Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30971 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rohani Simanjuntak; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Ratna Djuwita, Suhendro, Cicilia Windiyaningsih
T-2383
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firda Mawaddah Aulia; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Yovsyah, Melyana
Abstrak: Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 pada penduduk pralansia di DKI Jakarta berdasarkan data Riskesdas 2018. Metode: Sampel penelitian ini penduduk usia 45-59 tahun sebanyak 2.958 orang. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan prevalensi Diabetes Melitus Tipe 2 pada pralansia di DKI Jakarta sebesar 8,0%. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signfikan antara status merokok (OR=1,760 95%CI 1,241-2,496; p=0,002), obesitas sentral (OR=1,912 95%CI 1,432-2,554; p<0,001), dan hipertensi (OR=1,338 95%CI 1,025-1,747; p=0,038) dengan DM Tipe 2.
Read More
S-10683
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rusma Tia Wardani; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal, Eva Sulistiowati
Abstrak:
Stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat setiap tahunnya. Prevalensi stroke di DKI Jakarta meningkat dari 9,7‰ pada tahun 2013 menjadi 12,2‰ pada tahun 2018. Berdasarkan penelitian–penelitian terdahulu, faktor yang dapat mempengaruhi kejadian stroke dapat berbeda satu sama lain. Selain itu penelitian terkait faktor risiko stroke pada penduduk usia ≥15 tahun masih sedikit di DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan kejadian stroke pada penduduk usia ≥15 tahun di DKI Jakarta menurut data Riskesdas 2018. Sampel penelitian ini adalah penduduk usia ≥15 tahun sebanyak 7.552 di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian yang didapatkan adalah terdapat hubungan yang signifikan antara usia ≥55 tahun (POR=5,50; 95% CI= 3,84 – 7,88), jenis kelamin perempuan (POR=0,64; 95% CI= 0,45 – 0,91), merokok (POR= 1,90; 95% CI= 1,34 – 2,7), kurang aktivitas fisik (POR= 2,07; 95% CI= 1,46 – 2,94), hipertensi (POR= 11,19; 95% CI= 7,70 – 16,24), dan diabetes melitus (POR=4,97; 95% CI= 3,23 – 7,65) terhadap kejadian stroke. Optimalisasi program pengendalian penyakit tidak menular, edukasi dan promosi terkait risiko kejadian stroke, pemanfaatan media sosial untuk memperluas penyebaran informasi, mendorong pola hidup sehat, dan mengikuti program rehabilitasi dan pemulihan pasca-stroke dapat membantu untuk mencegah terjadinya stroke dan efek yang ditimbulkan pasca stroke.

Stroke is considerStroke is considered as one of the non-communicable diseases with a consistently increasing prevalence annually. The prevalence of stroke in DKI Jakarta escalated from 9.7‰ in 2013 to 12.2‰ in 2018. Previous studies have revealed that the factors influencing stroke occurrence may vary. Furthermore, limited research has been conducted regarding the risk factors of stroke among individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta. This study aims to describe the factors contributing to stroke incidence among individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta based on the Riskesdas 2018 data. The study sample consisted of 7,552 individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta. This study used a cross-sectional study design with univariate and bivariate analysis. The study findings revealed significant associations between age ≥55 years (POR=5.50; 95% CI=3.84-7.88), female gender (POR=0.64; 95% CI=0.45-0.91), smoking (POR=1.90; 95% CI=1.34-2.7), low physical activity (POR=2.07; 95% CI=1.46-2.94), hypertension (POR=11.19; 95% CI=7.70-16.24), and diabetes mellitus (POR=4.97; 95% CI=3.23-7.65) in relation to stroke incidence.. Optimizing non-communicable disease control programs, education and promotion regarding stroke risk, utilizing social media for widespread information dissemination, promoting healthy lifestyles, and participating in post-stroke rehabilitation and recovery programs can help prevent stroke occurrence and mitigate its post-stroke effects.ed as one of the non-communicable diseases with a consistently increasing prevalence annually. The prevalence of stroke in DKI Jakarta escalated from 9.7‰ in 2013 to 12.2‰ in 2018. Previous studies have revealed that the factors influencing stroke occurrence may vary. Furthermore, limited research has been conducted regarding the risk factors of stroke among individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta. This study aims to describe the factors contributing to stroke incidence among individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta based on the Riskesdas 2018 data. The study sample consisted of 7,552 individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta. This study used a cross-sectional study design with univariate and bivariate analysis. The study findings revealed significant associations between age ≥55 years (POR=5.50; 95% CI=3.84-7.88), male gender (POR= 1,56; 95% CI= 1,09 – 2,21), smoking (POR=1.90; 95% CI=1.34-2.7), low physical activity (POR=2.07; 95% CI=1.46-2.94), hypertension (POR=11.19; 95% CI=7.70-16.24), and diabetes mellitus (POR=4.97; 95% CI=3.23-7.65) in relation to stroke incidence.. Optimizing non-communicable disease control programs, education and promotion regarding stroke risk, utilizing social media for widespread information dissemination, promoting healthy lifestyles, and participating in post-stroke rehabilitation and recovery programs can help prevent stroke occurrence and mitigate its post-stroke effects.
Read More
S-11238
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firdaus; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Inggariwati
Abstrak:
DKI Jakarta mengalami lonjakan kasus pertusis yang signifikan pada tahun 2024, dengan 106 kasus terkonfirmasi laboratorium dan insidensi 10,62 per satu juta penduduk, melampaui rata-rata nasional maupun kawasan Asia Tenggara. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola distribusi spasial, faktor ekologis wilayah, dan karakteristik klinis kasus pertusis di DKI Jakarta tahun 2024. Desain penelitian menggunakan studi ekologis cross-sectional dengan dua unit analisis: (1) 42 kecamatan daratan sebagai unit analisis ekologis, dan (2) 179 kasus pertusis (106 terkonfirmasi laboratorium dan 73 kasus klinis) sebagai unit analisis individu. Analisis spasial dilakukan menggunakan Global Moran's I dan Local Indicators of Spatial Association (LISA) dengan matriks pembobot Queen Contiguity (999 permutasi) melalui perangkat lunak GeoDa. Hubungan faktor ekologis dengan insidensi dianalisis menggunakan korelasi Spearman dan regresi Ordinary Least Squares (OLS). Karakteristik klinis kasus dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik biner. Hasil analisis menunjukkan bahwa Global Moran's I tidak signifikan (I = 0,027; p = 0,231), mengindikasikan distribusi insidensi pertusis bersifat acak secara global. Namun, analisis LISA mengidentifikasi cluster spasial lokal yang bermakna pada 5 kecamatan (11,9%): cluster High-High di Kecamatan Koja (hotspot), cluster High-Low di Gambir (outlier), dan cluster Low-Low di Matraman, Setiabudi, serta Tebet (coldspot). Model OLS terpilih sebagai model akhir (R² = 5,3%) karena seluruh uji diagnostik spasial tidak signifikan, menunjukkan bahwa variabel ekologis yang tersedia memiliki daya penjelas yang terbatas terhadap variasi insidensi antarkecamatan. Pada analisis level individu, regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa gejala apnea dengan atau tanpa sianosis merupakan satu-satunya variabel yang secara independen berhubungan bermakna dengan status konfirmasi laboratorium (AOR = 3,41; 95% CI: 1,01-11,46; p = 0,048). Gejala ini merupakan manifestasi klinis (clinical marker) pertusis berat, bukan faktor risiko kausal, yang secara bermakna membedakan kasus terkonfirmasi laboratorium dari kasus klinis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa distribusi pertusis di DKI Jakarta bersifat heterogen dengan hotspot di kawasan Koja-Cilincing (Jakarta Utara). Penguatan surveilans aktif di wilayah hotspot dan peningkatan kewaspadaan klinis terhadap gejala apnea pada bayi di bawah satu tahun yang tidak pernah divaksinasi merupakan prioritas intervensi yang perlu segera dilaksanakan.

DKI Jakarta experienced a significant surge in pertussis cases in 2024, recording 106 laboratory-confirmed cases with an incidence rate of 10.62 per million population, exceeding both the national average and the Southeast Asian regional rate. This study aimed to analyze the spatial distribution patterns, ecological factors, and clinical characteristics of pertussis cases in DKI Jakarta in 2024. The study employed a cross-sectional ecological design with two units of analysis: (1) 42 mainland subdistricts as the ecological unit, and (2) 179 pertussis cases (106 laboratory-confirmed and 73 clinical cases) as the individual-level unit.  Spatial analysis was conducted using Global Moran's I and Local Indicators of Spatial Association (LISA) with Queen Contiguity weight matrices (999 permutations) using GeoDa software. The association between ecological factors and incidence was examined using Spearman correlation and Ordinary Least Squares (OLS) regression. Clinical characteristics were analyzed using Chi-Square tests and binary logistic regression.  The Global Moran's I was not statistically significant (I = 0.027; p = 0.231), indicating a globally random spatial distribution of pertussis incidence. However, LISA analysis identified significant local spatial clusters in 5 subdistricts (11.9%): a High-High cluster in Koja (hotspot), a High-Low cluster in Gambir (spatial outlier), and Low-Low clusters in Matraman, Setiabudi, and Tebet (coldspots). The OLS model was selected as the final model (R² = 5.3%) as all spatial diagnostic tests were non-significant, indicating that the available ecological variables had limited explanatory power over inter-subdistrict incidence variation.  At the individual level, multivariate logistic regression revealed that apnea with or without cyanosis was the only variable independently associated with laboratory confirmation status (AOR = 3.41; 95% CI: 1.01-11.46; p = 0.048). This symptom represents a clinical marker of severe pertussis, rather than a causal risk factor, that significantly distinguishes laboratory-confirmed cases from clinical cases.  This study concludes that pertussis distribution in DKI Jakarta is spatially heterogeneous with a hotspot in the Koja-Cilincing area (North Jakarta). Strengthening active surveillance in hotspot areas and enhancing clinical vigilance for apnea symptoms in unvaccinated infants under one year of age are priority interventions requiring immediate implementation.
Read More
T-7711
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Hartoyo; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Renti Mahkota, Erliana Setiani, Subangkit
T-4789
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Ulfa Amidya; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Adria Rusli
Abstrak: Tuberkulosis paru masih menjadi beban penyakit menular di dunia, termasuk Indonesia. Angka yang masih saja tinggi setiap tahunnya mengindikasikan faktor risiko penularan masih banyak di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko apa saja yang berhubungan dengan kejadian TB Paru pada penduduk usia ≥15 tahun di DKI Jakarta. Desain studi cross-sectional dipilih dengan menggunakan data sekunder hasil Riset Kesehatan Dasar 2018. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 11.266, yaitu jumlah keseluruhan responden berusia ≥15 tahun yang berasal dari DKI Jakarta. Data dianalisis secara univariat, bivariat dengan uji chi square, serta multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil analisis multivariat uji regresi logistik menunjukkan dari sepuluh variabel yang diujikan, tiga diantaranya berhubungan secara statistik dengan kejadian TB Paru pada penduduk usia ≥15 tahun di DKI Jakarta. Variabel yang berhubungan dengan kejadian TB Paru yaitu pendidikan (POR 1,96 95% CI: 1,16-3,301), diabetes mellitus (POR 8,9 95% CI: 4,947-16,132), dan status gizi (POR 3,7 95% CI 1,928-7,054). Peningkatan aspek promotif dan preventif dalam program pengendalian tuberkulosis yang berfokus pada faktor risiko sangat dibutuhkan untuk mengatasi peningkatan kasus TB Paru. Kata kunci: TB Paru, Faktor Risiko, Pendidikan, Diabetes Mellitus, Status Gizi, DKI Jakarta Pulmonary tuberculosis is still becoming one of the highest-burden of communicable diseases in the world, including Indonesia. Annually, the incidence rate of pulmonary TB remains high, which means the existence of risk factors is inevitable within society. This study aims to identify risk factors associated with pulmonary TB in people over 15 years old in DKI Jakarta. The study design cross-sectional carried out because this study uses secondary data from Basic Health Research 2018. The total sample used in this study was 11.266 respondents, all were over 15 years old who lives in DKI Jakarta. Data was analyzed univariate, bivariate using chi-square test, and multivariate using multiple logistic regression test. The logistic regression test result showed that there were three independent variables that statistically each has a significant relationship with pulmonary tuberculosis in people over 15 years old in DKI Jakarta. Variables that have strong relationship with pulmonary TB in this study are education (POR 1,96 95% CI: 1,16-3,301), diabetes mellitus (POR 8,9 95% CI: 4,947-16,132), and nutritional status (POR 3,7 95% CI 1,928-7,054). The improvement of promotive and preventive aspects in tuberculosis prevention and controlling programs to focus on risk factors associated with tuberculosis the most is needed to reduce high numbers of pulmonary TB incidents in the future. Key words: Pulmonary TB, Risk Factor, Education, Diabetes Mellitus, Nutritional Status, DKI Jakarta
Read More
S-10416
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Difa Mega Magrifah; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Zakianis, Budi Setiawan
Abstrak:
Latar Belakang: Pada tahun 2023, Provinsi DKI Jakarta dengan incidence rate sebesar 36,27 per 100.000 penduduk dengan prevalence rate penyakit DBD di Provinsi DKI Jakarta sebesar 1,81%, nilai tertinggi kedua setelah Provinsi Papua Tengah. Pada tahun 2024, terjadi peningkatan incidence rate yang mencapai 122,53 per 100.000 penduduk. Tujuan: Menganalisis hubungan antara faktor iklim, kepadatan penduduk, Angka Bebas Jentik (ABJ), kejadian banjir, pengelolaan sampah, terhadap kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Provinsi DKI Jakarta Pada Tahun 2022–2024. Metode: Desain studi ekologi menggunakan data sekunder dengan analisis korelasi, spasial, dan regresi linear berganda pada 44 kecamatan di Provinsi DKI Jakarta sebagai unit analisis. Hasil: Hasil korelasi yang signifikan (p=0,042) antara ABJ dengan kejadian penyakit DBD di Provinsi DKI Jakarta yang memiliki kekuatan sedang dengan arah negatif yang menunjukkan semakin rendah persentase ABJ akan menyebabkan semakin tinggi proporsi DBD. Kesimpulan: Berdasarkan data global dan Asia menunjukkan proporsi yang berisiko terkait penyakit dengue sebesar 28,5% dan 26,5%, maka dari itu, proporsi DBD di Provinsi DKI Jakarta belum menunjukkan proporsi yang berisiko. Saran: Kolaborasi lintas sektor dalam pemetaan lokasi yang berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes dengan meningkatkan frekuensi kegiatan Program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan mempublikasi peringatan wabah DBD kepada masyarakat.

Background: In 2023, DKI Jakarta Province reported an incidence rate of 36.27 per  100,000 population and prevalence rate of 1.81%, the second highest after Central Papua  Province. In 2024, the incidence rate increased to 122.53 per 100,000 population.  Objective: To analyze the relationship between climatic factors, population density,  Larvae-Free Index (LFI), flood occurrence, and waste management with the occurrence  of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in DKI Jakarta Province from 2022 to 2024.  Methods: An ecological study design using secondary data, analyzed through correlation,  spatial analysis, and multiple linear regression across 44 districts in DKI Jakarta Province  as the unit of analysis. Results: A significant correlation (p = 0.042) was found between  LFI and DHF occurrence, with a moderate negative correlation, indicating that lower LFI  percentages are associated with higher DHF proportions. Conclusion: Based on global  and Asian risk proportions for dengue of 28.5% and 26.5%, the proportion of dengue  hemorrhagic fever in DKI Jakarta Province has not yet reached a level considered to be  at risk. Recommendation: Strengthen cross-sector collaboration to map potential Aedes  breeding sites by increasing the frequency of the Mosquito Nest Eradication Program and  issuing public health alerts related to dengue outbreaks.
Read More
S-12186
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ivana Yulian Hendarsin; pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Putri Bungsu, Hadianti Adlani, Herman Kosasih
Abstrak:

Latar Belakang Indonesia merupakan daerah hyper-endemic dengue dengan siklus epidemik yang rutin terjadi. Kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 mendefinisikan kumpulan gejala, tanda dan hasil laboratorium yang dapat mendeteksi mayoritas kasus dengue namun untuk konfirmasinya membutuhkan tambahan pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan NS1 maupun Immunoglobulin M.
Metode Penelitian Penelitian cross-sectional dengan data sekunder dari pasien demam akut di tiga lokasi Kabupaten Tangerang yaitu RSUD Kabupaten Tangerang, Puskesmas Kelapa Dua dan Puskesmas Bojong Nangka. Reference test berupa pemeriksaan RT-PCR, sedangkan index test adalah kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 dan pemeriksaan RDT NS1. Analisis data dilakukan dengan uji diagnostik berupa uji reabilitas dan validitas.
Hasil Penelitian Kekuatan tingkat kesepakatan pada kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 terhadap pemeriksaan RT-PCR maupun RDT NS1 adalah fair sedangkan pemeriksaan RDT NS1 terhadap RT-PCR didapatkan tingkat kesepakatan substantial. Sensitivitas kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 didapatkan sebesar 72% (95%CI 65-78.2) lebih tinggi daripada pemeriksaan RDT NS1 65.6% (95%CI 58.4-72.4), namun spesifisitasnya sangat rendah (52.4% vs 97.6%). Kombinasi kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 dan RDT NS1 secara serial memiliki sensitivitas 50.8% dan spesifisitas 98.1% dibandingkan kombinasi paralel menunjukkan hasil sensitivitas 86.8% dan spesifisitas 51.9%.
Kesimpulan Berdasarkan uji reabilitas hanya pemeriksaan RDT NS1 yang memiliki tingkat kesepakatan substantial. Berdasarkan uji validitas sensitivitas kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 tidak cukup baik dalam skrining kasus dengue sehingga penggunaannya sebaiknya digantikan kombinasi paralel agar kasus dengue yang tidak terdiagnosis dapat berkurang.


Background Dengue is hyperendemic with frequent epidemic cycles in Indonesia. Tangerang district is among the regions with a high dengue burden. The 2009 WHO dengue case classification has a set of symptoms, signs, and laboratory findings that can identify most dengue cases; however, dengue cases need to be confirmed by additional laboratory diagnostic tests, such as NS1 and Immunoglobulin M testing. Method A cross-sectional study using secondary data from acute fever patients in three different locations in Tangerang District: Bojong Nangka PHC, Kelapa Dua PHC, and Tangerang District Hospital. The 2009 WHO dengue case classification and the NS1 RDT as index test, whereas the reference test is RT-PCR. Validity and reliability tests are used to analyze data. Results The observed agreement on the 2009 WHO dengue case classification for RT-PCR and NS1 RDT examinations was fair, although among NS1 RDT and RT-PCR was substantial. The sensitivity of the 2009 WHO dengue case classification was 72% (95%CI 65-78.2) higher than the NS1 RDT 65.6% (95%CI 58.4-72.4), but the specificity was considerably lower (52.4% vs 97.6%). The serial combination of the 2009 WHO dengue case classification and NS1 RDT in this study had a sensitivity of 50.8% and a specificity of 98.1%, while the parallel combination showed a sensitivity of 86.8% and a specificity of 51.9%. Conclusion Based on the reliability test, only the NS1 RDT has a substantial level of agreement. Based on the validity test, the sensitivity of the 2009 WHO dengue case classification is insufficient for screening dengue cases; therefore, a parallel combination can be used instead to lower the number of undiagnosed dengue cases.

Read More
T-7359
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Opyn Mananta; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono, Yovsyah; Penguji: I Nyoman Kandun, Setiani Erliana
Abstrak:

Penelitian ini membahas tentang gambaran tingkat kesamaan diagnosis klinis kasus DBD oleh petugas medis di puskesmas dan RSUD Cilacap serta faktor - faktor apa saja yang mempengaruhi penetapan diagnosis klinis kasus DBD di Kabupaten Cilacap Provinsi. Desain penelitian ini adalah studi potong lintang. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa kesepakatan diagnosis klinis kasus DBD antara petugas medis di Puskesmas dan RSUD Cilacap tergolong sangat baik (nilai kappa 0,82), dimana pelatihan, pengetahuan, sikap dan motivasi merupakan faktor yang berhubungan dalam penetapan diagnosis klinis kasus DBD. Untuk itu perlu di lakukan sosialisasi, pelatihan dan supervisi serta penyediaan sarana untuk pemeriksaan diagnostik kasus DBD.


 This study about reliability of DHF diagnosis in PHC and Cilacap Hospital and determinant of DHF diagnosis in Cilacap District. The study was cross sectional study. This study found that the agreement of clinical diagnosis of dengue cases among the medical doctors in PHC and Cilacap hospital classified as verry good (kappa value 0.82). training, knowledge, attitude and motivation factor of the most were determinant of the agreement of clinical diagnosis of DHF cases. The study recommended to socialize the results of the study,conducting training on clinical diagnosis and condunting supervision regularly.

Read More
T-3602
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marcel Agusta Farras; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Rahmadewi
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian diare pada baduta di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan data SDKI 2017 dengan desain studi Cross-Sectional dengan sampel sebesar 300 responden untuk anak umur 0-2 tahun.
Read More
S-10558
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive