Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36887 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sudikno; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Besral, Engkus Kusdinar Achmad, Sandjaja, Muhamad Nasir
T-3241
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nada Aliyatunnisa; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Prima Alhazimi, Bhayu Hanggadhi Nugroho
Abstrak:
Penyakit Gagal Jantung di Rumah Sakit Universitas Indonesia Tahun 2026 Gagal jantung merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan angka morbiditas dan mortalitas tinggi yang berdampak signifikan terhadap penurunan kualitas hidup pasien. Aktivitas fisik diidentifikasi sebagai salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan kualitas hidup pada pasien penyakit gagal jantung di Poli Jantung dan Kardiovaskular Rumah Sakit Universitas Indonesia Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Sampel berjumlah 98 responden yang dipilih menggunakan simple random sampling. Tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner IPAQ LF dan kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner SF 36. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji Chi-Square dan analisis stratifikasi menggunakan uji Mantel-Haenszel. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik cukup (70,4%) dan kualitas hidup buruk (56,1%). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dengan kualitas hidup pasien gagal jantung (p value = 0,003; OR = 4,432; 95% CI: 1,606–12,236). Pasien dengan aktivitas fisik cukup berpeluang 4,432 lebih besar memiliki kualitas hidup baik dibandingkan pasien dengan aktivitas fisik kurang. Peningkatan program rehabilitasi jantung dan edukasi aktivitas fisik di fasilitas kesehatan diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien gagal jantung.

Heart failure is one of the non communicable diseases with high morbidity and mortality rates that significantly impacts patients quality of life. Physical activity has been identified as an important factor that can influence the quality of life of heart failure patients. This study aimed to determine the relationship between physical activity level and quality of life in heart failure patients at the Cardiology and Cardiovascular Polyclinic of Universitas Indonesia Hospital in 2026. This study used an analytic observational design with a cross sectional approach. The sample consisted of 98 respondents selected using simple random sampling. Physical activity level was measured using the IPAQ LF questionnaire and quality of life was measured using the SF-36 questionnaire. Data analysis was performed bivariately using the Chi Square test and stratification analysis using the Mantel-Haenszel test. The results showed that the majority of respondents had sufficient physical activity (70.4%) and poor quality of life (56.1%). There was a significant relationship between physical activity level and quality of life of heart failure patients (p value = 0.003; OR = 4.432; 95% CI: 1.606–12.236). The Mantel-Haenszel stratification analysis showed that age and gender acted as effect modifiers, with the relationship between physical activity and quality of life being stronger in the age group
Read More
S-12346
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Hajar Fauzanin; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Triyanti, Tris Eryando, Yekti Widodo, Lina Marlia
Abstrak: Anemia kehamilan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang banyak terjadi baik di negara maju maupun negara berkembang. Anemia kehamilan umumnya dikaitkan dengan kondisi kehamilan yang buruk dan dapat mengakibatkan komplikasi yang mengancam kehidupan ibu dan janin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan umur dengan anemia kehamilan di Indonesia berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Penelitian ini bersifat kuantitatif menggunakan data sekunder dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dengan metode penelitian potong lintang
Anemia in pregnancy is a public health problem that often occurs both in developed and developing countries. Anemia during pregnancy is generally associated with poor pregnancy conditions and can lead to complications that threaten the lives of the mother and fetus. This study aims to analyze the relationship between age and pregnancy anemia in Indonesia based on Riset kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. This quantitative research is using cross sectional research method. This study covers all provinces and districts / cities in Indonesia, which were carried out starting from preparation until further analysis in 2018 and secondary data were processed in September - December 2019
Read More
T-6003
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Annisa Fauziyah; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko, Yovsyah, Yoan Hotnida Naomi, Siti Kulsum
Abstrak: Hipertensi adalah tekanan darah tinggi dimana sistolik ≥ 140 mmHg dan atau diastolik ≥ 90 mmHg, definisi ini berdasarkan JNC 7. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan depresi dan status pekerjaan dengan kejadian hipertensi pada wanita dewasa di Indonesia dengan menganalisis data IFLS-5 tahun 2014. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan sampel penelitian sebesar 14.349, sample diambil berdasarkan total samping data yang masuk dalam kriteria inklusi dan eklusi penelitian. Depresi diukur menggunakan CES-D (Center for Epidemiological Studies Depression) yang memiliki 10 pertanyaan. Hasil penelitian ini menujukan bahwa proporsi hipertensi pada wanita dewasa di Indonesia pada tahun 2014 dengan menggunakan data IFLS-5 sebesar 23,8%. Hasil multivariate hubungan depresi dengan hipertensi memiliki P-value > 0,005 ini berarti tidak ada hubungan antara depresi dengan kejadian hipertensi pada wanita dewasa di Indoneisa, hubungan status pekerjaan dengan hipertensi memiliki P-value 0,023 ini berarti P- value < 0,05 dan nilai PR adjusted 0,920 (CI 95% 0,856-0,989) ini berarti bahwa yang memiliki risiko lebih tinggi terjadinya hipertensi adalah ibu yang tidak bekerja dengan risiko lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang bekerja.
Read More
T-5526
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Syafitriani; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Ayu Dewi Sartika, Yuni Zahraini, Guspianto
Abstrak: Indonesia termasuk dalam 17 negara yang mengalami beban ganda permasalahan gizi, salah satunya adalah stunting sebesar 37,2%, Tahun 2021 terlihat laju penurunan prevalensi stunting sudah semakin membaik terlihat data SSGI 2021 menunjukkan prevalensi stunting dari Tahun 2019 menurun 3,9% diikuti penurunan tahun 2021 menurun 3,3% dari 27,67% menjadi 24,4% di Tahun 2021. Kehamilan Tidak Diinginkan di Indonesia cenderung stagnan dan belum turun. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 memperlihatkan prevalensi KTD sebesar 15%, selanjutnya tahun 2018 Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program KKBPK (SKAP) memperlihatkan angka KTD 15%. Kehamilan tidak diinginkan menjadi faktor pemungkin dan memiliki peranan dalam menyebabkan stunting, dimulai sejak masa kehamilan seperti kesiapan untuk memiliki anak memberikan pengaruh terhadap kejadian kehamilan tidak diinginkan dan pola pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui hubungan kehamilan tidak diinginkan dengan kejadian stunting pada balita 12-24 bulan di Indonesia, bersifat kuantitatif menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Penelitian ini mencakup seluruh provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia. Penelitian ini menggunakan analisis data dengan menu complex samples. Hasil penelitian ini didapatkan tidak ada hubungan bermakna antara Kehamilan Tidak Diinginkan dengan Kejadian Stunting pada Baduta (12-24 bulan) di Indonesia pada analisis bivariat dengan menggunakan uji chi-square dengan nilai p 0,648 (OR: 1,054; 95%CI: 0,840 ? 1,324). Pada analisis multivariat dengan menggunakan uji regeresi logistik menunjukkan Kehamilan Tidak Diinginkan memiliki pengaruh 1,287 berisiko lebih besar pada Kehamilan Tidak Diinginkan untuk menjadi Stunting dibandingkan pada Kehamilan Diinginkan (p 0,086, OR: 1,287; 95%CI: 0,965-1,716). Terdapat konfonding pada penelitian ini yaitu variabel ASI Eksklusif (aOR=1,l92: 95%CI : 0,987-1,441: p value 0,069). Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), Tingkat Sosial Ekonomi dan Jenis Kelamin merupakan faktor pengontrol yang mempengaruhi kejadian Stunting pada Baduta (12-24 bulan) di Indonesia, bayi yang lahir BBLR akan memiliki peluang risiko 2,508 kali lebih besar untuk menjadi stunting pada Baduta (12-24 bulan) dibanding dengan bayi lahir normal (p 0,000, OR: 2,508; 95%CI: 1,632-3,855), semakin rendah tingkat sosial ekonomi keluarga akan berisiko 2,151 kali lebih besar untuk mengalami stunting (p0,000, OR:2,151; 95%CI: 1,596-2,900), jenis kelamin laki-laki lebih memiliki kemungkinan mengalami stunting 1.309 kali berisiko dibanding anak perempuan (aOR: 1,309; 95% CI 1,090  1,573; pvalue = 0,004).
Indonesia is one of 17 countries that have experienied in a double burden of nutritional problems, one of which is stunting of 37.2%, In 2021, the rate of decline in the prevalence of stunting has improved, as can be seen from the 2021 SSGI data showing the prevalence of stunting from 2019 decreased by 3.9% followed by a decrease in 2021 decreased by 3.3% from 27.67% to 24.4% in 2021. Unwanted pregnancies in Indonesia tend to be stagnant and have not decreased. Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) showed an adverse event prevalence of 15%, then the Program Performance and Accountability Survey (SKAP) in 2018 showed an adverse event rate of 15%. Unwanted pregnancy is an enabling factor and has a role in causing stunting, starting from the time of pregnancy such as readiness to have children which influences the incidence of unwanted pregnancies and parenting patterns. This study aims to determine the relationship between unwanted pregnancies and the incidence of stunting in toddlers 12-24 months in Indonesia, using secondary data from Riskesdas 2018 in quantitative methods. This research covered all provinces and districts/cities in Indonesia. This research uses data analysis with complex samples menu. The result of this research showed that there was no significant relationship between unwanted pregnancy and stunting in Baduta (12-24 months) in Indonesia in bivariate analysis using the chi-square test with a p-value of p 0,648 (OR: 1,054; 95%CI: 0,840 ? 1,324). In multivariate analysis using logistic regression test showed that unwanted pregnancy had a 1.287 greater risk of unwanted pregnancy becoming stunting than unwanted pregnancy (p 0,086, OR: 1,287; 95%CI: 0,965-1,716). There was a confounding in this research, namely the exclusive breastfeeding variable (aOR=1,192: 95%CI : 0,987-1,441: p value 0,069). Low Birth Weight (LBW), Socioeconomic Level and Gender are controlling factors that influence the incidence of stunting in Baduta (12-24 months) in Indonesia, the babies born with LBW will have a 2,508 times greater chance of being stunting in Baduta (12-24 months) compared to babies born normally (p 0,000, OR: 2,508; 95%CI: 1,632-3,855), the lower the socio economic level of the family, the risk is 2.151 times greater for stunting p 0,000, OR:2,151; 95%CI: 1,596-2,900), the male is more likely to experience stunting 1.309 times the risk than female (aOR: 1,309; 95% CI 1,090  1,573; pvalue = 0,004).
Read More
T-6505
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Komang Novi Suryani; Pembimbing: Kemal N. Siregar; Penguji: Besral, Milla Herdayati, Dian Kristiani Irawaty, Rikawarstuti
Abstrak:
Lebih dari 90% kasus anak terinfeksi HIV, ditularkan melalui proses penularan dari ibu ke anak. Tujuan penelitian mengetahui hubungan antara keteraturan pelayanan antenatal dengan tes HIV pada ibu hamil di Indonesia berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitian observasional metode survei (cross sectional) dengan menggunakan data yang bersumber dari Riskesdas tahun 2018. Sampelnya wanita usia subur di Indonesia yang memiliki riwayat kehamilan dan terpilih yang menjadi responden Riskesdas tahun 2018 serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Besar sampel pada penelitian ini adalah 12.383 responden. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah tes HIV pada ibu hamil, variabel independen utama yaitu keteraturan pemeriksaan antenatal (ANC) dan variabel kovariat yaitu umur, tempat tinggal, pendidikan, status bekerja, paritas, pengetahuan HIV, sikap terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA), pelayanan antenatal 10T, tenaga kesehatan (nakes) pemberi layanan dan fasilitas kesehatan (faskes) tempat ibu periksa hamil. Variabel keteraturan pemeriksaan antenatal dan variabel fasilitas kesehatan memiliki efek yang hampir sama dalam mempengaruhi rendahnya cakupan tes HIV pada ibu hamil. Tes HIV pada ibu yang teratur periksa hamil ditemukan 1,8 kali lebih banyak di perkotaan dan 2,2 kali lebih banyak di perdesaan dibandingkan dengan yang tidak teratur periksa hamil. Selanjutnya tes HIV pada ibu yang teratur periksa hamil lebih banyak ditemukan 1,5 kali yang periksa di rumah sakit, 2,8 kali yang periksa di puskesmas dan 2,2 kali yang periksa di klinik/praktek mandiri dibandingkan dengan yang tidak teratur periksa hamil. Saran kepada tenaga kesehatan dan pengelola program KIA untuk meningkatkatkan keteraturan dan kelengkapan pelayanan Antenatal serta meningkatkan ketersediaan fasilitas tes HIV

More than 90% of cases of children infected with HIV are transmitted through the process of mother-to-child transmission. The purpose of the study was to determine the relationship between the regularity of antenatal care and HIV testing in pregnant women in Indonesia based on data from the 2018 Basic Health Research (Riskesdas). This study was an observational survey method (cross sectional) using data sourced from Riskesdas in 2018. The sample was women. of childbearing age in Indonesia who have a history of pregnancy and were selected as Riskesdas respondents in 2018 and met the inclusion and exclusion criteria. The sample size in this study was 12,383 respondents. The dependent variable in this study was HIV testing for pregnant women, the main independent variable was the regularity of antenatal check-ups (ANC) and the covariates were age, place of residence, education, work status, parity, knowledge of HIV, attitudes towards people living with HIV/AIDS (PLWHA). ), 10T antenatal care, health workers (nakes) who provide services and health facilities (faskes) where mothers check for pregnancy. The variables of regularity of antenatal check-ups and variables of health facilities have almost the same effect in influencing the low coverage of HIV testing in pregnant women. There were 1.8 times more HIV tests in women who had regular pregnancy check-ups in urban areas and 2.2 times more in rural areas compared to those who did not regularly check for pregnancy. Furthermore, HIV tests for mothers who regularly check for pregnancy are found to be 1.5 times more checked at the hospital, 2.8 times are checked at the puskesmas and 2.2 times are checked at the clinic/independent practice compared to those who do not regularly check for pregnancy. Suggestions to health workers and MCH program managers to improve the regularity and completeness of Antenatal services and increase the availability of HIV testing facilities
Read More
T-6287
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Friska Augustina Zai; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo; Penguji: Agustin Kusumayanti, Jonhar Johan
S-6873
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Sufinah; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Putri Bungsu, Agus Triwinarto
S-9442
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Puspita Sari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Evi Martha, Laily Hanifah
Abstrak: Pengetahuan masyarakat yang minim tentang HIV/AIDS dan interpretasi yang salah tentang masalah tersebut merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya penurunan jumlah kasus orang dengan HIV/AIDS. Perlakuan tidak adil, kasar, dan stigma yang negatif membuat ODHA tidak mau memberanikan dirinya untuk terbuka bahkan untuk mengakses pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan pada wanita pernah kawin usia 15-49 tahun yang berhubungan dengan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Penelitian ini merupakan penelitian jenis deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian ini adalah wanita pernah kawin usia 15-49 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS dalam data SDKI 2012. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara umur yang lebih muda dalam memberi stigma terhadap ODHA daripada umur yang lebih tua. Semakin rendah pendidikan seseorang semakin besar kemungkinan untuk memberi stigma terhadap ODHA. Selain itu, pengetahuan komprehensif mengenai HIV/AIDS yang kurang juga dapat menyebabkan seseorang menstigma ODHA. Hasil uji chi-square didapatkan proporsi wilayah pedesaan lebih memberi stigma terhadap ODHA daripada wilayah perkotaan. Pemanfaatan sumber informasi juga sangat berpengaruh dalam memberi stigma terhadap ODHA, responden dengan sumber informasi ≤ 3 jenis cenderung memberi stigma terhadap ODHA. Status ekonomi rendah juga cenderung memberi stigma terhadap ODHA. Upaya keterlibatan seluruh stakeholder untuk peningkatan keterpaparan informasi sebagai upaya promotif dan preventif dengan penyebaran informasi tentang HIV/AIDS melalui media massa, khususnya melalui koran, radio, dan televisi lokal.
Kata Kunci : Wanita Pernah Kawin, ODHA, Stigma
Read More
S-8552
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dinda Syifa Al Adila; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Popy Yuniar, Pratono, Toha Muhaimin
Abstrak:
Kepatuhan pengobatan ARV memiliki hubungan untuk menekan virus pada ODHIV. Akan tetapi, angka putus berobat atau Loss To Follow Up (LTFU) masih tinggi. Berdasarkan pencatatan kasus HIV di RSUD Koja, angka LTFU ODHIV dalam pengobatan tergolong besar yakni 22%. Hal ini hampir mendekati data nasional LTFU sebesar 25%. Berbagai faktor berperan besar pada kepatuhan pengobatan ARV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan ARV pada ODHIV dewasa di RSUD Koja. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pada 731 ODHIV dewasa. Diketahui proporsi kepatuhan pengobatan sebesar 59,6% dan ketidakpatuhan sebesar 40,4%. Determinan yang memiliki hubungan signifikan ada pada ODHIV yaitu rute transmisi dengan heteroseksual (OR = 0,322 95% CI: 0,168 – 0,619) dimana kelompok homoseksual menjadi kelompok protektif, tidak adanya infeksi oportunistik (OR = 2,694 95% CI: 1,952 – 3,719), dan paling dominan lama pengobatan < 1 tahun (OR = 4,179, 95% CI:1,448-12,063).

Adherence to ARV therapy is related to suppressing the virus in PLWHIV. However, the rate of dropping out of treatment or Loss To Follow Up (LTFU) is still high. Based on the recording of HIV cases at Koja Regional Hospital, the LTFU rate for PLHIV in therapy is relatively large, namely 22%. This is almost close to the national LTFU data of 25%. Various factors play a major role in ARV therapy adherence. This study aims to determine the factors that influence adherence to ARV therapy in adult PLHIV at Koja District Hospital. This study used a cross sectional design with 731 adult PLWHIV. It is known that the proportion of adherence was 59.6% and non-adherence was 40.4%. Determinants that have a significant relationship are in PLHIV, namely the sexual orientation from heterosexual orientation (OR = 0.322 95% CI: 0.168 – 0.619) where the homosexual group is a protective group, the absence of opportunistic infections (OR = 2.694 95% CI: 1.952 – 3.719), and the most dominant duration of treatment was < 1 year (OR = 4.179, 95% CI: 1.448-12.063).
2024-01-30
Read More
T-6893
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive