Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40719 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fika Sastramaya Khayan; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Mieke Savitri, Budi Hartono, Denni J. Purwanto
Abstrak:
Mutu pelayanan Rumah Sakit di Indonesia sangat bervariasi. Keadaan ini mendorong Pemerintah melalui Depkes Rl untuk menetapkan standar baku tarif dan mutu Rumah Sakit yang berlaku secara nasional melalui suatu sistem Case mix dengan nama INA DRG Depkes. Namun dalam kenyataan penempan tarif INA DRG Depkes menimbulkan polemik bagi pihak Rumah Sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penetapan cost of treatment berbasis clinical pathway kasus kanker payudara dengan tindakan bedah masektomi radikal modifikasi dan kemoterapi FAC dengan tarif INA DRG Depkes di Rumah Sakit Kanker Dharmais tahun 2008. Hasil penelilian menunjukkan adanya perbedaan pengelompokan kanker payudara menurut AR DRG versi 5.2 dimana ditemukan penyakit penyerta DM, asma, hipertensi, dan penyakit penyulil anemia. Lama hari rawat tidak berbede di setiap diagnosa. Perbedean hanya terletak pada jenis obat yang diberikan yang disesuaikan dengan penyakit yang menyertai. Pada tarif INA DRG Depkes penempan tarif melalui rata-rata data yang dikirimkan oleh 15 Rumah Sakit tanpa adanya clinical pathway dan cost of treatment. Tindakan bedah MRM payudara dan cost of treatment FAC berada lebih tinggi daripada tarifiNA DRG Depkes. Penelitian ini belum menggambarkan seluroh penatalaksanaan pada kanker payudara, sehingga disarankan untuk d.ilakukan penelitian Jebih lanjut khususnya untuk penetapan COT radiotherapi yang mengikuti tindekan bedah MRM dan kemoterapi. Kami sarankan kepada Depkes Rl untuk melengkapi tarif INA DRG Depkes agar dapat membuat clinical pathway sebsgai standar utilisasi pelayanan kesebatan dan selalu melakukan revisi daftar tarif INA DRG Depkes setiap tahun agar dapat mempertahankan mutu pelayanan Rumah Sakit.

The Quality service of Hospital in Indonesia is highly varied. This situation make the Government through Depkes RI to specify the standard of the Hospital quality and tariff applied nationally through a Case mix system by the name of INA DRG DEPKES. But in reality of applying of tariff INA DRG DEPKES generate polemic for Hospital. This research purpose is to know the cost of treatment based on clinical pathway breast cancer case with Modified Radical MMastectomy nd F AC Chemotherapy with INA DRG Depkes tariff at Dharmais Cancer Hospital year of2008. Research result show the difference of breast cancer grouping according to AR DRG version of5.2 where found DM disease, asthma, hypertension, and anaemia. Every diagnosis have the same length of stay. Difference only in the given drug type based on disease accompanied. INA DRG Depkes tariff based on data delivered by 15 Hospital without existence of clinical pathway and cost of treatment. Surgery on MRM breast cancer and cost of treatment FAC higher than INA DRG Depkes tariff. This research not yet show the entire breast cancer surgery, we suggest to do a further research spceially on Cost of Treatment radiotherapy following the action operate on MRM and chemotherapy. We suggest to Depkes RI to complete the INA DRG Dcpkes tariff so that they can make clinical pathway as standard service utility of health and always revise the INA DRG Depkes tariff list every year so that they can maintain the quality service of Hospital.
Read More
B-1199
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mailis Suyanti Munthe; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Purnawan Junadi, Pujiyanto, Abdul Kadir, Lies Dina Liastuti
B-2037
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Maulina Dewi; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Vetty Yulianty Permanasari, Daya Suryandaru
Abstrak: SJSN pada dasarnya merupakan program negara yang bertujuan memberikepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyatIndonesia. Melalui program ini, setiap penduduk diharapkan dapat memenuhikebutuhan dasar hidup yang layak apabila terjadi hal-hal yang dapatmengakibatkan hilang atau berkurangnya pendapatan, karena menderita sakit,mengalami kecelakaan, kehilangan pekerjaan, memasuki usia lanjut ataupensiun Melalui peraturan presiden nomor 12 tahun 2013 tentang jaminankesehatan ditetapkan pembayaran pelayanan kesehatan tingkat lanjut di rumahsakit menggunakan pembayaran pra upaya (prospective payment) yaitumenggunakan pola INA-CBGs. Penerapan tarif INA-CBGs menimbulkanpolemik bagi rumah sakit karena terdapat selisih bayar yang cukup besarantara tarif rumah sakit dan tarif INA-CBGs.Salah satu komponen yang harusdipersiapkan oleh rumah sakit adalah membuat suatu pedoman pembiayaanberdasarkan cost of treatment berbasis clinical pathways.Prioritas untukpembuatan clinical pathway adalah kasus yang sering ditemui,kasus yangterbanyak,biayanya tinggi,perjalanan penyakit dan hasilnya dapatdiperkirakan,telah tersedia standar pelayanan medis dan standar proseduroperasional.Untuk tindakan herniotomi yang disepakati di RS PMI Bogor ada12 clinical pathway.dengan perhitungan cost of treatment dari yang palingminimal pada kasus herniotomi anak murni Rp 5.368.719,00 sampai yangmaksimal pada herniotomi Tua komplikasi dengan penyerta sebesar Rp9.350.683,00. Dengan adanya perhitungan ini Rumah Sakit memilikipedoman biaya tindakan herniotomi yang bersifat prospective payment. Saranuntuk rumah sakit diharapkan rumah sakit melakukan perhitungan cost oftreatment untuk tindakan yang lain berdasarkan clinical pathway yangdisepakati di RS PMI Bogor.
National Health Insurance System (SJSN) is basically a state program thataims to provide certainty of protection and social welfare for all Indonesianpeople. Through this program, each resident is expected to meet the basicneeds of living where things happen that can lead to lost or reduced income,because of illness, accident, loss of a job, entering old age or retirement.Through a presidential decree number 12 of 2013 about , has set an advancedpayment of health care services in hospitals, using pre-payment efforts(prospective payment) that uses pattern INA-CBGs. Implementation of INA-CBGs rates for hospital became polemic because there is a large enoughdifference in pay between hospital rates and INA-CBGs rates.One of thecomponent that must be prepared by the hospital is making a guideline basedon clinical pathway calculated cost of treatment.Prioritas for the manufactureof clinical pathways are frequently encountered cases, most cases, the cost ishigh, the disease course and outcome can be expected, has provided medicalservice standards and standard procedures operasional.For herniotomyprocedures agreed at the PMI Bogor hospital, there were 12 clinical pathwaywith calculation cost of treatment and the most minimal in the case of a purechild herniotomy Rp 5,368,719.00 to the maximum at Old herniotomy withconcomitant complications of Rp 9,350,683.00. Given this calculationHospital has guidelines herniotomy procedures costs that are prospectivepayment. Suggestions for hospital is expected to perform the calculation ofthe cost of treatment for other actions based on agreed clinical pathways inPMI Bogor hospital.
Read More
B-1599
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuri Pertamasari; Pembimbing: Ronnie Rivany
B-840
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Angga Prasetya; pembimmbing: Ronnie Rivany; Penguji: Mieke Savitri, Hamonangan Sirait
Abstrak:

Pembiayaan kesehatan merupakan suatu permasalahan yang terjadi di seluruh dunia. Banyak metode dan sistem yang telah dikembangkan mengenai hal ini. Indonesia seperti halnya Negara lain, menghadapi masalah yang sama dalam pengembangan sistem pembiayaan kesehatan. Dihadapkan dengan keadaan saat ini dalam krisis pembiayaan kesehatan, DKI Jaya dipaksa untuk dapat mengendalikan biaya. Mendapatkan biaya satuan yang handal dalam semua RSUDnya merupakan kebutuhan dasar dalam pertahanan ekonomi, di masa system pembiayaan kesehatan yang masih kurang baik di Indonesia. Definisi dari biaya satuan yang handal merupakan kunci kesuksesan semua rumah sakit. Clinical pathways disadari oleh DKI Jaya sebagai alat esensial dalam memberikan pelayanan kesehatan untuk rakyat. Pengembangan pathways ini kemudian dilanjutkan dengan kesadaran untuk perhitungan biaya tiap pathway yang ada. Dengan diketahuinya biaya ini selanjutnya untuk menganalisa efektifitas biaya per pathway pun mudah dilakukan. Tujuan dari riset ini adalah untuk mengetahui metoda untuk menghitung cost of treatment berbasis clinical pathway dari diagnosa yang telah dibuat oleh RSUD DKI Jaya. Angka yang didapatkan di dalam penelitian ini adalah untuk selanjutnya dapat diklarifikasikan keakuratannya dan terbuka untuk penelitian lebih jauh, karena data yang didapatkan untuk pendukung masih belum dapat dijustifikasi. Diagnosa terpilih adalah Operasi Lensa dengan Diagnosis Katarak yang merupakan One Day Care. Diagnosa terpilih karena merupakan tindakan dengan frekuensi paling tinggi di DKI Jaya dan pelayanannya melibatkan banyak sumber daya. Budi Asih dan Tarakan adalah rumah sakit yang dipilih secara purposive sebagai perwakilan RSUD DKI Jaya.


 

Health financing has always been an ongoing issue in the world. There are many methods and systems that had been developed all over regarding this subject. Indonesia, like many countries, faces the same problem in developing its health financing system. Confronted with the current health care financial crisis, DKI Jaya is forced to control its cost. Setting up a reliable cost unit in its hospitals is a fundamental necessity for economic survival, given the current general conditions in Indonesia's healthcare system. Definition of a suitable cost unit is the crucial factor for success. Clinical pathways are recognized by DKI Jaya as essential tools for delivering health services to people. Developing these pathways should then be followed by evaluating the cost of each pathway. Once the cost of the pathway is known, analyzing the cost effectiveness of the pathway can easily be done. The purpose of this research is to more understand the method to calculate cost of treatments based on the clinical pathways of the diagnoses that have been developed by DKI Jaya,. As for the values are for further clarification and research as the supporting data are not yet justified as the best data provided. The diagnose that is chosen Cataract Procedure, that is representing One Day Care surgical treatments. The diagnose is selected as it is the highest frequency within DKI Jaya's hospital and the treatment involved many resources. Budi Asih and Tarakan are the hospitals that are purposively chosen for the research, as representatives of all DKI Jaya?s hospitals.

Read More
B-1140
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elfira; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Wahyu Sulistiadi, Abdul Kadir, Lies Dina Liastuti
Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kesesuaian pelayanan dan pengklaiman diRSKD. Bila terdapat ketidak sesuaian, apakaf terjadi kecurangan atau fraud.Penetilitan ini adalah kualitatif dengan studi kasus. Sampel sebanyak 31 pasienJKN yang dilakukan mastektomi radikal tanpa rekonstruksi di RSKD selamaJanuari-Maret 2016. Pelayanan akan dibandingkan dengan clinical pathwaysedangkan pengklaiman akan dibandingkan dengan regulasi yang ada.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat ketidak sesuaian dalam pelayanandan pengklaiman di RSKD. Kesesuain terdapat pada pelayanan obat anestesi dankeseuaian pengklaiman pada pengklaiman ruang rawat dan dan waktu klaim.Sedangkan ketidaksesuaian pelayanan terdapat pada penempatan ruang rawat,lama hari rawat, pelaksanaan hari operasi, obat-obatan non anestesi, pemerikasaanlaboratorium post operasi. Ketidaksesuaian klaim erdapat pada diagnosa klaimyang tidak sesuai dengan resume medis. Telah dilakukan konfirmasi kepadapelaksana dilapangan dan diketahui beberapa hal penting seperti ruang rawat kelasI yang sngat tinggi permintaannya sedangkan ketersediannya terbatas, oabt-obatandiberikan oleh DPJP sesuai dengan keluhan pasien, keterbatasan waktu DPJPuntuk visite karena kegiatan di dlam dan luar RS, pemeriksaan laboratorium postoperasi dialkukan bila kondisi pasien memerlukan, dan perbedaan diagnosa yangtelah dikonfirmasi ke rekam medis pasien dan DPJP.Ketidaksesuai yang terjadi saat ini tidak mengarah kepada kecurangan atau fraudkarena adanya penjelasan yang tidak mengarah kepada kesengajaan untukmendapkan keuntungan. Manajemen RS perlu melakukan beberap hal untukmemperbiki keadaan ini seperti evaluasi atau revisi clinical pathway yang ada,memasukkan kepatuhan terhadap clinical pathway kedalam penilaian kinerja,Mentelaah kembali ketidaksesuain agar tidak berlanjut dan menimbulkan persepsiterjadinya kecurangan.Kata Kunci : pelayanan, pengklaiman, clinical pathway, kecurangan, fraud.
The purpose of this study to determine the conformfity of services and claiming inRSKD. If there are discrepancies, it is a fraud or cheating. This study is aqualitative with case study. A sample of 31 patients JKN performed radicalmastectomy without reconstruction in RSKD during January-March 2016. Theservice will be compared with the clinical pathways, while claiming to becompared with the existing regulations.The results showed that there are discrepancies in service and claiming in RSKD.There is a service conformity in the service of anesthetic services and claimingconformity in claiming ward and time of claiming. There is a service discrepancyin the placement services ward, length of stay, the implementation of theoperation schedule, non-anesthetic medication, postoperative laboratoryexamination. There is a claiming discrepancy in diagnostics claims which is notcorresponding to the medical resume. The confirmation has been doneto theimplementers in duty and note some important things like patient room class Iwhich is high demand, while the availability is limited, medicines given by DPJPaccording to the patient's complaints, time constraints of DPJP for visite times dueto other activities inside and outside the hospital, postoperative laboratoryexamination to be done when the patient's condition requires, and the difference indiagnosis had been confirmed to the patient's medical record and DPJP.The discrepancies which happened today does not lead to cheating or fraudbecause of the explanation that does not lead to the intentional for gettingadvantage. Hospital management need to do something to fix these condition suchas evaluation or revision of existing clinical pathways, clinical pathwaysincorporate compliance into performance appraisal, rechecking thediscrepanciesso that will not continue and creates the perception of fraud.Keywords: service, claiming, clinical pathways, cheating, fraud.
Read More
B-1811
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudi Febriadi; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Kurnia Sari, Vetty Yulianty Permanasari, Inda Torisia Hatang, Amila Megraini
Abstrak:
Latar belakang penelitian ini adalah karena masih terjadi pengembalian berkas klaim INACBG’s Rawat Inap di RS Kanker Dharmais dimana penyebab pengembalian tertinggi adalah pada kasus konfirmasi koding dan resume medis. Hal ini berpotensi menimbulkan kerugian bagi RS akibat pembayaran klaim yang tertunda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan analisis kelengkapan dan ketepatan komponen diagnosis, prosedur, dan koding terhadap besaran tarif klaim INACBG’s rawat inap di RS Kanker Dharmais. Studi kasus ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dan telaah resume medis pasien kanker payudara yang mendapatkan layanan operasi selama bulan Januari sampai dengan Juni 2022. Dari data awal yang didapatkan adalah bahwa di RS Kanker Dharmais pada tahun 2021 terlihat dari 12.941 berkas klaim rawat inap yang dikirimkan ke BPJS Kesehatan terdapat pengembalian berkas sebesar 1,38% yaitu 179 berkas. Artinya terdapat penundaan pembayaran klaim rawat inap sebesar Rp.6.927.739.198,- dari total klaim BPJS Kesehatan pada tahun 2021 sebesar Rp.223.542.062.405,- yang diajukan dalam periode tersebut. Kemudian dari data juga didapatkan bahwa pengembalian berkas klaim dikarenakan beberapa sebab seperti konfirmasi koding resume medis, kriteria klaim COVID19, dan konfirmasi pelayanan IGD yang lebih dari 6 jam. Alasan pengembalian berkas klaim paling banyak yaitu konfirmasi resume medis dan koding dengan porsi 90% dan nilai klaim sebesar Rp6.234.965.278,-. Bisa diartikan bahwa kelengkapan resume medis dan ketepatan koding merupakan alasan terbesar dalam penundaan atau bahkan bisa menjadi pengurangan pendapatan RS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 289 berkas tindakan operasi pasien kanker payudara selama Januari sampai Juni 2022. Kemudian diambil 168 sampel dari berkas tersebut untuk diteliti. Dari 168 sampel tersebut menunjukkan ada 20 berkas (11,9%) yang tidak sesuai dengan rincian, 11 sampel (13,4%) memiliki Diagnosis Sekunder yang tidak sesuai dan 10 sampel (6%) dengan Tindakan Operasi yang tidak sesuai. Namun dari hasil verifikasi berkas oleh Koder eksternal didapatkan perbedaan tarif INACBG’s dengan selisih lebih rendah Rp5,480.900,- pada 1 sampel. Dapat disimpulkan manajemen pengelolaan berkas klaim tindakan operasi kanker payudara di RSKD sudah cukup baik dibuktikan dengan hasil kelengkapan pengisian berkas rekam medis dan perbedaan minimal dari koding tindakan operasi. Hal ini terjadi berkat sudah berjalannya sistem rekam medis elektronik.

The background to this research is because there are still returns of INACBG's Inpatient claim files at Dharmais Cancer Hospital where the highest cause of returns is cases of coding confirmation and medical resumes. This has the potential to cause losses for hospitals due to delayed claim payments. The aim of this research is to analyze the completeness and accuracy of diagnosis, procedure and coding components on the amount of INACBG's inpatient claim rates at Dharmais Cancer Hospital. This case study uses a qualitative approach with in-depth interviews and review of medical resumes of breast cancer patients who received surgical services from January to June 2022. From the initial data obtained, in 2021, Dharmais Cancer Hospital saw 12,941 inpatient claim files submitted. sent to BPJS Health there was a file return of 1.38%, namely 179 files. This means that there is a delay in payment of inpatient claims amounting to IDR 6,927,739,198,- of the total BPJS Health claims in 2021 amounting to IDR 223,542,062,405,- submitted in that period. Then, from the data, it was also found that the return of claim files was due to several reasons, such as confirmation of medical resume coding, COVID19 claim criteria, and confirmation of emergency services taking more than 6 hours. The most common reason for returning claim files is confirmation of medical resumes and coding with a portion of 90% and a claim value of IDR 6,234,965,278.-. It could be interpreted that the completeness of medical resumes and the accuracy of coding are the biggest reasons for delays or even a reduction in hospital income. The research results showed that there were 289 files of breast cancer patient operations from January to June 2022. Then 168 samples were taken from these files for research. Of the 168 samples, 20 files (11.9%) showed that the details did not match, 11 samples (13.4%) had inappropriate secondary diagnoses and 10 samples (6%) had inappropriate surgical procedures. However, from the results of file verification by an external coder, it was found that the difference in INACBG's rates was a lower difference of IDR 5,480,900 in 1 sample. It can be concluded that the management of claim files for breast cancer surgery at RSKD is quite good, as evidenced by the completeness of filling in medical record files and minimal differences from the coding of surgical procedures. This happened thanks to the implementation of the electronic medical record system.
Read More
B-2450
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fatimah Dyah Nur Astuti; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Purnawan Junadi, Atik Nurwahyuni, Lestaria Aryanti
Abstrak: Absgtrak
Tujuan penelitian ini untuk menyusun clinical pathwaykemoterapi adjuvant pada kanker payudara tanpa penyakit komorbid dr RSUP Dr Kariadi Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian operasional denganmetode pengambilan data retrospektif. Penelitian dilakukan di RSUP Dr Kariadi Semarang pada tahun 2012 pada instalasi rekam medis, instalasi rawat inap, instalasi farmasi, instalasi laboratorium dan bagian perbekalan farmasi. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang didiagnosis dengan kanker payudara dengan pada tahun 2012, yang dilakukan kemoterapi.
 
Data primer yang didapatkan meliputi : Jumlah dan identitas pasien kanker payudara yang dilakukan kemoterapi pada tahun 2012, hasil wawancara dan wawancara mendalam, hasil wawancara dalam fokus grup diskusi, hasil pengamatan langsung pada saat kemoterapi dilakukan. Data sekunder didapatkan dari dokumen rekam medis pasien kanker payudara yang dilakukan kemoterapi pada tahun 2012. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu formulir penelitian, pedoman wawancara, pedoman diskusi grup. Karakteristik usia penderita kanker payudara berkisar antara 27 tahun dan yang tertua berusia 93 tahun dengan rerata usia 47,93 + 9,7 tahun. Pembiayaan terbanyak yang digunakan ialah dengan pembiayaan pribadi. Pasien kanker payudara pada tahun 2012 paling banyak berasal dari Semarang. Rata-rata lama hari perawatan pasien kanker payudara yang dilakukan kemoterapi ialah 8,3 hari.
 
Diagnosis kanker payudara dibedakan berdasarkan jenis histopatologi, stadium dan grading. Jenis kanker payudara yang paling banyak pada penelitian ini ialah Karsinoma Duktus Invasif. Stadium yang paling banyak dijumpai yaitu stadium IV. Derajat histopatologi yang paling banyak dijumpai ialah grade II. Jenis pemeriksaan yang paling banyak dilakukan yaitu pemeriksaan darah, pemeriksaan fungsi ekskresi ginjal dan pemeriksaan fungsi ekskresi liver. Pelayanan kemoterapi menggunakan kombinasi obat, dengan rata-rata 2,62 macam obat yang digunakan. Jenis obat yang paling banyak dilakukan yaitu Siklofosfamid, 5 Fluorouracil dan Doksorubisin.
 
Obat nonkemoterapi yang diberikan pada pasien kanker payudara yang akan dilakukan kemoterapi ialah obat anti muntah, obat anti alergi dan obat pencegah sekresi asam lambung. Clinical pathway kemoterapi pada kanker payudara melalui beberapa tahapan yaitu : Tahap pendaftaran kemoterapi, dapat dilakukan melalui instalasi rawat inap ataupun rawat jalan. Tahap persiapan kemoterapi dengan pemeriksaan laboratorium darah rutin, test fungsi ekskresi hepar dan test fungsi ekskresi ginjal.
 

 
The main purpose of this study is to arranging clinical pathway for adjuvant chemotherapy on breast cancer without comorbid disease at dr Kariadi General Hospital Semarang. This research is anoperational research, the data were collected retrospectively. The study was conducted at Dr Kariadi General Hospital Semarang in 2012. The data was taken on the medical records department, inpatient department, pharmacy department, laboratory department and pharmaceuticals department.
 
The samples in this study were breast cancer patients who underwent chemotherapy in 2012. Primary data that we obtained include: number and identity of patients breast cancer chemotherapy conducted in 2012, the results of interviews and in-depth interviews, the result of consensus making group discussion and direct observation during chemotherapy. Secondary data were obtained from medical records of breast cancer patients who underwent chemotherapy in 2012. Instrument that used in this studies were research form, guidance interviews, group discussion guidelines. Characteristics of breast cancer patients age in this study ranged from 27 years old for the youngest to93 years old for the oldest, with mean age was 47,93 + 9,7 years old. Most of the patient financial state was personal. Most breast cancer patients came from Semarang with average length of stay of 8,3 days.
 
Breast cancer diagnosis was distinguished by the type of histopathology, staging and grading. Most type of breast cancer in this study was Invasive Ductal Carcinoma, most staging found in this study was stadium IV. Most histopathological degree found was grade II. The examination that performed in patients were blood tests, kidney function tests, and liver function tests. In dr Kariadi General Hospital, the chemotherapy which is used for patients with breast cancers consist more than one drug, with an average of 2.62 different drugs used. The chemotherapy drugs that used frequently were Cyclophosphamide, 5 Fluorouracil and Doxorubicin.
 
Non-chemotherapy drugs which are given to patients with breast cancer who undergo chemotherapy are anti-vomiting drugs, antihistamines drugs and drugs to prevent gastric acid secretion. Clinical pathway in chemotherapy of breast cancer through several stages: chemotherapy registration phase which can be done through inpatient or outpatient. Chemotherapy preparation phase, with routine blood laboratory tests, liver function tests excretion and renal excretion function test.
Read More
B-1548
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Leonardo Emil FS; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Mieke Savitri, Budi Hartono, Kuntum Cheyra
B-1185
Depok : FKM-UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bambang Dwipoyono; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Purnawan Junadi, Mardiati Nadjib, Dience Erwina
Abstrak: Latar Belakang: Tatalaksana penderita kanker ovarium epitelial stadium lanjut adalah operasi stejing dan kemoterapi berbasis sisplatin atau berbasis taksan. Hingga saat ini belum dilakukan penghitungan biaya langsung yang berkaitan dengan operasi dan pemberian kemoterapi di RS Kanker Dharmais. Metode: Penelitian bersifat eksploratif dengan tujuan menganalisa biaya dua rejimen kemoterapi kombinasi (taksan-sisplatin dan sisplatin-siklofosfamid) pada penderita kanker ovarium epitelial dengan stadium lanjut. Desain studi yang digunakan adalah kohort retrospektivelompok terpajan adalah penderita kanker ovarium epitelial dengan kemoterapi taksan, dan kelompok tidak terpajan adalah penderita kanker ovarium epitelial dengan kemoterapi sisplatin. Data diperoleh dari rekam medis penderita kanker ovarium epitelial yang dirawat di RS Kanker Dharmais tahun 2008-2012 dengan jumlah pasien diteliti sebanyak 38 orang. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian, komponen biaya terbesar pada biaya operasi adalah kamar operasi, kemudian obat-obatan, personil, ICU/HCU, dan bahan habis pakai. Pada biaya kemoterapi, harga kemoterapi taksan rata-rata 1,5 kali lebih mahal dari sisplatin. Harga obat-obatan kemoterapi beserta obat efek samping pada kombinasi taksan 3-5 kali lebih mahal dibandingkan kemoterapi sisplatin. Waktu rerata kekambuhan untuk kelompok sisplatinum adalah 13,7 bulan (median 5 bulan) dan untuk kelompok taksan adalah 16,6 bulan (median 18 bulan). Kesimpulan: Rejimen kombinasi taksan sebagai ajuvan kemoterapi memberikan "proteksi" terhadap kekambuhan 3 kali dibandingkan rejimen berbasis sisplatinum berdasarkan angka mediannya. Rekomendasi untuk RSKD, yaitu perlu adanya pengaturan pemilihan, penggunaan dan pengadaan obat, bahan dan alat kesehatan. Untuk penelitian selanjutnya perlu perbaikan dari segi kelengkapan data. Untuk penelitian farmakoekonomi, diperlukan informasi yang lebih besar, jumlah sampel yang memadai, sehingga tujuan penelitian dapat lebih komprehensif.
Read More
B-2263
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive