Ditemukan 905 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di dunia, Negara Indonesia menempati peringkat kedua kasus TB terbanyak di dunia. Provinsi Jawa Barat menempati peringkat satu kasus TB terbanyak di Indonesia dan Kota Depok menempati peringkat 10 besar kasus TB di Provinsi Jawa Barat. Pemerintah Kota Depok telah membentuk inovasi Kampung Peduli Tuberkulosis (KAPITU) sebagai wadah komunikasi antara masyarakat, lintas program dan lintas sektor dalam melakukan penanggulangan tuberkulosis melalui kegiatan penemuan, pendampingan pengobatan, dan sosialisasi tuberkulosis. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana implementasi kebijakan Kampung Peduli Tuberkulosis yang sudah dijalankan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek input (sumber daya manusia, anggaran, fasilitas, kebijakan), aspek proses (komunikasi, disposisi, struktur birokrasi), serta aspek output (hasil implementasi KAPITU) sudah berjalan baik di Kelurahan Mampang dan Suka Maju Baru. Implementasi KAPITU sempat tidak berjalan pada Kelurahan Sawangan Baru dan Sawangan Lama karena adanya pergantian petugas dan petugas yang pindah kerja. Pada Kelurahan Cilodong dan Pasir Putih masih kurangnya sumber daya manusia, tidak tersedianya anggaran, belum optimalnya komunikasi dan disposisi sehingga menyebabkan implementasi KAPITU belum berjalan optimal. Selanjutnya faktor lingkungan sosial, ekonomi, dan politik juga mempengaruhi implementasi KAPITU. Kesimpulan implementasi KAPITU yang berjalan dengan baik berbanding lurus dengan capaian indikator program TB yang juga baik. Kelurahan yang menunjukkan implementasi program KAPITU yang baik, seperti Mampang dan Suka Maju Baru, memiliki capaian yang lebih baik, Selanjutnya Kelurahan Sawangan Baru dan Sawangan Lama juga menunjukkan adanya peningkatan capaian program setelah satgas KAPITU mulai berjalan kembali. Kelurahan yang belum mengimplementasikan KAPITU dengan baik, seperti Cilodong dan Pasir Putih, juga menunjukkan capaian program TB yang belum baik.
Tuberculosis is still a health problem in the world, Indonesia ranks second in the world for the most TB cases. West Java Province ranks first in the number of TB cases in Indonesia and Depok City ranks in the top 10 for TB cases in West Java Province. The Depok City Government has formed the Kampung Peduli Tuberkulosis (KAPITU) innovation as a means of communication between the community, across programs and across sectors in preventing and controlling tuberculosis through discovery activities, treatment assistance, and tuberculosis socialization. This study aims to analyze how the implementation of the Kampung Peduli Tuberkulosis policy has been carried out. This study uses qualitative methods and data collection is carried out through in-depth interviews and document reviews. The results of the study indicate that the input aspects (human resources, budget, facilities, policies), process aspects (communication, disposition, bureaucratic structure), and output aspects (results of KAPITU implementation) have been running well in Mampang and Suka Maju Baru Sub-districts. The implementation of KAPITU was not running in Sawangan Baru and Sawangan Lama Sub-districts due to changes in officers and officers who moved jobs. In Cilodong and Pasir Putih Sub-districts, there was still a lack of human resources, unavailability of budget, suboptimal communication and disposition, which caused the implementation of KAPITU to not run optimally. Furthermore, social, economic, and political environmental factors also influenced the implementation of KAPITU. The conclusion is that the implementation of KAPITU that is running well is directly proportional to the achievement of TB program indicators which are also good. Sub-districts that show good implementation of the KAPITU program, such as Mampang and Suka Maju Baru, have better achievements. Furthermore, Sawangan Baru and Sawangan Lama Sub-districts also show an increase in program achievements after the KAPITU task force started operating again. Sub-districts that have not implemented KAPITU properly, such as Cilodong and Pasir Putih, also show poor achievement of TB program indicators.
Obesitas merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat, termasuk di Indonesia. Pada anak dan remaja, obesitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti genetik, lingkungan, pola makan, dan status sosial ekonomi. Namun, penelitian yang secara khusus mengkaji obesitas pada kelompok usia ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan determinan obesitas pada anak dan remaja di Indonesia menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Desain penelitian ini adalah potong lintang, dengan sampel terdiri dari 115.053 anggota rumah tangga berusia 5–19 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil menunjukkan prevalensi obesitas sebesar 7,9% (95% CI 7,6–8,1). Faktor-faktor yang secara signifikan berhubungan dengan peningkatan risiko obesitas meliputi: jenis kelamin laki-laki [AOR 1,56; 95% CI 1,451–1,678], pendidikan ibu tinggi [AOR 1,197; 95% CI 1,106–1,296], ibu bekerja [AOR 1,14; 95% CI 1,063–1,223], tinggal di perkotaan [AOR 1,27; 95% CI 1,176–1,370], status ekonomi teratas [AOR 1,791; 95% CI 1,548–2,032], aktivitas fisik rendah [AOR 1,534; 95% CI 1,230–1,913], konsumsi makanan olahan lebih dari satu kali sehari [AOR 1,27; 95% CI 1,009–1,242], serta konsumsi buah dan sayur minimal satu porsi per hari [AOR 1,142; 95% CI 1,060–1,227]. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi promosi kesehatan yang menargetkan faktor-faktor tersebut penting untuk mencegah dan mengendalikan obesitas pada anak dan remaja di Indonesia.
Penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja merupakan fenomena yang umum terjadi pada saat ini. Program peningkatan kecakapan hidup bagi remaja merupakan salah satu strategi untuk menyiapkan mereka menghadapi tantangan dan maupun tekanan dari lingkungan sosial mereka. Studi ini bertujuan menilai efektifitas modul Caradde’ dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba bagi pelajar di kota Makassar. Intervensi dengan pembelajaran menggunakan modul Caradde’ yang dikembangkan dengan mengadaptasi terhadap nilai lokal masyarakat Sulawesi Selatan. Studi ini menggunakan pendekatan mix methodologi dengan desain eksplorasi sekuensial; pendekatan kualitatif dilakukan di awal kemudian hasilnya menjadi bahan pengembangan instrument pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi intervensi hendaknya diperhatikan dan disesuaikan dengan komponen dari perilaku yang akan di tingkatkan. Pelibatan fasilitator di luar tenaga pengajar yang ada di sekolah hendaklah memiliki kemampuan dasar dalam mengajarkan materi tentang kecakapan hidup.
Kata kunci: Narkoba, kecakapan hidup, pelajar
The effectivity of Caradde’ as a Life Skills Education on Drugs Prevention among Students in Makassar Substance abuse is a current prevalent issue among adolescents.
Life skills improvement programs for adolescents is a strategy to prepare them to face the challenges and pressures in their social life. The study aimed to develop learning methods with life skills education as a prevention on drugs abuse among students in the Makassar. The intervention utilized the Caradde’ module which adapted the local values of people in South Sulawesi. This study used a mixed methodology approach with a sequential exploratory design. The findings suggested that the frequency of the intervention should be considered and adjusted to the components of the specific behavior to be improved. Finally, the involvement of external facilitators needs to consider their teaching skills relevant to the life skills education materials.
Keywords : Drugs, life skills, students
Background. Bogor regency is one of the regions in West Java with the highest reported TB burden in 2022, totaling 15,433 cases with a prevalence of 413 per 100,000 population. Indicating that TB prevalence reduction efforts in West Java remain suboptimal. Methods. This study employed Spearman correlation test and spatial overlay analysis on secondary data from 2022, covering 40 sub-districts in Bogor Regency. The analyzed variables included the proportion of healthcare workers, ratio of health facilities, BCG immunization coverage, proportion of poor population, low education levels, PHBS, malnourished children, population density, hygienic management of water and food, household waste management, and indoor air quality. Conclusion. The variable significantly associated with TB cases was the proportion of poor population (R = 0.492; P = 0.001) The spatial overlay analysis revealed that TB distribution tended to be higher in areas with a combination of high social and environmental vulnerability, such as Jonggol, Sukaraja, and Parung.
