Ditemukan 34571 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Zati Bayani; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Helda, Inggariwati
Abstrak:
Read More
Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu wilayah yang endemis terhadap leptospirosis, namun penelitian terkait leptospirosis di Jakarta masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran distribusi dan tren kasus leptospirosis berdasarkan usia, jenis kelamin, wilayah kota dan kecamatan selama periode 2020-2025 di wilayah DKI Jakarta dengan desain studi epidemiologi deskriptif berupa case series. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dianalisis secara univariat dengan menampilkan grafik dan peta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus leptospirosis sebanyak 388 kasus selama periode 6 tahun. Angka tertinggi terjadi pada tahun 2020, menurun pada tahun 2021-2022, dan mulai meningkat kembali pada 2023-2025. Kelompok usia 20-44 tahun menjadi penyumbang kasus terbanyak (46,65%) dan laki-laki menjadi jenis kelamin yang memiliki proporsi kasus terbesar (76,42%). Wilayah Jakarta Barat menjadi wilayah dengan angka kasus tertinggi (42,89%) secara keseluruhan maupun per tahun. Pemetaan menunjukkan bahwa kasus leptospirosis banyak terjadi di wilayah barat laut DKI Jakarta, meliputi kecamatan seperti Palmerah, Kebon Jeruk, Cengkareng, Tanah Abang, dan Pasar Minggu. Perlunya peningkatan edukasi dan intervensi yang berfokus pada wilayah dengan proporsi kasus tertinggi, kelompok usia produktif, dan laki-laki sebagai sasaran utama untuk pencegahan terjadinya penularan dan infeksi leptospirosis.
DKI Jakarta Province is an area endemic to leptospirosis, however research related to leptospirosis in Jakarta is still very limited. This study aims to provide an overview of the distribution and trends of leptospirosis cases based on age, sex, city area and sub-district during the 2020-2025 period in the DKI Jakarta area using a descriptive epidemiological study design in the form of a case series. This research uses secondary data from the DKI Jakarta Provincial Health Agency analyzed univariately by displaying graphs and maps. The research results show that there were 388 cases of leptospirosis over a 6 year period. The highest number of leptospirosis cases occurred in 2020, decreased in 2021-2022, and began to increase again in 2023-2025. The 20-44 year age group contributed the most cases (46.65%) and men were the gender with the largest proportion of cases (76.42%). The West Jakarta region has the highest number of cases (42,89%) overall and per year. Mapping shows that leptospirosis cases often occur in the northwest region of DKI Jakarta, including sub-districts such as Palmerah, Kebon Jeruk, Cengkareng, Tanah Abang, and Pasar Minggu. Increased education and interventions are needed, focusing on areas with the highest proportion of cases, the productive age group, and men as the primary targets for preventing leptospirosis transmission and infection.
S-12436
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nadiya Eka Suci; ;Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Budi Setiawan
Abstrak:
Read More
Penyakit ginjal kronis meningkat secara global maupun nasional, namun studi terkait mortalitas akibat penyakit ginjal kronis terbatas. Penelitian bertujuan menganalisis tren dan distribusi kematian akibat penyakit ginjal kronis di DKI Jakarta berdasarkan umur, jenis kelamin, wilayah, dan sumber pelaporan selama 2020-2025 dengan desain potong lintang menggunakan data Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Penelitian menggunakan total sample berjumlah 11.495, dengan minimal 384 sampel per tahun, berupa kematian dengan penyebab dasar penyakit ginjal kronis sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian berdasarkan perhitungan Crude-Specific Death Rate dengan Confidence Interval 95% menunjukkan angka kematian populasi cenderung meningkat selama periode penelitian, puncak tren terjadi tahun 2024 CSDR 215,8 (CI 95%:207,8-224,8) dengan rumah sakit sebagai sumber pelaporan utama. Kelompok usia ≥60 tahun mendominasi dengan puncak di tahun 2025 CSDR 1014,4 (CI 95%:959,9-1071,2). Angka kematian laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan dengan puncak tren di 2025 CSDR 233,7 (CI 95%:221,0-247,0). Wilayah Jakarta Timur menyumbang jumlah kematian absolut tertinggi, dengan puncak di tahun 2024 CSDR 251,5 (CI 95%:234,1-269,8). Ditemukan 317 data anomali kode menunjukkan inkonsistensi pengkodean diagnosis, dengan puskesmas menyumbang laporan anomali terbanyak. Tren mortalitas penyakit ginjal kronis di DKI Jakarta yang meningkat, terutama pasca-pandemi, serta laporan kasus tidak valid menunjukkan perlunya upaya pencegahan dan perbaikan kualitas data untuk mendukung efektivitas pengendalian penyakit.
Chronic kidney disease is rising both globally and nationally, yet studies on mortality due to chronic kidney disease remain limited. This study aims to analyse trends and the distribution of mortality rates due to chronic kidney disease in Jakarta, based on age, sex, region, and source of reporting, for the period 2020-2025, using a cross-sectional design and data from the Jakarta Provincial Health Office. The study used a total sample of 11.495, with a minimum 384 cases per year, comprising deaths with chronic kidney disease as the underlying cause, in accordance with the inclusion and exclusion criteria. The results showed that the mortality rate for the entire population tended to increase during the study period, peaking in 2024 at a CSDR of 215.8 (95% CI: 207.8–224.8), with hospitals as the primary source of reporting. The age group ≥60 years dominated, with a peak in 2025 at a CSDR of 1014.4 (95% CI: 959.9–1071.2). Men had a higher mortality rate than women, with the trend peaking in 2025 at a CSDR of 233.7 (95% CI: 221.0–247.0). The East Jakarta region contributed the highest absolute number of deaths, with a peak in 2024 at 251.5 CSDR (95% CI: 234.1–269.8). A total of 317 cases of coding anomalies were identified, indicating inconsistencies in diagnosis coding, with the community health centre accounting for the highest number of anomalous reports. The rising trend in chronic kidney disease mortality in Jakarta, particularly post-pandemic, along with reports of invalid cases, highlights the need for preventive measures and improvements in data quality to support the effectiveness of disease control.
S-12228
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aditya Wahid Zatmiko; Pembimnbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Budi Setiawan
Abstrak:
Read More
Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian di Indonesia, termasuk di Provinsi DKI Jakarta, namun kajian tren mortalitas berbasis data surveilans rutin di tingkat provinsi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menggambarkan tren mortalitas akibat penyakit kardiovaskular di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018, 2020, 2022, dan 2024 berdasarkan jenis penyakit, kelompok usia, jenis kelamin, dan wilayah administrasi. Desain studi potong lintang digunakan dengan data surveilans kematian Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, mencakup 61.435 kasus kematian kardiovaskular (ICD-10: I10–I99) yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis univariat dilakukan menggunakan indikator Cause-Specific Death Rate (CSDR), Age-Specific Death Rate (ASDR), dan Sex-Specific Death Rate (SSDR) serta 95% (CI). Hasil menunjukkan pergeseran dominasi penyebab kematian dari Penyakit Serebrovaskular (CSDR 249,77 per 1.000.000 penduduk; 95% CI: 240,45–259,35) ke Gangguan Irama dan Konduksi Jantung yang meningkat dari CSDR 188,09 (95% CI: 180,01–196,43) pada 2018 menjadi 750,03 (95% CI: 733,96–766,36) pada 2024, dengan lonjakan tajam sejak fase pandemi akut. Kelompok lansia (≥60 tahun) menanggung beban kematian terbesar (62,1%–64,8%), dengan ASDR Gangguan Irama dan Konduksi Jantung mencapai 4.736,59 (95% CI: 4.607,69–4.868,18) per 1.000.000 lansia pada 2024. Laki-laki secara konsisten memiliki ASDR lebih tinggi dibanding perempuan pada seluruh periode studi. Jakarta Selatan mencatat CSDR tertinggi antarwilayah untuk kematian akibat Gangguan Irama dan Konduksi Jantung pada 2024 sebesar 1.210,13 (95% CI: 1.165,91–1.255,60) per 1.000.000 penduduk.
Cardiovascular disease is the leading cause of death in Indonesia, including in Jakarta Province, yet trend analyses using routine provincial mortality surveillance data remain scarce. This study aimed to describe cardiovascular disease mortality trends in Jakarta Province for 2018, 2020, 2022, and 2024 based on disease type, age group, sex, and administrative region. A cross-sectional design was employed using mortality surveillance data from the Jakarta Provincial Health Office, comprising 61,435 cardiovascular deaths (ICD-10: I10–I99) meeting the inclusion and exclusion criteria. Univariate analysis was conducted using the Cause-Specific Death Rate (CSDR), Age-Specific Death Rate (ASDR), Sex-Specific Death Rate (SSDR), and 95% confidence intervals (CI). Results showed a shift in dominant cause of death from Cerebrovascular Disease (CSDR 249.77 per 1,000,000 population; 95% CI: 240.45–259.35) to Cardiac Arrhythmia and Conduction Disorders, which increased from CSDR 188.09 (95% CI: 180.01–196.43) in 2018 to 750.03 (95% CI: 733.96–766.36) in 2024, with a sharp surge during the acute pandemic phase. The elderly (≥60 years) consistently bore the greatest mortality burden (62.1%–64.8%), with an ASDR for Cardiac Arrhythmia and Conduction Disorders of 4,736.59 (95% CI: 4,607.69–4,868.18) per 1,000,000 elderly in 2024. Males consistently exhibited higher ASDR than females throughout the entire study period. South Jakarta recorded the highest inter-district CSDR for deaths attributable to Cardiac Arrhythmia and Conduction Disorders in 2024, at 1,210.13 (95% CI: 1,165.91–1,255.60) per 1,000,000 population.
S-12338
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sabila Nur Lailiah; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Trisari Anggondowati, Retno Henderiawati
Abstrak:
Read More
Penelitian terkait premature mortality yaitu kematian usia 30-70 tahun akibat PTM di Indonesia masih terbatas. Penelitian bertujuan menganalisis tren premature mortality akibat 4NCD, meliputi kardiovaskular (CVD), kanker, diabetes, dan respirasi kronis (CRD) di DKI Jakarta tahun 2020-2024 menggunakan desain potong lintang berdasarkan data sekunder Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Analisis univariat mengkaji tren premature mortality 4NCD berdasarkan distribusi umur, jenis kelamin, wilayah domisili, dan laporan fasilitas kesehatan. Hasil penelitian menyatakan premature mortality 4NCD diakibatkan CVD (78%), diabetes (17%), kanker (14%), dan CRD (9%). Kematian CVD disebabkan blok penyakit jantung lain (47,4%) dan serebrovaskular (19,4%). Kanker ganas primer di lokasi spesifik (88,7%), DM tipe 2 (77%). Kematian CRD didominasi blok penyakit lain pada sistem pernapasan (34%) dan penyakit pernapasan bawah kronis (27,8%). Premature mortality tertinggi terjadi di usia dewasa paruh baya (49%), lansia muda (46%), dan dewasa muda (5%). Kematian laki-laki (58%) lebih tinggi daripada perempuan (42%). Domisili angka kematian tertinggi terjadi di Jakarta Timur (30%), Jakarta Selatan (19%), Jakarta Utara (17%), dengan sumber laporan tertinggi puskesmas (56%). Kasus kematian tidak spesifik menggambarkan tantangan proses surveilans yang akurat. Penelitian ini menitikberatkan vitalitas kualitas data sebagai penunjang intervensi dan kebijakan yang efektif dan tepat sasaran dalam mengurangi morbiditas dan mortalitas PTM.
Research related to premature mortality, deaths aged 30-70 years due to NCDs in Indonesia, is still limited. This study aims to analyze the trend of premature mortality due to 4NCD, including CVD, cancer, diabetes, and CRD in DKI Jakarta in 2020-2024 using a cross-sectional design based on secondary data from DKI Jakarta Health Department. Univariate analysis examined 4NCD premature mortality trends based on age distribution, gender, domicile area, and health facility reports. The results showed 4NCD premature mortality was caused by CVD (78%), diabetes (17%), cancer (14%), and CRD (9%). CVD mortality due to other heart disease (47.4%) and cerebrovascular (19.4%). Site-specific primary malignant cancer (88.7%), type 2 DM (77%). CRD mortality by other respiratory system disease block (34%) and chronic lower respiratory disease (27.8%). Premature mortality was highest in middle-aged adults (49%), young elderly (46%), young adults (5%). Male mortality (58%) was higher than female mortality (42%). Domicile of death was highest in East Jakarta (30%), South Jakarta (19%), North Jakarta (17%), the highest source of report being puskesmas (56%). Unspecified death cases illustrate the challenges of accurate surveillance processes. This study emphasizes the vitality of data quality to support effective and targeted interventions and policies in reducing morbidity.
