Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38447 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Leo Pratama Agung; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Rico Kurniawan, Amal Chalik Sjaaf, Nuzelly Husnedi
Abstrak:
Transformasi digital melalui penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) memerlukan mekanisme autentikasi dokumen yang sah, aman, dan efisien. Tanda Tangan Elektronik (TTE) tersertifikasi menjadi bagian penting dalam menjamin keabsahan dokumen medis sekaligus mendukung efisiensi dan efektivitas proses pengajuan klaim BPJS Kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi TTE pada RME dalam proses pengajuan klaim BPJS Kesehatan di RSU Mutiasari berdasarkan pendekatan 5M (Man, Money, Material, Market, dan Machine), mengidentifikasi kendala dan peluang implementasi, serta mengevaluasi dampaknya terhadap indikator kinerja rumah sakit. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental before-after dengan pendekatan mixed method. Pendekatan kuantitatif dilakukan terhadap 43 tenaga medis pengguna TTE yang dipilih secara purposive sampling serta melalui analisis data sekunder sebelum dan sesudah implementasi TTE, sedangkan pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi TTE memberikan dampak positif terhadap proses pengajuan klaim BPJS Kesehatan. Waktu pengiriman klaim menurun dari rata-rata 53 hari menjadi 39 hari atau lebih cepat 26,4%. Biaya tenaga kerja tim casemix menurun dari Rp714.000.000 menjadi Rp552.000.000 per tahun atau lebih efisien 22,69%. Implementasi TTE juga menurunkan penggunaan alat tulis kantor dan biaya percetakan, meningkatkan kepatuhan penggunaan TTE, serta menurunkan angka pending claim. Temuan kualitatif menunjukkan bahwa TTE mempermudah validasi dokumen oleh dokter, mengurangi ketergantungan pada proses manual, dan mempercepat alur administrasi klaim. Namun, implementasi masih menghadapi kendala berupa gangguan jaringan dan sistem, adaptasi pengguna, serta persoalan legalitas pada tahap awal penerapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi TTE dipengaruhi oleh keterpaduan kesiapan sumber daya manusia, dukungan pembiayaan, pengurangan penggunaan material fisik, kerja sama dengan pihak eksternal, dan keandalan infrastruktur teknologi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi TTE tersertifikasi yang terintegrasi dengan RME di RSU Mutiasari berjalan efektif dan efisien dalam mendukung proses pengajuan klaim BPJS Kesehatan.

Digital transformation through the implementation of Electronic Medical Records (EMRs) requires a valid, secure, and efficient document authentication mechanism. Certified Electronic Signatures (ES) play an important role in ensuring the legal validity of medical documents while supporting the efficiency and effectiveness of the BPJS Kesehatan claim submission process. This study aimed to analyze the implementation of ES in EMRs for the BPJS Kesehatan claim submission process at Mutiasari General Hospital using the 5M approach (Man, Money, Material, Market, and Machine), identify implementation barriers and opportunities, and evaluate its impact on hospital performance indicators. This study employed a quasi-experimental before-and-after design with a mixed-methods approach. The quantitative approach involved 43 medical professionals who used ES and were selected through purposive sampling, as well as an analysis of secondary data before and after ES implementation. The qualitative approach involved semi-structured interviews and document reviews. The results showed that ES implementation had a positive impact on the BPJS Kesehatan claim submission process. The average claim submission time decreased from 53 days to 39 days, representing a 26.4% improvement. Annual casemix team personnel costs decreased from IDR 714,000,000 to IDR 552,000,000, representing a 22.69% efficiency gain. ES implementation also reduced office stationery use and printing costs, increased compliance with ES use, and reduced the pending claim rate. Qualitative findings indicated that ES facilitated document validation by physicians, reduced dependence on manual processes, and accelerated claim administration workflows. However, implementation still faced challenges related to network and system disruptions, user adaptation, and legal issues during the initial implementation phase. The findings indicate that successful ES implementation is influenced by the integration of human resource readiness, financial support, reduced use of physical materials, collaboration with external stakeholders, and reliable technological infrastructure. This study concludes that the implementation of certified ES integrated with EMRs at Mutiasari General Hospital is effective and efficient in supporting the BPJS Kesehatan claim submission process.
Read More
B-2636
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amelia Intan Atthahirah; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Aprizal
Abstrak:
Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komponen kesiapan RSUD Cileungsi dalam implementasi rekam medis elektronik pada tahun 2023. Penelitian ini adalah penelitian analitik kuantitatif dengan metode survei menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada 42 responden. Responden adalah staf yang berperan dan terlibat dalam implementasi rekam medis elektronik dan menggunakan teknik total sampling. Data yang terkumpul kemudian ditabulasi menjadi tabel distribusi frekuensi dan dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling Partial Least Square untuk membentuk model kesiapan sebagai variabel laten. Hasil penelitian menunjukkan RSUD Cileungsi telah cukup siap dalam implementasi rekam medis elektronik berdasarkan skor total kesiapan dan dengan rincian sebanyak 66% responden memberikan nilai cukup siap. Pada persamaan struktural model yang dibentuk, komponen budaya kerja organisasi dan komponen sumber daya manusia berhubungan signifikan pada kesiapan rekam medis elektronik sedangkan komponen infrastruktur dan komponen tata kelola memiliki hubungan yang tidak signifikan. Hasil penelitian menujukkan masih tersedianya ruang untuk perbaikan dan pengembangan RME dengan fokus pada komponen budaya kerja organisasi dan komponen sumber daya manusia.

This study aims to analyze of RSUD Cileungsi’s readiness of each component in implementing electronic medical records in 2023. This study is a quantitative analytic study with a survey method using a questionnaire distributed to 42 respondents. Respondents are staff who play a role and are involved in the implementation of electronic medical records and sample are chosen using the total sampling technique. The collected data were then tabulated into a frequency distribution table and analyzed using the Structural Equation Modeling Partial Least Square method to form a readiness model as a latent variable. The results showed that RSUD Cileungsi was quite ready in implementing electronic medical records based on the total readiness score and with details as many as 66% of respondents gave a score of quite ready. In the structural equation model formed, the organizational work culture component and the human resources component have a significant relationship to the readiness of electronic medical records while the infrastructure component and the governance component have an insignificant relationship. The results indicate that there is still room for improvement and development of RME with a focus on the organizational work culture component and the human resources component.
Read More
B-2365
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jean Francis Melanny Kassiuw; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Atik Nurwahyuni, Pujiyanto, Indri M. Bunyamin, RB. Wahyu
Abstrak:
Rekam Medis Elektronik (RME) muncul sebagai inovasi terkini di bidang kesehatan, menjawab tantangan yang dihadapi oleh sistem rekam medis tradisional berbasis kertas. Kombinasi ilmu pengetahuan dan teknologi modern membentuk fondasi bagi pengembangan RME. Kelebihan RME mencakup efisiensi, aksesibilitas, dan keamanan data pasien, memberikan solusi holistik untuk meningkatkan pengelolaan informasi kesehatan di era digitalisasi saat ini. Penelitian ini menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) sebagai dasar teori, dan bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara implementasi RME dengan efisiensi pelayanan di instalasi rawat jalan RSUD Kebayoran Lama. Desain penelitian yang digunakan adalah non-eksperimental dengan pendekatan kuantitatif, memanfaatkan data numerik untuk analisis statistik. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data terkait implementasi RME dan efisiensi pelayanan melalui pengisian kuesioner oleh user sebagai responden, wawancara dengan stakeholders, serta telaah dokumen yang berkaitan dengan implementasi RME. Hasil dari penelitian ini didapatkan adanya hubungan signifikan antara persepsi kemanfaatan penggunaan RME dengan motivasi (p-value 0,000), motivasi dengan implementasi RME (p-value 0,000) dan implementasi RME dengan efisiensi pelayanan (p-value 0,000). Namun tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi kemanfaatan dengan implementasi RME (p-value 0,366) dan ketersediaan infrastruktur dengan implementasi RME (p-value 0,666). Temuan ini memberikan wawasan penting dalam merancang strategi implementasi RME yang lebih efektif di lingkungan RSUD Kebayoran Lama, dengan fokus pada meningkatkan motivasi pengguna untuk mengimplementasikan RME dengan lebih optimal, sehingga dapat meningkatkan efisiensi pelayanan di RSUD Kebayoran Lama.

Electronic Medical Record (EMR) emerged as the latest innovation in the field of healthcare, addressing the challenges faced by traditional paper-based medical record systems. The combination of modern science and technology forms the foundation for the development of EMR. The advantages of EMR include efficiency, accessibility, and security of patient data, providing a holistic solution to improve the management of health information in the current digitalization era. This study uses the Technology Acceptance Model (TAM) as the theoretical basis, and aims to evaluate the relationship between the implementation of EMR and service efficiency in the outpatient installation of RSUD Kebayoran Lama. The research design used is non-experimental with a quantitative approach, utilizing numerical data for statistical analysis. This study was conducted by collecting data related to the implementation of EMR and service efficiency through the completion of questionnaires by users as respondents, interviews with stakeholders, and document review related to the implementation of EMR. The results of this study found a significant relationship between the perceived usefulness of using EMR with motivation (p-value 0.000), motivation with EMR implementation (p-value 0.000), and EMR implementation with service efficiency (p-value 0.000). However, there was no significant relationship between perceived usefulness and EMR implementation (p-value 0.366) and infrastructure availability with EMR implementation (p-value 0.666). These findings provide important insights in designing more effective EMR implementation strategies in the RSUD Kebayoran Lama environment, with a focus on increasing user motivation to implement EMR more optimally, so that it can improve service efficiency in RSUD Kebayoran Lama.
 
Read More
B-2430
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shafira Ninditya; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Adang Bachtiar, Masyitoh Bashabih, Heldi Nazir, Adhi Yuniarto Laurentius Yohanes
Abstrak:
Peraturan Menteri Kesehatan RI No.24 tahun 2022 tentang Rekam Medis mewajibkan setiap fasilitas kesehatan untuk menyelenggarakan rekam medis elektronik. Rumah Sakit Permata Depok telah memiliki aplikasi rekam medis elektronik sejak Juli 2019, namun hingga tahun 2022 kemajuan implementasi RME secara keseluruhan baru mencapai 57%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi implementasi RME di Rumah Sakit Permata Depok pada tahun 2022 sebagai bahan rancangan strategi untuk optimalisasi implementasi RME. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif melalui kuisioner modifikasi DOQ-IT, check list observasi, observasi langsung, Diskusi Kelompok Terarah (DKT), dan wawancara mendalam. Hasil penelitian ini menghasilkan usulan kebijakan untuk implementasi RME di Rumah Sakit Permata Depok. Hasil interpretasi kuisioner menunjukkan Rumah Sakit Permata Depok sudah cukup siap dalam implemetasi RME, namun masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki yaitu alur proses pengadaan fitur RME dari pihak vendor SIMRS, komunikasi antar manajemen dan PPA untuk pengisian RME, pembuatan petunjuk teknis RME untuk seluruh PPA dari pihak TI, penambahan SDM, dan masih ada sarana yang bisa dipenuhi oleh pimpinan. Tindak lanjut jangka pendek yang dapat dilakukan yaitu membuat SPO dan petunjuk teknis manual di setiap unit, mengadakan fitur privasi, dan meningkatkan koordinasi antar unit untuk pelatihan PPA. Tindak lanjut jangka panjangnya berkaitan dengan anggaran yaitu melakukan pengambilalihan sistem RME setelah dilakukan penambahan programmer dalam tim TI sehingga modifikasi RME dapat dilakukan oleh internal rumah sakit.

Indonesian Ministry of Health Regulation No. 24 in 2022 obligates every health facility in Indonesia to implement Electronic Medical Records (EMR). Permata Depok Hospital has had EMR since July 2019, but until 2022 the overall progress of implementing EMR has only reached 57%. The purpose of this study is to evaluate the implementation of EMR at Permata Depok Hospital in 2022 as material for designing strategies for optimizing RME implementation. This research was conducted in a descriptive analytic manner with a qualitative approach through modified DOQ-IT questionnaires, observation checklists, direct observations, focus group discussions (FGDs), and in-depth interviews. The results of this study resulted in policy proposals for the implementation of EMR at Permata Depok Hospital. The results of the questionnaire interpretation show that Permata Depok Hospital is quite ready for EMR implementation, but there are still a number of things that needs to be improved, namely the EMR feature procurement process flow from the HIS vendor, communication between management and user for filling in EMR, making EMR technical instructions for all user from the IT side, additional human resources, and there are still facilities that can be fulfilled by the leadership. Short-term activation that can be done is to make manual book instructions for each unit, provide privacy EMR features, and improve coordination between units for user training. The long-term activation is related to the company budget, namely taking over the EMR system after adding programmers to the IT team so that RME modifications can be carried out internally in the hospital.
Read More
B-2311
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edy Gunawan; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Adang Bachtiar, Purnawan Junadi, Desak Gede Christina, Lies Nugrohowati
Abstrak:
Latar Belakang: Pemerintah sejak tahun 2022 telah mendorong seluruh rumah sakit di Indonesia untuk menerapkan RME guna memberikan layanan kesehatan yang lebih baik melalui digitalisasi sistem kesehatan. Penerapan RME di unit rawat inap MRCCC Siloam Hospitals Semanggi telah berjalan sekitar 6 bulan sejak awal tahun 2023. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi formatif terhadap penerapan RME di unit tersebut melalui parameter kepuasan dan cakupan penggunaan RME serta penelusuran faktor-faktor individu dan organisasi yang berperan. Metode: Kuesioner daring dibagikan kepada 140 dokter dan perawat di unit rawat inap yang terpilih melalui simple random sampling. Kuesioner memuat pertanyaan mengenai data demografis, pengukuran kepuasan yang diadaptasi dari End User Computing Satisfaction (EUCS), dan cakupan penggunaan RME. Wawancara mendalam dilakukan kepada 7 informan terpilih (direktur utama, direktur medis, direktur keperawatan, 2 dokter, dan 2 perawat). Analisis data kuantitatif dilakukan di SPSS 25 menggunakan uji T tidak berpasangan dan One-way ANOVA. Analisis konten dilakukan pada hasil wawancara mendalam. Hasil: Rerata skor kepuasan responden penelitian ini adalah 3,43 ± 0,88 sementara cakupan penggunaan mencapai 74,7%. Aspek RME yang mendapatkan skor kepuasan terendah adalah kemudahan penggunaan yang sesuai dengan hasil wawancara mendalam, yaitu banyaknya pengeklikan yang harus dilakukan. Manajemen rumah sakit telah berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur meskipun masih terdapat ruang untuk perbaikan ke depannya. Simpulan: Implementasi RME di unit rawat inap MRCCC Siloam Hospitals Semanggi tahun 2023 cukup berhasil di tingkat individu, namun belum di tingkat organisasi. Diperlukan perbaikan sistem RME dan peningkatan sumber daya IT guna meningkatkan keberhasilan implementasi RME di unit tersebut.

Background: The implementation of EMR at the inpatient units in MRCCC Siloam Hospitals Semanggi has been going on for around 6 months since the beginning of 2023. This study aimed to conduct a formative evaluation of the implementation using parameters such as users’ satisfaction and adoption of EMR, as well as individual and organizational factors which influenced the outcome. Method: Online questionnaire was given out to 140 doctors and nurses at inpatient units, selected through simple random sampling method. The questionnaire contained demographic characteristics, agreement statements about satisfaction adapted from EUCS (End User Computing Satisfaction), and question about EMR adoption. In-depth interviews were conducted with 7 chosen informants (general director, medical director, nursing director, 2 doctors, and 2 nurses). Quantitative data analysis was conducted in SPSS 25 using unpaired T-test or One-way ANOVA. Qualitative data was analysed using content analysis. Results: The mean satisfaction score of the respondents was 3,43 ± 0,88 while the overall adoption rate was 74,7%. Ease of use received the lowest satisfaction score, which was supported by findings from the interviews, i.e. the system required too many clicks. The hospital managers had attempted to improve the quality and quantity of infrastructure although there was still room for improvement. Conclusion: The implementation of EMR at the inpatient units in MRCCC Siloam Hospitals Semanggi was successful at the individual level, but unsuccessful at the organizational level. It would be beneficial to make constant improvements on the EMR itself and increase the number of staff at the IT department.
Read More
B-2340
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sofia Arditya Kustiyanti; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Ede Surya Darmawan, Jaslis Ilyas, Mira Roziati Dachlan, Anhari Achadi
Abstrak:
Teknologi informasi memberikan dampak pelayanan kesehatan yang lebih baik dan berkualitas tinggi. Rekam medis elektronik merupakan salah satu terobosan teknologi di bidang kesehatan, yang digunakan oleh dokter di fasilitas kesehatan, namun belum semua dokter menggunakannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja dokter dalam penerapan rekam medis elektronik di RS Permata Cibubur melalui pendekatan model HOT- Fit. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, kemudian dilakukan wawancara mendalam terhadap informan. Teknik analisis data menggunakan analisis jalur untuk melihat hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan kinerja dokter dalam penerapan RME di RS Permata Cibubur dalam kategori sedang, terdapat hubungan antara faktor teknologi RME dengan pengguna RME, terdapat hubungan antara faktor teknologi RME terhadap organisasi RS, terdapat hubungan antara pengguna RME dengan kinerja dokter, terdapat hubungan tidak langsung antara teknologi RME dengan kinerja dokter melalui pengguna RME, dan tidak terdapat hubungan antara faktor organisasi RS dengan kinerja dokter. Saran dari penelitian ini agar RS lebih mengoptimalkan faktor teknologi yaitu kualitas sistem, kualitas informasi dan kualitas pelayanan agar dokter meningkat kepuasan dan penggunaan sistem RME sehingga meningkatkan kinerja dokter dalam penerapan rekam medis elektronik.

Information technology has an impact on better and high-quality health services. Electronic medical records are one of the technological breakthroughs in the health sector, which are used by doctors in health facilities, but not all doctors use them. This study aims to determine the performance of doctors in electronic medical record standards at Permata Cibubur Hospital through the HOT-Fit model approach. This study is a quantitative study with a cross- sectional approach, then in-depth interviews were conducted with informants. The data analysis technique uses path analysis to see the relationship between variables. The results of the study showed that the performance of doctors in implementing EMR at Permata Cibubur Hospital was in the moderate category, there was a relationship between EMR technology factors and EMR users, there was a relationship between organizational EMR technology factors and hospitals, there was a relationship between EMR users and doctor performance, there was an indirect relationship between EMR technology and doctor performance through EMR users, and there was no relationship between hospital organizational factors and doctor performance. The suggestion from this study is for hospitals to optimize technology factors, namely system quality, information quality and service quality so that doctors increase satisfaction and use of the EMR system so as to improve doctor performance in implementing electronic medical records.
Read More
B-2510
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Ayu Indira Sarasija Kamajaya; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Popy Yuniar, Panca Hadi Putra, Putu Ayu Sri Murcittowati, Budi Matuwi W
Abstrak:
Latar Belakang: Penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) di rumah sakit menuntut kesiapan sistem yang handal untuk menjamin kelangsungan pelayanan kesehatan. Kenyataannya gangguan sistem yang menyebabkan henti waktu (downtime) tidak terencana masih menjadi tantangan serius yang berpotensi mengancam keselamatan pasien, menurunkan mutu layanan, dan menimbulkan kerugian operasional. RSUD Wangaya Kota Denpasar sebagai rumah sakit tipe B Pendidikan telah mengimplementasikan RME sejak tahun 2022, namun masih menghadapi kendala teknis yang berulang pada berbagai instalasi pelayanan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan RME pada situasi henti waktu tidak terencana di RSUD Wangaya Kota Denpasar dengan pendekatan kerangka Human-Organization-Technology-Fit (HOT-Fi)t. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 11 informan yang terdiri dari manajemen rumah sakit, Kepala Instalasi Rekam Medis, Kepala Instalasi SIMRS, petugas administrasi dan kasir, serta petugas kesehatan. Data juga diperoleh melalui telaah dokumen (Peraturan Direktur, Standar Prosedur Operasional, dan alur pelayanan) serta observasi lapangan. Analisis data menggunakan metode reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil: Pada periode April-Mei 2026 tercatat 15 kejadian gangguan yang berpotensi menyebabkan downtime tidak terencana. Kategori gangguan perangkat komputer dan jaringan, diikuti gangguan aplikasi RME. Lokasi terbanyak terjadi di Poli Endokrin Dewasa dan IGD. Pada aspek manusia, pemahaman petugas terhadap downtime sudah baik namun kesiapan prosedural petugas administrasi dan kasir masih rendah. Aspek organisasi menunjukkan koordinasi antar unit berjalan efektif melalui grup komunikasi, namun regulasi internal (Peraturan Direktur dan SPO) belum mengatur penanganan downtime tidak terencana secara spesifik. Aspek teknologi mengungkapkan bahwa infrastruktur fisik pendukung telah tersedia, namun infrastruktur inti (jaringan, storage, perangkat keras) masih lemah sehingga gangguan tetap dominan. Aspek net benefit menunjukkan bahwa dampak negatif terhadap mutu dan efisiensi layanan masih lebih dominan dibandingkan manfaat positif yang dirasakan. Kesimpulan: Pengelolaan RME pada situasi henti waktu tidak terencana di RSUD Wangaya Kota Denpasar belum berjalan optimal karena terdapat kelemahan pada ketiga dimensi HOT-Fit. Pada aspek organisasi, menunjukkan belum lengkapnya regulasi internal yang menjadi landasan prosedur darurat. Diperlukan penyempurnaan Peraturan Direktur dan SPO penanganan downtime tidak terencana, penguatan infrastruktur teknologi inti, serta peningkatan kapasitas petugas melalui pelatihan dan simulasi berkala untuk meminimalkan dampak negatif dan menjaga keberlanjutan manfaat RME.

Background: The adoption of Electronic Medical Record (EMR) in hospital settings necessitates a dependable system to ensure uninterrupted healthcare delivery. However, unplanned system downtime remains a persistent challenge that poses potential threats to patient safety, compromises service quality, and generates operational losses. RSUD Wangaya Kota Denpasar, a type B teaching hospital, fully implemented an EMR system in 2022, yet it continues to encounter recurring technical difficulties across multiple service units. Objective: This study sought to examine the management of EMR during unplanned downtime events at RSUD Wangaya Kota Denpasar, utilizing the Human-Organization-Technology-Fit (HOT-Fit) framework as the analytical lens. Methods: A qualitative descriptive design with a case study approach was employed. Data collection was conducted through in-depth interviews with 11 informants representing hospital management, the Head of the Medical Records Department, the Head of the Hospital Information System Department, administrative and cashier staff, and healthcare professionals. Additional data were gathered through document reviews of the Director's Regulation, Standard Operating Procedure (SOP), service flow documents, and direct field observations. Data analysis followed a systematic process encompassing data reduction, data display, and conclusion. Results: During the period from April to May 2026, 15 incidents with the potential to cause unplanned downtime were documented. Computer hardware and network disruptions constituted the predominant category, followed by EMR application failures. The highest frequency of occurrences was observed at the Adult Endocrinology Clinic and the Emergency Department. Regarding human factors, staff comprehension of downtime procedures was generally adequate, yet procedural readiness among administrative and cashier personnel remained insufficient. From an organizational standpoint, inter-unit coordination demonstrated effectiveness through available communication channels, although internal regulatory instruments, including the Director's Regulation and SOP, did not yet explicitly address unplanned downtime protocols. The technological dimension revealed that while supporting physical infrastructure was in place, core components such as network connectivity, data storage, and hardware continued to exhibit vulnerabilities, thereby perpetuating the recurrence of system failures. The net benefit analysis indicated that the adverse consequences on service quality and operational efficiency continued to outweigh the perceived advantages. Conclusion: The management of EMR during unplanned downtime at RSUD Wangaya Kota Denpasar has yet to achieve optimal performance, with shortcomings identified across all three HOT-Fit dimensions. The most critical deficiency resides within the organizational dimension, marked by the incompleteness of internal regulations that should serve as the foundation for emergency protocols. Remedial measures are urgently required, including the revision of the Director's Regulation, the formulation of comprehensive SOP for unplanned downtime management, the reinforcement of core technological infrastructure, and the enhancement of staff capacity through periodic training and simulation exercises to mitigate adverse effects and sustain the benefits of EMR implementation.
Read More
B-2634
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anisa Rotana; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Febi Hediyanto
Abstrak: Rumah Sakit Umum Daerah Koja, Jakarta merupakan rumah sakit umum tipe B yang baru saja menerapkan sistem informasi rekam medis elektronik di unit rawat jalan guna mendukung kegiatan pelayanan rawat jalan. Rekam medis elektronik merupakan sistem informasi yang diadopsi dari rekam medis manual yang terintegrasi secara elektronik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pelaksanaan rekam medis elektronik berdasarkan model kesuksesan sistem informasi DeLone and McLean terbaru. Penelitian ini merupakan penelitian analisis deskriptif dengan pendekatan mix method (kuantitatif dan kualitatif), pengambilan data dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel kualitas informasi, kualitas sistem dan kualitas pelayanan berpengaruh positif terhadap variabel penggunaan dan kepuasan pengguna, begitu juga dengan variabel penggunaan dan kepuasan pengguna terhadap manfaat. Selain itu, diketahui bahwa rekam medis elektronik RSUD Koja akan memiliki manfaat/berdampak positif jika mampu memenuhi kepuasan pengguna, yang didasari pada tiga variabel kesuksesan awal, terutama pada variabel kualitas informasi.
Read More
S-10131
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Ayu Purwaningsih; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Pujiyanto, Budiman Widjaya, Prima Yunika
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Ida Ayu Purwaningsih Program Studi : Kajian Administrasi Rumah Sakit Judul : Analisis Penerapan Rekam Medis Elektronik Di RS Awal Bros Tangerang Tahun 2017 Pembimbing : dr. Mieke Savitri,MKes Tesis ini membahas tentang evaluasi implementasi sistem rekam medik elektronik di Rumah Sakit Awal Bros Tangerang pada tahun 2017. Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah merambah ke berbagai sektor termasuk bidang kesehatan salah satu di antaranya adalah rekam medis berbasis komputer atau rekam medis elektronik, yaitu sebuah sistem pencatatan data medis secara elektronik dan terintegrasi baik untuk rawat inap, rawat jalan, maupun medical checkup dengan tingkat keamanan yang lebih baik. Rumah Sakit melalui upaya-upaya yang konkrit dan kerjasama antar sektor berusaha menyelenggarakan sistem tersebut sesuai dengan aspek penyelenggaraan rekam medis di Indonesia dan dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  bagaimana penerapan rekam medik elektronik di RS Awal Bros Tangerang. Lokasi penelitian dilakukan di RS Awal Bros Tangerang. Penelitian dilakukan pada bulan Januari –April 2018 dengan menggunakan desain penelitian deskriptif analitik. Populasi penelitian awal adalah staf yang bekerja saat ini di RS Awal Bros Tangerang sebagai professional pemberi asuhan sebanyak 117 orang  yaitu yang terdiri dari  dokter spesialis, dokter umum, perawat, bidan, petugas fisioterapi, apoteker, ahli gizi dan petugas  rekam medis yang memiliki akses langsung terhadap sistem rekam medis elektronik. Pengambilan data primer awal melalui metode pengisian  kuesioner evaluasi rekam medik elektronik oleh para profesional pemberi asuhan, kemudian dilakukan wawancara mendalam. Hasil evaluasi penerapan rekam medis elektronik RS Awal Bros Tangerang tahun 2017 didapatkan secara umum rata-rata persepsi positif responden terhadap aspek Tata Cara Penyelenggaraan Rekam Medis Elektronik,  Aspek Pencatatan Rekam Medis Elektronik, Aspek Kepemilikan Rekam Medis Elektronik, Aspek Penyimpanan Rekam Medis Elektronik dan Aspek Hukum,Etik,Disiplin dan Kerahasiaan rekam medis adalah 79,5 %. Belum semua dokter spesialis menggunakan EMR. Perlu ditingkatkan clinical leadership kepatuhan penggunaan sistem baru RME dengan mengurangi faktor-faktor yang melatarbelakangi keengganan dokter spesialis tersebut yaitu dengan pelatihan yang intens, review berkala guna perbaikan berkelanjutan, follow up segera terhadap masukan user sehingga sistem informasi yang memberikan kepuasaan bagi para penggunanya serta bermanfaat juga keharusan menggunakan dari manajemen   menjadi kunci untuk mengatasi hal tersebut. Kata kunci: rekam medis elektronik, rekam medis, rumah sakit


ABSTRACT Analysis Of Electronic Medical Record Implementation in Awal Bros Tangerang Hospital Year 2017 Ida Ayu Purwaningsih a Public Health Faculty University of Indonesia b Awal Bros Tangerang Hospital a,b dr. Mieke Savitri, MKes a Background and Purpose : The rapid development of information technology has expanded to various sectors including healthcare. One of them is computer-based medical record or electronic medical record, an integrated system of medical data documentation by electronic an electronic for inpatient, outpatient, and medical checkup with a better level of security. Hospitals provide concrete efforts and collaboration between many sectors trying to organize the system in accordance with aspects of medical records in Indonesia and can be accounted for. This study aims to find out how the implementation of electronic medical records in Awal Bros Tangerang Hospital. The location of the research was conducted in outpatient and inpatient unit in Awal Bros Tangerang Hospital. The research was conducted in January-April 2018 by using descriptive analytic research design. The initial research population are clinical staff in Awal Bros Tangerang Hospital. There are 117 care professionals consisting of specialist doctors, general practitioners, nurses, midwives, physiotherapists, pharmacists, nutritionists and medical record officers who have direct access against the electronic medical records system. Initial primary data was collected through the method of filling out the questionnaire of electronic medical records evaluation by the caregiver professionals, then in-depth interviews were conducted. The result of evaluation of electronic medical record implementation of Awal Bros Hospital Tangerang year 2017 obtained generally average positive perception of respondents to the aspects of electronic medical record administration, aspects of electronic medical record documentation, electronic medical record ownership aspect, storage aspect of electronic medical and legal, ethics, discipline and confidentiality of electronic medical record aspects. It is about 79,5% (good category). Not all specialist doctors use EMR. It is necessary to improve the clinical leadership toward  the new system of EMR  by reducing factors behind the specialist doctor's reluctance with intense training, periodic review for continuous improvement, immediate follow-up of user inputs so that information systems provide satisfaction for the users as well as how useful this system meet up the necessity from hospital management. That will become the key to overcome it. Keywords: Electronic Medical Record, Medical Record, Hospital

Read More
B-1957
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Made Indra Wijaya; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Purnawan Junadi, Dumilah Ayuningtyas, Budi Hartono, Maryarni
Abstrak:

Rekam medis elektronik (RME) telah diimplementasikan di Rumah Sakit Khusus BIMC sejak tahun 1998. Pada tahun 2005, BIMC berganti status dari sebuah sentra medis menjadi sebuah rumah sakit khusus. RME dimodifikasi sesuai kebutuhan. Hingga tahun 2011, belum pernah dilakukan evaluasi terhadap RME. Metode penelitian ini adalah explanatory sequential yang merupakan kombinasi metode kuantitatif dengan metode kualitatif, dengan metode kuantitatif dilakukan terlebih dahulu. Penelitian kuantitatif dilakukan dengan menyebarkan self-assessment questionnaire kepada seluruh pengguna RME yaitu dokter, perawat, administrator, staf radiologi, staf farmasi, dan staf teknologi informasi (TI), sedangkan penelitian kualitatif dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan peran peneliti sebagai human instrument. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut RME berpengaruh terhadap kinerja RME dengan atribut presentation sebagai atribut RME yang paling berpengaruh. Penelitian juga mendapatkan adanya faktor lain yang berpengaruh terhadap kinerja RME, yaitu kemampuan pengguna RME dan perangkat keras. Untuk meningkatkan kinerja RME perlu dilakukan peningkatan terhadap semua faktor yang berpengaruh terhadap kinerja RME.


 Electronic medical record (EMR) has been implemented in BIMC since 1998. In 2005, BIMC developed into a hospital from a mere medical center. EMR was adjusted to the needs then. Up to 2011, EMR has not been formally evaluated. This study is a mixed methods research, namely explanatory sequential design, in which quantitative research was performed previously followed by qualitative one. Quantitative data was derived by distributing self-assessment questionnaires to the EMR users consists of doctors, nurses, administrators, radiology staff, pharmacy staff, and IT staff. Qualitative data was obtained from interview, observation, and documentation with researcher as the human instrument. The results showed that EMR attributes influenced its performance with presentation as the most influential attribute. Research revealed that there are two other factors influencing EMR performance. They are EMR users? ability and hardware. EMR performance can be increased by improving those three factors mentioned above.

Read More
B-1435
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive