Ditemukan 38941 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Rani Wijayanti; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Budi Hartono, Okta Mutiara Marlina
Abstrak:
Read More
Kawasan Tanpa Rokok (KTR) merupakan salah satu strategi krusial untuk melindungi masyarakat dari bahaya asap rokok pasif. Meskipun Pemerintah Kota Bekasi telah menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2019 tentang KTR, implementasi di sektor swasta seperti kafe dan restoran masih menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepatuhan kafe dan restoran terhadap indikator KTR serta membedah faktor-faktor penentu implementasinya berdasarkan variabel komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi (model George C. Edward III) di Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan desain studi potong-lintang (cross-sectional) yang dilaksanakan di Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan terstruktur dan wawancara terhadap pengelola tempat usaha pada 111 kafe dan restoran yang dipilih sebagai sampel. Indikator kepatuhan diukur berdasarkan pemenuhan parameter KTR, sedangkan variabel implementasi dianalisis menggunakan pendekatan model Edward III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan kafe dan restoran terhadap kebijakan KTR di Kecamatan Medan Satria masih tergolong rendah. Dari total 111 tempat usaha yang diteliti, sebanyak 67 kafe dan restoran (60,4%) belum menerapkan kebijakan KTR secara sesuai, sedangkan 44 usaha (39,6%) telah mematuhi aturan tersebut. Hambatan utama implementasi berakar pada empat variabel: penyampaian informasi dan petunjuk teknis yang belum merata (komunikasi), keterbatasan anggaran serta personel dalam pengawasan (sumber daya), kecenderungan pengelola yang berkompromi demi menjaga omzet dan kenyamanan pelanggan (disposisi), serta belum optimalnya SOP internal dan koordinasi penegakan sanksi (struktur birokrasi). Implementasi kebijakan KTR pada kafe dan restoran di Kecamatan Medan Satria belum optimal dengan tingkat kepatuhan yang masih rendah. Efektivitas penegakan KTR tidak hanya bergantung pada keberadaan regulasi tertulis, melainkan membutuhkan penguatan sosialisasi, pendampingan pengelola, ketegasan pengawasan, dan sinergi koordinasi antarinstansi penegak Perda.
Smoke-Free Zone (SFZ) policy is a crucial strategy to protect the public from the dangers of secondhand smoke exposure. Although the Bekasi City Government enacted Regional Regulation No. 15 of 2019 concerning , implementation in the private commercial sector—particularly cafes and restaurants—continues to face significant operational challenges. This study aimed to analyze the compliance rate of cafes and restaurants with SFZ indicators and to examine implementation determinants based on communication, resources, disposition, and bureaucratic structure variables (George C. Edward III model) in Medan Satria District, Bekasi City. A cross-sectional study design was conducted in Medan Satria District, Bekasi City. Data were collected through structured field observations and management interviews across 111 sampled cafes and restaurants. Compliance indicators were measured against SFZ physical parameters, while implementation dynamics were evaluated using the Edward III framework. The findings revealed that the compliance level of cafes and restaurants with the SFZ policy in Medan Satria District remains low and suboptimal. Out of 111 studied establishments, 67 cafes and restaurants (60.4%) failed to comply adequately with SFZ provisions, whereas only 44 establishments (39.6%) demonstrated full compliance. Implementation barriers stemmed from four main variables: uneven dissemination of technical guidelines (communication), inadequate budget and supervisory personnel (resources), management compromise to preserve customer hospitality and revenue (disposition), and unstandardized internal SOPs alongside weak inter-agency enforcement coordination (bureaucratic structure). SFZ policy implementation among cafes and restaurants in Medan Satria District remains suboptimal with low overall compliance. Enhancing SFZ effectiveness requires more than regulatory existence, it demands proactive dissemination, manager empowerment, decisive field enforcement, and strengthened multi-agency coordination.
S-12483
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alifah Syafriyani; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Makanan jajanan merupakan sumber pemenuhan gizi bagi anak-anak di sekolah. Akan tetapi, makanan jajanan khususnya yang dijual di Sekolah Dasar tidak selalu aman, dan juga rentan terkontaminasi Escherichia coli. Oleh karena itu, dilakukan penelitian ini untuk mengetahui hubungan higiene sanitasi makanan jajanan anak Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Medan Satria dan Jati Asih, Kota Bekasi dengan kontaminasi E.coli pada makanan jajanan. Subjek penelitian yaitu penjamah makanan jajanan di 15 SD Negeri dan Swasta Kecamatan Medan Satria dan Jati Asih, Kota Bekasi. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 16,4% (10 sampel) makanan jajanan positif terkontaminasi E.coli. Berdasarkan pengujian chi square terdapat hubungan yang bermakna antara variabel higiene sanitasi bahan makanan (OR=6,150), higiene sanitasi peralatan (OR=10,571), higiene sanitasi makanan jajanan (OR= 19,688) dan kondisi sarana penjaja (OR=19,688) terhadap terjadinya kontaminasi E.coli pada makanan jajanan anak SD di Kec. Medan Satria dan Jati Asih, Kota Bekasi. Dari hasil uji regresi logistik, didapatkan bahwa variabel paling dominan terhadap kontaminasi E.coli adalah kondisi sarana penjaja bersama dengan higiene sanitasi peralatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mencegah terjadinya kontaminasi E.coli melalui penyuluhan, pelatihan, dan pembinaan higiene sanitasi makanan kepada penjamah makanan, penyediaan fasilitas sanitasi, dan program pemantauan kualitas makanan melalui inspeksi higiene sanitasi dan pengujian mikrobiologi makanan.
Kata kunci: Escherichia coli, makanan jajanan, sekolah dasar
Read More
Kata kunci: Escherichia coli, makanan jajanan, sekolah dasar
S-10005
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mauliate Duarta Christiani; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Rita Damayanti, Nunik Kusumawardani, Sakri Sab'atmaja
Abstrak:
Epidemi tembakau adalah salah satu ancaman besar kesehatan masyarakat yang dihadapi dunia, Selain merokok, asap rokok orang lain juga berbahaya bagi kesehatan. Dilaporkan bahwa tiga dari lima orang pelajar usia 13- 15 tahun terpapar asap rokok orang lain di rumah dan tempat-tempat umum. Prevalensi merokok pada penduduk umur 10-18 mengalami peningkatan dari 7,2% pada tahun 2013 menjadi 9,1% pada tahun 2018. Provinsi DKI Jakarta sudah memiliki peraturan tentang Kawasan Dilarang Merokok. Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) disekolah bertujuan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat, mencegah siswa untuk mulai merokok dan menurunkan angka perokok. Penelitian dilakukan untuk menggali informasi apakah terdapat kesesuaian antara pelaksanaan dengan kebijakan KTR di sekolah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik WM, Observasi dan telaah dokumen. Kesimpulan didapatkan bahwa SMPK 5 Penabur dan SMPN 255 inkonsisten dalam implementasi kebijakan KTR dalam promosi kesehatan di sekolah dan merekomendasikan mendorong disposisi yang mendukung implementasi kebijakan KTR, Pembentukan struktur birokrasi, Mengalokasikan sumber daya sesuai yang dibutuhkan dan Meningkatkan komunikasi yang efektif
Read More
T-5468
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ni Putu Sri Wahyuni; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Sri Tjahyani Budi Utami, Retno Maharsi
S-8141
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Devi Nuraini Santi; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto, Abdur Rahman
T-1697
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Randy Novirsa; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Sri Tjahjani Budi Utami, Riris Nainggolan
S-7253
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Heleyna Oktavia Siregar; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ema Hermawati, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Read More
Pangan merupakan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi kuantitas dan kualitasnya. Provinsi Jawa Barat menjadi provinsi dengan kasus keracunan pangan tertinggi di Indonesia dengan 1.679 kasus keracunan pangan dan 19 KLB di tahun 2023. Kota Depok dan Kota Bogor merupakan kota dengan jumlah Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) terdaftar terbanyak di Jawa Barat. Namun banyak dari TPP yang tidak memenuhi syarat higiene dan sanitasi sehingga berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan pada masyarakat. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi kontaminasi E.coli dan praktik higiene sanitasi di Rumah Makan/Restoran dan Gerai Pangan Jajanan Keliling di Kota Depok dan Kota Bogor. Penelitian dilakukan bulan Juni sampai Agustus 2024 menggunakan desain studi cross sectional. Sebanyak 117 sampel TPP dipilih menggunakan purposive sampling dari data pengawasan TPP oleh Dinas Kesehatan Kota Depok dan Kota Bogor. Data dianalisis secara univariat dan bivariat (Chi-square). Hasil analisis menunjukkan tidak adanya hubungan antara fasilitas sanitasi, sanitasi peralatan, higiene penjamah pangan, pemilihan/penerimaan bahan pangan, penyimpanan pangan matang, pengangkutan pangan matang, dan status laik HSP dengan kontaminasi E.coli. Namun nilai Odd Ratio (OR) menunjukkan adanya potensi hubungan positif antara variabel sanitasi peralatan (OR=1,738) dan status laik HSP (OR=2,512) dengan kontaminasi E.coli.
Food is a fundamental necessity that must be met in terms of both quantity and quality. West Java Province has recorded the highest incidence of food poisoning in Indonesia, with 1,679 reported cases and 19 outbreaks in 2023. Depok and Bogor City are notable for having the highest number of registered Food Management Places (TPP) in West Java. However, many TPPs fail to meet hygiene and sanitation standards, posing significant health risks to the community. This study aims to identify E.coli contamination and assess hygiene and sanitation practices in restaurants and mobile food stalls in Depok and Bogor City. The research was conducted from June to August 2024 using cross-sectional. A total of 117 TPP samples were selected through purposive sampling based on data collected by the Health Office of Depok and Bogor Cities. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis (Chi-square). The results indicate no significant relationship between sanitation facilities, equipment sanitation, food handler hygiene, selection/receipt of food ingredients, storage of cooked food, transportation of cooked food, and HSP eligibility status with E.coli contamination. However, the Odd Ratio (OR) values suggest a potential positive relationship between the variable of equipment sanitation (OR=1.738) and HSP eligibility status (OR=2.512) with E.coli contamination.
S-11799
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gita Rahmaningsih; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Ema Rahmawati, Laila Fitria, Slamet Isworo, Didi Purnama
Abstrak:
Permasalahan yang terjadi dilingkungan yang tidak dapat dihindari di berbagai negara adalah polusi udara. Terdapat banyak penyebab terjadinya pencemaran udara, salah satunya yaitu yang disebabkan oleh partikel debu, terutama pada PM2,5. PM2,5 yang didefinisikan sebagai partikel udara ambien yang berukuran hingga 2,5 mikron. Polusi udara tidak hanya terjadi di udara ambien, tapi juga dapat terjadi di udara dalam ruang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pajanan konsentrasi PM2,5 dalam ruang terhadap gangguan fungsi paru pada orang dewasa yang tinggal di sekitar kawasan indsutri Kelurahan Tegalratu Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon. Jenis penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional. Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2022. Pemilihan sampel penelitian ini dilakukan secara acak berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi yang sudah ditetapkan. Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu sebanyak 200 orang dewasa. Dari hasil analisis didapatkan sebanyak 124 orang dewasa (87.3%) memiliki konsentrasi PM2,5 dalam rumahnya tidak memenuhi syarat menderita gangguan fungsi paru, sedangkan terdapat 34 orang dewasa (58.6%) yang konsentrasi PM2,5 dalam rumahnya memenuhi syarat menderita gangguan fungsi paru. Hasil penelitian ini ditemukannya hubungan yang signifikan antara pajanan konsentrasi PM2,5 terhadap gangguan fungsi paru pada orang dewasa yang tinggal kawasan industri. Variabel confounding yang mempengaruhi terhadap pajanan konsentrasi PM2,5 diantaranya yaitu penggunaan obat nyamuk bakar, status gizi, umur, riwayat penyakit, bahan bakar masak, jenis lantai rumah dan status merokok. Kesimpulan dari penelitian ini ditemukannya hubungan yang signifikan antara Konsentrasi PM2,5, umur, status gizi, dan jenis lantai rumah dengan kejadian gangguan fungsi paru.
Environmental problems that can not be avoided in various countries is air pollution. There are many causes of air pollution, one of which is caused by dust particles, especially in PM2,5. PM2,5 is defined as ambient air particles that are up to 2.5 microns in size. Air pollution occurs not only in the ambient air, but also in the indoor air. This study aim to determine the relationship of indoor PM2,5 concentration exposure against lung function impairment of adults living around Industrial Area Tegalratu Village, Ciwandan District, Cilegon. This research uses a cross-sectional study design. Data collection was conducted on April to May 2022. The participants were identified using random sampling method based on inclusion and exclusion criteria that have been set. The number of samples in this study were 200 adults. The analytical results obtained of 124 adults (87.3%) had PM2,5 concentrations in their homes were not qualified to suffer from lung function impairment, while there were 34 adults (58.6%) whose PM2,5 concentrations in their homes were qualified to suffer from lung function impairment. The results of this study found a significant associated between exposure to PM2,5 concentrations of lung function impairment in adults living in industrial areas. Confounding variables that affect exposure to PM2,5 concentrations include the use of mosquito coils, nutritional status, age, disease history, cooking fuels, type of house floor and smoking status. The conclusion of this study found a significant relationship between PM2,5 concentration, age, nutritional status, and type of house floor with the incidence of lung function impairment.
Read More
Environmental problems that can not be avoided in various countries is air pollution. There are many causes of air pollution, one of which is caused by dust particles, especially in PM2,5. PM2,5 is defined as ambient air particles that are up to 2.5 microns in size. Air pollution occurs not only in the ambient air, but also in the indoor air. This study aim to determine the relationship of indoor PM2,5 concentration exposure against lung function impairment of adults living around Industrial Area Tegalratu Village, Ciwandan District, Cilegon. This research uses a cross-sectional study design. Data collection was conducted on April to May 2022. The participants were identified using random sampling method based on inclusion and exclusion criteria that have been set. The number of samples in this study were 200 adults. The analytical results obtained of 124 adults (87.3%) had PM2,5 concentrations in their homes were not qualified to suffer from lung function impairment, while there were 34 adults (58.6%) whose PM2,5 concentrations in their homes were qualified to suffer from lung function impairment. The results of this study found a significant associated between exposure to PM2,5 concentrations of lung function impairment in adults living in industrial areas. Confounding variables that affect exposure to PM2,5 concentrations include the use of mosquito coils, nutritional status, age, disease history, cooking fuels, type of house floor and smoking status. The conclusion of this study found a significant relationship between PM2,5 concentration, age, nutritional status, and type of house floor with the incidence of lung function impairment.
T-6472
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Febry Handiny; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Laila Fitria, Sri Tjahjani Budi Utami, Edy Hariyanto, Didi Purnama
T-5001
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hanna Pratiwi; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Dewi Susanna, Atang Saputra
Abstrak:
Bandara memiliki peran yang sangat penting untuk mencegah transmisi berbagai penyakit yang mungkin terjadi. Salah satu fasilitas penunjang di Bandara berupa restoran. Higiene perorangan dan sanitasi pengelolaan makanan restoran di Bandara perlu mendapatkan pengawasan untuk mencegah kejadian foodborne disease. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kondisi higiene perorangan dan sanitasi pengelolaan makanan terhadap kualitas bakteriologis makanan (Escherichia coli) restoran di Bandara Soekarno-Hatta tahun 2014. Penelitian menggunakan desain studi cross sectional dengan total sampel sebanyak 90 restoran di Bandara Soekarno-Hatta. Hasil penelitian menujukan bahwa sebagian besar makanan restoran tidak terkontaminasi E. coli (95,6 %). Dari sembilan variabel dalam sanitasi fisik, terdapat tujuh variabel yang memenuhi syarat, yaitu lokasi dan bangunan, fasilitas sanitasi, gudang bahan makanan, dapur, dan ruang makan, bahan makanan dan makanan jadi, pengolahan makanan, penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi, serta penyajian makanan. Variabel sanitasi alat sebagian besar memenuhi syarat, sesuai dengan kualitas bakteriologis alat yang tidak terkontaminasi E. coli pada sebagian besar sampel usap alat. Sedangkan, variabel higiene tenaga kerja sebagian besar tidak memenuhi syarat, namun tidak ditemukan E. coli pada sebagian besar sampel usap tangan penjamah. Berdasarkan analisis bivariat tidak ditemukan hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
Kata kunci : Sanitasi, higiene, Escherichia coli, makanan
Read More
Kata kunci : Sanitasi, higiene, Escherichia coli, makanan
S-8772
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