Research related to premature mortality, deaths aged 30-70 years due to NCDs in Indonesia, is still limited. This study aims to analyze the trend of premature mortality due to 4NCD, including CVD, cancer, diabetes, and CRD in DKI Jakarta in 2020-2024 using a cross-sectional design based on secondary data from DKI Jakarta Health Department. Univariate analysis examined 4NCD premature mortality trends based on age distribution, gender, domicile area, and health facility reports. The results showed 4NCD premature mortality was caused by CVD (78%), diabetes (17%), cancer (14%), and CRD (9%). CVD mortality due to other heart disease (47.4%) and cerebrovascular (19.4%). Site-specific primary malignant cancer (88.7%), type 2 DM (77%). CRD mortality by other respiratory system disease block (34%) and chronic lower respiratory disease (27.8%). Premature mortality was highest in middle-aged adults (49%), young elderly (46%), young adults (5%). Male mortality (58%) was higher than female mortality (42%). Domicile of death was highest in East Jakarta (30%), South Jakarta (19%), North Jakarta (17%), the highest source of report being puskesmas (56%). Unspecified death cases illustrate the challenges of accurate surveillance processes. This study emphasizes the vitality of data quality to support effective and targeted interventions and policies in reducing morbidity.
S-12141
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sandrina Hagja Salsabila; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Nining Mularsih
Abstrak:
Read More
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan secara global. Kejadian maupun risiko komplikasi stroke dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko dan komorbid. Meskipun skrining penyakit tidak menular (PTM) memegang peran krusial dalam pencegahan primer maupun tersier, evaluasi program ini di Indonesia dan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta umumnya masih terbatas pada lingkup fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan aspek fisiologis (hipertensi dan hiperglikemia) dan stroke berdasarkan aspek epidemiologi (waktu, tempat, dan orang), serta menjelaskan korelasi antar faktor risiko dan komorbiditas pada populasi skrining PTM DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan data agregat sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2020-2024. Analisis dengan jenis kelamin serta wilayah kota administrasi meliputi analisis tren, pemetaan kota, dan uji korelasi Spearman Rank untuk data berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan tren pemulihan partisipasi masif pasca pandemi Covid-19 hingga mencapai lebih dari 7 juta partisipan pada tahun 2024. Terdapat kontribusi partisipasi skrining konsisten dengan dominasi perempuan (53–56%) serta konsentrasi terbesar di Jakarta Timur. Secara wilayah kota, ditemukan tren yang berbeda dengan Jakarta Selatan konsisten memiliki beban hipertensi tertinggi. Sementara itu, beban hiperglikemia menunjukkan tren kenaikan di Jakarta Selatan dan Timur, berbeda dengan penurunan di Jakarta Pusat dan Utara. Meskipun partisipasi laki-laki lebih rendah, kelompok ini menunjukkan kerentanan lebih tinggi dengan beban penyakit yang lebih besar. Hasil penelitian menemukan bahwa beban hipertensi memiliki hubungan korelasi yang kuat dengan proporsi temuan stroke pada seluruh populasi (r= 0,677; 95% CI= 0,354 – 0,845), berbeda dengan beban hiperglikemia yang tidak berkorelasi pada populasi umum maupun pada setiap jenis kelamin. Beban hipertensi konsisten pada kedua jenis kelamin dengan korelasi pada laki-laki (r= 0,718; 95% CI= 0,440 – 0,844) tercatat lebih kuat dibandingkan perempuan (r= 0,537; 95% CI= 0,182 – 0,772). Oleh karena itu, diperlukan strategi intervensi yang gender-responsive serta pendekatan berbasis wilayah untuk mengendalikan beban penyakit di wilayah dengan risiko tinggi.
Stroke is a leading cause of death and disability globally. Both the incidence and risk of stroke complications can be prevented through control of risk factors and comorbidities. Although non-communicable diseases (NCDs) screening plays a crucial role in primary and tertiary prevention, evaluation of this program in Indonesia and Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta is generally limited to healthcare facilities. Therefore, this study aims to describe the burden of risk (hypertension and hyperglycemia) and stroke based on epidemiological aspects (time, place, and person), and to demonstrate the correlation between risk factors and comorbidities in the NCDs screening population of DKI Jakarta. This study used an ecological study design with secondary aggregate data from the DKI Jakarta Provincial Health Office for 2020-2024. Analysis by gender and administrative city area included trend analysis, city mapping, and Spearman Rank correlation test for non-normally distributed data. The results showed a trend of massive participation recovery after the Covid-19 pandemic, reaching more than 7 million participants by 2024. There was a consistent contribution to screening participation, with a female predominance (53–56%) and the largest concentration in East Jakarta. By city region, the burden shows a different pattern, with South Jakarta consistently having the highest hypertension burden. Meanwhile, the burden of hyperglycemia shows an increasing trend in South and East Jakarta, in contrast to a decrease in Central and North Jakarta. Despite lower male participation, this group demonstrates higher vulnerability with a greater burden of disease findings. The study found that the burden of hypertension was strongly correlated with stroke findings proportion in the population (r= 0,677; 95% CI= 0,354 – 0,845), in contrast to the burden of hyperglycemia findings, which did not correlate in the general population or in either sex. The pattern of hypertension findings was consistent across both sexes, with a stronger correlation in men (r= 0,718; 95% CI= 0,440 – 0,844) than in women (r= 0,537; 95% CI= 0,182 – 0,772). Therefore, gender-responsive intervention strategies and area-based approaches are needed to control the disease burden in high-risk areas.
S-12211
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aurora Intan Maghfira; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Nining Mularsih
Abstrak:
Read More
Penyakit tidak menular (PTM) merupakan masalah kesehatan utama sehingga deteksi dini melalui program skrining menjadi strategi penting. Namun, pemetaan capaian dan pola faktor risiko hasil skrining PTM di Provinsi Jakarta masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan program skrining PTM di Provinsi Jakarta tahun 2020-2024 menurut tahun, jenis kelamin, dan wilayah kota di Provinsi Jakarta tahun 2020–2024. Studi menggunakan desain epidemiologi deskriptif dengan rancangan ekologi berbasis data agregat Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta menurut tahun, jenis kelamin, dan lima wilayah kota. Hasil menunjukkan capaian skrining meningkat tajam dari 38,8% (2020) menjadi 99,1% (2021), mencapai 100% (2022), dan melampaui 100% pada 2023–2024 (100,4% dan 101,4%). Jumlah peserta skrining juga naik dari 2.746.144 (2020) menjadi 7.865.422 (2024), dengan mayoritas peserta perempuan (53,5%–56,1%). Tiga faktor risiko terbanyak secara konsisten adalah obesitas sentral, obesitas, dan tekanan darah tinggi. Pada 2024, proporsi obesitas sentral mencapai 45,5%, diikuti obesitas 32,0% dan tekanan darah tinggi 25,2%, dengan pola tiga faktor risiko teratas yang relatif serupa di seluruh wilayah kota. Penelitian ini menyimpulkan bahwa obesitas sentral dan obesitas masih tinggi di Provinsi Jakarta sehingga diperlukan penguatan intervensi promotif–preventif yang lebih terarah menurut kelompok sasaran dan wilayah.
Non-communicable diseases (NCDs) represent a major public health concern; therefore, early detection through screening programmes is a critical strategy. However, evidence mapping screening coverage and the patterns of NCD risk factors identified through screening in Jakarta Province remains limited. This study aimed to describe the NCD screening programme in Jakarta Province from 2020 to 2024 by year, sex, and municipal area. A descriptive epidemiological study with an ecological design was conducted using aggregated data from the Jakarta Provincial Health Office by year, sex, and five municipal areas. The results showed that screening coverage increased sharply from 38.8% (2020) to 99.1% (2021), reached 100% (2022), and exceeded 100% in 2023–2024 (100.4% and 101.4%). The number of individuals screened also increased from 2,746,144 (2020) to 7,865,422 (2024), with females comprising the majority of participants (53.5%–56.1%). The three most frequently identified risk factors were consistently central obesity, obesity, and hypertension. In 2024, the proportion of central obesity reached 45.5%, followed by obesity at 32.0% and hypertension at 25.2%, with a broadly similar pattern of the top three risk factors across all municipal areas. The study concludes that central obesity and obesity remain high in Jakarta Province, underscoring the need to strengthen more targeted health promotion and preventive interventions by population group and area.
S-12210
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Husda Oktaviannoor; Pembimbing: Ratna Djuwita, Krisnawati Bantas; Penguji: Dwi Oktavia T.L. Handayani, Widyastuti
Abstrak:
Diabetes mellitus tipe 2 telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius dan merupakan penyebab penting dari angka kesakitan, kematian, kecacatan dan kerugian ekonomi di seluruh dunia termasuk Indonesia. Provinsi DKI Jakarta termasuk sepuluh besar penyakit diabetes mellitus tertinggi secara nasional. Posbindu PTM sebagai salah satu program pemerintah dalam melakukan kegiatan deteksi dini dan pemantauan faktor risiko PTM yang dilaksanakan secara terpadu, rutin, dan periodik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan diabetes mellitus tipe 2 di Posbindu PTM se-Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dari data Surveilans Faktor Risiko PTM Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2017. Sampel yang dianalisis sebesar 12.775 responden dari 12.789 responden berumur ≥15 tahun. Analisis data multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda untuk menentukan model prediksi dan faktor potensial dampak yang paling dominan.
Hasil didapatkan proporsi diabetes mellitus sebesar 15,87%. Multivariat didapatkan umur ≥45 tahun (POR=6,32), 35-44 tahun (POR=1,82), 25-34 tahun (POR=0,98), jenis kelamin (POR=0,63), riwayat DM keluarga (POR=4,43), tidak menikah (POR=0,49), cerai (POR=1,58), tidak bekerja (POR=1,93), IRT (POR=1,84), pelajar/mahasiswa (POR=0,24), kurang aktif (POR=1,20), hipertensi (POR=1,35), dan obesitas sentral (POR=1,29). Faktor risiko yang memberikan dampak paling dominan adalah umur ≥45 tahun dan riwayat DM keluarga, sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi yang memberikan dampak paling dominan adalah obesitas sentral. Model prediksi ini cukup akurat untuk memprediksi diabetes mellitus dengan batas probabilitas sebesar 18%. Perlu adanya peningkatan kualitas pelaksanaan Posbindu PTM dari pemerintah serta kesadaran warga DKI Jakarta yang berumur ≥15 tahun untuk pemantauan faktor risiko serta deteksi dini PTM.
Type 2 diabetes mellitus has become a serious public health problem and is an important cause of morbidity, death, disability and economic losses worldwide including Indonesia. The province of DKI Jakarta includes the top ten of the highest diabetes mellitus nationally. Posbindu PTM as one of the government programs in conducting early detection and monitoring of NCD risk factors that are implemented in an integrated, routine, and periodic.
This study aims to determine the risk factors associated with diabetes mellitus type 2 in Posbindu PTM throughout DKI Jakarta Province. This research uses cross sectional design from data of Risk Factor Surveilans of NCD Health Office of DKI Jakarta Province 2017. The analyzed sample is 12,775 respondents from 12,789 respondents aged ≥15 years old. Multivariate data analysis using multiple logistic regression test to determine prediction model and the most dominant potential impact factor.
The result obtained proportion of diabetes mellitus equal to 15,87%. Multivariate was found to be ≥45 years old (POR=6.32), 35-44 years (POR=1.82), 25-34 years (POR=0.98), sex (POR=0.63), history of DM family (POR=4.43), unmarried (POR=0.49), divorce (POR=1.58), not working (POR=1.93), IRT (POR=1.84), student (POR=0.24), less physical activity (POR=1.20), hypertension (POR=1.35), and central obesity (POR=1.29). Risk factors that have the most dominant impact are age ≥45 years and family DM history, while the modifiable factor that gives the most dominant impact is central obesity. This prediction model is accurate enough to predict diabetes mellitus with a probability limit of 18%. It is necessary to improve the quality of Posbindu PTM implementation from the government and the awareness of Jakarta citizens aged ≥15 years for monitoring of risk factors and early detection of NCD.
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan diabetes mellitus tipe 2 di Posbindu PTM se-Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dari data Surveilans Faktor Risiko PTM Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2017. Sampel yang dianalisis sebesar 12.775 responden dari 12.789 responden berumur ≥15 tahun. Analisis data multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda untuk menentukan model prediksi dan faktor potensial dampak yang paling dominan.
Hasil didapatkan proporsi diabetes mellitus sebesar 15,87%. Multivariat didapatkan umur ≥45 tahun (POR=6,32), 35-44 tahun (POR=1,82), 25-34 tahun (POR=0,98), jenis kelamin (POR=0,63), riwayat DM keluarga (POR=4,43), tidak menikah (POR=0,49), cerai (POR=1,58), tidak bekerja (POR=1,93), IRT (POR=1,84), pelajar/mahasiswa (POR=0,24), kurang aktif (POR=1,20), hipertensi (POR=1,35), dan obesitas sentral (POR=1,29). Faktor risiko yang memberikan dampak paling dominan adalah umur ≥45 tahun dan riwayat DM keluarga, sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi yang memberikan dampak paling dominan adalah obesitas sentral. Model prediksi ini cukup akurat untuk memprediksi diabetes mellitus dengan batas probabilitas sebesar 18%. Perlu adanya peningkatan kualitas pelaksanaan Posbindu PTM dari pemerintah serta kesadaran warga DKI Jakarta yang berumur ≥15 tahun untuk pemantauan faktor risiko serta deteksi dini PTM.
Type 2 diabetes mellitus has become a serious public health problem and is an important cause of morbidity, death, disability and economic losses worldwide including Indonesia. The province of DKI Jakarta includes the top ten of the highest diabetes mellitus nationally. Posbindu PTM as one of the government programs in conducting early detection and monitoring of NCD risk factors that are implemented in an integrated, routine, and periodic.
This study aims to determine the risk factors associated with diabetes mellitus type 2 in Posbindu PTM throughout DKI Jakarta Province. This research uses cross sectional design from data of Risk Factor Surveilans of NCD Health Office of DKI Jakarta Province 2017. The analyzed sample is 12,775 respondents from 12,789 respondents aged ≥15 years old. Multivariate data analysis using multiple logistic regression test to determine prediction model and the most dominant potential impact factor.
The result obtained proportion of diabetes mellitus equal to 15,87%. Multivariate was found to be ≥45 years old (POR=6.32), 35-44 years (POR=1.82), 25-34 years (POR=0.98), sex (POR=0.63), history of DM family (POR=4.43), unmarried (POR=0.49), divorce (POR=1.58), not working (POR=1.93), IRT (POR=1.84), student (POR=0.24), less physical activity (POR=1.20), hypertension (POR=1.35), and central obesity (POR=1.29). Risk factors that have the most dominant impact are age ≥45 years and family DM history, while the modifiable factor that gives the most dominant impact is central obesity. This prediction model is accurate enough to predict diabetes mellitus with a probability limit of 18%. It is necessary to improve the quality of Posbindu PTM implementation from the government and the awareness of Jakarta citizens aged ≥15 years for monitoring of risk factors and early detection of NCD.
T-5151
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Luqman; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Syahrizal Syarif, Inggariwati
Abstrak:
Salah satu upaya untuk mengeluarkan Indonesia dari pandemi COVID-19 adalah dengan vaksinasi. Data capaian vaksin primer COVID-19 di DKI Jakarta per Juli 2022 sudah sangat baik yaitu mencapai 106,5%, dengan 78% diantarnya ber KTP DKI. Tetapi dalam waktu yang sama kasus harian COVID-19 di DKI Jakarta menembus angka 1.749 kasus per hari. Sehingga dalam studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status vaksinasi dan jenis vaksin dengan kejadian infeksi COVID-19. Desain studi yang dipilih adalah case-control (1:1) dengan jumlah sampel sebanyak 5.574 responden yang terpilih dari data COVID-19 DKI Jakarta. Penegakkan sampel penelitian berdasarkan hasil positif atau negatif COVID-19 dengan RT-PCR. Hasil univariat menunjukkan sebagian besar responden kasus telah mendapat vaksin 2 kali (81,92%) dan jenis vaksin homolog (88,87%). Hasil analisis multivariat hubungan status vaksinasi dengan kejadian infeksi COVID-19 menunjukkan hasil yang kontradiktif, dimana pada kelompok dengan status vaksinasi belum cukup (vaksin 1 kali atau belum vaksin) justru memberikan perlindungan dari infeksi COVID-19 sebesar 77,5%. Kemudian pada hasil analisis multivariat hubungan jenis vaksin dengan kejadian infeksi COVID-19 menunjukkan hasil pada kelompok yang mendapat jenis vaksin homolog lebih berisiko terinfeksi COVID-19 sebesar 3,220 kali dibandingkan dengan kelompok yang telah mendapat jenis vaksin heterolog (95%CI: 0,033-0,045). Perlu adanya penelitian lanjutan dengan menggunakan desain studi yang berbeda atau menggunakan sumber data yang berbeda sebagai upaya memvalidasi hasil studi ini. Upaya menurunkan kasus COVID-19 dapat dilakukan dengan cara meningkatkan capaian program vaksinasi hingga dosis booster dengan metode heterolog pada populasi berisiko.
Read More
T-7502
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rattih Diyan Pratiwi; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Inggariwati
Abstrak:
Jumlah kasus HIV/AIDS yang meningkat di Provinsi DKI Jakarta menjadi
posisi yang pertama dibandingkan daerah lain. Penelitian ini bertujuan melihat
gambaran kematian berdasarkan karakteristik individu dan faktor risiko pada
ODHA di Provinsi DKI Jakarta tahun 2013-2014. Penelitian ini merupakan
penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional dengan menggunakan
data sekunder Surveilans Penderita HIV/AIDS di Dinas Kesehatan Provinsi DKI
Jakarta Tahun 2013-2014. Sampel berjumlah 1575 responden, yang merupakan
pasien HIV/AIDS yang terlapor dari rumah sakit di wilayah Provinsi DKI Jakarta.
Hasil penelitian ini menemukan angka kematian terhadap kasus HIV/AIDS
sebesar 11 kematian per 100 kasus, serta didapatkan proporsi kematian tertinggi
pada kelompok umur 26-45 tahun, mereka yang bekerja, yang berdomisili di
wilayah Jakarta Timur, dan perbandingan laki-laki terhadap perempuan adalah
3:1. Berdasarkan faktor risiko penularan yang tertinggi ialah melalui hubungan
heteroseksual, kadar CD4 <200/µl, dan kematian yang disertai dengan infeksi
oportunistik. Berdasarkan karakteristik individu dan faktor risiko didapatkan
adanya hubungan kelompok umur >45 tahun (PR=4,1; 95%CI:4,03-4,37),
kelompok umur 26-45 tahun (PR=2,4; 95%CI:2,03-2,87), kelompok umur 12-25
tahun (PR=2,1; 95%CI:1,88-2,42), penggunaan narkotika suntik (PR=1,6; 95%CI:
1,12-2,23), jumlah CD4<200 (PR=4,1; 95%CI:1,62-10,22), infeksi oportunistik
(PR=1,6; 95%CI:1,1-2,37) dengan kematian yang disebabkan oleh HIV/AIDS.
Perlu dilakukan adanya program pencegahan dan penanggulangan serta diagnosis
dini pada kelompok yang mulai berisiko
Kata Kunci: Kematian, HIV/AIDS, individu, faktor risiko.
Read More
S-8629
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Stella Tracylia; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Trisari Anggondowati, Budi Setiawan
Abstrak:
Read More
Studi terkait mortalitas akibat kanker, khususnya di tingkat lokal, seperti provinsi, masih terbatas dan sebagian besar berfokus pada morbiditas atau prevalensi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren mortalitas akibat kanker di Jakarta pada tahun 2017, 2019, 2021, dan 2023 menggunakan desain potong lintang dengan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta. Analisis univariat dilakukan untuk mengevaluasi tren mortalitas berdasarkan tahun, kelompok usia, jenis kelamin, wilayah, dan sumber pelaporan fasilitas kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan perubahan peringkat kanker utama, di mana kanker trakea, bronkus, dan paru-paru, yang menjadi penyebab kematian tertinggi pada 2017, digantikan oleh kanker payudara mulai 2019. CSDR (Cause Specific Death Rate) kanker utama meningkat sejak 2017, menurun pada 2021, lalu mencapai puncaknya pada 2023. Mortalitas tertinggi terjadi pada kelompok lansia (43,9% – 44,6%) dan dewasa paruh baya (42,8% – 44,7%), dengan perempuan (52,0% – 57,7%) lebih banyak terdampak dibandingkan laki-laki (42,3% – 48%). Jakarta Timur melaporkan mortalitas tertinggi (27,9% – 30,8%), diikuti Jakarta Barat (20,9% – 26,7%), dengan rumah sakit sebagai sumber pelaporan utama (66,2% – 83,7%). Kasus-kasus tereksklusi dalam penelitian ini mencerminkan tantangan dalam pengumpulan dan pencatatan data yang akurat. Penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan kualitas data untuk mendukung kebijakan dan intervensi yang lebih efektif dalam mengurangi beban mortalitas akibat kanker.
Studies related to cancer mortality, especially at the local level, such as provinces, are still limited and mostly focus on morbidity or prevalence. This study aims to analyze cancer mortality trends in Jakarta in 2017, 2019, 2021, and 2023 using a cross-sectional design with data from the Jakarta Provincial Health Office. Univariate analysis was conducted to evaluate mortality trends based on year, age group, gender, region, and the reporting source from healthcare facilities. The results show a change in the ranking of major cancers, where tracheal, bronchial, and lung cancer, which was the leading cause of death in 2017, was replaced by breast cancer starting in 2019. The Cause-Specific Death Rate (CSDR) for major cancers increased since 2017, decreased in 2021, and then peaked in 2023. The highest mortality occurred in the elderly group (43.9% – 44.6%) and middle-aged adults (42.8% – 44.7%), with women (52.0% – 57.7%) being more affected than men (42.3% – 48%). East Jakarta reported the highest mortality (27.9% – 30.8%), followed by West Jakarta (20.9% – 26.7%), with hospitals as the primary reporting source (66.2% – 83.7%). Cases excluded from this study reflect challenges in the collection and recording of accurate data. This study emphasizes the importance of improving data quality to support policies and interventions that are more effective in reducing the cancer mortality burden.
S-11861
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
