Ditemukan 42113 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Gunawan Wahyu Nugroho; Pembimbing: Bambang Sutrisna
S-3454
Depok : FKM UI, 2003
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Salsabila Rosa; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Fidiansjah
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia di masa pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional. Responden pada penelitian ini berjumlah 307 orang dengan metode pengambilan sampel purposive sampling. Kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara penghasilan (p=0,001), riwayat penyakit selain COVID-19 (p=0,006), aktivitas fisik (p=0,000), stress (p=0,000), dan dukungan sosial (p=0,000) dengan kualitas hidup mahasiswa S1 Reguler Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia selama pandemi COVID-19.
Read More
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara penghasilan (p=0,001), riwayat penyakit selain COVID-19 (p=0,006), aktivitas fisik (p=0,000), stress (p=0,000), dan dukungan sosial (p=0,000) dengan kualitas hidup mahasiswa S1 Reguler Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia selama pandemi COVID-19.
S-10751
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dwi Meitasari; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Evi Martha, Christiana R. Titaley, Nur Fatayani
Abstrak:
Read More
Berbagai permasalahan kesehatan termasuk di Maluku diduga berhubungan dengan literasi kesehatan. Beberapa studi menyatakan masih terdapat tingkat literasi kesehatan yang terbatas, termasuk pada mahasiswa. Penelitian tentang literasi kesehatan pada mahasiswa khususnya di Indonesia bagian timur, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat literasi kesehatan pada mahasiswa program sarjana reguler di Universitas Pattimura dan faktor-faktor yang berhubungan dengannya. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dari Studi Literasi Kesehatan 2019 dengan sampel mahasiswa sarjana angkatan 2018 dari 9 fakultas di Universitas Pattimura (n=356) dengan desain potong lintang. Pengukuran literasi kesehatan dilakukan menggunakan instrumen European Health Literacy Survey Question 16 (HLS-EU-Q16) yang telah diadaptasi ke dalam konteks dan Bahasa Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat literasi kesehatan terbatas dengan rata-rata skor sebesar 32,94 (SD=6,81) skala 0-50. Faktor yang berhubungan dengan tingkat literasi kesehatan adalah suku orang tua (p=0,002), kepemilikan asuransi kesehatan (p=0,029), dan riwayat penyakit (p=0,001). Faktor yang paling dominan adalah riwayat penyakit. Diperlukan intervensi yang bersifat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan literasi kesehatan pada mahasiswa.
Various health issues, notably in Maluku, are thought to be linked to health literacy. Several studies state that there is still a limited level of health literacy, including among students. Research on health literacy among students, particularly in eastern Indonesia, is still limited. This research aims to determine the level of health literacy among regular undergraduate students at Pattimura University and the factors related to it. This research is a secondary data analysis from the 2019 Health Literacy Study with a sample of 2018 undergraduate students from 9 faculties at Pattimura University (n=356) with a cross-sectional design. Health literacy was measured using the European Health Literacy Survey Question 16 (HLS-EU-Q16) instrument which has been adapted to the Indonesian context and language. The results of this study show a limited level of health literacy with an average score of 32.94 (SD=6.81) on a scale of 0-50 . Factors related to the level of health literacy were parents' ethnicity (p=0.002), health insurance ownership (p=0.029), and medical history (p=0.001). The most dominant factor is medical history. Interventions are needed that increase knowledge and skills to increase health literacy in students
T-7014
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ajeng Hadiati Sarjono; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Fatmah, Mursalim
s-6273
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yasyfa Mutiara; Pembimbing; Fathimah Sulistyowati Sigit; Penguji: Sandra Fikawati, Triyanti, Wardina Humayrah, Riri Indriyanti
Abstrak:
Read More
Adaptasi terhadap lingkungan baru dan tuntutan akademik yang meningkat drastis dibanding masa sekolah membuat mahasiswa baru termasuk kelompok yang rawan stres akademik. Ada dugaan bahwa stres semacam ini mengganggu regulasi perilaku makan, dan pada gilirannya mendorong munculnya perilaku makan berisiko. Pertanyaan yang coba dijawab dalam studi ini sederhana: benarkah persepsi stres akademik berhubungan dengan perilaku makan berisiko pada mahasiswa baru UI angkatan 2025? Untuk menjawabnya, digunakan data sekunder berdesain potong lintang dari 399 mahasiswa baru UI angkatan 2025. Instrumen PASS (Perceived Academic Stress Scale) dipakai untuk menangkap persepsi stres akademik, sedangkan TFEQ-R18 (Three-Factor Eating Questionnaire-Revised 18) menangkap perilaku makan berisiko. Chi-square lebih dulu menguji hubungan kedua variabel secara bivariat; setelahnya regresi logistik masuk untuk mengendalikan delapan variabel lain sekaligus — jenis kelamin, rumpun fakultas, pendapatan orang tua, status gizi, aktivitas fisik, kualitas tidur, depresi, dan kecemasan. Dari 399 responden, 35,8% tergolong mengalami perilaku makan berisiko dan 31,8% melaporkan stres akademik tinggi. Uji bivariat memang menangkap hubungan bermakna antara keduanya (p = 0,013), tapi begitu delapan variabel perancu tadi dikendalikan, hubungan ini rontok — AOR turun ke 1,26 dengan interval kepercayaan 95% yang melebar dari 0,69 sampai 2,28, artinya secara statistik stres akademik gagal berdiri sendiri sebagai prediktor. Yang justru bertahan adalah faktor lain. Aktivitas fisik rendah meningkatkan risiko hampir dua setengah kali lipat (AOR 2,33; CI 1,33–4,10), status gizi kurus bahkan lebih besar lagi, hampir tiga setengah kali lipat (AOR 3,53; CI 1,56–7,98). Kecemasan tampil paling konsisten: risikonya naik seiring tingkat keparahan, dari kecemasan ringan (AOR 2,23; CI 1,28–3,91), sedang (AOR 2,49; CI 1,24–4,99), hingga berat yang risikonya melonjak empat kali lipat (AOR 4,03; CI 1,80–9,03). Pola ini menunjukkan sesuatu yang penting: stres akademik saja bukan penjelas yang cukup untuk perilaku makan berisiko pada mahasiswa baru. Begitu faktor-faktor lain diperhitungkan bersamaan, perannya memudar, dan kecemasanlah yang tampil sebagai faktor psikologis paling menentukan. Implikasinya cukup jelas bagi kampus: skrining kesehatan mental, terutama untuk kecemasan, layak masuk sebagai bagian dari program kesehatan mahasiswa baru, berdampingan dengan promosi gaya hidup sehat yang selama ini sudah berjalan.
First-year university students constitute a population vulnerable to academic stress, owing to the adaptation required by an unfamiliar environment and academic demands that differ markedly from secondary school. This stress is hypothesized to disrupt eating behavior regulation, thereby increasing the risk of risky eating behavior. This study aimed to examine the association between perceived academic stress and risky eating behavior among first-year students at Universitas Indonesia in 2025.This cross-sectional study used secondary data from 399 first-year students at Universitas Indonesia in 2025. Perceived academic stress was assessed using the Perceived Academic Stress Scale (PASS), while risky eating behavior was measured using the Three-Factor Eating Questionnaire-Revised 18 (TFEQ-R18). Bivariate associations were tested using the chi-square test, followed by multivariate logistic regression to adjust for sex, faculty cluster, parental income, nutritional status, physical activity, sleep quality, depression, and anxiety. Risky eating behavior was identified in 35.8% of respondents, and 31.8% reported high perceived academic stress. Bivariate analysis showed a significant association between perceived academic stress and risky eating behavior (p = 0.013); however, this association was no longer statistically significant after adjustment for confounding variables (AOR = 1.26; 95% CI: 0.69–2.28). Factors independently associated with risky eating behavior included low physical activity (AOR = 2.33; 95% CI: 1.33–4.10) and underweight nutritional status (AOR = 3.53; 95% CI: 1.56–7.98). Anxiety showed a consistent dose-response association across severity levels: mild (AOR = 2.23; 95% CI: 1.28–3.91), moderate (AOR = 2.49; 95% CI: 1.24–4.99), and severe (AOR = 4.03; 95% CI: 1.80–9.03). Perceived academic stress was not independently associated with risky eating behavior after adjusting for confounding variables. Anxiety emerged as the most dominant psychological factor associated with risky eating behavior. These findings suggest that prevention efforts targeting risky eating behavior among new students should incorporate mental health screening—particularly for anxiety—alongside the promotion of healthy lifestyle behaviors within campus health programs.
T-7579
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jauza Nawal Hadi; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Asih Setiarini, Dian Kusumadewi
Abstrak:
Read More
Kerawanan pangan pada mahasiswa merupakan isu kesehatan masyarakat yang memiliki dampak buruk pada kesehatan dan performa akademik mahasiswa, terutama pada mahasiswa tahun pertama yang sedang mengalami masa transisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fakto-faktor yang berhubungan dengan status kerawanan pangan pada mahasiswa S1 Reguler tahun pertama Rumpun Ilmu Kesehatan dan Non-Kesehatan di Universitas Indonesia tahun 2026. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan pada bulan Mei 2026 menggunakan kuesioner daring dengan teknik convenience sampling. Sebanyak 312 responden dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kerawanan pangan pada tahun pertama sebesar 40,7%. Analisis bivariat menunjukan adanya hubungan signifikan antara status sebagai generasi pertama yang berkuliah (p =0,001), tempat tinggal (p=0,005), jenis kelamin (p=0,015), dan uang saku (p=0,045) dengan status kerawanan pangan. Hasil analisis multivariat menunjukkan mahasiswa yang tinggal secara indekos memiliki risiko 3,074 kali lebih besar untuk mengalami kerawanan pangan dibandingkan mahasiswa yang tinggal dengan orang tua (p= 0,000; 95% CI = 1.738 – 5.437). Oleh karena itu, Universitas Indonesia perlu menginisiasi program berupa hunian mahasiswa adaptif berbasis kemampuan finansial mahasiswa guna memitigasi risiko kerawanan pangan tersebut.
Food insecurity among university students represents a critical public health issue that adversely affects both health outcomes and academic performance, particularly among first-year students navigating transitional life stages. This study aims to determine the factors associated with food insecurity status among first-year regular undergraduate students across the Health and Non-Health Sciences clusters at Universitas Indonesia in 2026. A quantitative research design with a cross-sectional approach was employed. Data were collected in May 2026 using an online questionnaire distributed via convenience sampling. A total of 312 valid respondents were analyzed utilizing Chi-square tests and multiple logistic regression. The findings revealed that the prevalence of food insecurity among first-year students was 40.7%. Bivariate analysis indicated significant associations between food insecurity status and being a first-generation college student (p = 0.001), place of residence (p = 0.005), gender (p = 0.015), and monthly allowance (p = 0.045). Furthermore, multivariate analysis demonstrated that students living in off-campus housing faced a 3.074 times higher risk of experiencing food insecurity compared to those residing with their parents (p = 0.000; 95% CI = 1.738 - 5.437). Consequently, Universitas Indonesia needs to initiate adaptive student housing programs tailored to students' financial capacities as a targeted intervention to mitigate the risk of food insecurity.
S-12414
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Priskatindea; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Indri Oktaria Sukmaputri, Bayu Aji
Abstrak:
Read More
Perilaku pencegahan merupakan kunci keberhasilan dalam menghadapi pandemi COVID-19. Vaksinasi merupakan salah satu kunci dari perilaku pencegahan terhadap COVID-19. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan vaksin COVID-19 pada Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan desain Cross-Sectional dengan menganalisis hasil survei daring yang dilakukan pada 264 orang Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Indonesia yang berlangsung selama bulan Mei 2021. Hubungan asosiasi dinilai pada faktor sosidemografi yakni usia, jenis kelamin, tingkat ekonomi, agama, tingkat pendidikan, status menikah, status pekerjaan dan kepemilikan asuransi, gambaran riwayat individu/kerabat terkena COVID-19 sebelumnya, persepsi terhadap COVID-19 yang terdiri atas persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi manfaat, dan persepsi hambatan, serta tingkat pengetahuan tentang COVID-19, tingkat pengetahuan tentang pencegahan COVID-19, tingkat pengetahuan tentang vaksin COVID-19, dan perilaku pencegahan COVID-19 dengan penerimaan vaksin COVID-19 pada mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dengan menggunakan analisis logistic regression. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 88,6% mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menyatakan bersedia menerima vaksin COVID-19. Hasil analisis multivariat menemukan bahwa faktor status menikah, kepemilikan asuransi, persepsi hambatan, dan pengetahuan tentang vaksin COVID-19 memiliki hubungan yang signifikan dengan penerimaan vaksin COVID-19 mahasiswa FKM UI. Penelitian ini menemukan bahwa persepsi hambatan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan penerimaan vaksin COVID-19 pada mahasiswa FKM UI. Upaya edukasi yang lebih luas, transparan dan konsisten serta klarifikasi terhadap misinformasi perlu dilakukan untuk meningkatkan keyakinan pada populasi berusia muda khususnya mahasiswa mengenai manfaat dan hambatan dari vaksinasi sehingga diharapkan dapat mengedukasi orang lain di lingkungan sekitarnya. Pemahaman perspektif mahasiswa tentang vaksin COVID-19 dan dukungan keterlibatan mereka terhadap pelaksanaan vaksinasi dapat berguna dalam merencanakan respon yang memadai. Upaya penelitian lebih lanjut diperlukan dengan menggunakan metode, desain dan variabel yang lebih baik dan lebih spesifik serta dengan lingkup yang lebih luas untuk mengetahui lebih jauh mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan penerimaan vaksin COVID-19 pada mahasiswa khususnya mahasiswa FKM
Preventive behavior is the key to success in dealing with the COVID-19 pandemic. Vaccination is one of the keys to against COVID-19. The purpose of this study was to determine and explain the factors influencing COVID-19 vaccine acceptance among Public Health students, Universitas Indonesia. This research used a crosssectional design by analyzing the results of an online survey conducted on 264 Public Health students, Universitas Indonesia during May 2021. The relationship is assessed between COVID-19 vaccine acceptance and sosidemographic factors, namely age, gender, economic level, religion, education level, married status, occupation and health insurance status, a history of individuals / relatives affected by COVID-19 before, perceived of COVID-19 consisting of perceived risk, perceived severity, perceived benefits, and perceived barriers, knowledge about COVID-19, knowledge about COVID-19 prevention, knowledge about the COVID-19 vaccine, and COVID-19 prevention behavior among Public Health students, Universitas Indonesia using logistic regression analysis. The results of this study indicate that 88,6.% students of Faculty of Public Health, Universitas Indonesia stated that they are willing to receive the COVID-19 vaccine. The results of multivariate analysis showed that marital status, insurance ownership, perceived barriers, and knowledge of the COVID-19 vaccine had a significant relationship with the acceptance of the COVID-19 vaccine for public health students. This study showed that the perception of barriers was the most dominant factor related to the acceptance of the COVID-19 vaccine in the public health students, Universitas Indonesia. Broader information, transparent and consistent education with appropriate communication approaches and clarification of misinformation are needed to increase confidence in the young population, especially university students, about the benefits and barriers of vaccination so it is expected to educate others. Understanding students' perspectives on the COVID-19 vaccine and supporting their involvement in vaccination programme can be useful in planning an adequate response. Further research are needed by using better and more complete methods, designs and variables as well as with a wider scope to find out more about the factors related to the acceptance of the COVID-19 vaccine in students, especially Public Health students
T-6215
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rahma Rosita Dewi; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Shabrina Audinia
Abstrak:
Read More
Mahasiswa rentan mengalami distress akibat berbagai tuntutan akademik maupun non-akademik sehingga dapat memengaruhi performa akademik mahasiswa. Resiliensi dipandang sebagai faktor protektif yang dapat membantu individu beradaptasi terhadap tekanan dan tantangan yang dihadapi. Namun, peran resiliensi sebagai moderator dalam hubungan antara distress dan performa akademik masih menunjukkan hasil yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran resiliensi sebagai variabel moderator dalam hubungan antara distress dan performa akademik pada mahasiswa aktif Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). Penelitian ini menggunakan desain studi kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada 353 mahasiswa aktif FKM UI yang dipilih menggunakan metode proportionate stratified random sampling. Kemudian tingkat distress diukur menggunakan instrumen Kessler Psychological Distress Scale (K10), tingkat resiliensi diukur menggunakan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC-10), dan Performa akademik diukur berdasarkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik biner dengan variabel interaksi untuk menguji efek moderasi. Sebanyak 49,0% mahasiswa mengalami distress tinggi, 53,0% memiliki tingkat resiliensi tinggi, dan 59,5% mahasiswa memiliki IPK <3,71. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara distress dan performa akademik (OR=1,044 dan p=0,842). Resiliensi juga tidak berhubungan secara signifikan dengan performa akademik (OR=0,799 dan p=0,302). Hasil uji moderasi menunjukkan bahwa resiliensi tidak memoderasi hubungan antara distress dan performa akademik (OR interaksi=0,998 dan p=0,523). Sementara itu, tekanan akademik (OR=2,812 dan p<0,001) dan tekanan non-akademik (OR=5,247 dan p<0,001) terbukti berhubungan signifikan dengan distress. Resiliensi tidak berperan sebagai variabel moderator dalam hubungan antara distress dan performa akademik pada mahasiswa aktif FKM UI. Selain itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara distress maupun resiliensi dengan performa akademik. Namun, tekanan akademik dan tekanan non-akademik berhubungan signifikan dengan tingkat distress mahasiswa. Oleh karena itu, upaya promosi kesehatan mental dan pengelolaan tekanan akademik maupun non-akademik perlu menjadi perhatian dalam mendukung kesejahteraan mahasiswa.
Students are vulnerable to experiencing distress due to various academic and non-academic demands, which can affect their academic performance. Resilience is viewed as a protective factor that helps individuals adapt to pressures and challenges. However, the role of resilience as a moderator in the relationship between distress and academic performance remains inconsistent. This study aims to analyze the role of resilience as a moderating variable in the relationship between distress and academic performance among active students of the Faculty of Public Health, Universitas Indonesia (FKM UI). This study used a quantitative cross-sectional design. It was conducted among 353 active FKM UI students selected by proportionate stratified random sampling. Distress was measured using the Kessler Psychological Distress Scale (K10), resilience was measured using the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC-10), and academic performance was measured by Cumulative Grade Point Average (CGPA). Data were analyzed using the Chi-Square test and binary logistic regression with an interaction term to test the moderating effect. A total of 49.0% of students experienced high distress, 53.0% had high resilience, and 59.5% had a CGPA < 3.71. Analysis showed no significant association between distress and academic performance (OR = 1.044; p = 0.842). Resilience was also not significantly associated with academic performance (OR = 0.799; p = 0.302). Moderation analysis indicated that resilience did not moderate the relationship between distress and academic performance (interaction OR = 0.998; p = 0.523). Meanwhile, academic pressure (OR = 2.812; p < 0.001) and non-academic pressure (OR = 5.247; p < 0.001) were significantly associated with distress. Resilience did not act as a moderating variable in the relationship between distress and academic performance among active FKM UI students. Additionally, neither distress nor resilience showed a significant relationship with academic performance. However, academic and non-academic pressures were significantly associated with students’ levels of distress. Therefore, mental health promotion and management of academic and non-academic pressures should be prioritized to support student well-being.
S-12407
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hunafa Nur Izzati; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Rico Kurniawan, Mitra Kadarsih
Abstrak:
Siklus menstruasi merupakan mekanisme yang terjadi pada organ reproduksi setiap bulannya pada wanita. Siklus menstruasi dapat dijadikan sebagai indikator utama terhadap kesehatan reproduksi. Ketidakteraturan siklus menstruasi perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan gangguan menstruasi, infertilitas, dan kanker Rahim. Siklus menstruasi yang tidak teratur umumnya dialami oleh remaja dan dewasa awal, salah satunya mahasiswi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi siklus menstruasi pada mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat UI di masa pandemi COVID-19.
Read More
S-10915
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jane Cornelia; Pembimbing: Yvonne Magdalena Indrawani; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Ida Ruslita
S-8873
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
