Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4728 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
CB: A 1369
[s.l.] : Jakarta: Depkes. 2004, s.a.]
Hibah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ati Dwi Kurniati; Pemb. Indang Trihandini, Luknis Sabri; Peng. Sulistiono, Siti Mursifah
Abstrak:
Pengertian kompetensi menurut Peraturan Ketua LAN Nomor 9 Tahun 2005, adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan kerja, karakteristik, sikap dan perilaku yang mutlak widyaiswara untuk mampu melakukan tugas dan tanggung jawabnya secara profesional. Kegiatan widyaiswara yang ada selama ini tidak lepas dari kegiatan di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Cilandak yang tertuang dalam POA BBPK Cilandak. Tugas widyaiswara adalah memberikan pendidikan dan pelatihan dalam proses pembelajaran di kelas dan di luar kelas. Setiap pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dari widyaiswara merupakan bagian dari penerapan kompetensi yang sesuai dengan standar kompetensi yang ada untuk setiap jenis jabatan. Namun, dari hasil rekapitulasi evaluasi widyaiswara tahun 2006 yang dinilai oleh peserta latih, diperoleh hasil bahwa metoda pengajaran kurang menarik (20,59%), kurang kreatif dan inovatif (8,82%), modul sulit dimengerti (5,88%), perlu pengetahuan yang up to date (2,94%), agar lebih banyak praktek (5,88%), metode kurang sistematis (11,76%), widyaiswara tidak tepat dalam penyampaian materi (26,47%), dan widyaiswara kurang memanfaatkan waktu (17,65%). Disamping itu juga dari hasil telaah dokumen terhadap tingkat keterlibatan diperoleh data selama tahun 2006, yaitu hanya 15,24% widyaiswara dilibatkan dalam kegiatan diklat yang diselenggarakan di BBPK Cilandak. Oleh karena itu, perlunya dukungan berupa sistem informasi widyaiswara yang bertujuan menyimpan data widyaiswana untuk diolah dalam suatu sistem aplikasi, sehingga dihasilkan informasi berupa indikator pelaksanaan tugas yang berbasis kompetensi, dan penyajian informasi dalam bentuk tabel dan grafik. Metodologi yang digunakan adalah berdasarkan system development life cycle (SDLC) yang terdiri dari tahap pre-analisis sistem, analisis sistem, perancangan sistem dan ujicoba sistem. Pengujian sistem hanya dilakukan di laboratorium dengan menggunakan data simulasi. Pengumpulan data dan informasi dengan teknik wawancara, observasi, dan telaah dokumen. Unit kerja yang menjadi obyek penelitian adalah widyaiswara BBPK Cilandak. Informan yang memberikan data dan informasi adalah Kepala BBPK Cilandak, Koordinator Widyaiswara, staf bagian kepegawaian, dan sekretaris widyaiswara. Dalam pelaksanaannya masih ditemui kendala diantaranya adalah sulitnya melengkapi input data karena rnemerlukan koordinasi dengan bagian kepegawaian. Selain itu, belum tersedia basis data untuk penelusuran spesialisasi yang dimiliki widyaiswara dan data diklat yang pernah diikuti widyaiswara. Pemanfaatan komputer belum optimal, hanya dipergunakan untuk mengetik, ketepatan waktu pengiriman dan kelengkapan laporan rendah, serta belum ada Standard Operating Procedure (SOP) untuk peningkatan kornpetensi widyaiswara. Untuk itu perlu dirancang suatu model sistem informasi widyaiswara berbasis kompetensi yang dilengkapi dengan basis data spesialisasi, data diklat yang pernah diikuti, dan data pengalaman mengajar/mendidik/melatih. Sebagai hasil dari penelitian ini adalah terbentuknya prototipe Sistem Informasi Widyaiswara Berbasis Kompetensi (SIWBK) di BBPK Cilandak yang diharapkan dapat menyediakan informasi yang akurat, tepat waktu dan relevan. Komponen proses dalam SIWBK ini terdiri dari matriks dimensi kompetensi, analisis hasil penilaian rating kompetensi, yang kemudian dilakukan perhitungan indikator kompetensi dalam bentuk persentase. Kegiatan pengukuran kompetensi atau assessment centre dilakukan setiap triwulan dengan tanggung jawab pelaksana adalah tim penilai (assessor) yang memenuhi kriteria penilaian yang ditetapkan. Agar pelaksanaan sistem informasi ini dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan, dibutuhkan komitmen dan kebijakan pendukung dari pimpinan, termasuk mekanisme umpan balik serta monitoring dan evaluasi.

Understanding of competency according to rule of Chief of LAN RI Number 9 year 2005, is a package of knowledge, skills, characteristic and attitude whose absolutely provide by widyaiswara in their capability to do their task and responsibility professionally. Until now, all widyaiswara activities were part of BPPK Cilandak activities as noted in POA BPPK Cilandak. Widyaiswara's task is to provide education and training in learning process in the class and outdoor. Every main task and function of widyaiswara is part of applying competency as followed competency standard available for every position. However, the result from evaluation of widyaiswara recapitulation in year 2006 valued by trainees, showed that teaching method was less attractive (20,59%), less creative and innovative (8,82%), module not understandable (5,88%), the knowledge was not up-to-date (2,94%), less practical (5,88%), method was not systematic (11,76%), less effectiveness in teaching (26,47%), and less efficient (17,65%). Also from observed report resulted that in year 2006, only 15,24% of widyaiswara that involved in diklat activities held at BPPK Cilandak. Therefore, needed support in form of information system for widyaiswara to collect all data of widyaiswara, and get process by an application system to get information in form of indicator task working based on competency, and presented in form of table and graphic. Methodology used for this scheme was based on system development life cycle (SDLC) which is consist of pre-analysis system, analysis system, planning system and trial system. Testing system done only in laboratory using simulation data. Data and information collected by interviewing, observation, and documents analysis. The object of this study was widyaiswara of BPPK Cilandak. Data and information also collected from Chief of BPPK Cilandak, Widyaiswara coordinator, Staff from human resource, and widyaiswara secretary. There is obstacles like data input hardly complete because of less coordination among staffs and database for determination widyaiswara specialization is not available. Also usage of computers still not optimal yet; low in accuracy and delivery report; and no SOP to increase competency of widyaiswara. Therefore, there's a need to develop a scheme of information system for widyaiswara based on competency and complete with data base of specialization, kind of diklat they've been in, and data of teaching/training experience. The result of this study was created a prototype of Information System for Widyaiswara Based on Competency (SIWBK) at BPPK Cilandak which can provide accurate, punctual and relevant information. The components involved in the process consist of matrix of competency dimension, study analysis of competency rating which needed in measurement of competency indicator in percentage. Competency assessment conducts every three months with assessor team as the person in charge. To make the system goes well, a commitment and support policy, including feedback mechanism, monitoring and evaluation will needed.
Read More
T-2607
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meidy maulia Rakhmi; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Anhari Achadi, Sandi Iljanto, Sumiyatun, Frans PieterKaunang
Abstrak:

Keberhasilan penyelenggaraan Diklat berbasis kompetensi ditunjukkan dengan adanya keselarasan tujuan program dengan kebutuhan dan strategi organisasi, dukungan manajemen dan teknis pelaksanaan program. RSIA Hermina Bekasi termasuk salah satu rumah sakit yang memiliki keseriusan dalam penyelenggaraan program Diklat Keperawatan berbasis kompetensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyelenggaraan serta rencana pengembangan program Diklat Keperawatan berbasis kompetensi di RSIA Hermina Bekasi dengan mengacu pada Teori Dubois (1996) tentang Model Sistem Strategik Diklat Berbasis Kompetensi. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam semi terstruktur serta telaah data sekunder. Dari hasil penelitian diketahui bahwa penyelenggaraan Diklat Keperawatan berbasis kompetensi di RSIA Hermina Bekasi sudah cukup baik dilaksanakan dari segi teknisnya. Perlu adanya perbaikan terutama pada tahap analisa kebutuhan pelatihan, tahap pengembangan model kompetensi dan pada tahap pengembangan intervensi pembelajaran. Rencana pengembangan program Diklat Keperawatan berbasis kompetensi di RSIA Hermina Bekasi meliputi perlunya dilakukan pengkajian kembali budaya organisasi, meningkatkan profesionalisme SDM pengelola Diklat, mengadakan penelusuran potensi dan kompetensi guna pembuatan matriks kompetensi, penilaian kompetensi metode 360º, membuat model kompetensi kelompok unit kerja, standarisasi penilaian kompetensi dasar, mengembangkan metode pembelajaran mandiri dan diskusi kelompok, membudayakan pembelajaran masal sistem on-line, dan membuat penilaian kompetensi instruktur.Diharapkan saran pada penelitian ini dapat menjadi masukan dan perbaikan bagi pelaksanaan Diklat Keperawatan berbasis kompetensi di RSIA Hermina Bekasi pada masa mendatang.


 The success of the organizing a competency-based training was demonstrated by the synchronized program goals with the needs and organization strategy, management support and the organizing program techniques. RSIA Hermina Bekasi is an exemplary hospital that showed seriousness in implementation of nursing competence-based training.  This research aims to find out the organizing as well as competency-based Nursing development training program in the RSIA Hermina Bekasi. The method referenced to the theory of Dubois (1996) on the Strategic System Competency-based Training Model. Research methods using qualitative methods with semi structured in depth interviews and deep examination of secondary data. The results of the study noted that organizing of the Nursing competence-based training program in the RSIA Hermina Bekasi already fairly well implemented in terms of technical assistance. Improvements are necessary especially on training needs analysis phase, the development model of competence and on the stage of development of the learning intervention. Nursing development plan-based competency training program in the RSIA Hermina Bekasi needs to be evaluated. Particularly the study of organization culture to enrich the values, increase the professionalism of HRD, conducting soft competency assessment in order to assemble competency matrix, assessment by the method of 360º, models for competency based work team development, standardization of basic competencies assessment, develop self study method and forum group discussion, cultivate learning mass on-line system and create assessment of the competence of trainers. The recommendation on the study is expected can be used as inputs to improve the implementation of the nursing competence-based training in the RSIA Hermina Bekasi in the future.

Read More
B-1373
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wisda Trisnawati; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Jaslis Ilyas, Basrin Harsono Sigalingging
Abstrak:
Sumber daya manusia kesehatan (SDMK) merupakan kunci utama dalam mencapai tujuan pembangunan kesehatan. Namun, kualitas SDMK masih menjadi masalah di Indonesia padahal kualitas tersebut dapat ditingkatkan melalui pelatihan. Sepanjang 2015-2016 hanya 30,1% penyedia pelayanan kesehatan dan staf pendukung yang mendapatkan pelatihan. Kendala yang terjadi adalah masih banyaknya program pelatihan yang tidak memiliki proses manajemen pelatihan yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis manajemen pelatihan tenaga kesehatan pada Medical Service Training Program (Medstrap) yang diselenggarakan oleh Perusahaan X sebagai provider layanan kesehatan. Analisis manajemen pelatihan yang digunakan pada penelitian ini adalah ADDIE (analyze, design, develop, implement, evaluate) Model. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan pendekatan kualitatif dengan data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi sedangkan data sekunder melalui telaah dokumen. Penelitian ini menunjukkan hasil, antara lain: (1) Analyze – Analisis kebutuhan pelatihan didasarkan atas komplain dari klien dan identifikasi tujuan pelatihan belum memenuhi aspek SMART; (2) Design – Identifikasi tujuan pembelajaran, pengembangan kerangka materi, metode, dan instrumen penilaian pelatihan sudah dilakukan tetapi belum didokumentasikan sebagai blueprint; (3) Develop – Pengembangan materi dan media pelatihan dilakukan berdasarkan kebutuhan peserta dan pemateri tanpa proses validasi; (4) Implement – Proses pelaksanaan pelatihan didukung dengan penguasaan materi oleh pemateri tetapi belum didukung dengan penyampaian materi dan manajemen waktu yang baik; (5) Evaluate – Evaluasi proses belum dilakukan secara menyeluruh dan evaluasi efektivitas baru mencapai tingkat 1 (reaction). Peneliti menyimpulkan bahwa manajemen pelatihan yang baik dapat mendukung pelatihan yang efektif dan efisien. Perusahaan X perlu melakukan upaya perbaikan pada beberapa proses dan mempertahankan proses yang sudah baik.

Human resources for health (HRH) is the main key to achieving health development goals. However, the quality of HRH is still a problem in Indonesia even though this quality can be improved through training. During 2015-2016 only 30.1% of health service providers and support staff received training. The obstacle that occurs is that there are many training programs that do not have a good training management process. This research was conducted to analyze the management of training for health workers in the Medical Service Training Program (Medstrap) organized by Company X as a health service provider. The training management analysis used in this study is the ADDIE (analyze, design, develop, implement, evaluate) model. This study uses a cross-sectional design with a qualitative approach with primary data obtained through in-depth interviews and observation and secondary data through document review. This research shows the results, including: (1) Analyze – Analysis of training needs based on complaints from clients and identification of training objectives that do not meet the SMART aspect; (2) Design - Identification of learning objectives, development of material frameworks, methods and training assessment instruments have been carried out but have not been documented as blueprints; (3) Develop - The development of training materials and media is carried out based on the needs of the participants and presenters without a validation process; (4) Implement - The process of implementing the training is supported by mastery of the material by the presenters but not yet supported by good delivery of material and time management; (5) Evaluate - Process evaluation has not been carried out thoroughly and evaluation of effectiveness has only reached level 1 (reaction). The researcher concludes that good training management can support effective and efficient training. Company X needs to make efforts to improve several processes and maintain good processes.
Read More
S-11392
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shita Hayyuning Astiti; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Ascobat Gani, Wahyu Sulistiadi, Susi Setiawaty, Lina Zubaidah Hasanuddin
Abstrak: Kompetensi menjadi salah satu hal yang penting bagi para pemimpin pelayanan kesehatan menjalankan fungsi manajemennya, dan salah satu cara mencapai kompetensi adalah dengan melakukan pelatihan. RS Hermina Karawang telah melakukan pelatihanpelatihan yang ditujukan kepada para manajer sejak awal berdirinya di tahun 2020. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kebutuhan pelatihan untuk memenuhi kompetensi manajer di RS Hermina Karawang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif dengan menggunakan ACHE 2020 competencies assessment tool yang diisi oleh 10 manajer RS Hermina Karawang dan pengisiannya didampingi oleh peneliti, kemudian dilanjutkan dengan observasi dokumen terkait, wawancara mendalam, dan akhirnya memutuskan rekomendasi bagi RS Hermina Karawang melalui FGD yang dilakukan dengan beberapa informan tertentu. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa rumah sakit melakukan analisis kebutuhan pelatihan hanya berdasar penilaian subyektif atasan dan pemenuhan kewajiban jam diklat yang telah ditentukan oleh korporasi. Selain itu didapatkan kompetensi para manajer menurut ACHE 2020 masih ada yang belum kompeten, yaitu pada topik kompetensi komunikasi dan manajemen relasi serta topik keterampilan dan pengetahuan bisnis. Namun telah kompeten dalam topik kompetensi kepemimpinan, profesionalitas, dan pengetahuan lingkunan pelayanan kesehatan. Sehingga kesimpulan dalam penelitian ini para manajer membutuhkan pelatihan-pelatihan di bidang komunikasi dan manajemen relasi serta keterampilan dan pengetahuan bisnis dan diprioritaskan pelatihan dengan nilai rerata terendah. Pelatihan dalam topik kompetensi keterampilan dan pengetahuan bisnis adalah pelatihan dalam hal manajemen keuangan dan manajemen SDM, sedangkan pelatihan dalam topik kompetensi komunikasi dan manajemen relasi adalah pelatihan dalam hal fasilitasi dan negosiasi. Untuk rekomendasi jangka panjang sebaiknya RS Hermina Karawang menggunakan tool yang bisa digunakan untuk menganalisis kompetensi dan tentunya kebutuhan pelatihan sesuai dengan kebutuhan para manajer
Read More
B-2269
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mochamad Safari; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Hendra, Moh. Hadiyin, Imam Syafi`i
Abstrak: Tingginya penggunaan pesawat angkat dan angkut di industri manufaktur dan pelabuhan angkutan barang membutuhkan peningkatan pengawasan dan pembinaan dalam pamakaiannya. Dari hasil laporan kasus membuktikan tingkat kecelakaan bidang pesawat angkat dan angkut masih terus terjadi. Faktor minimnya kompetensi pengawas ketenagakerjaan bidang K3 spesialis pesawat angkat dan angkut serta kurangnya jumlah pengawas menambah permasalahan pesawat angkat dan angkut semakin bertambah. Peningkatan kualitas dan kuantitas pengawas K3 spesialis pesawat angkat dan angkut merupakan suatu solusi yaitu melalui diklat berbasis kompetensi / Competence Based Training (CBT) sesuai Standar Kompetensi Kerja (SKKNI) Pengawas Ketenagakerjaan. Penelitian dilakukan dengan desain deskriptif dan analitik melalui data primer hasil observasi dan wawancara serta data sekunder dari literatur dan Kementerian Ketenagakerjaan. Penelitian ini menggambarkan kondisi pelaksanaan diklat fungsional pengawas saat ini dan dibandingkan dengan hasil pengembangan diklat berpola CBT, dengan melibatkan 3 pilar pendukung yaitu Lembaga diklat, lembaga sertifikasi dan dunia usaha/industri. Kata kunci: Diklat CBT, Pengawas K3, Pesawat angkat dan angkut, Standar kompetensi, Lembaga diklat, Lembaga sertifikasi.

The high use of lifting and transport equipment in manufacturing and freight ports requires increased supervision and guidance in their use. From the results of the case report proves the level of accidents in the field of lifting and transport equipment is still going on. The lack of competence of labor inspector in OSH of lift and transport equipment as well as the lack of supervisors increased the problem of lifting and transport equipment. Improving the quality and quantity of Inspectors Occupational Safety specialist of lifting and transport equipment is a solution that is through Competence Based Training (CBT) in accordance with the Competency Standards (SKKNI) of Labor inspector. The research was conducted with descriptive and analytic design through primary data of observation and interview and secondary data from literature and document from Ministry of Manpower. This study describes the condition of the implementation of functional training of current inspector and compared with the development of CBT patterned training, involving 3 supporting pillars namely Training Institute, certification body and business / industry. Keywords: CBT Training, Inspector of OHS, Lifting and Transport Equipment, Competency Standard (SKKNI), Training institution, Certification institution.
Read More
T-4951
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Susi Mekar Sari; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Anwar Hasan
T-2036
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andi Farida Rahma; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Besral, Euis Sunarsih
Abstrak:
Evaluasi program pelatihan sangat penting untuk meningkatkan mutu pelatihan serta melihat seberapa jauh program yang dijalankan sesuai. Di era digital pelatihan mengalami transformasi menjadi online, termasuk di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Jakarta yang bertugas menyelenggarakan pelatihan bagi tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan hasil evaluasi program pelatihan berbasis online menggunakan model Kirkpatrick level 1, level 2, dan level 3. Penelitian ini menggunakan desain evaluatif melalui analisis data sekunder dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil level 1 mendapatkan respon baik dari semua indikator, namun masih ada hambatan akses yang dirasakan. Hasil level 2 semua peserta mengalami peningkatan pengetahuan secara signifikan karena peserta berpartisipasi aktif. Hasil level 3 terbagi menjadi empat aspek, yaitu peningkatan kompetensi, peningkatan kinerja, implementasi hasil pelatihan, serta faktor pendukung dan penghambat implementasi. Keseluruhan nilai terjadi peningkatan rata-rata sebelum dan setelah diberikan pelatihan serta implementasi dijalankan secara nyata di tempat kerja walaupun masih ada faktor yang menghambat dalam menjalankan implementasi. Secara keseluruhan pelatihan online di BBPK Jakarta yang dijalankan menurut model kirkpatrick sudah sejalan dengan kriteria efektivitas. Struktur pembelajaran yang matang, dukungan teknis dari penyelenggara yang responsif, partisipasi yang aktif, dukungan dari lingkungan kerja yang suportif, dan materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta menjadi faktor utama dalam pelaksanaan program pelatihan online.

The evaluation of training programmes is crucial for improving the quality of training and assessing the extent to which the programmes are being implemented effectively. In the digital age, training has undergone a transformation to an online format, including at the Jakarta Health Training Centre, which is responsible for organising training for healthcare workers. This study aims to describe the results of the evaluation of an online training programme using the Kirkpatrick model at levels 1, 2, and 3. This study employs an evaluative design through the analysis of secondary data using a quantitative approach. The results indicate that level 1 outcomes received positive responses across all indicators, though access barriers were still perceived. For level 2, all participants demonstrated a significant increase in knowledge due to active participation. Level 3 outcomes were divided into four aspects: competency enchancement, performance improvement, implementation of training outcomes, and supporting and hindering factors for implementation. Overall, there was an average improvement in scores before and after the training was delivered, and implementation was carried out effectively in the workplace, although there were still factors hindering implementation. Overall, the online training at BBPK Jakarta,which is delivered in accordance with the Kirkpatrick model, is in line with the criteria for effectiveness. A well structured learning programme, responsive technical support form the organisers, active participation, support from a supportive work environment, and materials tailored to participants needs are key factors in the delivery of online training programmes.
Read More
S-12327
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kenya Puspita Lindri; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Popy Yuniar, Yulia Fitriani, Renta Nilawati Sibagariang
Abstrak: Permasalahan yang dihadapi oleh BBPK Jakarta berdasarkan prastudi di lapangan pada kegiatan evaluasi pasca pelatihan saat ini adalah besarnya biaya yang dibutuhkan dan waktu proses yang lama dalam kegiatan evaluasi pasca pelatihan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun Model Sistem Informasi Evaluasi Pasca Pelatihan Berbasis Web di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Jakarta, Studi Pada Pelatihan Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan Bagi Tenaga Kesehatan. Metodologi pengembangan sistem menggunakan pendekatan prototype. Pengumpulan data primer dengan cara wawancara mendalam dan data sekunder berdasarkan telaahan dokumen dan observasi lapangan dengan metode pengujian sistem user acceptance test. Evaluasi Pasca Pelatihan merupakan tugas pokok dan fungsi dari bidang Pengembangan dan Pengendalian Mutu yang dilaksanakan di seksi Pengendalian Mutu berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.2361/MENKES/PER/XI/2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Bidang Pelatihan Kesehatan. Sistem yang dikembangkan dapat menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk perbaikan program Pelatihan Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan Bagi Tenaga Kesehatan di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Jakarta secara efektif dan efisien. Saran terhadap pemanfaatan sistem informasi ini adalah melakukan sosialisasi sistem evaluasi pasca pelatihan berbasis web kepada semua peserta pelatihan di BBPK Jakarta dan instrumen evaluasi menggunakan perpaduan evaluasi dari Kirkpatrick dengan evaluasi berbasis pengetahuan dan keterampilan sehingga tujuan evaluasi dapat tercapai.
Kata Kunci : Sistem Informasi, Evaluasi Pasca Pelatihan, Prototype, Pelaksanaan Diklat
Read More
T-4427
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hilman Wahyudin; Pembimbing: Tri Krianto
S-3018
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive