Ditemukan 34123 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Instalasi Gawat Darurat (IGD) memegang peranan penting dalam penanganan awal trauma berat untuk mencegah kematian maupun kecacatan. IGD Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) telah menerapkan sistem “Cipto Code Trauma” sejak 2019 untuk menjamin waktu tanggap trauma berat < 5 menit, meski capaiannya belum memenuhi target. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan faktor-faktor yang menjadi determinan waktu tanggap trauma berat di IGD RSCM, yang diharapkan dapat bermanfaat untuk perbaikan sistem. Penelitian dilakukan secara retrospektif terhadap pasien trauma berat yang berkunjung ke IGD RSCM tahun 2023-2024. Analisis dilakukan terhadap faktor pasien, struktur, dan proses layanan. Dari 124 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, karakteristik pasien terbanyak yaitu usia dewasa, laki-laki, dengan mekanisme kecelakaan lalu lintas, dan memiliki lebih dari 1 jenis cedera. Pasien umumnya datang tanpa Ambulans dan tanpa komunikasi pra-RS. Tanda vital saat datang sebagian besar normal. Pasien terbanyak datang pada malam hari, saat kondisi IGD padat, dengan jumlah tenaga di IGD mencukupi. Hanya 51,6 % pasien menggunakan jaminan. Rerata waktu tanggap trauma berat yaitu 12 menit 42 detik. Didapatkan bahwa faktor usia pasien, transportasi menggunakan Ambulans, frekuensi nadi saat pasien datang, waktu shift pelayanan di IGD, dan jumlah tim yang bertugas berhubungan dengan waktu tanggap pasien trauma berat di IGD RSCM. Waktu tanggap trauma berat tidak berhubungan dengan luaran pasien yaitu kebutuhan perawatan intensif maupun kematian.
Emergency Room (ER) plays a significant role in the initial management of severe trauma to prevent morbidity or mortality. Since 2019, ER of Cipto Mangunkusumo Hospital (CMH) have established “Cipto Code Trauma” system to ensure the response time of < 5 minutes, although the target has not yet been achieved. This study is performed to determine factors associated with response time for severe trauma in ER CMH, which could be beneficial for system improvement. This is a retrospective study on severe trauma patients admitted to ER CMH from 2023-2024. Analysis performed towards patient, structure, and process factors. Among the 124 samples fulfilling the inclusion and exclusion criteria, most patients are adults, men, due to traffic injury, and had more than 1 injury. Patients generally came without Ambulance nor prehospital communication. Vital signs were mostly normal. Patients mostly came on the night shift, during a crowded ER, and received by an adequate number of ER staff. Only 51,6 % of patients were covered with insurance. Mean response time was 12 minutes and 42 seconds. Patients’ age, Ambulance transportation, initial heart rate, time of service by shift, and number of personnel are associated with response time for severe trauma in ER CMH. Response time for severe trauma is not associated with the outcome of critical care requirement or mortality.
Menurut survei kesehatan rumah tangga yang dilakukan pada 3 °/00 dari 213 jutajumlah penduduk di Indonesia saat ini, pertahurmya dilaporkan sebanyak 639.000 pasien pcnderita penyakit jantung koroner. Khusus di DKI Jaya dengan 12 juta penduduk, per tahunnya dilaporkan sebanyak 36.000 pasien jantung koroner. Bila 40% dari jumlah pcnderita penyakit jantung di DK1 Jakarta tersebut mcmerlukan terapi khusus, maka terdapat 10.000 pasien yang membutuhkan tindakan pengobatan baik dalam bentuk Percutanneous Trans Coronary Angioplasly ( P'I`CA ) atau operasi Coronary Artery Bypass Grajfng ( CABG ). Untuk memberikan pelayanan kcpada penderita jantung tersebut, RSCM sebagai Rumah Sakit Pemerintah terbesar dan mmah sakit rujukan nasional telah mcrcsmikan Unit Pclayanan Jantung Terpadu sebagai unit departemen baru yang khusus memberikan pelayanan kesehatan jantung dcngan tujuan untuk dapat memberikan pelayanan kcsehatan jantung bag semua lapisan masyarakat. Sesuai dengan visi dan misinya dalam memberikan pclayanan tersebut, maka diperlukan pengukuran atas kinerja PJ T dalam memberikan pelayanan kepada penderita jantung. Penelitian ini bertujuan untuk merancang pengukuran kinerja stratejik Pelayanan Janumg Terpadu (PJT) Rumah Sakit Cipro Mangkusurno (RSCM) dengan menggunakan pendekatan Balanced Scorecard (BSC). Metode _penelitian menggunakan analisis data sekunder atas kinerja PJT pada keempat perspektif BSC. Adapun hasil analisis tersebut adalah (1) PJT belum mcmiliki kelengkapan dalam keempat perspetif yang dapat diukur dengan menggunakan pendekatan BSC. Sehingga pengukuran yang disarnpaikan berdasarkan indikator yang ada pada pemyataan visi, misi dan nilai~nilai saja. Pada ketiga pernyataan tersebut belum pula didukxmg oleh dokumen pengukuran secara lengkap, seperti pada pendidikan, penelitian, rujukan dan kerjasama stratejik; (2) Kinerja PJT yang diukur pada keempat perspcktif didapatkan bahwa (a) pada perspektif keuangan PJT telah memiliki kinerja yang baik, karena tclah memiliki pertumbuhan pendapatan dan pencapaian target pendapatan yang direncanakan; (b) pada perspektif pelanggan, tingkat kepuasan pelanggan masih berada pada kinerja yang cukup saja., sehingga PJT perlu melakukan perbaikan atas layanan yang disampaikan, terutama kualitas layanan yang terbaik dengan tarif yang terjangkau; (c) pada perspektif internal proses, yang diukur dengan BTO, AVLOS, TOI, BOR, dan GDR, didapatkan bahwa PJT memiliki kinerja yang cukup baik, namun pengukuran kinerja tersebut bukan menjadi pemyataan stratejik PJT yang dituangkan ke dalam visi, misi dan nilai; (d) pada perspektif pertumbuhan dan pembelajaran, didapatkan tingkat kepuasan kerja karyawan yang masih berada pada sedang-sedang saja, sehingga PJT perlu melakukan perbaikan atas kesejahteraan dan fasilitas kerja dalam menunjang kepuasan kcrja. Atas dasar hasil tersebut, maka saran penelitian adalah: (1) PJT harus memperbaiki pemyataan stratejiknya, terutama pada visi dan misi, sehingga pencapaian visi dan misi dapat terukur prestasinya; (2) Pernyataan visi, misi dan nilai yang telah ada belum didukung atas indikator pencapaian kinerjanya, seperti: (a) Pemyataan rujukan, tidak didukung oleh adanya dokumen jumlah rujukan setiap bulannya; (b) Pemyataan menjadi pusat pendidikan, dan penelitian Iayanan kardiovaskuler, tidak didukung olch adanya dokumcn jumlah penelitian yang telah dilakukan setiap bulannya; (c) Kexjasama stratejik kcpada instansi Iain dalam kardiovaskuler, tidak didukung oleh adanya dokumen jumlah kerjasama stratejik yang lelah dilakukan
According to the result of survey about health conditions for household shown that 3% of 213 millions lndonesia?s population and about 639 thousands patients has coroner heart disease a year. DKI Jaya with 12 millions population has 36 thousands patients coroner heart disease. If 40% iiom those patients need special therapy, so 10.000 patients will need treatment in fomt of Percutanneous Tran Coronary Angioplasty (PTCA) or Coronary Artery Bypass Grafting surgery (CABG). in that case, for better service, RSCM which is the biggest government hospital and reference in nation had opened special division for coroner heart disease and will reach for all society. Due to point of view and mission, they need to take measure their PJT perfomiancc to give better services for heart disease patient. The purpose of this research to measure Pelayanan Jantung Terpadu (PJT) perfomiance using Balance Scorecard (BSC). This analytic method used secondary PJT data on four BSC viewpoints. 'l`he results are: 1. PJT doesn?t have all four viewpoints in order to use BSC approach. Hence, this research was using only point of view, mission, and value. On that three statements do not have complete documentation, such as trained, researched, referenced, and strategic cooperation. 2. PJT performance was using four viewpoint perspective showed : a. PJT finance has growth on revenue that they already have planned. b. On patient perspective, satisfaction level is still under target. So, PJT needs to make enhancement but on low cost. c. On internal process perspective, using BTO,AvLOS,TOL,BOR,and GDR indicated PJT has good perfomiance, but PJT did not use the statement point of view, mission, and value. d. On learning and growing perspective had showed low employee satisfaction, so PJT has to make revision for employee welfare and work facility to reach higher employee satisfaction. From the research that I made, therefore my suggestions are: 1. PJT has to make statement revision on point of view, mission, in order to reach higher performance. 2. Point of view, mission and value statement do not have performance indicator, such as: a. There are not sufficient supported of monthly reference statement. b. There are not supported by documentation of research which is already done each month for training, and cardiovascular services. c. There are not supported by completed documentation and or cooperation with other firm.
Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Kesehatan Nomor 21 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024, dengan Sasaran Program Terselenggaranya layanan 9 Penyakit Prioritas di rumah sakit pendidikan. Salah satu layanan penyakit prioritas tersebut yaitu, pelayanan penyakit jantung. Dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1965/2022 tentang rumah sakit jejaring pengampuan pelayanan kardiovaskuler, RSUD dr. M. Yunus Bengkulu yaitu rumah sakit umum daerah tipe B Pendidikan milik pemerintah provinsi Bengkulu, ditetapkan sebagai rumah sakit pengampuan pelayanan kardiovaskuler (Pelayanan Jantung Terpadu) dengan strata level utama. Mengingat tingginya kasus penyakit jantung selama beberapa tahun terakhir di Provinsi Bengkulu dan Pelayanan Jantung Terpadu (PJT) merupakan layanan yang baru yang dibangun di Provinsi Bengkulu dan menjadi rujukan tunggal khusus kasus kardiovaskular untuk wilayah Provinsi Bengkulu. Karena itu, harus dilakukan analisis kesiapan Penyelenggaraan PJT di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Subyek pada penelitian ini adalah data analisis hasil Direksi RSUD dr. M. Yunus Bengkulu dan stakeholder serta tenaga medis terkait penyelenggaraan Pelayanan Jantung Terpadu, juga analisis data dokumen internal sebagai pendukung. Hasil Penelitian : Kesiapan RSUD dr. M. Yunus Bengkulu dalam melaksanakan PJT sudah dalam kategori siap, karena telah memenuhi legal aspek antara lain dengan telah ditetapkannya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesias dan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia untuk mendukung Pelayanan Jantung Terpadu, Ketersediaan alokasi anggaran pada rencana strategis, komitmen pemerintah pusat, pemerintah daerah dan manajemen RSUD dr. M. Yunus Bengkulu, terpenuhinya dokumen perizinan rumah sakit, juga kesiapan pada aspek sumber daya manusia tenaga medis dan penunjang medis sebesar 79,76% (siap), pada aspek peralatan kesehatan sudah terpenuhi sebanyak 61, 9% (siap) dari sebagian besar peralatan kesehatannya, untuk alkes yang lain sedang dalam proses pengusulan DAK dan APBD tahun 2024, karena pada tahun ini anggaran untuk pengadaan alat-alat kesehatan tidak tercover oleh anggaran bersumber DAK maupun APBD. Kesimpulan RSUD dr. M. Yunus Bengkulu siap menyelenggarakan PJT. Kata Kunci: Kesiapan Rumah Sakit, Pelayanan Jantung Terpadu, PJT
With the enactment of Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 13 of 2022 concerning Amendments to Health Regulation Number 21 of 2020 concerning the Strategic Plan of the Ministry of Health for 2020-2024, with the Target Program for the Implementation of 9 Priority Disease services in teaching hospitals. One of the priority disease services is heart disease services. In the Decree of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number HK.01.07/MENKES/1965/2022 concerning cardiovascular service support network hospitals, RSUD dr. M. Yunus Bengkulu, namely the regional general hospital type B Education belonging to the Bengkulu provincial government, is designated as a cardiovascular service support hospital (Integrated Heart Service) with the main strata level. Given the high cases of heart disease over the past few years in Bengkulu Province and the Integrated Heart Service (PJT) is a new service that was built in Bengkulu Province and has become the sole reference for cardiovascular cases specifically for the Bengkulu Province area. Therefore, an analysis of the readiness of implementing PJT at RSUD dr. M. Yunus Bengkulu. Research Method : This research is a qualitative research. The subject of this study is data analysis on the results of the Board of Directors of RSUD dr. M. Yunus Bengkulu and stakeholders and medical personnel related to the implementation of integrated heart services, as well as internal document data analysis as a support. Research Results: Readiness of RSUD dr. M. Yunus Bengkulu in implementing PJT is in the ready category, because it has fulfilled legal aspects, including the enactment of the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia and the Decree of the Minister of Health of the Republic of Indonesia to support Integrated Heart Services, Availability of budget allocations on strategic plans, central government commitment, local government and management of RSUD dr. M. Yunus Bengkulu, the fulfillment of hospital licensing documents, as well as readiness in the human resources aspect of medical staff and medical support is 79.76% (ready), in the aspect of medical equipment 61.9% (ready) has been fulfilled, most of the equipment For other medical devices, they are in the process of proposing DAK and APBD for 2024, because this year the budget for procuring medical equipment is not covered by DAK or APBD sources. In conclusion, RSUD dr. M. Yunus Bengkulu is ready for integrated heart services. Keywords: Hospital Readiness, Integrated Cardiac Services, Cardiovaskular Center
Kata Kunci: FMS JCI , Implemetasi, Kebijakan, Pengelolaan B3.
