Ditemukan 22621 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Ike Pujiriani; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Sumadi
S-5405
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Diah Rafika Dewi; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Muhamad Dawaman
Abstrak:
Di tempat kerja, bising menjadi masalah yang dapat mengakibatkan dampak kesehatan terhadap sistem auditory maupun sistem non-auditory. Dipo Lokomotif Jatinegara merupakan perusahaan yang mempunyai proses perawatan lokomotif yang menghasilkan bising. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebisingan di Dipo Lokomotif Jatinegara dan mencari faktor-faktor seperti dosis pajanan bising harian, usia, masa kerja, hobi terkait bising, tempat tinggal bising dan perilaku merokok serta pemakaian alat pelindung telinga (APT) dengan terjadinya gangguan non-auditory. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran tingkat kebisingan pada sumber bising dan area dipo lokomotif serta dosis pajanan bising harian secara langsung di lapangan. Selain itu, gangguan non-auditory juga diukur melalui kuesioner. Hasil pengukuran tingkat kebisingan di area dipo lokomotif dan dosis pajanan bising harian diketahui pada seluruh unit kerja yang diukur berada diatas NAB (nilai ambang batas). Hasil pengukuran gangguan non-auditory dari 63 responden diperoleh tingkat gangguan non-auditory berat sebanyak 26 orang (41.3%) dan gangguan non-auditory ringan sebanyak 37 orang (58.7%). Analisis rata-rata dosis pajanan bising harian dengan gangguan non-auditory menggunakan uji T-Test diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pekerja yang mengalami tingkat gangguan non-auditory. Disamping itu, analisis antara variabel pemakaian alat pelindung telinga (APT) dengan gangguan non-auditory mendapatkan hasil hubungan yang signifikan. Sedangkan analisis antara variabel usia, masa kerja, hobi terkait bising, tempat tinggal bising dan perilaku merokok dengan gangguan non-auditory diperoleh hubungan yang tidak signifikan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan gangguan non-auditory yang dialami pekerja lebih disebabkan oleh pemakaian alat pelindung telinga (APT). Rekomendasi yang diberikan yaitu mengendalikan gangguan non-auditory dengan menurunkan dosis pajanan bising harian yang ada hingga dibawah NAB dan penggunaan alat pelindung telinga yang sesuai dan konsisten. Kata Kunci: Dosis pajanan bising, Gangguan non-auditory, perawatan lokomotif In the workplace, noise might become a problem affecting both auditory and as well as non-auditory system. Dipo Locomotive Jatinegara is a company that has a locomotive maintenance process generating noise. This research aims to know the level of noise in the Dipo Locomotive Jatinegara and to find certain factors such as exposure to noise daily dose, age, period of employment, hobby related to noise, noisy residence, and smoking behavior, as well as usage of ear protectors tools (in Indonesian known as Alat Pelindung Telinga/APT) factors and the occurrence of non-auditory disorders. Data collection was done by measuring the noise level at the noise source and the area of the locomotive as well as the daily noise exposure dose directly in the field. In addition, the non-auditory disorders also were measured through a questionnaire. The results of the measurements of noise levels in the area of exposure and daily noise exposure dose of the locomotive on the whole work unit which were finally known that the measurement was above NAB (threshold value). The results of the measurement of the non-auditory disorders consisted of 63 respondents: obtaining a non-auditory disorders weight level as much as 26 people (41.3%) and other non-auditory disorders as many as 37 people (58.7%). Analysis of the average of the daily noise exposure dose with the non-auditory disorders used the T-Test showed there was no significant difference between workers who experience non-auditory disorders level. In addition, the analysis between variable usage of tools ear protectors (APT) and the non-auditory disorders resulted on significant relationships. While the analysis between the variables age, period of employment, hobby related to the noise, noisy living place and the smoking behavior of non-auditory disorders with the obtained relationship were not significant. Based on the results of the research, it could be concluded that a non-auditory disorders experienced by workers are caused by the usage of ear protectors tools (APT). The given recommendations is that namely the non-auditory disorders control by lowering the dose of the daily noise exposure exists under the NAB and the use of ear protectors that are appropriate and consistent. Keywords: Daily exposure dose, non-auditory, treatment of the locomotive
Read More
S-9313
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ayuthia Firdanianty; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Supriadi
Abstrak:
Penelitian tentang pajanan bising telah banyak dilakukan pada kereta api lokomotif, sedangkan penelitian sejenis pada kereta api commuter line masih jarang dilakukan. Kabin masinis commuter line juga berpotensi terpajan bising yang tinggi baik dari suara yang berasal dari kereta itu sendiri maupun dari keretalain yang berpapasan saat diperjalanan. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Besar sampel pada penelitian ini adalah 199 masinis kereta api commuter line Jabodetabek. Pengukuran tingkat bising didalam kabin diukur dengan sound level meter dan faktor risiko lainnyadikumpulkan dengan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62.3% masinis tidak memiliki keluhan pendengaran subyektif dan rata-rata tingkat kebisingan di dalam kabin masih di bawah nilai ambang batas sehingga tidak adafaktor risiko yang berhubungan dengan keluhan pendengaran subyektif. Namun perlu dipertimbangkan untuk melakukan pengukuran tingkat kebisingan padasemua jenis rangkaian kereta, dan selalu menutup kaca jendela kabin, serta melakukan pemeriksaan audiometri sebagai base line data bagi PT. KAI terhadap fungsi pendengaran masinis.
Kata Kunci : Kebisingan, Masinis Kereta Api, Gangguan Pendengaran.
Research about noise exposure has been much done on a locomotive train, whilesimilar research on commuter line train is still rare. Cabin machinist the commuterline also potentially exposed to high noise from sound that coming from the trainitself or from another train that passed while on the road. This research method isquantitative cross-sectional approach. The sample size in this research was 199machinist commuter line. Measurement noise rate inside the cabin is measuredwith a sound level meter and other risk factors was collected by questionnaire.The result showed that 62.3 % machinist have no disorders of hearing subjectiveand average rate of noise in the cabin was still below threshold value so there wasno risk factors associated with hearing complaints subjective. However, it shouldbe considered to measure noise rate in all types of circuit train, and always closethe window cabin, as well as audiometric examination as base line data for PT.KAI on auditory function machinist
Keyword : Hearing Disorders; Noise; Train Machinist.
Read More
Kata Kunci : Kebisingan, Masinis Kereta Api, Gangguan Pendengaran.
Research about noise exposure has been much done on a locomotive train, whilesimilar research on commuter line train is still rare. Cabin machinist the commuterline also potentially exposed to high noise from sound that coming from the trainitself or from another train that passed while on the road. This research method isquantitative cross-sectional approach. The sample size in this research was 199machinist commuter line. Measurement noise rate inside the cabin is measuredwith a sound level meter and other risk factors was collected by questionnaire.The result showed that 62.3 % machinist have no disorders of hearing subjectiveand average rate of noise in the cabin was still below threshold value so there wasno risk factors associated with hearing complaints subjective. However, it shouldbe considered to measure noise rate in all types of circuit train, and always closethe window cabin, as well as audiometric examination as base line data for PT.KAI on auditory function machinist
Keyword : Hearing Disorders; Noise; Train Machinist.
S-8236
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Citra Amaliyah; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Dadan Erwandi, Hastiti, Laksita Ri; Lihawa, Wahyudin; Kurdiman, Ade
Abstrak:
Keselamatan transportasi merupakan isu sosial di mana sistem transportasi dibuat untuk mewujudkan perpindahan dengan selamat dan efisien. Sebagai salah satu bagian dari sarana transportasi darat, keselamatan juga menjadi isu dalam industri kereta api. Sejak tahun 2004-2014 setidaknya terdapat 700 peristiwa luar biasa hebat (PLH) di industri kereta api di Indonesia, termasuk di antaranya adalah tumburan kereta api. Dari hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi juga ditemukan bahwa beberapa kasus tumburan kereta api terjadi akibat adanya pelanggaran akibat fatigue. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fatigue serta faktor-faktor yang berhubungan dengan fatigue pada masinis seperti faktor individu, faktor beban mental, faktor beban lingkungan. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari - juli 2021 di PT. Kereta Api Indonesia Daerah Operasional 3 Cirebon. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner (Nasa Task Load Index dan kuisioner skala International Fatigue Reseacrh Committee). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah 144 masinis kereta api penumpang dan barang. Data kemudian dianalisis dengan uji statistik chi square. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa 45,8% responden mengalami fatigue ringan dan 54,2% responden mengalami fatigue sedang. Dari penelitian ini juga diketahui ada hubungan antara IMT (OR1=2,454; OR2=4,723), waktu tidur (OR= 2,120) dan lingkungan kerja (OR= 3,495) dengan keluhan fatigue pada masinis (p<0,05). Sedangkan faktor individu berupa usia dan kebiasaan merokok, serta faktor beban mental berupa beban kerja, jadwal dan durasi kerja diketahui tidak memiliki hubungan dengan keluhan fatigue pada masinis (p>0,05)
Read More
T-6197
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Riky Mawan Sinaga; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Mila Tejamaya, Istiati Suraningsih
S-8345
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arie Yanty Maica; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Zulkifli Djuanaidi, Yuni Kusminanti
S-5682
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aulia Indar Ayuningtyas; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Mila Tejamaya, Hendra, Waluyo, Seviana Rinawati
Abstrak:
Proses kerja di Area Forging PT X dapat menimbulkan risiko bahaya dari tekanan suara
yang ditimbulkan oleh mesin produksi yang dapat menimbulkan kebisingan dan dapat
berpengaruh pada gangguan fungsi pendengaran pekerja. Diperlukan analisa faktor yang
mempengaruhi gangguan pendengaran agar dapat digunakan sebagai langkah
pengendalian yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tekanan
bising, gambaran pajanan bising (Leq 8 jam), gambaran gangguan pendengaran dan
faktor yang mempengaruhi gangguan pendengaran sensorineural pada pekerja di Area
Forging PT X. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross
sectional untuk melihat hubungan gangguan fungsi pendengaran akibat pajanan bising
dengan menganalisa faktor lain yang dapat mempengaruhinya seperti usia, masa kerja,
kebiasaan merokok, pajanan getaran, hobi terkait bising, dan pemakaian alat pelindung
diri (alat pelindung telinga). Berdasarkan hasil didapatkan bahwa gambaran tekanan
bising di Area Forging PT X berkisar antara 74,1 103,4 dBA, pajanan bising (Leq 8
jam) 44 orang (66,7%) terpajan bising tinggi ≥85dBA dan 22 orang (33,3%) terpajan
bising <85 dBA dan rata-rata pajanan adalah sebesar 91,5 dBA. Dari 66 partisipan, 8
(12,1%) partisipan mengalami gangguan fungsi pendengaran sensorineural dan 58
(87,9%) partisipan memiliki pendengaran normal. Faktor aktor yang berhubungan
dengan gangguan fungsi pendengaran adalah pajanan bising memiliki p value 0,045
dengan nilai OR 0,818, hobi terkait bising memiliki p value 0,005 dan nilai OR 14,37,
masa kerja memiliki p value 0,045 dan nilai OR 0,818, usia memiliki p value 0,001 dan
nilai OR 20,07, kebiasaan merokok memiliki p value 0,008 dan nilai OR 12,33, serta
penggunaan alat pelindung diri memiliki p value 0,009 dan nilai OR 10,6. Faktor yang
paling dominan mempengaruhi gangguan fungsi pendengaran sensorineural adalah usia.
Untuk mengandalikan faktor yang mempengaruhi gangguan fungsi pendengaran dapat
menggunakan hierarki pengendalian risiko yaitu eliminasi, substitusi, pengendalian
teknis, pengendalian administratif dan alat pelindung diri.
Read More
T-6210
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Asisti Wulan Ningrum; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Sugma Agung Purboyo
S-5370
Depok : FKM UI, 2008
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bayu Dwiantoro; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Ahmad Yani
S-5442
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Taman Prasi; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Ari Novianti Aditomo
Abstrak:
Read More
Kesehatan jiwa dan kesehatan tubuh tidak dapat dipisahkan, karena berkaitan dengan kemampuan dasar manusia. Salah satu masalah kesehatan jiwa yang dihadapi pekerja adalah stres kerja. Stres kerja berhubungan erat dengan timbulnya berbagai penyakit seperti penyakit jantung, stroke, kecelakaan kerja, menurunnya produktifitas dan meningkatnya pengeluaran suatu perusahaan dalam hal kompensasi pekerja, kecelakaan kerja dan ketidakmampuan, gangguan stres kerja dapat mengenai pekerja dimana saja, juga pekerjaan sebagai seorang masinis kereta api. Keselamatan operasional dan kinerja perusahaan angkutan kereta api tidak terlepas dari peran penting para masinis, sehingga diperlukan masinis yang sehat baik fisik maupun mentalnya. Penelitian ini meninjau masalah bahaya psikososial dalam kaitannya dengan stres kerja dikalangan para masinis di Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek PT. Kereta Api (Persero), dengan pendekatan cross-sectional, menggunakan cara pengukuran life event scale menggunakan tehnik self report measure melalui kuesioner, yang bertujuan untuk memperoleh gambaran tingkat stres kerja dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat stres kerja pada masinis. Populasi penelitian berjumlah 153 orang dengan sampel penelitian sebanyak 101 orang. Ditemukan tingkat stres kerja ringan sebesar 82,2 %, stres kerja sedang 17,8 %, sedangkan tingkat stres kerja berat tidak ada ditemukan. Uji statistik yang dilakukan adalah Chi-Square, untuk melihat hubungan asosiasi antara faktor yang diperkirakan sebagai stressor dengan stres kerja. Adapun faktor-faktor yang berhubungan secara bermakna dengan tingkat stres kerja para masinis adalah kebisingan (nilai p = 0,03) dan rutinitas kerja (nilai p = 0,02). Hasil penelitian ini dapat dijadikan data awal untuk pelaksanaan penaggulangan stres kerja, akan tetapi untuk langkah selanjutnya perlu dilakukan penelusuran lebih jauh terhadap timbulnya stres kerja serta faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan metoda yang lain. Untuk mencegah, dan mereduksi stres kerja pada masinis dan seluruh karyawan perusahaan dapat dilakukan dengan pendekatan organizational change, yaitu merubah kondisi kerja ke arah yang lebih baik, dikombinasikan dengan pendekatan stress management, yaitu memberikan training manajemen stres dan employee assistance program (EAP). Daftar bacaan : 27 (1973 - 2001)
Study about Job Stress of the Train Drivers at PT. Kereta Api (Persero) in Jabotabek Commuter Division, 2002Physical and mental health can't separate, because it's related with the human basic ability. One of the mental health problems that the worker is the job stress. Job stress are close related with the appearance of various illness like cardiovascular disease, stroke, working accident, decreasing of the productivity and increase the company spend of the matter worker compensation, working accident and inability. The job stress can affected the worker anywhere, also the training drivers. The operational safety and the performance of the train transportation company are hold from an important part of the train drivers, with result of that; it's a need a train driver which are the mentality and physically in good health. This research are observe the social psychology hazards in related with job stress at the circle of train drivers at PT. Kereta Api (Persero) in Jabotabek Commuter Division, with the cross-sectional approach, using the life event scale measurement with self report measure by questioner, which have purpose to gain a illustration of the job stress level and the factors which related with the job stress level on the train drivers. Research population total are 153 people with the research sample total are 101 people. The low level of job stress is founded 82, 2 %, medium level 17, 8 %, while the high level are not found. The valid statistic test are Chi-Square, to see the associate relation within the suppose factor as the stressor with job stress. There is relating factors according to the train drivers job stress levels are noise (p value = 0, 03) and working routines (p value = 0,02 ). The research result can be an early data to handling the job stress, but for the next step are need to do more investigation concerning the appearance of job stress with the influence factors with the different method. To prevent and reduction the job stress on the train drivers and the whole company employees can do with the organizational change approach, that is to improve working conditions, with the combination of stress management approach, that is providing a stress management training and an employee assistance program (EAP). References: 27 (1973 - 2001)
T-1346
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
