Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35133 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tanaya Sulanjari Kusumaningtyas; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Didik Triwibowo
Abstrak:

Latar Belakang: Sektor pertambangan merupakan sektor yang memiliki risiko yang tinggi sehingga perlu adanya implementasi K3, tak hanya untuk menjaga keselamatan dan kesehatan para pekerja namun juga untuk menjaga produktivitas kerja sehingga roda bisnis akan terus berjalan. Selain kecelakaan kerja, penyakit tidak menular juga dapat menurunkan produktivitas kerja dikarenakan absenteisme dan loss work time. Penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit kardiovaskulas merupakan penyakit yang menyumbang angka kematian terbesar di seluruh dunia. Kedua penyakit tersebut dapat muncul pada seseorang yang memiliki sindrom metabolik. Di Indonesia, terdapat beberapa penelitian mengenai sindrom metabolik dengan angka prevalensi yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko sindrom metabolik pada pekerja tambang batu bara di PT Z.
Metode: Desain dari penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder dari hasil MCU karyawan. Variabel yang akan diukur dalam penelitian ini adalah faktor individu (usia, jenis kelamin, dan riwayat penyakit keluarga); faktor perilaku (aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol); dan faktor (pajanan bising, pajanan panas, dan pajanan debu).
Hasil: Sebanyak 34 pekerja (9,3%) memiliki sindrom metabolik. Obesitas sentral (35,4%), kadar trigliserida tinggi (27,2%), dan hipertensi (26,4%) merupakan tiga komponen tertinggi yang dimiliki pekerja. Hasil analisis menyatakan bahwa tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara variabel faktor individu, faktor perilaku, dan faktor lingkungan dengan kejadian sindrom metabolik pada pekerja tambang batu bara di PT Z (p-value > 0,05)
Kesimpulan: Walaupun prevalensi sindrom metabolik dari penelitian ini adalah 9,3%, banyak dari pekerja yang memiliki 1-2 komponen sindrom metabolik yang mana komponen tersebut dapat mempengaruhi perkembangan komponen baru. Oleh karena itu, tetap perlu adanya program kesehatan untuk dapat menjaga ataupun menekan angka komponen dari sindrom metabolik tersebut.


Background: The mining sector is a high risk sector that needs the implementation of SHE, not only to ensure the safety and health of the workers but also to maintain work productivity so that business operations can continue. In addition to workplace incidents, non-communicable diseases can also lower work productivity by absenteism and loss work time. Non-communicable diseases such as diabetes and cardiovascular disease account for the highest number of deaths worldwide. Both of those diseases can occur in people who has metabolic syndrome. In Indonesia, there are a few studies about metabolic syndrome with varying prevalence rates. This study aims to analyze the risk factors for metabolic syndrome among coal mine workers in PT Z. Methods: This study uses a quantitative approach with a cross-sectional study design. The data collection for this study was conducted using secondary data from the results of the employees’ medical check up. The variables for this study consists of individual factors (age, sex, and family medical history); behavioral factors (physical activity, smoking habbits, and alcohol consumption); and environmental factors (noise exposure, heat exposure, and dust exposure). Results: A total of 34 workers (9,3%) have metabolic syndrome. Central obesity (35,4%),  high triglyceride (27,2%), and hypertention (26,4%) are the three highest component of the metabolic syndrome that the workers have. Analysis results indicate that no significant assosiaction was found between individual, behavioral, and environmental factors and the incidence of metabolic syndrome among coal miners at PT Z (p-value > 0.05). Conclusion: Although the prevalence of metabolic syndrome in this study was 9.3%, many of the workers had 1–2 components of metabolic syndrome, which could influence the development of new components. Therefore, health programs are still needed to maintain or reduce the prevalence of these components of metabolic syndrome.

Read More
S-12473
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arya Pandu Mahardhika; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Taqwa Logika Utama
Abstrak:
Sindrom metabolik menurut Joint Interim Statement (JIS) merupakan kumpulan faktor risiko yang saling terkait untuk penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2 yang ditandai oleh adanya 3 dari 5 faktor risiko, yaitu obesitas sentral, kadar trigliserida tinggi, HDL kolesterol rendah, hipertensi, dan hiperglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko sindrom metabolik yang terdiri dari faktor lingkungan (lokasi kerja, tempat tinggal), faktor perilaku (kebiasaan merokok, aktivitas fisik, pola makan, durasi tidur), dan faktor gentik (usia, riwayat penyakit keluarga) dengan kejadian sindrom metabolik pada pekerja tambang di PT XY Kalimantan Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner secara online dan data komponen sindrom metabolik diperoleh dari hasil Medical Check Up (MCU). Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 105 responden, 22 responden (21%) mengalami sindrom metabolik. Faktor risiko yang berhubungan secara signifikan dengan sindrom metabolik pada pekerja tambang di PT XY adalah usia (p-value = 0,001), sedangkan lokasi kerja, tempat tinggal, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, pola makan, durasi tidur, dan riwayat penyakit keluarga tidak berhubungan secara signifikan dengan sindrom metabolik pada pekerja tambang di PT XY.


Metabolic syndrome, according to the Joint Interim Statement (JIS), is a cluster of interrelated risk factors for cardiovascular disease and type 2 diabetes, characterized by the presence of at least three out of five specific conditions: central obesity, elevated triglyceride levels, low HDL cholesterol, hypertension, and hyperglycemia. This study aims to analyze the relationship between risk factors for metabolic syndrome, including environmental factors (work location and place of residence), behavioral factors (smoking habits, physical activity, eating pattern, and sleep duration), and genetic factors (age and family history of disease), with the incidence of metabolic syndrome among mine workers at PT XY, East Kalimantan. A cross-sectional study design with a quantitative approach was employed. Primary data were collected through online questionnaires, while data on metabolic syndrome components were obtained from Medical Check-Up (MCU) results. The analysis revealed that among 105 respondents, 22 (21%) had metabolic syndrome. Among the assessed risk factors, only age was significantly associated with the incidence of metabolic syndrome (p = 0.001). Other factors, such as work location, place of residence, smoking habits, physical activity, eating pattern, sleep duration, and family history of disease, showed no significant association.
Read More
S-12095
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Caluella Valanta; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Abdul Kadir, Toha Fahrudin
Abstrak:
Sindrom metabolik (SM) adalah gabungan dari beberapa kondisi gangguan metabolisme yang ditandai dengan obesitas sentral, hipertrigliserida, kadar high density lipoprotein (HDL) rendah, kadar gula darah puasa (GDP) tinggi, serta hipertensi. Kejadian sindrom metabolik secara global diperkirakan akan terus meningkat seiring perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup, dan pertambahan usia penduduk. Banyak hal yang dapat memengaruhi kejadian SM pada pekerja, seperti usia, pola hidup, pola kerja, tempat tinggal, dan lain-lain. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor risiko SM di PT X. PT X sebagai salah satu perusahaan tambang batubara di Kalimantan Timur telah melakukan deteksi awal dari proporsi karyawan yang mengalami obesitas, kolesterol tinggi, hipertensi, dan pre-diabetes, namun belum melakukan deteksi yang komprehensif terhadap kejadian SM. Penelitian dilakukan menggunakan desain studi cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan hasil medical check up pekerja. Penelitian ini mengumpulkan 213 responden yang merupakan karyawan PT X beserta enam PJP. Hasil analisis menunjukkan sebanyak lima responden (2,3%) mengalami SM. Faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian SM di PT X adalah aktivitas fisik (p-value = 0,004; OR = 12,98) dan pola makan (p-value = 0,037; OR = 2,029). Meskipun proporsi kejadian sindrom metabolik cukup kecil, tidak menutup kemungkinan adanya risiko yang belum terdeteksi sehingga diperlukan pemantauan lebih lanjut kepada seluruh pekerja. Evaluasi terhadap aktivitas fisik dan pola makan karyawan juga diperlukan untuk menurunkan risiko sindrom metabolik.

Metabolic syndrome (MS) is a cluster of metabolic disorders including abdominal (central) obesity, hypertriglyceridemia, low high-density lipoprotein (HDL) level, high fasting blood glucose level, and high blood pressure. The prevalence of MS increases globally due to technology developments, lifestyle changes, and an aging population. Many factors are associated with the occurrence of MS in workers including age, lifestyle, job, residence, and many more. Therefore, this research was conducted to find the risk factors of MS in PT X. PT X as one of the coal mining companies in East Kalimantan have screened its employees for obesity, high total cholesterol levels, hypertension, and pre-diabetes. However, the company has not yet determined the number of MS cases that have happened among its employees. Research was conducted using cross-sectional study design with a quantitative approach. Data was collected using questionnaire, interview, and medical check-up reports. This research collected 213 respondents including PT X and service companies. Among them, five respondents (2,3%) were identified as having MS. Risk factors that showed significant correlations with the occurrence of MS are physical activity (p-value = 0,004; OR = 12,98) and diet (p-value = 0,037; OR = 2,029). Despite the low percentage of MS cases, there is a possibility that some risks were not covered in this research. Therefore, it is recommended to conduct a thorough examination to all employees. Evaluating the intensity of physical activity and dietary habits is necessary to reduce the risk of MS.
Read More
S-11503
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anak Agung Putu Emanita Parameswari; Pembimbing: Robiana Modjol; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Eko Prasetio Indarto S.
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan gangguan dalam proses metabolisme tubuh yang secara langsung meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, diabetes mellitus, dan stroke. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko sindrom metabolik yang terdiri dari faktor lingkungan (lokasi kerja dan tempat tinggal), faktor genetik (jenis kelamin, suku/etnis, usia, dan riwayat penyakit orang tua), dan faktor perilaku (kebiasaan merokok dan aktivitas fisik) pada pekerja tambang di PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN). Penelitian ini menggunakan studi cross sectional dan pengambilan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner secara daring. Prevalensi sindrom metabolik dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan kriteria International Diabetes Federation (IDF). Dari sebanyak 111 orang pekerja yang menjadi responden penelitian, didapatkan 27 (24,3%) orang pekerja mengalami sindrom metabolik. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin (p – value = 0,039) dan riwayat penyakit orang tua (p – value = 0,009) dengan kejadian sindrom metabolik. Kata kunci: Sindrom metabolik, Pekerja Tambang, Faktor Risiko Sindrom Metabolik, International Diabetes Federation (IDF)

Metabolic syndrome is an accumulation from several disorders in the body's metabolic processes that directly increases the risk of cardiovascular diseases such as hypertension, diabetes mellitus, and stroke. This study aims to analyze the relationship between metabolic syndrome risk factors which include environmental factors (work location and place of residence), genetic factors (gender, ethnicity, age, and parental disease history), and behavioral factors (smoking habits and physical activity) on mining workers at PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN). This study used a cross-sectional method and data collection was carried out by distributing online questionnaires. The prevalence of metabolic syndrome in this study was determined based on International Diabetes Federation (IDF) criteria. From 111 workers who became research respondents, it was found that 27 (24.3%) workers had metabolic syndrome. In addition, there was a significant relationship between gender (p–value = 0.039) and parental disease history (p–value = 0.009) with the incidence of metabolic syndrome. Keywords: Metabolic syndrome, mine workers, Metabolic syndrome risk factors, International Diabetes Federation (IDF)
Read More
S-11241
Depok : FKM UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safira Hazzrah Medinah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Mohammad Zayyin
Abstrak:
Kelelahan atau fatigue pada pekerja tambang memiliki dampak yang besar terhadap tingkat absenteisme, penurunan produktivitas, biaya kesehatan, dan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan kelelahan pada pekerja di PT X serta menganalisis faktor-faktor yang berhubungan. Faktor risiko yang diteliti yaitu faktor terkait pekerjaan (beban kerja, masa kerja, waktu istirahat, area kerja, shift kerja, dan stres kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, kualitas dan kuantitas tidur, kebiasaan merokok, commuting time, pekerjaan sampingan, konsumsi kafein, status pernikahan, status gizi, dan olah raga). Untuk mengukur kelelahan menggunakan kuesioner Occupational Fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER), mengukur stres kerja menggunakan kuesioner Survei Diagnosis Stres (SDS), mengukur kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), mengukur beban kerja mental menggunakan NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ), mengukur karakteristik responden menggunakan The Self-administered Questionnaire, dan untuk mengukur beban kerja fisik menggunakan alat Fingertip Pulse Oximeter. Penelitian ini dilakukan kepada 156 pekerja tambang di PT X dengan menggunakna desain penelitian cross-sectional. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja, waktu istirahat, usia, dan beban kerja mental dengan kelelahan. Oleh karena itu, perlu dilakukannya pengembangan program pencegahan dan pengendalian kelelahan (fatigue management) di tempat kerja dan melihat hubungan faktor terkait pekerjaan yang lebih dominan terhadap kelelahan dibandingkan faktor tidak terkait pekerjaan.

Fatigue in mining workers has a huge impact on absenteeism rates, decreased productivity, medical costs, and accidents. This study aims to describe the level of fatigue in workers at PT. X and analyze the associated risk factors. The risk factors studied included work-related factors (workload, period of work, rest time, mining area, work shifts, and work stres) and non-work related factors (age, sleep quality and sleep quantity, smoking status, commuting time, side work, caffeine consumption, marital status, body mass indeks, and exercise). To measure fatigue, the Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER) questionnaire was used, Survey Diagnostic Stress (SDS) was used to measure job stress, the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire was used to measure sleep quality, NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ) was used to measure mental workload, the Self-administered Questionnaire was used to measure respondent characteristics, and Fingertip Pulse Oximeter was used to measure physical workload. This research was conducted on 156 mining workers at PT. X by using a cross-sectional research design. Descriptive and inferential logistic regression was used to analyze the data. The results showed that there was a significant association between period of work, rest time, age, and mental workload. Therefore, it is necessary to develop a fatigue management program in the workplace and refers to see the result that the relationship between work related factors and fatigue is more dominant than non-work related factors.
Read More
S-11713
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Priscilla Ray Soelistyo; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Didik Triwibowo
Abstrak:
Kelelahan kerja merupakan permasalahan multidimensional yang menjadi ancaman serius bagi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karena dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi. Dampaknya tidak hanya menurunkan kondisi fisik dan mental pekerja, tetapi juga berkontribusi terhadap sekitar 15–20% kecelakaan kerja di tingkat nasional dan 13–19% kecelakaan kerja di tingkat internasional, termasuk kecelakaan fatal. Pada sektor pertambangan, risiko tersebut semakin meningkat akibat karakteristik operasional yang menuntut, sehingga pekerja tambang memiliki kemungkinan mengalami kelelahan sekitar dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan pekerja di sektor industri lainnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kelelahan subjektif pada operator kendaraan tambang batu bara PT X tahun 2026 sekaligus menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan.  Faktor yang dikaji mencakup faktor terkait pekerjaan, yaitu  beban kerja, shift kerja, lingkungan kerja, stres kerja, dan masa kerja, serta faktor tidak terkait pekerjaan, yaitu usia, kualitas tidur, kuantitas tidur, status pernikahan, gizi, konsumsi kafein, kebiasaan merokok, dan aktivitas fisik. Pengukuran kelelahan dilakukan menggunakan instrumen yang tervalidasi, yaitu Occupational fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER), variabel beban kerja diukur menggunakan NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ), variabel stres kerja diukur menggunakan Perceived Stress Scale (PSS), variabel  kualitas dan kuantitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dan variabel aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Dengan desain penelitian potong lintang (cross-sectional), analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian ini  menunjukkan bahwa baik faktor risiko kelelahan terkait pekerjaan maupun tidak terkait pekerjaan berhubungan signifikan dengan kelelahan. Variabel yang berhubungan secara signifikan yaitu lingkungan kerja, stres kerja, masa kerja, kualitas tidur, kuantitas tidur, status pernikahan, dan aktivitas fisik. Temuan penelitian ini menunjukkan pentingnya peningkatan program manajemen kelelahan terutama terkait faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan untuk menurunkan risiko kelelahan serta mencegah terjadinya kecelakaan kerja di sektor pertambangan.

Workplace fatigue is a multidimensional problem that poses a serious threat to occupational safety and health (OHS) because it is influenced by various interacting factors. Its impact not only reduces the physical and mental condition of workers, but also contributes to approximately 15–20% of workplace accidents nationally and 13–19% of workplace accidents internationally, including fatal accidents. In the mining sector, this risk is further increased due to demanding operational characteristics, so that mine workers are approximately two to three times more likely to experience fatigue than workers in other industrial sectors. This study aims to determine the picture of subjective fatigue in coal mining vehicle operators at PT X in 2026 while analyzing factors related to fatigue. The factors studied include work-related factors, namely workload, work shifts, work environment, job stress, and length of service, as well as non-work-related factors, namely age, sleep quality, sleep quantity, marital status, nutrition, caffeine consumption, smoking habits, and physical activity. fatigue measurements were conducted using a validated instrument, namely the Occupational fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER), workload variables were measured using the NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ), work stress variables were measured using the Perceived Stress Scale (PSS), sleep quality and quantity variables were measured using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), and physical activity variables were measured using the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). With a cross-sectional study design, data analysis was conducted descriptively and inferentially using the chi-square test. The results of this study indicate that both work-related and non-work-related fatigue risk factors are significantly related to fatigue. The variables that are significantly related are the work environment, work stress, tenure, sleep quality, sleep quantity, marital status, and physical activity. The findings of this study indicate the importance of improving fatigue management programs, especially related to risk factors related to fatigue, to reduce the risk of fatigue and prevent occupational accidents in the mining sector.
Read More
S-12446
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Martha Dina Apriliana; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Didik Triwibowo
Abstrak: Kecelakaan yang berkaitan dengan lalu lintas dan insiden yang berkaitan dengan kendaraan menjadi penyebab utama kecelakaan di area pertambangan. Salah satu penyebabnya adalah kelelahan pada operator truk tambang. Penelitian ini dilaksanakan untuk menjelaskan gambaran kelelahan subjektif dan menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan subjektif pada operator kendaraan tambang batu bara di area mining dan hauling PT Adaro Indonesia. Faktor-faktor risiko yang diteliti meliputi faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, status gizi (IMT), lingkar leher, keluhan kesehatan, kuantitas tidur, dan kualitas tidur) dan faktor risiko terkait pekerjaan (area kerja, masa kerja, shift kerja, commuting time, dan lingkungan kerja terutama temperatur, kebisingan, getaran, dan pencahayaan). Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga Juli 2022. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari kuesioner yang disebarkan secara dalam jaringan (daring), yang meliputi kuesioner karakteristik individu dan pekerjaan, Fatigue Assessment Scale (FAS) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial dengan uji chi-square serta uji regresi logistik ganda model prediksi. Besar sampel minimal dalam penelitian ini adalah 436 operator, namun data yang berhasil dianalisis adalah sebanyak 440 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 130 operator (29,5%) mengalami kelelahan subjektif. Hasil analisis statistik inferensial menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko tidak terkait pekerjaan, yaitu status gizi (IMT gemuk dan obesitas), keluhan kesehatan, dan kualitas tidur terhadap kelelahan subjektif pada operator. Hasil analisis statistik inferensial juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko terkait pekerjaan, yaitu masa kerja, temperatur, kebisingan, getaran, dan pencahayaan, terhadap kelelahan subjektif pada operator. Sementara itu, hasil analisis inferensial menggunakan uji regresi logistik ganda model prediksi menunjukkan bahwa kualitas tidur merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dengan kelelahan subjektif pada operator.
Accidents related to traffic and incidents related to vehicles are the main causes of accidents in mining areas. One of the causes is fatigue on mining truck operators. This study was conducted to describe subjective fatigue and analyze risk factors related to subjective fatigue in coal mining vehicle operators in mining and hauling area of PT Adaro Indonesia. The risk factors studied included non-work-related risk factors (age, nutritional status (BMI), neck circumference, health complaints, sleep quantity, and sleep quality) and work-related risk factors (work area, length of work, shift work, commuting time, and work environment, especially temperature, noise, vibration, and lighting). The study was conducted from February to July 2022. The data used in this study came from a questionnaire distributed online, which included a questionnaire on individual and job characteristics, the Fatigue Assessment Scale (FAS), and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data were analyzed using descriptive analysis and inferential analysis with chi-square test and multiple logistic regression test for prediction models. The minimum sample size in this study was 436 operators, but the data that were successfully analyzed were 440 respondents. The results showed that as many as 130 operators (29.5%) experienced subjective fatigue. The results of inferential statistical analysis using the chi-square test showed that there was a significant relationship between risk factors not related to work, namely nutritional status (fat and obesity BMI), health complaints, and sleep quality on subjective fatigue in operators. The results of inferential statistical analysis also show that there is a significant relationship between work-related risk factors, namely working period, temperature, noise, vibration, and lighting, and subjective fatigue on operators. Meanwhile, the results of inferential analysis using multiple logistic regression test predictive models indicate that sleep quality is the most dominant variable associated with subjective fatigue in operators.
Read More
S-11040
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Emanda Utami; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra, Devi Partina Wardani
Abstrak: Penyakit tidak menular merupakan penyebab tertinggi kematian di dunia. Banyak dari penduduk dunia juga kehilangan produktivitasnya akibat penyakit tidak menular. Salah satu yang menyumbang angka tertinggi untuk kesakitan dan kematian adalah penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus. Faktor risiko utama dari penyakit-penyakit tersebut adalah sindrom metabolik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko sindrom metabolik pada pekerja kantor pusat PT. X. Faktor risiko yang diteliti antara lain adalah aktivitas fisik, perilaku merokok, riwayat sakit orangtua dan asupan makan. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang paling berkontribusi atas perkembangan sindrom metabolik adalah faktor genetik, disusul dengan asupan makan, perilaku merokok dan aktivitas fisik. Dengan begitu, saran yang dapat disampaikan terkait hasil penelitian tersebut adalah dengan melakukan skrining terhadap seluruh pekerja terkait riwayat penyakit orangtua dan melakukan edukasi bagi pekerja yang rentan mengalami sindrom metabolik. Kata Kunci : Sindrom metabolik, aktivitas fisik, perilaku merokok, riwayat sakit, asupan makan Non-communicable diseases are the highest cause of death in the world. Many of the world's population also lost productivity due to non-communicable diseases. One of the highest contributors to illness and death is cardiovascular disease and diabetes mellitus. The main risk factor for these diseases is metabolic syndrome. This study aims to analyze the risk factors for metabolic syndrome in PT. X. Risk factors studied include physical activity, smoking behavior, parental illness, and food intake. This study uses a cross-sectional study design. The results of this study indicate that the factors that most contribute to the development of metabolic syndrome are genetic factors, followed by food intake, smoking behavior, and physical activity. That way, suggestions that can be delivered related to the results of the study are by screening all workers related to a history of parental illness and educating workers who are prone to experiencing the metabolic syndrome. Key Words : Metabolic syndrome, physical activity, smoking behavior, history of illness, food intake
Read More
S-10205
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Yuli Ikhwanuddin; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Ahmad Afif Mauludi, Hasan Bisri
Abstrak:
Profil K3 Nasional 2022 di Indonesia menunjukkan bahwa faktor manusia dalam keselamatan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap risiko kecelakaan kerja, termasuk di dalamnya perilaku mengambil risiko di tempat kerja. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan pendekatan mixed method kuantitatif dan kualitatif, yang bertujuan mendapatkan gambaran persepsi karyawan tentang perilaku mengambil risiko di tempat kerja serta menelusuri faktor-faktor penyebab karyawan berperilaku tersebut. 283 karyawan PT. XYZ Site A dari tingkat manajemen, pengawas, dan pekerja berpartisipasi dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan pertanyaan terbuka serta dianalisa secara kuantitatif dengan menggunakan Uji Statistik Chi-Square, serta secara kualitatif dengan menggunakan Model HFACS (The Human Factors Analysis and Classification System) dan Qualitative Comparative Analysis. Dari hasil Uji Chi-Square, variabel independen yang memiliki nilai Asymp. Sig. (2-sided) di bawah 0,05 (95% CI) adalah jabatan/posisi (0,014), penerimaan perilaku mengambil risiko (0,018), normalisasi kecelakaan kecil (0,002), keputusan akan mengambil risiko (0,000), serta persentase jumlah pelaku pelanggaran (0,032). Hal ini mengindikasikan bahwa kelima variabel tersebut memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perbuatan melanggar peraturan. Secara kualitatif, faktor-faktor penyebab perilaku mengambil risiko berupa kondisi berpuas diri dan kejenuhan, kurangnya komunikasi, kurangnya pengawasan, kurang tegasnya teguran / hukuman terhadap pelanggaran, serta pembiaran kondisi tidak aman. Secara pengaruh organisasi, manajemen sumber daya, iklim organisasi, serta proses organisasi perlu ditingkatkan kinerjanya. Perusahaan disarankan untuk meningkatkan pengaruh organisasinya ke arah upaya pencegahan perilaku mengambil risiko tersebut, diiringi dengan pemantauan ketat kepada tidak hanya pekerja, namun juga kepada para pengawasnya agar selalu berperilaku selamat.

The 2022 National Occupational Health and Safety (OHS) Profile in Indonesia shows that the human factor in safety is a factor that influences the risk of work accidents, including risk-taking behavior at workplace. This research uses a cross-sectional design and a mixed method of qualitative and quantitative approach, which aims to obtain an overview of employee perceptions towards risk-taking behavior at workplace and to explore the factors causing employees to perform such behavior. 283 employees of PT. XYZ Site A from the management, supervisory, and worker levels participated in this study. Data was collected through a questionnaire with open-ended questions and analyzed quantitatively using the Chi-Square Statistical Test, as well as qualitatively using the HFACS (The Human Factors Analysis and Classification System) Model and Qualitative Comparative Analysis. From the results of the Chi-Square Test, the independent variables that have a value of Asymp. Sig. (2-sided) below 0.05 (95% CI) are job title/position (0.014), acceptance of risk-taking behavior (0.018), normalization of minor accidents (0.002), decision to take risks (0.000), and the percentage of the number of violators (0.032). This indicates that those five variables have a positive and significant effect on rule-breaking. Qualitatively, factors causing risk-taking behavior are the conditions of complacency and boredom, lack of communication, lack of supervision, lack of strong punishment on violations, as well as ignorance on unsafe conditions. As per organizational influences, the resource management, organizational climate, and organizational processes need improvement on their performance. The company is advised to increase its organizational influence towards efforts to prevent this risk-taking behavior, by carrying out strict monitoring not only to the workers, but also to the supervisors so that they always behave safely.
Read More
T-7165
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irfan Kurniawan; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Abdul Kadir, Puspita Tri Utami, Firman Fridono
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan kumpulan faktor risiko kardiometabolik yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus tipe 2. Pegawai perkantoran, termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN), berisiko mengalami sindrom metabolik karena pola kerja sedentary, keterbatasan aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, dan perilaku berisiko lainnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko sindrom metabolik pada pegawai ASN Lembaga X tahun 2026. Penelitian menggunakan desain mixed methods sequential explanatory. Tahap kuantitatif merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional pada 340 responden menggunakan data Medical Check-Up tahun 2025 dan kuesioner faktor risiko tahun 2026. Status sindrom metabolik ditentukan berdasarkan kriteria Joint Interim Statement 2009. Analisis meliputi univariat, bivariat, dan regresi logistik multivariat. Tahap kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci untuk menjelaskan hasil kuantitatif. Prevalensi sindrom metabolik sebesar 26,2%. Komponen yang paling banyak ditemukan adalah obesitas sentral (58,5%), diikuti trigliserida tinggi (32,4%), glukosa darah puasa tinggi (32,1%), HDL rendah (28,5%), dan hipertensi (18,2%). Model akhir menunjukkan bahwa IMT obesitas merupakan faktor paling dominan (AOR=23,347; 95% CI: 7,863–69,372; p<0,001), diikuti merokok (AOR=2,452; 95% CI: 1,235–4,868; p=0,010), pola makan tidak sering bergizi seimbang (AOR=2,430; 95% CI: 1,405–4,203; p=0,001), riwayat penyakit keluarga (AOR=2,135; 95% CI: 1,181–3,859; p=0,012), perilaku sedentary ≥6 jam/hari (AOR=2,182; 95% CI: 1,096–4,344; p=0,026), dan aktivitas fisik kurang aktif (AOR=1,829; 95% CI: 0,999–3,348; p=0,050). Hasil kualitatif menunjukkan bahwa pekerjaan duduk lama, konsumsi saat rapat atau lembur, hambatan aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan belum optimalnya tindak lanjut hasil MCU memperkuat risiko sindrom metabolik. Sindrom metabolik pada pegawai ASN Lembaga X dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis, perilaku, dan lingkungan kerja. Diperlukan program kesehatan kerja terintegrasi berbasis hasil MCU yang memprioritaskan pengendalian obesitas, konsumsi sehat, peningkatan aktivitas fisik, pengurangan perilaku sedentary, serta program berhenti merokok.

Metabolic syndrome is a cluster of cardiometabolic risk factors that increases the risk of cardiovascular disease and type 2 diabetes mellitus. Office workers, including civil servants, are at risk because of sedentary work patterns, limited physical activity, unhealthy dietary habits, and other risk behaviors. This study aimed to analyze risk factors for metabolic syndrome among civil servants at Institution X in 2026. A sequential explanatory mixed-methods design was used. The quantitative phase was an analytical observational cross-sectional study involving 340 respondents, using 2025 Medical Check-Up data and a 2026 risk-factor questionnaire. Metabolic syndrome was defined according to the 2009 Joint Interim Statement criteria. Analyses included univariate, bivariate, and multivariable logistic regression. The qualitative phase involved in-depth interviews with key informants to explain the quantitative findings. The prevalence of metabolic syndrome was 26.2%. The most common component was central obesity (58.5%), followed by elevated triglycerides (32.4%), elevated fasting blood glucose (32.1%), low HDL cholesterol (28.5%), and hypertension (18.2%). In the final model, obesity based on body mass index was the strongest factor (AOR=23.347; 95% CI: 7.863–69.372; p<0.001), followed by smoking (AOR=2.452; 95% CI: 1.235–4.868; p=0.010), infrequent consumption of a balanced diet (AOR=2.430; 95% CI: 1.405–4.203; p=0.001), family history of disease (AOR=2.135; 95% CI: 1.181–3.859; p=0.012), sedentary behavior ≥6 hours/day (AOR=2.182; 95% CI: 1.096–4.344; p=0.026), and insufficient physical activity (AOR=1.829; 95% CI: 0.999–3.348; p=0.050). Qualitative findings indicated that prolonged sitting, food consumption during meetings or overtime, barriers to physical activity, smoking habits, and suboptimal follow-up of Medical Check-Up results reinforced metabolic syndrome risk. Metabolic syndrome among civil servants at Institution X is influenced by the interaction of biological, behavioral, and workplace environmental factors. An integrated occupational health program based on Medical Check-Up results is needed, prioritizing obesity control, healthy food policies, promotion of physical activity, reduction of sedentary behavior, and smoking cessation
Read More
T-7644
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive