Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27850 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yuliana
CDK Vol.36, No.2 (2009)
Jakarta : Kalbe Farma, 2009
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ellya Niken Prastiwi; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Purnawan Junaid, Suhartono
Abstrak: Sebagai penyedia layanan publik, RSUD lebih berorientasi kepada efisiensi dan produktifitas dibadingkan profit, salah satu ukuran keberhasilan adalah mutu layanan yang memenuhi standar pelayanan minimum (SPM). Pendekatan komprehensif tentang mutu layanan mencakup struktur input, proses, dan output. Komponen struktur input meliputi sumber daya manusia, standar prosedur operasional dan peralatan, struktur proses meliputi pelayanan medis dan pelayanan paramedis, struktur output merupakan perubahan kondisi dan status kesehatan pasien setelah mendapatkan akses fasilitas yang ada di dalam input dan proses. 
Untuk Rumah Sakit, salah satu indikator penting kualitas layanan adalah net death rate (NDR). Salah satu unit pelayanan sentral pada rumah sakit sebagai penyedia layanan kesehatan adalah unit intensive care unit (ICU). Selama periode 2007-2009, tingkat kematian pasien di ICU RSUD Bekasi berada di atas standar pelayanan minimum (SPM) Departemen Kesehatan, dan belum pernah dilakukan penelitian terhadap kesenjangan tersebut.
 Penelitian lain yang relevan menunjukkan adanya hubungan antara mutu layanan dan pelaksanaan layanan, sumber daya manusia, standard operating procedures (SOP), dan peralatan penunjang medis. Penelitian lainnya menunjukkan kinerja yang rendah pada aspek manajemen, SDM, pelaksanaan pekerjaan, dan pengembangan.
 
Penelitian ini menggambarkan distribusi kematian, dan hubungan struktur input dan proses terhadap sruktur output kematian pasien di atas 48 jam di ICU RSUD Bekasi. Desain penelitian yang digunakan adalah deskripsi analitis kualitatif dengan metode pengukuran retrospektif berupa audit kematian pasien ICU di atas 48 jam tahun 2009. Data primer yang digunakan adalah dari wawancara dan data sekunder dari dokumen rekam medik.
 
Hasil penelitian menunjukkan proporsi terbanyak kematian pasien di atas 48 jam adalah sebagai berikut:
 
- Menurut cara bayar adalah pasien umum
 
- Menurut asal masuk adalah pasien dari Instalasi Gawat Darurat (IGD)
 
- Menurut lama perawatan pasien adalah 5-7 hari
 
- Menurut resume audit adalah kasus terminal dan kasus infeksi nosokomial
 
- Menurut keahlian dokter adalah dokter dengan keahlian saraf
 
Berdasarkan hubungan struktur input, proses, dan struktur output, hasil penelitian mendukung kesimpulan bahwa output mutu layanan ICU yang rendah, yang diindikasikan dengan tingkat kematian di atas standar berlaku, sangat dipengaruhi oleh sumber daya manusia yang kurang memadai secara mutu dan jumlah, SOP yang tidak lengkap, peralatan medis yang kurang lengkap, dan proses penatalaksanaan medis serta paramedis yang kurang memadai.
 
As a public service provider, RSUD must be more efficiency and productivity oriented rather than profit. One of result measurements is service quality compliance to minimum service standard. Comprehensive approach on service quality covers input structure, process, and output. Component of input structure comprises human resource, standard operating procedures, and equipment. Process structure comprises medical and paramedical services. Output structure is change in patient?s health condition and status after accessing facilities in input and process.
 Service quality measurement is performed by comparing performance indicators to health service standard which is stipulated previously. Health service standard is a standard, indicator, or limit which enables measurement on service quality by group of input structure, process, and output. Service quality measurement can be performed using prospective measurement (before servicing), concurrent measurement (while servicing), and retrospective measurement (after servicing).
 
For hospital, one of important health service indicators are net death rate (NDR). As health service provider, one of hospital?s central service units is intensive care unit (ICU). As of 2007-2009 period, death rate at RSUD Bekasi ICU was above minimum service standard stipulated by ministry of health, and no research regarding to the gap has ever been conducted previously.
 
Another relevant research showed considerable correlation between quality service and service process, human resource, standard operating procedures (SOP), as well as medical support equipment. The other one showed low performance on management, human resource, process, and development aspects.
 
This research depicts death distribution of ICU patient, and relation of input structure and process to over 48 hours death ICU patient output structure at RSUD Bekasi. Research design applied here is qualitative analytical description using retrospective measurement method in form of over 48 hours ICU patient death audit in 2009. Primary data used in this research is sourced from interview, and secondary data comes from medical records.
 
Research result shows that the largest proportion of over 48 hours death ICU patient grouped by term of payment, patient origin, nursing period, audit resume, and doctor specialty are as follows:
 
- By term of payment is common patients
 
- By patient origin is emergency unit originated patients
 
- By nursing period is 5-7 nursing days patients
 
- By audit resume is terminal case and nosokomial infection patients
 
- By doctor specialty is neurolog related patients
 Based on relation of input structure and process to output structure, the result supports conclusion that low quality ICU service, which was indicated by higher death rate above the prevailing standard, is considerably determined by inadequacy of both human resource quality and quantity, insufficiency of standard operating procedures and medical support equipment, as well as lack of medical and paramedical process.
Read More
B-1217
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fajri Israq; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Mieke Savitri, Amila Megraini, Lies Dina L., Nella Abdullah
B-1987
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ardita Sofyani; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Rumiyatun
Abstrak: Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang didapat pasien di rumah sakit. Infeksi ini dapat terjadi akibat kuman dari pasien lain ataupun dari lingkungan berpindah melalui tangan perawat pada saat perawat melaksanakan berbagai asuhan keperawatan pada pasien. Infeksi nosokomial akan memperparah kondisi pasien, memperpanjang hari rawat pasien, bahkan sampai menjadi penyebab kematian. Pasien di ruang ICU turut terkena risiko infeksi nosokomial. Ruang ICU sebagai salah satu tempat untuk menangani pasien yang memerlukan pelayanan intensif ditempati oleh pasien yang butuh perawatan total. Daya tahan tubuh pasien ICU tidak sebaik daya tahan tubuh pasien yang tidak memerlukan perawatan total. Oleh karena itu pasien ICU lebih rentan terhadap infeksi.
 
Hand hygiene merupakan salah satu tindakan yang mudah dan efektif untuk penurunan infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial memiliki keterkaitan langsung dengan pemenuhan pelaksanaan hand hygiene. Pelaksanaan hand hygiene yang sesuai dengan teknik dan waktu yang telah ditentukan akan menurunkan insiden infeksi nosokomial. Namun sayangnya, pemenuhan pelaksanaan hand hygiene oleh petugas kesehatan masih tergolong rendah.
 
Masih ditemukannya kejadian infeksi nosokomial di Rumah Sakit MH. Thamrin Salemba mengindikasikan hand hygiene petugas kesehatannya belum berjalan sesuai prosedur. Dari hasil observasi di ruang ICU ditemukan bahwa rata – rata pemenuhan hand hygiene oleh perawat yang bertugas di ICU Rumah Sakit MH. Thamrin Salemba baru mencapai 48%. Peneliti ingin mengetahui persepsi perawat mengenai faktor – faktor yang mempengaruhi pemenuhan pelaksanaan hand hygiene di ICU Rumah Sakit MH. Thamrin Salemba.
 
Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menggali lebih jauh persepsi perawat mengenai faktor – faktor pemenuhan pelaksanaan hand hygiene. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer didapat dari hasil wawancara mendalam dan hasil observasi penelitian pendahuluan dan data sekunder diperoleh dari data SDM perawat Rumah Sakit MH. Thamrin Salemba.
 
Dari hasil penelitian diketahui persepsi perawat mengenai faktor – faktor yang mempengaruhi pemenuhan hand hygiene di ICU Rumah Sakit MH. Thamrin Salemba adalah faktor kurangnya pengetahuan perawat mengenai teknik dan lima waktu pelaksanaan hand hygiene, beban kerja perawat yang lebih tinggi dan kekurangan tenaga, masih kurangnya jumlah wastafel dan letaknya yang jauh. Alasan lainnya yaitu saat manangani kondisi darurat, perawat merasa prosedur hand hygiene merepotkan, faktor malas, air yang mati atau keran yang rusak. Beberapa dari faktor di atas sesuai juga dengan hasil yang ditemukan penelitianterdahulu terkait topik ini. Untuk itu, sebaiknya pihak rumah sakit kembali melaksanakan program penyegaran untuk perawat agar pengetahuan perawat dan kesadaran akan pentingnya hand hygiene dapat meningkat. Selain itu, perlu adanya penambahan jumlah wastafel seperti yang diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan mengenai Standar Pelayanan ICU. Menambah jumlah perawat atau tetap mempertahankan sistem subtitusi perawat dengan kemampuan sama dalam menangani pasien intensif, namun lebih mematangkan sistemnya. Kepala ICU mengingatkan perawat agar tetap tenang saat kondisi darurat dan selalu menyediakan alkohol hand rubbing di dalam kantong.
 

Nosocomial infections are infections acquired in hospital patients. These infections can occur due to germs from other patients or from the environment can be transferred through the hands of nurses at the variety of nursing care to patients. Nosocomial infections will exacerbate the patient's condition, extending the day care of patients, even to the cause of death. Patients in the ICU also exposed to the risk of nosocomial infection. ICU is a place for patients who need intensive care and total care. ICU patient's immune system is certainly not as good as the patient's immune system does not require total care. ICU patients therefore more susceptible to infection.
 
Hand hygiene is the one of easy and effective measures to decrease nosocomial infections. Nosocomial infections have a direct connection with the implementation of hand hygiene compliance. Implementation of appropriate hand hygiene techniques and the time allowed will reduce the incidence of nosocomial infections. But unfortunately, the implementation of hand hygiene compliance by healthcare workers is still low.
 
The incidence of nosocomial infections is still found at MH Hospital. Thamrin Salemba. It indicates hand hygiene of health workers has not been appropriate to the procedure. From the observation in the ICU was found that the average of hand hygiene compliance by nurses who worked in the ICU MH. Salemba Thamrin Hospital only reached 48%. Researchers want to know nurses’perception about the factors that affect the implementation of hand hygiene compliance in ICU MH. Thamrin Salemba hospital.
 
Researchers using qualitative research methods to explore further nurses’ perception about the factors in implementation of hand hygiene compliance. In this study, researchers used the primary data and secondary data. Primary data obtained from in-depth interviews and the results of preliminary research observations. The secondary data obtained from Human Resources data.
 
From the results of research known nurses’ perception about the factors that influence hand hygiene in ICU MH. Thamrin Salemba Hospital. Nurses’ perception about factors in hand hygiene practice compliance are lack of knowledge of nurses regarding the implementation of the technique and five moments for hand hygiene, nursing workload and lack of higher power, insufficient numbers of the sink and the remoteness. Another reason are when emergencies situation, nurses feeling of involute hand hygiene procedure, lazy factor, die or tap water damaged. Therefore, we recommend the hospital to re-implement hand hygiene program for nurses so that the nurse's knowledge and awareness of the hand hygiene importance can be improved. In addition, the need for addition of sinks based on rules in the Decree of the Minister of Health on Service Standards of ICU. Increase the number of nurses or hospital still uses nurse subtitution system, but hospital should make the system better. ICU head remind the nurses to keep calm during emergency conditions and always provides a handrubbing alcohol inside the pocket
Read More
S-7427
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Seno Aji Wijanarkao; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Prastuti C. Soewondo, Puput Oktamianti, Budi Hartono, Amila Megraini
Abstrak: ICU sebagai bagian dari pelayanan Rumah Sakit (RS) harus mempertahankan mutu dan standar pelayanan. Dalam melayani pasien Jaminan Kesehatan Nasional, RS menggunakan tarif inaCBGs sistem paket menuntut RS melakukan kendali biaya dan mutu. Data bagian keuangan: banyak tagihan ICU, terutama yang berhubungan dengan pelayanan ventilator, dibayarkan dibawah tarif. Pada 2015 untuk kelas III 30% kasus dibayarkan defisit. Tahun 2016 tarif baru diberlakukan. Hal tersebut menjadi dasar penulis meneliti biaya satuan dan cost recovery rate (CRR) pelayanan ventilator dengan tarif lama dan baru. Populasi penelitian 4 pasien dengan diagnosis utama Respiratory Failure (J969), kode INA-CBG J- 1-20-III. Penelitian melalui telaah biaya terkait pelayanan ventilator, didapatkan biaya langsung dan tak- langsung dengan metode Step-down dan Relative Value Unit.

Hasilnya per pasien: biaya satuan aktual (BSA) Rp8.522.431 dan biaya satuan normatif (BSN) Rp1.429.657. Perbandingan tarif 2011 didapatkan CRR dengan BSA 14.55% dan BSN 85.34%. Dengan tarif 2016 CRR dengan BSA 15.92% dan BSN 93.38%. Untuk tarif BPJS 2014 CRR dengan BSA 10.62%(kelas 1), 9,11%(kelas 2), 7,59%(kelas 3). Untuk tarif BPJS tahun 2016 CRR BSA 16,86%(kelas 1), 14,45%(kelas 2), dan 12,04%(kelas3). Jika kapasitas dioptimalkan dengan rerata BOR, CRR BSN tarif BPJS2014 masing-masing sebesar 62,30%(kelas 1), 53,41%(kelas 2), 44,50%(kelas 3). Dengan tarif BPJS2016 CRR BSN 98.84%(kelas 1), 84,72%(kelas 2), dan 70,60%(kelas3). BSA penggunaan ventilator yang sangat tinggi oleh karena rendahnya kunjungan pasien dan tingginya nilai biaya investasi. Tingginya biaya ini juga menunjukkan support daerah masih dibutuhkan di RSUD Nunukan baik sebagai pengawas maupun pendukung finansial melalui APBD.

Kata kunci: biaya satuan; biaya satuan unit; biaya satuan normatif; cost recovery rate.
Read More
B-1936
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ismail N. Salampessy; Pembimbing: R. Budi Haryanto; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Suherman
S-5173
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kesmas Indonesia (MKMI), th. XIX, No.10, 1991, hal. 581-584
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.54, No.8, Agustus, 2004, hal. 338-346
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cermin Dunia Kedokteran (CDK), Vol.38, No.1, Jan. - Febr. 2011, Hal. 61-63. ( ket. ada di bendel 2011-2012)
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Medika, Vol. XXXI, No.3, Maret 2005, hal. 192-199
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive