Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35225 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Marfu`ah; Endah Wuryaningsih; Penguji: Luknis Sabri, Rina Anggorodi, Noer Qoryati Hanun, Kunandar
Abstrak:

Menstruasi adalah terjadinya perdarahan melalui vagina yang bersifat fisiologis karena terkelupasnya lapisan endometrium dari dinding rahim. Pada siklus menstruasi endometrium dipersiapkan secara teratur untuk menerima ovum yang telah dibuahi setelah terjadi ovulasi, dibawah pengaruh secara ritmik hormon-hormon ovarium yaitu estrogen dan progesteron. Menstruasi bagi sebagian anak merupakan pengalaman psikis yang traumatis. Perasaan yang negatif dapat menyebabkan perasaan sangat lemah karena merasa kehilangan banyak darah sehingga timbul perasaan rendah diri atau merasa sakitsakitan, malu karena masih kecil sudah mendapat menstruasi dan adanya kecemasan dan takut darah menstruasi tembus ke pakaiannya sehingga anak tidak berani keluar rumah. Penelitian ini dilakukan untuk mendapat gambaran pengetahuan dan perilaku mengenai menstruasi pada siswi kelas 1 di SMPN 1 dan MTs Al-Furqon Kecamatan Kragilan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode diskusi kelompok terarah dan wawancara mendalam. Sumber informasi adalah siswi kelas 1 yang sudah menstruasi, ibu, guru IPA/biologi, guru agama serta guru bimbingan dan konseling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan siswi tentang menstruasi dan menjaga kebersihan diri cukup baik, namun demikian pengetahuan mengenai organ reproduksi dan fungsinya belum diketahui oleh siswi secara lengkap. Perilaku siswi dalam pencarian informasi yang berkaitan dengan menstruasi cukup bagus namun hanya seputar informasi keagamaan saja. Perilaku pencarian informasi mengenai menstruasi dari segi kesehatan masih sangat kurang. Peranan orang tua dan guru di kedua sekolah sudah menunjukkan fungsinya sebagai pendidik, pembimbing dan pengawas bagi anak. Meski demikian peranan sebagai pemberi informasi seputar kesehatan menstruasi dirasa masih sangat kurang, baik informasi dari ibu maupun dari guru di sekolah. Peranan teman sebaya masih sangat kurang dalam hal pemberian informasi tentang menstruasi. Sumber informasi khususnya media cetak yaitu majalah atau bukubuku dan media elektronik yaitu televisi belum dapat sepenuhnya menyampaikan informasi yang bermanfaat untuk anak yang berkaitan dengan menstruasi. Khusus majalah dan buku-buku tentang kesehatan dan menstruasi khususnya bagi masyarakat awam belum dapat terjangkau sehingga anak tidak mendapatkan informasi yang cukup dari sumber ini. Pada akhirnya peranan ibu, guru dan sekolah perlu ditingkatkan dalam memberikan pengetahuan tentang menstruasi bukan hanya pengetahuan seputar agama tetapi juga pengetahuan seputar kesehatan organ reproduksi khususnya menstruasi. Komunikasi perlu dijalin lebih intensif agar adanya keterbukaan pada anak sehingga anak dapat mempersiapkan fisik dan mentalnya dalam menghadapi masalah yang timbul berkaitan dengan menstruasi.


Menstruating the happening of blood passing vagina having the character of physiological because abrading of coat endometrium from gracious wall. cycle menstruate the endometrium drawn up regularly to accept the ovum which fruit have after happened the ovulasi, below influence by ritmik ovary hormone that is estrogen and progesteron. Menstruate for some of child represent the traumatic psychical experience. Negative feeling can cause the feeling very weak because feeling loss a lot of blood so that arise the low feeling themself or feel sickly, lose face because minimize have got to menstruate and existence of dread and fear the blood menstruate to penetrate its clothes so that child not dare to go out house. This research is conducted to get the knowledge picture and behavioral hit to menstruate at class 1 schoolgirl in SMPN 1 and MTS Al-Furqon of Subdistrict Kragilan. Data collecting conducted with the directional group discussion method and circumstantial interview. Information source is class schoolgirl 1 menstruate the, mother, learn the IPA / biological, religion teacher and learn the tuition and konseling. The Result of research indicate that the schoolgirl knowledge of about menstruating and keep cleaning good enough x'self, but that way knowledge of concerning organ reproduce and its function for themself not yet been known by schoolgirl completely. Schoolgirl behavior in information seeking of related to menstruating enough nicely but only in around just religious information. behavior of information Seeking hit to menstruate from health facet still very less. Learn in second school have shown its function as educator, counsellor and supervisor for child. Still role as information giver around health menstruate felt still very less, information goodness from mother and also from teacher at school. Friend role coeval still very less in the case of information gift about menstruating. Information source specially media print that is magazine or book and electronic media that is television not yet earned full submit the worthwhile information for the child of related to menstruating. magazine and book about health and menstruate specially for civil society not yet earned reached so that child not get the information which enough from this source. In the end mother role, teacher and school require to be improved in giving knowledge of about menstruating not merely knowledge in around religion but also knowledge in around organ health reproduce specially menstruate the. Communications require to be braided more intensive to be existence of openness child so that child can draw up the physical and bounce it in face of problem arising out go together to menstruate.

Read More
T-2905
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elis Kantiah; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: R. Sutiawan, Refi Dumesty
S-8913
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahdania Ayuni; Pembimbing: Besral; Penguji: Popy Yuniar, Julie Rostina
Abstrak:
Masa remaja putri pada anak sekolah telah dikenal sebagai masa khusus dalam kehidupannya yang memerlukan perhatian, terutama pada saat menstruasi. Kurangnya pengetahuan, akses terbatas pada fasilitas sanitasi yang layak, stigma seputar menstruasi, dan kondisi sanitasi yang buruk secara umum dapat menghambat manajemen kebersihan menstruasi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi praktik manajemen kebersihan menstruasi pada siswi SMP dan MTS di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 205 siswi kelas 7 dan 8, yang dipilih secara acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswi memiliki praktik manajemen kebersihan menstruasi yang kurang baik. Analisis bivariat mengungkapkan hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan praktik kebersihan menstruasi (p=0,047; OR=2,512). Namun, faktor lain seperti sikap, kepercayaan, ketersediaan pembalut, dan dukungan guru tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini menyoroti pentingnya peningkatan edukasi kesehatan reproduksi dan penyediaan fasilitas kebersihan yang memadai di sekolah untuk mendukung praktik kebersihan menstruasi yang lebih baik.

The adolescent phase for school-aged girls is recognized as a critical period in their lives that requires special attention, particularly during menstruation. A lack of knowledge, limited access to proper sanitation facilities, stigma surrounding menstruation, and generally poor sanitation conditions can hinder effective menstrual hygiene management.This study aims to analyze the factors influencing menstrual hygiene management practices among junior high school and Islamic school (MTS) students in Tanjung Priok District, North Jakarta. The research employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 205 female students from grades 7 and 8, randomly selected from several schools in the area. Data were collected using a structured questionnaire covering predisposing factors (knowledge, attitudes, and beliefs), enabling factors (availability of sanitary pads, school sanitation facilities, and information exposure), and reinforcing factors (peer and teacher support). The findings revealed that the majority of students had poor menstrual hygiene management practices. Bivariate analysis showed a significant relationship between knowledge levels and menstrual hygiene practices (p=0.047; OR=2.512). However, other factors such as attitudes, beliefs, availability of sanitary pads, and teacher support did not show significant associations. These findings underscore the importance of enhancing reproductive health education and providing adequate sanitation facilities in schools to promote better menstrual hygiene management practices.
Read More
S-11869
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Aryati; Pemb. Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Toha Muhaimin, Nina Manarosana, Ahmad Yamin
T-2648
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anestia Wardhani; Pembimbing: Ella Nurlela Hadi; Penguji: Ahmad Syafiq, Syaefuddin
S-5500
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Herlyssa; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Asri C. Adisasmita, Agustin Kusumayati, Noer Qoryati Hanun, Rus Martini
Abstrak:

Tesis ini membahas pengetahuan ibu tentang  tanda bahaya pada bayi baru lahir menurut kunjungan neonatal 1 dan karakteristik ibu lainnya di Kecamatan Kramat Watu Kabupaten Serang Provinsi Banten. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan cros-sectional berupa rapid survey pada 210 ibu yang memiliki bayi berumur 7 hr s/d ≤ 12 bulan. Pengambilan sampel dengan rancangan klaster dua tahap secara probability proportionate to size (pps).  Hasil penelitian, 55,7% responden memiliki pengetahuan yang kurang dan 44,3% memiliki pengetahuan baik. Responden yang mampu menyebutkan minimal dua tanda bahaya pada BBL hanya sebesar 41,4%, dan yang mampu menyebutkan tiga tanda bahaya pada BBL hanya sebesar 14,8%. Penelitian  menunjukkan adanya perbedaan distribusi antara Kunjungan neonatal 1, umur, pendidikan, pekerjaan, tempat persalinan, penolong persalinan, keterpaparan informasi melalui tenaga kesehatan, kegiatan sosial dan media komunikasi dengan pengetahuan tentang tanda bahaya BBL.  Hasil penelitian menyarankan bahwa bidan di  Kecamatan Kramat yang melakukan kunjungan neonatal 1 pada semua ibu yang melahirkan di rumah,  baik yang bersalin oleh bidan atau dukun, memberikan nasehat tanda bahaya pada BBL terutama pada ibu yang berpendidikan rendah, menggunakan posyandu dan buku KIA sebagai media informasi dan pihak kecamatan Kramat Watu dan Dinas Kabupaten Serang perlu bekerja sama dengan media televisi dalam memberikan informasi kepada masyarakat tentang tanda bahaya pada bayi baru  lahir khususnya melalui acara sinetron, film dan kesehatan. Kata kunci: Pengetahuan, kunjungan neonatal 1, karakteristik ibu, riwayat kesehatan neonatal  dan keterpaparan informasi.


 This thesis discusses the knowledge mother about danger signs in newborn according to neonatal visit 1 and the characteristics of maternal in the District Kramat Watu Serang Banten Province. This study is a cross sectional descriptive study of rapid survey of 210 mothers with babies aged 7 hr to ≤12 months. The samples with two-stage cluster design by probability proportionate to size (pps). The results, 55.7% of respondents had low knowledge and 44.3% had high knowledge. Respondent  who know  at least two newborn danger sign only 41,4% and who know  at least three  newborn danger sign only 14,8%. Research shows the differences in distribution between neonatal visit 1, age, education,  job, place of delivery, birth attendants, previous neonatal health record and exposure information through health workers, social actvity and media communication with knowledge mother about danger signs in newborn. The study suggest that midwives in the District Kramat neonatal visit 1 in all mothers who birth at home, whether by birth or tradisional birth attendants (TBA), give counseling about newborn danger sign to risk mother, age mother of

Read More
T-3400
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Fauziah; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Helda, Ni Made Jendri
S-8192
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noer Qoryati Hanun; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Farida Mutiarawati Tri A, Asep Nugrahajaya, Magda Mina Puteri
T-2584
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yenny Sianturi; Pembimbing: HE. Kusdinar Achmad; Penguji:
Abstrak:
Dewasa ini anak perempuan cenderung mendapat menstruasi pada usia yang lebih muda. Dengan semakin dininya mendapat menstruasi akan memberi konsekuensi menyiapkan mereka tentang pengetahuan yang adekuat terkait dengan menstruasi dan implikasinya juga harus lebih dini. Banyak faktor yang dianggap berhubungan dengan pengetahuan tentang menstruasi pada siswi kelas IV, V dan VI SD yang pada umumnya usianya antara 9 - 13 tahun dan sedang berada pada tahap usia sekolah dan masa remaja awal yang memiliki tahap berpikir operasional konkrit dan operasional formal. Faktor tersebut diantaranya adalah dari dirinya yaitu usia dan paparan informasi dari keluarga dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai faktor apa saja yang berhubungan secara bermakna dan faktor yang paling bermakna terhadap pengetahuan tentang menstruasi pada siswi kelas IV, V dan VI SDN di Keeamatan Cakung Kotamadya Jakarta Timur. Disain penelitian ini adalah potong lintang (cross sectional) dengan populasi adalah siswi kelas IV, V dan VI dari 88 SDN. Sampel diambil dengan metoda gugus bertahap dan acak sederhana dengan besar sampel 441, dihitung menggunakan rumus estimasi proporsi. Pengumpulan data dengan cara survey dengan menggunakan kuesioner. Analisis statistik menggunakan Chi-Square dan Multiple Regressi Logistic. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pengetahuan tentang menstruasi masih rendah yakni hanya 45,1% responden yang memiliki pengetahuan baik (di atas atau sama dengan nilai rata-rata). Faktor yang berhubungan secara signifikan pada a = 0,05 adalah usia anak, pendidikan ibu dan keterpaparan informasi dan faktor yang paling dominan adalah pendidikan ibu dengan Odd Ratio : 3,847. Berdasarkan hasil penelitian ini perlu adanya pendidikan seksualitas terutama menyangkut menstruasi dengan segala implikasinya dilakukan secara tepat dan komprehensif baik oleh orang tua maupun oleh pendidik.

The Relation Factors with Menstruation Concerning at 4,5,and 6`h Class Female Student Country Elementary School in Cakung District, Municipality of East Jakarta, 2000-2001's Academic Year At the present time, girls usually get menstruation at the age of early teenage. The earlier menstruation they have the early preparation of adequate information about menstruation and implication of it should be delivered. There are many factors that assumed having relation in menstruation knowledge to the 4, 5,and 6th class female student of elementary school generally in age ranch between 9-13 years old where they were in the school and in first adolescent era whom which have the concrete and formal thinking phase. One of factors upon mentioned is their-own-self, namely age and explanation of the information from their family and environment. This research purposed to obtain the information concerning what the related significant factors, and what the most significant factors can be used in menstruation knowledge for the 4,5, and 6th class female student of Country Elementary School in Cakung District, East Jakarta Municipality. This research design is cross sectional by the sample are 4,5,61 female student population from 88 Country Elementary Schools. The sample has taken through cluster in stage and simply random methods with used the 441 samples, and has accounted by the proportion estimate formula in used. Data collection did in survey manner with use the questioner. Whereas, for the Statistic analyzing has been accounted by the formula of Chi-Square and Multiple Regression Logistic. The study results is to expression that the menstruation knowledge is still lower than expected, where only 45,1 % of the respondents who having good knowledge in this context (upper and or equal than average point). The factor which related significantly on cx = 0,05 are daughter years old, mother educational, transparency of the information, and the most dominant variable, is the mother educational which is shown on Odd Ratio = 3,847. Based on this study feels needed an sexuality education primarily concerning in menstruation included all of its implication, which have to in accurate and comprehensive handling, both by the parents and the educators.
Read More
T-903
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ema Maratus Sholihah A.; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Hadi Pratomo, Rita Damayanti, Syafriyal
Abstrak: ABSTRAK Latarbelakang:Tidak tercapainya target imunisasi Hepatitis B di Desa Cerukcuk Kecamatan Tanara dan adanya orangtua yang menolak imunisasi maka penting untuk mengetahui penyebab orangtua menolak imunisasi Hepatitis B. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab orangtua menolak imunisasi hepatitis B dengan memodivikasi determinan Vaccine Hesitancy dan Health Belief Model . Metode: penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mewawancara ibu dengan bayi usia 0-3 bulan yang menolak imunisasi Hepatitis B dan melakukan observasi pada pelayanan imunisasi. Hasil: perilaku orangtua yang menolak imunisasi hepatitis B disebabkan karena pengetahuan yang rendah tentang penyakit Hepatitis B dan imunisasinya, persepsi orangtua tentang hambatan melakukan imunisasi yang lebih besar dibanding manfaatnya, besarnya peran dukun, pengaruh pengambilan keputusan oleh keluarga, masih adanya kepercayaan pada pengobatan tradisional, adanya pengalaman tidak menyenangkan terkait imunisasi, sosial ekonomi yang rendah, peran tenaga kesehatan yang belum maksimal dalam pemberian informasi imunisasi, serta peran masyarakat yang kurang dalam mendukung iunisasi. Kesimpulan: peningkatan pengetahuan orangtua tentang penyakit hepatitis B dan imunisasinya perlu ditingkatkan didahului dengan pendekatan oleh tenaga kesehatan bekerjasama dengan dengan tokoh agama dan dukun melalui kegiatan-kegiatan non kesehatan dan kunjungan rumah untuk komunikasi interpersonal dan edukasi imunisasi.. Kata kunci: Penolakan imunisasi, keraguan terhadap imunisasi, hepatitis B, penggerakan masyarakat existence of parents who refused immunization so it is important to know the cause of the parents refused immunization Hepatitis B. This study aims to identify the cause of parents reject hepatitis B immunization by modifying the determinants of vaccine hesitancy and Health Belief Model . Method: This study used qualitative methods by interviewing mothers with infants aged 0-3 months who rejected hepatitis B immunization and observed immunization services. Results: the behavior of parents who reject hepatitis B immunization is due to poor parental knowledge about Hepatitis B disease and its immunization, parental perception of immunization constraints greater than the benefits, the magnitude of the dukun's role, the influence of family decision-making, the belief in traditional medicine, discomfort related to immunization, low social economy, the role of health workers who have not been maximized in providing immunization information, as well as the role of people who lack support in iunisasi. Conclusions: Increased parental knowledge about hepatitis B disease and its immunization needs to be increased preceded by approaches by health workers in collaboration with religious leaders and traditional healers through non-health activities and home visits for interpersonal communication and immunization education Keywords: Refused immunization, vaccine hesitancy,communication, hepatitis B, social mobilitation
Read More
T-5402
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive