Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31717 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sarikasih Harefa; Pembimbign: Ratna Djuwita; Penguji: Nurhayati Prihartono, Lukman Hakim Tarigan, Asima Herna Dewi S, Hera Nurlila
Abstrak:

ABSTRAK Latar Belakang : Kurang gizi masih menjadi masalah utama yang dihadapi dunia. Setiap tahunnya sekitar 55.000 orang meninggal karena kurang gizi. Dan dua per tiga dari jumlah yang meninggal ini adalah anak-anak. Di negara-negara berkembang, kontribusi kurang gizi terhadap kematian anak balita yang berhubungan penyakit infeksi meneapai 53%. Anak yang kurang gizi cenderung lebih rentan terhadap penyakit infeksi baik dalam hal jumlah kejadian (misalnya insidens) maupun durasi setiap kejadian penyakit Tahun 2006, jumlah penderita gizi buruk mengalami peningkatan dati tahun sebelumnya. Jumlah balita gizi buruk di Indonesia, menurut laporan UNICEF 2006 meningkat dari 1,8 juta pada tahun 200412005 menjadi 2,3 juta jiwa Peningkatan balita gizi buruk ini tentulah sangat mengkhawatirkan, karena depat menyebabkan "lost Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan quasi eksperimen pre-post test dengan jumlah sampel 114 yang terdiri dari 60 balita yang menerimn intervensi PMT-P dan 54 balita yang menerima konseling gizi. Untuk menguji hipotesis digwtukan uji t-test dan anova. Analisa multivariat dengan Analisis Regress!Berganda. Hasil: Hasil uji ststistik menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara Zsrore balila gizi buruk sebelum dan sesudah mendapatkan intervensi. Konseling gizi berhasil meningkatkan Zscore belita gizi buruk sebesar 0.2237. Pemberian PMT- berhasil meningkatkan Zscore balita gizi blll1lk sebesar 0.2181. Untuk kelompok konseling, faktor-faktor yang mempengarohi peningkatan Zscore balita gizi blll1lk adalah status gizi {Zscore) balita di awal penelitian. Sedangkan untuk kelompok PMT-P, adalah umur analk, dan umur balita disapih. Kesimpulan : Setelah intervensi, prevalensi gizi buruk turon 38,6%. Darl kelompok konseling, prevalensi balita gizi buruk turun 50,0%, sedangkan prevalensi gizi buruk pada kelompok PMT-P turun 28,3%. Pada kelompok PMT-P juga ditemukan balita yang meningkat statusnya menjadi gizi balk. Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan Zscore balita gizi buruk adalah status gizi {Zscore) balita di awal penelitiaa (konseling), umur anak, dan umur balita disapih {PMT-P).


Background : Poor nutrition still become prior problem in the world. Every year, about 55.000 people die due to malnutrition. And 2 out of3 death was children. Poor nutrition contributes to 1 out of2 death (53%) associated with infections diseases among children aged under five in developing country. Children with malnutrition more vulnerable to infection, both incidens and duration of diseases. In 2006, the number of malnutrition increased than in 2005. Unicef(2006) reports, the malnutrition children aged under five increased from I ,8 million in 2004/2005 to 2,3 million in 2006. This increasing was very concerned, leads to "lost generation". One of program conduct by government to care of children with malnutrition was nutritional intervention (supplementation). To cure dan care of malnutrition children, was conduct food supplementation breastfeeding for Methods : This research conduct quasi experiment design with pre-post test. The number of sample was 114 children, contain of 60 children in the food supplementation group and 54 children in the counseling group. For testing the hypothesis was conduct t-test dan one-way anova. Multivariat analysis with Multiple Linier Regression Analysis. Result : There is significant differences between Zscore weight for aged of under five chidren with malnutrition at the pre intervention and post intervention. Counseling program increased Zscore weight for aged of underfive chidren about 0,2237 SD. Food supplementation program increased Zscore weight for aged of underfive chidren about 0,2181 SD. In the counseling group, the factors related to the increasing Zscore weight for aged of underfive children malnutrition is the nutrition statue of children at the begining of intervention. In the food supplementation group, the factors is the children's aged and the children's aged while weaning. Summary : After intervention program, malnutrition prevalence decreased 38,6%. In the counseling group, prevalence decreased 50,0%, While in the food supplementation group prevalence decreased 28,3%. In the food supplementation group also found a child with nonnal statue. In the counseling group, the factors related to the increasing Zscore weight for aged of underfive children malnutrition is the nutrition statue of children at the beginning of intervention. In the food supplementation group, the factors is the children's aged and the children's aged while weaning.

Read More
T-2923
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Herlina Hutagalung; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Puji Wahyuni, Asih Setiarini
S-7462
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Devita Ariestiana Prabowo; Pembimbing: Nurhyati Adnan; Penguji: Helda, Dewi Damayanti
S-8297
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Marlysawati; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Helda; Helwiah Umniyanti; Rizky Hasby
Abstrak:

Penilaian kualitas hidup merupakan kunci dalam memahami dampak AIDS terhadap kehidupan orang yang hidup dengan HIV&AIDS. Orang dengan HIV menjadi rentan terhadap masalah kesehatan, ekonomi dan psikososial yang dapat mempengaruhi kualitas hidupnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup ODHIV. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan teknik Consecutive Sampling terpilih 102 orang responden di 3 Yayasan Kota Kupang yang berusia ≥18 tahun, telah menjalani terapi ARV >1 bulan dan bersedia menjadi responden. Penelitian dilakukan pada bulan November – Desember 2023. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Analisis data yang dilakukan adalah analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat menggunakan uji cox regression. Hasil bivariat menunjukan ada hubungan yang signifikan antara depresi (p=0,007; PR= 1,742; 95%CI 1,136 – 2,669), dukungan sosial (p=0,003; PR=1,707; 95%CI 1,210 – 2,407) dan dukungan sebaya (p=0,000; PR=2,380; 95%CI 1,423 – 3,980) dengan kualitas hidup ODHIV sedangkan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, status pekerjaan, tingkat pendapatan, stigma, lama terapi ARV tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup ODHIV. Berdasarkan uji mulitivariat faktor yang paling dominan mempengaruhi kualitas hidup ODHIV adalah dukungan sebaya (p=0,018; PR=2,15; 95%CI 1,14 – 4,08). Kata Kunci: HIV&AIDS, kualitas hidup, ODHIV.


 

Quality of life assessment is key in understanding the impact of HIV&AIDS on the lives of people living with HIV&AIDS. People with HIV become vulnerable to health, economic and psychosocial problems that can affect their quality of life. The aim of this research is to analyze the factors that influence the quality of life of PLHIV. This research used a cross sectional study design with Consecutive Sampling technique, selecting 102 respondents from 3 Yayasan Kota Kupang aged ≥18 years who had undergone ARV therapy for >1 month and were willing to be respondents. The research was conducted in November – December 2023. The instrument used in this research was a questionnaire. The data analysis carried out was bivariate analysis using the chi-square test and multivariate analysis using the cox regression test. The research results showed that there was a significant relationship between depression (p=0,007; PR= 1,742; 95%CI 1,136 – 2,669), social support (p=0,003; PR=1,707; 95%CI 1,210 – 2,407), peer support (p=0,000; PR=2,380; 95%CI 1,423 – 3,980) with quality of life for PLHIV, meanwhile, age, gender, education level, marital status, employment status, income level, stigma, duration of ARV therapy do not have a significant relationship with the quality of life of PLHIV. The most dominant factor in the quality of life of PLHIV is peer support PR=2.15 (95%CI 1.14 – 4.08). Key words: HIV&AIDS, quality of life, PLHIV

Read More
T-6879
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dede Mulyadi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Adang Bachtiar
Abstrak:
Krisis ekonomi yang berkepanjangan telah mengakibatkan meningkatnya jumlah penduduk miskin dan menurunnya berbagai indikator kesehatan, diantaranya meningkatnya insidens Kurang Energi Protein (KEP) terutama pada bayi dan anak. Situasi tersebut berakibat pada menurunnya status gizi masyarakat terutama pada kelompok usia 6 - 23 bulan dan meningkatnya prevalensi gizi buruk. Peningkatan angka kejadian balita gizi buruk akibat krisis ekonomi memicu peningkatan angka kesakitan penyakit-penyakit infeksi pada kelompok usia tersebut karena daya tahan tubuh yang rendah mengakibatkan balita menjadi kelompok rentan penyakit. Salah satu penyakit yang panting untuk diwaspadai pada kelompok balita gizi buruk adalah penyakit TBC paru karena angka kesakitan penyakit tersebut pada usia dewasa produktif masih cukup tinggi terutama dari kelompok masyarakat ekonomi lemah sebagai sumber penularan pada kelompok balita gizi buruk yang banyak terdapat pada kelompok masyarakat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TBC Paru pada balita berstatus gizi buruk di Kota Bogor tahun 2003. Desain penelitian yang digunakan adalah desain kasus kontrol dengan jumlah sampel sebanyak 200 balita yang terdiri dari 50 balita gizi buruk penderita TBC sebagai kasus dan 150 balita gizi buruk non penderita TBC sebagai kontrol. Data penelitian terdiri dari data sekunder yang diperoleh dengan cara observasi dokumen dan data primer yang diperoleh dengan cara wawancara dan pengukuran. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan uji Chi Square dan analisis regresi logistik untuk mengetahui hubungan faktor risiko dengan kejadian TBC Paru pada balita gizi buruk. Hasil Uji Kai Square menunjukkan bahwa terdapat 5 (lima) variabel yang berhubungan bermakna secara statistik dengan kejadian TBC Paru balita gizi buruk yaitu Penderita TBC serumah, kelembaban kamar, kelembaban ruang keluarga, pencahayaan kamar dan pencahayan ruang keluarga sedangkan berdasarkan hasil analisis regresi logistik diketahui bahwa variabel perilaku merupakan variabel yang dominan berhubungan dengan kejadian TBC paru pada balita gizi buruk di Kota Bogor tahun 2003 (OR = 10,99). Dari hasil pemodelan variabel penelitian diketahui pula bahwa balita gizi buruk dengan faktor risiko tinggal di rumah yang kelembabannya tidak memenuhi syarat dan tinggal dengan penderita TBC Paru berperilaku tidak sehat mempunyai probabilitas terkena penyakit TBC Paru sebesar 85% dibandingkan dengan balita gizi buruk yang tidak memiliki faktor risiko tersebut. Saran yang diajukan berdasarkan hasil penelitian ini adalah peningkatan kegiatan pengobatan penderita TBC Paru serta pencegahan penderita putus berobat dengan menggunakan strategi DOTS dan pembentukan PMO, Pemberian reward bagi penderita TBC Paru yang tuntas berobat, Pemberian stimulan dan pembentukan kelompok arisan rumah sehat dalam perbaikan perumahan penduduk agar memenuhi syarat kesehatan lingkungan serta peningkatan upaya penyuluhan kepada masyarakat terutama bagi penderita TBC paru agar tidak berperilaku yang dapat menularkan penyakit tersebut seperti meludah disembarang tempat, serta bersin atau batuk dengan tidak menutup mulut.

Economics crises in longer time have increased poor population group that followed with decreasing of healthy indicators in case increasing of malnutrition incidence especially babies and children. The situation may have decreased of public nutrition status especially in the group of children 6 - 23 months age and increased malnutrition prevalence. Increasing children malnutrition prevalence has triggered increasing of infectious disease morbidity in the group caused lowness of immunity in the group as a high risk group was attacked infectious disease. One of infectious disease with have alerted in the malnutrition children group is pulmonary TBC, because morbidity case of the disease in adult productive group still more, especially in poor population community, as infecting agent to the malnutrition children group. The research objective is about risk factors that related with pulmonary TBC incidence in malnutrition children group in Bogor 2003. Research design is case control study with 200 children as sample, 50 children with TBC Pulmonary as case group and 150 children without TBC Pulmonary as control group. Research data consist of secondary data by document observation and primary data by questionnaire and measurement. The data analyses with chi-square and logistic regression analyses to know how the risk factor and pulmonary TBC incidence in the case group related As a summary of chi square test shows that five variable have statistically significant with pulmonary TBC incidence in case group ; in case a victim of pulmonary TBC at home, humidity of bed room, humidity of living room, illumination of bed room and illumination of living room. The logistic regression analyses shows that attitude variable is dominantly variable related with pulmonary TBC Incidence in Bogor 2003 (OR = 10,99). Research variable modeling shows that malnutrition children with risk factors : unconditional humidity home and live with an unhealthy attitude pulmonary TBC victim have probability to suffer TBC disease about 85% compared with malnutrition children without risk factors. As a proposition we suggestion increasing Therapeutic activity for pulmonary TBC victims and preventing with drawal therapy with DOTS strategy and PMO formation ; rewarding for pulmonary TBC victims who have completed therapy ; giving stimulant and "arisan rumah sehat" . increasing health promotion especially for TBC pulmonary victims so they have healthy attitude to prevent spreading TBC disease.
Read More
T-1602
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Najiah Meirina Anwar; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Evi Sofia Riani, Renti Mahkota
Abstrak: COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2. Hingga saat ini kasus COVID-19 semakin bertambah. Meskipun kasus sembuh mencapai angka 96%, hal tersebut harus tetap diwaspadai karena sebagai penyintas masih dapat mengalami gejala yang menetap atau biasa disebut Long COVID. Long Coronavirus Disease (Long COVID) atau Post Acute COVID adalah kondisi pasca infeksi COVID-19 yang berkepanjangan setelah 4 minggu timbulnya gejala awal. Long COVID menjadi ancaman serius bagi para penyintas COVID-19 karena gejala yang menetap dapat membawa dampak buruk dan menganggu aktivitas penderitanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui factor-faktor yang memengaruhi kejadian Long COVID pada penyintas COVID-19 di Kota Sukabumi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional, pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara online. Penelitian ini diikuti oleh 267 rseponden dengan kriteria inklusi sudah sembuh dari COVID-19, berdomisili di Kota Sukabumi, dan usia minimal 18 tahun. Hasil penelitian menunjukan proporsi kejadian Long COVID sebesar 47% dengan gejala yang paling sering adalah mudah Lelah (30,7%), sulit berkonsentrasi (14,98%), dan mudah lupa (13,86%). Analisis bivariat menunjukan bahwa terdapat hubugan antara tingkat gejala (P value = 0,001), jenis perawatan (P value = 0,012), dan perokok pasif (P value = 0,020) dengan kejadian Long COVID. Lalu tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik sosiodemografi, status vaksinasi, status merokok, derajat rokok, dan kondisi penyerta.
COVID-19 is an infectious disease caused by severe acute respiratory syndrome coronavirus 2. Until now, COVID-19 cases are increasing. Although the number of recovered cases reached 96%, this must still be watched out for because survivors can still experience persistent symptoms or commonly known as Long COVID. Long Coronavirus Disease (Long COVID) or Post Acute COVID is defined as persisten symptoms and/or delayed or longterm complications beyond 4 weeks from the onset of symptoms. Long COVID is a serious condition to COVID-19 survivors because persistent symptoms can have a negative impact and disrupt the sufferer's activities. The purpose of this study was to determine the factors that affecting the incidence of Long COVID in COVID-19 survivors in Sukabumi City. This study used a cross-sectional study. Data collection was carried out by distributing online questionnaires. This study was conducted by 267 respondents with inclusion criteria are having recovered from COVID-19, domiciled in Sukabumi City, and a minimum age of 18 years. The results showed the proportion of the incidence of Long COVID was 47% with the most frequent symptoms are tiredness or fatigue (30.7%), difficulty concentrating (14.98%), and forgetful (13.86%). Bivariate analysis showed that there was a relationship between symptom level (P value = 0.001), type of treatment (P value = 0.012), and passive smoking (P value = 0.020) with the incidence of Long COVID. There is no significant relationship between sociodemographic characteristics, vaccination status, smoking status, smoking degree, and comorbidity,
Read More
S-10963
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ikes Dwiastuti; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Mondastri korib Sudaryo, Sulistyo
Abstrak: Munculnya berbagai tantangan baru dalam pengendalian TB, salah satunyamultidrug resistant tuberculosis (TB MDR). TB MDR adalah salah satu jenisresistensi TB yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yangtidak merespon (resisten), setidaknya, isoniazid dan rifampicin yang merupakandua jenis obat yang paling efektif pada lini pertama obat anti TB (OAT).Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinyakonversi kultur sputum pada pasien TB Paru MDR. Penelitian dilakukan didilakukan di RSUD Labuang Baji Kota Makassar dimulai dari bulan April 2015-Juni 2015. Desain penelitian adalah kohort retrospektif. Jumlah sampel dalampenelitian ini yakni 183 pasien, 139 pasien (76,0%) yang mengalami konversikultur sputum, 4 pasien (2,2%) yang tidak mengalami konversi kultur sputum, dan40 pasien (21,8%) yang loss to follow up. Dari penelitian ini diketahui bahwaprobabilitas konversi kultur sputum pasien TB paru MDR sebesar 95,52%. Hasilanalisis multivariat menunjukkan bahwa interupsi pengobatan (HR:0,45; 95%CI:0,26-0,79), status diabetes melitus (DM) sebelum 33 hari (HR:0,75; 95%CI: 0,29-1,95) dan setelah 33 hari yakni (HR:1,95; 95%CI: 0,90-7,60), serta riwayatpengobatan yang pernah mendapatkan OAT lini I (HR:0,32; 95%CI: 0,12-0,90)serta yang pernah mendapatkan OAT lini II (HR:0,27; 95%CI: 0,10-0,77).Diperlukan penanganan secara intensif dan lengkap pada pasien TB paru MDR diPoli TB MDR dengan memperhatikan interupsi pengobatan, status DM, danriwayat pengobatan sebelumnya.Kata kunci : Diabetes melitus, interupsi pengobatan, konversi kultur sputum,riwayat pengobatan sebelumnya, TB paru MDR.
One of the new emerging challenges in TB controlling is multidrug resistanttuberculosis (MDR TB). MDR TB is a type of TB resistant caused by theunresponsiveness (resistancy) of Mycobacterium tuberculosis to at least isoniazidand rifampicin in which both are the most effective anti-TB drugs in first line.This study was aimed to determine the influencing factors for the timing ofsputum culture conversion among pulmonary MDR TB patients. This study wasconducted in Labuang Baji General Hospital, Makassar City started from April2015 to June 2015. Cohort-retrospective design was performed in this study.There were 183 patients involved in this study consisted of 139 (76,0%) patientswith sputum culture conversion, 4 (2,2%) patients with no sputum cultureconversion, and 40 (21,8%) patients were loss to follow up. The result of thestudy shows that the probability of sputum culture conversion of Pulmonary MDRTB was 95,52%. Multivariate analysis showed that the interruption of treatment(HR:0,45; 95%CI: 0,26-0,79), Diabetes Mellitus (DM) before 33 days (HR:0,75;95%CI: 0,29-1,95), DM after 33 days (HR:1,95; 95%CI: 0,90-7,60), previouslytreated with FLDs (HR:0,32; 95%CI: 0,12-0,90), and previously treated withSLDs (HR:0,27; 95%CI: 0,10-0,77) were found to be the influencing factors forthe sputum culture conversion among pulmonary MDR TB. Complete andintensive care are needed among pulmonary MDR TB in MDR TB polyclinic byobserving the interruption of treatment, DM, and history of previous treatment.Keywords: Diabetes mellitus, history of previous treatment, pulmonary MDR TB,sputum culture conversion, treatment interruption.
Read More
T-4491
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zuhdi Astuti; Pembimbing: Syahrizal Syarif
S-3710
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Basalama Fatum; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Bambang Wispriyono Moh. Ichsan Sudjarno, Ely Setyawati
T-2456
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Naziyati Nur Haliza; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Asep Surahman
Abstrak:
Berdasarkan data United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS), terdapat 540.000 orang hidup dengan HIV di Indonesia pada tahun 2023, dengan 26.000 kematian terkait HIV dan 24.000 kasus baru ditemukan pada tahun yang sama. Dengan tingginya tingkat prevalensi HIV di Indonesia, pengobatan antiretroviral (ARV) menjadi sangat penting dalam upaya penanggulangan. Namun, data WHO menunjukkan bahwa hanya sekitar 50% pasien penyakit kronis, termasuk HIV, yang patuh terhadap pengobatan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kepatuhan terhadap pengobatan ARV dengan kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di UOBK dr. Slamet tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan metode potong-lintang (cross-sectional). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat untuk melihat hubungan antara kepatuhan minum obat ARV dan kualitas hidup ODHA. Berdasarkan analisis, ditemukan bahwa mayoritas responden dengan kepatuhan tinggi terhadap pengobatan ARV memiliki kualitas hidup yang baik sebesar 91,7%. Sebaliknya, mayoritas responden dengan kepatuhan rendah terhadap pengobatan ARV memiliki kualitas hidup yang buruk sebesar 69,1%. Terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan minum obat ARV dengan kualitas hidup ODHA di UOBK dr. Slamet Kabupaten Garut, dengan nilai Prevalence Ratio (PR) 1,328 (95% CI 1,091 – 1,618) dan 2,964 (95% CI 2,150 – 4,085). Artinya, responden dengan kepatuhan minum obat ARV sedang dan rendah memiliki kemungkinan 1,328 dan 2,964 kali lebih besar secara berurutan untuk memiliki kualitas hidup yang buruk dibandingkan dengan responden yang memiliki kepatuhan tinggi terhadap pengobatan ARV. Kepatuhan terhadap pengobatan ARV memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup ODHA. Peningkatan kepatuhan terhadap pengobatan ARV diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup ODHA di UOBK dr. Slamet Kabupaten Garut.

According to the United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS), there were 540,000 people living with HIV in Indonesia in 2023, with 26,000 HIV-related deaths and 24,000 new cases discovered in the same year. With the high prevalence of HIV in Indonesia, antiretroviral (ARV) treatment plays a crucial role in managing the epidemic. However, WHO data indicates that only about 50% of patients with chronic diseases, including HIV, adhere to the prescribed treatment. This study aims to analyze the relationship between adherence to ARV therapy and the quality of life of people living with HIV/AIDS (PLWHA) at UOBK dr. Slamet in 2024. This study is an observational analytic study conducted using a cross-sectional method. Data analysis was performed univariately and bivariately to examine the relationship between adherence to ARV medication and the quality of life of PLWHA. The analysis found that the majority of respondents with high adherence to ARV therapy had a good quality of life, accounting for 91.7%. Conversely, the majority of respondents with low adherence to ARV therapy had a poor quality of life, accounting for 69.1%. There was a significant relationship between adherence to ARV medication and the quality of life of PLWHA at UOBK dr. Slamet, Garut Regency, with a Prevalence Ratio (PR) of 1.328 (95% CI 1.091 – 1.618) and 2.964 (95% CI 2.150 – 4.085). This indicates that respondents with moderate and low adherence to ARV therapy were 1.328 and 2.964 times more likely, respectively, to have a poor quality of life compared to respondents with high adherence to ARV therapy. Adherence to ARV therapy is significantly associated with the quality of life of PLWHA. Improving adherence to ARV therapy is expected to enhance the quality of life of PLWHA at UOBK dr. Slamet, Garut Regency.
Read More
S-11787
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive