Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33086 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Melvern Adrian Parapat; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Rr. Winda Kusuma Ningrum
Abstrak:
Pekerja Satuan Pengamanan (Satpam) memiliki peran vital di lingkungan kampus yang rentan terhadap distres kerja akibat tingginya tuntutan fisik maupun psikososial operasional harian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat distres kerja pada Satpam Universitas Indonesia (UI) tahun 2026. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain studi potong lintang. Sampel penelitian berjumlah 89 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling dari total populasi 518 satpam. Pengumpulan data primer dilakukan menggunakan instrumen kuesioner yang terdiri dari Perceived Stress Scale (PSS-10), Work Design Questionnaire (WDQ), Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ) III, dan Effort-Reward Imbalance Questionnaire (ERI-Q). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami distres kerja tingkat sedang (61,8%) dan sisanya pada tingkat ringan (38,2%). Analisis bivariat mengungkapkan bahwa karakteristik individu (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jabatan, dan masa kerja) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat distres kerja (p > 0,05). Pada faktor psikososial pekerjaan, budaya dan fungsi organisasi (p=0,005; OR=4,03) serta hubungan interpersonal di tempat kerja (p=0,018; OR=3,33) terbukti memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan tingkat distres kerja. Dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi dan kualitas hubungan interpersonal menjadi determinan utama penyebab distres kerja pada satpam UI. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berupa perbaikan komunikasi dua arah antara manajemen dan satpam, serta peningkatan program dukungan sosial antar rekan kerja guna mengendalikan risiko distres kerja.

Security Guards play a vital role in the campus environment and are highly vulnerable to occupational distress due to the physical and psychosocial demands of their daily operations. This study aims to analyze the factors associated with the level of occupational distress among Security Guards at Universitas Indonesia (UI) in 2026. This quantitative study utilized a cross-sectional design. The sample consisted of 89 respondents selected through a stratified random sampling technique from a total population of 518 security guards. Primary data were collected using questionnaires comprising the Perceived Stress Scale (PSS-10), Work Design Questionnaire (WDQ), Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ) III, and Effort-Reward Imbalance Questionnaire (ERI-Q). Data were analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test. The results showed that the majority of respondents experienced a moderate level of occupational distress (61.8%), while the rest experienced mild distress (38.2%). Bivariate analysis revealed that individual characteristics (age, gender, education level, position, and tenure) did not have a significant relationship with distress levels (p > 0.05). Among the psychosocial work factors, organizational culture and function (p=0.005; OR=4.03) and interpersonal relationships at work (p=0.018; OR=3.33) were statistically proven to have a significant relationship with the level of occupational distress. It can be concluded that organizational culture and the quality of interpersonal relationships are the primary determinants of occupational distress among UI security guards. Therefore, interventions such as improving two-way communication between management and security guards, as well as enhancing social support programs among coworkers, are necessary to mitigate the risk of occupational distress.
Read More
S-12480
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sabrina Putri Fatonah; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Erik Riya Firmanto
Abstrak:
Distres kerja merupakan kondisi ketegangan psikologis yang timbul akibat ketidaksesuaian antara tuntutan pekerjaan dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki pekerja, yang apabila berlangsung kronis dapat berdampak pada kesehatan, kinerja, dan kesejahteraan psikologis. Meskipun isu distres kerja telah lama menjadi perhatian dalam kesehatan kerja, sektor perkantoran relatif kurang mendapat sorotan dibandingkan sektor dengan risiko fisik tinggi, padahal beban administratif, target kinerja, dan koordinasi lintas fungsi yang intensif berpotensi meningkatkan risiko psikososial pada pekerja kantor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan distres kerja pada pekerja kantor PT XYZ tahun 2026, meliputi faktor work arena (beban kerja, ketidakjelasan peran, konflik peran, ketidakamanan kerja, kontrol pekerjaan), home arena (home-work interface, status pernikahan), social arena (hubungan interpersonal, dukungan sosial), dan individual arena (usia, jenis kelamin, masa kerja). Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif melalui kuesioner terhadap 119 pekerja kantor PT XYZ. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square, serta regresi logistik sederhana untuk variabel dengan lebih dari dua kategori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68 responden (57,1%) mengalami distres kerja kategori tinggi. Hasil uji statistik menemukan hubungan yang signifikan antara distres kerja dengan beban kerja tinggi (p=0,003; OR=3,16), ketidakjelasan peran tinggi (p=0,012; OR=2,67), konflik peran tinggi (p<0,001; OR=3,91), hubungan interpersonal buruk (p=0,000; OR=6,076), jenis kelamin perempuan (p=0,048; OR=2,12), dan masa kerja menengah (p=0,020; OR=4,80), sedangkan ketidakamanan kerja, kontrol pekerjaan, home-work interface, status pernikahan, dukungan sosial, dan usia tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa lebih dari separuh pekerja kantor PT XYZ mengalami distres kerja tinggi, dengan konflik peran dan hubungan interpersonal sebagai faktor yang berhubungan paling kuat. Perusahaan disarankan melakukan asesmen distres kerja secara berkala, evaluasi dan redistribusi beban kerja, penyusunan deskripsi tugas yang jelas, serta penguatan budaya kerja yang suportif untuk menurunkan risiko distres kerja pada pekerja kantor.

Work distress is a condition of psychological strain arising from an imbalance between job demands and the resources or capacities available to workers, which, if chronic, can negatively affect health, performance, and psychological well-being. Although work distress has long been a concern in occupational health, the office sector has received relatively less attention compared to sectors with high physical risk, even though administrative workload, performance targets, and intensive cross-functional coordination may increase psychosocial risk among office workers. This study aims to analyze the factors associated with work distress among office workers at PT XYZ in 2026, covering the work arena (workload, role ambiguity, role conflict, job insecurity, job control), home arena (home–work interface, marital status), social arena (interpersonal relationships, social support), and individual arena (age, gender, length of employment). This study used a cross-sectional design with a quantitative approach through questionnaires administered to 119 office workers at PT XYZ. Bivariate analysis was conducted using the Chi-Square test, along with simple logistic regression for variables with more than two categories. The statistical analysis found significant associations between work-related distress and high workload (p = 0.003; OR = 3.16), high role ambiguity (p = 0.012; OR = 2.67), high role conflict (p < 0.001; OR = 3.91), poor interpersonal relationships (p < 0.001; OR = 6.076), female gender (p = 0.048; OR = 2.12), and medium job tenure (p = 0.020; OR = 4.80). In contrast, job insecurity, job control, home–work interface, marital status, social support, and age were not significantly associated with work-related distress (p > 0.05). This study concludes that more than half of office workers at PT XYZ experience high levels of work distress, with role conflict and interpersonal relationships being the most strongly associated factors. The company is advised to conduct periodic work distress assessments, evaluate and redistribute workload, establish clear job descriptions, and strengthen a supportive work culture to reduce the risk of work distress among office workers.
Read More
S-12374
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lena Tresnawati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Robiana Modjo, Indri Hapsari Susilowati, Lutfi Muzaqi, M. Fadri Al Baihaqi
Abstrak: Latar Belakang: Distres merupakan bentuk negatif dari psikososial, dimana sumber distres dapat berasal dari faktor pekerjaan itu sendiri, faktor keluarga dan sosial, serta faktor individu. Beberapa kejadian mengindikasikan terjadinya distres pada mekanik di PT. X. Indikasi tersebut terlihat dari gejala fisiologis, psikologis, perilaku, dan kognitif yang timbul dari pekerja.
Tujuan: Menganalisis tingkat distres kerja dan faktor-faktor yang berhubungan terhadap tingkat distres pada mekanik di PT. X. Metode: Penelitian menggunakan desain studi cross sectional, dilakukan pada seluruh mekanik di PT. X sejumlah 37 pekerja, dan analisis data menggunakan uji chi square serta regresi logistik.
Hasil: Faktor yang berhubungan terhadap tingkat distres adalah budaya dan fungsi organisasi, hubungan interpersonal, tekanan kerja, work family conflict, desain tugas, jadwal dan jam kerja, intensitas olahraga, kecemasan, pengendalian emosi, serta kebiasaan merokok. Faktor pengendalian emosi paling berpengaruh terhadap distres dengan Exp(B) 0,34. Kesimpulan: Berbagai faktor memiliki hubungan terhadap tingkat distres pada mekanik di PT. X sehingga perlu dilakukan tindakan yang mampu menurunkan risiko distres seperti pengaturan lembur dan pemberian pelatihan
Background: Distress is a negative form of psychosocial. It can be caused by work factors, family and social factors, and individual factors. Several cases indicate the occurrence of mechanical distress at PT. X. The indications showed from the physiological, psychological, behavioral, and cognitive symptoms that arise from the workers.
Objective: To analyze the associated factors with distress level of mechanics at PT. X. Methods: Used a cross sectional design study, carried out on all mechanics at PT. X with number of 37 workers, data analysis using chi square test and logistic regression.
Results: Factors related to the distress level are organizational culture and function, interpersonal relationships, work pressure, work family conflict, task design, working hours and scheduler, exercise intensity, anxiety, emotional control, and smoking habits. Emotional control factor has the most associated on distress with Exp(B) 0.34. Conclusion: Various factors have a relationship with the distress level of mechanics at PT. X so it is necessary to take actions that can reduce the risk of distress such as overtime program and providing training
Read More
T-6323
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuda Nugraha; Pembimbing: Hendra; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Mila Tejamaya, Helenasari Tambunan, Muhepi
Abstrak:
Distres kerja merupakan respons negatif terhadap tekanan pekerjaan yang berkepanjangan dan dapat berdampak buruk pada kesehatan mental, produktivitas kerja, serta kualitas pelayanan. Rumah sakit sebagai institusi dengan tekanan kerja tinggi berisiko tinggi terhadap kejadian distres kerja pada pegawainya. Distres kerja dapat  berdampak negatif pada kesehatan psikologis dan produktivitas pegawai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko dari arena individu, rumah, dan pekerjaan dengan tingkat distres kerja pada pegawai UPTD RSUD Malingping. Desain penelitian menggunakan studi potong lintang pada 279 responden yang diperoleh melalui total sampling. Data dikumpulkan pada April–Juni 2025 menggunakan kuesioner Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ III) versi panjang dan NIOSH generic job stress questionnaire. Analisis data menggunakan chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kelompok usia produktif 30–39 tahun (49,1%) , berjenis kelamin laki-laki (50,2%) , berstatus tenaga BLUD (38,0%), dan memiliki tingkat pendidikan D4/S1 (55,9%). Mayoritas responden mengalami distres kerja pada kategori sedang, baik secara keseluruhan maupun pada seluruh dimensi distres, meliputi gangguan kognitif, somatik, dan psikologis. Analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa variabel usia, tingkat pendidikan, konflik pekerjaan–kehidupan, tuntutan kuantitatif pekerjaan, makna pekerjaan, pengembangan keterampilan, dukungan sosial supervisor, dukungan rekan kerja, dan pengembangan karier berhubungan dengan tingkat distres kerja sebaliknya variabel jenis kelamin, status kepegawaian, status pernikahan, masa kerja, variasi pekerjaan, kontrol kerja, dan lingkungan kerja tidak menunjukkan hubungan bermakna secara statistik terhadap tingkat distres kerja. Diantara seluruh variabel yang diteliti, variabel tuntutan kuantitatif pekerjaan menjadi variabel yang memiliki keterkaitan kuat dengan tingkat distres kerja, sementara konflik pekerjaan–kehidupan ditemukan sebagai prediktor paling kuat pada gangguan kognitif dan gangguan somatik, sebaliknya, variabel pengembangan karier menjadi faktor protektif utama yang konsisten menurunkan risiko distres kerja di seluruh dimensinya. Setiap variabel yang teridentifikasi dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun program intervensi yang berfokus pada pengelolaan beban kerja, peningkatan keseimbangan kerja-hidup pegawai, pengelolaan tuntutan pekerjaan, serta memperkuat sistem dukungan sosial sebagai upaya pencegahan distres kerja terhadap pegawai di lingkungan UPTD RSUD Malingping

Work-related distress is a negative response to prolonged occupational stress and may adversely affect mental health, work productivity, and service quality. Hospitals, as high-pressure work environments, are particularly vulnerable to the occurrence of work-related distress among their employees. This condition can significantly impair employees’ psychological well-being and job performance. This study aimed to analyze the association between risk factors across the individual, home, and work domains and the level of work-related distress among employees of UPTD RSUD Malingping. A cross-sectional study design was conducted involving 279 respondents selected through total sampling. Data were collected between April and June 2025 using the long version of the Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ III) and the NIOSH Generic Job Stress Questionnaire. Data analysis was performed using chi-square tests and multiple logistic regression. The results showed that most respondents were in the productive age group of 30–39 years (49.1%), male (50.2%), employed as BLUD staff (38.0%), and had a D4/S1 educational background (55.9%). The majority of respondents experienced moderate levels of work-related distress, both overall and across all distress dimensions, including cognitive, somatic, and psychological distress. Statistical analysis revealed that age, educational level, work–life conflict, quantitative job demands, meaning of work, skill development, supervisor support, coworker support, and career development were significantly associated with work-related distress. In contrast, gender, employment status, marital status, length of employment, job variation, job control, and work environment showed no statistically significant association. Among all variables examined, quantitative job demands emerged as the factor most strongly associated with overall work-related distress. Meanwhile, work–life conflict was identified as the strongest predictor of cognitive and somatic distress. Conversely, career development consistently functioned as the primary protective factor, reducing the risk of work-related distress across all dimensions. These findings suggest that the identified variables can serve as a foundation for developing targeted intervention programs focused on workload management, work–life balance enhancement, regulation of job demands, and strengthening social support systems as preventive strategies to reduce work-related distress among employees at UPTD RSUD Malingping
Read More
T-7479
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aziza; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Hendra, Deni andrias, Diantika Prameswara
Abstrak:
Petugas penanggulangan bencana memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya membantu populasi paling rentan dalam mencapai tujuan kesehatan global. Dalam penelitian Curling & Simmons (2010), didapatkan 74% petugas penanggulangan bencana yang mengalami distres sedang atau berat. Tesis ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan distres pada petugas penanggulangan bencana di Palang Merah Indonesia Tahun 2024. Metode penelitian ini adalah gabungan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif yang biasa disebut dengan nama Mixed Methods Research dengan desain eksplanatoris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 139 responden, 38 petugas (27,3%) dengan tingkat distres rendah dan 101 petugas (72,7%) dengan tingkat distres sedang-tinggi dan gejala paling tinggi adalah gejala psikologis (57,45%). Hasil analisa bivariat ditemukan faktor yang berhubungan secara signifikan (p-value≤0,05) dengan tingkat distres adalah variabel masa kerja p-value 0,031, mendapatkan pelatihan p-value 0,046, hubungan interpersonal p-value 0,043, jadwal kerja p-value 0,011, variabel dukungan sosial p-value 0,008, dan variabel dukungan anggota keluarga p-value 0,000. Variabel yang dominan berhubungan dengan distres adalah dukungan anggota keluarga yang ditunjukkan oleh nilai OR paling besar 5,75 kali (OR 5,75 95%CI 2,45-13,48). Selanjutnya dilakukan uji interaksi didapatkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan anggota keluarga dengan jadwal kerja terhadap distres. Pada petugas yang jadwal kerja buruk, petugas dengan dukungan anggota keluarga buruk berisiko 44,03 kali lebih tinggi untuk mengalami distres sedang-tinggi dibandingkan petugas dengan dukungan anggota keluarga baik setelah dikontrol variabel umur. Saran dari penelitian ini agar dapat dilakukannya family gathering dan dibuatkannya kegiatan setiap minggunya untuk menyalurkan hobi berupa olahraga dan senam pada petugas penanggulangan bencana guna untuk refreshing. Serta menentukan standar dan kebijakan yang jelas berupa sistem istirahat bergantian terkait dengan jadwal kerja pada saat dilokasi bencana, sehingga dapat mengurangi terjadinya distres pada petugas.

Disaster response workers have a critical role in efforts to help the most vulnerable populations achieve global health goals. In research by Curling & Simmons (2010), it was found that 74% of disaster management officers experienced moderate or severe distress. This thesis aims to analyze factors related to distress among disaster management officers at the Indonesian Red Cross in 2024. This research method is a combination of quantitative and qualitative research which is usually called Mixed Methods Research with an explanatory design. The results showed that of the 139 respondents, 38 officers (27.3%) had low levels of distress and 101 officers (72.7%) had medium-high levels of distress and the highest symptoms were psychological symptoms (57.45%). The results of the bivariate analysis found factors that were significantly related (p-value≤0.05) to the level of distress, namely the variable length of service, p-value 0.031, receiving training, p-value 0.046, interpersonal relationships p-value 0.043, work schedule p-value 0.011 , the social support variable has a p-value of 0.008, and the family member support variable has a p-value of 0.000. The dominant variable related to distress is the support of family members as indicated by the highest OR value of 5.75 times (OR 5.75 95%CI 2.45-13.48). Furthermore, an interaction test was carried out and it was found that there was a relationship between the support of family members and work schedules on distress. For officers with poor work schedules, officers with poor family support are 44.03 times more likely to experience moderate-high distress than officers with good family support after controlling for the age variable. The suggestion from this research is that family gatherings can be held and activities are created every week to channel hobbies in the form of sports and gymnastics among disaster management officers in order to refresh themselves. As well as determining clear standards and policies in the form of an alternating rest system related to work schedules at disaster locations, so as to reduce the occurrence of distress among officers.
 
Read More
T-7104
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Karisma Ayu; Pembimbing: Hendra; Penguji: Abdul Kadir, Baiduri Widanarko, Selamat Riyadi, Nenni Herlina Rafida
Abstrak:

Kelelahan kerja mengacu pada sensasi kelelahan dan penurunan kemampuan fungsional yang terjadi di tempat kerja dan merupakan masalah serius yang dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja, terutama pada pekerja satuan pengamanan (SATPAM) yang memiliki durasi kerja panjang dan beban kerja tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko terkait pekerjaan dan tidak terkait pekerjaan yang memengaruhi kelelahan kerja pada pekerja satuan pengamanan PT. XYZ. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel sebanyak 195 responden yang dipilih secara uji hipotesis proporsi dan proporsional dari 11 lokasi kerja. Data dikumpulkan melalui kuesioner kelelahan kerja subyektif dari Industrial Fatigue Research Committee (IFRC). Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi logistik. Hasil didapatkan sebanyak 70,8% responden mengalami kelelahan kerja sedang-berat. Faktor risiko terkait pekerjaan yang berhubungan signifikan dengan kelelahan kerja meliputi masa kerja (OR=2,229; p=0,012), durasi kerja (OR=2,368; p=0,023), beban kerja (OR=3,869; p=0,015), peran di organisasi (OR=2,645; p=0,002), dukungan sosial di tempat kerja (OR=2,045; p=0,028), tuntutan pekerjaan (OR=2,192; p=0,032), dan kepuasan kerja (OR=7,344; p=0,008). Faktor tidak terkait pekerjaan yang berhubungan signifikan dengan kelelahan kerja meliputi usia (OR=2,735; p=0,002), tingkat pendidikan (OR=2,602; p=0,015), waktu komuter (OR=2,039; p=0,025), kebiasaan merokok (OR=3,844; p=0,013), kebiasaan olahraga (OR=2,800; p=0,022) dan durasi tidur (OR=1,885; p=0,004). Sedangkan faktor risiko jenis kelamin, indeks masa tubuh dan status pernikahan tidak berhubungan signifikan dengan kelelalahan kerja. Kelelahan kerja pada SATPAM PT. XYZ dipengaruhi oleh faktor pekerjaan (masa kerja, durasi kerja, beban kerja, peran di organisasi, dukungan sosial di tempat kerja, tuntutan pekerjaan, dan kepuasan kerja) serta faktor tidak terkait pekerjaan (usia, pendidikan, waktu komuter, kebiasaan merokok, kebiasaan olahraga dan durasi tidur). Rekomendasi untuk perusahaan meliputi penyesuaian jam kerja, peningkatan dukungan sosial, dan program promosi kesehatan untuk mengurangi kelelahan kerja


 

Work-fatigue, characterized by exhaustion and diminished functional capacity in occupational settings, represents a significant concern due to its detrimental effects on productivity and workplace safety. This issue is particularly prevalent among security personnel (SATPAM) who endure extended working hours and substantial workloads. This study examines occupational and non-occupational risk factors contributing to work fatigue among security personnel employees at PT. XYZ. The study employs a crosssectional design with a sample of 195 respondents selected through proportion hypothesis  testing and proportional sampling from 11 work locations. Data collection employed the  standardized  Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) subjective fatigue assessment tool, with subsequent analysis conducted via logistic regression. Findings revealed that 70.8% of participants experienced moderate to severe work fatigue. Significant occupational risk factors included: work tenure (OR=2.229; p=0.012), shift duration (OR=2.368; p=0.023), workload intensity (OR=3.869; p=0.015), organizational role clarity (OR=2.645; p=0.002), workplace social support (OR=2.045; p=0.028), job demands (OR=2.192; p=0.032), and job satisfaction (OR=7.344; p=0.008). Significant non-occupational factors included: age (OR=2.735; p=0.002), educational level (OR=2.602; p=0.015), commuting duration (OR=2.039; p=0.025), smoking behavior (OR=3.844; p=0.013), exercise habits (OR=2.800; p=0.022), and sleep duration (OR=1.885; p=0.004). In contrast, risk factors such as gender, body mass index, and marital status were not significantly associated with work fatigue. These results underscore the multifactorial nature of work fatigue among security personnel, influenced by both job-related factors (length of service, working hours, workload, organizational role, social support in the workplace, job demands, and job satisfaction) as well as nonjob-related factors (age, education, commuting time, smoking habits, exercise habits, and  sleep  duration). Organizational interventions should prioritize work schedule optimization, enhanced psychosocial support systems, and comprehensive workplace health initiatives to mitigate fatigue-related risks.

Read More
T-7286
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ludia Safitri; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Permata Wulandari
S-7992
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wardani Adi saputra; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Fetrina Lestari
T-7715
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Martin Haposan Siahaan; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Muh Adhi Sjahzani
Abstrak: Tugas pokok Satpam adalah menjaga dan mengamankan lingkungan kerjanya sehingga terhindar dari kejadian yang tidak diinginkan. Kebakaran merupakan suatu kejadian timbulnya api yang tidak dikehendaki yang dapat muncul kapan saja dan dimana saja. Satpam sebagai pengaman lingkungan kerja harus siap dalam menghadapi bahaya seperti bahaya kebakaran. Penelitian ini membahas tentang Tingkat Kesiapan Satpam dalam Menghadapi Bahaya Kebakaran di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Kesiapan ini dinilai dari pengetahuan tentang bahaya kebakaran, menghindarkan terjadinya kebakaran, pemadaman kebakaran, pengamanan saat terjadi kebakaran dan penyelamatan saat terjadi kebakaran. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional menggunakan alat bantu kuesioner yang diisi oleh seluruh Satpam di FKM UI. Hasil dari penelitian ini adalah dengan Total Responden 21 orang Satpam di FKM UI, sebanyak 52% memiliki kesiapan yang baik dalam menghadapi bahaya kebakaran dan sisanya mempunyai kesiapan yang kurang baik dalam menghadapi bahaya kebakaran. Kata kunci: Tingkat Kesiapan, Bahaya Kebakaran, Satuan Pengamanan
The main task of Security Unit is to maintain and secure their work environment so they can avoid unwanted incidents. Fire is an event of destructive and uncontrolled that can arise anytime and anywhere. Security Unit as a Emergency Services Personnel must be prepared to face the danger such a fire hazard. This study discusses about the Preparedness Level of Security Unit in facing the Fire Hazard in Public Health Faculty of University of Indonesia. Preparedness Level of Security Unit is assessed from knowledge about fire hazard, avoid the occurrence of fire, fire fighting, fire prevention and fire safety. Cross sectional is used to be the design of this study, with using questionnaires that filled out by the whole of Security Unit as a respondent. Result of this study was as many as 52% from 21 people of Security Unit in Public Health Faculty Universitas Indonesia have a good preparedness in facing the fire hazard and the rest have poor preparedness in the face of a fire hazard. Keywords: Preparedness Level, Fire Hazard, Security Unit
Read More
S-9240
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diva Revyanda; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Nur Anis Laila
Abstrak: Distres kerja adalah respons negatif fisik dan emosional terhadap ketidaksesuaian antara tuntutan pekerjaan, sumber daya, dan kemampuan pekerja yang dapat menimbulkan dampak terhadap kondisi fisiologis dan psikologis pekerja. Guru SLB Negeri merupakan salah satu profesi yang rentan mengalami distres kerja karena pekerjaannya yang berbeda dengan guru sekolah formal pada umumnya serta memiliki tuntutan peran dan tekanan pekerjaan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian distres kerja dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan distres kerja pada guru SLB Negeri di wilayah Kota Jakarta Selatan. Penelitian ini dilakukan kepada guru dari empat SLB Negeri di Kota Jakarta Selatan. Besar sampel yang digunakan adalah total sampling, yaitu 199 orang. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang diadaptasi dari NIOSH Generic Job Stress Questionnaire. Dari besar sampel sebanyak 199 orang, hanya 186 orang yang bersedia menjadi responden sehingga didapatkan hasil bahwa sebanyak 84 orang (45,2%) mengalami distres kerja dan 102 orang (54,8%) tidak mengalami distres kerja. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan secara statistik melalui uji chi-square adalah usia (nilai P = 0,034), status pernikahan (nilai P = 0,022), dan ambiguitas peran (nilai P = 0,015).
Work distress is a physical and emotional negative response to the discrepancy between job demands, resource and abilities of workers, which can has many impact on physiological and psychological conditions of workers. Public special education teacher is one of the professions that are prone to work distress because their jobs are different from other formal schoolteachers and have high job demands and pressures. This study aims to describe the conditions of work distress and analyze the factors related to work distress for public special education teachers in Jakarta Selatan. This study conducted on teachers from four public special educations in Jakarta Selatan so that the sample size used was total sampling, which was 199 respondents. The study method used is quantitative with cross-sectional design study and uses instrument adapted from NIOSH Generic Job Stress Questionnaire. From 199 respondents, only 186 respondents were willing to filled the questionnaire so the results showed that 84 respondents (45,2%) experienced work distress and 102 respondents (54,8%) did not experience work distress. The factors related to work distress through Chi-Square test were age (P value = 0,034), marital status (P value = 0,022) and role ambiguity (P value = 0,015).
Read More
S-10980
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive