Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35872 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maria Fransisk; Pembimbing: Farida M. Tri Agustina; Penguji: Iwan Ariawan, Dewi Syarifah
S-4957
Depok : FKM-UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Musafaah; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono
S-3218
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Berdita; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Toha Muhaimin, Wenita Indrasari
S-6303
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mustikawati; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Besral, Endang Mulyani
Abstrak: Perilaku merokok, minum alkohol, penggunaan narkoba, dan seks pranikah merupakan perilaku berisiko kesehatan. Persepsi dan pengetahuan remaja terkait perilaku berisiko dapat dibentuk melalui mitra diskusi yang dipilih remaja untuk mendapatkan informasi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan pemilihan mitra diskusi terhadap perilaku berisiko kesehatan remaja. variabel dependen yang digunakan yaitu perilaku merokok, minum alkohol, penggunaan narkoba, dan hubungan seks pranikah. Pada penelitian ini mitra diskusi yang dimaksud yaitu ibu/ayah/wali, pacar, teman sekolah/kampus, teman luar sekolah/kampus, guru, dan tidak pernah bercerita digunakan sebagai variabel independen. Tingkat pendidikan, wilayah tinggal, jenis kelamin, keberadaan teman berisiko, dan aktivitas remaja sebagai variabel kontrol. Analisis data menggunakan Survei Penyalahgunaan dan Peredaran Narkoba pada Kelompok Pelajar dna Mahasiswa di 18 Provinsi tahun 2016. Populasi penelitian yaitu remaja laki-laki dan remaja perempuan yang sedang menempuh pendidikan ditingkat SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi (PT). Hasil analisis memperlihatkan bahwa mitra diskusi berhubungan dnegan perilaku remaja. Remaja yang berdiskusi dengan pacar dan teman akan meningkatkan risiko terhadap berbagai perilaku berisiko. Diskusi dengan ibu/ayah/wali dan guru memiliki peranan penting untuk mencegah perilaku berisiko pada remaja. kualitas mitra diskusi dan informasi yang diterima perlu menjadi pertimbangan untuk membantu remaja terhindar dari perilaku negatif. Keterlibatan ibu perlu dalam upaya penanggulangan perilaku berisiko.
Read More
S-9972
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ikhlas Tunggal Mulyandari; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Besral, Anindita Dyah Sekarputri
Abstrak: Permasalahan perilaku pada remaja semakin marak terjadi sehingga menjadi fokusisu kesehatan masyarakat di Indonesia. Berbagai risiko pada masa perkembangan menimbulkan kekhawatiran terjadinya perilaku berisiko kesehatan. Perilaku berisiko yang dibahas diantaranya merokok, minum alkohol, dan hubungan seksual sebelum menikah. Penelitian cross-sectional dilakukan pada remaja priadan wanita belum kawin usia 15-24 tahun di Indonesia tahun 2012. Penelitian menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012Komponen Kesehatan Reproduksi Remaja. Hasil analisis menunjukkan bahwa remaja yang merokok dan minum alkohol akan meningkatkan kejadian untuk melakukan hubungan seksual. Lebih lanjut lagi, semakin banyak batang rokokyang dihisap dan semakin sering frekuensi minum alkohol juga meningkatkankejadian untuk melakukan hubungan seksual. Selain itu, remaja yang memiliki teman pernah berhubungan seksual lebih tinggi diantara remaja yang aktif seksual dibandingkan remaja yang belum pernah berhubungan seksual. Intervensiterintegrasi perlu dirancang sebagai bentuk pengendalian dan pencegahan perilaku berisiko remaja. Kata kunci : merokok, minum alkohol, hubungan seksual, remaja
Behaviors problem in adolescent often happen and become the focus on publichealth issues in Indonesia. The kind of risks at developmental period take theworries about health risk behaviors. The risk behaviors explored for smoking,alcohol drinking, and premarital sex. A cross sectional study was conductedamong never married men and women 15-24 years olds in Indonesia in 2012. Thestudy used data from Adolescent Reproductive Health Component of the 2012Indonesia Demographic and Health Survey. The results showed that smoking anddrinking adolescent are significantly associated with a higher likelihood ofengaging in premarital sex. Further, more number of cigarettes smoked andfrequent of drinking alcohol are also significantly associated with premaritalsexual activity. Moreover, the adolescent with ever having sex friends were higheramong sexually active youth than those who were sexually abstinent. Integratedinterventions need to be designed as control and prevention of adolescent riskbehaviors.Keywords : smoking, alcohol drinking, premarital sex, adolescent
Read More
S-8213
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retno Pujisubekti; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Besral, Anindita Dyah Sekarpuri
Abstrak: World Health Organisation (WHO) menganjurkan pemberian ASI eksklusif sampai dengan bayi berusia 6 bulan untuk mengoptimalkan pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan bayi. Penelitian ini membahas determinan perilaku pemberian makanan pada bayi yang diukur melalui perilaku penundaaan inisiasi ASI, pemberian makanan prelakteal, pemberian makanan tambahan dini. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain studi cross sectional menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012. Sampel pada penelitian ini adalah pasangan ibu dan bayi yang berusia 0 - 23 bulan.
 
 
Hasil analisis didapatkan hampir separuh ibu di Indonesia menginisiasi bayinya lebih dari 1 jam pertama. Selain itu, proporsi ibu yang memberikan makanan prelakteal sebesar 61% dengan jenis makanan prelakteal yang terbanyak diberikan adalah susu formula. Hasil lainnya sebesar 58% bayi usia 0 - 5 bulan sudah menerima makanan selain ASI berdasarkan recall 24 jam terakhir dengan jenis makanan air putih, susu formula, dan bubur bayi fortifikasi. Diketahui bahwa status ekonomi yang tinggi, ibu dengan anak pertama, ibu yang bekerja, penolong persalinan petugas kesehatan, serta kunjungan antenatal yang kurang menjadi faktor risiko pemberian makanan pada bayi. Intervensi program ASI eksklusif perlu dilakukan semenjak pertama kali melakukan kunjungan antenatal, serta perlu diadakannya monitoring dan evaluasi dari PP ASI.
 

World Health Organisation (WHO) recommends exclusive breastfeeding until a baby is 6 months old to optimize the growth, development, and health of the baby. This study discusses the determinants of infant feeding behavior as measured through behavioral delayed initiation of breastfeeding, prelacteal feeding, early supplementary feeding. This study is a quantitative cross-sectional study design using Indonesian Demographic and Health Survey 2012. Samples in this study were pairs of mothers and infants aged 0-23 months.
 
 
The results of the analysis obtained almost half of the baby's mother in Indonesia initiated more than one hour. In addition, data shows that 61% mothers gave prelecteal feeds with formula milk as the most used type of food. Moreover, 58% of infants aged 0-5 months had received food other than breast milk by the recall last 24 hours with the most type of food are water, formula milk, and baby food fortification. Based on logistic regression result, it is known that high economic status, mothers with their first child, working mothers, birth attendants health workers, and less antenatal visits be a risk factor for infant feeding. Exclusive breastfeeding intervention programs need to be done since the first antenatal visit, and need monitoring and evaluation of the holding of breasfeeding regulation.
Read More
S-8368
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andina Widyastuty; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Toha Muhaimin, Anggia Ermarini
S-4173
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wulandara Seplianda; Pembimbing: Tris Eryando, Iwan Ariawan; Penguji: Agus Triwinarto
Abstrak: Skripsi ini membahas praktik pemberian makan bayi dan anak (PMBA) usia 6-23 bulan di Indonesia untuk melihat pengaruh faktor sosio-demografi dan post natal dalam pemberian makan pada bayi dan anak yang sesuai dengan standar WHO. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Gambaran praktik pemberian makan, faktor sosio-demografi dan post natal didapatkan melalui pengisian kuesioner SDKI 2017 (n = 4957). Hasil penelitian menunjukkan pendidikan ibu yang paling berpengaruh terhadap praktik pemberian makan bayi dan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang paling banyak memberikan praktik pemberian makan yang sesuai dengan standar WHO adalah ibu dengan pendidikan SD/SMP (43,23%). Ibu yang paling banyak memberikan praktik pemberian makan yang sesuai dengan standar WHO adalah ibu yang tidak bekerja (31,98%). Hasil penelitian menyarankan bahwa faktor sosio-demografi berpengaruh terhadap praktik pemberian makan bayi dan anak; pendidikan ibu menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap praktik pemberian makan pada bayi dan anak; pendidikan ibu juga harus harus ditingkatkan baik secara formal dan nonformal untuk mendukung peningkatan praktik pemberian makan pada bayi dan anak usia 6-23 bulan.
Read More
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anjar Kusnawa Ardani; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Flourissa J. Sudradjat
S-6704
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Ayu Prameswari; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Milla Herdayati, Victoria Indrawati
Abstrak: Penggunaan Kondom secara konsisten merupakan salah satu cara untuk mencegah penyakit menular seksual pada populasi kunci. Rata-rata pembeli jasa seks pada populasi yang menjual seks paling banyak adalah pada WPSL, kemudian diikuti oleh WPSTL, LSL, dan penasun. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan tentang HIV-AIDS, risiko, dan pencegahannya dengan konsistensi penggunaaan kondom pada wanita pekerja seks langsung di 9 kota di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dan menggunakan data STBP 2013. Populasi penelitian ini adalah seluruh WPSL yang ada di 9 Kota yang menjadi tempat pelaksanaan survei. Sampel penelitian yang diteliti adalah WPSL yang berusia >15 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi penggunaan kondom pada WPSL di 9 Kota di Indonesia pada tahun 2013 adalah 36,3% dan prevalensi WPSL yang memiliki pengetahuan baik adalah 55,9%. WPSL yang memiliki pengetahuan baik tentang HIV-AIDS, risiko, dan pencegahannya berisiko 3,2 kali untuk memiliki perilaku konsisten menggunakan kondom setelah dikontrol faktor konfounding. Faktor konfonding dalam hubungan pengetahuan HIV, risiko dan pencegahannya dengan konsistensi penggunaan kondom dalam penelitian ini adalah pendidikan (OR=1,732), persepsi (OR=1,305), jumlah pelanggan (OR=0,737), ketersediaan kondom (OR=1,826), akses kondom gratis (OR=1,970), dan menawarkan kondom (OR=31,523). Dibutuhkan penelitian lanjut dengan faktor-faktor tambahan yang diduga menjadi determinan perilaku penggunaan kondom secara konsisten. Kata kunci: Konsistensi, Kondom, Pengetahuan
Consistency in condom usage is one of the ways to prevent sexually transmitted infection in key population. The average client of sex services in populations that provides most prostitution service is the Direct Female Sex Workers (DFSW), followed by Indirect Female Sex Workers (IFSW), MSM and IDUs. This study is conducted to identify the association between knowledge of HIV-AIDS, its risks, and its prevention with consistency of condom usage on direct female sex workers in 9 cities in Indonesia. This study used cross sectional study design and used data of IBBS 2013. Population of this study is all of DFSW in 9 cities where the survey is held. Meanwhile, the DFSW taken as samples for this study are 15 years old or above who meet the inclusion and exclusion criteria. The result shows that the prevalence of consistency of condom usage on DFSW in 9 Cities in Indonesia is 36.3% and the prevalence of DFSW which has good knowledge of HIV-AIDS, its risk, and its prevention is 55.9%. The DFSW who has good knowledge of HIV-AIDS, its risk, and its prevention has 1=3.2 time higher chance of consistency in condom usage after the confounding factors are controlled. The confounding factors in association between knowledge of HIV-AIDS, its risk, and its prevention and consistency of condom usage are education (OR=1.732), perception (OR=1.305), number of guest (OR=0.737), condom availability (OR=1.826), free condom access (OR=1.970), and offering condom to guest (OR=31.523). Further study is needed with more factors that determine consistency of condom usage on DFSW. Keyword: Consistency, Condom, Knowledge
Read More
S-8965
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive