Ditemukan 39542 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab tcrhadap pembangunan kesehatan di wilayah ke|janya. Puskcsmas di Kabupaten Bireuen khususnya Puskcsmas Jeunieb sebagai pemberi pelayanan dasar bidang kesehatan kepada masyarakat dituntut untuk lebih proaktif dalam peningkatan produktivitas pegawainya, Masalah yang dihadapi dalam upaya peningkatan produktivitas di Puskesmas Jeunicb salah satunya adalah masih rendahnya penggunaan waktu produktif oleh petugas puskesmas. Dan masalah lersebut merupakan permasalahan yang sering terjadi pada puskesmas-puskesmas di Kabupaten Bireuen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang waktu produktif bagi pegawai dengan menggunakan desain penclitian pre-cksperimental yang dikerjakan secara observasional mengenai penggunaan waktu produktif dengan metode work sampling dilakukan di Puskesmas Jcunieb dengan jumlah obsevasi scbanyak 267 pada 22 pcgawai, dilaksanakan selama 20 hari pada bulan Januari 2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pcmanfaatan waktu produktif pcrtama scbelum pcnayangan sebcsar 44,6% dan pemanfaatan waktu produktif kedua scbcsar 48.7% dengan tcnggang waktu 18 hari. Hasil uji yang didapat p = 0,386 tidak ada hubungan yang signitikan antara pemanthatan waktu produktif pertama dengan waktu produktif kedua. Dari enam variabel konfonding, sebelum penayangan ada 2 variabel yang signifikan yaitu pendidikan p = 0,014 dan golongan/pangkat p = 0,040. Adapun sesudah penayangan ada 2 variabel yang signifikan yaitu jenis kelamin p = 0_002, dan golongan/pangkat p = 0,035. Variabel konfonding ini signiiikan terhadap pemanfaatan waktu produktif. Berdasarkan variabel unit kegiatan, presentase penggunaan waktu produktif dimana pada unit kegiatan poli penggunaan waktu produktif scbesar 40,9%, lebih kecil dibandingkan dengan unit kegiatan non poli yaitu sebesar 57,7% dengan nilai p = 0,00l. Dari hasil penelitian ini penayangan mempengaruhi pemanfaaian waktu produktif pada pcgawai Puskesmas Jeunieb, sehingga perlu dilakukan upaya-upaya diantaranya, mendesain pekerjaan yang lcbih baik bagi pegawai, uraian tugas yang jelas, memberikan monivasi pada pegawai, memperjelas reward dan punishment untuk seluruh karyawan. memberikan pendidikan dan pelalihan khusus untuk pegawai serta herikan umpan balik terhadap kinerja dan produktivitas pegawai. Kinerja dari petugas kesehatan sangal mempengaruhi dalam upaya peningkatan derajat kesehatan di wilayah kerjanya.
Society health center is technical executor unit on duty health of sub-province or town in charge to health development in region activity. Society health center in Bireuen Sub-Province specially Society health center in Jeunieb as giver to service base health area society claimed to be more proactive in improvement health technical productivity. Problem faced in the effort productivity improvement at Society health center in Jeunicb one of them is still lower him usage time productive by health technical at Society health center. And the problem often happened at Society health centers in Bireuen Sub-Province. This research aim to know about productive time for health technical. Design research are use pre-eksperimental with usage obsewasional regarding productive time with work sampling method conducted in Puskesmas Jeunieb. Obsevasi counted amount 267 at 22 health technicals, executed during 20 day in January 2008. Research result indicate that first productive time exploiting before displaying equal to 44,6% and exploiting of productive time after displaying equal to 48,7% with grace period 18 day. Result got test is p = 0,386 there no relation which isn°t it between exploiting of first productive time with second productive time. From six konfonding variable, before displaying there is 2 variable which isn't it that is education by p = 0,014 and faction/rank by p = 0,040. As for after displaying there is 2 variable which isn't it that is gender by p = 0,002, and faction/rank by p = 0,035. variable of counfonding this isn't it to exploiting of productive time. Pursuant to activity unit variable, presentase usage of productive time where at unit activity of poli usage of productive time equal to 40,9%, and for compared to activity unit is non poli that is equal to 5'l,7% with value by p = 0,00l. From this research result of displaying influence exploiting productive time at health technical of Society health center in Jeunieb, that require to be conducted by efforts among others, better work design to health technical, directional job description, giving motivation at health technical, reward and punishment clearly to entire/all employees, giving specialized training and education for health technical and also give feed back to health technical productivity and pertbrmance. Perfomance as a technical service unit has to be reaponsible for health development in its area.
Salah satu indikator puskesmas yang bermutu adalah apabila puskesmas dapat memberikan kepuasan kepada pasienya. Kepuasan pasien di puskesmas, khususnya di Poli KIA di Indonesia pada umumnya masih rendah, sehingga perlu ditingkatkan. Survei pendahuluan di Poll KIA Puskesmas Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, diketahui sebesar 27,5% pasien menyatakan tidak puas terhadap pelayanan Poll KIA.Tujuan penelitian ini adalah diperolehnya pengaruh pemaparan hasiI survei dalam peningkatan kepuasan pasien di Poli KIA Puskesmas Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan. Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen, dengan model kuasi eksperimen ulang non random, yang menggunakan tempat penelitian di Poli KIA Puskesmas Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan sebagai eksperimen, dan Poli KIA Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan sebagai kontrol.Penelitian ini menganalisis kepuasan pasien berdasarkan tingkat kesesuaian antara harapan dan pelaksanaan pelayanan yang diterima pasien, berdasarkan dimensi tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan emphaty. Kepuasan pasien terwujud apabila tingkat pelaksanaan pelayanan yang diterima pasien minimal sama dengan tingkat harapan pasien. Selanjutnya dianalisis dengan menggunakan diagram kartesius atau importance and performance analysis.Penelitian ini berlangsung dari tanggal 12 Februari sampai dengan tanggal 20 Juni 2002. Data diperoleh melalui kuesioner terstruktur dari pasien sebanyak 480 orang, yang terbagi dari dua puskesmas, masing-masing puskesmas dilakukan dua kali survei (pre dan post). Informasi dari kepala puskesmas, penanggung jawab Poli KIA dan staf Poli KIA diperoleh melalui wawancara mendalam tak terstruktur dan diskusi. Untuk melihat fenomena perubahan lingkungan yang terjadi dilakukan observasi. Hasil survei kepuasan pasien awal diumpanbalikan ke Puskesmas Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan melalui forum pertemuan resmi, sebagai bentuk intervensi dalam penelitian ini. Kepada Puskesmas Kecamatan Mampang, Jakarta Selatan, umpan balik disampaikan melalui laporan tertulis. Sekitar dua bulan kemudian dilakukan survei kembali untuk melihat pengaruh pamaparan tersebut. Data yang terkumpul diolah secara statistik dengan menggunakan perangkat komputer.Hasil penelitian pada survei kepuasan pasien awal di Poli KIA Puskesmas Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, diperoleh tujuh unsur yang tidak memuaskan pasien, sedangkan pada survei kepuasan pasien akhir hanya satu unsur yang tidak memuaskan pasien, yaitu kebersihan WC. Pada survei kepuasan pasien awal di Poli KIA Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, terdapat 6 unsur yang tidak memuaskan pasien, dan pada survei kepuasan pasien akhir diketahui 5 unsur yang tidak memuaskan pasien.Hasil lainnya, menunjukkan adanya perbedaan proporsi kepuasan pasien yang bermakna antara proporsi kepuasan pasien sebelum dan sesudah pemaparan hasil survei kepuasan pasien di Poli KIA Puskesmas Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, dengan p = 0,023, OR = 2,390 (CI: 1,166 - 4,898), dan terdapat perbedaan proporsi kepuasan pasien yang bermakna antara kepuasan pasien survei akhir di Poli KIA Puskesmas Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan dengan kepuasan pasien survei akhir di Poli KIA Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, dengan p = 0,016, OR 2,505 (CI: 1,226 - 5,118).Dari hasil penelitian ini disarankan agar dilaksanakan peningkatan kebersihan WC dengan cara optimalisasi tenaga cleaning service dalam mengontrol dan membersihkan WC, penggunaan WC terintegrasi antara petugas dan pasien, penempelan slogan kesebersihan WC, penyediaan sarana tempat sampah di sekitar WC. Pemantauan kepuasan dilanjutkan secara berkesinambungan dan diuji terapkan ke unit lain di lingkungan puskesmas, hasil pemantauan dipaparkan kepada seluruh staf puskesmas, Bagi Suku Dsinas Kesehatan Jakarta Selatan, dapat mereplikasikan survei kepuasan pasien ke puskesmas lainnya di wilayah Jakarta Selatan, dan hasil survei kepuasan pasien dipaparkan kepada pihak terkait. Daftar bacaan: 45 (1984 - 2001).
Influence of survey result exposure in enhanging patient satisfaction at mother and child health (KIA) policlinic in Cilandak sub-district community health center (puskesmas), South Jakarta, year 2002.One of the qualified community health center (puskesmas) indications is when the clinic can afford to provide patients satisfaction. As the patients satisfaction in the clinic especially at KIA policlinic, all over Indonesia is generally still low, there must be any increase in service. The preliminary survey at KIA polyclinic in community health center Cilandak, South Jakarta, found up to 27,5 % patients stated dissatisfied with the service.The aim of this research was to produce the influence of survey result explanation for the patients satisfaction at KIA polyclinic in community health center Cilandak, South Jakarta. This kind of research was non-random quasi experiment modeld, located at KIA polyclinic in community health center Cilandak, as the experiment, and in community health center Mampang Prapatan, South Jakarta as the control.This research analyzed the patients satisfaction based on appropriateness level between the expectation and the service performance among it's five dimentions the: tangible, reliability, responsiveness, assurance and emphaty. The satisfaction was fulfilled if the minimal gain of the service implementation level equals to the expected. Then, the cartesius depicted or importance and performance analysis.The research was conducted from February 12th up to June 20th, 2002. Data were collected from the structured questionnaire given to 480 patients in two local government clinics with in two periods of surveys (pre and post). The information from the clinic head and the responsible person from KIA polyclinic through indephtinterview were not in structure and the observation was done- to see the" on going environment chanbe phenomena. The first survey to the patients satisfaction was the feedback for community health center Cilandak, mainly the KIA polyclinic officers and head in formal meeting forum as the intervention. To see the influence of the exposure, the re-survey was held about two months later.From the initial research in community health center Cilandak, seven elements were dissatisfying the patients, meanwhile only one was found in the final namely the cleanliness of water closet. In community health center Mampang Prapatan, there were six elements in the beginning and five in the end. Another result indicated that there was statistically satisficated difference between patients satisfaction before and after the intervention = 0,023, OR = 2,390 (CI:1,166 - 4,898)}. Similar to the result mentioned above there was also statically satisficated difference between the final survey at KIA polyclinic in community health center Cilandak and community health center Mampang Prapatan = 0,016, OR = 2,505 (CI:1,226 -- 5,118)1.By this research, the implementation water closet cleanliness is suggested to be improved by means of optimizing the cleaning service men in order to control and clean it, integration between officers and patients in using the water closet, attachment of water closet slogan, provision of means of trash can around it. The satisfaction controlling was continuous and implemented to other units in the clinic environment, and its result was explained to the staff for the health service in community health center Cilandak, South Jakarta. For Suku Dinas Kesehatan Masyarakat, South Jakarta, it is suggested to replicate the patients stisfaction survey and the following intervention to other community health centers in South Jakarta.References: 45 (1984 -- 2001).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan peserta J PKM Surya Sumirat terhadap mutu pelayanan rawat jalan di RS Santo Borromeus sebelum dan sesudah pemaparan hasil survei kepuasan awal. Penelitian dilakukan bulan September - November 2005 di pelayanan rawat jalan RS Santo Borromeus Bandung (RS eksperimen) dan RS Santo Yusup Bandung (RS kontrol). Jenis penelitian ini adalah kuasi ekpserimen dengan model kuasi eksperimen ulang non random. Data sosiodemografi peserta yang dikaji meliputi usia, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan. Data kepuasan peserta dianalisis dengan diagram kartesius. Hasil survei awal diumpan balikan kepada RS eksperimen dalam bentuk pemaparan, scdangkan kepada RS kontrol dalarn bentuk laporan tertulis. Hasil penelitian menunjukan: adanya homogenitas karakteristik sosio demografi peserta di kedua rumah sakit pada variabel pendidikan, pekerjaan, umur dan pendapatan serta dalam tenggang waktu satu bulan setelah pcmaparan terjadi peningkatan kepuasan di RS eksperimen, dan pada di RS kontrol yang tidak diberikan intervensi pernaparan. Kepuasan pada survei awal di RS eksperimen sebesar 86% (O1), dan pada survei akhir sebesar 90% (O2). Di RS kontrol kepuasan pada survei awal sebesar 74% (O3), dan pada survei akhir sebesar 75% (O4). Hasil penelitian lainnya menunjukan di RS eksperimen pada survei awal, atribut kepuasan yang menjadi prioritas perbaikan adalah fasilitas ruang tunggu dan jaminan pengobatan, sedangkan pada survei akhir adalah jaminan pengobatan, fasilitas ruang tunggu, keramahan petugas pendaftaran dan waktu tunggu pemeriksaan.
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir ISPA terutama pneumonia masih merupakan penyumbang terbesar dalam kejadian kematian bayi di Indonesia pada umumnya dan di Kabupaten Sumedang khususnya. Hasil penelitian Depkes tahun 1997 menunjukkan penatalaksanaan kasus ISPA yang tepat dapat mencegah secara efektif sekitar 60-80 % kematian akibat pneumonia. Keadaan ini menjadi titik tolak Depkes untuk mengintensifkan program penanggulangan penyakit ISPA dengan salah satu program prioritasnya adalah meningkatkan kemampuan petugas dalam manajemen penatalaksanaan penyakit ISPA pada bayi yang dititikberatkan pada kepatuhan dalam pelaksanaan SOP ISPA. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh pelatihan terhadap tingkat kepatuhan petugas dalam pelaksanaan SOP ISPA dan dampaknya kepada kepuasan ibu bayi setelah memperoleh pelayanan oleh bidan di puskesmas.Pendekatan penelitian adalah quasi experimental dan panel survey non equivalent group design. Ada dua sampel penelitian. Kelompok pertama yaitu 10 orang bidan puskesmas di wilayah bekas Pembantu Bupati Darmaraja dan Tanjungsari Kabupaten Sumedang yang diukur kepatuhan dalam pelaksanaan SOP ISPA sebelum dan sesudah pelatihan. Kelompok kedua adalah 110 ibu bayi yang membawa bayinya berobat ke puskesmas di lokasi yang sama dengan keluhan batuk/sesak. Tingkat kepuasannya diukur setelah memperoleh pelayanan. Kelompok kontrol dengan jumlah bidan dan ibu bayi yang sama di 10 puskesmas pada wilayah bekas Pembantu Bupati Kota dan Congeang di Kabupaten Sumedang. Tingkat kepatuhan bidan dalam pelaksanaan SOP ISPA dianalisa secara univariat untuk menilai distribusi frekuensi dan besarnya proporsi diantara sampel. Sedangkan Mc Nemar test dipergunakan untuk menilai pengaruh pelatihan terhadap tingkat kepatuhan.Hasil analisa statistik menunjukkan rata-rata skor kepatuhan Bidan dalam pelaksanaan SOP ISPA dan skor kepuasan ibu bayi sebelum pelatihan pada kedua kelompok dalam keadaan setara. Dengan uji Mc Nemar menunjukkan bahwa kepatuhan sesudah pelatihan meningkat pada kelompok intervensi (p = 0,0001 dan OR = 5,8). Terdapat perbedaan proporsi tingkat kepuasan ibu bayi sebelum dan sesudah Bidan mendapat pelatihan (p = 0,028) dan ada hubungan yang bermakna antara tingkat kepatuhan Bidan dengan kepuasan ibu bayi (p = 0,018). Kesimpulan yang didapat, Bidan pada kelompok intervensi yang mendapat pelatihan manajemen penatalaksanaan ISPA mempunyai peningkatan skor kepatuhan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang tidak mendapat pelatihan. Ibu bayi yang dilayani oleh Bidan pada kelompok intervensi mempunyai skor kepuasan lebih tinggi dibandingkan ibu bayi yang dilayani Bidan yang tidak mendapat pelatihan manajemen penatalaksanaan ISPA.
The Influence or Acute Respiratory Infection Management Training for Midwives of Community Health Centers and Its Impact on Baby Mothers' Satisfaction in Sumedang District, 2001/2002In the last five years acute respiratory infection (ARI) disease especially pneumonia has been the main contributor for the death of babies in Indonesia in general and in Sumedang District in particular. Data of Indonesian Ministry of Health research in 1997 showed that the appropriate management to handle ARI cases could effectively reduce the death of babies from pneumonia by 60 to 80 %. This data has been assigned as a basis to intensify the program of preventing AFT. One of the priorities of the program is to improve the capability of health providers in managing ARI prevention for babies emphasized on the health providers' compliance with conducting SOP of ARI.This research is aimed to investigate the influence of training on the degree of health providers' compliance with conducting SOP of ARI and its impact on baby mothers' satisfaction on the quality of services from the community health centers' midwives.This research employs quasi experimental and panel survey non equivalent group design. There were two groups of samples. The first group was 10 community health centers' midwives in the former region of Darmaraja and Tanjungsari Regent Assistant in Sumedang District who were measured their degree of compliance with managing ARI before and after they had been trained. The second group was 110 baby mothers who visited community health centers in the same place with coughs and short-winded complaints. Their satisfactions of the service quality were measured. The control group samples were the same number of midwives and baby mothers in 10 community health centers in the former regions of Sumedang City dan Congeang Regent Assistant in Sumedang District. The midwives' compliance with ARI management was subjected to univariate analysis to determine frequency distribution and proportion compliance among them. Further, Mc Nemar test was applied to determine whether or not the training influenced the degree of compliance.Statistical analysis showed that, before the training, the average score of both midwives' compliance with conducting SOP of ARI and the baby mothers' satisfaction was equal. By Mc Nemar test, the data revealed that the degree of compliance had improved after they had been trained in the experimental group (p = 0.0001 and OR = 5.8). Furthermore, there was a different proportion of the degree of baby mothers' satisfaction before and after the midwives had been trained (p = 0.028). The degree of midwives' compliance is significant associated with the baby mothers' satisfaction (p = 0.018). It is concluded that the midwives from the experimental group who had been trained on ARI management have higher score of compliance than those who had not been trained. Accordingly, the baby mothers who received health services from the trained midwives have higher score of satisfaction than those who were served by the untrained midwives on ARI management.
