Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33040 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hermita Bus Umar; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Sudijanto Kamso, Besrak, Felly P Senewe, Robert Saragih
Abstrak:

Saat ini tetjadi transisi epidemiologi dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular. Salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat adalah penyakit diabetes. Dari beberapa survei epidemiologi didapatkan angka prevalensi diabetes di Indonesia dari 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993, kemudian pada tahun 2001 menjadi 12,8%. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2003, diabetes merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di Rumah Sakit Umum di Indonesia tahun 2002, nomor tiga terbanyak pada pasien rawat jalan rumah sakit di Indonesia tahun 2003 dan nomor lima terbanyak pada pasien rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran dan faktor determinan kejadian diabetes pada orang dewasa di Indonesia, merupakan analisis data sekunder dari SKRT 2004, menggunakan rancangan potong lintang (cross sectional). Populasi studi adalah orang dewasa umur 25 tahun atau lebih, sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi sadalah 4.860 orang. Pengambilan sampel dan variabel-variabel yang diteliti disesuaikan dengan yang ada pada SKRT 2004. Analisis dilakukan secara bertahap mulai dari analisis univariabel, bivariabel dan multivariable. Analisis multivariable menggunakan analisis regresi logistik ganda, dimulai dengan identifikasi kovariat potensial. Hasil penelitian menunjukkan proporsi kejadian diabetes pada orang dewasa di Indonesia adalah 12,5%. Dari analisis multivariable didapat hubungan yang bermakna antara IMT, umur dan jenis kelamin dengan kejadian diabetes. IMT >27kg/m2 merupakan faktor detenninan yang paling dominan terhadap kejadian diabetes, dengan nilai OR 1,90; 95% Cl (1,45-2,49). Disarankan perlunya promosi tentang penyakit degeneratif. Perlunya pencegahan dan penanggulangan serta surveilans faktor risiko diabetes, Bagi orang yang berisiko perlunya pemantauan berat badan, mengubah pola hidup, pengaturan pola makan dan perilaku sehat seperti latihan jasmani yang teratur.

Read More
T-2305
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
RR. Nur Fauziyah; Pembimbing: Luknis Sabri, Besral; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Djoko Kartono, Mimin Aminah
T-2349
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sugiharti; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Fatmah; Kristanti, Ch.M., Julianty Pradono
Abstrak: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang yang bertujuan untuk mengetahui determinan diabilitas pada lanjut usia di Indonesia, khususnya mengenai ketidakmampuan melakukan kegiatan membersihkan seluruh tubuh seperti mandi dan mengenakan pakaian, dengan menggunakan data Riskesdas tahun 2007.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa determinan disabilitas pada lanjut usia di Indonesia adalah tempat tinggal, umur, status kawin, pendidikan, penyakit jantung, diabetes, gangguan sendi, hipertensi, merokok, status ekonomi, dan aktifitas fisik.
 
Faktor yang paling dominan hubungannya dengan kejadian disabilitas pada lanjut usia adalah aktifitas fisik. Untuk meningkatkan aktifitas fisik lanjut usia disarankan untuk aktif dalam mengikuti kegiatan kelompok lanjut usia seperti kegiatan olahraga, pertemuan kekeluargaan dan rekreasi.
 

This research used cross-sectional design that aimed to identify disability determinants in Indonesia, in relation with inability for bathing and dressing, by using Basic Health Research Data in 2007.
 
The results of study showed that determinants of disability among elderly in Indonesia were urban and rural, age, marital status, education, heart disease, diabetes, musculoskeletal disorders, hypertension, smoking habit, economic status and physical activity.
 
The most dominant determinants of disability among elderly were lack of physical activity. To increase physical activity is recommended for elderly people active in participating in the elderly group activities such as sports activities, family meetings and recreation.
Read More
T-3156
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizanda Machmud; Pembimbing: Luknis Sabri; Penguji: Ekowati Rahajeng, Nurul Akbar, Kusharisupeni, Pandu Riono
Abstrak:

Banyak orang tidak menyadari timbulnya perlemakan hati. Hal ini dibuktikan pada hasil pengumpulan survey pada 975 orang di kota Depok menunjukkan prevalensi perlemakan hati paling tinggi diantara penyakit tidak menular lainnya. Prevalensi ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara- negara seperti Amerika, Canada, Italia maupun Jepang.Hal yang ditakutkan dari perlemakan hati adalah bila terjadi komplikasi yang berlanjut menjadi sirosis dan kegagalan fungsi hati. Hampir sebagian besar hasil penelitian di luar negeri mendapatkan penyebab perlemakan hati tersebut oleh karena alkohol, sedangkan di Indonesia alkohol bukan sesuatu hal yang umum dikonsumsi, sehingga dengan mengetahui faktor-faktor risiko perlemakan hati akan memudahkan dalam usaha menurunkan prevalensi perlemakan hati tersebut.Penelitian ini menggunakan data sekunder dari studi operasional promosi gaya hidup sehat dalam pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular utama secara terintegrasi berbasis masyarakat di kota Depok Jawa Barat kerjasama antara WHO, Departemen Kesehatan dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan dengan multistage random sampling pada 55 000 orang, dengan kriteria umur sampel 25 tahun keatas. Interview dilakukan pada 975 orang yang terpilih dengan kuisioner standar. Dari seluruh data yang ada, diambil variabel-variabel yang diduga berhubungan dengan perlemakan hati meliputi: umur, jenis kelamin, trigliserida, diabetes melitus, pola konsumsi lemak, kegemukan, aktifitas fisik dan olahraga, serta perlemakan hati. Sampel yang terpilih adalah yang sesuai dengan kriteria inidusi yaitu, tidak meminum Alkohol dan tidak menderita hepatitis serta tidak terdapat missing value, maka dari 975 sampel yang dapat dianalisa tinggal 808 saja. Analisa pada penelitian ini menggunakan regresi logistik.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi perlemakan hati non alkohol di kelurahan Abadi Jaya adalah 30.6% (SE 1.965). Proporsi umur yang paling besar menderita perlemakan hati adalah pada kategori umur menengah (middle age) yaitu sebesar 37.2% (interval kepercayaan 95% 32.4; 42.3). Proporsi jenis kelamin yang mengalami perlemakan hati lebih banyak adalah pria sebesar 33.3% (interval kepercayaan 95% 27.6; 39.6), sedangkan wanita sebesar 29.3% (interval kepercayaan 95% 24.9; 34.0).Faktor risiko yang memiliki hubungan dengan perlemakan hati adalah: umur, hiperkipidemia, diabetes melitus dan kegemukan, sedangkan jenis kelamin, pola konsumsi makan, aktivitas fisik dan olahraga tidak berhubungan dengan kejadian perlemakan hati. Nilai besarnya hubungan ini, didapatkan setelah mengontrol variabel-variabel lainnya melalui analisis multivariat menunjukkan, kegemukan berisiko terhadap kejadian perlemakan hati sebesar 4.8 kali (interval kepercayaan 95% OR 3.3; 6.8,p < 0.0001) dibandingkan orang yang tidak gemuk. Pada umur 45-55 tahun (middle age) risiko mengindap perlemakan hati meningkat sebesar 2.3 kali (interval kepercayaan 95% OR 1.3; 4.1, p = 0.004) dibandingkan umur dibawah 45 tahun, sedangkan umur diatas 55 tahun peningkatan risikonya sebesar 1.8 kali (interval kepercayaan 95% OR 1.03; 3.0, p = 0.04) dibanding umur dibawah 45 tahun. Bagi penderita diabetes melitus, besarnya risiko mengalami perlemakan hati adalah 2.2 kali (interval kepercayaan 95% OR I.4; 3.5, p < 0.0001) dibandingkan yang bukan penderita diabetes melitus. Orang dengan hipertrigliserida akan meningkatkan risiko mengindap perlemakan hati sebanyak 2.4 kali (interval kepercayaan 95% OR L6; 3.5, p < 0_000 1), dibandingkan dengan kadar trigliserida dalam darah normal. Dan bila seseorang menderita diabetes melitus dan hipertrigliserida, maka risiko untuk mengalami perlemakan hati sebesar 3.0 kali (interval kepercayaan 95% OR 2.1; 19, p = 0.012) dibandingkan orang tanpa diabetes dan kadar trigliserida normal.Kesimpulan pada penelitian ini, faktor yang paling dominan dan berisiko paling tinggi pada kejadian perlemakan hati adalah kegemukan. Kontribusi faktor risiko menunjukkan, bila kegemukan dapat dihilangkan pada populasi tersebut, maka perlemakan hati akan turun dari 30.6% menjadi 11.7% (interval kepercayaan 95% 10.3; 13.7).Daftar Bacaan: 74 (1982 - 2001)


 

Risk Factors and Impact Fraction's Analysis of Fatty Liver in Abadi Jaya village Sukmajaya Distric Depok West Java 2001 (Secondary Data Analysis)Most of people do not recognize that they had suffered with fatty liver. It can be proofed by the result of survey on 975 people in Depok sub-urban 2001, that fatty liver was the highest prevalence on the other non-communicable disease. The prevalence is higher than other country such as USA, Canada, Italy, and Japan.The reason why complication of fatty Iiver is the worries thing, because fatty liver may progress to liver fibrosis and cirrhosis and may result in liver-related morbidity and mortality. The use of alcohol is commonly related to fatty liver in West Countries or Japan, but in Indonesia the alcohol drinking is rare_ The objective of this study is to investigate risk factors for fatty liver and do some impact fraction's analysis to know the prevention impact in fatty liver.The study used the data from non-communicable disease study in the sub urban area in collaborations with WHO, and Ministry of Health. Multistage random sampling methods were applied to 55 000 people with targeted sample for age of older than 25 years old. Interview was done for 975 people chosen with standardized questioner. Variables included were age, sex, dietary intake, body mass index, trygliceride, activity and sport, and fatty liver it self. Inclution criteria on this study are sample who's not drinking alcohol and not have hepatitis. There were 808 could be analyzed from 975 sample Logistic regression analysis was used to analyze the data.The results of this study indicated that prevalence of non-alcoholic fatty liver was 30.6% (SE 1.349). Proportion of fatty liver was biggest in middle age 37.2% (95% confidence intervals 32.4; 42.3). Male (33.3% with 95% confidence intervals 27.6; 39.6) get more chance to have fatty liver than female (29.3% with 95% confidence intervals 24.9; 34.0).Independent predictors for fatty liver were age, hiperlipidemia, diabetes mellitus and obesity. The others factors such as sex, dietary intake of fat, sport and activity not associated with fatty liver. The risk for fatty liver was higher by 4.8 fold (95% confidence intervals for OR 3.3; 6.8, p < 0.0001) in obesity compared with normal body mass index. The risk for fatty liver was 2.3 fold (95% confidence intervals for OR 1.3; 4.1, p = 0.004) in middle age compared with young age. Age of > 55 years will get higher risk for fatty Iiver compared young age by 1.8 fold (95% confidence intervals for OR 1.03; 3.0,p = 0.040). If someone get suffered for diabetes mellitus the risk for fatty liver was 2.2 fold (95% confidence intervals for OR 1.4; 3.5, p<0.0001) compared with non diabetic. The risk for fatty liver will be higher by 2.4 fold (95% confidence intervals for OR 1.6; 3.5, p < 0.0001) in hipertriglyceride compared with normal triglyceride. If someone has both of diabetic and hipertriglyceride, so the risk for fatty liver will be 3.0 fold (95% confidence intervals for OR 2.1; 3.9, p < 0.0001) compared with non diabetic and normal triglyceride.Conclusion in the present study, the strongest associated factor for fatty liver was obesity. The analysis of impact fraction indicated, if obesity was eliminated in population, prevalence of fatty liver will be decreased from 30.6% to 11.7% (95% confidence intervals 10.3; 13.7).References: 74 (1982 -- 2001)

Read More
T-1253
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Ratih Chaerunisa; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Poppy Yuniar, Telly Purnamasary
Abstrak: Penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor lingkungan tempat tinggal terhadap kejadian malaria pada ibu hamil di daerah perdesaan Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Riskesdas 2010 dengan analisis univariat, bivariat, dan multivariat (faktor risiko). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil yang tinggal di rumah tidak permanen memiliki risiko 1,45 kali lebih besar untuk mengalami malaria klinis setelah dikontrol oleh variabel pekerjaan, ibu hamil yang di sekitar rumahnya tidak ada ternak memiliki risiko 1,62 kali lebih kecil untuk mengalami malaria klinis setelah dikontrol oleh variabel pekerjaan, dan ibu hamil yang memiliki pekerjaan sebagai nelayan/petanu memiliki risiko untuk terkena malaria klinis 1,58 kali lebih besar daripada responden yang berkerja selain bertani/nelayan.
 

 
This study was made in order to determine the relation between neighboorhood factors in the incidence of malaria in pregnant women at rural areals in Indonesia. This study uses data Riskesdas 2010 with univariate, bivariate, and multivariate analysis (risk factors). The results showed that pregnant women who stay at home do not permanent 1.45 times greater risk for experiencing clinical malaria once controlled by work variables, pregnant women arround the house there are no cattle had 1.62 times the risk of developing clinical malaria once controlled by the occupation variable, and pregnant women who have jobs as fisherman/farmers are at risk for clinical malaria is 1.58 times greater than the respondents who worked in addition to farmers/fishermen.
Read More
S-7831
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meirina Nur Asih Susanti; Pembimbing: Wahyu Septiono; Penguji: Dien Anshari, Beladenta Amalia, Suci Puspita Ratih
Abstrak:
Depresi merupakan kontributor utama beban penyakit global dengan estimasi Disability-Adjusted Life Years (DALYs) mencapai 694,6 per 100.000 penduduk pada tahun 2023. Prevalensi gejala depresi di Indonesia sebesar 1,4% dengan 61% penderita pernah memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya. Di sisi lain, paparan asap rokok pasif (SHS) pada non-perokok masih sangat tinggi, 74,2% di tempat umum dan 44,8% di tempat kerja, namun hubungannya dengan gejala depresi pada populasi dewasa non-perokok di Indonesia belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara paparan SHS dengan gejala depresi pada orang dewasa non-perokok di Indonesia menggunakan data sekunder SKI 2023 dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 353.980 responden dewasa usia 18–59 tahun yang tidak pernah merokok. Gejala depresi diukur menggunakan instrumen MINI ICD-10, sedangkan paparan SHS dikategorikan berdasarkan frekuensi paparan di ruang tertutup. Analisis menggunakan regresi logistik multilevel tiga tingkat dengan penyesuaian bobot survei kompleks. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 67,7% responden terpapar SHS, terdiri dari 21,3% terpapar setiap hari dan 46,4% terpapar tidak setiap hari. Prevalensi gejala depresi sebesar 1,27%, lebih tinggi pada kelompok terpapar SHS setiap hari (1,93%) dibandingkan tidak terpapar (1,09%). Setelah dikontrol seluruh kovariat, paparan SHS setiap hari berhubungan dengan gejala depresi (OR = 1,29; 95% CI: 1,12–1,48), sedangkan paparan tidak setiap hari menunjukkan odds lebih rendah (OR = 0,88; 95% CI: 0,78–0,99). Analisis sensitivitas dengan menggabungkan kategori "tidak terpapar" dan "terpapar tidak setiap hari" sebagai kelompok referensi mengkonfirmasi konsistensi temuan (OR = 1,39; 95% CI: 1,24–1,56), menunjukkan bahwa hubungan antara paparan SHS harian dan gejala depresi bersifat robust. Faktor individu yang berhubungan meliputi penyakit kronis (OR = 2,91; 95% CI: 2,56–3,32), jenis kelamin perempuan (OR = 1,64; 95% CI: 1,37–1,96), tidak bekerja (OR = 1,37; 95% CI: 1,22–1,54), status ekonomi bawah (OR = 1,36; 95% CI: 1,13–1,64), pendidikan rendah (OR = 1,29; 95% CI: 1,14–1,47), dan tidak ada aktivitas fisik (OR = 1,19; 95% CI: 1,05–1,34). Sementara, usia lebih tua berhubungan dengan odds gejala depresi lebih rendah (OR = 0,98; 95% CI: 0,97–0,99), begitupun dengan faktor wilayah, tinggal di pedesaan (OR = 0,77; 95% CI: 0,67–0,88). Nilai Intraclass Correlation Coefficient (ICC) kabupaten/kota sebesar 24,7% mengindikasikan peran konteks wilayah yang masih substansial. Paparan SHS setiap hari terbukti berhubungan dengan gejala depresi pada orang dewasa non-perokok di Indonesia. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sebagai strategi pencegahan berbasis kebijakan, integrasi kesehatan mental dalam program pengendalian tembakau, skrining gejala depresi yang diprioritaskan pada kelompok paling rentan dan wilayah dengan KTR lemah, serta perlunya studi lanjut yang bersifat kuasi-eksperimen atau longitudinal.

Depressive symptoms are a major contributor to the global disease burden, with an estimated 694.6 DALYs per 100,000 population in 2023. The prevalence of depressive symptoms in Indonesia is 1.4%, with 61% of those detected having had thoughts of ending their lives, according to the 2023 SKI. Meanwhile, secondhand smoke (SHS) exposure among non-smokers remains high, 74.2% in public places and 44.8% in workplaces; however, its association with depressive symptoms among non-smoking adults in Indonesia has not been extensively studied. This study aims to investigate the association between SHS exposure and depressive symptoms among non-smoking adults in Indonesia using secondary data from the 2023 SKI with a cross-sectional design. The sample consisted of 353,980 adult respondents aged 18–59 years who had never smoked. Depressive symptoms were measured using the MINI ICD-10 instrument, while SHS exposure was categorized based on frequency of exposure in enclosed spaces. Analysis utilized three-level multilevel logistic regression with complex survey weight adjustments. The results showed that 67.7% of respondents were exposed to SHS, consisting of 21.3% exposed daily and 46.4% exposed non-daily. The prevalence of depressive symptoms was 1.27%, higher among those exposed to SHS daily (1.93%) compared to those unexposed (1.09%). After adjusting for all covariates, daily SHS exposure was significantly associated with depressive symptoms (OR = 1.29; 95% CI: 1.12–1.48), whereas non-daily exposure showed lower odds (OR = 0.88; 95% CI: 0.78–0.99). A sensitivity analysis combining the "unexposed" and "non-daily exposed" categories as a single reference group confirmed the consistency of findings (OR = 1.39; 95% CI: 1.24–1.56), demonstrating that the association between daily SHS exposure and depressive symptoms is robust. Individual-level factors associated with depressive symptoms included chronic disease (OR = 2.91; 95% CI: 2.56–3.32), female sex (OR = 1.64; 95% CI: 1.37–1.96), unemployment (OR = 1.37; 95% CI: 1.22–1.54), lower economic status (OR = 1.36; 95% CI: 1.13–1.64), low education (OR = 1.29; 95% CI: 1.14–1.47), and physical inactivity (OR = 1.19; 95% CI: 1.05–1.34), while older age was associated with lower odds of depressive symptoms (OR = 0.98; 95% CI: 0.97–0.99), as well at the area level, residing in rural areas (OR = 0.77; 95% CI: 0.67–0.88). The Intraclass Correlation Coefficient (ICC) at the district/city level of 24.7% indicated a substantial role of area-level context. Daily SHS exposure was significantly associated with depressive symptoms among non-smoking adults in Indonesia. These findings underscore the importance of strengthening smoke-free area policy enforcement as a policy-based prevention strategy for depressive symptoms, integrating mental health into tobacco control programs, prioritizing depressive symptom screening for the most vulnerable groups and areas with weak smoke-free regulations, and the need for further longitudinal or quasi-experimental studies.
Read More
T-7603
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endang Uji Wahyuni; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Besral, Riris Nainggolan, Nugroho Budi Santoso
Abstrak:

ABSTRAK Kejadian malaria dipengaruhi oleh beberapa faktor dan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian malaria adalah faktor lingkungan seperti kondisi fisik bangunan, kebersihan lingkungan, tempat perindukan nyamuk (Soemirat, 2002). Faktor lain akan menjadi confounder antara lain karakteristik responden seperti umur dan jenis kelamin disebabkan paparan terhadap agent bagi setiap jenis kelamin berbeda (Harijanto, 2000), tidur menggunakan kelambu, kebiasaan di luar rumah pada malam hari, dan rumah terlindung dari nyamuk (Sulistyo, 2001). Berdasarkan uraian tersebut penulis bermaksud untuk mengkaji faktor lingkungan yang berhubungan dengan kejadian malaria pada balita di Indonesia yaitu lingkungan tempat tinggal, dinding rumah, tempat perindukan nyamuk, dan wilayah tempat bermukim. Untuk mengetahui hubungan factor lingkungan tempat tinggal (lingkungan kumuh, dinding rumah, tempat perindukan dan walayah tempat bermukim) dengan kejadian malaria pada balita di Indonesia setelah dikontrol dengan confounder. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan penelitian crosssectional yaitu merupakan rancangan penelitian yang pengukuran dan pengamatannya dilakukan secara simultan pada satu saat (sekali waktu).

Read More
T-3621
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Islamiyati; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo, Luknis Sabri; Penguji: Kusharisupeni, Titin Hartini, Herman Sudiman
T-2195
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhayati; Pembimbing: Pandu Riono, Sudarti Kresno; Penguji: Sahat M. Ompusunggu, Sabar Paulus, Renti Mahkota
T-2193
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sari Laila Wahyuni; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Agustin Kusumayati, Wahyu Septiono, Teti Tejayanti, Trihono
Abstrak:
Berat badan lahir rendah (BBLR) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena berhubungan dengan peningkatan risiko kematian neonatal dan gangguan pertumbuhan anak. Kejadian BBLR juga menunjukkan variasi antarprovinsi yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor individu dan konteks wilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor individu dan faktor tingkat provinsi dengan kejadian BBLR serta menilai variasi kejadian BBLR antarprovinsi di Indonesia tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia tahun 2024 yang digabungkan dengan data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2024 dan publikasi Badan Pusat Statistik tahun 2025. Sampel penelitian terdiri atas 26.483 kelahiran hidup dalam satu tahun terakhir dari 32 provinsi di Indonesia. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik multilevel dengan individu sebagai level pertama dan provinsi sebagai level kedua. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi BBLR sebesar 6,38%. Pada tingkat individu, usia ibu, paritas, jarak kehamilan kurang dari dua tahun, ANC yang tidak sesuai rekomendasi, risiko kekurangan energi kronis, pre-eklampsia, status ekonomi kuintil terbawah, dan konsumsi MMS berhubungan signifikan dengan kejadian BBLR. Pre-eklampsia merupakan faktor yang paling kuat berhubungan dengan kejadian BBLR. Pada tingkat provinsi, kepadatan penduduk, cakupan ANC K6, cakupan TTD, rasio bidan, radius puskesmas, dan wilayah tempat tinggal tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian BBLR. Nilai ICC menurun dari 2,37% pada model awal menjadi 1,92% pada model akhir, yang menunjukkan adanya variasi kejadian BBLR antarprovinsi, meskipun sebagian besar variasi berada pada tingkat individu. Pencegahan BBLR perlu memprioritaskan deteksi dini dan pemantauan ibu hamil berisiko, terutama ibu dengan KEK, pre-eklampsia, jarak kehamilan pendek, usia berisiko, dan kondisi ekonomi rendah, disertai penguatan mutu pelayanan ANC dan intervensi gizi ibu hamil.

Low birth weight (LBW) remains a public health concern in Indonesia because it is associated with an increased risk of neonatal mortality and impaired child growth. The occurrence of LBW also varies across provinces, which may be influenced by individual and contextual factors. This study aimed to analyze the association of individual- and province-level factors with LBW and to assess the variation in LBW occurrence across provinces in Indonesia in 2024. This study used a cross-sectional design with secondary data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey, linked with the 2024 Indonesia Health Profile and the 2025 publications of Statistics Indonesia. The study sample consisted of 26,483 live births during the preceding year from 32 provinces in Indonesia. Multilevel logistic regression analysis was conducted, with individuals as the first level and provinces as the second level. The prevalence of LBW was 6.38%. At the individual level, maternal age, parity, interpregnancy interval of less than two years, antenatal care (ANC) not meeting recommendations, risk of chronic energy deficiency, preeclampsia, lowest wealth quintile, and multiple micronutrient supplementation (MMS) were significantly associated with LBW. Preeclampsia was the factor most strongly associated with LBW. At the province level, population density, ANC K6 coverage, iron supplementation coverage, midwife ratio, primary health center radius, and area of residence were not significantly associated with LBW. The intraclass correlation coefficient decreased from 2.37% in the initial model to 1.92% in the final model, indicating variation in LBW occurrence across provinces, although most variation was observed at the individual level. LBW prevention should prioritize early detection and monitoring of high-risk pregnant women, particularly those with chronic energy deficiency, preeclampsia, short interpregnancy intervals, high-risk maternal age, and low economic status, accompanied by strengthened ANC quality and maternal nutrition interventions.
Read More
T-7567
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive