Ditemukan 34620 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Era globalisasi, yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak pads persaingan pasar kerja, termasuk di sekter keperawatan, sehingga mendorong profesi keperawatan di Indonesia untuk meningkatkan profesionalisme (pendidikan minimal D-III Keperawatan) dan meningkatkan mutu pelayanannya berorientasi pada manajemen mutu layman kesehatan yang tinggi. Tenaga keperawatan (PNS Depkes, 2002) terbesar lulusan SPKl sederajat 73.6 persen. Keterbatasan tenaga pelaksana di pelayanan menjadi masalah utama bagi pengelola untuk mengijinkannya perawat mengikuti pendidikan D-III dengan meninggalkan dinas. Untuk mengakomodasi kebutuhan di atas, dibuat Program Khusus D-III Keperawatan, pagi had mereka tetap dinas di RSIPuskesmas, dan sore harinya mengikuti kuliah. Program ini telah dilaksanakan sejak tahun 1997, untuk itu perlu dilakukan pemantauan mutu pendidikan guna menghasilkan lulusan yang berkualitas. Tujuan umum penelitian untuk mengetahui mute pendidikan Program Khusus D Ill Keperawatan ditinjau dari persepsi lulusan tentang kinerjanya, mutu input dan Proses Belajar Mengajar (PBM) di Institusi Pendidikan. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik, menggunakan rancangan cross sectional. Populasi penelitian lulusan tahun 2000 sampai 2005 di lima provinsi yaitu Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Lampung, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sarnpel penelitian ini lulusan Pendidikan D-III Keperawatan Program Khusus di Poltekes Makasar, Samarinda, Tanjong Karang, Semarang dan Surabaya. Jumlah sampel lulusan 166 orang, atasan 54 orang. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner diisi langsung oleh responden. Analisis menggurtakan univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian: kinerja lulusan menurut persepsi lulusan maupun atasan lebih dari separuh responden menyatakan baik. Namun yang perlu perbaikan guna peningkatan mutu outcome pendidikan adalah: pelaksanaan tindakan keperawatan lanjut, keperawatan kesehatan masyarakat, pendidikan kesehatan dan kemampuan dalam mengidentifikasi masalah penelitian keperawatan. Persepsi Input pendidikan: lebih dan separuh lulusan menyatakan ketenagaan dan sarana prasarana pendidikan baik, sebagian besar menyatakan kurikulum pendidikan dan administrasi pendidikan baik, namun yang dibiayai penuh oleh instansi hanya 21.1 persen. Sarana prasarana hubungannya paling signifikan dengan kinerja (nilai OR = 2.63) menjadi prioritas utama, yaitu kelengkapan buku referensi terbaru di peerpustakaan. Persepsi PBM pendidikan: lebih dari separuh lulusan menyatakan kesiapan institusi, kesiapan dosen, kesiapan pembimbing klinik baik. Interaksi dosen-mahasiswa dan metode pembelajaran sebagian besar menyatakan baik. Kesiapan dosen menjadi faktor yang paling signifikan hubungannya dengan kinerja lulusan (nilai OR = 3.56), maka variabel ini menjadi prioritas utama yang perlu perbaikan, terutama dalam ketepatan jam mengajar dosen. Berdasarkan hasil di atas, maka saran bagi Pusdiknakes agar Program Khusus D-Ili Keperawatan tetap dilanjutkan, dan mempertimbangkan penambahan kurikulum tentang after care service dalam pelayanan keperawatan, guna persiapan praktik mandiri perawat profesional, serta melakukan uji kompetensi dosen secara berkala. Dalam upaya continuous quality improvement Pendidikan D-III Keperawatan maka Pusdiknakes, Poltekes dan Dinas Kesehatan/RS agar melaksanakan supervisi langsung secara berkala guna memonitor input dan PBM Pendidikan-III Keperawatan. Bagi Program Studi Keperawatan agar melengkapi sarana prasarana (buku-buku terbaru, alat di laboratorium klinik, penyediaan dosen dan pembimbing klinik yang kompeten), Serta memonitor pelaksanaan PBM oleh dosen terutama ketepatan mengajar, pengajaran di laboratorium klinik, dan kedatangan pembimbing akademiklklinik ke lahan praktik.
Globalisation Era, indicated by the development of science and technology caused work market competition in the world, also at nursing sector. This condition urged the nurses to be a professional ones by continued their study minimum at Diploma III Degree. In 2002 there were about 73.6 percent of the Nurses who works as a government employer in Indonesia, their education background from SPK (similar with Senior High School). They couldn,t continued their study caused by the implementer nurse in hospital or community public health is limited. So the manager prohibited them continued their study at Diploma III in Nursing Reguler Program. In compliance with the matter, the nurses could continued their study in the afternoon at The Diploma III of Nursing Education Special Program, but they still working in the morning. This Program has been working from 1997 until now; so it needed quality monitoring in order to produce qualified improvement graduation . General objective of this research is to find out information about quality of the Diploma III Nursing Education Special Program from the graduates perception about their competency and its relation with quality of input and process at the education in the institution when they studied there. This is a quantitative survey research using cross sectional design. Population of this research is graduation of the Diploma III Nursing Education Special Program in the year 2000 - 2005, from five Capital Province (Makasar, Samarinda, Tanjungkarang, Semarang and Surabaya). The amount of sample is 166 graduates and 54 graduate managers. Data collected is primary data using questionnaire that is filled in directly by the respondence themselves. Analysis conducted is univariate, bivariate, and multivariate. The result of this research shows that competency performanced of the graduates more than fifty percent of the responders is good (67.5 percent according to the graduates and 53.7 percent according to the manger). In order to promote continuous quality improvement in the institution, the area of graduates competency which need improvement are: community health nursing care, advanced nursing care, health education and nursing research identification. The result of Institution Input according to the graduates: more than fifty percent graduates said the man power and equipment is good (60.8 and 59.0 percent), the majority curriculum and administration is good (81.9 and 90.0 percent), but only 21.1 percent institution which pay for their education fee fully. Equipment is the most significant related to graduates performanced (OR = 2.63), is the first priority to be improve, specially supply of the new literature reference books in the library and nursing equipment in clinical laboratory. The result of education process: more than fifty percent graduates said institution, lecturer and clinical instructor preparation is good (65.7, 72.9 and 66.9 percent), and the majority lecturer inter-action and teaching methodology is good (84.3 and 86.7 percent). Lecturer preparation is the most significant related to graduates performanced (OR = 3.56) is the first priority to be improve, specially on time in class exactness. Based on the research result, it is advised for Pusdiknakes to conilnue Diploma III Nursing Education Special Program, and considered to add curriculum of after care service in nursing, in order to prepare independence clinical nursing practice. Also implemented lecturer competency test periodically. In related with continuous quality improvement of the education, it is advised for Pusdiknakes, Poltekes, Province/Territory Health DepartmentlHospital Board of Director monitored the input and education process in the institution. For Board of institution director fulfilled qualified equipment, competence lecturer and clinical instructor. Monitoring lecturer and clinical instructor individually during educational process, especially on time when they teach in class.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kebutuhan pengguna terhadap penyelenggaraan Program Khusus D-III Keperawatan dan hal-hal apa yang mempengaruhi kebutuhan ini. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober-November tahun 2005 di lima Kota di Indonesia yang mempunyai lulusan Program Khusus D-III Keperawatan terbanyak di Jurusan Keperawatan Politeknis Kesehatan di bawah binaan Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesiaa yaitu: Lampung, Semarang, Surabaya, Makasar, Samarinda. Responden (informan) pada penelitian ini adalah pengguna langsung dan pengguna tidak langsung lulusan Program Khusus D-III Keperawatan yang bekerja di rumah sakit pemerintah dan puskesmas. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan menggunakan metode kuantitatif untuk memperoleh inforrnasi tentang kebutuhan pengguna terhadap Program Khusus D-III Keperawatan dan juga melakukan penelitian kualitatif untuk memperoleh jawaban atau informasi yang mendalam tentang pendapat dan perasaan seseorang yang dapat memperkaya informasi. Hasil yang didapatkan pada penelitian tentang kebutuhan pengguna terhadap Program Khusus D-Ill Keperawatan sama antara penelitian kuantitatif dan kualitatif. Pengguna langsung dan pengguna tidak langsung lulusan Program Khusus D-III Keperawatan sebagian besar masih membutuhkan Program Khusus D-III Keperawatan. Dengan adanya keinginan pengguna untuk mengirimkan kembali stafnya untuk mengikuti pendidikan pada Program Khusus D-III Keperawatan, ataupun merekomendasikan pada orang lain untuk mengirimkan stafnya yang masih SPK/SPR/Suplementary untuk mengikuti pendidikan pada Program Khusus D-III Keperawatan karena untuk melanjutkan pendidikan dengan Program Regular tidak mungkin dilakukan karena harus meninggalkan tugas. Sementara basil penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif untuk faktor-faktor yang meyebabkan pengguna membutuhkan Program Khusus D-III Keperawatan Baling mendukung. Adapun faktor-faktor tersebut seperti kepuasan, kebijakan pemerintah tentang tenaga keperawatan lulusan SPK/SPR/Suplementary harus menjadi D-III keperawatan, pendanaan, rencana organisasi, desain organisasi, dan persediaan tenaga memberikan kontribusi yang menyebabkan pengguna membutuhkan Program Khusus D-III Keperawatan. Dan hasil penelitian ini disarankan bagi Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan RI supaya tetap mempunyai kebijakan agar Program Khusus D-III Keperawatan diteruskan sampai tidak ada lagi tenaga lulusan SPK/SPR/Suplementary di rumah sakit, puskesmas dan pelayanan kesehatan lainnya dengan selalu meningkatkan peran evaluasi dan koordinasi. Juga agar Politeknik Kesehatan Jurusan Keperawatan melakukan peningkatan mutu yang berkelanjutan agar pengguna tetap puas dan akan terus mengirimkan tenaga keperawatannya untuk mengikuti pendidikan pada Program Khusus D-III Keperawatan.
This research purpose is to find the user needs toward the conducting of Nursing D-III Special Program, and things that affect these needs. This research done in October-November 2005 in five country on Indonesia that have the largest number of Nursing D-M Special Program with Health Polytechnic in Nursing Majors under health staff education centre of health Department RI which are Lampung, Semarang, Surabaya, Makasar, and Samarinda. Respondent in research is direct user and non-direct user from Nursing D-III Special Program that work in government hospital and public health centre. This research is study case research, by using quantity method to get information about user needs toward Nursing D-111 Special Program, and also using qualitative to get answers or deeper information according to someone opinion and feeling that can excess the information from quantity research. Result from research about user needs toward Nursing D-III Special Program is equal between quantity and qualitative research. Most of user directly and non-directly from Nursing D-III Special Program, user still need Nursing D-III Special Program. With the present of user will to send back his staff to follow Nursing D-III Special Program education, or recommend other to send his staff that equal to SPI/SPR/Supplementary to follow education in Nursing D-III Special Program because continuing education with Regular Program is impossible to do because they'll leaving the job behind. Meanwhile the quantitative and qualitative researches for factors that cause the user need Nursing D-III Special Program support each other. Those factors are satisfaction, government policy toward SPK/SPR/Supplementary graduate has to continue their education to Nursing D-III Special Program, financing, organization planning, organization design, and personnel supply, give contribution that cause user need Nursing D-III Special Program. From this research result suggested to Health Staff Education Centre of Health Department RI constantly have policy that makes Nursing D-III Special Program continues, until there is no SPK/SPR/Supplementary graduate in hospital, public health centre, and other health services, and always conduct evaluation and coordination. Moreover, make Health Polytechnic in Nursing Majors gradually increasing the quality in order to satisfy the user and constantly send their nursing staff to follow Nursing D-III Special Program education.
ABSTRACT
ABSTRAK
Pada era globalisasi dan persaingan bebas dalam bidang pelayanan pendidikan,saat ini pihak pengelola pendidikan dituntut untuk meningkatkan mutu pelayanan. Salahsatu cara untuk mengetahui mutu pelayanan adalah dengan mengukur kepuasanpelanggan I mahasiswa Kepuasan mahasiswa yang rendah menggambarkan mutupelayanan yang rendah pula Kepuasan mahasiswa dipengaruhi banyak faktor,diantaranya adalah karakteristik mahasiswa.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tingkat kepuasanmahasiswa terhadap mutu pendidikan, melihat hubungan antara kepuasan dengankarakteristik mahasiswa, dan mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengankepuasan mahasiswa Kepuasan mahasiswa diperoleh dari Tingkat Kesesuaian I NilaiPuas yang merupakan rasio persepsi dengan harapan mahasiswa terhadap mutuPendidikan x 100%.Jenis penelitian yang digunakan adalah Cross sectional dengan total populasi196 mahasiswa yang dilakukan pada bulan Mei - Juli 2002 di Program StudiKeperawatan Bogor Polt.ekkes Bandung. Dimensi pelayanan yang digunakan untukmengukur kepuasan mahasiswa adalah Tangible, Reliability, Responsiveness, Assurance,dan Empathy.Faktor karakteristik mahasiswa yang ingin diketahui hubungannya dengantingkat kepuasan mahasiswa adalah faktor umur, Jems kelamin ,tingkatan, danpendidikan. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat. Untukanalisis bivariat dengan menggunakan uji Chi - square. Sedangkan untuk multivariatmenggunakan uji regresi logistik ganda. Analisis terhadap faktor - faktor dimensipelayanan pendidikan dengan Self Scale Survey menggunakan diagram Kartesius.Hasil yang didapat menunjukkan bahwa proporsi mahasiswa yang puas 50 %,dan yang tidak puas 50% dengan Tingkat Kesesuaian I Nilai Puas 67,12 %. variabelyang berhubungan dan dominan terhadap tingkat kepuasan mahasiswa adalah variabelumur.Analisis setiap faktor terhadap dimensi pelayanan diketahui, bahwa faktor -faktor : ruang kuliah bersih, tenang, dan nyaman, kamar kecil bersih, tenang, dannyaman, materi perkuliahan yang disampaikan dosen sesuai dengan silabus, dosendalam mengajar sesuai denganjadwal yang telah di tentukan, dan dosen dalam meng~artepat waktu, merupakan faktor-faktor yang penting dan prioritas bagi mahasiswa, danProgram Studi Keperawatan Bogor Poltekkes Bandung harus segera memperbaiki danmengoreksi fak1or-faktor dimensi pelayanan ini.Sedangkan faktor-faktor: perpustakaan bersih, tenang, dan nyaman, laboratoriumbersih,tenang, dan nyaman, setiap ajaran mempunyai silabus, dosen man1pu menanggapikeluhan mahasiswa dengan cepat, dosen dapat memegang rahasia dari mahasiswa yangdilayani, dosen mempunyai rencana pengajaran yang baik, dan komunikasi antara dosendan mahasiswa terjalin dengan baik, merupakan faktor-faktor dimensi pelayanan yangharus dipertahankan karena mahasiswa merasa puas.
Pencapaian cakupan imunisasi hepatitis B1 pada bayi 0-7 han merupakan salah satu indikator mutu pelayanan yang dilakukan oleh penolong persaliman. (bidan), indikator tersebut menunjukan tamptlan kerja bidan apakah semua bayi yang persalinanya ditolong oleh bidan diberikan imunisasi hepatitis B1 atau tidak. Tampilan hasil kerja merapakan salah satu gambaran perilaku individu atau kelompok dari tingkat kepatuhannya terhadap standar pelayanan yang ada. Di Kabupaten Pandeglang angka pencapaian imunisasi hepatitis B1 pada bayi 0 - 7 hari masth sangat rendah (34.2%) tahun 2004, sementara angka cakupan persalinan yang ditolong oleh bidan sebesar 57,6 % . Dengan kondisi ini dapat diasumsikan adanya faktor -faktor yang berpengaruh terhadap pemberian imunisasi Hepatitis B1 pada bayi 0-7 hari oleh bidan pada pertolongan persalinan. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah standar pelayanan imunisasi befum sepenuhnya dilaksanakan oleh bidan khususnya imunisasi hepatitis B1 pada bayi 0 - 7 hari. Penelitian ini dilakukan untuk melihat kepatuhan bidan dalam melaksanakan standar pelayanan imunisasi hepatitis B! pada bayi 0-7 hari. Penelitian ini menggunakan 2 (dua) pendekatan yaitu pertama kualitatif dilakukan dengan elaborasi kepustakaan dan elaborasi dikalangan pelaksana dengan wawancara mendalam. Hasil elaborasi ini menghasilkan kerangka empiris dan kuesioner final yang akan digunakan untuk tahap berikutnya. kedua tahap kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional. Hasil penelitian menggambarkan bahwa responden (bidan) yang menunjukan kepatuhan terhadap standar pelayanan imunisasi hepatitis B pada bayi 0-7 hari iebih banyak yang patuh dibandingkan dengan responden yang tidak patuh. Sedangkan variabel independent yang mempunyai hubungan bermakna terhadap kepatuhan responden (bidan) dalam melaksanakan standar pelayanan imunisasi hepatitis B pada bayi 0-7 hari adalah variabel pengetahuan, sarana, imbalan, supervisi, motivasi dan pandangan bidan terhadap tradisi masyarakat, Dart semua variabel yang berhubungan signifikan, variabel motivasi merupakan variabel yang paling dominan. Memang dalam kaitanya dengan pelaksanaan imunisasi, seorang petugas akan termotivasi untuk melaksanakan standar pelayanan imunisasi, bila diyakini benar bahwa tindakannya akan menghantarkan ke suatu penilaian kinerja, penilaian yang baik akan mendorong untuk mendapatkan kebutuhan yang diharapkan, dimana kebutuhan tersebut akan memuaskan pribadi petugas. Sehingga upaya peningkatan mutu pelayanan dalam penelitian ini, faktor yang paling penting dalam perbaikan adalah dengan pendekatan pada proses. Identifikasi, penentuan prioritas dan penentuan penyebab potensial masalah dalam penelitian ini difokuskan kepada motivast petugas yang akan mempengaruhi terhadap kepatuhanya dalam melaksanakan standar pelayanan imunisasi hepatitis B pada bayi 0-7 hari. Upaya perbaikan mutu pelayanan yang berkesinambungan ini menggunakan siklus PDCA(Plan-Do-Check-Action). Dalam penelitian ini penulis memberikan saran kepada Dinas Kesehatan dan Puskesmas di Kabupaten Pandeglang agar dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan selalu berorientasi pada perbaikan yang terus-menerus dan berkesinambungan pada simpul proses, sehingga tidak memberikan dampak pemborosan. Dalam memenuhi semua Kebutuhan fasilitas, sarana dan dukungan sebaiknya lebih meningkatkan advokasi kepada semua pengambil kebijakan di setiap jenjang, schingga semua yang diperlukan dapat menunjang keberhasilan program imunisasi tersebut.
Attainment of Coverage immunize hepatitis BI at baby 0-7 day represent one of indicator quality of service conducted by birth helper (midwife), this indicator as performance of midwife work, whether all baby which helped by midwife given to by immunize hepatitis B1 or not. Appearance result of job represent one of behavioral picture of individual or group of people from level of his compliance to standard of existing service. In Pandeglang District the number of attainment immunize hepatitis Bi at baby 0 - 7 day still be very low ( 34,2%) year 2004, whereas number of coverage is copies with helped by midwife of equal to 57,6 . With this condition can be assumed by a factor existence factor having an effect on to gift immunize Hepatitis Bl at baby 0-7 day by midwife that help the birth. One of factor having an effect on standard of service immunize not yet full executed by midwife specially immunize hepatitis Bi at baby 0 - 7 day. This research is conducted to see compliance of midwife in executing standard of service immunize hepatitis B1 at baby 0-7 day. This research use 2 ( two) of phase that is first of phase is qualitative conducted by elaborasi is reference and elaborasi of among executor with circumstantial interview. result of this Elaborasi yield empirical framework and kuesioner of final to be used for the next phase. second of quantitative phase by using desain cross sectional. The result of research that responder (midwife) which compliance to service standard immunize hepatitis B at baby 0-7 day, proportional compliance responder more than which not compliance, While variable independent having relation have a meaning to responder compliance in executing service standard immunize hepatitis B at baby 0-7 day, is knowledge vanable, reward, supervise, midwife view and motivation to tradition socialize, From all coresponding variable of signifikan, variable motivate to represent most dominant variable. It is true that the relationship immunization activities, a worker will be motivated to do service standard immunize, 1f believed by correctness that his, action will send to a performance assessment, good assessment will push to get requirement expected, where the requirement will gratify worker person. So that, the improvement quality of service in research, the determinant this improvement factor in repair is with approach of process. Identify, potential cause determination and priority determination of internal issue this research is focussed to worker motivation to influence to compliance in service standard immunize hepatitis B at baby 0-7 day. Strive repair of quality of continual service use cycle PDCA (Plan-DoCheck-Action). In this reaserch, the writer suggest to health District office and public health service in Pandeglang District to increase the quality health service that focus to continous improvement ai processing, so that not extravagance impact. In fulfilling all facility requirement, support and medium better more improve advokasi to all policy taker in every ladder, so that all that is needed can support efficacy program to immunization
Distributive justice, procedural justice, interpersonal justice and informationaljustice is the fourth dimension into the construct of organizational justice. Employeeperceptions of organizational justice is predicted to relate to employee motivation.The purpose of this study was to analyze the corellation between perceptions oforganizational justice in performance appraisal of civil servants with employeemotivation. This research is a quantitative study with explanatory research. Thesample used in this study using total sampling involving 91 employees at the CenterFor Health Human Resources For Health Education. The technique of collecting datausing questionnaires filled out directly by the respondent. The analysis is used toexamine the corellation between independent and dependent variables using ChiSquare test, then performed multiple logistic regression analysis modeling of riskfactors in the multivariate analysis. The results of this study indicate that there is asignificant relationship between perceptions of organizational justice of alldimensions combined with work motivation. And based on the dimensions oforganizational justice only dimension procedural justice and interpersonal justice hasa significant corellation with work motivation. Perception of interpersonal justicedimensions on performance appraisal of civil servants is the dimension mostdominant influence employee motivation. And that became the confoundingvariables relations dimension of perceived organizational justice and workmotivation is job title/grade position. The role and participation of leaders indelivering directly to employee motivation is very important in fostering goodteamwork.Keywords: Performance Appraisal, Organizational Justice, Work Motivation
