Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 23145 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hermawan Saputra; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Dewi Lestari
Abstrak:

Peningkatan Kemampnan Sistem Informasi Dalam Menunjang Penyajian Indikator Pelayanau Unit Rawat Inap RSIA Kurnia Cilegon Tahun 2008 Xvii + 84 nulaman, 6 tabel, I7 gambar, 10 macam Iampiran Sistem informasi manajemen rumah sakit yang cfektif dan efisien akan lebih sempuma, bila disenai dengan Iompatan teknoiogi dengan menerapkan sistem informasi manajemen rumah sakit menggunakan komputer. Menyadari bahwa sistem informasi yang baik akan menoenninkan keadaan manajemen rumah sakit yang baik pula, maka tentu perlu ditcliti bagaimana komputeriswi sistem informasi manajemen yang ada. RSIA Kumia telah mengembangkan paket sistem informasi yang dibangun secara bertahap olch sumber daya yang ada di rumah sakit tersebut. Sistem informasi dirancang agar dapat mencakup hampir seluruh kegiatan di rumah sakit, dan sudah mulai dioperasikan sejak mulai dibukanya RSIA. Dari penclitian yang dilakukan di RSIA Kumia diketahui bahwa pemanfaatan sistem infomxasi rumah sakit masih belum seperti yang diharapkan. Sistem yang ada belum mampu menyajikan informasi mengenai cakupan, mutu dan efisiensi pelayanan terutama di unit mwat inap. Berbagai infom1asi tersebut sangat dipcrlukan dalarn manajemen rumah sakit untukperencanaan strategis, pengendalian manajcrial maupun operasional kegiatan pelayanan rumah sakit. Pcneliuan ini bertujuan meningkatkan kemampuan sistem infonnasi untuk mcnunjang penyajian indikator pelayanan unit rawat inap melalui pemcnuhan kebutuhan infonnasi cakupan, mutu dan eiisiensi pelayanan dari sistem yang sudah ada. Studi ini menghasilkan langkah-langkah strategis untuk terwujudnya informasi mengenai cakupan, mutu dan ehsiensi kegiatan pelayanan dari setiap unit pelayanan RSIA Kumia yang terkomputerisasi. Langkah-langkah strategis penyajian indikator pelayanan dalam sistem infonnasi m_anajemen yang dihasilkan pada penelitian ini diharapkan mampu menampilkan informasi secara cepat dan tepat lewat proses yang terkomputerisasi.


Increasing Ol' Ability Of Information System In Subvention Presentation Ol’ Indicator Service Ot' Inn Patient Unit RSIA Kurnia Cilegon 2008 Xvii + 84 pages, 6 tables, 17 pictures, I0 appendix In effective and etlicient infomation system hospital management, it wili be perfect if along with hurdle technologies with to apply computer using of information system management of computer applications. To realism of information system reflect of good situation of hospital management, and also in needed of through how computerized management infomation system which available. Kumia Mother and Children Hospital has implemented a comprehensive Management information System which builded step to step by resources in there hospital. Infomation System which was designed to meet almost every aspect of hospital practices has been in operation since the very beginning of the mother and children hospital operation. Studies in several unit of the hospital showed that the utilization of hospital information systems was still far behind the expectation. The system not yet can realize infomation concerning coverage, quality and service efficiency especially in unit of Inn Patient. information about hospital services utilization, quality and efficiency is needed in hospital management for strategic planning, managerial control and operational services. This Study objectives to increase information system performance to increase productivity of inn patient unit with meets the needs of information about utilization, quality and service: efficiency iiom the available system. The management infomation system results in those infomation from each unit in RSIA Kumia by presenting their indicators. The Strategic stages of presentation of service indicator in MIS which yielded at this research expected can present information quickly and acurate by computerized process.

Read More
B-1053
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Faisal; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Anhari Achadi, Puput Oktamianti, Edi Kusnadi, Wahyu Hapsari
Abstrak: Langkah awal membangun keselamatan pasien adalah melakukan penilaianterhadap budaya keselamatan pasien yang mana sebagai panduan dalammenerapkan keselamatan pasien.Penelitian ini di lakuakan di RSIA KurniaCilegon dengan sampel tenaga medis 79 responden yang terdiri dari dokter umum,dokter gigi,dokter spesialis, bidan dan perawat dengan metode kuantitatif potonglintang dengan menggunakan instrument AHRQ mengukur persepsi budayakeselamatan pasien dilanjutkan metode kualitatif ini bertujuan untuk mengetahuifaktor-faktor penghambat dan faktor-faktor pendukung serta mengetahui langkah-langkah upaya peningkatan budaya keselamatan pasien di RSIA Kurnia .Hasilpenelitian ini didapatkan gambaran budaya keselamatan pasien sedang di RSIAKurnia tahun 2015 dengan saran Tim KPRS melakukan sosialisasi tentangkeselamatan pasien, memberikan reward dan selalu mensosialisasikan responnon-punitive terhadap kesalahan, melakukan Inhouse Training keselamatanpasien, menyusun jadwal pertemuan rutin bulanan, dan melakukan investigasidisetiap ruangan dengan melakukan ronde keselamatan pasien secara rutin gunameningkatkan pelaporan insiden keselamatan pasien dan meningkatkan budayakeselamatan di RSIA Kurnia.Kata kunci : budaya keselamatan pasien ; instrument AHRQ; persepsi tenagamedis
The initial step to build patient safety is assessing patient safety culture in whichas a guide in implementing patient safety. The research was done in RSIA KurniaCilegon with a sample of medical personnel 79 respondents consisting of generalpractitioners, dentists, specialists, midwives and nurses with quantitative methodscross-sectional by using instrument AHRQ measure perceptions of patient safetyculture continued qualitative method aims to find out factors inhibiting andsupporting factors and knowing the steps efforts to improve patient safety culturein RSIA Kurnia results of this study, it was shown in patient safety culture is beingRSIA Kurnia 2015 with Tim advice KPRS socialize patient safety, reward andalways socialize a non-punitive response to faults, do Inhouse Training patientsafety, scheduling regular monthly meetings, and conduct an investigation in eachroom to do patient safety rounds regularly to improve the reporting of patientsafety incidents and improve safety culture at RSIA Kurnia.Keywords: patient safety cultur;AHRQ instrument;, medical personnel perception.
Read More
B-1756
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Go Ester; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Purnawan Junadi, Budi Hidayat, Indra Setiadi
B-1319
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Rizki Fajriansyah; Pembimbing : Budi Hidayat; Penguji: Atik Nurwahyuni, Yuli Prapancha Satar
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Muhammad Rizki Fajriansyah Program Studi : Kajian Administrasi Rumah Sakit Judul : Studi Tentang Pilihan Pelayanan Yang Berhubungan Dengan Utilisasi Rawat Inap RSIA Budi Kemuliaan Tahun 2012 RSIA Budi Kemuliaan memiliki posisi strategis di pusat kota Jakarta diantara perumahan dan perkantoran. Peningkatan pemanfaatan kelas rawat inap setiap tahunnya belum mencapai target optimal yang signifikan, terutama rawat inap kelas 1 (I,VIP,VVIP) yang menjadi latar belakang penelitian ini. Tujuan penelitian untuk melihat gambaran karakteristik pasien rawat inap RSIA Budi Kemuliaan serta mengetahui faktor yang berhubungan dengan utilisasi. Disain penelitian cross sectional dengan pendekatan kuantitatif yang bersifat analitik deskriptif. Sampel penelitian 210 responden mewakili rawat inap kelas 1, 2 dan 3. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden adalah ibu RT berpendidikan SLTA, penghasilan kurang dari 3 juta, memiliki pengetahuan yang kurang baik tentang pelayanan, referensi terbesar dari keluarga, biaya perawatan ditanggung sendiri, dan rata-rata jarak rumah pasien ke rumah sakit 10,14 km dengan waktu tempuh 20 menit. Terdapat perbedaan karakteristik dan perbedaan persepsi yang berkaitan dengan perilaku petugas di rawat inap kelas 1, 2 dan 3. Analisis multinomial diperoleh hasil dimana yang signifikan mempengaruhi utilisasi kelas 1 versus kelas 3 adalah pendidikan, ketrampilan perawat/bidan, referensi keluarga dan yang paling dominan perilaku petugas, sedangkan variabel yang mempengaruhi utilisasi kelas 2 versus kelas 3 adalah penanggung biaya. Hasil penelitian menyarankan upaya peningkatan dengan melakukan pemeliharaan, penambahan fasilitas, pemenuhan kebutuhan yang diperlukan tenaga medis dan non medis dalam melaksanakan fungsi pelayanannya serta dilakukan pendekatan pemasaran terdiferensiasi (differentiated marketing approach). Kata kunci : Utilisasi, Rumah Sakit, Rawat Inap


ABSTRACT Nama : Muhammad Rizki Fajriansyah Program Studi : Post Graduate of Hospital Administration Judul : Study of factor option related to services utilitization inpatient of Budi Kemuliaan Martenal and Child Hospital in 2012 Located in the city center of Jakarta, Budi Kemuliaan Martenal and Child Hospital has a strategic position among the houses and offices. Increased utilization of hospital admissions each year has not reached the significant of optimal target, especially inpatient class 1 (I, VIP, VVIP), is the background of this research. The research objective to observe the picture of the characteristics of inpatients Budi Kemuliaan Martenal and Child Hospital and its determine factors associated with utilization. Design of this study are Cross-sectional research with quantitative descriptive - analytic approaches. Sample of 210 respondents representing research inpatient class 1, 2 and 3. The results showed the majority of respondents were housewife graduated high school education, earning less than 3 million, have poor knowledge about the service, the largest reference is from the family, medical cost are affordes privately, and the average distance of the patient to the hospital with 10.14 miles travel time 20 minutes. There are differences in characteristics and differences in perceptions related to officer behavior in inpatient class 1, 2 and 3. Multinomial analysis of obtained results which are affecting the utilization of class 1 versus class 3 is the education, skills nurses, family reference and the most dominant are behavior of officers, while the variables that affect the utilization of class 2 versus class 3 is the person in charge. The results suggest efforts to increase with improvements, additional facilities, meeting the needs of the required medical and non-medical personnel in carrying out the functions of his ministry as well as the marketing approach is differentiated (differentiated marketing approach) Keywords: Utilization, Hospital, Inpatient

Read More
B-1521
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dede Setyadi; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Tris Eryando, Iing Ichsan Hanafi, R.B Wahyu
Abstrak:
Sistem Informasi Rumah Sakit merupakan dasar dari kebutuhan pelayanan demi tercapai pelayanan yang prima, pada Rumah Sakit Hermina Lampung terjadi perubahan Sistem Informasi pada bulan Mei 2022, perubahan dilakukan agar tercipta kemudahan dalam pelayanan baik rawat jalan maupun rawat inap. Setelah penggunaan selama satu tahun dirasa masih ada kendala dalam pelayanan di rawat jalan dimana tidak tercapainya kesesuaian standar length of stay rawat jalan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis implementasi sistem informasi di rawat jalan dengan menggunakan metode struktur, proses, output serta digabungkan dengan metode HOT-Fit. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan cara mixed method dimana dilakukan analisa penelitian secara kuantitatif dan kemudian dilakukan analisa penelitian kualitatif untuk memperkuat hasil dari penelitian, Pengambilan data dilakukan sejak Mei 2023 hingga Juni 2023, Hasil: Tidak terdapat hubungan bermakna antara kualitas sistem maupun kualitas informasi dengan usia, pendidikan terakhir dan jenis kelamin. Pelatihan SDM terhadap sistem informasi masih kurang maksimal dalam pelaksanaan, sistem informasi sering terjadi down server yang dapat menyebabkan slowness dalam pelayanan, belum adanya SPO yang mengatur terhadap penggunaan jaringan wifi di rawat jalan menyebabkan kelambatan pada aplikasi sistem informasi, integrasi sistem terlaksana di setiap unit namun menjadi kendala pada saat penutupan pelayanan pasien karena masih adanya step-step yang tidak dilakukan unit sebelumnya. Kesimpulan: Dengan metode input, proses dan output serta HOT-Fit dapat mengetahui pelatihan SDM, kesiapan sistem, kesiapan sarana dan prasarana, kebijakan, serta integrasi sistem mengalami kendala yang paling bermakna di dalam pelayanan menggunakan sistem informasi di rumah sakit dan dibutuhkan penyelesaian agar dapat tercipta pelayanan yang maksimal 

The Hospital Information System is the basis of service needs in order to achieve excellent service, at Hermina Lampung Hospital there was a change in the Information System in May 2022, changes were made to create convenience in service both outpatient and inpatient. After using it for one year, it is felt that there are still obstacles in outpatient services where standard conformity is not achieved for length of stay outpatient. This study aims to analyze the implementation of information systems in outpatient care using the structure, process, output method and combined with the HOT-Fit method.Method: This research was conducted in mixed methode where a quantitative research analysis was carried out and then a qualitative research analysis was carried out to strengthen the results of the research, data collection was carried out from May 2023 to June 2023,Results: There is no significant relationship between system quality and information quality with age, last education and gender. Human resources training on information systems is still not optimal in implementation, information systems often occurdown server which can cause slowness in service, there is no regulations that regulates the use of wifi networks in outpatient care causing delays in information system applications, system integration is carried out in each unit but becomes an obstacle when closing patient services because there are still step which the previous unit had not done.Conclusion:With the input, process and output methods as well as HOT-Fit, it can be seen that human resources training, system readiness, facility and infrastructure readiness, policies, and system integration experience the most significant obstacles in services using information systems in hospitals and solutions are needed so that services can be created. the maximum.
Read More
B-2356
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amalia; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Amila Megraini, Hanun Ernatyaswati,
Abstrak:

Untuk dapat menyelenggarakan upaya kesehatan yang memadai, di rumah sakit harus tersedia sarana, fasilitas, dana yang cukup, dan sumber daya manusia yang terampil dan berdedikasi tinggi. Keberhasilan upaya pelayanan di rumah sakit sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas tenaga manusia yang memadai. Kualitas kerja sangat dipengaruhi oleh motivasi kerja yang dimiliki oleh setiap karyawan, dalam hal ini tenaga perawat. Pelayanan keperawatan rumah sakit memiliki peranan penting dalam menentukan keberhasilan pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Rendahnya motivasi kerja akan memberikan efek negatif terhadap produktifitas kerja perawat tersebut. Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta sebagai rumah sakit swasta telah melakukan evaluasi kinerja karyawan dengan PKP (Penilaian Karya Pekerja), tetapi belum ada bukti yang menunjukkan bahwa motivasi kerja perawat tersebut tinggi atau rendah. Oleh karena itu dibutuhkan penelitian terhadap motivasi kerja perawat karena merupakan unsur penting untuk mencapai produktivitas yang tinggi dan secara langsung mempengaruhi citra rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang hubungan karakteristik individu, faktor motivasi ekstrinsik, dan faktor motivasi intrinsik tenaga perawat terhadap motivasi kerja mereka di RS. Pelabuhan Jakarta. Penelitian yang dilakukan bersifat kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, jumlah sampel sebanyak 65 orang responden dari 80 orang total populasi yang diteliti dengan kriteria inklusi pegawai tetap dan bersedia mengisi kuesioner. Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data primer dari kuesioner yang disebarkan kepada para perawat, dan data sekunder dari bagian personalia dan bidang keperawatan. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 50,8% perawat memiliki motivasi kerja yang rendah dan 49,2% dengan motivasi kerja yang tinggi. Dari hasil analisis hubungan antar variabel ditemukan bahwa dari variabel karakteristik individu yang memiliki hubungan yang signifikan dengan motivasi kerja adalah usia responden dan lama kerja. Dari variabel faktor motivasi ektrinsik yaitu hubungan kerja, gaji yang diterima, kondisi lingkungan kerja, kebijakan rumah sakit dan supervisi berhubungan dengan motivasi kerja. Sedangkan dari variabel faktor intrinsik yang memiliki hubungan dengan motivasi kerja adalah faktor pengakuan atas pekerjaan, pekerjaan itu sendiri dan kesempatan pengembangan individu. Berdasarkan uji statistik yang dilakukan, variabel yang paling dominan mempengaruhi motivasi kerja adalah faktor kesempatan pengembangan individu. Dalam upaya untuk meningkatkan motivasi kerja perawat unit rawat inap RS. Pelabuhan Jakarta, dibutuhkan penerapan analisis teknik motivasi berprestasi serta memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan pengakuan atas prestasi kerja yang diraih misalnya dengan pemberian reward.


To performe the best quality in health services, hospital must have an excellent facility, fund, and highly dedicated human resources. Successfullness of health services redirected to the quality and quantity of human resources. The quality of work performance is influenced by work motivation in every individual, in this case is nurses as the important role in achieving the best quality in health services, because poor motivation in work will give negative effect in productivity of work itself. RS. Pelabuhan Jakarta as a private hospital has evaluate their employee productivity by PKP (Penlilaian Karya Pekerja), but there is no fact shows that they also have poor or highly motivated employee, especially nurses. That is why it needs research concerning motivation assessment toward their performance because motivation eventually effect the productivity of nurses and the image of the hospital. The aim of this research is to find the relation between independent variable which is nurse individual characteristic, extrinsic and intrinsic motivation factors with their work motivation as dependent variable at RS. Pelabuhan Jakarta. Research conducted is quantitative with cross-sectinal methode. Total sample is 65 nurses over 80 nurses as total population of in-patient unit nurses as the employee of RS. Pelabuhan Jakarta. The source of data in this research are primary data from distributed questionaire to nurses, and secondary data from personel unit and nursing departement. Result of this research shown that 50,8% of nurses had poor work motivation meanwhile 49,2% of nurses had high motivation. From the relation analysis found that age and work periode have significant relation with work motivation, so as work relation, take home pay, working environment, hospital policy and supervision from extrinsic variables; and also certify of work, the work itself, and opportunity of individual development as the intrinsic motivation factor which related to work motivation. According to statistic analysis, independent variable that has dominant relation to work motivation is the opportunity of individual development. In accordance to increase working motivation of in-patient unit nurses at RS. Pelabuhan Jakarta, the achievement motivation technique must be applied, also giving the opportunity to explore the capability of nurses, and rewarded their achievement.

Read More
B-1091
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novia Afdhila; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Mardiati Nadjib, Budi Hartono
S-5946
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jihaan Eka Ariyani; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Masyitoh, Mira Puspitasari , Sheirly Novan Indra
Abstrak:
Pengendalian mutu pelayanan medis merupakan bagian penting dalam tata kelola klinis rumah sakit karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien, efektivitas layanan, dan akuntabilitas profesional tenaga medis. RSU Bunda Margonda telah menerapkan sistem indikator mutu pelayanan medis rawat inap serta evaluasi kinerja dokter spesialis melalui mekanisme Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE). Meskipun keduanya telah berjalan sebagai bagian dari sistem tata kelola klinis, hubungan antara capaian indikator mutu pelayanan medis dengan hasil penilaian OPPE pada Kelompok Staf Medis (KSM) Bedah belum pernah dianalisis secara sistematis dan komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh capaian indikator mutu pelayanan medis rawat inap terhadap hasil penilaian OPPE dokter spesialis KSM Bedah di RSU Bunda Margonda tahun 2025. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential explanatory, di mana analisis kuantitatif terhadap 16 dokter spesialis dari 8 sub-spesialisasi bedah dilakukan terlebih dahulu, kemudian diperdalam melalui wawancara mendalam dengan informan kunci yang meliputi Kepala Bidang Medis dan Ketua Komite Mutu. Instrumen OPPE yang digunakan mencakup tiga dimensi utama, yaitu dimensi Perilaku (bobot 30%), Pengembangan Profesional (bobot 30%), dan Kinerja Klinis (bobot 40%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang nyata dan bermakna antara capaian indikator mutu pelayanan medis rawat inap dengan hasil penilaian OPPE dokter spesialis KSM Bedah. Rata-rata total skor OPPE KSM Bedah mencapai 4,086 dengan predikat B-Very Good, di mana 6 dokter (37,5%) meraih predikat A-Excellent, 8 dokter (50,0%) meraih predikat B-Very Good, dan 2 dokter (12,5%) berada pada predikat C-Good. Sub-spesialisasi Bedah THT-KL mencatat rata-rata skor tertinggi (4,326), sedangkan Bedah Umum mencatat rata-rata terendah (3,647) dengan variasi terlebar. Dimensi Kinerja Klinis mencapai capaian proporsional tertinggi (93,3% dari skor maksimum), sementara Dimensi Perilaku menjadi sumber variabilitas tertinggi antar dokter. Indikator outcome klinis, khususnya angka IDO/ILO (Infeksi Daerah Operasi/Infeksi Luka Operasi) dan angka re-operasi, ditemukan sebagai indikator yang paling dominan berkontribusi terhadap skor OPPE. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa indikator mutu pelayanan medis rawat inap, terutama kepatuhan visite DPJP, kelengkapan rekam medis, kepatuhan PPK/Clinical Pathway, kepatuhan Surgical Safety Checklist (SSC) dan IPSG, angka IDO/ILO, serta angka re-operasi, memiliki keterkaitan yang signifikan dengan hasil penilaian OPPE. Sistem OPPE RSU Bunda Margonda telah memiliki fondasi yang selaras dengan prinsip evidence-based clinical governance, namun masih terdapat lima kesenjangan dibandingkan standar internasional yang perlu diperkuat, meliputi mekanisme peer review formal, integrasi data indikator mutu secara otomatis, representasi keenam domain kompetensi ACGME, data volume kasus operatif per dokter, serta standarisasi mekanisme umpan balik kepada dokter. Penguatan sistem OPPE melalui pengembangan SIMRS, umpan balik berkelanjutan, dan peer review terstruktur direkomendasikan untuk mendukung tata kelola klinis berbasis data yang lebih kuat di RSU Bunda Margonda.

Quality control of medical services is a fundamental component of clinical governance in hospitals, as it directly influences patient safety, service effectiveness, and professional accountability of healthcare providers. RSU Bunda Margonda has implemented inpatient medical service quality indicators alongside a physician performance evaluation system through the Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE). Despite both systems being operational as part of clinical governance, the relationship between quality indicator achievements and OPPE assessment outcomes within the Surgical Medical Staff Group had not been systematically or comprehensively analyzed.  This study aims to analyze the influence of inpatient medical service quality indicators on OPPE assessment results among specialist doctors in the Surgical Medical Staff Group at RSU Bunda Margonda in 2025. The study employed a mixed methods approach with a sequential explanatory design, where quantitative analysis of 16 specialist doctors from 8 surgical sub-specializations was conducted first, followed by in-depth interviews with key informants including the Head of Medical Services and the Quality Committee Chair. The OPPE instrument comprised three main dimensions: Behavior (weight 30%), Professional Development (weight 30%), and Clinical Performance (weight 40%).  The findings confirm a significant and meaningful relationship between inpatient medical service quality indicator achievements and OPPE assessment results among Surgical Medical Staff doctors. The average total OPPE score for the Surgical Medical Staff Group reached 4.086 (B-Very Good), with 6 doctors (37.5%) achieving A-Excellent, 8 doctors (50.0%) achieving B-Very Good, and 2 doctors (12.5%) rated C-Good. The ENT-Head and Neck Surgery subspecialty recorded the highest average score (4.326), while General Surgery recorded the lowest average (3.647) with the widest variation. The Clinical Performance dimension achieved the highest proportional score (93.3% of maximum), while the Behavior dimension contributed the greatest variability among individual physicians. Clinical outcome indicators, particularly the surgical site infection (SSI/IDO-ILO) rate and re-operation rate, were identified as the most dominant contributors to OPPE scores.  In conclusion, inpatient medical service quality indicators particularly specialist physician visit compliance, medical record completeness, clinical pathway adherence, Surgical Safety Checklist (SSC) and IPSG compliance, surgical site infection rate, and re-operation rate demonstrated significant associations with OPPE assessment outcomes. The OPPE system at RSU Bunda Margonda has a foundation aligned with evidence-based clinical governance principles; however, five gaps remain compared to international standards: the absence of a formal peer review mechanism, manual integration of quality indicator data, incomplete representation of all six ACGME competency domains, unavailability of per-physician operative case volume data, and non-standardized physician feedback mechanisms. Strengthening the OPPE system through enhanced hospital information system (SIMRS) development, continuous feedback cycles, and structured peer review is recommended to support more robust data-driven clinical governance at RSU Bunda Margonda.
Read More
B-2624
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Williana Yanti; Pembimbing: Hendrik M. Taurany; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Dumilah Ayuningtyas, Sandra Dewi
B-1106
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aina Fachrina;Pemb. Amal Chalik Sjaaf; Peng: Dumilah Ayunigtyas, Mieke Savitri, Carmen Siagian
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepuasan pasien terhadap Pelayanan Unit Rawat Jalan Rumah Sakit Pusat TNI AU dr. Esnawan Antariksa. Dalam penyusunan kerangka konsep penelitian ini sebagai variabel dependen adalah variabel kepuasan total yang meiiputi harapan dan persepsi responden dimana tingkat kepuasan dihitung berdasarkan kesenjangan nilai antara keduanya sedangkan sebagai variabel independen adalah mencari diantara lima dimensi servqual yaitu rangible, reliability, responsiveness, asurance dan emphaty yang memiliki pengaruh paling dominan dalam kepuasan pasien. Metode penelitian yang dilakukan adalah kuantitatif, dimana menggunakan survei kepada 149 responden militer dan 140 responden umum. Data kuantitatif dikumpulkan menggunakan metode cross sectional terhadap responden. Kemudian data yang terkumpul dianalisis menggunakan program perangkat lunak komputer. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa ada hubungan antara perkejaan dan pendapatan perbulan responden urnum dengan kepuasan, yaitu dengan p value 0,012 dan 0,011. Berdasarkan metode servqual didapati bahwa 8,72% responden militer dan 7,86% responden umum merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan Unit Rawat Jalan RUSPAU. Penggunaan metode servqual sebagai alat ukur kepuasan responden, memperlihatkan adanya kesenjangan antara jasa yang dipersepsikan dengan jasa yang diharapkan responden. Berdasarkan diagram kartesius didapatkan bahwa responden militer merasa paling puas dengan dimensi emphaty yaitu sebesar 24,16% dan responden umum merasa paling puas dengan dimensi responsivenss yaitu sebesar 20%. Secara keseluruhan atribut servqua! yang harus menjadi prioritas untuk diperbaiki oleh manajemen rumah sakit adalah atribut pada dimensi tangible dan reliabiliiy. Sebagai kesimpulan dari penelitian ini bahwa alat ukur metode servqual dapat mengidentifikasikan unsur-unsur pelayanan yang menyebabkan ketidakpuasan responden militer dan umum terhadap perlayanan Unit Rawat Jalan RUSPAU serta unsur-unsur pelayanan mana yang menjadi prioritas untuk diperbaiki oleh manajemen rumah sakit. Oleh karena itu disarankan kepada pihak manejemen rumah sakit unluk menggunakan metode servqual dalam melakukan survei pengukuran kepuasan pasien. Karena penelitian ini membuktikan bahwa metode senfqual dapa! digunakan dan efektif untuk dterapkan di rumah sakit dalam mengukur kepuasan pasien di rumah sakit. Dari hasil penelitian, saran untuk semua pihak yang terkait untuk memperhatikan pasien yang mempunuai harapan tinggi namun berpersepsi rendah, dimana hal tersebut menggambarkan tingginya ketidakpuasan pasien di Unit Rawat Jalan RUSPAU.


This research goals is to assess the level of patient satisfaction of healthcare service on outpatient unit at Air Force Hospital dr. Esnawan Antariksa. ln compiling this frame of this research concept, the dependent variable are total satisfaction variable that encompased expectation and perseption of the military respondens and public respondens, where the level of satisfaction is calculated based on the different value between the two, while the independent variable is finding between consists of 5 dimension; service quality, tangible, reliability, responsiveness, assurance and emphaty that has most dominant effect in respondens satisfaction. Research method that is implemented is kuantitatif; that use surveys to l49 military respondens and 140 public respondens. Kuantitatif data was collected using cross sectional method to the responden. Then data obtained from this research will he analized by using computer software. From the result of the research, we can see there is a correlation between job and salary from the responden with responden satisfaction, with the p value 0,012 and 0,01 I. Based on servqual method we can get 8.72 % military responden and 7,86 % public responden felt satisfied with the services being served by the outpatient unit of RUSPAU. The used of servqual method as an indicator of repondent satisfaction, shows there is a gap between service that is perceived and the service that is expectation by the responden. Based on cartesius diagram, we can also get that military respondens felt the most satisfied with the emphaty dimension is 24,16 % and public respondens felt the most satisfied with the responsiveness is 20 %. Generally, servqual atribute has to be the priority to be fixed by the hospital management is the attribute of tangible and reliability dimension. As the conclusion from this research, servqual method can identified the attribute of services that causes military respondents and public respondents unsatisfied with the RUSPAU outpatient healthcare services and which attribute of service that become the priority to be fixed by the hospital management. It is recommended to the hospital management to use servqual method in surveys to assess the level ofthe custumers satisfaction. This method could be use effectively in hospital in order to assess the level of the customers satisfaction in the outpatient unit.

Read More
B-1147
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive