Ditemukan 37425 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Agung Nugroho; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Fajar Hadisantosa
S-5913
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maruli C. Tampubolon; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Zulkifli Djunaidi, Muhiddin, Muhammad Dulpi
Abstrak:
Setiap tahun selalu terjadi kecelakaan kebakaran pada industri migas di Indonesia dan menimbulkan kerugian yang besar baik materi, peralatan, lingkungan dan manusia serta terganggunya proses produksi. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya-upaya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kebakaran tersebut dengan mencari akar penyebabnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis akar-akar penyebab kecelakaan kebakaran. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain deskriptif analitik. Penelitian dilakukan pada kecelakaan kebakaran tahun 2006-2010 di wilayah Indonesia dengan mengambil data sekunder dari Ditjen Migas.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab kecelakaan kebakaran yang terjadi pada industri migas di Indonesia pada tahun tersebut adalah disebabkan faktor manusia sebesar 41,67% atau 15 kejadian, faktor peralatan 41,67% atau 15 kejadian, faktor alam (gempa bumi) 1 kejadian atau 2,78% dan faktor lain sebesar 13, 89% atau 5 kejadian. Sedangkan akar penyebab (root cause) utama kecelakaan kebakaran tersebut pada faktor manusia adalah tidak adanya pengawasan (11 kejadian) dan untuk faktor peralatan disebabkan kurangnya program pemeliharaan yang bersifat pencegahan/ prediksi (10 kejadian).
Every year always happened a fire accident on the oil and gas industry in Indonesia and caused huge losses both on the material, equipment, environment and people and disruption of the production process too. Therefore, efforts need to be done to prevent the occurrence of fire accidents is by finding the root cause. This study aims to analyze the root causes of fire accidents. This study is a qualitative research design with descriptive analytic. The study was conducted in a fire accident years 2006-2010 in the territory of Indonesia by taking a secondary data from the Directorate General of Oil and Gas.
Research results indicate that these factors cause a fire accident that occurred on oil and gas industry in Indonesia for the year was caused by human performance difficulty of 41.67% or 15 events, equipment difficulty 41.67% or 15 incidents, natural disaster factors (earthquakes) 1 incidents or 2.78%, and other factors of 13, 89% or 5 events. While the root cause a major fire accident on the human factor is the lack of supervision (11 events) and to factor due to lack of equipment maintenance programs that are preventive/predictive (10 events).
Read More
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab kecelakaan kebakaran yang terjadi pada industri migas di Indonesia pada tahun tersebut adalah disebabkan faktor manusia sebesar 41,67% atau 15 kejadian, faktor peralatan 41,67% atau 15 kejadian, faktor alam (gempa bumi) 1 kejadian atau 2,78% dan faktor lain sebesar 13, 89% atau 5 kejadian. Sedangkan akar penyebab (root cause) utama kecelakaan kebakaran tersebut pada faktor manusia adalah tidak adanya pengawasan (11 kejadian) dan untuk faktor peralatan disebabkan kurangnya program pemeliharaan yang bersifat pencegahan/ prediksi (10 kejadian).
Every year always happened a fire accident on the oil and gas industry in Indonesia and caused huge losses both on the material, equipment, environment and people and disruption of the production process too. Therefore, efforts need to be done to prevent the occurrence of fire accidents is by finding the root cause. This study aims to analyze the root causes of fire accidents. This study is a qualitative research design with descriptive analytic. The study was conducted in a fire accident years 2006-2010 in the territory of Indonesia by taking a secondary data from the Directorate General of Oil and Gas.
Research results indicate that these factors cause a fire accident that occurred on oil and gas industry in Indonesia for the year was caused by human performance difficulty of 41.67% or 15 events, equipment difficulty 41.67% or 15 incidents, natural disaster factors (earthquakes) 1 incidents or 2.78%, and other factors of 13, 89% or 5 events. While the root cause a major fire accident on the human factor is the lack of supervision (11 events) and to factor due to lack of equipment maintenance programs that are preventive/predictive (10 events).
T-3490
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Chyntia Ayu Andarini; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Abdul Kadir, Laksita Ri Hastiti, Tubagus Dwika Yuantoko, Septyani Prihatiningsih
Abstrak:
Read More
Human error pada proses penyortiran parsel manual merupakan kontributor signifikan terhadap kejadian misroute dalam operasional logistik, yang secara langsung memengaruhi efisiensi operasional dan kualitas layanan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai keandalan manusia (human reliability) pada proses penyortiran manual di PT. XYZ menggunakan metode Human Error Assessment and Reduction Technique (HEART) yang diintegrasikan dengan model SHELL. Penelitian observasional dengan desain studi sebelum dan sesudah (before–after study) serta analisis komparatif pada dua kondisi: sebelum perbaikan proses manual sorting (18 sub-tugas, tanpa pemindaian wajib) dan sesudah perbaikan proses manual sorting (23 sub-tugas, dengan pemindaian wajib). Metodologi mencakup Hierarchical Task Analysis (HTA), identifikasi Error Producing Conditions (EPC) berbasis SHELL, klasifikasi Generic Task Type (GTT), penilaian Assessed Proportion of Effect (APOE) melalui Focus Group Discussion Subject Matter Expert yang melibatkan empat ahli, perhitungan Assessed Effect (AE), dan perhitungan Human Error Probability (HEP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata HEP menurun dari 0,142 menjadi 0,044 (penurunan sebesar 69,1%), sementara HEP tertinggi menurun dari 0,72 menjadi 0,160 (penurunan sebesar 77,8%). Misroute terkait penyortiran yang disebabkan oleh human error menurun dari 761 kasus (53,4%) menjadi 330 kasus (19,6%), atau turun sebesar 56,6%. Namun di sisi lain, proporsi misroute yang disebabkan oleh faktor sistem justru meningkat, yang mengindikasikan bahwa faktor kontributor bergeser dari human error menuju kesalahan sistem; sehingga peningkatan keandalan sistem tetap diperlukan untuk menjaga kinerja operasional secara keseluruhan. Temuan ini mengindikasikan bahwa perbaikan proses manual sorting, termasuk penerapan pemindaian wajib, secara substansial meningkatkan keandalan manusia, sekaligus menegaskan perlunya penguatan keandalan sistem secara berkelanjutan. Integrasi metode HEART dengan model SHELL terbukti efektif dalam mengidentifikasi faktor kontributor sistemik dan mengukur probabilitas human error, sehingga menjadi dasar dalam merancang intervensi pengurangan error yang tepat sasaran.
Human error in manual parcel sorting is a significant contributor to misrouting in logistics operations, directly affecting operational efficiency and service quality. This study aims to assess human reliability in the manual sorting process at PT. XYZ using the Human Error Assessment and Reduction Technique (HEART) integrated with the SHELL model. The research employed an observational before-after study design across two conditions: before the manual sorting process improvement (18 sub-tasks, without mandatory scanning) and after the manual sorting process improvement (23 sub-tasks, with mandatory scanning). The methodology comprised Hierarchical Task Analysis (HTA), SHELL-based Error Producing Conditions (EPC) identification, Generic Task Type (GTT) classification, fuzzy Assessed Proportion of Effect (APOE) scoring through a Subject Matter Expert Focus Group Discussion involving four experts, Assessed Effect (AE) computation, and Human Error Probability (HEP) calculation. The results showed that the mean HEP decreased from 0.142 to 0.044 (a reduction of 69.1%), while the highest HEP declined from 0.72 to 0.160 (a reduction of 77.8%). Sorting-related misrouting attributable to human error fell from 761 cases (53.4%) to 330 cases (19.6%), a reduction of 56.6%. Nevertheless, the proportion of misrouting attributable to system-related causes increased, indicating that the contributing factors shifted from human error toward system failures; thus, improving system reliability remains necessary to sustain overall operational performance. These findings indicate that the manual sorting process improvement, including the implementation of mandatory scanning, substantially enhanced human reliability, while underscoring the continued need to strengthen system reliability. The integration of the HEART method with the SHELL model proved effective in identifying systemic contributing factors and quantifying human error probability, providing a basis for designing targeted error-reduction interventions.
T-7675
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Muhamad Abdurrahman Al Hakim; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Apib KWW. Prayogi
Abstrak:
Read More
Kompleksitas dalam industri penerbangan menjadikan penyebab kecelakaan masih melibatkan faktor manusia, teknologi, dan organisasi. Sehingga, diperlukan adanya analisis yang mendalam mengenai contributing factors, underlying (root) causes, dan organizational failures untuk mengurai kompleksitas industri penerbangan serta mencegah faktor penyebab kecelakaan terulang kembali kedepannya. Penelitian ini menganalisis faktor yang berkontribusi dalam insiden kecelakaan pesawat dengan menggunakan metode Incident Cause Analysis Method (ICAM) dengan pedoman analisis yang dikhususkan untuk untuk menganalisis contributing factors, underlying (root) causes, dan organizational failures. Bentuk penelitian yang dilakukan adalah deskriptif analitis. Untuk kasus kecelakaan yang diteliti adalah Boeing 737-500 yang sudah dilakukan investigasi oleh KNKT serta data dari sumber lainnya. Dari hasil analisis menggunakan metode ICAM didapati hasil mengenai faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan yaitu Prosedur, Keterlambatan Sistem CTSM, Faktor Manusia, Pelatihan terkait Upset Recovery, sistem Manajemen Keselamatan pihak PT X, dan Regulasi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Saran yang dapat ditarik dari analisis ICAM berada dalam area peralatan, manusia, dan manajemen atau organisasi sesuai dengan akar yang berkontribusi terhadap kecelakaan terutama pada prosedur, peralatan, pelatihan pilot, sistem manajemen keselamatan, dan kebijakan.
The complexity of the aviation industry means that the causes of accidents still involve human, technological and organizational factors. Thus, an in-depth analysis of contributing factors, underlying (root) causes, and organizational failures is needed to unravel the complexity of the aviation industry and prevent accident-causing factors from recurring in the future. This research analyzes contributing factors in aircraft accident incidents using the Incident Cause Analysis Method (ICAM) with analysis guidelines specifically for analyzing contributing factors, underlying (root) causes, and organizational failures. The form of research conducted is descriptive analytical. The accident case studied is the Boeing 737-500 accident which has been investigated by the KNKT and data from other sources. From the results of the analysis using the ICAM method, it was found that the factors that contributed to the accident were Procedures, Delays in the CTSM System, Human Factors, Training related to Upset Recovery, PT X Air's Safety Management system, and Directorate General of Civil Aviation regulations. Suggestions that can be drawn from the ICAM analysis are in the areas of equipment, people, and management or organization according to the roots that contribute to accidents, especially in procedures, equipment, pilot training, safety management systems, and policies.
S-11675
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hani Mairina Matan; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Hendra, Chandra Satrya, Adenan
Abstrak:
Tesis ini mengkaji implementasi sistem investigasi, tipe-tipe kecelakaan kerja dan penyebabnya pada industri manufaktur sepatu dengan fokus menganalisis kecelakaan kerja yang sering terjadi beserta faktor penyebab dasar yang berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan kerja. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dan unit analisis yang digunakan adalah data kecelakaan kerja tercatat 2009-2012 dan hasil wawancara. Strategi yang digunakan adalah analisis hasil wawancara dan data sekunder.
Kesimpulan penelitian ini adalah angka kecelakaan kerja selama 2009-2012 menurun. Tipe kecelakaan terbanyak adalah kecelakaan tersangkut di atau pada (tertusuk jarum), di area NCVS karena mesin jahit. Penyebab dasar diketahui datang dari sisi manajemen dan kelemahan sistem investigasi terletak pada kurangnya prosedur tertulis, kurangnya kompetensi/pelatihan, kurangnya manajemen/supervisi dan kurangnya pengetahuan.
This research aim to study the implementation of accident investigation system, the type of accidents and the causes occur in shoe manufacturing industry with focus analyzing the most frequent accident happened and their contributory causes. This research character and approach is descriptive qualitative with the unit of analysis are the 2009-2012 accident reports data and interview results. The strategy being used to collect data is interview and analyzing secondary data.
The conclusion which can be pulled that the number of accident in PT ADF during 2009-2012 is declining. Type of accident mostly caught in or on (caught in needle), at NCVS area because of sewing/stitching machine. The contributory cause comes mostly from management side and for the accident investigation system weaknesses are inadequate written procedure, inadequate training/competence, inadequate management/supervision and lack of knowledge.
Read More
Kesimpulan penelitian ini adalah angka kecelakaan kerja selama 2009-2012 menurun. Tipe kecelakaan terbanyak adalah kecelakaan tersangkut di atau pada (tertusuk jarum), di area NCVS karena mesin jahit. Penyebab dasar diketahui datang dari sisi manajemen dan kelemahan sistem investigasi terletak pada kurangnya prosedur tertulis, kurangnya kompetensi/pelatihan, kurangnya manajemen/supervisi dan kurangnya pengetahuan.
This research aim to study the implementation of accident investigation system, the type of accidents and the causes occur in shoe manufacturing industry with focus analyzing the most frequent accident happened and their contributory causes. This research character and approach is descriptive qualitative with the unit of analysis are the 2009-2012 accident reports data and interview results. The strategy being used to collect data is interview and analyzing secondary data.
The conclusion which can be pulled that the number of accident in PT ADF during 2009-2012 is declining. Type of accident mostly caught in or on (caught in needle), at NCVS area because of sewing/stitching machine. The contributory cause comes mostly from management side and for the accident investigation system weaknesses are inadequate written procedure, inadequate training/competence, inadequate management/supervision and lack of knowledge.
T-3774
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Risala Bayna; Pembimbing: Erwandi, Dadan; Kurniawan, Sigit
L-226
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
S1 - Laporan Magang Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rysha Dwi Septerini; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Auliah Rahmi
Abstrak:
Read More
Program 'Behavior Based Safety' dirancang untuk melindungi pekerja dari risiko bahaya dan mencegah kecelakaan kerja. Meskipun tujuannya positif, implementasi program ini sering dihadapkan pada tantangan, termasuk kurangnya partisipasi dan penolakan oleh beberapa pekerja. Kajian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai aspek yang berkaitan dengan program 'Behavior Based Safety' dari Penerapan program, analisis tren kecelakaan, pengaruh sikap dan perilaku pada penerapan program 'Behavior Based Safety' terhadap Kejadian Kecelakaan Kerja. Penelitian ini dilakukan di PT. X dengan lokasi di beberapa wilayah di Indonesia, antara April hingga Juli 2023. Studi melibatkan 299 karyawan dari berbagai jenis layanan di 35 lokasi PT. X. program dinilai dengan menganalisis data kecelakaan selama periode FY15-FY16 dan FY18-FY20. Studi ini menggunakan pendekatan analisis deskriptif dengan melibatkan data primer yang diperoleh melalui kuesioner, mengukur sikap dan perilaku terkait program ini. Data sekunder juga digunakan untuk mendukung penelitian ini. Data dianalisis menggunakan berbagai metode statistik, termasuk analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji chi-square. Dalam penerapan program ‘Behavior Based Safety’, responden memiliki beberapa sikap dan perilaku baik/kurang baik yang tidak berbeda secara signifikan maupun yang berbeda secara signifikan. Sebagian besar responden memiliki sikap yang baik terhadap safety walk, safety observation dan nearmissed report serta sebagian besar responden memiliki perilaku yang baik terhadap risk assessment, safe system of work serta training & supervision. Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa program Behavior Based Safety secara statistik berpengaruh terhadap angka kecelakaan kerja, namun sikap dan perilaku pekerja penerapan program tidak ada pengaruh secara signifikan terhadap kejadian kecelakaan kerja. Maka perlu meningkatkan program Behavior Based Safety dan memastikan pekerja konsisten dalam penerapan program Behavior Based Safety
The 'Behavior Based Safety' program is designed to protect workers from hazards and prevent work accidents. Despite the positive goals, implementation of these programs has often been met with challenges, including lack of participation and resistance by some workers. This study aims to examine various aspects related to the 'Behavior Based Safety' program from program implementation, analysis of accident trends, the influence of attitudes and behavior on the implementation of the 'Behavior Based Safety' program for Occupational Accidents. This research was conducted at PT. X with locations in several regions in Indonesia, between April and July 2023. The study involved 299 employees from various types of services in 35 locations of PT. X. program was assessed by analyzing accident data during the period FY15-FY16 and FY18-FY20. This study uses a descriptive analysis approach involving primary data obtained through questionnaires, measuring attitudes and behavior related to this program. Secondary data is also used to support this research. Data were analyzed using various statistical methods, including univariate analysis and bivariate analysis with the chi-square test. In implementing the 'Behavior Based Safety' program, respondents had several good/bad attitudes and behaviors that were not significantly different or significantly different. Most of the respondents had a good attitude towards safety walk, safety observation and near-missed report and most of the respondents had good attitude towards risk assessment, safe system of work and training & supervision. The results of this study prove that the Behavior Based Safety program statistically has an effect on the number of work accidents, but the attitude and behavior of workers implementing the program has no significant effect on the occurrence of work accidents. Therefore, it is necessary to enchance the Behavior Based Safety program and ensure that employees are consistent in implementing the Behavior Based Safety program
T-6813
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wiwik Setyowati; Pembimbing: L. Meilly Kurniawidjaja; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Yuni Kusminanti
Abstrak:
PT X adalah salah satu anak perusahaan manufaktur Astra Group dengan kegiatan dan produksinya memiliki potensi menimbulkan dampak terhadap aspek K3 yang dapat mengakibatkan kecelakaan, kebakaran dan penyakit akibat kerja. Dari data Frequency Rate & Severity Rate di Divisi Agrobussiness & Divisi Heavy Equipment ? Astra Group masih cenderung mengalami peningkatan, maka perlu dilakukan perbaikan dan evaluasi Pedoman Sistem Manajemen LK3 (SMLK3) atau disebut juga Astra Green Company. Metode penelitian ini adalah deskriptif analitik. Data kualitatif Elemen SMLK3 yang telah dikembangkan oleh PT Astra International Tbk Korporat dalam bentuk tabel dan narasi dianalis dengan membandingkan Sistem Manajemen K3LL yang telah dikembangkan PT Pertamina Korporat yang mengacu pada persyaratan OHSAS 18001, OHSMS Australian/ New Zealand Standard 4801:2001 dan ISO 14001. Data kualitatif kondisi eksisting implementasi SMLK3 didapatkan dari hasil asesmen, wawancara, verifikasi dokumen dan tinjauan lapangan, kemudian dianalisis dengan membandingkan Pedoman SMK3LL PT Pertamina Korporat. Hasil penelitian perbandingan SMLK3 yang dikembangkan oleh PT Astra International Tbk dengan SMK3LL PT Pertamina Korporat secara substansi sama, namun ada 4 (empat) Elemen yang belum dikembangkan PT Astra International Tbk yaitu tahap 2 ? Perencanaan (Planning) Elemen 1 - Penilaian Awal (initial review), Elemen 7 - Manajemen Perubahan, ELemen 10 ? Dokumentasi dan Elemen 11 ? Penyelidikan Kejadian. Untuk evaluasi penerapan SMLK3 di PT X diketahui bahwa status akhir pencapaian adalah Hijau (76 ? 89 %). Untuk memperkaya SMLK3 AI, disarankan perlu mengembangkan 4 (empat) elemen dalam SMLK3 yaitu pada tahap 2 ? Perencanaan (Planning) Elemen 1 - Penilaian Awal (initial review), tahap 3 ? Penerapan Elemen 7 - Manajemen Perubahan, ELemen 10 ? Dokumentasi dan Elemen 11 ? Penyelidikan Kejadian. Dengan mengacu pada usulan perbaikan, setelah dievaluasi penerapan SMLK3 di PT X seyogyanya diperhatikan pada pilar 1 - Green Strategy mengenai updating identifikasi peraturan perundangan dan persyaratan lainnya dan pengendalian dokumen eksternal; pilar 2 - Green Process mengenai pengendalian operasional yang mencakup instalasi listrik, alat pelindung diri, alat proteksi kebakaran, housekeeping, bejana tekan dan instalasi petir; pilar 3 - Green Product mengenai penetapan langkah-langkah yang diperlukan untuk menghasilkan Green Product sesuai program-program yang sudah ditetapkan, termasuk jadwal waktu pelaksanaannya; pilar 4 ? Green Employee tentang pelaksanaan rencana pelatihan yang telah ditetapkan, sesuai jadual yang ada dan dilakukan evaluasi pelatihan sesuai kompetensinya
Read More
S-5593
Depok : FKM UI, 2008
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Feri Sri Wibowo; Pembimbing: Hendra; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Agus Susanto
S-5008
Depok : FKM-UI, 2007
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Levina Natalia Sianturi; Pembimbing: Dadan Erwandi, Robiana Modjo; Penguji: Wayne Satria
Abstrak:
Read More
T. ABC merupakan salah satu perusahaan yang memiliki aktivitas mengemudi yang cukup tinggi dan juga memiliki banyak jenis kendaraan yang digunakan untuk mendukung operasional perusahaan. Adapun jumlah kecelakaan lalu lintas pada kendaraan operasional PT. ABC setiap tahunnya mengalami peningkatan seperti pada tahun 2017 terjadi 25 kecelakaan, 2018 meningkat menjadi 42 kecelakaan dan 2019 ada 43 kecelakaan .Kejadian kecelakaan tidak pernah luput dari faktor manusia didalamnya. Sikap mengemudi menjadi salah satu dari beberapa faktor penting dalam berkendara (Reason et al., 1990). Driving Behaviour ditemukan berhubungan dengan accident rate (Mallia et al., 2015). Semenjak ditemukan hal tersebut, Driving Behaviour Questionnaire digunakan oleh beberapa peniliti untuk menentukan skor DBQ dari pengemudi (Reason et al., 1990; Lajunen, Parker and Summala, 2004; Sucha, Sramkova and Risser, 2014). Penelitian ini menganalisis pengaruh pelatihan Safe Driving terhadap skor DBQ para pekerja dan juga menganalisis pengaruh faktor determinan pekerja terhadap skor DBQ. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor DBQ pekerja (Pre-training) terhadap (Post-training) menggunakan analisis T-test didapatkan hasil: 1) “Kemampuan Mengendalikan Emosi Saat Berkendara” mengalami perubahan signifikan setelah pelatihan Safe Driving (Mean= -1,0067; SD= 0,76821; P<0,05). 2) “Ketaatan Terhadap Aturan Saat Berkendara” mengalami perubahan signifikan setelah dilakukannya pelatihan Safe Driving (Mean= -0,1333; SD= 0,27279; P<0,05), 3) “Sikap Positif Dalam Mengemudi” mengalami perubahan signifikan setelah pelatihan Safe Driving (Mean= -0,54074; SD= 0,92858; P<0,05), 4) “Tidak Melakukan Kesalahan Saat Berkendara” mengalami perubahan signifikan setelah pelatihan Safe Driving (Mean= -1,5333; SD= 0,27279; P<0,05), 5) “Tidak melakukan Penyimpangan Saat Berkendara” mengalami perubahan signifikan setelah pelatihan Safe Driving (Mean= 0,2556; SD = 0,27279; P<0,05), dan 6) “Fokus Saat Berkendara” mengalami perubahan signifikan setelah pelatihan Safe Driving (Mean = -0,39259; SD = 0,27279; P<0,05). Peneliti menyarankan: 1) PT. ABC untuk melakukan continuous improvement terhadap komponen “Tidak Melakukan Kesalahan Saat Berkendara” dan “Kemampuan Mengendalikan Emosi Saat Berkendara” karena peningkatan skor DBQ sudah cukup tinggi, 2) PT. ABC untuk melakukan review dan perbaikan komponen “Ketaatan Terhadap Aturan Saat Berkendara” dan “Tidak Melakukan Penyimpangan Saat Berkendara” karena peningkatan skor DBQ sangat rendah, 3) PT. ABC diharapkan untuk melakukan pelatihan Safe Driving dalam rentang waktu yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapan Perusahaan dengan upaya untuk meningkatkan skor DBQ dari para Driver secara berkala, dan 4) PT. ABC diharapkan untuk melakukan screening skor DBQ bagi para calon Driver, saat dilakukannya proses rekrutmen. Kata kunci: Angka kecelakaan, Human Factor, Driving Behaviour, Driving Behaviour Questionnaire, dan pelatihan Safe Driving. Universitas Indonesia vi
PT. ABC is one of a company whixh has a lot of driving activities and also has a lot of vehicle types to support company’s operational matters. There are a significant increasing numbers of collisions in PT. ABC, in 2017 there were 25 cases, in 2018 there were 42 cases, and last year in 2019 there were 43 cases. Traffic accident never neglects human factor as a consideration. Driving behavior is one of a determinant factor in driving (Reason et al., 1990). It is also worth to mention that Driving Behaviour has a significant impact as a cause of collision (Mallia et al., 2015). Since the discovery, many researchers used Driving Behaviour Questionnaire (DBQ) as a tool to measure Driving Behaviour of the driver (Reason et al., 1990; Lajunen, Parker and Summala, 2004; Sucha, Sramkova and Risser, 2014). PT. ABC has a method and tool to increase the score of DBQ of the Drivers by implementing Safety Driving Training for the Drivers and also analyze the effects of respondent’s demographic into DBQ scores. The result of this study shows a significant changes in DBQ of the driver using TTest analysis and the results are: 1) “Ability of Controlling Emotion while Driving” significantly is increased after Safety Driving training (Mean = -1,0067; SD = 0,76821; P<0,05). 2) “Compliance to the Driving Rules” is significantly increased after Safety Driving training (Mean = -0,1333; SD = 0,27279; P<0,05), 3) “Positive Attitudes Towards Driving” issignificantly increased after Safety Driving training (Mean = -0,54074; SD = 0,92858; P<0,05), 4) “Not Performing Errors while Driving” is significantly increased after Safety Driving training (Mean = -1,5333; SD = 0,27279; P<0,05), 5) “Not Performing Lapses while Driving” is significantly increased after Safety Driving training (Mean = 0,2556; SD = 0,27279; P<0,05), and 6) “Focus while Driving” is significantly increased after Safety Driving training (Mean = -0,39259; SD = 0,27279; P<0,05). The Author suggestc: 1) PT. ABC to do a continuous improvements for “Not Performing Errors while Driving” and “Ability of Controlling Emotions while Driving” due to high increment of those variables, 2) PT. ABC to review and heavily improve on “Compliance to the Driving Rules” and “Not Performing Lapses while Driving” due to low increment of those variables, 3) PT. ABC to do a regular Safe Driving training to improve DBQ score of the Driver, and 4) PT. ABC to do DBQ score screening for a future recruitment of a new Driver. Key words: Accident numbers, Human Factor, Driving Behaviour, Driving Behaviour Questionnaire, and Safety Driving Training.
T-6209
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
