Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29888 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Endang Rusmana; Pembimbing: Anwar Hasan
S-2588
Depok : FKM UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hadijah; Pembimbing: Abdur Rahman
S-3377
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hestia Chandranuringtyas; Pembimbing: Dian Ayubi
S-3110
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ummu Humairoh; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Haryoto Kusno Putranto, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Latar Belakang: Persentase rumah tangga dengan akses air minum yang aman di Kota Depok baru menyentuh angka 49,37% di tahun 2023 dimana angka tersebut masih jauh dari target SDG’s (Sustainable Development Goals) yaitu 100% akses air minum aman sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai faktor risiko yang mempengaruhi Kualitas Mikrobiologi Air Minum di Kota Depok tahun 2023. Metode: Menggunakan desain studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Depok. Unit analisis yaitu rumah tangga dengan jumlah sampel yang dipilih sebanyak 321 sampel rumah tangga. Pengolahan data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil: Sebagian besar rumah tangga di Kota Depok memiliki kualitas mikrobiologi air minum yang memenuhi syarat (54,20%) dengan persentase tidak memenuhi syarat tertinggi berada di kecamatan Tapos (62,5%) dan persentase yang memenuhi syarat tertinggi berada di Kecamatan Beji (71,4%). Faktor yang berhubungan signifikan terhadap kualitas mikrobiologi air minum adalah jarak sumber pencemar (tangki septik) dengan sarana/sumber air minum (p = 0,023), kerawanan banjir (p = 0,048) dan perilaku pengolahan air minum (p = 0,041). Kesimpulan: Kualitas mikrobiologi air minum rumah tangga di Kota Depok sebagian besar telah memenuhi syarat. Terdapat hubungan yang signifikan antara jarak tangki septik dengan sarana air minum, kerawanan banjir, dan perilaku pengolahan air minum terhadap kualitas mikrobiologi air minum rumah tangga di Kota Depok dengan faktor risko yang paling dominan berhubungan adalah jarak tangki septik dengan sarana air minum. Saran: Pemerintah Kota Depok diharapkan memperkuat pengawasan air minum, memperbaiki drainase, dan memelihara situ. Masyarakat juga diharapkan menjaga kebersihan dan mencegah pencemaran air, sementara penelitian lanjut mengkaji aspek yang mempengaruhi kualitas air dan dampaknya terhadap kesehatan.

Background: The percentage of households with access to safe drinking water in Depok City has only reached 49.37% in 2023, which is still far from the SDG's (Sustainable Development Goals) target, namely 100% access to safe drinking water, so research needs to be done regarding risk factors that influence the microbiological quality of drinking water in Depok City in 2023. Method: Using a cross sectional study design with a quantitative approach using secondary data from the Depok City Health Service. The unit of analysis is the household with a total of 321 household samples selected. Data processing uses the chi-square test and logistic regression. Results: The majority of households in Depok City have drinking water microbiological quality that meets the requirements (54.20%) with the highest percentage not meeting the requirements being in Tapos sub-district (62.5%) and the highest percentage meeting the requirements being in Beji sub-district ( 71.4%). Factors that are significantly related to the microbiological quality of drinking water are the distance of the pollutant source (septic tank) to drinking water facilities/sources (p = 0.023), flood vulnerability (p = 0.048) and drinking water treatment behavior (p = 0.041). Conclusion: The microbiological quality of household drinking water in Depok City largely meets the requirements. There is a significant relationship between the distance of a septic tank to drinking water facilities, flood vulnerability, and drinking water treatment behavior on the microbiological quality of household drinking water in Depok City with the most dominant risk factor related to this being the distance of the septic tank to drinking water facilities. Recommendation: The Depok City Government is expected to strengthen supervision of drinking water, improve drainage and maintain lakes. The public is also expected to maintain cleanliness and prevent water pollution, while research continues to examine aspects that influence water quality and its impact on health.
Read More
S-11775
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Septi Adhitya Putri; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tri Krianto, R. Selly Harianti Kusumah
Abstrak: ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) telah menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia dan kelompok umur yang paling rentan terhadap ISPA adalah kelompok balita. Kasus ISPA pada balita di kelurahan Kampung Melayu Kec. Jatinegara Jakarta Timur menempati urutan pertama dengan angka kejadian setiap tahunnya hingga 3000 kasus pada balita Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan kualitas lingkungan fisik rumah dan sumber pencemar udara dalam ruangan dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kampung Melayu. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sampel 102 yang terbatas pada kelompok balita. Pengambilan sampel dengan cara simple random sampling dengan menggunakan kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah chi-square dan Regresi Logistik. Terdapat diperoleh 55 balita yang terkena ISPA. Variabel yang memiliki hubungan kejadian penyakit ISPA pada balita adalah Jenis dinding (p-value = 0.003), Jenis Atap (p- value = 0.025), Kelembaban (p- value = 0.001), Pencahayaan (p- value = 0.000), Kepadatan hunian (p- value = 0.001), dan perilaku merokok (p- value = 0.002). Faktor dominan yang mempengaruhi kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kampung Melayu adalah Pencahaayan (p- value = 0.000; OR = 12.4) Kata kunci: ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), Balita, Lingkungan Fisik Rumah Acute Respiratory Infections has been a major cause of infectious morbidity and mortality in the world and age groups most susceptible to ARIs are toddlers. ARI cases in toddlers in Kampung Melayu ranks first with the number of incidents is 3000 cases. The purpose of this study is to analyze the relationship between the quality of the physical environment of the house and the source of air pollutants indoor with the incidence of ARI in toddlers the work area of Puskesmas Kampung Melayu. The design study is cross sectional with 102 samples of toddlers. Using simple random sampling using questioner. The statistical test used is chi-square and Logistic Regression. There was 55 toddlers affected by ARI. The result showed that there was correlation of ARI disease in toddlers with type of wall (p-value = 0.003), type of roof (p-value = 0.025), Humidity (p-value = 0.001), Lighting (p- value = 0.000), density residential (p- value = 0.001), and smoking behavior (p-value = 0.002). The dominant factors that influence the incidence of ARI in toddlers the work area of Puskesmas Kampung Melayu, Kec. Jatinegara in 2018 are lighting (p-value = 0.000; OR = 12.4). Key words: ARI (Acute Respiratory Infections), Toddler, Home Physical Environment
Read More
S-9769
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Made Suwadera; Pembimbing: Rachmadhi Purwana; Penguji: Ferdinand J. Laihad
T-1585
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sofia Anis Isnani; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Siti Arifah Pujonarti, Cendekia Sri Muwarni, Muhammad Adil
Abstrak:

ABSTRAKNama            :  Sofia Anis IsnaniProgram Studi        :  Ilmu Kesehatan MasyarakatJudul             :  Faktor-faktor   yang   Berhubungan   dengan Ketersediaan Iodium dalam GaramBeriodium Merek “R” pada tingkat rumah tangga di 9 RW kelurahan Cimpaeun Kota Depok Tahun 2017Ketersediaan iodium dalam garam beriodium yang kurang atau berlebih dapat menyebabkan  penyakitgangguan  tiroid.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungandengan ketersediaan iodium dalam garam beriodium merek “R” pada tingkat rumah tangga. Garamberiodium merek “R” merupakan salah satu produk garam beriodium yang telah terdaftar. Penelitianini merupakan penelitian kuantitatif yang mengunakan desain cross sectional. Sampel penelitianadalah 124 rumah tangga yang didapatkan dengan teknik  purposive  sampling.  Hasil  penelitianmenunjukkan  bahwa  terdapat hubungan yang signifikan antara wadah penyimpanan garam denganketersediaan iodium dalam garam beriodium (p = 0,044 dan OR = 4,083). Sebagian besar ketersediaaniodium dalam sampel garam merek “R” berlebih sehingga dapat memicu timbulnya penyakit hipertiroid.Sebaiknya pemerintah memberikan perhatian terhadap kemungkinan munculnya hipertiroidisme sebagaidampak dari program iodisasi garam.Kata kunci :Iodium, garam beriodium, hipertiroid

ABSTRACTName            :  Sofia Anis IsnaniStudy Program       :  Public Health ScienceJudul             :  Factors Associated with Iodine Availability in the “R” Branded Iodized Salt atHousehold Level in 9 sub villages of Cimpaeun village Depok City Year 2017The availability of less or excessive iodine in iodized salt can cause thyroid disorder disease.This study aimed to determine the factors associated with the availability of iodine in the “R”branded iodized salt at the household level. The "R" branded iodized salt is one of the registerediodized salt products.This study is a quantitative research using cross sectional design. Thesample of this study was 124 households obtained with purposive sampling technique. The resultsshowed that there was a significant association between salt storage containers with iodineavailability in iodized salt (p = 0.044 and OR = 4,083). Most of the availability of iodine in the“R” branded iodized salt samples were excessive, so it could lead to hyperthyroidism. Thegovernment should pay attention to the possibility of hyperthyroidism as an impact of the saltiodization program.Keywords :Iodine, iodized salt, hyperthyroidism


 

Read More
T-5028
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Christania Citralia Julia Paruntu; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih, Lusi Nurbaiti Badri, Miftahur Rohim
Abstrak: Perilaku membuang sampah sisa makanan pada rumah tangga terjadi di berbagai tahapan mulai dari belanja bahan pangan, penyimpanan bahan pangan dan penyediaan makanan sampai di konsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam perilaku membuang sampah sisa makanan pada skala rumah tangga studi kasus di Kota Semarang. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Metode pengumpulan data penelitian menggunakan metode kelompok diskusi terarah yang terdiri dari 8 kelompok dengan kategori sebagai berikut kelompok diskusi terarah berdasarkan usia, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga dan tingkat pendidikan. Perilaku membuang sampah sisa makanan di tingkat rumah tangga seringkali terjadi pada tahapan belanja yakni belum sempat dikonsumsi tetapi sudah busuk akibat dari pola belanja bahan pangan rumah tangga yang tidak terencana. Berdasarkan hasil diskusi kelompok terarah rumah tangga masih kurang memahami cara membedakan tanggal kedaluwarsa dan tanggal sebelum makanan layak dikonsumsi. Berdasarkan hasil diskusi kelompok terarah rumah tangga masih kurang termotivasi untuk menjaga makanan supaya tidak mudah busuk dan akhirnya menjadi sampah. Dari segi norma, semua rumah tangga memiliki kebiasaan menyediakan makanan berlebih sehingga makanan tersebut mudah menjadi busuk dan akhirnya menjadi sampah. Kesimpulan, rumah tangga masih banyak berperilaku membuang sampah sisa makanan karena belanja berlebih dan menyediakan makanan dalam jumlah berlebih sehingga makanan tersebut busuk dan menjadi sampah. Saran, pentingnya pendidikan terhadap rumah tangga dalam mengelola makanan supaya tidak mudah busuk.
The behavior of wasting food in households occurs at various stages, from shopping food, storing food and preparing food to consumption. This study aims to dig deeper into the behavior of wasting food in households at a case study household scale in Semarang. This type of research is qualitative. The research data collection method used focus group discussions consisting of 8 groups with the following categories focus group discussions based on age, gender, number of family members and level of education. The behavior of wasting food in households often occurs at the shopping stage, it has not yet been consumed but has spoiled as a result of unplanned household food shopping patterns. Based on the results of focus group discussions, households still do not understand how to distinguish the ?expired date? and the ?date before food is fit for consumption?. Based on the results of focus group discussions, households are still not motivated enough to keep food from spoiling easily and eventually turning into trash. In terms of norms, all households have a habit of providing excess food so that the food spoils easily and eventually becomes trash. In conclusion, many households still have the behavior of disposing of leftover food waste due to excessive spending and providing excess amounts of food so that the food spoils and becomes trash. Suggestion, the importance of education for households in managing food so it does not spoil easily
Read More
T-6538
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gilar Sekar Pembajeng; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Helda; Silmy Kaaffah
Abstrak:
Kasus tuberkulosis di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 420.994 kasus. Ada peningkatan kasus Tuberkulosis paru di Puskesmas Cinere, dimana jumlah kasus selama tahun 2021 sampai bulan Oktober 2021 tercatat 45 kasus dan meningkat menjadi 55 kasus sampai bulan Juli 2022. Tujuan penelitian ini adalah Mengindentifikasi faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku pencegahan Tuberkulosis paru pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Cinere tahun 2022. Penelitian dengan pendekatan kuantitatif, desain cross-sectional dilakukan pada 98 responden yang diambil secara quota sampling pada penduduk wilayah kerja puskesmas Cinere. Data dikumpulkan secara online menggunakan kuesioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya serta analisis dengan uji Chi Square untuk melihat hubungan antara 8 variabel independen dengan perilaku pencegahan Tuberkulosis paru. Hasil penelitian ini menunjukkan, responden memiliki perilaku pencegahan Tuberkulosis paru yang baik yaitu dengan skor rata-rata 71,09 (skala 0-100). Hasil analisis mendapatkan, persepsi manfaat (p=0,001), efikasi diri (p=0,013), isyarat untuk bertindak (p=0,001) menunjukkan hubungan dengan perilaku pencegahan Tuberkulosis paru. Variabel jenis kelamin (p=0,568), pengetahuan (0,986), persepsi kerentanan (p=0,933), persepsi keparahan (p=0,558), dan persepsi hambatan (p=0,161) menunjukkan tidak adanya hubungan dengan perilaku pencegahan Tuberkulosis Paru. Pemberian edukasi melalui media massa maupun media sosial yang masif mengenai pencegahan Tuberkulosis diperlukan guna meningkatkan perilaku masyarakat dalam pencegahan Tuberkulosis.

Tuberculosis cases in Indonesia in 2017 reached 420,994 cases. There is an increase in cases of pulmonary tuberculosis at the Cinere Health Center, where the number of cases during 2021 to October 2021 was recorded 45 cases and increased to 55 cases until July 2022. The purpose of this study was to identify what factors are related to pulmonary tuberculosis prevention behavior in community in the working area of the Cinere Health Center in 2022. This research used a quantitative approach, a cross-sectional design was carried out on 98 respondents who were taken by quota sampling from residents of the working area of the Cinere Health Center. Data were collected online using a questionnaire that had been tested for validity and reliability as well as analysis with the Chi Square test to see the relationship between 8 independent variables and pulmonary tuberculosis prevention behavior. The results of this study indicate that respondents have good pulmonary tuberculosis prevention behavior with an average score of 71.09 (scale 0-100). The results of the analysis obtained, perceived benefits (p=0.001), self-efficacy (p=0.013), cues to act (p=0.001) showed a relationship with pulmonary tuberculosis prevention behavior. Variables of gender (p=0.568), knowledge (0.986), perceived vulnerability (p=0.933), perceived severity (p=0.558), and perceived obstacles (p=0.161) showed no relationship with pulmonary tuberculosis prevention behavior. Provision of education through mass media and massive social media regarding TB prevention is needed to improve people's behavior in TB prevention
Read More
S-11172
Depok : FKMUI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive