Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 20727 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Suhendro; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-Promotor: Herdiman Pohan, Sarwono Waspadji; Penguji: Hermawan Guntur, Nuning MK Masjkuri, Dinajani SH Mahdi, Amin Subandrio, Siti Setiati
D-222
Depok : FKM-UI, 2008
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abioso Wicaksono; Pembimbing: Ratna Djuwita Hatma; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Eddy Harijanto
Abstrak:
Latar Belakang: Sepsis masih merupakan penyebab tertinggi kematian di ICU. Saat ini, qSOFA adalah alat skrining untuk Sepsis yang paling sering digunakan di IGD di Indonesia, akan tetapi menurut panduan terbaru dari ?Surviving Sepsis Campaign?, qSOFA sudah tidak valid lagi. Studi ini bertujuan untuk menilai akurasi diagnostic dari qSOFA, NEWS2 dan mqSOFA yang merupakan kombinasi dari qSOFA dan NEWS2 sebagai alat screening untuk Sepsis. Metode: Studi kohort retrospektif ini menggunakan data ICU dari suatu RS swasta tipe B di Tangerang Selatan. Uji diagnostik dilakukan untuk menilai akurasi dari qSOFA, NEWS2 and mqSOFA. Untuk memperhitungkan determinan lain yang relevan pada praktek klinis sehari-hari, maka dilakukan juga diagnostic research untuk mendapatkan alat skrining yang lebih akurat. Hasil: Penelitian ini mengikut-sertakan 305 pasien yang dirawat di ICU pada tahun 2020. Akurasi dari mqSOFA di IGD cukup baik (modest) untuk menapis kejadian Sepsis dengan AUROC= 0.605. 95%CI: 0,536-0,675, nilai p= 0,004 pada titik potong skor = 3, Sensivitas= 63.1%dan Spesifisitas = 53,3%. Akurasi ini lebih baik daripada qSOFA, dan berada sedikit di bawah NEWS2. Akurasi Comp_mqSOFA hanya sedikit lebih baik daripada Comp_mqSOFA. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa mqSOFA berpotensi menjadi alat skrining untuk Sepsis dengan akurasi yang lebih baik daripada qSOFA. Faktor lain seperti usia di atas 65 tahun, adanya penyakit paru dan kurang gizi juga berkontribusi untuk terjadinya Sepsis di ICU. Comp_mqSOFA mempunyai akurasi sedikit lebih baik dibandingkan mqSOFA.

Background: Sepsis remains as one of the highest contributors of mortality in the ICU. qSOFA is the most used screening tool for Sepsis in emergency departments in Indonesia, however according to the newest guideline from the ?Surviving Sepsis Campaign? qSOFA is no longer valid. This study aims to measure of the performance of qSOFA, NEWS 2 and a combination of qSOFA and NEWS 2 (mqSOFA) in the screening for Sepsis. Methods: This retrospective cohort study uses data from a private type-B hospital in Tangerang Selatan. Diagnostic testing was performed to measure the accuracy of qSOFA, NEWS and mqSOFA. Diagnostic research was then conducted to determine whether mqSOFA added diagnostic value in the diagnosis of Sepsis in daily practice. Results: The study included 305 patients who were admitted for intensive care in the year of 2020. The accuracy of mqSOFA in the emergency department was modest with an AUROC = 0.605, 95% CI: 0.536-0.675, p value- 0.004 at cut-off =3, Sensitivity= 63.1% and Specificity=55.3%. The accuracy of mqSOFA is better than qSOFA, and slightly less accurate to NEWS2. Comp_mqSOFA?s accuracy is not much better than that of mqSOFA. Conclusion: This study shows mqSOFA can be a significant too in screening of Sepsis. Other factors such as age over 65 years old, pulmonary disease and malnourishment also contribute to the incidence of Sepsis.
Read More
T-6487
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Djap Hadi Susanto; Promotor: Bambang Sutrisna; Kopromotor: Prastuti Soewondo, Kris Herawan Timotius; Penguji: Ratna Djuwita, Syahrizal Syarief, Trihono, Yanto Sandy Tjang
D-376
Depok : FKM-UI, 2018
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Murdani Abdullah; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-Promotor: Aru W. Sudoyo, Bethi S. Hernowo; Penguji: Aziz Rani, Samsuridjal Djauzi, Ratna Djuwita, Siti Setiati, Septelia Inawati Wanandi
D-235
Depok : FKM UI, 2009
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M. Sopiyudin Dahlan; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Ratna Djuwita, Faisal Yatim, Hindra Irawan Satari
Abstrak:

Tujuan : Untuk mengetahui apakah trombosit dan kovariat lainnya yaitu jenis kelamin, usia, lama saklt, perdarahan, status gizi, hepatomegali, hematokrit, dan leukosit merupakan prediktor terjadinya renjatan pada pasien demam berdarah dengue (DBD) anak. Desain : kohort retrospektif dcngan analisis survival di dua rumah sakit di Jakarta. Penentuan tilik potong untuk trombosit, leukosit, dan hematokrit berdasarkan lama sakit menggunakan metode receiver operating characleristic (ROC). Nilai diskriminasi model prediksi menggunakun parameter area under curve (AUC). Subyek : Pasien suspek DBD, derajat I-Il, tanpa penyakit penyerta, lama sakit 3-5 hari. Keluaran utama: I-lubungan antara trombosit dengan renjatan dan model prcdiksi renjatan DBD pada awal perawatan dan 24jam perawatan. Hasil : Telah direkrut sebanyak 525 subyek dari catatan medis rumah sakit. Insidens renjatan sebesar 6,l%. Titik potong trombosit awal perawatan dengan lama sakit 3, 4 dan 5 hari musing-masing adalah 81.500/ul, 59.500/ul dan 53.500/ul. Titik potong trombosit 24 jam perawatan dengan lama sakit 4, 5 dan 6 hari masing-masing adalah 59.500/ul, 53.500/ul, dan 45.000/ul. Baik trombosit awal perawatan maupun 24 jam perawatan berhubungan dengan teijadinya renjatan dengan hazard ratio masing-masing sebesar 3,5 (lK95% 1,5-8,4) dan 3,3 (lK95% 1,4-7,5). Nilai diskriminasi trombosit awal perawatan dan 24 jam perawatan musing-masing sebesar 72,3% (IK 95% 63,1-8l,6) dan 67,'7% (IK 95% 58,2-‘77,3). Trombosit bersama-sama dengan karakteristik klinis rumah sakit, perdarahan, status gizi, interaksi lama sakit dengan hematokrit, dan interaksi lama sakit dengan hepatomegali baik pada awal perawatan maupun 24 jam perawatan merupakan prediktor lerjadinya renjatan. Model prediksi pada awal pcrawatan dan 24 jam perawatan mempunyai nilai kalibrasi yang baik dan nilai diskriminasi yang baik dengan AUC sebesar 84,l%; lK95% 77,9-90,3 untuk awal perawatan dan 80,4% (IK 95% 72,4-88,4) untuk 24 jam perawatan. Nilai diskriminasi model prcdiksi ini lebih baik daripada nilai diskriminasi trombosit awal perawatan maupun 24jam perawatan. Kesimpulan dan saran: Trombosit merupakan prediktor terjadinya renjatan pada DBD anak akan letapi penggunaan trombosit sebagai prediktor renjatan akan lebih balk jika digunakan bcrsama-sama dengan parameter Iainnya yaitu perdarahan, status gizi, hepatomegali, dan hematokrit. Saran: Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui reproducibilizjv dan rransporrability model prediksi renjatan yang diperoleh dalam penelitian ini.


Purpose: to investigate whether thrombocyte and other covariate such as sex, age, time before admission, bleeding, nutritional status, hepatomegali, haematocrit, and leukocyte, can be used to predict shock at children with dengue hemorrhagic fever (Di-IF). Design: Retrospective cohort with survival analysis. Cit off point for thrombocyte, leukocyte. and haematocrit according to day of sick were determined by receiver operating characteristic (ROC) curve. Magnitude of discrimination was assessed by area under curve (AUC). Subject: Children suspected with DH F, grade l and II at admission. Main outcome: to know association between thrombocyte with shock and to know prediction model to predict shock at admission and 24 hours after admission. Result: There were 525 subjects. Incident of shock was 6.l%. Cut off point for thrombocyte according to long of sick at 3, 4 and 5 day were 81.500/ul, 59.500/ul and 53,500/ul respectively. Cut olT point for thrombocyle at 24 hours aller admission ut 4, S, and 6 day were 59.500/ul, 53,500/ul, and 45,000/ul respectively. Both thrombocyte at admission and 24 hours after admission had association with shock with hazard ratio 3.5 (95%Cl l.5-8.4) and 3.3 (95Cl% i.4-7.5) respectively with magnitude of discrimination were 72.3% (95Cl% 63.1-8l.6) and 67.7% (95%Cl 58.2-77.3) respectively. Thrombocyte together with clinical characteristic of hospital, bleeding, nutritional status,interaction between time before admission and hepatomegali, interaction between time before admission and haematocrit were significant variables to include in to the prediction model for shock both for admission and 24 hours after. These models had good calibration and discrimination with magnitude of discrimination were 84.l%; lK95% 77.9-90.3 and 80.4% (95%Cl 72.4-88.4) respectively. Discrimination of tlicse models was higher than discrimination of thrombocyte alone. Conclusion: Thrombocyte is a predictor of shock but using prediction models consist of thrombocyte and other variables such as bleeding, nutritional status, hepatomegali, haematocrit is better to predict shock than thrombocyte alone. Suggestion: To conduct further research to investigate reproducibility and transportability of these prediction models.

Read More
T-2622
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sumarman; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Yovsyah, I Nyoman Kandum, Syahrizal Syarif
T-3406
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dora Herdiana; Pembimbing: Nurhayati Prihartono; Penguji: Ratna Djuwita, Heidy Agustin, Sulistyo
Abstrak: Tingginya angka putus berobat merupakan masalah serius dalampengobatan TB karena memunculkan resistensi obat, meningkatkan kekambuhan,gagal pengobatan,dan berpotensi penularan yang menyebabkan peningkatanbeban dan transmisi TB. Sistem skoring faktor risiko untuk memprediksikesintasan putus berobat pada penderita TB belum banyak diteliti. Studi inibertujuan untuk mengetahui sistem skoring faktor prediktor kesintasan putusberobat penderita TB paru.Studi dilakukan pada April-Mei 2015 di poli DOTS RSUP Persahabatan,menggunakan desain cohort retrospective yang bersumber dari form TB 01 danrekam medis. Sampel sebanyak 370 dengan penderita putus berobat sebagai event,70 orang, penderita sembuh dan pengobatan lengkap sebagai sensor, 300 orang.Probabilitas kumulatif kesintasan putus berobat penderita TB adalah 81%. Hasilanalisis multivariat menemukan prediktor jenis kelamin, diagnosis TB, dan ambilobat sesuai jadwal yang berinteraksi dengan waktu mempunyai nilai p 0,043,0,008, 0,0001 berturut-turut, berisiko terhadap kesintasan putus berobat denganHR 1,7 (95%CI:1,02-2,99), 1,9 (95%CI:1,18-3,05) dan 32,7 (95%CI:14,78-72,18).Variabel mengambil obat sesuai jadwal semakin meningkat HR nya seiringmeningkatnya waktu pengamatan. Hasil skoring model akhir mampu memprediksikesintasan kejadian putus berobat penderita TB paru sebesar 92%, dan nilai cut-off untuk skor model skoring ≥21.Perlu meningkatkan KIE pada penderita secara efektif khususnyapenderita yang laki-laki, diagnosis TB BTA negatif dan mengambil obat tidaksesuai jadwal, meningkatkan jejaring internal maupun eksternal rumah sakit,untuk mengendalikan angka putus berobat TB.Kata Kunci: tuberculosis, putus berobat, kesintasan, skoring
Treatment default is a serious problem in tuberculosis control because itimplies resistance, increased relaps, failure, persistence of infectious source andfurther increased burden and transmission tuberculosis. Scoring system of defaultrisk factors to predict survival patients have been not studied yet, particularly inIndonesia. The aim of this study to determine the predictors scouring system ofsurvival defaulting treatment for tuberculosis patients.This retrospective cohort study was conducted from April to Mei 2013 atpoli DOTS RSUP Persahabatan. were identified from TB 01 forms and medicalrecords. Patients defaulting from treatment were considered as event and thosecure and completing treatment as censors. 370 tuberculosis patients wereincluded, 70 events and 300 censors. Overall patients survival rate was 81%.Survival defaulting associated significanly to sex, smear diagnosis and taking drugaccording to guideline with p value are 0,043, 0,008, 0,0001 respectively, found tobe risk factors for survival defaulting HR 1,7 (95%CI:1,02-2,99), HR 1,9;(95%CI:1,18-3.05), dan HR 32,7 (95%CI:14,78-72,18) respectively. IncreasingHR of taking drug according to guideline followed with increased alteration oftime observation. Scoring results are obtained predicting survival patientsdefaulting by 92%, and a cut-off point for the scoring model is ≥21.Communication, information and education must be increased das well asincreased internal and external hospital linkage to decrease default outcome.Keywords: tuberculosis, default, survival, scouring
Read More
T4472
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Idrus Salim; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Zulasmi Mamdy, Lukman Hakim Siregar, Rosmini Day
Abstrak:

Proporsi ketidakpatuhan penderita Tb paru berobat di beberapa daerah di Indonesia, angkanya bervariasi dan umumnya masih tinggi mulai dari 30 % sampai dengan 65 %. Kepatuhan berobat sangat penting karena berhubungan dengan resistensi. Di Kota Padang Propinsi Sumatera Barat penderita Tb paru dengan pengobatan kategori 1, tidak patuh berobat sebesar 38,88 %, sehingga kemungkinan terjadinya resistensi masih cukup tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan persepsi penderita terhadap peran pengawas menelan obat dengan kepatuhan penderita Tb paru berobat di kota Padang tahun 2001. Penelitian ini dilaksanakan dalam waktu satu setengah bulan dengan menggunakan data primer.Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kasus kontrol. Sampelnya adalah sebagian atau seluruh penderita tuberkulosis paru berumur 15 tahun atau lebih yang berobat ke Puskesmas di Kota Padang dari 1 Januari 2001 s/d 31 Desember 2001 yang memdapat obat anti tuberkulosis (OAT) kategori I. Jumlah sampel sebesar 260 responden, yang terdiri dari 130 responden sebagai kasus dan 130 responden sebagai kontrol.Hasil penelitian menunjukkan bahwa probabilitas penderita Tb paru BTA positif yang tidak patuh berobat terpapar oleh aktivitas PMO kurang baik 18,95 kali lebih besar, dibandingkan dengan probabilitas penderita Tb paru BTA positif yang terpapar dengan aktivitas PMO baik, setelah dikontrol oleh penghasilan keluarga dan pengetahuan penderita.Pengukuran dampak potensial memberikan informasi adanya kantribusi aktivitas PMO kurang baik terhadap terjadinya ketidakpatuhan penderita Tb paru BTA positif berobat di Kota Padang sebesar 81,46 %.Penelitian ini menyarankan kepada pengelola program perlu meningkatkan pengetahuan dan motivasi pengawas menelan obat, agar dalam melaksanakan tugas pengawasannya berjalan secara aktif. Meningkatkan pengetahuan penderita mengenai penyakit Tb paru serta akibat bila tidak patuh berobat. Dan perlu di teliti lebih lanjut terhadap variabel jenis PMO dan pekerjaan serta penghasilan keluarga dengan sampel yang lebih besar.


 

The Relationship of the Perception of Tb Patients on the Role of Treatment Observer and Compliance of Pulmonary Tuberculosis Patients in Padang, 2001The proportion of tuberculosis patients who does not take treatment regularly in Indonesia varies with areas, with the number ranging from 30 to 65%. Regularity in taking treatment is very crucial because it relates to drug resistance. In Padang, West Sumatra, category I tuberculosis sufferers who do not take treatment regularly is 38, 88%. Hence, the possibility of resistance is still high. The objective of the research is to study the perception relationship between the role of drug intake supervisors (DIS) or treatment observer and compliance of pulmonary tuberculosis patient attending the treatment in Padang in 2001. This study was conducted during a month and a half period using primary data.The design used is case-control study. Its sample consists of all pulmonary TB patient age 15 or above who take treatment at public health centers in Padang from January 1 to December 31, 2001. All of TB patient received-category I anti-tuberculosis drugs. The size of the sample is 260; the respondents consist of 130 as cases and another 130 as controls. The study found that the probability of positive sputum acid fast bacilli (category I) pulmonary TB patient who do not take treatment regularly under insufficient supervision of drug intake supervisors (DIS) is 18.95 times higher than the probability of category I pulmonary TB patients who do not take treatment regularly under sufficient supervision of drug intake supervisors (DIS), after improvement of family income and knowledge level of TB patients.As a conclusion, potential impact measurement provide information that insufficient activities of drug intake supervisors contribute to the irregularity of category I pulmonary TB patients in taking treatment in Padang of 81.46%.It is recommended to all program directors to improve knowledge and motivation of treatment observer and compliant in order to increase effectiveness of their supervisory duties. In addition, they should also improve knowledge of pulmonary TB patients and communicate negative impacts of not taking treatment regularly. And research of this kind should be expanded in the future, especially that relates to drug intake supervisors types, jobs, and family income, with bigger samples.

Read More
T-1302
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elvi Nora Simanjuntak; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Helda, Zakiah, Eti Rohati
Abstrak:
Preeklampsia merupakan salah satu penyebab kasus kematian ibu terbesar di Kota Depok selama 5 tahun terakhir.  Berdasarkan data tahun 2022 sampai 2024 tercatat jumlah kasus kematian ibu yang terjadi sebanyak 32 kasus dan sebagian besar terjadi pada masa nifas. Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian terdahulu. Intervensi hasil dari riset operasional telah dilakukan terhadap 32 kader kesehatan yang mewakili masing-masing kelurahan yang mempunyai angka kasus kematian ibu dengan preeklampsia tahun 2022-2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods. Studi kuantitatif menggunakan desain studi   observasional dari studi sebelumnya dan cross sectional untuk ibu hamil sebagai hasil skrining. Jumlah   responden untuk kader sebanyak 32 orang dan jumlah responden pada ibu hamil sebanyak 306 orang. Data kuantitatif diperoleh dari hasil pretest dan posttest kader dan hasil skrining ibu hamil oleh kader setelah diuji kembali oleh bidan sebagai gold standar. Data kualitatif diperoleh dari wawancara mendalam dan focus grup discussion. Kader yang melakukan follow-up sebagai kader aktif (59,37%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa pengetahuan baik berpotensi 2,44 kali menjadi kader aktif.  Usia berhubungan signifikan (p=0,0246) dengan keaktifan kader, Usia ≥ 45 tahun berpotensi 1,86 kali kemungkinan menjadi kader aktif. Nilai uji akurasi skrining menyatakan sensitivitas (90%; 95% CI 80,8% - 97,8%), spesifisitas (98%; 95% CI 95,5%-99,4%). Mayoritas ibu hamil hasil skrining kader sebagai ibu rumah tangga (93,14%). Penelitian kualitatif mengungkapkan skrining yang dilakukan mendukung program Delisa Kota Depok. Diperlukan pelatihan yang melibatkan kader yang lebih banyak dan penguatan lintas sektor serta edukasi di masyarakat mengenai preeklampsia.

Preeclampsia is one of the biggest causes of maternal mortality in Depok City over the past 5 years. Based on data from 2022 to 2024, there were 32 cases of maternal deaths that occurred and most of them occurred during the postpartum period. This study is a continuation of previous research. Interventions resulting from the operational research were conducted with 32 health cadres representing each urban village that had the highest number of maternal deaths with preeclampsia in 2022-2023. This study used a mixed methods approach. The quantitative study used an observational study design from previous studies and cross sectional for pregnant women as a result of screening. The number of respondents for cadres was 32 people and the number of respondents in pregnant women was 306 people. Quantitative data were obtained from the pretest and posttest results of cadres and the results of screening pregnant women by cadres after being retested by midwives as a gold standard. Qualitative data were obtained from in-depth interviews and focus group discussions. Cadres who did follow-up as active cadres (59.37%). The results of bivariate analysis showed that good knowledge had 2.44 times the potential to become active cadres. Age was significantly associated (p=0.0246) with cadre activeness, age ≥ 45 years had 1.86 times the likelihood of being an active cadre. Screening accuracy test values stated sensitivity (90%; 95% CI 80.8% - 97.8%), specificity (98%; 95% CI 95.5%-99.4%). The majority of pregnant women screened by cadres were housewives (93.14%). Qualitative research revealed that the screening supports the Delisa programme in Depok City. Training involving more cadres and cross-sectoral strengthening and education in the community regarding preeclampsia are needed.

Read More
T-7312
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achmad Zaki; Promotor: Sudarto Rono admojo; Kopromotor: Ratna Djuwita, Nurhayati A Prihartono; Penguji: Sabarinah Prasetyo, Andri MT Lubis, Rimbawan, Agus Hadi Rahiman
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Saat ini terdapat perbaikan Angka Harapan Hidup (AHH) penduduk Indonesia dan penambahan populasi penduduk lanjut usia. Pada tahun 2017, AHH mencapai 71,06 tahun, dan jumlah lansia 23,4 juta orang (8,97% dari seluruh penduduk Indonesia). Hal ini berisiko meningkatkan kejadian penyakit degeneratif. Osteoartritis (OA) adalah penyakit yang sering dikaitkan dengan kondisi degeneratif dan mengakibatkan ketidakaktifan fisik. Pada Riskesdas 2013, penyakit Artritis berada di urutan kedua penyakit terbanyak diderita lansia dengan prevalensi 45% (55-64 tahun), 51,9% (65-74 tahun) dan 54,8% (usia >75 tahun). Pengobatan simtomatik dengan OAINS yang berkepanjangan dapat mengakibatkan efek samping yang fatal. Terdapat berbagai faktor risiko berkembangnya OA lutut, di antaranya konsentrasi serum Vitamin D (25(OH)D. Proporsi perempuan lansia dengan defisiensi 25(OH)D pada penelitian di Jakarta dan Bekasi mencapai 35,1%. Terdapat hubungan antara kadar Vitamin D (25(OH)D) yang rendah dengan nyeri lutut dan perubahan kartilago sendi lutut pada OA. Serum Cartilage Oligomeric Matrix Protein (COMP) merupakan produk degradasi penting dari kartilago sendi dan dapat menjadi marker diagnosis untuk OA lutut. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian suplemen Vitamin D (Alphacalcidol) selama 12 minggu terhadap derajat nyeri berdasarkan indikator WOMAC, dan kondisi obyektif kartilago sendi dengan perubahan marker serum COMP pada penderita OA lutut lansia. Disain penelitian uji klinis teracak, tersamar ganda, dan terkontrol plasebo. Subyek dengan OA lutut simtomatis direkruit secara consecutive sampling dan dilakukan anamnesis, diperiksa kondisi fisik, radiologi lutut, kadar serum Vitamin D (25(OH)D), serum Calcium dan marker COMP. Subyek dialokasikan secara acak (random allocation) pada kelompok perlakuan yang diberikan suplemen Vitamin D (Alphacalcidol) atau kelompok kontrol yang diberikan plasebo. Populasi sumber xviii Universitas Indonesia pada penelitian ini ialah pasien OA lutut lanjut usia yang berobat ke KPKM FKIK UIN Jakarta. Dari hasil pemeriksaan konsentrasi serum Vitamin D 25(OH)D sebelum dilakukan intervensi, 53,4% responden mengalami insufisiensi dan 12,3% responden mengalami defisiensi Vitamin D. Pemberian suplemen Vitamin D (Alphacalcidol) selama 12 minggu, mempengaruhi penurunan derajat nyeri berdasarkan indikator WOMAC pada penderita OA lutut lansia yang bermakna secara statistik dengan perbedaan perubahan skor pra dan pascaintervensi pada kelompok intervensi dibanding kontrol sebesar 2,174 (p=0,00). Pemberian suplemen Vitamin D (Alphacalcidol) selama 12 minggu, mempengaruhi penurunan konsentrasi serum COMP pada penderita OA lutut lansia, dengan perbedaan perubahan skor pra dan pascaintervensi pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol sebesar 38,15 ng/ml namun tidak bermakna secara statistik (p=0,39)
 

ABSTRACT
 
 
At present there are improvements in the Life Expectancy (AHH) of the Indonesian population and the addition of the elderly population. In 2017, AHH reached 71.06 yo and the number of elderly people reached 23.4 million people (8.97% of the total population of Indonesia). This has the potential to increase degenerative diseases. Osteoarthritis (OA) is a disease that is often associated with degenerative conditions and physical inactivity. Riskesdas in 2013 stated that Arthritis was the second most common disease suffered by the elderly with a prevalence of 45% (55-64 yo), 51.9% (65-74 yo) and 54.8% (>75 yo). Symptomatic treatment with prolonged NSAIDs can cause fatal side effects. There are various risk factors for developing knee OA, including serum Vitamin D (25(OH)D) concentrations. The proportion of elderly women with 25(OH)D deficiency in studies in Jakarta and Bekasi reaches 35.1%. It has been found an association between low Vitamin D levels (25(OH)D) with knee pain in OA and changes in the knee joint cartilage. Cartilage Oligomeric Matrix Protein (COMP) is an important degradation product of joint cartilage and can be act as a diagnostic marker of knee OA. This study aims to determine the effect of Vitamin D supplementation (Alphacalcidol) for 12 weeks on the degree of pain based on WOMAC indicators, and the objective conditions of joint cartilage with changes in COMP serum markers in patients with knee OA in the elderly. The research design is a randomized, double-blind, and placebo-controlled clinical trials. Subjects with symptomatic knee OA will be recruited by consecutive sampling and continued with history taking, physical conditions examinatons, knee radiology, and blood test for serum vitamin D (25(OH)D), serum calcium and marker COMP. Subjects were then randomly allocated to the treatment group given Vitamin D supplements (Alphacalcidol) or the control group given a placebo. The source population in this study was elderly with knee OA patients xx Universitas Indonesia who went to Primary Health Care Clinic (KPKM) of FKIK UIN Jakarta. We found that before intervention was done, 53.4% of respondents had Vitamin D insufficiency and 12.3% of respondents had Vitamin D deficiency. The administration of Vitamin D supplements (Alphacalcidol) for 12 weeks, influenced the decrease in the degree of pain based on the WOMAC indicator in knee OA of elderly patients significantly, with differences in changes in pre and post intervention scores of 2.174 compare with control (p=0.00). The administration of Vitamin D supplements (Alphacalcidol) for 12 weeks, affected the decrease in the serum concentration of COMP in knee OA of elderly patients, with differences in changes in pre and post intervention scores in the intervention group compared to the control group of 38.15 ng/ml but not statistically significant (p=0.39).
Read More
D-401
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive