis, maupun tanpa memperhitungkan biaya investasi, gaji, dan jasa medis, dengan tarif layanan existing dan tarif INA-CBGs Kata kunci : biaya, Clinical Pathway, INA-CBGs, stroke


ABSTRACT Name : Weny Rinawati Study Program : Hospital Administration Title : Cost of stroke treatment based on Clinical Pathway in National Brain Center Hospital, Jakarta Background. Problem often encountered in patient care National Health Insurance is the gap between the cost of stroke treatment with INA-CBGs tariff. This is related to the cost of treatment and the Clinical Pathway. Aim. Knowing the cost of stroke treatment in the National Brain Center Hospital Jakarta. Methods. Descriptive quantitative study involving 277 subjects stroke obtained at the National Brain Center Hospital Jakarta during January - June 2015. The cost of stroke treatment are calculated based on the unit cost using activity-based costing method and Clinical Pathway. Results. The unit cost of ischemic stroke and hemorrhagic stroke treatment by Clinical Pathway, taking into account investment costs and salary costs, regardless of medical services is IDR 311,860,860.83 and IDR 585,083,610.01; taking into account investment cost, salary cost, and medical services tariff based hospital is IDR 321,682,940.73 and IDR 598,929,450.01; taking into account investment cost, salary cost, and medical services tariff based IDI is IDR 318,360,860.73 and IDR 594,333,610.01; without taking into account investment cost, salary cost, and medical services are IDR 30,361,681.00 and IDR 25,698,199.46; without taking into account the investment cost and salary cost, but taking into account medical services tariff based hospital is IDR 40,183,761.00 and IDR 39,544,199.46; without taking into account the investment cost and salary cost, but taking into account medical services tariff based IDI is IDR 36,861,681.00 and IDR 34,948,199.46. Conclusion. Found difference in the cost of stroke treatment is based on unit cost and Clinical Pathway, both of which take into account the investment, salaries, and medical services cost, and without taking into account investment, salaries, and medical services cost, with existing services and tariff rates INA-CBGs Keywords: Clinical Pathway, cost, INA-CBGs, stroke

Read More
B-1786
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deastri Pratiwi; Pembimbing: Kurniasari; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Atik Nurwahyuni, Amilla Megraini, Mardalena
Abstrak: Abstrak
Penelitian ini menganalisis faktor-faktor apa saja yang dipertimbangkan bagian kepegawaian perusahaan langganan dalam membeli Layanan Medical Check Up Rumah Sakit Pusat Pertamina Tahun 2012. Penelitian ini juga menentukan faktorfaktor apa saja yang berperan paling besar sebagai pertimbangan bagian kepegawaian perusahaan langganan dalam membeli layanan Medical Check Up RSPP Tahun 2012. Dalam penelitian ini digunakan 31 (tiga puluh satu) variabel dengan populasi penelitian perusahaan pelanggan MCU RSPP yang telah menjalin kerjasama dengan MCU RSPP selama 2 (dua) tahun berturut- turut yaitu tahun 2011- 2012 sebanyak 88 (delapan puluh delapan) perusahaan. Sebanyak 45 (empat puluh lima) perusahaan sebagai responden yang diambil dengan teknik purposive sampling. Metode Principal Component Analysis (PCA), menghasilkan 6 (enam) faktor yang dipertimbangkan bagian kepegawaian perusahaan langganan dalam membeli Layanan Medical Check Up Rumah Sakit Pusat Pertamina Tahun 2012 dan mampu menjelaskan 25 variabel dalam data, yaitu sebesar 79,3 persen. Keenam faktor tersebut adalah Faktor 1 (Alat Promosi yang Menarik dan Informatif), memiliki eigen value sebesar 10,077 dan variansi sebesar 40,3 persen. Faktor 2 (Kecukupan Tersedianya Tempat Parkir) memiliki eigen value sebesar 2,719 dan variansi sebesar 10,8 persen. Faktor 3 (Mutu Produk) memiliki eigen value sebesar 2,062 dan variansi sebesar 8,2. Faktor 4 (Kesesuaian Harga) memiliki eigen value sebesar 1.487 dan variansi sebesar 5,9 persen. Faktor 5 (Ketepatan penerimaan hasil Pemeriksaan) memiliki eigen value sebesar 1,305 variansi sebesar 5,2 persen. Faktor 6 (Transportasi menuju Rumah Sakit) memiliki eigen value sebesar 1,026 dan variansi sebesar 4,1 persen. Ketepatan model yang dihasilkan berdasarkan hasil estimasi matriks faktor adalah sebesar 38 persen atau sebanyak 115 residual dengan nilai absolut di atas 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa model memiliki ketepatan sebesar 62 persen pada tingkat penyimpangan 5 persen.
 

The problems derived from the study - be that as it may, were the factors considered by the clientele of Human Resources Departments In Subscribing to Medical Check-Up Service of Pertamina Central Hospital in 2012. The purpose of this study was to analyze and determine the most affecting factors as far as clients are concerned due to their commitment and preferences in proceeding with the Medical Check-Up of Pertamina Central Hospital in 2012. In order to decide the most dominant variables representing each factor established and in conjunction to assess the other remaining variables included in the fully-formed dominant factors, this study picked out 31 (thirty-one) variables and the population, namely the existing customers of RSPP’s MCU service who have worked closely over the past 2 (two) consecutive years, 2011-2012. The mass of the addressed population comprised of 88 (eighty-eight) companies and the quantity of the respondents taken as study sample were narrowed down to 45 (forty-five) companies altogether and conducted by purposive sampling techniques. The Principal Component Analysis (PCA) method, resulting 6 (six) factors that were taken into consideration by the Human Resources Departments of existing customers in trying out the Medical Check-Up services provided by Pertamina Central Hospital in 2012 and were able to explain 25 (twenty-five) variables in data, which amounted to 79,3 percent. The 6 (six) underlying factors as previously mentioned were Factor 1 (Informative and Attractive Promotional Tools) with 10.077 eigen value and 40,3 percent variance. Factor 2 (The Parking Space Availability) with 2,719 eigen value and 10,8 percent variance. Factor 3 (Product Quality), with 2,062 eigen value and 8,2 percent variance. Factor 4 (Price Reasonability/Affordability), with 1,487 eigen value and 5,9 percent variance. Factor 5 (Punctuality of Examination Results), with 1,026 eigen value and 4.1 percent variance. Last but not least, Factor 6 (Transportation Means to the Hospital), with 1,026 percent of eigen value and a 4,1 percent variance. All the model precision generated were based on the size of residuals, which is the difference from the produced correlations; in accordance to the matrix estimation outcome, the factor was as large as 38 percent or as many as 115 residuals, with absolute significance value above 0,05. These numbers statistically showed that the model had performed accuracy of 62 percent by 0,05 deviation, or 5 percent so to speak/per se.
Read More
B-1464
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indri Permanasari; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Jaslis Ilyas, Vetty Yulianty Permanasari, Eka Musridharta, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kolaborasi antar profesi kesehatan di Instalasi Rawat Intensif RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Jumlah sampel 110 orang dari berbagai profesi yang bertugas di Instalasi Rawat Intensif RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta selama bulan November 2023. Kuesioner AITCS II digunakan untuk menilai tingkat kolaborasi dan Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menilai faktor-faktor yang dianggap berhubungan dengan kolaborasi seperti Budaya Organisasi, Komunikasi, Penghargaan dan Kepercayaan, Peran dan Tanggung Jawab, Ketersediaan Waktu dan Sumber daya, Dukungan Manajemen dan Kepemimpinan. Hasilnya menunjukkan tingkat kolaborasi baik dengan rata-rata skor AITCS II sebesar 4,14. Kesimpulan : Budaya organisasi, komunikasi, dan pemahaman terhadap peran dan tanggung jawab mempengaruhi secara signifikan terhadap kolaborasi antar profesi. Temuan ini menjadi masukan bagi rumah sakit untuk meningkatkan efektivitas layanan kesehatan dengan mengoptimalkan peran dan tanggung jawab tenaga kesehatan di rumah sakit. Budaya kolaboratif dan komunikasi efektif juga menjadi kunci dalam meningkatkan hasil perawatan pasien.

This research aims to identify factors that influence collaboration between health professionals at the RSPON Prof. Intensive Care Installation. Dr. Dr. Mahar Mardjono Jakarta. This research uses a cross sectional design with a quantitative approach. The total sample is 110 people from various professions who work at the RSPON Prof. Intensive Care Installation. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta for November 2023. The AITCS II questionnaire was used to assess the level of collaboration and Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS) to assess factors considered to be related to collaboration such as Organizational Culture, Communication, Respect and Trust, Roles and Responsibilities, Availability of Time and Resources power, Management and Leadership Support. The results show a good level of collaboration with an average AITCS II score of 4.14. Organizational culture, communication, and understanding of roles and responsibilities significantly influence collaboration between professions. These findings provide input for hospitals to improve the effectiveness of health services by optimizing the roles and responsibilities of health workers in hospitals. A collaborative culture and effective communication are also key to improving patient care outcomes.
Read More
B-2435
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive