Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31071 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hartono; Pembimbing: Sandra Fikawati
S-3267
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Miranti Azmi; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Triyanti, Husnah Maryati
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungandengan perilaku pemberian ASI eksklusif pada Ibu yang memiliki bayi 6-12 bulandi wilayah kerja Puskesmas Kemang, Kabupaten Bogor. Penelitian inimenggunakan desain cross-sectional. Pengambilan data dilakukan pada April-Mei2016 kepada 94 Ibu yang memiliki bayi 6-12 Bulan di wilayah kerja PuskesmasKemang. Instrumen penelitian berupa kuesioner. Hasil penelitian menunjukanbahwa 38,3% Ibu memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Hasil uji statistikmenunjukan bahwa terdapat hubungan bermakna antara pendidikan Ibu, promosisusu formula, pengetahuan, sikap, dukungan suami, dukungan keluarga dandukungan mertua dengan (p-value < 0,05) terhadap perilaku pemberian ASIeksklusif.Kata Kunci : ASI eksklusif, pendidikan, pengetahuan, sikap, dukungan, promosisusu formula.
Read More
S-9093
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khouw Loanita Theresiana; Pembimbing: Syafri Guricci; Penguji: Achmad Syafiq, Tatang S. Fallah, Bachtiar Oesman
Abstrak:

Jendela paling kritis kurang gizi terletak pada usia 6-12 bulan karena air susu ibu (ASI) saja sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan gizi bayi. Sehingga diperlukan makanan pelengkap ASI yaitu makanan pendamping ASI (MP-ASI). Praktek pemberian MP-ASI dipengaruhi berbagai faktor antara lain faktor biologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi dan pelayanan kesehatan sehingga menimbulkan banyak permasalahan dalam praktek pemberian MP-ASI tersebut. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi mengenai praktek pemberian MP-ASI dan faktor-faktor yang berhubungan dengan praktek pemberian MP-ASI pada bayi 4-11 bulan di Kabupaten Tangerang.Penelitian ini menggunakan desain potong lintang / cross sectional pada bayi umur 4-11 bulan di Kabupaten Tangerang Provinsi Banten, di mana pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret 2002. Sebagai sampel adalah ibu yang mempunyai bayi berusia 4-11 bulan yang diambil sesuai dengan metode survei cepat (Ariawan, 1996), menggunakan rancangan cluster dengan cara probability proportional to size (pps), sehingga didapat jumlah sampel sebesar 300 responden, dan pada waktu pelaksanaan ternyata 1 responden sudah pindah sehingga akhirnya diperoleh data dari 299 orang ibu yang mempunyai bayi 4-11 bulan.Pengumpulan data dilakukan oleh 6 orang alumni Akademi Gizi Jakarta yang telah dilatih lebih dahulu. Variabel dependen yaitu praktek pemberian MP-ASI dan variabel independen adalah umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pengetahuan gizi ibu, jumlah anggota keluarga, pendapatan keluarga dan peran petugas kesehatan. Untuk melengkapi data pada variabel praktek pemberian MP-ASI, juga dilaksanakan diskusi kelompok terarah di 2 desa cluster yang masing-masing dihadiri oleh ± 10 orang tokoh masyarakat, tokoh agama dan kader posyandu. Sedangkan untuk variabel peran petugas kesehatan dilengkapi dengan wawancara langsung terhadap 29 oang pembina desa di lokasi penelitian. Analisis yang dilakukan adalah univariat, bivariat dan multivariat dengan regresi logistik.Hasil penelitian menunjukkan proporsi 59,2% praktek pemberian MP-ASI yang baik dan 40,8% dengan praktek pemberian MP-ASI yang kurang balk. Dari hasil analisis bivariat diketahui bahwa variabel yang mempunyai hubungan bermakna dengan praktek pemberian MP-ASI adalah pendidikan ibu, pekerjaan ibu, jumlah anggota keluarga, dan peran petugas kesehatan (p < 0,005), sedangkan variabel umur ibu, pengetahuan gizi dan pendapatan keluarga tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan praktek pemberian MP-ASI (p > 0,005). Hasil analisis multivariat regresi logistik menunjukkan bahwa variabel yang paling dominan berhubungan dengan praktek pemberian MP-ASI adalah peran petugas kesehatan dengan OR 3,6 yang berarti ibu yang tidak mendapatkan peran petugas kesehatan mempunyai peluang 3,5697 kali untuk praktek pemberian MP-ASI yang kurang baik dibandingkan dengan ibu yang mendapat peran petugas kesehatan yang baik.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa praktek pemberian MP-ASI di Kabupaten Tangerang belum optimal karena masih ada 40,8% dengan praktek pemberian MP-ASI yang kurang baik. Untuk itu disarankan adanya dukungan langsung dari pembuat kebijakan dengan lintas sektor terkait untuk meningkatkan pendidikan, adanya tempat penitipan bayi di sekitar tempat kerja, meningkatkan pemeliharaan ternak di tingkat keluarga. Untuk instansi kesehatan dalam hal ini Dinas Kesehatan , Puskesmas dan Organisasi Profesi didalamnya seperti IDI, IBI agar meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan motivasi mengenai praktek pemberian MP-ASI dengan tepat dan benar. Untuk peneliti lain agar dapat dilanjutkan dengan penelitian kohort mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan fisiologi pengeluaran ASI pada hari-hari pertama yang menyebabkan tingginya pemberian makanan prelakteal.


 

The most critical window of malnourished is on age 6-12 months, since the only breast-feeding is not enough to complete the nutrition need of infant. So it is need food complete the breast-feeding, that is food for complementary feeding. The practice in giving complementary feeding is influenced some factors, among others biology, economy, social culture, technology and health service, so raise a lot of problem in practice of giving the complementary feeding. The objective of this study was to obtain the information on the practice in giving complementary feeding and the factors that related to the practice of giving complementary feeding on infant age 4-11 months in Tangerang District.This study design was cross-sectional on infant age 4-11 months in Tangerang District, Banten Province, where the data was conducted on March 2002. The sample was the mothers having infant age 4-11 months that taken based on rapid survey method (Ariawan, 1996), using cluster design by probability proportional to size (pps), so it obtained the number of sample was 300 respondents. On the implementation, the fact that 1 respondent had moved, so finally it obtained 299 mothers having infant age 4-11 months.The data was collected by 6 alumnus of Nutrition Academy of Jakarta, which trained in advance. Dependent variable was the practice of giving complementary feeding and independent variable were mother's age, mother's education, mother's occupation, the knowledge of mother's nutrition, the number of family, family income and role of health provider. To complete the date on practice in giving complementary feeding variable, it also conducted the Focus Group Discussion at 2 cluster villages, where in each village attended by ± 10 community leaders, religion leaders and cadre. While for variable on the role of health provider it completed with in-depth interview to 29 village referrals at the study location. The analysis that conducted was univariate, bivariate and multivariate by logistic regression.The result of this study showed that the proportion was 59.2% having good practice in giving complementary feeding and 40,8% was not good in practice in giving complementary feeding. Based on bivariate analysis known that the variable that having significant relationship with the practice in giving complementary feeding was mother's education, mother's occupation, number of family member, and the role of health worker (p<0.005). While the variable of mother's age, the knowledge on nutrition and family income have not significant relationship with practice in giving complementary feeding (p>0.005). The result of logistic regression multivariate analysis showed that the variable that the most dominant having relationship with practice in giving complementary feeding was the role of health provider with OR 3,5697. It means that the mother who had not get the role of health provider having tendency as 3.5697 times for practice in giving complementary feeding that was not good compared with mother whose obtain the role of good health provider.Based on this study, it can be concluded that the practice in giving complementary feeding at Tangerang District is not optimal yet, since there is still 40,8% with practice in giving complementary feeding not good. It is recommended the availability of direct role from policy maker by related cross sector to improve education, the availability of day-care for infant at around the working place, and improving animal care at the family level. For health Institution, i.e. Local Health Service, Health Center and profession organization such as Association of Indonesia Medical Doctors, Association of Indonesian Midwives in order to improve their knowledge, skill and motivation on the practice in giving MP-ASI correctly and timely. For other researchers should continue cohort study on the factors that related to physiology breast-feeding expenses on the first day that caused to the high in giving the pre-lactation food.

Read More
T-1448
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Ikmila; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Tri Wahyuningsih
Abstrak: Tinggi badan merupakan salah satu ukuran pertumbuhan linier yang dapat menggambarkan status gizi seseorang di masa lampau. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan linear yang disebabkan oleh malnutrisi kronis, dinyatakan dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) kurang dari -2 standar deviasi (SD). Tujuan umum penelitian ini mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan TB/U pada balita umur 24-59 bulan di Kelurahan Depok Kota Depok tahun 2015. Desain penelitian ini cross sectional dengan sampel berjumlah 173 balita umur 24-59 bulan. Penelitian ini dilakukan pada bulan April hingga Mei 2015. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran tinggi badan, wawancara kuisioner dan formulir 24 hour recall. Adapun variabel yang diteliti adalah tinggi badan menurut umur (TB/U), asupan energi, asupan protein, penyakit infeksi, pemberian ASI eksklusif, sumber air minum, umur balita, jenis kelamin balita, tinggi badan ibu, berat lahir balita, jarak kelahiran balita, pendidikan ibu, jumlah anggota keluarga, dan status ekonomi keluarga. Analisis yang digunakan adalah univariat dan bivariate menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan proporsi yang bermakna antara asupan energi, asupan protein, tinggi badan ibu, jarak kelahiran balita, dan status ekonomi keluarga dengan TB/U pada balita umur 24-59 bulan di Kelurahan Depok Kota Depok tahun 2015. Kata kunci: TB/U, asupan energi, asupan protein, tinggi badan ibu, jarak kelahiran, status ekonomi keluarga
Read More
S-8739
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nofriyanto; Pembimbing: Kusharisupeni
S-3438
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutia Firnanda; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Sandra Fikawati, Trini Sudiarti, Anies Irawati, Abas Jahari
Abstrak: Dalam kehidupan normal, bila keadaan kesehatan baik dan seimbang antara konsumsi dan kebutuhan gizi, maka berat badan akan berkembang mengikuti pertambahan umur. Sebaliknya, dalam keadaan abnormal terdapat dua kemungkinan perkembangan berat badan bayi yaitu dapat berkembang secara cepat atau lebih lambat dari keadaan normal. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pencapaian berat badan bayi terdiri dari faktor ibu (pendidikan ibu, pekerjaan ibu, IMT prahamil, kenaikan berat badan selama hamil dan paritas), faktor bayi (jenis kelamin, berat lahir dan penyakit infeksi) dan praktik makan (ASI eksklusif dan usia pemberian MPASI). Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pencapaian berat badan bayi pada usia 6 bulan. Desain penelitian adalah cross sectional dengan jumlah sampel 104 bayi usia 6 bulan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Pancoran Mas yang diambil secara purposive sampiling. Data dianalisis dengan uji chi square, uji mann whitney, uji t indepedent dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 66,3% bayi mengalami pencapaian berat badan yang tidak sesuai dan ada perbedaan IMT prahamil ibu (p value = 0,010) dan berat lahir bayi (p value = 0,023) yang signifikan antara bayi dengan pencapaian berat badan yang tidak sesuai dengan bayi dengan pencapaian berat badan bayi yang sesuai pada usia 6 bulan. Pencapaian berat badan bayi pada usia 6 bulan berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif (p value = 0,005). Namun pendidikan ibu, pekerjaan ibu, kenaikan berat badan ibu selama hamil, paritas, jenis kelamin, penyakit infeksi dan usia pemberian MPASI tidak berhubungan dengan pencapaian berat badan bayi pada usia 6 bulan. Faktor dominan yang berhubungan dengan pencapaian berat badan pada usia 6 bulan adalah ASI eksklusif dimana bayi yang tidak diberi ASI eksklusif berisiko 3,777 kali mengalami pencapaian berat badan yang tidak sesuai pada usia 6 bulan (OR = 3,777) Diperlukan peningkatan promosi pemberian ASI eksklusif tidak hanya pada ibu hamil namun juga kepada keluarga ibu hamil. Kata Kunci : pencapaian berat berat badan bayi, ASI eksklusif
In normal life, where health is in good condition and balanced between consumption and nutritional needs, infant weight will increase with age. Otherwise in abnormal state, there are two possibilities of developing infant weight that can develop rapidly or slower than normal state. This study aimed to find the related factors of infant weight increment in 6-month-old infants. The study used cross-sectional method with 104 sample and for the analysis using independent t-test, chi square and multiple logistic regression. This study shows that 66,3% infants were failure to thrive. There were a significant difference between prepregnancy BMI, birth weight in infant weight increment while maternal education, occupation job status, weight gain during pregnancy, parity, gender, infection diseases and age of time complementary food introduction were not related to infant weight Increment in 6-month-old. The most influencing factor relating to infant weight increment was exclusive breastfeeding. Therefore, exclusive breastfeeding for the first 6 months needs to be promoted and encouraged to increase optimal infant weight increment in 6-month-old infants. Keywords : infant weight increment, exclusive breastfeeding.
Read More
T-4873
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sutanto; Pembimbing: Siti Arifah Pudjonarti; Penguji: Asih Setiarini, Syafri Guricci, Minarto, HAYG Wibisono
T-2666
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Setiawaty; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari
S-3051
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alma Avida Virgita; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Triyanti, Syahidah Asma Amani
Abstrak:
Tinggi badan adalah salah satu indikator kesehatan dan kesejahteraan suatu individu maupun populasi. Berdasarkan data dari Riskesdas tahun 2018, prevalensi pendek dan sangat pendek pada remaja berusia 16-18 tahun adalah 25,82%. Prevalensi tersebut masih berada di atas ambang batas masalah kesehatan masyarakat menurut WHO. Adapun prevalensi pendek dan sangat pendek di Kota Depok untuk kelompok usia 16-18 tahun adalah 12,37%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan TB/U pada siswa SMA negeri di Kota Depok tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan metode kuantitatif serta menggunakan data primer yang dikumpulkan dari 217 responden. Asupan energi, karbohidrat, protein, lemak, kalsium, dan zink, serta tinggi badan ibu memiliki hubungan yang signifikan dengan TB/U siswa SMA, dengan asupan zink sebagai faktor dominan yang paling berhubungan. Sementara, asupan vitamin D, aktivitas fisik, durasi tidur, pendidikan orangtua pendapatan keluarga, dan tinggi badan ayah tidak memiliki pengaruh yang signfikan terhadap TB/U siswa SMA. Faktor asupan zat gizi makro maupun mikro memegang peranan penting terhadap TB/U siswa SMA. Faktor genetik, terutama tinggi badan ibu juga berpengaruh terhadap TB/U siswa SMA.

Height is an indicator of the health and well-being of an individual or population. Based on data from Riskesdas 2018, the prevalence of shortness and very shortness in adolescents aged 16-18 years is 25.82%. The prevalence is still above the threshold for a public health problem according to WHO. The prevalence of shortness and very shortness in Depok City for the 16-18 year age group is 12.37%. Objective: The aim of this research is to determine the factors associated with TB/U in public high school students in Depok City in 2024. Methods: This research uses a cross-sectional design with quantitative methods and uses primary data collected from 217 respondents. Energy, carbohydrate, protein, fat, calcium and zinc intake, as well as maternal height, had a significant relationship with high school students' height for age, with zinc intake as the dominant factor that was most related. Meanwhile, vitamin D intake, physical activity, sleep duration, parental education, family income, and father's height do not have a significant influence on height for age of high school students. Macro and micro nutrient intake factors play an important role in high school students' height for age. Genetic factors, especially maternal height, also influence height for age in high school students.
 
Read More
S-11604
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Henry Tri Purwati; Pembimbing: Asih Setiarini
S-3067
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive