Ditemukan 40095 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Natasya Oktaviani Putri; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Yoslien Sopamena, Mini Eka Prastiwi
Abstrak:
Read More
Data Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) Tahun 2024 menunjukkan bahwa sebesar 46,3% perempuan Indonesia usia 15–49 tahun pernah mengalami praktik sunat perempuan (Female Genital Mutilation/Cutting). Meskipun pemerintah telah menerbitkan kebijakan yang mendukung penghapusan praktik sunat perempuan, praktik tersebut masih dipertahankan di berbagai daerah. Orang tua sebagai pengambil keputusan utama memiliki peran penting dalam keberlangsungan praktik tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan praktik orang tua tentang sunat perempuan (Female Genital Mutilation/Cutting) pada bayi perempuan di Kabupaten Pati Tahun 2026. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi tertutup terhadap informan yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan orang tua mengenai sunat perempuan masih didominasi oleh informasi yang diperoleh secara turun-temurun dari keluarga dan lingkungan sekitar, sementara pemahaman mengenai dampak kesehatan, regulasi pemerintah, dan prosedur tindakan masih terbatas. Sikap orang tua cenderung menerima dan mendukung pelaksanaan sunat perempuan karena dipandang sebagai tradisi, bagian dari ajaran agama, serta dianggap lebih aman apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan. Praktik sunat perempuan umumnya dilakukan pada usia bayi, dengan keputusan yang dipengaruhi oleh orang tua, keluarga besar, norma sosial, dan tokoh agama, serta dilaksanakan oleh bidan maupun dukun. Oleh karena itu, diperlukan penguatan edukasi kepada masyarakat melalui kolaborasi antara Dinas Kesehatan, puskesmas, tenaga kesehatan, tokoh agama dan masyarakat mengenai dampak kesehatan serta tidak adanya manfaat medis dari praktik sunat perempuan.
The 2024 National Survey on Women's Life Experiences (SPHPN) reported that 46.3% of Indonesian women aged 15–49 years had undergone Female Genital Mutilation/Cutting (FGM/C). Despite government policies supporting the elimination of FGM/C, the practice continues to be maintained in various regions. As the primary decision-makers, parents play a crucial role in the continuation of this practice. This study aimed to explore the knowledge, attitudes, and practices of parents regarding FGM/C among infant girls in Pati Regency in 2026. This study employed a qualitative approach, with data collected through in-depth interviews and non-participant observations involving purposively selected informants. The findings revealed that parents' knowledge of FGM/C was predominantly derived from intergenerational transmission within families and the surrounding community, while their understanding of its health consequences, government regulations, and medical procedures remained limited. Parents generally demonstrated supportive attitudes toward FGM/C, perceiving it as a cultural tradition, a religious practice, and a safer procedure when performed by healthcare providers. The practice was commonly carried out during infancy, with decisions influenced by parents, extended family members, social norms, and religious leaders, and was performed by either midwives or traditional birth attendants. Therefore, strengthening community education through collaboration among the District Health Office, primary healthcare centers, healthcare professionals, religious leaders, and community leaders is necessary to increase public awareness of the health risks and the lack of medical benefits associated with FGM/C.
S-12479
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Butsainah Putri Rahmah; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dien Anshari, Lina Purnamaasih
Abstrak:
Read More
Saat ini, terdapat peningkatan prevalensi perokok elektronik yang pesat di Indonesia. Berdasarkan Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021, prevalensi perokok di Indonesia meningkat 10 kali lipat dari 0.3% pada tahun 2011 menjadi 3% pada tahun 2021. Hasil SKI 2023 menunjukkan bahwa salah satu wilayah dengan prevalensi perokok elektronik tertinggi adalah DKI Jakarta dengan kelompok umur 10-14 memiliki prevalensi tertinggi yaitu 29.72%. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan serta sikap orang tua terhadap perilaku merokok elektronik pada remaja. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan praktik pencegahan orang tua terhadap perilaku merokok elektronik pada remaja di SMP X Jakarta. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam pada informan yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan orang tua memiliki pengetahuan dasar mengenai rokok elektronik yaitu berfungsi seperti rokok dengan menggunakan alat dan cairan tetapi pengetahuan mereka terhadap kandungan dan dampak kesehatan kurang. Orang tua juga memiliki sikap yang tidak setuju terhadap rokok elektronik atau sikap yang mendukung anak untuk tidak menggunakan rokok elektronik. Terdapat ragam praktik pencegahan yang dilakukan oleh orang tua seperti komunikasi terbuka, mengajarkan agama, menjaga lingkungan pertemanan anak, mendukung anak lelaki untuk berteman dengan perempuan karena melihat perempuan cenderung tidak merokok, serta memberi hukuman fisik dan non fisik. Disisi lain, seluruh informan tidak menerima informan mengenai rokok elektronik dari sekolah. Oleh karena itu, disarankan kepada sekolah untuk memberikan informasi terkait rokok elektronik kepada orang tua dan siswa untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap mereka sebagai salah satu upaya pencegahan perilaku merokok elektronik pada remaja.
Currently, there is a rapid increase in the prevalence of e-cigarette smoking in Indonesia. According to the Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021, the prevalence of smokers in Indonesia increased 10 times higher from 0.3% in 2011 to 3% in 2021. The 2023 GATS results show that one of the regions with the highest prevalence of e-cigarette smokers is DKI Jakarta with the age group 10-14 having the highest prevalence of 29.72%. Several studies have shown a relationship between parental knowledge and attitudes towards adolescent e-cigarette smoking behavior. This study was conducted to determine the knowledge, attitudes, and preventive practices of parents towards e-cigarette smoking behavior in adolescents at SMP X Jakarta. This study was conducted using a qualitative approach with data collection through in-depth interviews with purposively selected informants. The results showed that parents have basic knowledge about e-cigarettes, which function like cigarettes by using tools and liquids, but their knowledge of the content and health effects is lacking. Parents also have a disapproving attitude towards e-cigarettes or an attitude that supports children not to use e-cigarettes. There are various prevention practices carried out by parents such as open communication, teaching religion, maintaining children's friendship environment, supporting boys to be friends with girls because they see women tend not to smoke, and giving physical and non-physical punishment. On the other hand, all informants did not receive informants about e-cigarettes from schools. Therefore, it is recommended for schools to provide information related to e-cigarettes to parents and students to improve their knowledge and attitudes as an effort to prevent e-cigarette smoking behavior in adolescents.
S-11693
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Annesya Yusvita Iskandar; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dien Anshari, Yusef Gunawan
Abstrak:
Read More
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa prevalensi konsumsi minuman manis ≥1 kali per hari tertinggi terdapat pada anak usia 5–9 tahun (53%), usia 3–4 tahun (51,4%), dan 10–14 tahun (50,7%). Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan, sikap, dan praktik orang tua terhadap konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) pada anak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan praktik orang tua dalam membatasi konsumsi MBDK pada anak sekolah dasar di SDN X Kabupaten Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi tertutup pada informan yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan orang tua memiliki pengetahuan dasar mengenai definisi, jenis, dan dampak MBDK, tetapi pengetahuan mereka terkait label nilai gizi masih kurang. Orang tua juga memiliki sikap tidak mendukung terhadap konsumsi MBDK. Terdapat ragam praktik pencegahan yang dilakukan oleh orang tua seperti nasihat, peringatan tegas, substitusi minuman sehat, hingga pembatasan uang jajan pada anak. Di sisi lain, seluruh informan tidak menerima informasi mengenai MBDK dari sekolah. Oleh karena itu disarankan kepada sekolah untuk menyelenggarakan edukasi rutin kepada orang tua siswa untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap mereka sebagai salah satu upaya pencegahan konsumsi MBDK berlebih pada siswa sekolah dasar.
The 2023 Indonesian Health Survey (SKI 2023) shows that daily consumption of sweetened beverages (≥1 time/day) is highest among children aged 5–9 years (53%), followed by those aged 3–4 years (51.4%) and 10–14 years (50.7%). Previous studies have indicated a link between parental knowledge, attitudes, and practices and children's consumption of sugar-sweetened packaged beverages. This qualitative study aimed to explore parental knowledge, attitudes, and practices in limiting SSBs consumption among elementary students at SDN X Bogor Regency. Data were collected through in-depth interviews and non-participant observation with purposively selected informants. Findings revealed that parents had basic knowledge about the definition, types, and health impacts of SSBs, but limited understanding of nutrition labels. Most parents showed unsupportive attitudes toward SSBs consumption. Preventive practices included giving advice, firm warnings, providing healthier alternatives, and limiting pocket money. However, none of the parents had received SSB-related information from the school. This study suggests that school should implement regular educational programs for parents to improve their knowledge and attitudes, as a preventive strategy against excessive SSB consumption among elementary school children.
S-11896
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aribah Daffa Aji Putri; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dien Anshari, Anastasia Maria Sri Rejeki
Abstrak:
Read More
Berdasarkan Global Adult Tobacco Survey (GATS), prevalensi perokok elektronik di Indonesia meningkat hingga 10 kali lipat dalam kurun waktu 10 tahun. Hasil Riskesdas tahun 2018 juga menujukkan bahwa remaja adalah kelompok umur tertinggi pada angka perokok elektronik. Beberapa studi di berbagai negara menunjukkan masih rendahnya pengetahuan orang tua dari remaja terhadap rokok elektronik. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan praktik orang tua dari remaja terhadap rokok elektronik di Kelurahan Beji Timur. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan studi cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified random sampling yang diikuti sebanyak 145 responden dengan mengisi kuesioner tertulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua dari remaja di Kelurahan Beji Timur memiliki pengetahuan tentang rokok elektronik dalam kategori cukup (39,3%), sikap yang negatif terhadap penggunaan rokok elektronik (58,6%), dan praktik pencegahan rokok elektronik yang baik (51,7%). Berdasarkan hasil penelitian, maka diperlukan peningkatan program promosi kesehatan yang berfokus terhadap rokok elektronik, khususnya dengan sasaran remaja dan orang tua sebagai upaya pencegahan perilaku merokok elektronik di Kelurahan Beji Timur.
Based on the Global Adult Tobacco Survey (GATS), the prevalence of electronic cigarette smokers in Indonesia has increased up to 10 times in a span of 10 years. The results of the Riskesdas 2018 also showed that adolescents are the highest age group in terms of electronic cigarette use. Several studies in various countries have indicated the low level of knowledge among parents of adolescents regarding electronic cigarettes. Therefore, this research was conducted to understand the knowledge, attitudes, and practices of parents of adolescents towards electronic cigarettes in the Beji Timur Subdistrict. This study used a quantitative method with a cross-sectional design. The sampling was done using stratified random sampling technique, with a total of 145 respondents filling out written questionnaires. The results of the study showed that parents of adolescent in Beji Timur subdistrict’s knowledge about electronic cigarettes categorized as average (39,3%), negative attitudes towards electronic cigarette use (58,6%), and good practices in preventing electronic cigarette use (51.7%). Based on the research findings, there is a need for an improvement in health promotion programs that specifically focus on electronic cigarettes, particularly targeting adolescents and parents, as an effort to prevent electronic smoking behavior in the Beji Timur Subdistrict.
S-11387
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Avisha Auziana Hasbi; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Yoslien Sopamena, Risky Kusuma Hartono
Abstrak:
Read More
Penggunaan rokok elektronik di kalangan remaja semakin meningkat secara global, termasuk di Indonesia, di mana prevalensinya pada kelompok usia 10–19 tahun telah melampaui angka nasional secara keseluruhan. Lingkungan sekolah menjadi arena strategis dalam upaya pencegahan, mengingat guru memiliki peran sentral dalam membentuk perilaku dan nilai siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan, sikap, dan praktik guru terhadap pencegahan perilaku merokok elektronik pada remaja di SMP X dan SMP Y Bekasi tahun 2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan observasi. Informan terdiri dari 10 guru sebagai informan utama, 2 kepala sekolah dan 1 perwakilan Dinas Kesehatan sebagai informan kunci, serta 28 siswa yang terbagi dalam 4 kelompok FGD sebagai informan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan guru tentang rokok elektronik masih berada pada tingkatan mendasar. Seluruh informan mengenal rokok elektronik namun mayoritas tidak memahami kandungan dan dampak spesifiknya secara memadai. Sikap seluruh informan bersifat negatif terhadap penggunaan rokok elektronik pada remaja secara konsisten, namun terdapat variasi pada pernyataan mengenai tanggung jawab di luar lingkungan sekolah. Praktik pencegahan yang dilakukan masih bersifat insidental dan belum terprogram secara sistematis, tidak ada edukasi yang secara spesifik membahas rokok elektronik kepada siswa di kedua sekolah. Temuan kritis yang ditemukan adalah adanya perilaku merokok guru dan karyawan di lingkungan sekolah yang melemahkan kredibilitas upaya pencegahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat kesenjangan yang signifikan antara sikap positif guru dan praktik pencegahan nyata yang dilakukan, yang dipengaruhi oleh keterbatasan pengetahuan dan absennya program serta kebijakan yang mendukung
The use of electronic cigarettes among adolescents has been increasing globally, including in Indonesia, where its prevalence among the 10–19 age group has exceeded the national average. The school environment serves as a strategic arena for prevention efforts, given that teachers play a central role in shaping students' behaviors and values. This study aims to describe teachers' knowledge, attitudes, and practices toward the prevention of electronic cigarette use among adolescents at Junior High School X and Y in Bekasi in 2026. This study employed a qualitative approach using in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGD), and observation. Informants consisted of 10 teachers as primary informants, 2 school principals and 1 representative from the City Health Office as key informants, and 28 students divided into 4 FGD groups as supporting informants. The results showed that teachers' knowledge of electronic cigarettes remained at a basic level, with all informants being familiar with electronic cigarettes but the majority not adequately understanding their specific contents and health impacts. All informants consistently held negative attitudes toward electronic cigarette use among adolescents, although variations were found regarding responsibility outside the school environment. Prevention practices were incidental and not systematically programmed, and no education specifically addressing electronic cigarettes was provided to students at either school. A finding that warrants particular attention is the smoking behavior of teachers and staff within the school environment, which undermines the credibility of existing prevention efforts. This study concludes that there is a significant gap between teachers' positive attitudes and their actual prevention practices, influenced by limited knowledge and the absence of supporting programs and policies.
S-12477
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Astri Fauziyah; Pembimbing: Hadi Pratomo; Penguji: Anwar Hasan, Dyah F Wulandari
Abstrak:
Angka kematian bayi (AKB) merupakan salah satu indikator untuk mengetahuiderajat kesehatan di suatu negara. Salah satu komplikasi penyebab kematian bayidi Indonesia adalah bayi berat lahir rendah (BBLR). Perawatan metode kanguruatau PMK merupakan salah satu perawatan yang efektif bagi BBLR.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran karakteristikpengetahuan sikap dan praktik petugas kesehatan tentang perawatan metodekanguru pada BBLR. Penelitian kuantitatif ini menggunakan metode survei.Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan total samplingsebanyak 37 orang dari ruang perinatologi, rawat gabung, VK dan poli kebidanan.Instrumen penelitian disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan tinjauan pustakayang telah dibuat uji validitas dan reliabilitasnya. Penelitian ini dilakukan padabulan Desember 2015 di RSUD Kota Depok.Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar yaitu 28 (75,7%)responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik, setengah dari responden 19(51,4%) memiliki sikap yang positif dan dua dari tiga responden 24 (64,9%)memiliki praktik yang kurang terhadap PMK pada BBLR.Penelitian ini merekomendasikan kepada pihak manajemen rumah sakit untukmemberikan pelatihan guna meningkatkan pemahaman yang seragam tentangPMK. Bagi peneliti lain disarankan agar dapat memperbaiki standar instrumenuntuk menilai PSP pada PMK dengan menguji kuesioner baik uji validitasmaupun uji reliabilitas.Kata Kunci : Perawatan Metode Kanguru, Pengetahuan, Sikap, Praktik PMK,RSUD Kota Depok.
Read More
S-8925
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sarah Fahira Faza; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Yoslien Sopamena, Ratna Tri Hari Safariningsih
Abstrak:
Read More
Penyakit Tidak Menular (PTM), terutama hipertensi dan penyakit kardiovaskular masih menjadi beban utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Salah satu upaya yang dapat dilakukan sebagai langkah pencegahan adalah dengan membatasi asupan natrium harian dengan mengurangi konsumsi pangan tinggi natrium. Akan tetapi, kebiasaan konsumsi pangan tinggi natrium pada usia muda (15-24 tahun), termasuk mahasiswa masih tergolong tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap, serta karakteristik sosiodemografis yang mencakup jenis kelamin, tempat tinggal, dan uang saku dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium pada mahsiswa FKM UI tahun 2026. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 108 mahasiswa dari 4 program studi yang ada di FKM UI (Kesehatan Masyarakat, Kesehatan Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Gizi) yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan realibilitasnya. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan praktik (p=0,123). Namun, terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara sikap dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium (p=0,037). Karakteristik sosiodemografis berupa jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium (p=0,442). Sementara karakteristik sosiodemografis berupa tempat tinggal memiliki hubungan signifikan secara statistik dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium (p=0,013). Karakteristik sosiodemografis berupa uang saku tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium (p=0,053). Berdasarkan hasil tersebut, diketahui bahwa sikap dan tempat tinggal berhubungan dengan praktik konsumsi pangan tinggi natrium pada mahasiswa FKM UI tahun 2026. Oleh karena itu, diperlukan upaya intervensi berbasis sikap, bukan sekedar edukasi pengetahuan, yang berfokus pada penguatan motivasi internal, persepsi risiko jangka pendek, dan pembentukan lingkungan yang supportif untuk mengurangi konsumsi pangan tinggi natrium.
Non-communicable diseases (NCDs), particularly hypertension and cardiovascular disease, remain a major public health burden in Indonesia. One preventive measure that can be undertaken is limiting daily sodium intake by reducing the consumption of highsodium foods. However, the habit of consuming high-sodium foods among young people aged 15–24 years, including university students, remains relatively high. This study aims to analyze the relationship between knowledge and attitudes, as well as sociodemographic characteristics including sex, place of residence, and allowance, with high-sodium food consumption practices among students of the Faculty of Public Health, Universitas Indonesia (FKM UI), in 2026. This study employed a cross-sectional design with a quantitative approach. The research sample consisted of 108 students from four study programs at FKM UI (Public Health, Environmental Health, Occupational Health and Safety, and Nutrition), selected using quota sampling. Data were collected through a questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data analysis employed univariate and bivariate analyses using the chi-square test. The results indicated no significant relationship between knowledge and consumption practices (p=0.123). However, a statistically significant relationship was found between attitudes and highsodium food consumption practices (p=0.037). The sociodemographic characteristic of sex showed no significant relationship with high-sodium food consumption practices (p=0.442), whereas place of residence demonstrated a statistically significant relationship (p=0.013). Allowance showed no significant relationship with high-sodium food consumption practices (p=0.053). Based on these findings, it is evident that attitudes and place of residence are associated with high-sodium food consumption practices among FKM UI students in 2026. Therefore, attitude-based intervention strategies are required, rather than mere knowledge education, with a focus on strengthening internal motivation, short-term risk perception, and the creation of a supportive environment to reduce highsodium food consumption.
S-12303
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alfiah Purbaningtyas; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dien Anshari, Weni Praga Agusti
Abstrak:
Read More
Infeksi pada bayi masih menjadi masalah utama, terutama akibat imunitas yang belum matang. Bayi tanpa ASI eksklusif memiliki risiko diare lebih tinggi. Konsumsi susu formula meningkatkan risiko diare hingga 10,5 kali karena potensi kontaminasi dan ketiadaan komponen imunoprotektif ASI. Pada saat yang sama, promosi susu formula semakin masif dan berpotensi mempengaruhi pengetahuan, sikap, serta praktik ibu dalam pemberian makan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam bagaimana ibu yang memiliki bayi di wilayah kerja Puskesmas Wonogiri memahami, menyikapi, dan mempraktikkan pemberian susu formula, serta menelaah pengaruh framing pesan iklan berdasarkan Teori Nudge. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dan observasi. Informan meliputi ibu dengan bayi usia kurang dari 6 bulan, kader kesehatan, bidan KIA, Dinas Kesehatan Wonogiri, anggota keluarga terdekat, serta pedagang susu formula.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang konsep susu formula umumnya baik, namun pemahaman mengenai kandungan serta perbedaan biologis antara susu formula dan ASI masih beragam. Media sosial, khususnya TikTok, menjadi sumber informasi utama yang membentuk persepsi awal ibu. Praktik pemberian makan bayi dipengaruhi oleh produksi ASI, kondisi medis ibu dan bayi, serta rekomendasi keluarga. Keluarga, terutama suami, ibu kandung, dan mertua, memiliki peran dominan dalam pengambilan keputusan penggunaan susu formula. Penyuluhan tenaga kesehatan turut mempengaruhi keputusan ibu, meskipun belum diterima secara merata. Dalam perspektif Teori Nudge, iklan lebih berfungsi sebagai pemicu perhatian dan pencarian informasi tambahan, sementara keputusan akhir lebih dipengaruhi oleh pengalaman sesama ibu dan dukungan keluarga. Temuan ini menegaskan bahwa pengaruh iklan bekerja melalui interaksi kompleks antara pesan komersial, dinamika keluarga, dan pengalaman menyusui ibu.
Infections remain a major health concern among infants, largely due to their immature immune systems. Infants who are not exclusively breastfed face a higher risk of diarrhea. Formula feeding increases the risk of diarrhea up to 10.5 times, due to potential contamination and the absence of natural immunoprotective components found in breast milk. At the same time, the promotion of infant formula has become more widespread and may influence mothers’ knowledge, attitudes, and practices in infant feeding. This study aims to explore in depth how mothers with infants in the working area of Wonogiri Primary Health Center understand, respond to, and practice formula feeding, as well as to examine the influence of advertising message framing based on Nudge Theory. A qualitative approach was used through in-depth interviews and observations. Informants included mothers with infants under six months old, health volunteers, maternal and child health midwives, the Wonogiri District Health Office, close family members, and infant formula sellers. The results show that mothers generally have good knowledge about infant formula, but their understanding of its nutritional content and biological differences compared to breast milk varies. Social media, especially TikTok, is the main source of information that shapes mothers’ initial perceptions. Infant feeding practices are influenced by breast milk production, medical conditions of the mother and baby, and family recommendations. Family members—especially husbands, biological mothers, and mothers-in-law—play a major role in decisions about using infant formula. Health education from health workers also affects mothers’ decisions, although it is not equally received by all mothers. From a Nudge Theory perspective, advertisements mainly act as attention triggers and encourage further information seeking, while final decisions are more strongly influenced by other mothers’ experiences and family support. These findings show that the influence of advertising works through a complex interaction between commercial messages, family dynamics, and mothers’ breastfeeding experiences.
S-12158
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kartika Ekasari; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Tiara Amelia, R. Arso Budiriyadi
Abstrak:
Read More
Konsumsi minuman berpemanis pada remaja terus meningkat, sehngga berpotensi meningkatkan risiko penyakit tidak menular. Penelitian ini bertujuan menggambarkan pengetahuan, sikap, dan praktik remaja SMA X Kota Bogor dalam mengonsumsi minuman berpemanis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Informan utama adalah siswa-siswi berusia 16-17 tahun, didukung oleh orang tua, guru, kepala sekolah, penjual minuman berpemanis, serta informan kunci seperti ahli gizi dan Balai POM. Data diperoleh melalui FGD, wawancara mendalam, dan observasi, lalu dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan bahwa pengetahuan remaja mengenai konsep minuman berpemanis dan dampak kesehatan jangka panjang tergolong baik, tetapi pemahaman mengenai dampak kesehatan jangka pendek masih terbatas. Sikap remaja terhadap minuman berpemanis terbentuk dari pemahaman yang cukup baik, respons emosional yang kurang konsisten, dan niat mengurangi konsumsi yang sering kali terhambat faktor lingkungan. Remaja laki-laki cenderung lebih sering mengonsumsi minuman berpemanis ketimbang remaja perempuan, dengan dipengaruhi oleh media sosial, situasi sosial, dan preferensi pribadi. Sebagian remaja mulai berupaya mengurangi konsumsi, sementara sebagian lainnya belum memiliki motivasi yang kuat. Diperlukan intervensi edukatif yang melibatkan berbagai pihak untuk meningkatkan kesadaran dan perilaku konsumsi yang sehat.
The consumption of sugar-sweetened beverages in adolescents continues to increase, potentially increasing the risk of non-communicable diseases. This study aims to describe the knowledge, attitudes, and practices of SMA X adolescents in Bogor City in consuming sugar-sweetened beverages. This study used a qualitative approach with phenomenological methods. The main informants were students aged 16-17 years, supported by parents, teachers, school principals, sugar-sweetened beverage sellers, as well as key informants such as nutritionists and the Food and Drug Administration. Data were obtained through FGDs, in-depth interviews, and observations, then analyzed thematically. The results show that adolescents' knowledge of the concept of sugar-sweetened beverages and long-term health impacts is good, but understanding of short-term health impacts is still limited. Adolescents' attitudes towards sugar-sweetened beverages are formed from a fairly good understanding, less consistent emotional responses, and intentions to reduce consumption which are often hampered by environmental factors. Male adolescents tend to consume sugar-sweetened beverages more often than female adolescents, influenced by social media, social situations, and personal preferences. Some adolescents are starting to make efforts to reduce consumption, while others do not have strong motivation. Educational interventions involving various parties are needed to increase awareness and healthy consumption behavior.S-12009
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sulistiawati; Pembimbing: Zulasmi Mamdy; Penguji: Sudarti Kresno, Ismoyowati
S-5874
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
