Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31802 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tejo Bawono; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: H.M Nurdin, Dadan Erwandi
Abstrak:

Kecelakaan adalah kejadian yang tidak diinginkan atau serangkaian kejadian (atau adanya potensi penyebab) cedera, sakit dan kerusakan. Penanganan (handling) dan pemunggahan (rigging) pipa baja, material dan peralatan merupakan pekerjaan yang berbahaya. Setiap pekerjaan tersebut menghadirkan masalah tersendiri, dengan pertimbangan yang matang dan praktek pemunggahan yang benar, setiap pekerjaan dapat dihindari resiko kecelakaan pada manusia atau kerusakan pada peralatan. Biaya yang timbul akibat kecelakaan mencapai lebih dad 500 juta rupiah. Terdapat 5 (lima) kecelakaan major yang terkait dengan kejadian selama penanganan dan pengiriman pipa baja. Hal ini terjadi pada awal pengiriman terjadi beberapa kecelakaan oleh kontraktor dengan lokasi kejadian yang berbeda. Dan hasil penyelidikan, diketahui penyebab kecelakaan pada crane 80 ton di Bintan secara teknis disebabkan crane tidak mampu menahan pembebanan berlebih (overload) secara terus menerus sehingga crane mengalami fatigue (kelelahan) akibat beban dinamik yang terjadi secara siklus. Pada crane yang menggunakan tipe teleskopik, sangat berisiko terjadi patah pada bagian (section) ruas boom crane, yang apabila jika pembebanan melewati SWL (safe working load) akan menyebabkan bagian boom crane tersebut fracture. Penyebab lainnya (contributing causes) adalah penggunaan peralatan yang rusak dan tidak layak pakai, hilangnya pelindung keselamatan, peralatan keselamatan yang kurang memadai dan kesalahan dalam pemuatan. Audit kinerja keselamatan kerja dari masing-masing subkontraktor memperlihatkan tingkat kinerja keselamatan yang rendah seperti lemahnya prosedur kerja aman, keterlibatan menejemen, perawatan peralatan dan pemeriksan internal.


 

An accident is an undesired event or sequence of events (or with the potential to cause) injury, ill-health or damage. The handling and rigging of steel pipes, material and equipment is a hazardous occupation. Each operation presents its own peculiar problems and no two jobs are alike. With proper consideration and good handling practices taken, each job can be performed free of body harm and without damage to the equipment: There were 5 (five) work accident related with handling and delivery of steel pipes (32? OD) in December 2005 up to May 2006. It's was found mostly on early delivery during pipe handling was carried out by each subcontractor at various location. The cost impact after accident more than 500 billion rupiah and one rigger injured. By accident investigations were performed technically the crane could not withstand the continuously overload and occur fatigue due to dynamic load cyclically. The telescopic crane had high risk during loading over safe working load (SFL) which cause boom crane will be fractured. The contributing causes of this event are using defective equipment, removing safety devices or inadequate / improper protective equipment, and improper loading. As indicated before, the audit safety performance has been carried refer to Roman Diekemper and Donald Spartz. Mostly subcontractor shows that bad safety performance includes safe working procedures, direct management involvement, maintenance of equipment guards and internal self-inspection.

Read More
T-2283
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Patuan Alfon S; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Johanes Sudarsono
Abstrak:

Sebagian besar kecelakaan kerja terjadi karena disebabkan oleh adanya tindakan tidak aman (unsafe act). Beberapa faktor tindakan tidak aman yang menjadi penyebab kecelakaan sesuai klasifikasi dari DNV rules antara lain gagal dalam melaksanakan prosedur, gagal dalam menggunakan APD (alat pelindung diri), dll. Demikian juga dengan kecelakaan kerja yang terjadi pada kegiatan produksi dan pemboran pada kegiatan usaha migas di beberapa KKKS, kecelakaan tersebut sebagian besar disebabkan karena adanya tindakan tidak aman (unsafe act). Faktor-faktor tindakan tidak aman tersebut sangat bervariasi dan berbeda antara satu KKKS dengan KKKS lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja faktor tindakan tidak aman yang dominan sebagai penyebab kecelakaan kerja pada beberapa KKKS dan melihat bagaimana peran manajemen dalam pengimplementasikan K3 pada masing-masing KKKS. Penelitian ini menggunakan desain dengan studi evaluasi yang menyangkut kecelakaan kerja pada kegiatan produksi dan pemboran pada 4 group pada tahun 2002-2004 pada beberapa KKKS yang mewakili benua Amerika, Eropa, Asia dan Nasional. Data kecelakaan kerja yang dianalisa adalah seluruh data kecelakaan kerja baik yang ringan, sedang, berat bahkan kecelakaan fatal yang menimpa para karyawan KKKS maupun karyawan kontraktornya. Analisa data pada penelitian ini menggunakan analisa kualitatif. Temuan penting dari penelitian ini adalah faktor tindakan tidak aman yang dominan menjadi penyebab kecelakaan kerja pada group KKKS I adalah mengoperasikan peralatan tanpa wewenang sebesar 29 %, lalu Group KKKS II dan III adalah gagal dalam melaksanakan prosedur masing-masing sebesar 28 % dan 37 % dan terakhir untuk group KKKS IV faktor tindakan tidak aman yang dominan adalah mengoperasikan peralatan tanpa wewenang dan menggunakan peralatan yang rusak sebesar 22 % Kecelakaan kerja dapat terjadi karena beberapa faktor, namun sebagian besar kecelakaan kerja tersebut diakibatkan oleh adanya tindakan tidak aman (unsafe act). Untuk meminimilisasi tindakan tidak aman tersebut perlu ditingkatkan peran aktif dan manajemen terutama dalam pengimplementasian aspek K3 di iapangan. Disamping itu pemberian pelatihan yang komprehensif juga dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan ketrampilan serta awareness dari karyawan.

Read More
T-2258
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jesslyn; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra, Puti Aspita Yulianti
Abstrak: Cedera jari dan tangan sangatlah umum terjadi pada Divisi Maintenance. Hal inidikarenakan tipe pekerjaan pada Divisi Maintenance adalah pemasangan danpelepasan komponen yang bervariasi tahapannya, pekerjaan dilakukan saatberjalannya proses, menggunakan mesin yang rumit dan bekerja dengan tekananwaktu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan gambaran kecelakaankerja dan analisis penyebab kecelakaan kerja pada insiden cedera jari dan tangandi Divisi Maintenance PT X. Penelitian ini menggunakan desain penelitiancampuran (mixed methods research) yang diawali dengan pengumpulan 102 datakecelakaan kemudian wawancara mendalam pada 6 orang yang mengalamicedera jari dan tangan, pengawas dan manajemen. Penyebab langsung palingbanyak adalah tidak mengetahui adanya potensi bahaya, mengambil keputusanyang tidak tepat dan penggunaan perkakas secara tidak tepat. Penyebab dasarpaling banyak adalah pengembangan PSP yang tidak memadai, perilaku amanyang penting tidak cukup diidentifikasi. Pekerja masih kurang memiliki kesadaranterkait kesehatan dan keselamatan kerja. Peran supervisor dalam mencegahkecelakaan adalah dengan mengingatkan pekerja terkait aspek keselamatan.Manajemen berperan dalam membuat dan mengembangkan prosedur kerja dalammencegah kecelakaan.
Kata kunci :Kecelakaan kerja, cedera jari dan tangan, divisi maintenance,penyebab langsung, penyebab dasar.
Hand and finger injuries commonly happen in maintenance division. This happenbecause type of work in maintenance division have various stage, workingalongside a running process, using complicated machinery, and time contraints.The objective of this study was to describe occupational accident and analyzeaccident causes hand and finger injury in Maintenance Division PT X. Thisresearch use mixed method research, that start with collecting accident data and indepth interview to 6 person hand and finger injuried, supervisor and management.The most direct causes were lack of knowledge of hazards present, improperdecision making or lack of judgement, and improper use of tools. The underlyingcauses were inadequate development of policies / standards / procedures andinadequate identification of critical safe behaviors. Workers have inadequateawareness to health and safety. The roles of supervisor are reminder workersabout safety issues. Management have made and developed work procedure toprevent accident.
Key words : accident, finger and hand injury, maintenance division, direct causes, underlying causes, supervisor, management.
Read More
S-9161
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Odri Amir; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf
Abstrak:
Seiring dengan perkembangan dunia industri, banyak perusahaan yang menerapkan tekhnologi baru dengan tujuan meningkatkan produktivitas. Dengan peningkatan penggunaan tekhnologi baru ini juga berdampak pada perkembangan hazard yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja, disebabkan tidak diikuti perkembangan pengetahuan dan kemampuan pekerja terhadap tekhnologi tersebut. Salah satu penyebab kecelakaan paling besar adalah faktor manusia 80 %, oleh sebab itu faktor manusia merupakan faktor yang sangat dipertimbangkan. Faktor tindakan tidak aman dan keadaan tidak aman yang dibahas untuk melihat adanya hubungan dengan kecelakaan kerja. Dengan diketahuinya hubungan factor-faktor tersebut diatas terhadap kecelakaan kerja, dapat dibuat program intervesi dalam rangka mencegah kecelakaan kerja. Desain penelitian deskriptif analitik melalui survey dengan pendekatan cross-sectional untuk menganalisis hubungan tindakan tidak aman, keadaan tidak aman terhadap kecelakaan kerja dengan memakai uji Chi=Square dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Penelitian dilakukan di Plant 11 salah satu perusahaan semen di Jawa Barat. Hasil penelitian mendapatkan tindakan tidak aman yang paling sering adalah kurang menggunakan APD, keadaaan tidak aman yang paling banyak adalah banyak debu, debu merupakan hazard utama di pabrik semen. Dari hasil uji statistik diperoleh adanya hubungan keadaan tidak aman yaitu kurangnya rambu bahaya terhadap kecelakaan berat.

Many companies implement new technology to aim increasing of productivity in recent industrial development. Increasing its development of new technology have an impact to increase number of hazard associated which contributed work accident due to not following knowledge and skill development through its technology human factor should strongly estimated as one of most accident cause is human factor (80%). Unsafe Act and Unsafe Condition to related accident described in this thesis. Based on relation of the above factor, intervention program cord be made to avoid work accident related to unsafe act and unsafe condition. Observational research design through analytic survey with cross-sectional method to analysis relation of unsafe act and unsafe condition related to accident using chi-square by using SPSS software. Research conducted at Plant 11 one of cement company in West Java. Results from this research find the most unsafe act is do not used PPE, the most unsafe condition is dust, dust is unsafe condition principal hazard at Cement Company. Results from statistic test get the less safety sign relation to work accident.
Read More
T-1694
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andrea Fahira Hanareza; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Holillah
Abstrak:
Sektor manufaktur lebih mungkin menghadapi tantangan implementasi keselamatan akibat sifat operasionalnya yang berisiko tinggi. Oleh karena itu, pengukuran iklim keselamatan perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa baik upaya keselamatan dijalani dan dipahami oleh pekerja. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi bersama pekerja terhadap nilai, kebijakan, dan praktik keselamatan di tempat kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan gambaran iklim keselamatan pada bagian produksi PT X berdasarkan enam dimensi: komitmen manajemen, komunikasi keselamatan, peraturan dan prosedur keselamatan, lingkungan yang mendukung, akuntabilitas personal, serta pelatihan keselamatan, serta mengidentifikasi dimensi yang perlu ditingkatkan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang, menggunakan kuesioner oleh Lestari et al. (2020) yang diisi secara mandiri oleh pekerja. Jawaban responden kemudian dilakukan analisis uji beda mean. Besar sampel ditentukan dengan metode stratified random sampling menggunakan rumus Slovin. Dari 81 responden, didapatkan bahwa iklim keselamatan pada pekerja di bagian produksi PT X termasuk dalam kategori baik (5,14 dari 6,00). Tidak ditemukan perbedaan rata-rata yang signifikan antarkelompok demografi, kecuali pada persepsi komitmen manajemen antarkelompok masa kerja. Komitmen nyata dari manajemen terhadap keselamatan berperan penting dalam upaya keselamatan kerja. Namun, masih diperlukan peningkatan pada akuntabilitas personal dan pelatihan keselamatan untuk meningkatkan upaya keselamatan di PT X.


The manufacturing sector is more likely to face challenges in safety implementation due to its high-risk operational nature. Measuring safety climate is essential to evaluate how well safety efforts are understood and practiced by workers. Safety climate reflects employees’ shared perceptions of safety values, policies, and practices in the workplace. This study aims to assess the safety climate among production workers at PT X, focusing on six dimensions: management commitment, safety communication, safety rules and procedures, supportive environment, personal accountability, and safety training, and to identify areas needing improvement. A quantitative, cross-sectional design was used, employing a self-administered questionnaire adapted from Lestari et al. (2020). Data from 81 respondents were analyzed using mean difference tests. The safety climate was rated as good, with a mean score of 5.14 out of 6.00. No significant differences were found across demographic groups, except for perceived management commitment, which varied by length of service. Findings highlight the importance of genuine management commitment in fostering a strong safety culture. However, improvement is still needed in personal accountability and safety training to enhance overall safety performance at PT X.
Read More
S-12096
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Haryanto; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Edi Bachri
T-2425
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Della Oktaviani; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Abdul Kadir, Baiduri Widanarko, Syahrial Nawawi, Elfira Augustin
Abstrak:
Keluhan gangguan otot dan rangka akibat kerja (Gotrak) merupakan masalah kesehatan kerja yang sering terjadi pada pekerja konstruksi, khususnya pada aktivitas manual material handling seperti pengangkatan pipa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor keluhan Gotrak pada pekerja pengangkat pipa di Proyek X Tahun 2026. Desain penelitian cross sectional dengan pendekatan kuantitatif pada 66 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner SNI 9011:2021, kuesioner Industrial Fatigue Research Committee (IFRC), dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi keluhan Gotrak 68,2%. Faktor yang berhubungan signifikan dengan keluhan Gotrak adalah tingkat kelelahan (p=0,001; OR=7,00), beban kerja (p=0,011; OR=5,26), dan kebiasaan olahraga (p=0,046; OR=0,29; 95%CI 0,09 – 1,01). Disimpulkan keluhan Gotrak pada pekerja pengangkatan pipa dipengaruhi terutama oleh tingkat kelelahan, beban kerja, dan kebiasaan olahraga. Maka perusahaan perlu menerapkan pengendalian ergonomi melalui pengaturan istirahat kerja, optimasi beban kerja dengan menggunakan alat bantu seperti hand lift/pallet dan trolley, peningkatan kepatuhan SOP, program peregangan rutin, dan promosi gaya hidup sehat guna mengurangi risiko gangguan otot dan rangka pada pekerja. Perlu diteruskan dengan analisis multivariat untuk mendapatkan faktor risiko yang dominan dengan OR adjusted.

Work-related musculoskeletal complaints (WMSDs) represent a common occupational health problem among construction workers, particularly in manual material handling activities such as pipe lifting. This study aimed to analyze the factors associated with musculoskeletal complaints among pipe-lifting workers at Project X in 2026. A cross-sectional study design with a quantitative approach was employed involving 66 respondents. Data were collected using the SNI 9011:2021 questionnaire, the Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) questionnaire, and direct observation. The results showed a musculoskeletal complaint prevalence of 68.2%. Factors significantly associated with musculoskeletal complaints were fatigue (p=0.001; OR=7.00), workload (p=0.011; OR=5.26), and exercise habits (p=0.046; OR=0,29; 95%CI 0,09 – 1,01). It was concluded that musculoskeletal complaints among pipe-lifting workers were primarily influenced by fatigue level, workload, and exercise habits. Therefore, companies need to implement ergonomic controls through work rest scheduling, workload optimization using assistive tools such as hand lifts/pallets and trolleys, improved SOP compliance, routine stretching programs, and healthy lifestyle promotion to reduce the risk of musculoskeletal disorders among workers. Multivariate analysis should be conducted in future research a follow-up to identify the dominant risk factors with adjusted OR.
Read More
T-7634
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kusmiyati; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra; Puti Aspita Yulianti
Abstrak: Indonesia merupakan salah satu dari sepuluh negara penghasil batubara terbesar di dunia. Karakteristik pertambangan yang padat teknologi membuat industri tambang tidak luput dari risiko kecelakaan kerja yang disebabkan oleh banyak faktor. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran penyebab langsung dan penyebab dasar kecelakaan kerja pada kegiatan penambangan batubara terbuka di divisi Mining Operation PT X Tahun 2015. Penelitian ini mengacu pada teori Domino dan Loss Causation Model. Desain penelitian yang digunakan adalah mixed methods research. Data kuantitatif menggunakan data sekunder berupa laporan investigasi kecelakaan untuk melihat distribusi gambaran penyebab kecelakaan kerja yang kemudian dilanjutkan dengan studi kualitatif analisis penyebab kecelakaan kerja pada insiden property damage dan lost time injury. Adapun teknik penelitian yang digunakan adalah SCAT dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan penyebab langsung yang berkontribusi paling banyak adalah pengambilan keputusan yang tidak tepat dari operator, pelanggaran, dan kondisi lingkungan yang berbahaya. Sementara penyebab dasar mencakup: sikap agresif yang tidak tepat, kelelahan dan perilaku selamat yang penting tidak cukup diidentifikasi. Tindakan perbaikan saat ini telah dilakukan oleh operator dengan mengetahui dan mematuhi prosedur kerja. Supervisor akan meningkatkan pengawasan dan manajemen melakukan refreshment terhadap prosedur kerja untuk mencegah kecelakaan serupa tidak terulang kembali.
Kata kunci: kecelakaan kerja, tambang, penyebab langsung, penyebab dasar
Indonesia is one of the ten largest coal producing country in the world. Mining characteristics which complicated and surrounded with high technology make the risk of workplace accidents in mining industry unavoidable which occur due to many factors. The purpose of this study is to describe the immediate causes and basic causes of occupational accidents on surface coal mining activities in Mining Operation Division PT X in 2015. This study refers to Domino and Loss Causation Model theory. The design uses a mixed methods research. The quantitative data using secondary data from the accident investigation reports to get the accident causes distribution, then followed by a qualitative study which analyzing occupational accident causes of property damage and lost time injury incidents. The research tools use SCAT and in-depth interview. The results show that the most contributing factor as a direct cause are improper decision making, violation, and hazardous environmental conditions. While the basic causes include: inappropriate aggression, fatigue and inadequate identification of critical safe behaviors. Improvement behavior is now performed by operators by obey the work procedures. Supervisors will upgrade supervision intensively and management will do the refreshment of working procedures to prevent similar accidents happen again in the next day.
Keywords: Occupational Accidents, mining, direct cause, basic cause
Read More
S-9098
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Taufik Ikhsan Derana; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Fatma Lestari, Tata Soemitra, Febry Afrianto Setyawan
T-3240
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizka Komala Dewi; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Hendry Akmal
S-6345
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive