Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 21285 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maj. Kedokt. Indo, Vol.59, No.6, Juni, 2009, hal: 260-265
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokt. Indo, Vol.59, No.7, Juli, 2009, hal: 308-313
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Buku II, Republika. hal : 64
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
media indonesia; 2015
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firial Afra Raisa Mumtaz; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Sutiyati
Abstrak: Kecukupan energi maupun protein tergolong kurang dapat memberikan dampak yangmerugikan bagi tumbuh kembang, status gizi, perilaku makan yang terbentuk, dankesehatan dari siswa sekolah dasar. Kecukupan energi dan protein seorang anak dapatdipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti konsumsi, pengetahuan gizi, dan sosial ekonomikeluarga. Untuk melihat perbedaan proporsi kecukupan energi dan protein berdasarkanfaktor tersebut, dilakukan penelitian studi cross-sectional dengan menggunakan datasekunder tahun 2018. Penelitian melibatkan 92 siswa/i SD X Jakarta Timur. Ditemukanproporsi kecukupan energi dan protein tergolong kurang secara berurutan sebesar 58,7%dan 55,4%. Hasil analisis dengan chi-square menunjukkan bahwa terdapat perbedaanproporsi kecukupan energi maupun protein berdasarkan faktor konsumsi, yaitukeragaman konsumsi pangan (p-value=0,013 dan p-value=0,014), frekuensi konsumsimakanan utama (p-value=0,003 dan p-value=0,000), dan konsumsi makanan utama pagi(p-value=0,007 dan p-value=0,000). Meskipun tidak ditemukan perbedaan proporsi,kecenderungan proporsi kecukupan energi dan protein masih ditemukan berdasarkanfrekuensi jajan dan uang jajan. Penelitian juga menemukan sedikit kecenderunganproporsi kecukupan protein berdasarkan pengetahuan gizi. Dengan begitu, konsumsi(keragaman konsumsi pangan, frekuensi konsumsi makanan utama, konsumsi makananutama pagi, frekuensi jajan), pengetahuan gizi, dan sosial ekonomi keluarga (uang jajan)merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam upaya mengoptimalkankecukupan energi dan protein siswa/i.Kata kunci:Kecukupan energi dan protein, faktor, siswa/i sekolah dasar.
Read More
S-10510
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sherly Ardi Vantono; Pembimbing; Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Triyanti, Kusuma Wijayanti
Abstrak: GIZI LEBIH MERUPAKAN MASALAH KESEHATAN YANG DAPAT BERDAMPAK BURUK PADA ANAK SEKOLAH. SD X JAKARTA TIMUR TELAH MEMILIKI PROGRAM KESEHATAN, NAMUN PREVALENSI GIZI LEBIH TAHUN 2016 MASIH TINGGI YAITU SEBESAR 20%. TUJUAN UMUM PENELITIAN INI ADALAH DIKETAHUINYA FAKTOR DOMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI LEBIH PADA SISWA KELAS 4 DAN 5 DI SD X JAKARTA TIMUR TAHUN 2017. PENELITIAN INI MENGGUNAKAN DESAIN CROSS-SECTIONAL. RESPONDEN DALAM PENELITIAN INI SEBANYAK 201 RESPONDEN DI SD X JAKARTA TIMUR. HASIL PENELITIAN MENUNJUKKAN SEBESAR 58,2% SISWA MENGALAMI GIZI LEBIH. PADA ANALISIS BIVARIAT MENUNJUKKAN HUBUNGAN ANTARA JENIS KELAMIN DAN ASUPAN LEMAK DENGAN STATUS GIZI LEBIH. PENELITIAN INI JUGA MENDAPATKAN HASIL ANALISIS MULTIVARIAT YAITU JENIS KELAMIN SEBAGAI FAKTOR DOMINAN KEJADIAN GIZI LEBIH PADA SISWA DI SD X JAKARTA TIMUR TAHUN 2017. OLEH KARENA ITU SEKOLAH DIHARAPKAN DAPAT MEMBERIKAN EDUKASI MENGENAI MAKANAN SEIMBANG, MEMILIKI CONTROLLER DI KANTIN SEKOLAH SERTA DAPAT MEMPERBARUI PROGRAM KESEHATAN DI SEKOLAH. KATA KUNCI: GIZI LEBIH, SISWA, SEKOLAH DASAR, JENIS KELAMIN. OVERNUTRITION IS HEALTH PROBLEM THAT CAN AFFECT ADVERSELY TO SCHOOL CHILDREN. X PRIMARY SCHOOL EAST JAKARTA ALREADY HAVE HEALTH PROGRAM, BUT PREVALENCE OF OVERNUTRITION IN 2016 IS STILL HIGH AT 20%. GENERAL PURPOSE OF THIS RESEARCH IS TO KNOW THE DOMINANT FACTOR RELATED TO OVERNUTRITION AT 4TH AND 5TH GRADE STUDENT AT X PRIMARY SCHOOL EAST JAKARTA IN 2017. THIS RESEARCH USE CROSS-SECTIONAL DESIGN. THERE IS 201 RESPONDENT OF THIS RESEARCH AT X PRIMARY SCHOOL EAST JAKARTA. RESULT OF THIS RESEARCH SHOWN THAT 58,2% STUDENTS SUFFER FROM OVERNUTRITION. ON BIVARIATE ANALYSIS SHOWN RELATION BETWEEN GENDER AND FAT INTAKE WITH OVERNUTRITION. THIS RESEARCH ALSO OBTAINED MULTIVARIATE ANALYSIS RESULT THAT GENDER IS THE DOMINANT FACTOR OF OVERNUTRITION AT X PRIMARY SCHOOL STUDENT EAST JAKARTA IN 2017. KEYWORDS: OVERNUTRITION, STUDENT, PRIMARY SCHOOL, GENDER.
Read More
S-9517
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
koran sindo
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Putu Pristi Wisuantari; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, kusuma Wijayanti
Abstrak: Rendahnya tingkat kebugaran pada anak-anak dan remaja akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebugaran pada anak-anak dan remaja masih tergolong rendah dan belum ada standar model prediksi dalam menentukan status kebugaran berdasarkan nilai VO2max di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk membentuk model prediksi kebugaran (nilai VO2max) untuk anak usia 9-11 tahun pada siswa SD terpilih di wilayah Jakarta Timur. Desain studi penelitian ini adalah cross-sectional dengan variabel dependen yaitu kebugaran dan variabel independen yaitu jenis kelamin, asupan zat gizi, status gizi, dan aktivitas fisik. Penelitian dengan menggunakan tes 20m shuttle run melibatkan 118 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai VO2max pada SD 1 (39.99 ml/kg/menit) lebih rendah dibandingkan SD 2 (41.49 ml/kg/menit). Terdapat perbedaan tingkat kebugaran yang signifikan antar jenis kelamin dan hubungan bermakna antara asupan zat gizi (energi, protein, karbohidrat, vitamin B1, zat besi), status gizi (IMT/U), dan aktivitas fisik dengan kebugaran. Hasil analisis multiregresi menunjukkan bahwa variabel jenis kelamin dan status gizi (IMT/U) merupakan prediktor dominan dengan dikontrol oleh interaksi antara kedua variabel tersebut. Untuk mencapai status kebugaran yang baik diperlukan asupan zat gizi yang cukup, status gizi yang baik dan aktivitas fisik yang teratur.
 

Low levels of fitness in children and adolescents are at increased risk of cardiovascular disease. Some studies suggest that fitness levels in children and adolescents was still relatively low and there is no standard model of prediction in determining the fitness status based on VO2max in Indonesia. The primary purpose of this study was to develop fitness (VO2max) prediction model for 9-11 years in selected elementary student in East Jakarta. This study used cross-sectional design, variable of dependent was fitness and variable of independent was sex, nutritional intake, nutritional status, and physical activity. The fitness test measured by 20m shuttle run test. The sample was 118 students. The mean value of VO2max was higher in SD 2 than SD 1 (SD 2 = 41.49 ml/kg/min; SD 1 = 39.99 ml/kg/min). In bivariat analysis, there was a differences fitness between male and female, which is male was more fit than female. Than nutritional intake (energy, protein, carbohydrate, thiamin, and iron), nutritional status (BMI/A), and physical activity was significantly related to fitness (VO2max). Result of multiple regression analysis showed that variable sex and nutritional status was the dominant predictor controlled by the interaction between the two variable. Adequate intake, good nutritional status (BMI/A), and increase physical activity are required to improve fitness level.
Read More
S-7840
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asep Nur Eka; Pembimbing: Robiana Modjo
S-1271
Depok : FKM UI, 1998
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmi Nuraini; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Agus Triwanarto
Abstrak: Diabetes mellitus, penyakit degeneratif yang terjadi akibat resistensi insulin pada seltubuh, menyebabkan beberapa penyakit komordibitas dan sindrom metabolik sepertiobesitas sentral. Obesitas sentral pada diabetisi dapat dipengaruhi oleh berbagaifaktor seperti asupan, gaya hidup dan lain-lain. Skripsi ini bertujuan untuk melihatperbedaan obesitas sentral berdasarkan asupan energi dan faktor lainnya padadiabetisi. Penelitian ini dilakukan pada diabetisi di Puskesmas Jatinegara pada bulanApril 2017. Desain penelitian ini menggunakan metode Cross-sectional denganjumlah sampel 133 orang. Lingkar perut ditentukan berdasarkan pengukuran denganmenggunakan pita ukur, aktivitas fisik dan kebiasaan makan diketahui melaluikuesioner aktivitas fisik GPAQ, food recall 24 jam dan Food FrequencyQuestionnaire (FFQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pengukuranlingkar perut sebanyak 85% diabetisi mengalami obesitas sentral. Uji Independent T-Test menyatakan bahwa variabel asupan lemak, kebiasaan sarapan dan tingkatpengetahuan memiliki perbedaan bermakna dengan obesitas sentral. Untukmenurunkan angka obesitas sentral pada diabetisi, disarankan untuk diberikan edukasimengenai obesitas sentral dan pola makan pada diabetisi.
Kata Kunci:Diabetes melitus, obesitas sentral, asupan.
Diabetes mellitus is a degenerative disease caused by insulin resistance in body cells,it will also causes some diseases of comordibity and metabolic syndrome such asabdominal obesity. Abdominal obesity in diabetics can be influenced by variousfactors such as food intake, lifestyles and others. This undergraduate thesis aims tosee the difference between abdominal obesity based on energy intake and otherfactors in diabetics. This study was conducted on diabetics in Puskesmas Jatinegara inApril 2017. The design of this study used Cross-sectional method over 133 people assample size. Abdominal circumference is determined by measurement usingmeasuring tape, physical activity and eating habits throughout GPAQ PhysicalActivity Questionnaire, 24-hour Food Recall and Food Frequency Questionnaire(FFQ). The results showed that based on abdominal circumference measurements asmuch as 85% of diabetics are abdominal obesity. The Independent T-Test stated thatthe variable fat intake, breakfast habits and knowledge level had significantdifferences with abdominal obesity. In order to reduce abdominal obesity rates indiabetics, it is advisable to promote the education on abdominal obesity and diet fordiabetics.
Keyword:Diabetes mellitus, abdominal obesity, food intake.
Read More
S-9535
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive