Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35355 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Irene Frimiyanti; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penmguji: Sandra Fikawati, Yvonne M. Indrawani, Dodik Briawan, Anies Irawati
T-3448
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Farida Kusumaningrum; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Triyanti, Anies Irawati
S-6710
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Aisyah; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Endang L. Achadi, S.R. Tri Handari
S-7209
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Nor Rofika Hidayah; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Fatmah, Sri Muljati
S-6753
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Rahmi Ariyani; Pembimbing: Endang Laksminingsih; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Besral, Tiara Lutfie, Asril
Abstrak: abstrak Stunting merupakan salah satu permasalahan status gizi di Indonesia. 1 dari 3 anak di. Indonesia mengalami stunting. Indonesia masuk 5 besar negara yang memiliki prevalensi stunting tertinggi (37,2%) di dunia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 12-59 bulan. Metoda Desain penelitian adalah cross-sectional. Sampel penelitian ini pada Indonesia Family Life Survey (1FLS) yaitu anak yang berusia 12-59 bulan tahun 2014 sebesar 1442 orang. Data dianalisis dengan regresi logistik. Hasil: Hubungan yang signifikan antara stunting dengan berat lahir, jenis kelamin, riwayat penyakit infeksi, usia ibu saat hamil, pendidikan ibu, pendidikan ayah, tinggi badan ibu, tinggi badan ayah, wilayah tempat tinggal, sanitasi dasar dan fasilitas air bersih. Balita yang memiliki berat lahir <2500 gram kemungkinan mengalami stunting 2,58 setelah dikontrol dengan faktor-faktor lainnya. Kesimpulan: Berat lahir menjadi salah satu faktor risiko penting dalam stunting. Untuk mencegah peningkatan stunting memerlukan program intervensi yang spesifik dan sensitif. Penanganan sejak dini khususnya 1000 Hari Pertama Kehidupan melalui kualitas pemeriksaan ibu hamil, pemantauan penambahan berat badan ibu selama hamil,serta pemberian minimal 90 tablet tambah darah. Kata Kunci :Stunting, Berat Lahir, 1000 Hari Pertama Kehidupan Stunting is one of nutritional problems in Indonesia. 1 of 3 children in Indonesia has stunting. Indonesia entered the top 5 countries that have the highest stunting prevalence (37.2%) in the world. Objectives: This study aims to find out the risk faktors stunting in children aged 12-59months. Methods: The study design was cross-sectional. This study took samples on Indonesia Family Life Survey (1FLS) that were 1442 children aged 12-59 months in 2014. Data analysis applied logistic regression. Results: Significant association between stunting and birth weight, sex, history of infectious diseases, maternal age during pregnancy, maternal education, father's education, maternal height, father's height, residence area, basic sanitation and clean water facilities. Children who have birth weight <2500 grams are likely to have stunting 2.58 after controlled with other factors.Conclusion: Birth weight is an important risk factor in stunting. To prevent stunting increases requires a specific and sensitive intervention program. Early handling, especially the First 1000 Days of Life through the quality of pregnant women's examination, monitoring of maternal weight gain during pregnancy, and giving at least 90 tablets plus blood. Keywords: Stunting, Birth Weight, 1000 Days of Life
Read More
T-5179
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Angelita Gladys Novia; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Ahmad Syafiq, Cesilia Meti Dwiriani
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik balita dan faktor maternal yang berkaitan dengan kejadian anemia pada anak 12-59 bulan di Indonesia tahun 2018. Desain penelitian menggunakan metode cross-sectional dengan memanfaatkan data sekunder Riskesdas 2018. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juli 2021. Populasi penelitian ini adalah anak usia 12-59 bulan di Indonesia. Total sampel yang didapatkan adalah 1662 sampel, tetapi yang termasuk ke dalam kriteria penelitian sebanyak 1592 sampel. Variabel yang diteliti meliputi jenis kelamin, usia balita, riwayat lahir, berat badan lahir, status gizi balita (BB/U, TB/U, dan BB/TB), riwayat penyakit malaria, ASI eksklusif, durasi pemberian ASI, MP-ASI dini, pendidikan ibu, usia ibu, konsumsi TTD ibu selama kehamilan, dan paritas ibu. Analisis bivariat dari penelitian ini menggunakan uji chi-square.
Read More
S-10606
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Suroto; Pembimbing: Triyanti, Yuniar Rosmalina; Penguji: Kusharisupeni, Ratu Ayu Dewi Sartika, Marzuki Iskandar
T-2620
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Djasmidar A.T.; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Abas Basuni Jahari, Asih Setiarini, Tanti Herawati, Ramchan Raoef
Abstrak:

Salah satu upaya agar memperoleh sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas di masa datang dengan memperhatikan keadaan gizi balita umumnya dan anak usia 6-17 bulan khususnya. Kemiskinan erat hubungannya dengan keadaan gizi balita, karena keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar antara lain makanan. Umumnya anak yang hidup di dalam keluarga miskin menderita gangguan pertumbuhan dan kurang gizi, tetapi kenyataannya dalam keadaan sosial ekonomi miskin masih terdapat anak-anak dengan status gizi baik, sehingga timbul pertanyaan faktor-faktor apakah yang menyebabkan anak keluarga miskin mempunyai status gizi baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi baik anak usia 6-17 bulan pada keluarga miskin di Jakarta Utara, kabupaten Bogor dan kabupaten Lombok Barat. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang (cross sectional) dengan jumlah sampel yang diolah 479 orang anak dari 540 orang anak yang ada pada studi penyimpangan positif masalah KEP di Jakarta Utara, kabupaten Bogor dan kabupaten Lombok Timur. Hasil penelitian melaporkan proporsi gizi baik pada anak usia 6-17 bulan di Jakarta Utara 64,7%,kabupaten Bogor 63,1%, kabupten Lombok Timur 59,3% dan secara keseluruhannya 62,4%. Hasil uji chi-square menunjukkan ada hubungan yang bermakna (p<0,05) asupan energi dan asupan protein dengan status gizi baik anak usia 6-1.7 bulan di Jakarta Utara, ada hubungan yang bermakna pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi baik anak usia 6-17 bulan di kabupaten Bogor, ada hubungan yang bermakna pola asuh anak dengan status gizi baik anak usia 6-17 bulan di kabupaten Lombok Timur dan ada hubungan yang bermakna pengetahuan ibu tentang gizi dan keadaan rumah dengan status gizi basi anak usia 6-17 bulan pada total di tiga lokasi penelitian. Hasil analisis multivariat regresi logistik ganda juga menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan berhubungan dengan status gizi baik anak usia 6-17 bulan adalah asupan protein di Jakarta Utara, pengetahuan ibu tentang gizi di kabupaten Bogor, pola asuh anak di kabupaten Lombok Timur dan keadaan rumah pada total di tiga lokasi penelitian. Dan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa proporsi gizi baik masih rendah dan adanya variasi faktor dominan yang berhubungan dengan status gizi baik anak usia 6-17 bulan di daerah miskin. Untuk itu Dinas Kesehatan kabupaten/kota dalam perencanaan perbaikan status gizi anak usia 6-17 bulan di daerah miskin tidak disamakan di semua lokasi tetapi dibedakan dengan melihat faktor dominan dimasing-masing lokasi dan perlunya perbaikan lingkungan perumahan yang disertai dengan penyuluhan perilaku hidup sehat. Untuk Puskemas perlu meningkatkan pengetahuan ibu tentang gizi melalui program promosi gizi seimbang di masyarakat.


 

Factors Related to Good Nutritional Status of Children Age 6-17 Months Old Among Poor Families in Northern Jakarta, Bogor District, and Eastern Lombok District in 1999. (Secondary Data Analysis)Among others, concern on under five nutritional status in general and children age 6-17 months old in particular is one important effort to improve the quality of human resource in the future. Poverty is closely related to the nutritional status of under five due to limitation to fulfill basic needs including food In general, children live within poor families suffered from growth retardation and under nutrition. However, within the poor socioeconomic environment, children with good nutritional status still can be found. This raises questions on what factors contribute to good nutritional status among poor families. The aim of this study is to investigate factors related to good nutritional status of children age 6-17 months old among poor families in Northern Jakarta, Bogor district, and Eastern Lombok district in 1999. Design of this study is cross sectional with number of sample of analysis 479 out of 540 children who were included in the positive deviance study on protein energy malnutrition in Northern Jakarta, Bogor district, and Eastern Lombok district. The study shows the proportion of children age 6-17 months old with good nutritional status are 64.7% in Northern Jakarta, 63.1% Bogor district, 59.3% in Eastern Lombok and the overall proportion is 62A%. The chi square test exhibits. significant association (p<0.45) between energy and protein intakes with good nutritional status among children age 6-17 months old in Northern Jakarta, significant association between mother's nutrition knowledge with good nutritional status among children age 6-17 months old in Bogor district, significant association between child care practices and good nutritional status among children age 6-17 months old in Eastern Lombok district, and significant association between mother's nutrition knowledge and house condition with good nutritional status among children age 6-17 months old. Multiple logistic regression analysis shows that the most dominant factors for good nutritional status among children age 6-17 months old are protein intake in Northern Jakarta, mother's nutrition knowledge in Bogor district, child care practices in Eastern Lombok district, and house condition for overall places. The study result concludes that the proportion of good nutritional status is still low and there is variation of dominant factors related to good nutritional status among children age 6-17 months old in poor areas. District Health Service have to consider the variation of determinant by making the planning of improvement of nutritional status not similar to the other districts. The planning has to be based on the real situation and the determinants which have been identified as main caused of nutritional status in each districts. There is a need to improve mother's nutrition knowledge through promotion of balance of nutrition and through promotion of nutrition in Posyandu as well as innovation of affordable nutrition balance.

Read More
T-1488
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Anissa Damaiyanti; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Salimar Yunas
Abstrak:
Gizi lebih merupakan bentuk malnutrisi (gizi tidak seimbang) yang timbul dari asupan gizi berlebihan yang menyebabkan penumpukan lemak tubuh sehingga mengganggu kesehatan. Gizi lebih pada anak merupakan salah satu masalah Kesehatan yang berdampak negatif jangka panjang bagi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi lebih pada balita 6-59 bulan di Kepulauan Riau. Penelitian Cross Sectional ini menggunakan data SSGI (Survey Status Gizi Indonesia) 2021 dengan total responden 2809 balita setelah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data analisis menggunakan uji chi-square pada analisis bivariat dan uji regresi logistik ganda pada analisis multivariat. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2023 yang menunjukkan terdapat 5,9% balita yang mengalami gizi lebih. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga variabel yang secara signifikan berhubungan dengan kejadian gizi lebih pada anak usia 6-59 bulan, yaitu umur, berat lahir, dan status pekerjaan ibu. Analisis multivariat ditemukan bahwa status pekerjaan ibu merupakan faktor dominan dari gizi lebih pada balita 6-59 bulan di Kepulauan Riau berdasarkan analisis SSGI 2021 dengan p-value 0,015 dan OR 1,466 (CI 95%: 1,063 – 2,021). Saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian untuk instansi kesehatan, diharapkan dapat melakukan program pencegahan dan penanggulangan obesitas dengan menggunakan pendekatan promosi, pencegahan, dan rehabilitasi terkait gizi seimbang dan perilaku makan sehat. Selain itu, juga dapat berupaya untuk membangun fasilitas penitipan anak yang aman dan sehat di lingkungan kerja untuk mendukung ibu bekerja dalam memberikan perawatan yang baik kepada anak.

Overnutrition is a form of malnutrition arising from excessive nutrient intake, leading to the accumulation of body fat that disrupts health. Overnutrition in children is a long-term health issue with negative impacts. This study aims to identify factors associated with the occurrence of overnutrition among children aged 6-59 months in Kepulauan Riau. This Cross-Sectional study utilized data from the Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) in 2021, with a total of 2809 toddler respondents meeting inclusion and exclusion criteria. Chi-square tests were employed in bivariate analysis, and multiple logistic regression tests were used in multivariate analysis. The study, conducted in 2023, revealed that 5.9% of toddlers experienced overnutrition. Research findings indicate three variables significantly associated with overnutrition incidents in children aged 6-59 months: age, birth weight, and maternal employment status. Multivariate analysis identified maternal employment status as the dominant factor in overnutrition among toddlers in the Riau Islands, according to SSGI 2021 analysis, with a p-value of 0.015 and OR 1.466 (95% CI: 1.063 – 2.021). Recommendations based on the research suggest that health institutions implement preventive and intervention programs against obesity, focusing on balanced nutrition promotion, prevention, and rehabilitation of healthy eating behaviors. Additionally, efforts can be made to establish safe and healthy childcare facilities in the workplace environment to support working mothers in providing proper care for their children.
Read More
S-11505
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Eka Putri Pertiwi; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Rahmawati
Abstrak: Penelitian ini ingin mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pemberian suplemen vitamin A pada balita usia 6-59 bulan di Indonesia berdasarkan analisis data SDKI 2017. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional yang melibatkan 1.728 balita usia 6-59 bulan di Indonesia. Hasil penelitian membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu, usia balita, riwayat imunisasi balita, kunjungan Antenatal Care (ANC), kunjungan Postanatal Care (PNC), tempat persalinan, dan keterpaparan media televisi dengan kepatuhan pemberian suplemen vitamin A. Riwayat imunisasi adalah faktor yang paling dominan berhubungan dengan kepatuhan pemberian suplemen vitamin A pada balita. Dengan demikian, penelitian ini menyarankan agar penguatan program imunisasi pada balita, edukasi kesehatan, kualitas kunjungan ANC dan PNC, serta pemanfaatan fasilitas kesehatan dan media terus ditingkatkan guna mencapai cakupan suplementasi vitamin A pada balita yang lebih baik.
Read More
S-10778
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive