Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33302 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Cicilia Windiyaningsih; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-Promotor: Agus Syahrurachman, Ratna Djuwita; Penguji: Alida R Harahap, Mardiati Nadjib, MBM Malole, Bambang Pontjo Priosoeryanto
D-212
Depok : FKM-UI, 2007
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sukamto; Promotor: Nuning MK. Masjkuri; Kopromotor: Asri C. Adisasmita, Cissy B Kartasasmita; Penguji: Samsuridjal Djauzi, Julitasari Sundoro, Mardiati Nadjib, Mondastri Korib Sudaryo
D-345
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sitti Ganefa; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono
T-1131
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmat Saputra; Pembimbing: Nurhayati Adnan Prihartono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Retno Henderiawati
Abstrak: Salah satu upaya untuk menghentikan pandemi COVID-19 adalah dengan vaksinasi. Pelaksanaan vaksinasi di DKI Jakarta tahap pertama diberikan pada tanggal 14 Januari 2021 dan tahap kedua pada tanggal 01 Maret 202. Hingga 28 Maret 2021, teracatat sudah 120.490 tenaga kesehatan yang mendapatkan vaksinasi lengkap hingga tahap 2. Meski demikian, jumlah tenaga kesehatan yang terinfeksi pasca vaksinasi hingga 06 Juni 2021 sebanyak 724 orang. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor apa saja yang berisiko terhadap terjadinya infeksi Covid-19 pada tenaga kesehatan pasca vaksinasi di DKI Jakarta. Studi Cross-Sectional dilakukan untuk melihat faktor risiko infeksi COVID-19 pada tenaga kesehatan (nakes) pasca vaksinasi COVID-19 dosis lengkap (2 dosis) dengan memanfaatkan data sekunder (laporan tenaga kesehatan DKI Jakarta yang telah mendapatkan vaksinasi dosis lengkap dari bulan Maret - Mei 2021) dan data primer (kuesioner yang disebar keseluruh tenaga kesehatan yang telah mendapatkan vaksinasi dosis lengkap). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 6 variabel yang berhubungan dengan kejadian infeksi COVID-19 pada tenaga kesehatan pasca vaksinasi di DKI Jakarta yaitu: usia (PR 0,63; p=0,002), hipertensi (PR 1,52; p=0,009), berhadapan langsung dengan pasien (PR: 2,02; p=<0,0001) dengan faktor risiko paling dominan adalah riwayat infeksi COVID-19 (PR: 2,16; p=0,001). Tenaga kesehatan yang berusia >37 tahun, memiliki riwayat diabetes melitus, Riwayat hipertensi, riwayat infeksi COVID-19, berhadapan langsung dengan pasien serta menggunakan APD level 1 dalam keseharian bekerja diprioritaskan untuk mendapatkan vaksinasi booster
One of the efforts to stop the COVID-19 pandemic is by vaccination. The first dose vaccination in DKI Jakarta has been done on January 14, 2021 and the second dose on March 1st, 2021. Health care workers that have been vaccinated with complete dose until the 28 of March were 120.490 people. However, the number of health care workers infected post vaccinated until June 6, 2021 is 724 people. A cross-sectional study has been done to observe the risk factors of Covid-19 infection on health care workers post vaccinated using secondary data (reports of DKI Jakarta health care workers who have received complete doses of vaccination from March-May 2021) and primary data (a questionnaire distributed to all health care workers who have received a complete doses of vaccination from March-May 2021). The result of this study shows us that there are 6 variables related to the incidence of COVID-19 infection in post-vaccination health care workers in DKI Jakarta, consist of: age (PR 0,63; p=0,002), hypertension (PR 1,52; p=0,009), face to face with patients (PR: 2,02; p=<0,0001), with the most dominant risk factor is a history of COVID-19 infection (PR: 2,16; p=0,001). Health care workers who are >37 years old, have a history of diabetes mellitus, a history of hypertension, a history of COVID-19 infection, face to face with patients, and using PPE level 1 in their daily work are prioritized to get a booster vaccinations
Read More
T-6228
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Masfufah; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Trisari Anggondowati, Puhilan, Fristika Mildya
Abstrak:

Difteri merupakan penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian. Di Indonesia, Difteri merupakan masalah endemis dimana tingkat kematian Difteri selama lima tahun terakhir mengalami peningkatan yaitu sebesar 1,8% pada tahun 2018 menjadi 8,5% pada tahun 2022. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa riwayat vaksinasi dan pemberian Anti Difteri Serum (ADS) merupakan faktor independen yang mempengaruhi kematian akibat Difteri, namun efek gabungan kedua faktor tersebut belum banyak diketahui. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui hubungan riwayat vaksinasi Difteri dan riwayat pemberian ADS dengan kejadian kematian Difteri di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol dengan menggunakan data sekunder dari laporan surveilans Difteri Kementerian Kesehatan tahun 2018-2022. Hasil penelitian menunjukkan risiko gabungan pada mereka yang tidak divaksinasi dan tidak diberikan ADS sebesar 4,57 kali (95% CI 2,30-9,09) lebih tinggi dibandingkan kasus Difteri dengan riwayat divaksinasi dan diberikan ADS. Risiko indepeden menunjukkan kelompok yang tidak divaksinasi memiliki risiko kematian 3,03 kali (95% CI 1,93-4,75) lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang divaksinasi. Sedangkan kelompok yang tidak diberikan ADS memiliki risiko kematian 0,31 kali (95% CI 0,11- 0,82) lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang diberikan ADS, namun hasil ini mungkin masih dipengaruhi oleh faktor-faktor perancu yang belum dikontrol dalam penelitian ini, sehingga tidak dapat disimpulkan bahwa tidak memberikan ADS justru menurunkan risiko kematian akibat Difteri. Sebanyak 45% kejadian kematian Difteri dikaitkan dengan interaksi antara tidak divaksinasi dan tidak diberikan ADS. Oleh karena itu, penting untuk melakukan upaya bersama untuk meningkatkan cakupan vaksinasi dan pemberian ADS secara tepat untuk menurunkan kejadian kematian akibat Difteri. Kata kunci: Difteri, Vaksinasi, Anti Difteri Serum, Kematian Difteri, Efek Gabungan, Surveilans Difteri.


 

Diphtheria is an infectious disease that can cause death. In Indonesia, Diphtheria is an endemic problem with an increasing death rate over the last five years by 1.8% in 2018 to 8.5% in 2022. Previous studies have shown that vaccination and administration of diphtheria antitoxin (DAT) affect mortality, but their combined effect is not widely known. Therefore, a study was conducted to determine the relationship between these two factors and Diphtheria mortality in Indonesia. The research used a case-control design with secondary data from the Ministry of Health's 2018-2022 Diphtheria surveillance report. The findings revealed that individuals who were neither vaccinated nor given DAT had a 4.57 times higher risk of death (95% CI 2.30-9.09) than vaccinated and received DAT group. Unvaccinated individuals had a 3.03 times higher risk of death (95% CI 0.11-0.82) than vaccinated individuals. The risk of death was 0.31 times lower (95% CI 0.11-0.82) in those who did not receive DAT. However, it is important to note that these results may still influenced by uncontrolled factors, thus no conclusion can be drawn regarding the reduction of death risk through withholding DAT. Up to 45% of diphtheria-related mortality were linked to the combination of this two factors. To reduce diphtheria deaths, it is essential to enhance immunization coverage and administer DAT properly. Key words: Diphtheria, Vaccination, Anti-Diphtheria Serum, Diphtheria Antitoxin, Diphtheria Mortality, Joint Effect, Diphtheria Surveillance

Read More
T-6623
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Phenta Chrisna Nugraha; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Dita Andriani Daud Suyadi
Abstrak:
Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus Kusta deteksi baru tertinggi ketiga di dunia. Angka kasus deteksi baru yang tinggi ini turut disumbang oleh Kabupaten Tangerang yang merupakan wilayah di Provinsi Banten yang memiliki angka kasus Kusta deteksi baru tertinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya. Kondisi merupakan hal yang sangat memprihatinkan mengingat risiko dan beban disabilitas yang harus ditanggung oleh penderita Kusta sangat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi determinan kejadian kasus Kusta dengan disabilitas di Kabupaten Tangerang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi kasus-kontrol dan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari SIPK Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Penelitian ini menggunakan metode total sampling (kelompok kasus) dan simple random sampling (kelompok kontrol) dengan sampel yang digunakan berjumlah 507 sampel dan perbandingan rasio antara kelompok kasus dengan kontrol adalah 1:2. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji regresi logistik untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berasosiasi terhadap kejadian Kusta dengan disabilitas di Kabupaten Tangerang. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa terdapat asosiasi positif atas beberapa faktor, yaitu durasi diagnosis (aOR 6,36; 95% CI 3,19 – 12,69; p-value <0,001), status penebalan saraf (aOR 13,68; 95% CI 6,43 – 29,08; p-value <0,001), dan riwayat reaksi (aOR 26,99; 95% CI 13,38 – 54,47; p-value <0,001). Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi bahan pertimbangan bagi pemangku kebijakan dalam merencanakan, meningkatkan, dan mengevaluasi kebijakan dan program kesehatan yang berkaitan dengan pencegahan dan pengendalian kasus Kusta.

Indonesia is the third highest country in terms of newly detected Leprosy cases in the world. The high number of newly detected cases is notably contributed by Tangerang Regency, a region in Banten Province recording the highest incidence of new leprosy cases compared to other areas. This situation is deeply concerning due to the high risk and disability burden faced by Leprosy patients. This study was conducted to identify determinants of disability-associated Leprosy in Tangerang Regency. Employing a quantitative approach with a case-control study design, secondary data from the SIPK of Tangerang Regency Health Office were utilized. This study consisted of 507 samples employing total sampling methods for selecting the cases group and simple random sampling methods for selecting the control group. Furthermore, the case-control ratio of 1:2 was used in this research. Logistic regression analysis was conducted to identify factors associated with disability-associated Leprosy in Tangerang Regency. The results of this study found that a several factors were revealing a positive association, namely duration of diagnosis (aOR 6,36; 95% CI 3,19 – 12,69; p-value <0,001), nerve thickening status (aOR 13,68; 95% CI 6,43 – 29,08; p-value <0,001); and reaction history (aOR 26,99; 95% CI 13,38 – 54,47; p-value <0,001). These findings are expected to inform policymakers in planning, enhancing, and evaluating health policies and programs related to disability-associated Leprosy prevention and control.
Read More
S-11721
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farchan Azzumar; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Dwi Oktavia, Erlina Burhan
Abstrak:
Varian Delta menyebabkan pelonjakan kasus COVID-19 di DKI Jakarta pada pertengahan tahun 2021. Sementara itu, vaksinasi COVID-19 yang dimulai pada Januari 2021 mengalami akselerasi pada pertengahan tahun 2021. Kedua kondisi ini memungkinakn terjadinya vaksinasi pada orang yang sedang terinfeksi SARS-CoV-2. Belum ada literatur ilmiah yang membahas respon imun tubuh manusia jika vaksinasi dan infeksi terjadi secara bersamaan. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif yang bertujuan untuk melihat dampak vaksinasi COVID-19 jika diberikan dalam 7 hari sebelum atau sesudah hari pengambilan sampel indeks. Hasilnya, pemberian 1 dosis vaksin COVID-19 masa infeksi akut berdampak pada proteksi terhadap kematian dalam 30 hari setelah tanggal pengambilan sampel indeks HR 0,32 (95%CI 0,11 – 0,48). Hasil penelitian ini memberikan pelajaran masa pandemi COVID-19 bahwa strategi vaksinasi pada saat sakit malah memberikan proteksi terhadap kematian.

The Delta variant caused a surge in COVID-19 cases in DKI Jakarta in mid-2021. Meanwhile, COVID-19 vaccinations, which began in January 2021, accelerated in mid-2021. These conditions made it possible for vaccination to occur in individuals who were currently infected with SARS-CoV-2. There is no scientific literature yet that discusses the human immune response when vaccination and infection occur simultaneously. This study uses a retrospective cohort design aimed at observing the impact of COVID-19 vaccination if administered within 7 days before or after the index sample collection date. The results show that administering a single dose of the COVID-19 vaccine during the acute infection period had a protective effect against death within 30 days after the index sample collection date, with an HR of 0.32 (95% CI 0.11 – 0.48). This study provides a lesson learnt from COVID-19 pandemic that evidence vaccination strategies during the acute infection may elicit protection against death.
Read More
T-7160
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Rachmawati; Pembimbing: Asri C Adisasmita; Penguji: Helda; Telly Purnamasari
Abstrak:
Kasus Konfirmasi COVID-19 di Provinsi Riau merupakan yang tertinggi di Pulau Sumatera. Salah satu upaya mengatasi pandemi COVID-19 adalah dengan cara pemberian vaksinasi yang bertujuan untuk mengurangi transmisi/penularan, menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat COVID-19 dan mencapai kekebalan kelompok di masyarakat (herd immunity). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Hubungan Status Vaksinasi Dengan Ketahanan Hidup Pasien Konfirmasi COVID-19 di Rumah Sakit Provinsi Riau Tahun 2022. Penelitian ini adalah penelitian observasional analistik menggunakan metode kohort retrospektif dari 1212 sampel pasien yang dirawat di seluruh rumah sakit Provinsi Riau pada tahun 2022 dan dilaporkan pada aplikasi RS Online. Probabilitas Survival Kumulatif keseluruhan pasien COVID-19 yang dirawat di RS Provinsi Riau adalah 0,062 atau 6,2% dengan Median survival time keseluruhan 20 hari (IQR: 17-22). Pasien yang sudah mendapatkan vaksinasi memiliki efek protektif terhadap risiko kematian COVID-19, HR 0,751 (95% CI: 0,580-0,971), yang sudah vaksinasi lengkap HR 0,625 (95% CI: 0,463-0,845) dan terdapat penurunan risiko kematian yang selaras dengan jumlah dosis vaksin yang sudah didapatkan oleh pasien (dosis response) dimana pasien yang sudah mendapatkan vaksin dosis 1 memiliki nilai HR 1,138 (95% CI: 0,764-1,694), pasien yang sudah mendapatkan vaksin dosis 2 memiliki risiko atau efek protektif yang dapat menurunkan risiko kematian COVID-19 dengan HR 0,692 (95% CI: 0,504-0,949), dan pasien yang sudah mendapatkan vaksin dosis booster juga memiliki efek protektif dengan HR 0,336 (95% CI: 0,138-0,818) setelah dikontrol variabel usia, saturasi awal, riwayat komorbid, tempat perawatan dan penggunaan alat bantu pernafasan. Peningkatan cakupan vaksinasi lengkap sesuai dosis primer diperlukan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian COVID-19 meskipun pandemi telah dinyatakan berakhir. Meningkatkan koordinasi, kolaborasi dan kerja sama lintas sektor termasuk melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam program kesehatan masyarakat yang memiliki dampak luas termasuk kemungkinan menghadapi emerging disease berikutnya.

Confirmation cases of COVID-19 in Riau Province are the highest on the island of Sumatra. One of the efforts to overcome the COVID-19 pandemic is by administering vaccinations which aim to reduce transmission/contagion, reduce morbidity and mortality from COVID-19 and achieve herd immunity in the community (herd immunity). The aim of the study was to determine the relationship between vaccination status and survival of confirmed COVID-19 patients at the Riau Province Hospital in 2022. This study was an analytical observational study using a retrospective cohort method of 1212 samples of patients treated at all hospitals in Riau Province in 2022 and reported on the RS Online application. The overall cumulative survival probability of COVID-19 patients treated at Riau Province Hospital is 0.062 or 6.2% with an overall median survival time of 20 days (IQR: 17-22). Patients who have received vaccination have a protective effect on the risk of death from COVID-19, HR 0.751 (95% CI: 0.580-0.971), who have received complete vaccination HR 0.625 (95% CI: 0.463-0.845) and there is a reduced risk of death in line with the number of vaccine doses that have been obtained by patients (dose response) where patients who have received vaccine dose 1 have an HR value of 1.138 (95% CI: 0.764-1.694), patients who have received vaccine dose 2 have risks or protective effects that can reduce risk COVID-19 mortality with HR 0.692 (95% CI: 0.504-0.949), and patients who had received a booster dose of vaccine also had a protective effect with HR 0.336 (95% CI: 0.138-0.818) after controlling for age, initial saturation, history comorbidities, place of care and use of breathing apparatus.An increase in complete vaccination coverage according to the primary dose is needed to reduce the morbidity and mortality of COVID-19 even though the pandemic has been declared over. Improving coordination, collaboration and cooperation across sectors including involving religious leaders and community leaders in public health programs that have a broad impact including the possibility of dealing with the next emerging disease.
Read More
T-6795
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Carmelia Basri; Pembimbing: Nuning Maria Kiptyah; Penguji: Nasrin Kodim, Lukman Hakim Tarigan, Nastiti, Romini Day
T-1384
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asiyah Khoirunnisaa; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko, Inggarwati
Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran efek samping vaksinasi COVID-19 dosis pertama berdasarkan orang, tempat, dan waktu di DKI Jakarta pada Tahun 2021. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional. Penelitian ini diikuti oleh 117 responden, dengan proporsi perempuan 72,6% dan laki-laki 27,4%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KIPI dialami oleh 66,7% responden, jenis kelamin yang paling adapun kelompok umur 36-45 tahun adalah yang paling banyak mengalami KIPI.
Read More
S-10846
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive