Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 28968 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Labibah Saraswati; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Syifa Rindani Rachmawati
Abstrak:
PT X merupakan perusahaan distribusi dan manufaktur bahan kimia dengan mayoritas pekerja berada di kantor pusat Jakarta, mencakup Bagian Corporate maupun Bagian Distribution. Aktivitas harian pekerja didominasi oleh tugas administratif dan manajerial berbasis komputer dengan durasi penggunaan perangkat digital yang panjang, tuntutan akurasi data, serta pemenuhan target operasional dan pengawasan anak perusahaan. Kombinasi antara paparan layar yang intensif dan beban kerja kognitif tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan penglihatan terkait penggunaan visual display terminal (VDT). Sementara itu, program kesehatan kerja yang tersedia saat ini masih berfokus pada pemeriksaan visus mata dan belum menjangkau gejala Computer Vision Syndrome (CVS) secara spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian CVS pada pekerja kantor pusat PT X tahun 2026. Penelitian observasional ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) yang melibatkan 140 pekerja kantor pusat PT X sebagai responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner CVS-Q yang disebarkan secara daring untuk mengukur gejala CVS, serta dilengkapi dengan pengukuran intensitas pencahayaan setempat. Uji chi-square digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel individu, perangkat komputer, dan lingkungan kerja dengan kejadian CVS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 60 pekerja (42,9%) mengalami CVS, sedangkan 80 pekerja (57,1%) tidak menunjukkan gejala. Keluhan yang paling banyak dilaporkan adalah mata kering (52,1%), diikuti sakit kepala (47,1%), mata kabur (45,0%), mata berair (43,6%), dan gatal pada mata (38,5%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa kelainan refraksi (p=0,009), durasi penggunaan komputer (p=0,010), dan posisi monitor (p=0,033) berhubungan signifikan dengan kejadian CVS. Di antara ketiga faktor tersebut, kelainan refraksi yang tidak dikoreksi memiliki hubungan terkuat dengan keluhan CVS. Sementara itu, faktor jenis kelamin, penggunaan alat bantu penglihatan, pola istirahat mata, jarak pandang ke layar, dan intensitas pencahayaan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Oleh karena itu, upaya pencegahan CVS pada pekerja kantor tidak hanya bergantung pada perbaikan ergonomi, melainkan dikombinasikan dengan deteksi dini kelainan refraksi. Pendekatan ini dapat menjadi dasar bagi PT X dalam mengembangkan kebijakan kesehatan mata pekerja, khususnya pada populasi dengan tuntutan administratif dan pengawasan operasional yang tinggi.

PT X is a chemical manufacturing and distribution company with the majority of its employees based at the Jakarta head office, spanning both the Corporate and Distribution divisions. Daily operations are dominated by computer-based administrative and managerial tasks involving prolonged digital device use, high data accuracy demands, and responsibility for meeting operational targets as well as overseeing subsidiary entities. This combination of intensive screen exposure and cognitive workload potentially increases the risk of visual display terminal (VDT)-related visual disturbances. Meanwhile, the current occupational health program remains limited to structural visual acuity examinations and has not specifically addressed Computer Vision Syndrome (CVS) symptoms. This study aims to analyze the risk factors associated with CVS occurrence among head-office workers at PT X in 2026. This observational study adopted a cross-sectional design involving 140 head-office workers at PT X as respondents. Data were collected using the online CVS-Q questionnaire to measure CVS symptoms, complemented by local lighting intensity measurements. The Chi-square test was performed to analyze the associations of individual, computer-device, and work-environment variables with CVS occurrence. The results revealed that 60 workers (42.9%) experienced CVS, while 80 workers (57.1%) were asymptomatic. The most frequently reported complaints were dry eyes (52.1%), followed by headache (47.1%), blurred vision (45.0%), watery eyes (43.6%), and itchy eyes (38.5%). Bivariate analysis showed that refractive error (p=0.009), duration of computer use (p=0.010), and monitor position (p=0.033) were significantly associated with CVS. Among these three factors, uncorrected refractive error demonstrated the strongest association with CVS complaints. Conversely, sex, use of visual aids, eye-rest patterns, viewing distance, and lighting intensity showed no significant association. Therefore, CVS prevention strategies among office workers should not rely solely on ergonomic improvements but must be integrated with the early detection of refractive disorders. This comprehensive approach can serve as a foundation for PT X to develop employee eye-health policies, particularly for a workforce with demanding administrative and operational oversight duties.
Read More
S-12469
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agoesti Novalentina; Pembimbing: Hendra; Penguji: Abdul Kadir, Yulian Marstianto
Abstrak:
Komputer merupakan salah satu alat kerja perkantoran yang digunakan untuk menunjang kebutuhan pekerjaan. Dampak dari penggunaan komputer yang berlebihan adalah Computer Vision Syndrome (CVS). Karyawan Head Office PT X berisiko untuk terkena CVS karena sehari-hari bekerja menggunakan komputer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian CVS dan faktor risiko yang berhubungan pada karyawan PT X. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi, dan pengukuran langsung kepada 100 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 75% responden mengalami kejadian CVS. Gejala CVS yang paling banyak dirasakan oleh responden adalah mata tegang (72%), mata gatal (68%), dan mata kering (67%). Gejala CVS lebih banyak ditemukan pada karyawan perempuan (79,3%), karyawan yang istirahat dengan durasi 15 menit (75,6%), karyawan yang bekerja menggunakan laptop (76%), karyawan yang menggunakan komputer tanpa lapisan anti glare (75,8%), serta karyawan yang menggunakan komputer mode terang (78,1%). Analisis hubungan dengan menggunakan uji chi square, didapatkan hubungan yang signifikan antara penggunaan alat bantu penglihatan (p=0,019, OR=3,35), jarak pandang (p=0,047, OR=3,08), dan intensitas pencahayaan (p=0,047, OR=3,08) dengan kejadian CVS. Semua faktor risiko CVS berkontribusi terhadap kejadian CVS pada karyawan, tetapi tidak semua variabel berhubungan secara signifikan. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya perbaikan yang mencakup ketiga faktor tersebut dalam rangka menurunkan gejala CVS pada karyawan Head Office PT X.

The computer is one of the office work tools used to support work needs. The impact of excessive computer use is Computer Vision Syndrome (CVS). Head Office employees of PT X are at risk of developing CVS because they work daily using computers. This study aims to determine the incidence of CVS and associated risk factors in PT X employees. This study used a quantitative method with a cross sectional approach. Data collection used questionnaires, observation, and direct measurement to 100 respondents. The results showed that 75% of respondents experienced CVS. The most common CVS symptoms felt by respondents were eye strain (72%), itchy eyes (68%), and dry eyes (67%). CVS symptoms were more common among female employees (79,3%), employees who took breaks with a duration of 15 minutes (75,6%), employees who worked on laptops (76%), employees who used computers without anti glare coating (75,8%), and employees who used bright mode computers (78.1%). Relationship analysis using the chi square test showed a significant relationship between the use of visual aids (p=0,019, OR=3.35), visibility (p=0,047, OR=3.08), and lighting intensity (p=0,047, OR=3.08) with the incidence of CVS. All CVS risk factors contributed to the incidence of CVS in employees, but not all variables were significantly associated. Therefore, it is necessary to make improvement efforts that include all three factors in order to reduce CVS symptoms in PT X Head Office employees.
Read More
S-11686
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fikri Firdaus; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Izhar M. Fihir, Ratna Dewi Suriani, Okta Mutiara Marlina
Abstrak:

Latar belakang: Penggunaan komputer dapat menimbulkan suatu keluhan kesehatan yang disebut dengan Computer Vision Syndrome (CVS), Sindrom ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko individual, lingkungan dan komputer.

Tujuan: Mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor resiko ergonomik individual dan komputer yang berhubungan dengan kejadian Computer Vision Syndrome (CVS) pada pekerja pengguna komputer yang berkacamata dan pekerja yang tidak berkacamata.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian metode kualitatatif. Penelitian dilakukan pada bulan April - Mei 2013 di Unit Pelakasana dan Pelatihan. Sampel sebanyak 18 orang dengan kriteria tertentu, dibagi menjadi 2 kelompok pekerja berkacamata dan pekerja yang tidak berkacamata. Peneliltian dilakukan dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner dan pengukuran.

Hasil: Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian CVS adalah Kelembaban 71%, Pencahayaan kurang dari 300-500 lux (KEPMENKES nomor 1405/Menkes/SK/XI/2002), Usia lebih dari 40 tahun (das et al.), lama bekerja dengan komputer, dan jarak komputer dengan mata.

Kesimpulan: Gejala ekstraokuler pada pekerja pengguna kacamata bifocal melakukan retrofleksi leher sehingga leher tertekuk kebelakang yang menyebabkan keluhan nyeri pada leher. Penderita terbanyak bukan dari pengguna kacamata tetapi pada pekerja yang tidak berkacamata. Serta penderita CVS (berdasarkan kriteria anamnesa) di usia 25 tahun, kedua hal ini berkaitan dengan potur ergonomi pada saat kerja baik secara design tempat kerja, kondisi ruangan ataupun durasi kerja yang semuanya saling berkaitan sehingga menimbulkan gejala Computer Vision Syndrome (CVS).


Background: Computer usage could cause health complaints called Computer Vision Syndrome (CVS). This syndrome was influenced by individual and computer risk factors.

Aim: The objective of the study is to identify and to analyze individual and computer factors of computer Vision Syndrome (CVS).

Methods: This study was an observational study with methods qualitatively. The research was conducted in April-May 2013 in the Pelakasana and Training Unit. Sample of 18 people with certain criteria, divided into 2 groups of workers and workers who are not wearing glasses glasses. Peneliltian done by direct interviews using questionnaires and measurements.

Results: Factors associated with the incidence of CVS is Humidity 71%, less than the 300-500 lux lighting (KEPMENKES 1405/Menkes/SK/XI/2002), age over 40 years (das et al.), Long working computers, and computer distance by eye.

Conclusion: Extraocular symptoms in workers bifocal glasses users do retrofleksi neck so the neck is bent backwards which causes pain in the neck. Most patients but not from users goggles to workers who do not wear glasses. And people with CVS (based on criteria anamnesis) at the age of 25 years, these two things related to ergonomic posture at work both in design work, ambient conditions or duration of action that are all intertwined, giving rise to symptoms of Computer Vision Syndrome (CVS).

Read More
T-3800
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudi Riandika; pembimbing : Hendra; Penguji: Meily Kurniawidjaja, Heny D Mayawati
Abstrak: Pekerja yang menggunakan komputer berisiko menderita keluhan ComputerVision Syndrome (CVS). Keluhan CVS dapat menimbulkanketidaknyamanan dan penurunan produktivitas kerja. Tujuan dari penelitianini adalah untuk menjelaskangambaran faktor-faktor risiko CVS yang terdiridari faktor individu, faktor lingkungan, faktor komputer dan faktor proseskerja pada pekerja yang menggunakan komputer di PT. Sukabumi TradingCoy. Jenis penelitian ini merupakan deskriptif yang menggambarkan faktor-faktor risiko pada 15 responden.Hasil penelitian menunjukan 60%responden menderita CVS, 83,3% responden perempuan menderita CVS,75% responden yang menggunakan kacamata menderita CVS, 50%responden yang jarak penggunaan komputer tidak sesuai menderita CVS dan 53,85% responden yang memiliki tingkat pencahayaan meja kerja yangtidak sesuai menderita CVS . Diperlukan perbaikan lingkungan kerja dan perhatian lebih kepada pekerja untuk mencegah terjadinya keluhan CVS. Kata Kunci :Computer Vision Syndrome (CVS), faktor individu, faktor lingkungan, faktor komputer ̧ faktor proses kerja.
Workers who use computers at risk of suffering from complaints ComputerVision Syndrome (CVS). Complaints CVS can cause discomfort anddecreased work productivity. The purpose of this study is to clarify thepicture of CVS risk factors consisting of individual factors, environmentalfactors, factors computer and work process factors in workers who use acomputer at PT. Sukabumi Trading Coy. This type of research is descriptivethat describes the risk factors in 15 respondents. The results showed 60% ofrespondents suffer from CVS, 83.3% of women suffer from CVSrespondents, 75% of respondents make use of glasses suffer CVS, 50% ofrespondents who use computers are not appropriate distance suffers CVSand 53.85% of respondents who have a work desk lighting levels CVSincompatible suffer. Necessary repair work environment and more attentionto workers to prevent complaints CVS.Key words :Computer Vision Syndrome (CVS), individual factors,environmental factors, computer factors, factor computer work processes.
Read More
S-8491
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sayid Muhammad Naufal Alkhairid; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Hanny Harjulianti
Abstrak:
Burnout merupakan masalah kesehatan kerja yang semakin umum di kalangan pekerja kantor akibat tuntutan kerja tinggi, beban kerja berlebih, dan kurangnya keseimbangan kerja-hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat dukungan sosial dengan risiko burnout pada pekerja kantor di PT X tahun 2026. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan sampel sebanyak 141 responden pekerja kantor (PKWTT) yang bekerja secara dominan di lingkungan perkantoran kantor pusat PT X Jakarta, dipilih dengan metode convenience sampling sesuai kriteria inklusi. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner Caplan Social Support Scale (CSSS) untuk mengukur dukungan sosial dan Burnout Assessment Tool (BAT) untuk mengukur risiko burnout. Data dianalisis secara univariat, bivariat dengan uji Chi-Square, dan dilakukan uji validitas, reliabilitas, serta normalitas. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara dukungan sosial dan risiko burnout (Pearson Chi-Square = 23,593; df = 4; p-value < 0,001). Hubungan bersifat negatif, di mana semakin tinggi dukungan sosial yang dirasakan responden, semakin rendah risiko burnout yang dialami. Mayoritas responden memiliki dukungan sosial sedang (67,1%) dan risiko burnout sedang (65,9%). Temuan ini memperkuat peran dukungan sosial sebagai faktor protektif terhadap burnout. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan signifikan negatif antara dukungan sosial dan burnout pada pekerja kantor PT X. Direkomendasikan agar perusahaan meningkatkan dukungan sosial di tempat kerja melalui program intervensi psikososial untuk mencegah burnout dan meningkatkan kesejahteraan karyawan.

Burnout is an increasingly common occupational health issue among office workers due to high job demands, excessive workload, and poor work-life balance. This study aimed to analyze the relationship between social support and burnout risk among office workers at PT X in 2026. A cross-sectional design was employed with a sample of 141 office workers (permanent employees) primarily working in the office environment at PT X headquarters in Jakarta, selected through convenience sampling based on inclusion criteria. Data were collected using the Caplan Social Support Scale (CSSS) to measure social support and the Burnout Assessment Tool (BAT) to measure burnout risk. Data were analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test, along with validity, reliability, and normality tests. The results revealed a statistically significant relationship between social support and burnout (Pearson Chi-Square = 23.593; df = 4; p-value < 0.001). The relationship was negative, indicating that higher perceived social support was associated with lower burnout levels. Most respondents reported moderate social support (67.1%) and moderate burnout risk (65.9%). These findings reinforce the role of social support as a protective factor against burnout. In conclusion, there is a significant negative relationship between social support and burnout among office workers at PT X. It is recommended that the company enhance workplace social support through psychosocial intervention programs to prevent burnout and improve employee well-being.
Read More
S-12397
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andraditta Safitri; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Chandra Satrya, Farida Tusafariah
Abstrak: Computer Vision Syndrome (CVS) merupakan sekumpulan gejala yang sering dialami oleh pengguna komputer dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor personal, komputer, durasi, lingkungan, dan kombinasi dari keempatnya. Penelitianini merupakan penelitian deskriptif untuk melihat distribusi dan frekuensi dari faktorrisiko CVS pada pegawai Pengembagan & Pelayanan Sistem Informasi (PPSI) di Gedung Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI). Desain studi penelitian ini adalah cross sectional dan melibatkan 26 pegawai sebagai responden penelitian. Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner, wawancara, observasi,dan pengukuran langsung. Hasil penelitian menunjukan bahwa 84,6% respondenmengalami keluhan gejala CVS dengan keluhan yang paling banyak dirasakan adalaheyestrain (73,1%), fatigue (65,4%), nyeri pundak dan nyeri punggung (57,7%) padaresponden yang memiliki area kerja dengan tingkat pencahayaan < 300 lux. Memperbaiki tingkat pencahayaan pada area kerja, melakukan koreksi yang tepatpada kelainan refraksi mata, dan memperbaiki postur duduk saat bekerja denganmenggunakan komputer dapat membantu mengurangi gejala CVS. Kata kunci:Computer vision syndrome, CVS, Pegawai PPSI
Computer Vision Syndrome (CVS) is a group of symptoms that are often experiencedby computer users and it is influenced by various factors: personal, computer,duration, and environmental factors or combination of these factors. This descriptivestudy aims to determine the distribution and frequency of CVS risk factors in PPSIemployee at Faculty of Computer Science, University of Indonesia ( UI ). The designof this study is cross-sectional and involved 26 employees as respondent. The datawere collected by questionnaires, interviews, observation, and direct measurement.The results showed that 84.6 % respondents get CVS complaint with the mostcomplaints are eyestrain (73.1 %), fatigue (65.4 %), shoulder and back pain (57.7 %)in work area with light levels <300 lux. Improve the level of lighting in the workarea, correct the vision error with a proper lens, and improve sitting posture whileworking with computer may help to reduce the CVS symptoms.Keyword: Computer vision syndrome, CVS, PPSI employee
Read More
S-8113
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizqi Avrila Putri; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra, Ndiyan Y. Aripta, Fatima Azzahra
Abstrak: Sindrom metabolik adalah kumpulan dari beberapa faktor risiko berupa tingginya kadar gula darah, rendahnya kadar High Density Lipid (HDL), tingginya kadar trigliserida, obsesitas sentral serta hipertensi. Seseorang yang mengidap sindrom metabolik memiliki risiko lebih tinggi untuk terserang penyakit kronik seperti kardiovaskuler dan diabetes melitus tipe 2 di kemudian hari. Berdasarkan hasil Medical Check Up pada pegawai Perusahaan Migas X Jakarta di tahun 2014, angka dislipidemia mencapai 69,4%, obesitas 14,8%, overweight 33,17%, diabetes 8,7%. Selain itu, berdasarkan pengamatan penulis, pegawai pusat Perusahaan Migas X memiliki gaya hidup yang cenderung sedentary karena lebih banyak duduk di kursi untuk mengerjakan pekerjaan administratif dan cukup sering mengonsumi makanan yang tinggi lemak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko apa saja yang berhubungan dengan sindrom metabolik pada pekerja kantor pusat Perusaahan Migas X dengan menggunakan desain studi cross sectional. Hasil penelitian ditemukan bahwa prevalensi sindrom metabolik pada pekerja kantor pusat Perusaahan Migas X adalah 25%. Variabel independen yang berhubungan signifikan dengan kejadian sindrom metabolik adalah pola makan protein hewani (p value= 0,016), pola makan lemak (p value=0,037), Indeks Masa Tubuh (p value=0,001), aktivitas fisik (p value= 0,010), perilaku sedentary (p value=0,030) dan merokok (p value=0,037). Oleh karena itu, perlu adanya strategi untuk memberikan pengetahuan dan informasi terkait pola makan yang seimbang serta meningkatkan kemauan pekerja untuk senantiasa melakukan aktivitas fisik yang cukup dan teratur serta tidak merokok untuk menjaga berat badan yang ideal, memiliki gaya hidup yang sehat dan mencegah penyakit kronik akibat sindrom metabolik
Metabolic syndrome is a cluster of some risk factors such as high level of glucose and triglyceride, low level of High Density Lipid (HDL), central obesity, and hypertension. Someone who suffers from metabolic syndrome has higher risk to get chronic disease like cardiovascular disease and diabetes melitus type 2 in the future. As per Medical Check Up result of Oil and Gas Company X workers in 2014, found that dyslipidemia up to 69,4%, obesity 14,8%, overweight 33,17%, diabetes 8,7%. Furthermore, based on observation, office workers of Oil and Gas Company X tend to have sedentary life style since they spent most of their time at office to sit for doing some administrative task and often consume high fat food. Thus, the objective of this study was to analyze the risk factors that associate with metabolik syndrome on Head Office Workers of Oil and Gas Company X using cross sectional design study. The result of this study foud that prevalence of metabolik syndrome on Head Office Workers of Oil and Gas Company X is 25%. The independent variables that were significant with metabolic syndrome were animal protein diet (p value = 0.016), fat diet (p value = 0.037), body mass index (p value= 0,001), physical activity (p value = 0.010), and sedentary lifestyle (p value = 0.030) and smoking (p value= 0,037). Therefore, it is necessary to create strategy in order to provide knowledge and information regarding a balanced diet and increase the willingness of workers to do sufficient and regular physical activity and stop smoking to maintain ideal body weight, having a healthy life style and prevent chronic disase caused by metabolik syndrome
Read More
T-5519
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Raihan Anugrah Pekerti; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Fayendra Fitra Akbar
Abstrak:
Aspek ergonomi merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam lingkungan kerja, tidak terkecuali di sektor perkantoran. Pekerja kantor tidak terlepas dari beberapa isu ergonomi seperti postur janggal, postur statis, dan gerakan repetitif. Berdasarkan hasil observasi dan tinjauan dokumen perusahaan, aspek ergonomi masih menjadi permasalahan di PT X karena belum diterapkan secara maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor ergonomi pekerja kantor PT X dengan menggunakan desain studi yang bersifat deskriptif dan eksploratif dengan pendekatan analisis kualitatif. Hasil analisis dan pengukuran faktor ergonomi menunjukkan bahwa sebagian besar kegiatan pekerja administrasi di PT X berada pada kondisi ”fitting the man to the job” dimana 5 dari 7 pekerja harus menyesuaikan diri dengan kondisi pekerjaan. Hal ini disebabkan karena adanya interaksi dari postur janggal para pekerja, frekuensi dan durasi kerja yang tidak aman (faktor pekerjaan); desain kursi dan meja, ketinggian monitor, luas area kerja serta koridor yang kurang memadai (faktor peralatan); serta kurangnya intensitas pencahayaan area kerja (faktor lingkungan). Dengan demikian, PT X perlu meningkatkan perhatian terkait aspek ergonomi diantaranya melalui pengadaan peralatan kerja yang ergonomis, penggantian lampu di area kerja, serta edukasi rutin kepada para pekerja terkait pentingnya aspek ergonomi di perkantoran.

Ergonomics is one aspect that needs to be considered in the work environment, including the office sector. Office workers cannot be separated from several ergonomic issues such as awkward postures, static postures, and repetitive movements. Based on the results of observations and review of company documents, ergonomic aspects are still a problem at PT X because they have not been implemented optimally. This study aims to analyse the ergonomic factors of PT X office workers using a descriptive and exploratory study design with a qualitative analysis approach. The results of the analysis and measurement of ergonomic factors show that most of the activities of administrative workers at PT X are in the condition of "fitting the man to the job" where 5 out of 7 workers must adjust to work conditions. This is due to the interaction of the workers awkward postures, unsafe work frequency and duration (work factors); inadequate chair and table design, monitor height, work area and corridors (equipment factors); and lack of work area lighting intensity (environmental factors). Thus, PT X needs to increase attention related to ergonomic aspects, including through the procurement of ergonomic work equipment, replacement of lights in the work area, and regular education to workers regarding the importance of ergonomic aspects in the office.
Read More
S-11722
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sabrina Putri Fatonah; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Erik Riya Firmanto
Abstrak:
Distres kerja merupakan kondisi ketegangan psikologis yang timbul akibat ketidaksesuaian antara tuntutan pekerjaan dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki pekerja, yang apabila berlangsung kronis dapat berdampak pada kesehatan, kinerja, dan kesejahteraan psikologis. Meskipun isu distres kerja telah lama menjadi perhatian dalam kesehatan kerja, sektor perkantoran relatif kurang mendapat sorotan dibandingkan sektor dengan risiko fisik tinggi, padahal beban administratif, target kinerja, dan koordinasi lintas fungsi yang intensif berpotensi meningkatkan risiko psikososial pada pekerja kantor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan distres kerja pada pekerja kantor PT XYZ tahun 2026, meliputi faktor work arena (beban kerja, ketidakjelasan peran, konflik peran, ketidakamanan kerja, kontrol pekerjaan), home arena (home-work interface, status pernikahan), social arena (hubungan interpersonal, dukungan sosial), dan individual arena (usia, jenis kelamin, masa kerja). Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif melalui kuesioner terhadap 119 pekerja kantor PT XYZ. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square, serta regresi logistik sederhana untuk variabel dengan lebih dari dua kategori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68 responden (57,1%) mengalami distres kerja kategori tinggi. Hasil uji statistik menemukan hubungan yang signifikan antara distres kerja dengan beban kerja tinggi (p=0,003; OR=3,16), ketidakjelasan peran tinggi (p=0,012; OR=2,67), konflik peran tinggi (p<0,001; OR=3,91), hubungan interpersonal buruk (p=0,000; OR=6,076), jenis kelamin perempuan (p=0,048; OR=2,12), dan masa kerja menengah (p=0,020; OR=4,80), sedangkan ketidakamanan kerja, kontrol pekerjaan, home-work interface, status pernikahan, dukungan sosial, dan usia tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa lebih dari separuh pekerja kantor PT XYZ mengalami distres kerja tinggi, dengan konflik peran dan hubungan interpersonal sebagai faktor yang berhubungan paling kuat. Perusahaan disarankan melakukan asesmen distres kerja secara berkala, evaluasi dan redistribusi beban kerja, penyusunan deskripsi tugas yang jelas, serta penguatan budaya kerja yang suportif untuk menurunkan risiko distres kerja pada pekerja kantor.

Work distress is a condition of psychological strain arising from an imbalance between job demands and the resources or capacities available to workers, which, if chronic, can negatively affect health, performance, and psychological well-being. Although work distress has long been a concern in occupational health, the office sector has received relatively less attention compared to sectors with high physical risk, even though administrative workload, performance targets, and intensive cross-functional coordination may increase psychosocial risk among office workers. This study aims to analyze the factors associated with work distress among office workers at PT XYZ in 2026, covering the work arena (workload, role ambiguity, role conflict, job insecurity, job control), home arena (home–work interface, marital status), social arena (interpersonal relationships, social support), and individual arena (age, gender, length of employment). This study used a cross-sectional design with a quantitative approach through questionnaires administered to 119 office workers at PT XYZ. Bivariate analysis was conducted using the Chi-Square test, along with simple logistic regression for variables with more than two categories. The statistical analysis found significant associations between work-related distress and high workload (p = 0.003; OR = 3.16), high role ambiguity (p = 0.012; OR = 2.67), high role conflict (p < 0.001; OR = 3.91), poor interpersonal relationships (p < 0.001; OR = 6.076), female gender (p = 0.048; OR = 2.12), and medium job tenure (p = 0.020; OR = 4.80). In contrast, job insecurity, job control, home–work interface, marital status, social support, and age were not significantly associated with work-related distress (p > 0.05). This study concludes that more than half of office workers at PT XYZ experience high levels of work distress, with role conflict and interpersonal relationships being the most strongly associated factors. The company is advised to conduct periodic work distress assessments, evaluate and redistribute workload, establish clear job descriptions, and strengthen a supportive work culture to reduce the risk of work distress among office workers.
Read More
S-12374
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diva Mahardikawati; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Fatma Lestari, Tubagus Dwika Yuantoko, Bima Haryadi
Abstrak:
Pekerja konstruksi memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan kerja karena karakteristik pekerjaannya yang melibatkan aktivitas fisik berat, durasi kerja panjang, serta paparan lingkungan kerja seperti panas dan kebisingan. Kelelahan kerja dapat berdampak pada penurunan konsentrasi, ketelitian, kecepatan respons, dan human performance pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja dan dampak kelelahan kerja terhadap human performance pada pekerja konstruksi di PT X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 113 pekerja konstruksi. Variabel yang diteliti meliputi faktor individu, faktor terkait pekerjaan, dan human performance. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, pengukuran beban kerja fisik melalui denyut nadi, serta pengukuran lingkungan kerja kebisingan dan suhu. Instrumen yang digunakan meliputi Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, dan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Analisis data yang dilakukan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial (analisis bivariat dan multivariat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja adalah waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik dengan nilai p-value masing-masing 0,000. Berdasarkan hasil analisis multivariat, diketahui bahwa terdapat tiga variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja, yaitu waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik. Variabel waktu perjalanan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kelelahan kerja dengan nilai OR = 17,057. Kelelahan kerja juga berhubungan signifikan dengan human performance dengan nilai p-value 0,023 dengan nilai OR 2,457. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja yang tidak mengalami kelelahan kerja memiliki peluang 2,457 kali lebih besar untuk memiliki human performance tinggi dibandingkan pekerja yang mengalami kelelahan kerja.

Construction workers are at high risk of experiencing occupational fatigue due to the characteristics of their work, which involve heavy physical activity, long working hours, and exposure to work environment factors such as heat and noise. Occupational fatigue may lead to decreased concentration, accuracy, response speed, and workers’ human performance. This study aimed to analyze the risk factors associated with occupational fatigue and the relationship between occupational fatigue and human performance among construction workers at PT X in 2026. This study used a cross-sectional design involving 113 construction workers as respondents. The variables examined included individual factors, work-related factors, occupational fatigue, and human performance. Data were collected using questionnaires, physical workload measurement through pulse rate assessment, and work environment measurements, including noise and temperature. The instruments used in this study included the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, and the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Data were analyzed using descriptive and inferential analyses, including bivariate and multivariate analyses. The results showed that factors associated with occupational fatigue were commuting time, sleep quantity, and physical workload, with p-values of <0.001 for each variable. Based on the multivariate analysis, these three variables had a significant relationship with occupational fatigue. Commuting time was identified as the most dominant factor associated with occupational fatigue, with an OR value of 17.057. Occupational fatigue was also significantly associated with human performance, with a p-value of 0.023 and an OR value of 2.457. This indicates that workers who did not experience occupational fatigue were 2.457 times more likely to have high human performance compared to workers who experienced occupational fatigue.
Read More
T-7713
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive