Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38372 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Firza Alia; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Robiana Modjo, Yuni Kusmianti, Heny D. Mayawati
T-3191
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Devina Kemmy; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Muhammad Zaky Tifano
S-8996
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aji Dwi Yuniarso; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Mila Tejamaya, Muthia Ashifa, Listya Eka Anggraini
Abstrak:
Penggunaan bahan kimia berbahaya seperti formaldehida, fenol, dan senyawa azo dalam industri pewarna tekstil menimbulkan risiko serius terhadap kesehatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko kesehatan akibat pajanan bahan kimia di Industri Pewarna Tekstil PT X tahun 2025. Metode yang digunakan adalah penilaian risiko kesehatan berbasis pendekatan Chemical Health Risk Assessment (CHRA) dari DOSH Malaysia, penilaian dilakukan terhadap dua rute pajanan yaitu inhalasi dan dermal dengan menilai Hazard Rating (HR) untuk menentukan tingkat bahaya bahan kimia berdasarkan sifat toksikologi, Exposure Rating (ER) untuk menilai frekuensi, durasi, dan intensitas pajanan melalui inhalasi dan dermal, serta Risk Rating (RR) sebagai hasil dari HR dikalikan dengan ER. Metode pengumpulan data mencakup observasi lapangan, wawancara, dan kuesioner terhadap pekerja produksi dan laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar bahan kimia tergolong dalam kategori risiko tinggi dengan jalur pajanan utama melalui inhalasi dan dermal. Data klinik menunjukkan tingginya kasus ISPA pada pekerja. Evaluasi mengindikasikan bahwa pengendalian yang diterapkan belum sepenuhnya memadai. Rekomendasi mencakup peningkatan sistem pengendalian teknis, administratif, dan pelatihan pekerja. Penilaian ini menjadi dasar penting dalam upaya pencegahan penyakit akibat kerja dan peningkatan program K3.

The use of hazardous chemicals such as formaldehyde, phenol, and azo compounds in the textile dye industry poses serious risks to workers' health. This study aims to analyze the level of health risk due to chemical exposure in the Textile Dye Industry of PT X in 2025. The method used is a health risk assessment based on the Chemical Health Risk Assessment (CHRA) approach from DOSH Malaysia, the assessment is carried out on two routes of exposure, namely inhalation and dermal by assessing the Hazard Rating (HR) to determine the level of chemical hazard based on toxicological properties, Exposure Rating (ER) to assess the frequency, duration, and intensity of exposure through inhalation and dermal, and Risk Rating (RR) as the result of HR multiplied by ER. Data collection methods include field observations, interviews, and questionnaires with production and laboratory workers. The results showed that most chemicals are classified as high-risk with the main exposure routes through inhalation and dermal. Clinical data showed high cases of ARI in workers. The evaluation indicated that the controls implemented were not fully adequate. Recommendations include improving the technical, administrative, and worker training control systems. This assessment is an important basis for efforts to prevent work-related diseases and improve K3 programs.

Read More
T-7374
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizki Rahmawati; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Fitri Kurniasari, Elsye As Safira, Emanuel Eko Haryanto
Abstrak:
Industri pupuk memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional, meskipun tetap menghadapi risiko kesehatan pekerja akibat pajanan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko kesehatan (Risk Rating/RR) terkait pajanan bahan kimia pada pekerja di industri pupuk tahun 2024. Penilaian risiko kesehatan dilakukan menggunakan Chemical Health Risk Assessment (CHRA) yang dikembangkan oleh Departemen Occupational Safety and Health (DOSH), Malaysia (2018). Penilaian meliputi aktivitas bongkar muat bahan kimia, pengambilan sampel laboratorium, dan penambahan bahan penolong, dengan jalur pajanan inhalasi dan dermal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aktivitas bongkar muat, tingkat risiko inhalasi dan dermal berkisar dari sedang hingga berat (RR inhalasi bernilai 9-15; RR dermal bernilai M1 dan H1). Aktivitas pengambilan sampel menunjukkan tingkat risiko inhalasi sedang hingga berat (RR bernilai 6-10) dan tingkat risiko dermal sedang (RR bernilai M1). Pada aktivitas penambahan bahan penolong, tingkat risiko inhalasi sedang (RR bernilai 9-10) dan risiko dermal sedang hingga berat (RR bernilai M1 dan H1). Pengendalian risiko yang ada di PT X belum cukup efektif, sehingga tindakan perbaikan yang direkomendasikan meliputi: evaluasi substitusi penggunaan gas klorin, desain ulang stasiun pengisian asam sulfat, mechanical integrity untuk peralatan kritis, penggunaan alat bantu pengambilan sampel bahan kimia cair, menyusun instruksi kerja dan memberikan pelatihan terkait bahaya dan pengendalian bahan kimia, konsistensi penggunaan alat pelindung diri (APD), menerapkan respiratory protection program secara menyeluruh, kesiapan menghadapi keadaan darurat, pemantauan pajanan secara personal, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pekerja non organik yang terpajan bahan kimia. Implementasi rekomendasi ini diharapkan dapat menurunkan tingkat risiko kesehatan terkait bahan kimia pada pekerja di industri pupuk.

The fertilizer industry has a strategic role in supporting national food security, although it still faces workers' health risks due to exposure to hazardous and toxic substances (B3). This study aims to analyze the level of health risk (Risk Rating/RR) related to chemical exposure to workers in the fertilizer industry in 2024. The health risk assessment was carried out using the Chemical Health Risk Assessment (CHRA) developed by the Department of Occupational Safety and Health (DOSH), Malaysia (2018). The assessment includes chemical loading and unloading activities, taking laboratory samples, and adding adjuvants, with inhalation and dermal exposure routes. The research results show that in loading and unloading activities, the level of inhalation and dermal risk ranges from moderate to severe (inhalation RR is 9-15; dermal RR is M1 and H1). Sampling activities indicate a moderate to severe inhalation risk level (RR value 6-10) and a moderate dermal risk level (RR value M1). In the activity of adding adjuvants chemical, the level of inhalation risk is moderate (RR is 9-10) and the dermal risk is moderate to severe (RR is M1 and H1). Existing risk control at PT X is inadequate, so the following corrective actions are recommended: evaluating alternatives to chlorine gas, redesigning the sulfuric acid filling station, mechanical integrity for critical equipment, using liquid chemical sampling aids, compiling work instructions, and providing hazardous and chemical control training. For non-organic workers who are exposed to chemicals, it is important to use personal protection equipment (PPE) consistently, respiratory protection program, be prepared for emergencies, monitor personal exposure, and have frequent health tests. The implementation of these guidelines is likely to reduce chemical-related health risks for fertilizer industry personnel.
Read More
T-7027
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akbar Husnul Falah; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Mila Tejamaya, Muthia Ashifa, Listya Eka Anggraini
Abstrak:
Paparan bahan kimia dan agen biologis di laboratorium lingkungan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan bagi analis laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat risiko kesehatan akibat pajanan bahan kimia melalui rute inhalasi dan dermal, serta paparan terhadap agen biologis (bakteri) yang digunakan di Laboratorium Lingkungan PT X pada tahun 2025. Penilaian risiko dilakukan menggunakan metode Chemical Health Risk Assessment (CHRA) dari DOSH Malaysia untuk bahan kimia, serta metode BIOGAVAL NEO untuk agen biologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa bahan kimia seperti benzena, formaldehida 37%, asam sulfat dan kalium dikromat memiliki nilai hazard rating dan exposure rating yang tinggi pada kedua rute pajanan tersebut. Sementara itu, paparan agen biologis seperti Escherichia coli dan Salmonella spp. diklasifikasikan ke dalam kelompok risiko 2 berdasarkan klasifikasi WHO. Evaluasi terhadap pengendalian risiko mengungkapkan bahwa meskipun beberapa tindakan telah diterapkan, seperti penggunaan fume hood, masih terdapat praktik kerja yang kurang aman dalam aktivitas yang melibatkan bahan kimia, serta kelemahan dalam penerapan prinsip biosafety dan biosecurity dalam penanganan agen biologis. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan efektivitas pengendalian yang ada serta penerapan pengendalian tambahan yang lebih spesifik, terarah, dan menyeluruh guna memastikan perlindungan optimal bagi tenaga kerja laboratorium dari risiko kesehatan akibat paparan bahan kimia dan biologis.

Exposure to chemical substances and biological agents in environmental laboratories has the potential to pose significant health risks to laboratory analysts. This study aims to evaluate the level of health risk resulting from chemical exposure via inhalation and dermal routes, as well as exposure to biological agents (bacteria) used in the Environmental Laboratory of PT X in 2025. Risk assessment was conducted using the Chemical Health Risk Assessment (CHRA) method from DOSH Malaysia for chemical agents, and the BIOGAVAL NEO method for biological agents. The results indicate that several chemicals, such as benzene, 37% formaldehyde, sulfuric acid, and potassium dichromate, have high hazard rating and exposure rating through both inhalation and dermal exposure routes. Meanwhile, exposure to biological agents such as Escherichia coli and Salmonella spp. is classified as Risk Group 2 based on WHO classification. Risk control evaluation revealed that although some measures have been implemented—such as the use of fume hoods—unsafe work practices still persist in activities involving chemical handling. Additionally, weaknesses remain in the implementation of biosafety and biosecurity principles in activities involving biological agents. Therefore, it is necessary to enhance the effectiveness of existing controls and implement additional, more specific, targeted, and comprehensive control measures to ensure optimal protection for laboratory personnel from health risks due to chemical and biological exposures.
Read More
T-7347
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mirsupi Usman; Pembimbing: Milla Tejamaya; Penguji: Hendra; Abdul Kadir, Dippu Rocky Nababan, Laode Syahrizal
Abstrak:
Seiring dengan target pemerintah dalam peningkatan produksi minyak dan gas di lepas pantai, maka penggunaan bahan kimia dalam kegiatan produksi minyak dan gas semakin meningkat, hal ini memunculkan kekhawatiran akan potensi permasalahan kesehatan pekerja, oleh karenanya perlu dilakukan kajian risiko kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko (risk rating/RR) kesehatan terkait pajanan dari kesebelas bahan kimia utama yang digunakan pekerja, pada proses produksi minyak dan gas di kapal FPSO XYZ tahun 2022. Metode Chemical Risk Assessment (CRA) yang digunakan adalah Stoffenmanager® 8 version 5.0 yang merupakan tools untuk menilai risiko kesehatan jalur pajanan inhalasi dan dermal dari penanganan enam bahan kimia oleh production technician di area kerja topside deck dan lima bahan kimia oleh utility operator di area kerja machinery deck. Hasil CRA menunjukkan bahwa tingkat risiko (RR) jalur inhalasi dimana satu bahan kimia kategori risiko tinggi (1,highest) delapan bahan kimia kategori risiko sedang (2, medium), dan dua bahan kimia risiko rendah (3, lowest). Sedangkan berdasarkan risk characterization ratio (RCR) pajanan inhalasi, ada dua bahan kimia yang diketahui nilai RCR task ≥ 1, yang berarti perkiraan konsentrasi emisi yang dihasilkan saat beraktivitas (task concentration estimation/TCE) terhadap potensi bahaya terhirup oleh production technician dan utility operator saat beraktivitas pada jarak yang dekat dengan sumber emisi, dikategorikan berbahaya atau risiko tidak dapat di tolerir (Unacceptable risk). Untuk tingkat risiko dermal efek lokal (skin local), sembilan bahan kimia masuk kategori risiko tinggi dan dua bahan kimia masuk kategori risiko sedang. Sedangkan tingkat risiko dermal efek sistemik (skin uptake), empat bahan kimia kategori risiko sedang, dan tujuh bahan kimia kategori risiko rendah. Hasil risk rating (RR) menentukan pula prioritas tindakan (Action Priority/AP) pengendalian risiko kesehatan. Rekomendasi pengendalian adalah menurunkan tingkat bahaya (HR) dengan melakukan penggantian bahan kimia (subtitusi) dengan bahan kimia yang lebih rendah tingkat bahayanya bagi kesehatan, dan untuk pajanan dermal (ER), otomatisasi proses penanganan, modifikasi teknik pekerjaan dengan membuat sistem penambahan bahan kimia secara gravitasi, menurunkan jumlah dosis pemakaian namun tetap efektif efisien (workplace-related modifiers), mengurangi waktu dan frekuensi penggunaan bahan kimia tersebut (activity time), penambahan ventilasi lokal (LEV) selain ventilasi mekanik, serta menggunakan baju khusus tahan kimia beserta sarung tangannya atau Chemsuit (control measures modifiers)

Along with the government's target to increase offshore oil and gas production, the use of chemicals in oil and gas production activities tends to increase, this raises concerns about potential health problems for workers, therefore it is necessary to conduct a chemical health risk assessment. This study aims to analyze the health risk rating (RR) related to exposure to the eleven main chemicals used by workers in the oil and gas production process on the FPSO XYZ ship in 2022. The Chemical Risk Assessment (CRA) method that is used is Stoffenmanager® 8 version 5.0 which is a tool to assess the health risks of inhalation and dermal exposure lines from the handling of six chemicals by production technicians on the topside deck work area and five chemicals by utility operators on the machinery deck work area. The results of the CRA show that the risk level (RR) for the inhalation route are one chemical in the high risk category (1,highest), eight chemicals in the medium risk category (2, medium), and two chemicals in the low risk category (3, lowest). Meanwhile, based on the risk characterization ratio (RCR) of inhalation exposure, there are two chemicals whose RCR task value is ≥ 1, which means the estimated concentration of emissions produced during the activities (task concentration estimation/TCE) against the potential inhalation hazard by production technicians and utility operators when activities at a close distance to the emission source, are categorized as a dangerous or unacceptable risk. For the level of dermal risk of local effects (skin local), nine chemicals are in the high risk category and two chemicals are in the medium risk category. While the level of risk of dermal systemic effects (skin uptake), four chemicals were in the moderate risk category, and seven chemicals were in the low risk category. The results of the risk rating (RR) also determine the priority of action (Action Priority/AP) for controlling health risks. Control recommendations are to reduce the level of hazard (HR) by replacing chemicals (substitutions) with lower chemicals levels of danger to health, and for dermal exposure (ER), automation of handling processes, modification of work techniques by making chemical addition systems automatically. gravity, reducing the number of doses used but still being effective and efficient (workplace-related modifiers), reducing the time and frequency of using these chemicals (activity time), adding local ventilation (LEV) in addition to mechanical ventilation, and using special chemical resistant clothing and gloves or Chemsuit (control measures modifiers)
Read More
S-11183
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febriana Maizura; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Abdul Kadir, Hendra, Elsye As Safira, Lutfi Muzaqi
Abstrak:

Industri pembuatan alat music memiliki risiko kesehatan akibat penggunaan bahan kimia seperti pelarut (solvent) dan perekat (adhesive). Pelarut digunakan dalam proses pengecatan kayu, sedangkan perekat digunakan untuk penyambungan part kayu agar menjadi sebuah alat musik. Pelarut yang digunakan yaitu 1,2,4-trimethylbenzene, 2-butoxyethanol, 2-ethoxyethyl acetate, 4-methylpentan-2-one, acetone, cumene, cyclohexanone, ethyl acetate, ethyl benzene, mesitylene, naphthalene, solvent naphtha (petroleum), n-butyl acetate, toluene, dan xylene. Penilaian risiko kesehatan bahan kimia mengacu pada Chemical Health Risk Assessment (CHRA) DOSH Malaysia tahun 2018 dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dimulai dari identifikasi bahan kimia, pengamatan dan interview, pengukuran, penilaian risiko kesehatan, menilai kecukupan pengendalian dan penentuan action priority. Hasil penelitian di PT XYZ menunjukkan nilai risk rating untuk pajanan inhalasi berkisar antara 6 (moderate) hingga 25 (high), dan pajanan dermal berada pada kategori moderate 1, moderate 2 dan high 1. Seluruh proses dinyatakan belum memiliki pengendalian yang cukup. Action priority 1 untuk pajanan inhalasi pada proses sanding, washcoat, wipping, pemasangan logo dan pewarnaan dengan cat pada bahan kimia cumene dan untuk pajanan dermal pada proses sanding, washcoat, wipping, pemasangan logo dan pewarnaan dengan cat pada bahan kimia 2-ethoxyethyl acetate, cumene, dan solvent naphtha (petroleum). Action priority 1 berarti tindakan pengendalian diperlukan segera.

The musical instrument manufacturing industry carries health risks due to the use of chemicals such as solvents and adhesives. Solvents are used in the wood painting process, while adhesives are applied to join wooden parts into a complete instrument. The solvents used include 1,2,4-trimethylbenzene, 2-butoxyethanol, 2-ethoxyethyl acetate, 4-methylpentan-2-one, acetone, cumene, cyclohexanone, ethyl acetate, ethyl benzene, mesitylene, naphthalene, solvent naphtha (petroleum), n-butyl acetate, toluene, and xylene. The chemical health risk assessment refers to the 2018 DOSH Malaysia Chemical Health Risk Assessment (CHRA) guidelines and uses both qualitative and quantitative approaches. Data collection includes chemical identification, observation, interviews, measurement, health risk assessment, evaluation of control adequacy, and determination of action priorities. The results of the study at PT XYZ showed that the risk rating for inhalation exposure ranged from 6 (moderate) to 25 (high), while dermal exposure was categorized as moderate 1, moderate 2, and high 1. All processes were found to have insufficient control measures. Action priority 1 was identified for inhalation exposure during sanding, washcoat, wipping, logo installation, and coloring processes involving cumene. The same priority was also identified for dermal exposure to 2-ethoxyethyl acetate, cumene, and solvent naphtha (petroleum) in those same processes. Action priority 1 indicates that immediate control measures are required.

 

Read More
T-7281
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuli Irmayanti; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Lestari Fatma, Arif Susanto, Henny Purwaningsih
Abstrak: Penggunaan berbagai pelarut organik volatil di labotatorium pengujian menimbulkan risiko terhadap dampak kesehatan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian risiko kesehatan. Chemical Health Risk assessment (CHRA) atau kajian risiko kesehatan yang dikembangkan oleh Department of Occupational Safety and Health (DOSH), Ministry of Human Resources, Malaysia (2018) digunakan dalam studi ini untuk menilai risiko kesehatan akibat pajanan inhalasi dan dermal dari 3 (tiga) pelarut organik volatil yaitu chloroform, dichlorometane, dan tetrachloroethylee. Penelitian dilakukan terhadap 3 (tiga) karyawan laboratorium PT X yang bekerja di 3 (tiga) lokasi ruangan yang berbeda. Penilaian tingkat risiko atau risk rating (RR) pajanan bahan kimia melalui inhalasi dilakukan secara kualitatif dan kuantitaif, sedangkan pajanan melalui dermal dinilai secara kualitatif saja. Diperoleh bahwa hasil penilain tingkat risiko pajanan bahan kimiakimia melalui inhalasi secara kualitatif adalah chloroform (RR=16) dengan tingkat risiko tinggi, dichlorometane (RR=15) dengan tingkat risiko menengah, dan tetrachloroethylene (RR=12) dengan tingkat risiko menengah Hasil penilaian tingkat risiko pajanan bahan kimia melalui inhalasi secara kuantitaif adalah chloroform (TWA pengukuran = 18,460 ppm) dengan tingkat risiko tinggi (RR=20), dichlorometane (TWA pengukuran = 0,362 ppm) dengan tingkat risiko rendah (RR=3), dan tetrachloroethylene (TWA pengukuran = 0,560) dengan tingkat risiko rendah (RR=3).Hasil penilaian tingkat risiko pajanan bahan kimia melalui dermal secara kualitatif dengan luas area kontak kecil dan durasi panjang adalah chloroform (M2) dengan tingkat risiko menengah, dichlorometane (M2) dengan tingkat risiko menengah dan tetrachloroethylene (M2) dengan tingkat risiko menengah. Pengendalian untuk menurunkan risiko pajanan chloroform melalui inhalasi (AP-3) direkomendasikan dalam penelitian ini.
Read More
T-5700
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutiara Ayu Asmara; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Farida Tusafariah
S-7356
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andhika happy Chandraditya; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Dadan Erwadni, Ike Pujriani
Abstrak: Penelitian ini menilai konsekuensi pelepasan bahan kimia dari tangki penyimpanan Liquefied Petroleum Gas (LPG) bertekanan pada PT. LMI. Penelitian ini adalah kuantitatif. Simulasi pelepasan bahan kimia menggunakan piranti lunak ALOHA (Areal Locations of Hazardous Athmospheres) berdasarkan data primer dan sekunder pada operasi normal. ALOHA memberikan hasil dalam berbagai jangkauan jarak dispersi, kebakaran dan ledakan. Setiap jangkauan jarak diklasifikasikan menjadi tiga kategori: merah, oranye dan kuning berdasarkan tingkat keparahan. Hasil penelitian ini menunjukkan sekolah, klinik medis, pabrik, dan rumah-rumah di sekitar PT. LMI menjadi populasi berisiko tinggi terkena dampak pelepasan bahan kimia dari tangki penyimpanan LPG.
 

This study assess the consequences of the chemical release from the pressurized Liquefied Petroleum Gas (LPG) storage tank at PT. LMI. This study is kuantitative. Simulation of release using ALOHA (Areal Locations of Hazardous Athmospheres) software based on primary and secondary datas on the normal operation. ALOHA give result in a distance range of dispersion, fire and explosion. Each distance range is classified into three categories: red, orange and yellow based on the level of severity. These study's result is indicate that schools, medical clinic, factories, and homes around PT. LMI being the high-risk population affected by the release of chemicals from the LPG storage tank.
Read More
S-7721
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive